Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Yaa Siin

Yaa Siin (Yaasiin) surah 36 ayat 12


اِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ ؕؑ وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ فِیۡۤ اِمَامٍ مُّبِیۡنٍ
Innaa nahnu nuhyiil mauta wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syai-in ahshainaahu fii imaamin mubiinin;

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
―QS. 36:12
Topik ▪ Hisab ▪ Lembaran catatan amal perbuatan ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
36:12, 36 12, 36-12, Yaa Siin 12, YaaSiin 12, Yasin 12
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Yaa Siin (36) : 12. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian disebutkan pula bahwa orang harus merasa takut (takwa) kepada Tuhannya, yaitu karena Allah akan menghidupkan kembali sekalian orang yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya masing-masing pada Hari Akhirat.
Ketika itu manusia memperoleh buka amalan dari seluruh perbuatan, baik besar maupun kecil, yang pernah dikerjakan di atas dunia dahulu.
Tiada satu pun perbuatan yang ketinggalan akan tetapi semuanya tertulis dalam buku itu dengan penuh ketelitian.
Alquran menyatakan:

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah, ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya.
dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).
Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.

(Q.S.
Al Kahfi: 49)

Tidak hanya amalan mereka yang tertulis dalam buku itu, akan tetapi menurut ayat ini juga segala amal suri teladan yang mereka tinggalkan, yang orang banyak masih memanfaatkannya setelah ia meninggal dunia, seperti ilmu pengetahuan yang diajarkannya, harta benda yang diwaqafkannya, rumah sakit yang didirikannya guna kesehatan masyarakat.
Demikian pula bekas-bekas amal jahatnya yang ditinggalkan seperti fitnah yang pernah ditebarkannya sehingga orang-orang saling berselisih atau pecah belah akibat fitnah atan kesan dari fitnah itu.
Ringkasnya setiap amal atau perbuatan yang menimbulkan bekas atau kesan, baik kesan yang bermanfaat atau yang menimbulkan mudarat, akan tertulis semua dalam buku amalan itu.
Ayat ini sejalan dengan sebuah sabda Rasulullah Yang berbunyi:

Barangsiapa yang membuat tradisi (kebiasaan) yang baik ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudah ia meninggal tanpa dikurangi sedikitpun jua.
Dan barangsiapa yang membuat suatu tradisi (kebiasaan) yang jahat, ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah (ia) meninggal dunia tanpa dikurangi sedikitpun jua.
Kemudian Rasulullah membaca ayat Wanaktubu maqaddamu wa asaruhum (dan) Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(H.R.
Bukhari dari Musa Al Asy'ari)

Sehubungan dengan makna "Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan",
Imam Tirmizi meriwayatkan sebuah kisah seperti yang dimuat oleh Ibnu Kasir dalam tafsirnya sebagai berikut:

Dari riwayat ini dikisahkan, bahwa ada orang-orang dari Bani Salaman tinggal di pinggiran kota Madinah.
Mereka merasa betapa jauhnya tempat kediaman mereka dari mesjid (Mesjid Nabi).
Agar mereka dapat datang berjemaah lebih awal untuk mengejar keutamaan salat berjemaah, mereka berniat untuk memindahkan rumah mereka ke daerah sekitar mesjid, maka turunlah ayat ini.
Setelah Rasulullah memanggil mereka itu, beliaupun bersabda: "Niatmu yang balk itu akan ditulis".
Akhirnya mereka tidak jadi pindah.
Ibnu Jarir meriwayatkan pula bahwa sebagian dari orang-orang Ansar berjauhan rumah mereka dari mesjid Rasulullah.
Mereka berhasrat memindahkannya.
Maka turunlah ayat ini.
Akhirnya membatalkan maksud mereka Barangkali yang mendorong orang-orang Bani Salamah atau segolongan sahabat Ansar hendak memindahkan rumah mereka itu, adalah oleh karena Nabi menyatakan "salat jemaah itu 27 kali lipat pahalanya dibanding dengan salat yang dikerjakan sendirian".
Rasulullah bersabda:

Manusia yang paling banyak menerima pahala salat ialah orang yang paling jauh (rumahnya dan mesjid) dan mereka berjalan kaki, dan orang yang menanti kedatangannya (waktu) salat sehingga mengerjakannya bersama iman (dengan berjemaah), lebih besar pahalanya dari pada orang yang mengerjakan salat (sendiri) kemudian ia tidur.

