Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Yaa Siin

Yaa Siin (Yaasiin) surah 36 ayat 69


وَ مَا عَلَّمۡنٰہُ الشِّعۡرَ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لَہٗ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ وَّ قُرۡاٰنٌ مُّبِیۡنٌ
Wamaa ‘allamnaahusy-syi’ra wamaa yanbaghii lahu in huwa ilaa dzikrun waquraanun mubiinun;

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.
Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
―QS. 36:69
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Ampunan Allah yang luas
36:69, 36 69, 36-69, Yaa Siin 69, YaaSiin 69, Yasin 69
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yaa Siin (36) : 69. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kafir yang mengatakan bahwa Alquran adalah syair yang diciptakan oleh Nabi Muhammad sendiri.
Dengan demikian.
menurut tuduhan mereka, Muhammad adalah seorang penyair.
Hal ini dibantah keras dalam ayat ini, karena Alquran wahyu Allah yang membawa kebenaran.
Sedang Nabi Muhammad menyampaikannya kepada umat manusia.
Alquran jauh berbeda dengan syair yang berkembang di tanah Arab ketika itu.

Pertama Karena syair mementingkan khayal, sehingga apa yang tersebut dalam syair itu kadang-kadang benar dart kadang-kadang merupakan hal-hal yang tidak benar, hanya sekadar menyenangkan hati orang-orang yang mendengarnya.
Sehingga timbullah ucapan yang mengatakan bahwa "syair" yang paling baik ialah yang paling bohong".
Sedang Alquran membawa ajaran-ajaran yang seluruhnya benar, karena ia berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, membimbing mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kedua Bahwa dekat sebelum diutusnya Muhammad ﷺ, menjadi Nabi dan Rasul, di antara penyair menggunakan syair-syair tersebut sebagai mata pencaharian.
Mereka menciptakan syair-syair untuk memuji orang-orang yang berkuasa.
Semakin senang hati yang dipuji itu karena syair tersebut, semakin besar pula hadiah yang akan mereka terima.
Dengan demikian, prinsip mereka menciptakan syair tersebut adalah "asal Bapak senang".
Mereka tak segan-segan memutar balikkan kenyataan.
Yang salah, mereka katakan benar.
Yang buruk mereka katakan baik.
Sedang Nabi Muhammad jauh sekali dari sifat semacam itu.
Beliau menyampaikan Alquran tanpa mengharapkan upah apapun dari manusia.
Yang benar ditegakkan, yang salah dibasmi.
Ditegaskannya mana yang halal, dan mana yang batil.
Dengan demikian, Alquran bukanlah syair, dan Nabi Muhammad bukanlah penyair.
Bahkan, kedudukan sebagai penyair suatu hal yang tidak patut bagi seorang Nabi dan Rasul Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan, bahwa ia tidak mengajarkan syair kepada Muhammad.
Ia hanyalah mewahyukan Alquran kepadanya, untuk disampaikan kepada umat manusia.
Tuduhan kaum musyrik dart kaum kafir bahwa Muhammad adalah penyair, adalah tuduhan yang tidak patut dart tidak diterima akal yang sehat.

Kemudian Allah menegaskan lagi, bahwa Alquran yang disampaikan oleh Muhammad ﷺ adalah pelajaran dan kitab suci yang memberikan penerangan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Kaum musyrik mengatakan Alquran itu syair, karena kata-kata dart kalimat-kalimat yang terdapat dalam Alquran demikian indah dan itu.
Bahkan kadang-kadang mereka mengatakan Alquran adalah sihir, karena kata-kata dan susunan kalimat Alquran memang mempesona siapa saja yang mendengarnya.
Akan tetapi tuduhan mereka ini sama sekali tidak benar.
Namun demikian, Alquran bukanlah sihir.
Dan bukan pula syair, karena syair, adalah susunan yang terikat kepada pola-pola tertentu, sedang Alquran tidaklah demikian.

Yaa Siin (36) ayat 69 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Yaa Siin (36) ayat 69 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Yaa Siin (36) ayat 69 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami tidak pernah mengajarkan kepada rasul Kami suatu syair.
Seorang rasul, karena kedudukan dan kehormatannya, tidak pantas menjadi seorang penyair.
Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya itu pun tidak lain dari nasihat dan kitab samawi yang jelas.
Maka tidak ada korelasi antara Al Quran dan syair.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami tidak mengajarkan kepadanya) yakni kepada Nabi ﷺ (tentang syair) ayat ini diturunkan sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang kafir, karena mereka telah mengatakan, bahwa sesungguhnya Alquran yang didatangkan olehnya adalah syair (dan bersyair itu tidak layak) tidak mudah (baginya.) (Alquran itu tiada lain) apa yang diturunkan kepadanya, tiada lain (hanyalah pelajaran) nasihat (dan Kitab yang memberi penerangan) yang menjelaskan tentang hukum-hukum dan lain-lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.
(Yaa Siin:69)

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan perihal Nabi-Nya Muhammad ﷺ, bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepadanya.

dan bersyair itu tidak layak baginya.
(Yaa Siin:69)

Nabi Muhammad ﷺ diciptakan tidak untuk bersyair.
Karena itu, dia tidak dapat bersyair dan tidak menyukainya, serta secara fitrah bukanlah sebagai penyair.
Berkaitan dengan hal ini telah disebutkan bahwa beliau ﷺ tidak pernah hafal suatu bait pun dengan wazan yang teratur, melainkan beliau mengucapkannya secara acak dan tidak lengkap.

Abu Zar'ah Ar-Razi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Mujalid, dari ayahnya, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali Abdul Muttalib melahirkan keturunan, baik laki-laki maupun perempuan, melainkan pandai bersyair, terkecuali Rasulullah ﷺ Demikianlah menurut apa yang disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam autobiografi Atabah ibnu Abu La'b yang matinya dimakan oleh singa di Az-Zarqa.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah mengutip bait syair berikut:

Cukuplah Islam dan uban menjadi peringatan bagi seseorang.

Maka Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, bunyi syair itu sebenarnya harus seperti ini:

Cukuplah Uban dan Islam menjadi peringatan bagi seseorang.

Abu Bakar atau Umar berkata: Aku bersaksi sesungguhnya engkau adalah Rasulullah, Allah berfirman: Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.
(Yaa Siin:69)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Mugirah, dari Asy-Sya'bi, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila merasa ragu terhadap suatu berita, maka beliau mengutip ucapan syair Tarfah yang mengatakan: dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menghadapinya).

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui jalur Ibrahim ibnu Muhajir, dari Asy-Sya'bi.
Imam Turmuzi dan juga Imam Nasai telah meriwayatkan pula hal yang semisal melalui hadis Al-Miqdam ibnu Syuraih ibnu Hani', dari ayahnya, dari Aisyah r.a.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Usamah, dari Za-id, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutip ucapan penyair yang bunyinya seperti berikut: dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menghadapinya).

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa diriwayatkan pula oleh selain zaidah, dari Sammak, dari Atiyyah, dari Aisyah r.a.

Sa'id ibnu Abu Urwah telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa pernah ditanyakan kepada Siti Aisyah r.a., "Apakah dahulu Rasulullah ﷺ pernah mengutip sesuatu dari bait syair?"
Siti Aisyah r.a.
menjawab bahwa syair merupakan perkataan yang paling tidak disukai oleh beliau.
Hanya saja beliau pernah mengutip bait syair saudaraku dari Bani Qais, maka beliau menjadikannya terbalik, yang awal diakhirkan dan yang akhir diawalkan.
Lalu Abu Bakar r.a.
berkata, "Bukan begitu, wahai Rasulullah ﷺ" maka beliau ﷺ bersabda:

Sesungguhnya aku, demi Allah, bukanlah seorang penyair, dan bersyair itu tidak layak bagiku.

Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir, lafaz hadis di atas berdasarkan apa yang ada pada Ibnu Jarir.

Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah, telah sampai kepadanya suatu berita yang mengatakan bahwa Aisyah r.a.
pernah ditanya, "Apakah Rasulullah ﷺ pernah mengutip kata-kata seorang penyair?"
Maka Siti Aisyah r.a.
menjawab, "Tidak, kecuali bait syair milik Tarfah, yaitu: Hari-hari akan menampakkan kepadamu banyak hal yang kamu belum tahu, dan akan datang kepadamu seseorang membawa berita-berita yang kamu belum membuat persiapan (untuk menyambutnya).
Beliau ﷺ mengucapkannya secara terbalik, yaitu: "Man lam tuzawwad bil akhbar.” Maka Abu Bakar berkata, "Bukan demikian." Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku bukan seorang penyair, dan bersyair itu tidak layak bagiku.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Hafs Umar ibnu Ahmad ibnu Na'im wakil Al-Muttaqi di Bagdad, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad alias Abdullah ibnu Hilal An-Nahwi yang tuna netra, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Amr Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ belum pernah mengucapkan suatu bait syair pun secara lengkap kecuali syair berikut: Bersikap optimislah terhadap sesuatu yang kamu sukai, niscaya kamu dapat meraihnya, karena jarang sesuatu yang sering disebut-sebut, melainkan terlaksana.

Selanjutnya A!-Baihaqi mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada gurunya (yaitu Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Mazi) mengenai hadis ini.
Dia mengatakan, hadis ini berpredikat munkar karena ada dua perawinya yang tidak dikenal.

Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa hal ini terjadi secara kebetulan tanpa sengaja bertepatan dengan wazan syair, bahkan tanpa sengaja Nabi ﷺ mengucapkannya.

Demikian pula apa yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Jundub ibnu Abdullah r.a.
yang telah menceritakan bahwa ketika kami (para sahabat) bersama Rasulullah ﷺdalam sebuah gua, tiba-tiba jari telunjuk beliau terluka hingga berdarah.
Maka Nabi ﷺ bersabda:

Tidaklah engkau ini selain jari telunjuk yang terluka padahal dalam perang sabilillah engkau tidak mengalami hal ini.

Dan nanti dalam tafsir firman-Nya:

selain dari kesalahan-kesalahan kecil.
(An Najm:32)

akan disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengatakan kalimat berikut yang secara kebetulan sesuai dengan wazan syair:

Jika Engkau mengampuni, ya Allah, Engkau mengampuni dosa-dosa yang banyak, dan tiada seorang hamba pun yang tidak pernah berbuat kesalahan terhadap Engkau.

Semuanya ini tidaklah bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau ﷺadalah seorang yang tidak mengenal syair dan bersyair itu tidak layak baginya, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala hanya mengajarkan kepadanya Al-Qur'an:

yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(Fussilat: 42)

Al-Qur'an bukanlah syair, tidak sebagaimana yang disangka oleh segolongan orang-orang bodoh dari kalangan Kuffar Quraisy, bukan tenung, bukan buat-buatan, bukan pula sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu seperti yang diduga oleh pendapat-pendapat yang sesat dan pendapat-pendapat orang-orang yang bodoh.
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ secara fitrah menolak syair, dan beliau bukanlah diciptakan sebagai penyair.

Imam Abu Daud mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Suwaid, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Syurahbil ibnu Yazid Al-Ma'afiri, dari Abdur Rahman ibnu Rafi' At-Tanukhi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr r.a.
mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Aku tidak peduli terhadap apa yang diberikan kepadaku jika aku minum tiryaq (air jampi), atau mengalungkan jimat, atau mengatakan syair dari diriku sendiri.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara tunggal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Al-Aswad ibnu Syaiban, dari Abu Naufal yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah r.a., "Apakah Rasulullah ﷺ setuju bila diucapkan syair di hadapannya?"
Maka Aisyah r.a.
menjawab, "Syair adalah perkataan yang paling tidak disukai olehnya."

Telah diriwayatkan pula dari Siti Aisyah r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ menyukai doa-doa yang singkat dan padat, dan beliau sering mengucapkan doa yang demikian.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Hendaklah seseorang di antara kalian memenuhi perutnya dengan nanah adalah lebih baik baginya daripada memenuhi dirinya dengan syair.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid dari jalur ini, sanadnya dengan syarat Syaikhain (dapat diterima), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Quza'ah ibnu Suwaid Al-Bahili, dari Asim ibnu Makhlad, dari Abul Asy'as As-San'ani, dan telah menceritakan kepada kami Al-Asy-yab, ia telah meriwayatkan dari Ibnu Asim, dari Al-Asy'as, dari Syaddad ibnu Aus r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang membuat satu bait syair sesudah salat Isya, maka tidak diterima darinya salat malam itu.

Hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalurnya, tiada seorang pun dari Sittah yang engetengahkannya.
Yang dimaksud dalam hadis ini ialah membuat syair, bukan mengucapkannya, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Perlu diketahui bahwa di antara syair itu ada yang disyariatkan, misalnya syair untuk menyerang kaum musyrik seperti yang pernah dilakukan oleh para penyair Islam di masa Nabi ﷺ Para tokohnya, antara lain Hassan ibnu Sabit, Ka'b ibnu Malik, Abdullah ibnu Rawwahah, dan lain-lainnya, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Di antara syair ada yang bersubjekkan hikmah-hikmah, pelajaran-pelajaran, dan etika-etika, seperti yang dijumpai pada syair sejumlah penyair masa Jahiliah yang antara lain Umayyah ibnu Abus Silt yang dinilai oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

Syairnya beriman, tetapi hatinya kafir.

Salah seorang sahabat pernah mendendangkan syair sebanyak seratus bait syair untuk Nabi ﷺ, dan sesudah tiap bait syair beliau ﷺ me­ngatakan, "Terus," yakni memintanya agar meneruskan bait-bait syairnya.

Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ubay ibnu Ka'b, Buraidah ibnul Khasib, serta Abdullah ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya di dalam paramasastra itu terdapat pengaruh yang memukaukan seperti pengaruh sihir, dan sesungguhnya di antara syair itu ada yang mengandung hikmah.

Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya.
(Yaa Siin:69) Maksudnya, Allah tidak mengajarkan syair kepada Muhammad ﷺ

dan bersyair itu tidak layak baginya.
(Yaa Siin:69)

Yaitu tidak pantas baginya bersyair.

Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
(Yaa Siin:69)

Yakni apa yang Kami ajarkan kepadanya itu.

tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
(Yaa Siin:69)

Yakni yang jelas dan gamblang bagi orang yang mau merenungkan dan memikirkannya.

Informasi Surah Yaa Siin (يس)
Surat "Yaa Siin" terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-surat Makldyyah, diturunkan sesudah surat Jin.

Dinamai "Yaa Siin" karena dimulai dengan huruf "Yaa Siin".
Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat.
Al Qur'an, maka demikian pula arti "Yaa Siin" yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting antara lain:
Allah bersumpah dengan Al Qur'an bahwa Muhammad ﷺ benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah diutus kepada mereka rasul­ rasul.

Keimanan:

Bukti-bukti adanya hari berbangkit
Al Qur'an bukanlah syair
ilmu, kekuasaan dan rahmat Allah
surga dan sifat-sifatnya yang disediakan bagi orang-orang mu'min
mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya
anggota badan manusia menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah utusan-utusan Nabi Isa a.a. dengan penduduk Anthakiyah (Syam) .

Lain-lain:

Tidak ada faedah peringatan bagi orang-orang musyrik
Allah menciptak an segala sesuatu berpasang-pasangan
semua bintang-bintang di cakrawala berjalan pada ga­ris edar yang telah ditetapkan Allah
ajal dan hari kiamat datangnya secara tlba­ tiba
Allah menghibur hati Rasulullah s.a. w. terhadap sikap kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.

QS 36 Yasin (1-83) - Indonesian - Archie Wirija
QS 36 Yasin (1-83) - Arabic - Archie Wirija


Gambar Kutipan Surah Yaa Siin Ayat 69 *beta

Surah Yaa Siin Ayat 69



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Yaa Siin

Surah Yasin atau Surah Ya Sin (bahasa Arab:يس) adalah surah ke-36 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 83 ayat, serta termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Ya Sin karena surah ini dimulai dengan dua abjad Arab Ya Sin.
Sebagaimana halnya arti tersembunyi huruf-huruf abjad Alif Lam Mim atau Nun yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Quran, maka demikian pula arti Ya Sin yang termasuk dalam kategori ayat mutasyaabihat.

Nomor Surah 36
Nama Surah Yaa Siin
Arab يس
Arti Yaasiin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 41
Juz 22 dan 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 83
Jumlah kata 733
Jumlah huruf 3068
Surah sebelumnya Surah Fatir
Surah selanjutnya Surah As-Saffat
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (15 votes)
Sending








[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku