Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Yaa Siin (Yaasiin) – surah 36 ayat 12 [QS. 36:12]

اِنَّا نَحۡنُ نُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ نَکۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَ اٰثَارَہُمۡ ؕؑ وَ کُلَّ شَیۡءٍ اَحۡصَیۡنٰہُ فِیۡۤ اِمَامٍ مُّبِیۡنٍ
Innaa nahnu nuhyiil mauta wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syai-in ahshainaahu fii imaamin mubiinin;
Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).
―QS. Yaa Siin [36]: 12

Daftar isi

Indeed, it is We who bring the dead to life and record what they have put forth and what they left behind, and all things We have enumerated in a clear register.
― Chapter 36. Surah Yaa Siin [verse 12]

إِنَّا sesungguhnya Kami

Indeed, We
نَحْنُ Kami

[We]
نُحْىِ Kami menghidupkan

[We] give life
ٱلْمَوْتَىٰ orang mati

(to) the dead
وَنَكْتُبُ dan Kami tulis

and We record
مَا apa

what
قَدَّمُوا۟ yang mereka kerjakan

they have sent before
وَءَاثَٰرَهُمْ dan bekas-bekas mereka

and their footprints,
وَكُلَّ dan segala

and every
شَىْءٍ sesuatu

thing
أَحْصَيْنَٰهُ Kami hitung/kumpulkan

We have enumerated it
فِىٓ dalam

in
إِمَامٍ Kitab

a Register
مُّبِينٍ yang nyata

clear.

Tafsir

Alquran

Surah Yaa Siin
36:12

Tafsir QS. Yaa Siin (36) : 12. Oleh Kementrian Agama RI


Kemudian disebutkan pula bahwa orang harus merasa takut kepada Tuhannya, karena Allah akan menghidupkan kembali semua orang yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya masing-masing pada hari Akhirat.
Ketika itu manusia memperoleh catatan dari seluruh perbuatan, baik besar maupun kecil, yang pernah dikerjakan di dunia dahulu.

Tiada satu pun perbuatan yang luput dari catatan.
Semuanya tertulis dalam buku itu dengan teliti dan.

Alquran menyatakan:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata,
"Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,"
dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis).
Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.
(al-Kahf [18]: 49)


Tidak hanya perbuatan mereka yang tertulis dalam buku itu, tetapi juga segala amal yang mereka tinggalkan, yang diikuti dan masih dimanfaatkan orang banyak setelah ia meninggal dunia, seperti ilmu pengetahuan yang diajarkannya, harta benda yang diwakafkan, atau rumah sakit yang didirikannya untuk kesehatan masyarakat.
Demikian pula perbuatan jahat yang ditinggalkan, seperti fitnah yang pernah ditebarkannya sehingga mengakibatkan orang saling berselisih atau berpecah-belah.

Ringkasnya, setiap perbuatan yang menimbulkan pengaruh, baik yang bermanfaat atau menimbulkan mudarat, tertulis semua dalam buku itu.
Ayat ini sejalan dengan hadis Rasulullah yang berbunyi:Barang siapa membuat tradisi (kebiasaan) yang baik ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudah ia meninggal tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka.

Dan barangsiapa membuat suatu tradisi (kebiasaan) yang buruk, ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah (ia) meninggal dunia tanpa dikurangi sedikit pun dosa mereka.
Kemudian Rasulullah membaca ayat
"wanaktubu maqaddamu wa atsarahum"
(dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).
"
(Riwayat Bukhari dari Abu Musa..
al-Asy’ari)


Sehubungan dengan makna firman Allah
"Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan",
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah kisah, seperti yang dimuat oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, di mana diceritakan ada orang-orang dari Madinah.
Mereka merasa betapa jauhnya tempat kediaman mereka dari masjid Nabi.
Agar mereka dapat datang berjamaah lebih awal untuk memperoleh keutamaan salat berjamaah, mereka berniat untuk memindahkan rumah mereka ke daerah sekitar masjid, maka turunlah ayat ini.
Setelah Rasulullah memanggil mereka, beliau pun bersabda,
"Niatmu yang baik itu akan ditulis."
Akhirnya mereka tidak jadi pindah.



Ibnu Jarir ath-thabari meriwayatkan pula bahwa rumah sebagian orang Anshar jauh dari masjid Rasulullah.
Mereka ingin memindahkannya, maka turunlah ayat ini.
Mereka akhirnya membatalkan maksud tersebut.
Barangkali yang mendorong orang-orang sahabat Anshar hendak memindahkan rumah mereka adalah hadis Nabi ﷺ yang menyatakan bahwa salat berjamaah itu 27 kali lipat pahalanya dibanding dengan salat yang dikerjakan sendirian.
Rasulullah bersabda:


Manusia yang paling banyak pahalanya dalam salat ialah orang yang paling jauh berjalan dengan kaki, kemudian yang paling jauh, dan orang yang menunggu salat sehingga ia mengerjakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang mengerjakan salat (sendiri) kemudian ia tidur."
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Musa)


Kemudian lebih ditegaskan lagi bahwa tidak hanya perbuatan Adam yang tertulis dalam buku itu dengan teliti, tetapi juga apa yang terjadi di bumi ini.
Menurut penjelasan ahli tafsir yang dimaksud dengan imamum mubin (kitab induk yang nyata) ialah Lauh Mahfuzh.
Ayat ini diperkuat lagi dengan keterangan ayat-ayat lain yang berbunyi:

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَى

Dia (Musa) menjawab,
"Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh), Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa."
(Tha Ha [20]: 52)


Dan ayat:

وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَّكَبِيْرٍ مُّسْتَطَرٌ

Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis. (al-Qamar [54]: 53)


Demikian penjelasan ayat-ayat di atas yang memastikan datangnya hari Kiamat, di mana manusia akan menerima balasan dari semua usahanya, baik jahat maupun baik.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kabar gembira berupa ampunan dan surga bagi orang yang takwa kepada Tuhan dan mengikuti petunjuk Alquran ditetapkan Allah nanti setelah hari Kebangkitan.

Tafsir QS. Yaa Siin (36) : 12. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati dan mencatat segala amal perbuatan mereka di dunia, lengkap dengan peninggalan-peninggalan mereka setelah kematian.
Semua itu telah Kami tetapkan dalam sebuah kitab yang jelas.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati seluruhnya dengan membangkitkan mereka di hari kiamat.
Kami menulis kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan dan peninggalan-peninggalan mereka di mana mereka merupakan sebabnya dalam kehidupan mereka dan sesudah kematian mereka dalam bentuk kebaikan, seperti anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah.


Kami juga menulis keburukan yang mereka kerjakan berupa kesyirikan dan kemaksiatan.
Segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab yang jelas yaitu Ummul Kitab yang merupakan induknya, yaitu Lauhul Mahfuzh.


Hendaknya orang yang berakal menghisab dirinya, agar menjadi teladan dalam kebaikan dalam hidup dan sesudah matinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati) yakni menghidupkannya kembali


(dan Kami menuliskan) di Lohmahfuz


(apa yang telah mereka kerjakan) selama hidup di dunia berupa kebaikan dan keburukan, lalu Kami membalasnya kepada mereka


(dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) hal-hal yang dijadikan panutan dari perbuatan mereka sesudah mereka tiada


(serta segala sesuatu) dinashabkannya lafal Kulla oleh pengaruh Fiil atau kata kerja yang menjelaskannya, yaitu kalimat berikutnya


(Kami catat) Kami kumpulkan satu persatu secara mendetail


(di dalam kitab induk yang nyata) yaitu di Lohmahfuz.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati.
(QS. Yasin [36]: 12)

Yakni kelak di hari kiamat.


Di dalam makna ayat terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dapat menghidupkan hati orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan orang-orang kafir yang hatinya telah mati karena kesesatan, maka Allah memberinya petunjuk kepada jalan yang benar sesudah itu.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya sesudah menerangkan tentang orang-orang yang hatinya keras:

Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya (QS. Al-Hadid [57]: 17)

firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Yasin [36]: 12)

Yaitu semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan.


Dan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)


Ada dua pendapat yang mengenainya.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa Kami mencatat semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, juga jejak-jejak mereka yang dijadikan suri teladan sesudah mereka tiada, maka Kami membalas amal perbuatan itu.
Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik, dan jika amal perbuatnnya buruk, maka balasannya buruk pula.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis Nabi ﷺ yang mengatakan:

Barang siapa yang mengerjakan suatu sunnah (perbuatan) baik, maka ia memperoleh pahalanya dan juga pahala dari orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Dan barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan buruk, maka ia akan mendapatkan dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudah ia tiada tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syu’bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, dari Jarir ibnu Abdullah Al-Bajali r.a. Di dalamnya terdapat kisah orang-orang Mudar yang memetik buah-buahan.


Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Yahya ibnu Sulaiman Al-Ju’fi, dari Abul Muhayya alias Yahya ibnu Ya’la, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Jarir ibnu Abdullah r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan panjang lebar, kemudian ia membaca firman-Nya:
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)

Imam Muslim meriwayatkannya melalui Abu Uwwanah, dari Abdul malik ibnu Umair ibnul Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya, lalu disebutkan hadis yang semisal.


Hal yang sama dinyatakan di dalam hadis lain yang berada di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya, atau sedekah jariyah (yang terus mengalir pahalanya) sesudah ia tiada.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sa’id r.a. yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)
bahwa makna yang dimaksud ialah kesesatan yang mereka tinggalkan.


Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)
Yakni bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dengan kata lain suatu amal perbuatan yang jejaknya diikuti oleh orang lain sesudah ia tiada.
Maka jika bekas-bekas itu baik, maka pelaku pertamanya mendapat pahala yang semisal dengan orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Dan jika hal itu berupa perbuatan buruk, maka pelaku pertamanya mendapatkan dosa yang sama dengan orang-orang yang mengiktui jejaknya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.
Kedua riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dan dipilih oleh Al-Bagawi.

Pendapat yang kedua, mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah langkah-langkah mereka menuju kepada amal ketaatan atau kemaksiatan.


Ibnu Abu Najih dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:
apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)
Yaitu langkah-langkah mereka.


Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan atsarahum (bekas-bekas mereka) adalah langkah-langkah mereka.
Qatadah mengatakan bahwa seandainya Allah melupakan sesuatu dari keadaanmu, hai anak Adam, tentulah Dia melupakan sebagian dari jejak-jejak ini yang telah terhapus oleh angin.
Akan tetapi, Dia mencatat terhadap anak Adam semua jejak dan amal perbuatannya, sehingga Dia pun mencatat langkah-langkahnya yang dipakainya untuk ketaatan kepada Allah atau kedurhakaan terhadap­Nya.
Maka barang siapa di antara kalian yang mampu mencatat jejaknya dalam ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya.
Sehubungan dengan pengertian ini ada banyak hadis yang mengutarakan hal yang semakna, seperti yang diterangkan berikut:

Hadis pertama,

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa tanah di sekitar Masjid Nabawi kosong, maka Masjid Nabawi.
Ketika berita itu terdengar oleh Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda kepada mereka:
‘Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian bermaksud akan pindah tempat ke dekat masjid?"
Mereka menjawab,
"Benar, wahai Rasulullah, kami bermaksud akan pindah"
Maka beliau ﷺ bersabda,
"Hai Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui hadis Sa’id Al-Jariri dan Kahmas ibnul Hasan, yang keduanya dari Abu Nadrah yang nama aslinya adalah Al-Munzir ibnu Malik ibnu Qit’ah Al-Abdi, dari Jabir r.a. dengan sanad yang sama.

Hadis kedua,

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Azraq, dari Sufyan, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. yang mengatakan, bahwa dahulu masjid, karena mereka tinggal di pinggiran kota Madinah.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka:
Sesungguhnya jejak langkah-langkah kalian dituliskan (oleh Allah pahalanya).
Akhirnya mereka tidak jadi pindah,

Imam Turmuzi di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan hadis ini secara tunggal melalui Muhammad ibnul Wazir dengan sanad yang sama.
Kemudian ia mengatakan bahwa predikat hadis garib hasan bila melalui hadis Sufyan As-Sauri.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sulaiman ibnu Umar ibnu Khalid Ar-Ruqi, dari Ibnul Mubarrak, dari Sufyan As-Sauri, dari Tarif alias Ibnu Syihab Abu Sufyan As-Sa’di, dari Abu Nadrah dengan sanad yang sama.

Telah diriwayatkan pula bukan melalui Sufyan As-Sauri.
Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan:
Telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Ziad As-Saji, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sa’id Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ tentang tempat tinggal mereka yang jauh dari masjid.
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12).
Akhirnya mereka tetap berada di tempat tinggalnya, tidak jadi pindah.


Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id r.a., dari Nabi ﷺ, lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi di dalamnya terkandung hal yang aneh, karena dipandang dari segi penuturan latar belakang turunnya ayat ini, padahal semua ayat yang ada di dalam surat ini Makkiyyah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hadis ketiga,

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Al-Jahdami, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu tempat-tempat tinggal kaum Ansar berjauhan dengan masjid, lalu mereka beimaksud pindah ke dekat Masjid Nabawi.
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12), Akhirnya mereka berkata,
"Kami akan tetap tinggal di tempat kami semula."


Imam Tabrani meriwayatkannya dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Sa’id ibnu Abu Maryam, dari Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Israil, dari Sammak, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa rumah orang-orang Ansar jauh dari masj id.
Maka mereka berniat akan pindah ke dekat masjid, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(QS. Yasin [36]: 12), Akhirnya mereka tetap di tempat tinggal semula.

Hadis keempat,

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepadaku Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr r.a. yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki meninggal dunia di Madinah.
Maka Nabi ﷺ menyalatkan jenazahnya, lalu beliau bersabda:
Seandainya saja dia meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya.
Maka ada seseorang yang bertanya,
"Mengapa begitu, wahai Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya seseorang itu apabila meninggal dunia bukan di tempat kelahirannya, maka akan dilakukan pengukuran baginya dari tempat kelahirannya hingga batas akhir dari jejaknya (sebagai tempat tinggalnya nanti) di dalam surga.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A’la, sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari Harmalah.
Keduanya meriwayatkan­nya dari Ibnu Wahb, dari Huyay ibnu Abdullah dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Sabit yang mengatakan bahwa ia berjalan bersama Anas r.a., lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat, maka Anas memegang tangannya dan akhirnya kami berdua berjalan dengan langkah-langkah biasa.
Setelah kami menyelesaikan salat kami, maka Anas berkata,
"Saya pernah berjalan bersama Zaid ibnu Sabit r.a., lalu saya berjalan dengan langkah yang cepat.
Maka Zaid ibnu Sabit berkata kepadaku, Hai Anas, tidakkah kamu merasakan bahwa langkah-langkah itu dicatat (pahalanya oleh Allah)?"

Pendapat ini pada garis besarnya tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama, balikan dalam pendapat yang kedua ini terkandung peringatan dan dalil yang menunjukkan kepada pendapat yang pertama dengan skala prioritas.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa apabila langkah-langkah saja ditulis pahalanya, maka terlebih lagi jejak-jejak kebaikan yang di kemudian hari dijadikan suri teladan oleh orang lain.
Begitu pula sebaliknya, jika jejak-jejak atau langkah-langkah itu untuk tujuan keburukan, maka balasannya akan buruk pula.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.
(QS. Yasin [36]: 12)

Yakni semua yang ada dicatat di dalam kitab secara rinci lagi tepat, yaitu di Lauh Mahfuz.
Yang dimaksud dengan Imamul Mubin dalam ayat ini ialah induk dari kitab (Ummul Kitab), demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Hal yang semakna disebutkan di dalam firman-Nya:

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap-tiap umat dengan pemimpinnya.
(QS. Al-Israa’:71)

Yang dimaksud dengan imam dalam ayat ini adalah kitabkitab amal perbuatan mereka yang menjadi saksi atas mereka terhadap semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia, yaitu amal baik dan amal buruknya.
Seperti juga yang disebutkan di dalam firman-Nya:

dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi.
(Az Zumar:69)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata,
"Aduhai, celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya,
"
dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).
Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun."
(QS. Al-Kahfi:49)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Yaa Siin (36) Ayat 12

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, dan al-Hakim dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri.
Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Madinah dan ingin pindah ke dekat masjid.
Maka turunlah ayat ini (Yaasiin: 12) yang menegaskan bahwa setiap ucap langkah manusia dicatat oleh Allah subhanahu wa ta’ala
Setelah turun ayat tersebut, Nabi ﷺ menasehati masjid dicatat oleh Allah subhanahu wa ta’ala Sebaikanya kalian jangan pindah dari tempat kalian.”

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Yaa Siin (36) ayat 12

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Hawsyab berkata,
telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab berkata,
telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas bin Malik berkata,
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Wahai Mujahid ketika menerangkan firman Allah: Dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (Qs. Yasin: 12) mengatakan, Yakni langkah-langkah mereka. Ibnu Abu Maryam berkata,
telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepadaku Humaid telah menceritakan kepadaku Anas ia berkata,
Nabi ﷺ Namun Rasulullah ﷺ tidak memperkenankan mereka mengosongkan Madinah dengan bersabda:
Tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian? Mujahid berkata,
Langkah-langkah mereka adalah bekas-bekas perjalanan mereka di muka bumi ketika berjalan dengan kaki mereka.

Shahih Bukhari, Kitab Adzan – Nomor Hadits: 616

Unsur Pokok Surah Yaa Siin (يس)

Surat "Yaa Siin" terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Jin.

Dinamai "Yaa Siin" karena dimulai dengan huruf "Yaa Siin".
Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat Alquran, maka demikian pula arti "Yaa Siin" yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting antara lain:
Allah bersumpah dengan Alquran bahwa Muhammad ﷺ benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah diutus kepada mereka rasul­ rasul.

Keimanan:

▪ Bukti-bukti adanya hari berbangkit.
Alquran bukanlah syair.
▪ Ilmu, kekuasaan dan rahmat Allah.
▪ Surga dan sifat-sifatnya yang disediakan bagi orang-orang mukmin.
▪ Mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.
▪ Anggota badan manusia menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Kisah:

▪ Kisah utusan-utusan Nabi Isa `alaihis salam dengan penduduk Anthakiyah (faedah peringatan bagi orang-orang musyrik.
▪ Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.
▪ Semua bintang-bintang di cakrawala berjalan pada garis edar yang telah ditetapkan Allah.
▪ Ajal dan hari kiamat datangnya secara tlba­tiba.
▪ Allah menghibur hati Rasulullah ﷺ terhadap sikap kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.

Audio

QS. Yaa-Siin (36) : 1-83 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 83 + Terjemahan Indonesia

QS. Yaa-Siin (36) : 1-83 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 83

Gambar Kutipan Ayat

Surah Yaa Siin ayat 12 - Gambar 1 Surah Yaa Siin ayat 12 - Gambar 2 Surah Yaa Siin ayat 12 - Gambar 3
Statistik QS. 36:12
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Yaa Siin.

Surah Yasin atau Surah Ya Sin (bahasa Arab:يس) adalah surah ke-36 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 83 ayat, serta termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Ya Sin karena surah ini dimulai dengan dua abjad Arab Ya Sin.
Sebagaimana halnya arti tersembunyi huruf-huruf abjad Alif Lam Mim atau Nun yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran, maka demikian pula arti Ya Sin yang termasuk dalam kategori ayat mutasyaabihat.

Nomor Surah 36
Nama Surah Yaa Siin
Arab يس
Arti Yaasiin
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 41
Juz 22 dan 23
Jumlah ruku’ 5 ruku’
Jumlah ayat 83
Jumlah kata 733
Jumlah huruf 3068
Surah sebelumnya Surah Fatir
Surah selanjutnya Surah As-Saffat
Sending
User Review
4.6 (14 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

36:12, 36 12, 36-12, Surah Yaa Siin 12, Tafsir surat YaaSiin 12, Quran Yasin 12, Surah Yasin ayat 12

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Yaa Siin

۞ QS. 36:5 Al Rahim (Maha Penyayang) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 36:6 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 36:7 • Allah menggerakkan hati manusia • Segala sesuatu ada takdirnya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:8 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:9 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah

۞ QS. 36:10 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:11 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Al Rahman (Maha Pengasih) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 36:12 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 36:14 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:15 Al Rahman (Maha Pengasih) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:16 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 36:18 • Meramal nasib

۞ QS. 36:19 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Meramal nasib

۞ QS. 36:21 • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 36:22 • Kebenaran hari penghimpunan • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 36:23 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 36:24 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 36:26 • Pahala iman

۞ QS. 36:27 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 36:28 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:29 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:31 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:32 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 36:33 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 36:37 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah

۞ QS. 36:38 Dalil-dalil adanya Allah Ta’alaAl ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 36:39 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 36:40 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 36:41 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 36:43 Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 36:44 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 36:45 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:46 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:47 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:48 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 36:49 • Peniupan sangkakala • Hari kiamat datang tiba-tiba

۞ QS. 36:50 • Kedahsyatan hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 36:51 Ar Rabb (Tuhan) • Peniupan sangkakala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 36:52 • Allah menepati janji • Al Rahman (Maha Pengasih) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 36:53 • Peniupan sangkakala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 36:54 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 36:55 • Sifat ahli surga

۞ QS. 36:56 • Sifat ahli surga

۞ QS. 36:57 • Sifat surga dan kenikmatannya

۞ QS. 36:58 • Melihat Allah di surga • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Percakapan Allah dengan ahli surga •

۞ QS. 36:59 • Derajat para pemeluk agama • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 36:60 • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 36:61 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 36:62 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Usaha syetan untuk membuat manusia lupa dalam berdoa • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia •

۞ QS. 36:63 • Allah menepati janji • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 36:64 • Azab orang kafir

۞ QS. 36:65 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 36:66 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 36:67 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Maksiat dan dosa

۞ QS. 36:68 • Keutamaan berumur panjang

۞ QS. 36:70 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 36:71 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 36:75 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 36:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 36:78 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 36:79 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 36:81 • Kekuasaan Allah • Al Khaliq (Maha Pencipta) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qaadir (Maha Kuasa) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 36:82 • Kekuasaan Allah • Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 36:83 • Segala sesuatu milik Allah • Kebenaran hari penghimpunan

Ayat Pilihan

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar,
dan timbanglah dengan neraca yang benar.
Itulah yang lebih utama (bagimu) & lebih baik akibatnya.
QS. Al-Isra’ [17]: 35

Hai orang-orang beriman,
apabila diseru untuk menunaikan salat Jum’at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah & tinggalkanlah jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
QS. Al-Jumu’ah [62]: 9


orang-orang yang taubat & mengadakan perbaikan & berpegang teguh pada (agama) Allah & tulus ikhlas beragama karena Allah …
QS. An-Nisa’ [4]: 146

Jika keduanya (ibu & bapakmu) sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
QS. Al-Isra’ [17]: 23

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

+

Array

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Kamus

Al ‘Aliy

Apa itu Al ‘Aliy? Allah itu Al-Aliyy . yaitu Allah adalah Yang Maha Tinggi. Allah itu Maha Tinggi kedudukannya, sehingga tidak akan ada yang mampu menyamai atau melampaui-Nya. Allah Ta’ala s...

Nuzulul Quran

Apa itu Nuzulul Quran? Nu.zu.lul Qur.an turunnya (wahyu) Alquran pertama kali kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ketika beliau menyepi di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadan pada usia...

jamrah

Apa itu jamrah? jam.rah (1) batu kecil; kerikil; kumpulan batu kecil; (2) tugu yang menjadi sasaran lemparan batu (dalam ibadah haji) … •