Kemudian lebih ditegaskan lagi, tidak hanya amal Bani Adam yang tertulis dalam buku itu dengan rapih, teliti dan menyeluruh, akan tetapi apa yang terjadi di permukaan bumi ini, pasti tercatat dengan teliti.

Menurut penjelasan ahli tafsir yang dimaksud dengan "Imamiim mubin" (kitab induk yang nyata) ialah Lohmahfuz Ayat ini diperkuat lagi dengan keterangan ayat-ayat lain yang berbunyi:

Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lohmahfuz), Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa".
(Q.S.
Taha: 52)

Dan ayat:

Dan (segala) urusan yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
(Q.S.
Qamar: 53)

Demikian penjelasan ayat-ayat di atas yang memastikan datangnya Hari Kiamat, di mana manusia akan menerima balasan dari semua amal usahanya, baik jahat maupun baik.
Dari ayat ini dapatlah dipahami bahwa kabar gembira berupa magfirah dan surga bagi orang yang takwa kepada Tuhan dan mengikuti petunjuk Alquran di tetapkan Allah nanti setelah hari berbangkit.

Yaa Siin (36) ayat 12 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Yaa Siin (36) ayat 12 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Yaa Siin (36) ayat 12 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati dan mencatat segala amal perbuatan mereka di dunia, lengkap dengan peninggalan-peninggalan mereka setelah kematian.
Semua itu telah Kami tetapkan dalam sebuah kitab yang jelas.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati) yakni menghidupkannya kembali (dan Kami menuliskan) di Lohmahfuz (apa yang telah mereka kerjakan) selama hidup di dunia berupa kebaikan dan keburukan, lalu Kami membalasnya kepada mereka (dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) hal-hal yang dijadikan panutan dari perbuatan mereka sesudah mereka tiada (serta segala sesuatu) dinashabkannya lafal Kulla oleh pengaruh Fiil atau kata kerja yang menjelaskannya, yaitu kalimat berikutnya (Kami catat) Kami kumpulkan satu persatu secara mendetail (di dalam kitab induk yang nyata) yaitu di Lohmahfuz.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati seluruhnya dengan membangkitkan mereka di Hari Kiamat.
Kami menulis kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan dan peninggalan-peninggalan mereka di mana mereka merupakan sebabnya dalam kehidupan mereka dan sesudah kematian mereka dalam bentuk kebaikan, seperti anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah.
Kami juga menulis keburukan yang mereka kerjakan berupa kesyirikan dan kemaksiatan.
Segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab yang jelas yaitu Ummul Kitab yang merupakan induknya, yaitu Lauhul Mahfuzh.
Hendaknya orang yang berakal menghisab dirinya, agar menjadi teladan dalam kebaikan dalam hidup dan sesudah matinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati.
(Yaa Siin:12)

Yakni kelak di hari kiamat.

Di dalam makna ayat terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala dapat menghidupkan hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan orang-orang kafir yang hatinya telah mati karena kesesatan, maka Allah memberinya petunjuk kepada jalan yang benar sesudah itu.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya sesudah menerangkan tentang orang-orang yang hatinya keras:

Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya (Al Hadiid:17)

firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan.
(Yaa Siin:12)

Yaitu semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.

Dan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Ya sin: 12)

Ada dua pendapat yang mengenainya.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa Kami mencatat semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, juga jejak-jejak mereka yang dijadikan suri teladan sesudah mereka tiada, maka Kami membalas amal perbuatan itu.
Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik, dan jika amal perbuatnnya buruk, maka balasannya buruk pula.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis Nabi ﷺ yang mengatakan:

Barang siapa yang mengerjakan suatu sunnah (perbuatan) baik, maka ia memperoleh pahalanya dan juga pahala dari orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Dan barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan buruk, maka ia akan mendapatkan dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syu'bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, dari Jarir ibnu Abdullah Al-Bajali r.a.
Di dalamnya terdapat kisah orang-orang Mudar yang memetik buah-buahan.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Yahya ibnu Sulaiman Al-Ju'fi, dari Abul Muhayya alias Yahya ibnu Ya'la, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Jarir ibnu Abdullah r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan panjang lebar, kemudian ia membaca firman-Nya: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12)

Imam Muslim meriwayatkannya melalui Abu Uwwanah, dari Abdul malik ibnu Umair ibnul Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, lalu disebutkan hadis yang semisal.

Hal yang sama dinyatakan di dalam hadis lain yang berada di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya, atau sedekah jariyah (yang terus mengalir pahalanya) sesudah ia tiada.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sa'id r.a.
yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12) bahwa makna yang dimaksud ialah kesesatan yang mereka tinggalkan.

Ibnu Lahi'ah telah meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, dari Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12) Yakni bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dengan kata lain suatu amal perbuatan yang jejaknya diikuti oleh orang lain sesudah ia tiada.
Maka jika bekas-bekas itu baik, maka pelaku pertamanya mendapat pahala yang semisal dengan orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Dan jika hal itu berupa perbuatan buruk, maka pelaku pertamanya mendapatkan dosa yang sama dengan orang-orang yang mengiktui jejaknya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.
Kedua riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dan dipilih oleh Al-Bagawi.

Pendapat yang kedua, mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langkah-langkah mereka menuju kepada amal ketaatan atau kemaksiatan.

Ibnu Abu Najih dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12) Yaitu langkah-langkah mereka.

Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan atsarahum (bekas-bekas mereka) adalah langkah-langkah mereka.
Qatadah mengatakan bahwa seandainya Allah melupakan sesuatu dari keadaanmu, hai anak Adam, tentulah Dia melupakan sebagian dari jejak-jejak ini yang telah terhapus oleh angin.
Akan tetapi, Dia mencatat terhadap anak Adam semua jejak dan amal perbuatannya, sehingga Dia pun mencatat langkah-langkahnya yang dipakainya untuk ketaatan kepada Allah atau kedurhakaan terhadap­Nya.
Maka barang siapa di antara kalian yang mampu mencatat jejaknya dalam ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya.
Sehubungan dengan pengertian ini ada banyak hadis yang mengutarakan hal yang semakna, seperti yang diterangkan berikut:

Hadis pertama,

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Jabir ibnu Abdullah r.a.
yang menceritakan bahwa tanah di sekitar Masjid Nabawi kosong, maka Bani Salamah bermaksud akan pindah tempat ke dekat Masjid Nabawi.
Ketika berita itu terdengar oleh Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda kepada mereka: 'Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian bermaksud akan pindah tempat ke dekat masjid?” Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, kami bermaksud akan pindah" Maka beliau ﷺ bersabda, "Hai Bani Salamah, tetaplah di tempat kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dituliskan, tetaplah di tempat kalian, niscaya langkah-langkah kalian akan dituliskan (oleh Allah)."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadis Sa'id Al-Jariri dan Kahmas ibnul Hasan, yang keduanya dari Abu Nadrah yang nama aslinya adalah Al-Munzir ibnu Malik ibnu Qit'ah Al-Abdi, dari Jabir r.a.
dengan sanad yang sama.

Hadis kedua,

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Azraq, dari Sufyan, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a.
yang mengatakan, bahwa dahulu Bani Salamah bermaksud akan pindah ke tempat yang berdekatan dengan masjid, karena mereka tinggal di pinggiran kota Madinah.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12) Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: Sesungguhnya jejak langkah-langkah kalian dituliskan (oleh Allah pahalanya).
Akhirnya mereka tidak jadi pindah,

Imam Turmuzi di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan hadis ini secara tunggal melalui Muhammad ibnul Wazir dengan sanad yang sama.
Kemudian ia mengatakan bahwa predikat hadis garib hasan bila melalui hadis Sufyan As-Sauri.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sulaiman ibnu Umar ibnu Khalid Ar-Ruqi, dari Ibnul Mubarrak, dari Sufyan As-Sauri, dari Tarif alias Ibnu Syihab Abu Sufyan As-Sa'di, dari Abu Nadrah dengan sanad yang sama.

Telah diriwayatkan pula bukan melalui Sufyan As-Sauri.
Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Ziad As-Saji, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Sa'id Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Bani Salamah mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang tempat tinggal mereka yang jauh dari masjid.
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12).
Akhirnya mereka tetap berada di tempat tinggalnya, tidak jadi pindah.

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id r.a., dari Nabi ﷺ, lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi di dalamnya terkandung hal yang aneh, karena dipandang dari segi penuturan latar belakang turunnya ayat ini, padahal semua ayat yang ada di dalam surat ini Makkiyyah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hadis ketiga,

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Al-Jahdami, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa dahulu tempat-tempat tinggal kaum Ansar berjauhan dengan masjid, lalu mereka beimaksud pindah ke dekat Masjid Nabawi.
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12), Akhirnya mereka berkata, "Kami akan tetap tinggal di tempat kami semula."

Imam Tabrani meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Sa'id ibnu Abu Maryam, dari Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Israil, dari Sammak, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa rumah orang-orang Ansar jauh dari masj id.
Maka mereka berniat akan pindah ke dekat masjid, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(Yaa Siin:12), Akhirnya mereka tetap di tempat tinggal semula.

Hadis keempat,

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepadaku Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr r.a.
yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki meninggal dunia di Madinah.
Maka Nabi ﷺ menyalatkan jenazahnya, lalu beliau bersabda: Seandainya saja dia meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya.
Maka ada seseorang yang bertanya, "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya seseorang itu apabila meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya, maka akan dilakukan pengukuran baginya dari tempat kelahirannya hingga batas akhir dari jejaknya (sebagai tempat tinggalnya nanti) di dalam surga.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la, sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari Harmalah.
Keduanya meriwayatkan­nya dari Ibnu Wahb, dari Huyay ibnu Abdullah dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Sabit yang mengatakan bahwa ia berjalan bersama Anas r.a., lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat, maka Anas memegang tangannya dan akhirnya kami berdua berjalan dengan langkah-langkah biasa.
Setelah kami menyelesaikan salat kami, maka Anas berkata, "Saya pernah berjalan bersama Zaid ibnu Sabit r.a., lalu saya berjalan dengan langkah yang cepat.
Maka Zaid ibnu Sabit berkata kepadaku, Hai Anas, tidakkah kamu merasakan bahwa langkah-langkah itu dicatat (pahalanya oleh Allah)?"

Pendapat ini pada garis besarnya tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama, balikan dalam pendapat yang kedua ini terkandung peringatan dan dalil yang menunjukkan kepada pendapat yang pertama dengan skala prioritas.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa apabila langkah-langkah saja ditulis pahalanya, maka terlebih lagi jejak-jejak kebaikan yang di kemudian hari dijadikan suri teladan oleh orang lain.
Begitu pula sebaliknya, jika jejak-jejak atau langkah-langkah itu untuk tujuan keburukan, maka balasannya akan buruk pula.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.
(Yaa Siin:12)

Yakni semua yang ada dicatat di dalam kitab secara rinci lagi tepat, yaitu di Lauh Mahfuz.
Yang dimaksud dengan Imamul Mubin dalam ayat ini ialah induk dari kitab (Ummul Kitab), demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Hal yang semakna disebutkan di dalam firman-Nya:

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpinnya.
(Al Israa':71)

Yang dimaksud dengan imam dalam ayat ini adalah kitab-kitab amal perbuatan mereka yang menjadi saksi atas mereka terhadap semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia, yaitu amal baik dan amal buruknya.
Seperti juga yang disebutkan di dalam firman-Nya:

dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi.
(Az Zumar:69)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai, celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, " dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).
Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al Kahfi:49)

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Yaa Siin (36) ayat 12
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Hawsyab berkata,
telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab berkata,
telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas bin Malik berkata,
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Wahai Bani Salamah, tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian? Mujahid ketika menerangkan firman Allah: Dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (Qs. Yasin: 12) mengatakan, Yakni langkah-langkah mereka. Ibnu Abu Maryam berkata,
telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepadaku Humaid telah menceritakan kepadaku Anas ia berkata,
Bani Salamah pernah berkeinginan untuk pindah dari tempat tinggal mereka dan mendekat dengan Nabi ﷺ Namun Rasulullah ﷺ tidak memperkenankan mereka mengosongkan Madinah dengan bersabda:
Tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian? Mujahid berkata,
Langkah-langkah mereka adalah bekas-bekas perjalanan mereka di muka bumi ketika berjalan dengan kaki mereka.

Shahih Bukhari, Kitab Adzan - Nomor Hadits: 616

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Yaa Siin (36) Ayat 12

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, dan al-Hakim dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri.
Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa bani Salamah bertempat di pinggiran kota Madinah dan ingin pindah ke dekat masjid.
Maka turunlah ayat ini (Yaasiin: 12) yang menegaskan bahwa setiap ucap langkah manusia dicatat oleh Allah subhanahu wa ta'ala
Setelah turun ayat tersebut, Nabi ﷺ menasehati bani Salamah agar tidak pindah dari tempat tinggalnya, dengan sabdanya: “Sesungguhnya bekas telapak kalian menuju masjid dicatat oleh Allah subhanahu wa ta'ala Sebaikanya kalian jangan pindah dari tempat kalian.”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Yaa Siin (يس)
Surat "Yaa Siin" terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-surat Makldyyah, diturunkan sesudah surat Jin.

Dinamai "Yaa Siin" karena dimulai dengan huruf "Yaa Siin".
Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat.
Al Qur'an, maka demikian pula arti "Yaa Siin" yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting antara lain:
Allah bersumpah dengan Al Qur'an bahwa Muhammad ﷺ benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah diutus kepada mereka rasul­ rasul.

Keimanan:

Bukti-bukti adanya hari berbangkit
Al Qur'an bukanlah syair
ilmu, kekuasaan dan rahmat Allah
surga dan sifat-sifatnya yang disediakan bagi orang-orang mu'min
mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya
anggota badan manusia menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah utusan-utusan Nabi Isa a.a. dengan penduduk Anthakiyah (Syam) .

Lain-lain:

Tidak ada faedah peringatan bagi orang-orang musyrik
Allah menciptak an segala sesuatu berpasang-pasangan
semua bintang-bintang di cakrawala berjalan pada ga­ris edar yang telah ditetapkan Allah
ajal dan hari kiamat datangnya secara tlba­ tiba
Allah menghibur hati Rasulullah s.a. w. terhadap sikap kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.

QS 36 Yasin (1-83) - Indonesian - Archie Wirija
QS 36 Yasin (1-83) - Arabic - Archie Wirija


Gambar Kutipan Surah Yaa Siin Ayat 12 *beta

Surah Yaa Siin Ayat 12



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Yaa Siin

Surah Yasin atau Surah Ya Sin (bahasa Arab:يس) adalah surah ke-36 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 83 ayat, serta termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Ya Sin karena surah ini dimulai dengan dua abjad Arab Ya Sin.
Sebagaimana halnya arti tersembunyi huruf-huruf abjad Alif Lam Mim atau Nun yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Quran, maka demikian pula arti Ya Sin yang termasuk dalam kategori ayat mutasyaabihat.

Nomor Surah 36
Nama Surah Yaa Siin
Arab يس
Arti Yaasiin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 41
Juz 22 dan 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 83
Jumlah kata 733
Jumlah huruf 3068
Surah sebelumnya Surah Fatir
Surah selanjutnya Surah As-Saffat
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku