QS. Yaa Siin (Yaasiin) – surah 36 ayat 38 [QS. 36:38]

وَ الشَّمۡسُ تَجۡرِیۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّہَا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ
Wasy-syamsu tajrii limustaqarrin llahaa dzalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim(i);

dan matahari berjalan ditempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
―QS. 36:38
Topik ▪ Keabadian neraka
36:38, 36 38, 36-38, Yaa Siin 38, YaaSiin 38, Yasin 38

Tafsir surah Yaa Siin (36) ayat 38

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yaa Siin (36) : 38. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam ayat ini bukti yang lain tentang kekuasaan Nya, ialah peredaran matahari, yang bergerak pada garis edarnya yang tertentu, dengan tertib, menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah.
Sedikitpun ia tak menyimpang dari garis yang telah ditentukan itu.
Andai kata ia menyimpang seujung rambutpun, niscaya akan terjadilah tabrakan dengan benda-benda langit lainnya, dan tak dapat kita ramalkan apa yang akan terjadi karenanya.

Dilihat sepintas lalu, orang akan menerima bahwa hanya mataharilah yang bergerak, sedang bumi tetap pada tempatnya.
Di pagi hari, matahari terlihat di sebelah timur, sedang pada sorenya ia telah berada di barat.
Akan tetapi ilmu falak mengatakan, bahwa matahari berjalan sambil berputar pada sumbunya, sedang bumi berada di depannya, juga berjalan sambil berputar pada sumbunya, dan beredar mengelilingi matahari.

Ternyata apa yang ditetapkan oleh ilmu falak sama persis dengan apa yang telah diterangkan dalam ayat tersebut.
Oleh sebab itu, tidaklah mustahil jika dikatakan bahwa semakin tinggi kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia, semakin tersingkap pulalah kebenaran-kebenaran yang telah dikemukakan Alquran sejak empat belas abad yang lalu.
Allahu Akbar.
Allah Malta Besar kekuasaannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan matahari beredar pada garis edarnya sebagai bukti kekuasaan Allah dalam dimensi ruang dan waktu.
Peredaran itu terjadi karena diatur oleh Sang Mahaperkasa yang Mahakuasa, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan matahari berjalan) ayat ini dan seterusnya merupakan bagian daripada ayat Wa-aayatul Lahum, atau merupakan ayat yang menyendiri, yakni tidak terikat oleh ayat sebelumnya demikian pula ayat Wal Qamara, pada ayat selanjutnya (di tempat peredarannya) tidak akan menyimpang dari garis edarnya.

(Demikianlah) beredarnya matahari itu (ketetapan Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tanda bagi mereka adalah matahari yang berjalan pada orbitnya, Allah telah menetapkannya sehingga ia tidak melampauinya dan juga tidak menyimpang darinya. Yang demikian itu merupakan pengaturan dari Allah yang Mahaperkasa yang tidakdikalahkan, Maha Mengetahui yang tidak samar sesuatu apapun bagi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S. Yasin [36]: 38)

Sehubungan dengan makna kalimat ‘limustaqarril laha’, ada dua pendapat.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa makna yang dimaksud mustaqarril laha ialah tempat menetapnya matahari, yaitu di bawah ‘Arasy yang letaknya berhadapan dengan letak bumi bila dilihat dari arah ‘Arasy.
Dengan kata lain, di mana pun matahari berada, ia tetap berada di bawah ‘Arasy, demikian pula semua makhluk lainnya, mengingat ‘Arasy merupakan atap bagi kesemuanya.
Bentuk ‘Arasy itu bukan bulat, tidak seperti yang disangka oleh para ahli ilmu ukur dan bentuk.
Sesungguhnya ia berbentuk seperti kubah yang mempunyai tiang-tiang, dipikul oleh para malaikat, letak ‘Arasy berada di atas semesta alam, yakni berada di atas semua manusia.
Matahari itu apabila berada di tengah kubah falak di waktu lohor, maka saat itulah mentari berada paling dekat dengan ‘Arasy.
Dan apabila berputar di garis edarnya hingga letaknya berlawanan dengan kedudukan tersebut, yaitu bila berada di tengah malam, maka mentari berada di tempat yang paling jauh dengan ‘Arasy.
Pada saat itulah mentari bersujud dan meminta izin untuk terbit lagi, sebagaimana yang disebutkan di dalam banyak hadis.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Zar r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ia sedang bersama Nabi ﷺ di dalam masjid bertepatan dengan waktu tenggelamnya mentari, maka Nabi ﷺ bertanya, “Hai Abu Zar, tahukah kamu ke manakah mentari itu terbenam?”
Abu Zar menjawab.”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya mentari itu pergi hingga sujud di bawah ‘Arasy.
Yang demikian itu dijelaskan oleh firman-Nya, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin [36]: 38)

Telah menceritakan pula kepada kami Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dan Abu Zar r.a.
yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna firman-Nya: dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
(Q.S. Yasin [36]: 38) Maka beliau bersabda: Tempat menetapnya matahari itu di bawah ‘Arasy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi dan ayahnya, dari Abu Zar yang menceritakan bahwa ketika ia sedang bersama Rasulullah ﷺ di dalam masjid saat mentari sedang tenggelam, maka beliau ﷺ bersabda, “Hai Abu Zar, tahukah kamu ke manakah mentari ini pergi?”
Abu Zar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya mentari itu pergi hingga bersujud di hadapan Tuhannya, lalu meminta izin untuk kembali, maka diberikan izin baginya-dan seakan-akan pasti akan dikatakan kepadanya Kembalilah kamu dari arah kamu datang’- lalu ia kembali ke tempat terbitnya, di tempat ia bersujud itulah tempat tinggalnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
(Q.S. Yasin [36]: 38) (Yakni menuju tempat menetapnya, pent, sesuai dengan makna hadis)

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa ia telah meriwayatkan dari Al­ Amasy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Zar ra yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya di saat mentari sedang terbenam, “Hai Abu Zar, tahukah kamu ke manakah mentari ini pergi ?
abu Dzar menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Rasulullah bersabda : Sesungguhnya mentari itu pergi hingga sujud di bawah ‘Arasy lalu meminta izin dan diberikan izin baginya (untuk terbit lagi), dan sudah dekat waktunya mentari bersujud (untuk meminta izin), lalu tidak diterima, dan mentari minta izin lagi, tetapi tetap tidak diterima.
Lalu dikatakan kepadanya, “Kembalilah kamu dari tempat tenggelammu.” Maka mentari terbit dari tempat tenggelamnya.
Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin [36]: 38)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Wahb ibnu Jabir, dari Abdullah ibnu Amr r.a.
yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
(Q.S. Yasin [36]: 38) Bahwa sesungguhnya matahari itu terbit, lalu dikembalikan (menjadi terbit kembali setelah tenggelam) oleh dosa-dosa anak Adam, hingga apabila terbenam, maka ia berserah diri, bersujud, dan memohon izin kepada Tuhannya untuk terbit lagi.
Dan akan tiba masanya di suatu hari ia tenggelam, lalu berserah diri, bersujud dan meminta izin, tetapi tidak diizinkan baginya untuk terbit.
Lalu mentari berkata, “Sesungguhnya perjalanan itu jauh, dan jika aku tidak diberi izin, pasti aku tidak mampu menempuhnya.” Lalu ia ditahan selama masa yang dikehendaki oleh Allah untuk menahannya, kemudian dikatakan kepadanya, “Kembalilah kamu ke tempat kamu tenggelam.”

Ibnu Amr r.a.
mengatakan bahwa sejak hari itu hingga hari kiamat tidak bermanfaat lagi bagi seseorang imannya bila ia tidak beriman sebelumnya, atau dalam masa imannya dia belum pernah mengusahakan suatu kebaikan pun.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan mustaqarril laha ialah titik akhir perjalanannya, puncak perjalanannya yang paling tinggi di langit, yaitu di musim panas, kemudian jarak perjalanannya yang paling bawah, yaitu di musim dingin.

Pendapat yang kedua, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mustaqarril laha ialah batas terakhir perjalanannya, yaitu pada hari kiamat nanti perjalanannya terhenti dan diam tidak bergerak lagi, serta di gulung (dipadamkan), maka alam semesta ini telah mencapai usianya yang paling maksimal.
Berdasarkan pengertian ini, berarti yang dimaksud dengan mustaqar ialah berkaitan dengan zaman dan waktu, bukan dengan tempat seperti yang ada pada pendapat pertama.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, Limustaqarril laha,” artinya sampai batas waktunya yang telah ditentukan baginya dan tidak dapat dilampauinya.

Menurut pendapat lain.
makna yang dimaksud ialah mentari itu terus-menerus berpindah-pindah di tempat terbitnya dalam musim panas sampai batas waktu yang tidak lebih dari panjangnya musim panas, kemudian berpindah-pindah pula di tempat terbitnya dalam musim dingin selama masa musim dingin tidak lebih darinya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr r.a.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas membaca firman berikut, yaitu: dan matahari berjalan di tempat peredarannya.
(Q.S. Yasin [36]: 38) Yakni tidak pernah menetap dan tidak pernah diam.
bahkan ia selalu berjalan siang dan malam tanpa henti dan tanpa istirahat.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya).
(Q.S. Ibrahim [14]: 33) Yakni tiada henti-hentinya terus bergerak sampai hari kiamat nanti.

Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa.
(Q.S. Yasin [36]: 38)

Yaitu Tuhan Yang tidak dapat ditentang dan tidak dapat dicegah.

lagi Maha Mengetahui.
(Q.S. Yasin [36]: 38)

yakni Maha Mengetahui semua gerakan dan semua yang diam.
Dia telah menetapkan ukuran bagi hal tersebut dan membatasinya dengan waktu sesuai dengan apa yang telah digariskan­Nya, tidak ada penyimpangan, tidak ada pula benturan.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan.
Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S. Al-An’am [6]: 96)

Hal yang sama disebutkan pula dalam akhir ayat 12 surat Fussilat, yaitu:

Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S. Fushshilat [41]: 12)


Informasi Surah Yaa Siin (يس)
Surat “Yaa Siin” terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-surat Makldyyah, diturunkan sesudah surat Jin.

Dinamai “Yaa Siin” karena dimulai dengan huruf “Yaa Siin”.
Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat.
Al Qur’an, maka demikian pula arti “Yaa Siin” yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting antara lain:
Allah bersumpah dengan Al Qur’an bahwa Muhammad ﷺ benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah diutus kepada mereka rasul­ rasul.

Keimanan:

Bukti-bukti adanya hari berbangkit
Al Qur’an bukanlah syair
ilmu, kekuasaan dan rahmat Allah
surga dan sifat-sifatnya yang disediakan bagi orang-orang mu’min
mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya
anggota badan manusia menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah utusan-utusan Nabi Isa a.a. dengan penduduk Anthakiyah (Syam) .

Lain-lain:

Tidak ada faedah peringatan bagi orang-orang musyrik
Allah menciptak an segala sesuatu berpasang-pasangan
semua bintang-bintang di cakrawala berjalan pada ga­ris edar yang telah ditetapkan Allah
ajal dan hari kiamat datangnya secara tlba­ tiba
Allah menghibur hati Rasulullah s.a. w. terhadap sikap kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.

Ayat-ayat dalam Surah Yaa Siin (83 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Yaa-Siin (36) ayat 38 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Yaa-Siin (36) ayat 38 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Yaa-Siin (36) ayat 38 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Yasin (36) ayat 1-83 - Archie Wirija (Bahasa Indonesia)
Q.S. Yasin (36) ayat 1-83 - Archie Wirija (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Yaa-Siin - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 83 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 36:38
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Yaa Siin.

Surah Yasin atau Surah Ya Sin (bahasa Arab:يس) adalah surah ke-36 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 83 ayat, serta termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Ya Sin karena surah ini dimulai dengan dua abjad Arab Ya Sin.
Sebagaimana halnya arti tersembunyi huruf-huruf abjad Alif Lam Mim atau Nun yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Quran, maka demikian pula arti Ya Sin yang termasuk dalam kategori ayat mutasyaabihat.

Nomor Surah 36
Nama Surah Yaa Siin
Arab يس
Arti Yaasiin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 41
Juz 22 dan 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 83
Jumlah kata 733
Jumlah huruf 3068
Surah sebelumnya Surah Fatir
Surah selanjutnya Surah As-Saffat
4.8
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 36 : 38

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim