Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 69 [QS. 20:69]

وَ اَلۡقِ مَا فِیۡ یَمِیۡنِکَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوۡا ؕ اِنَّمَا صَنَعُوۡا کَیۡدُ سٰحِرٍ ؕ وَ لَا یُفۡلِحُ السَّاحِرُ حَیۡثُ اَتٰی
Wa-alqi maa fii yamiinika talqaf maa shana’uu innamaa shana’uu kaidu saahirin walaa yuflihussaahiru haitsu at(a);

Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.
“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka).
Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.
―QS. 20:69
Topik ▪ Iman ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
20:69, 20 69, 20-69, Thaa Haa 69, ThaaHaa 69, Thoha 69, Thaha 69, Ta Ha 69

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 69

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 69. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Musa supaya melemparkan tongkat yang ada di tangan kanannya.
Musa dengan segera melaksanakan perintah itu.
Dengan Kodrat dan Iradat Allah subhanahu wa ta’ala, tongkat Musa itu menjadi ular besar dan menelan semua yang dibuat oleh ahli-ahli sihir Firaun itu, yaitu tali dan tongkatnya kelihatan seperti ular yang bergerak.
Sebenarnya apa yang diperbuat mereka itu adalah khayalan belaka hanyalah tipu daya tukang-tukang sihir itu, sebagai hasil dari latihan yan tertib dan cukup lama, sama sekali tidak mempunyai hakikat dan akan bertahan lama.
Bagaimanapun juga tukang sihir itu tidak akan menang dengan sihirnya yang mengelabui itu.
Yang demikian itu, adalah perbuatan dosa, dan tidak akan beruntung orang-orang yang berbuat dosa.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.
(Q.S Yunus: 17)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu itu, kata Allah kemudian, “niscaya ia akan menelan kepalsuan sihir mereka.
Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu tidak lebih dari sekadar tipuan para penyihir belaka.
Dan seorang penyihir tidak akan pernah menang di mana pun ia berada.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu) yakni tongkat (niscaya ia akan menelan) yakni akan melahap (apa yang mereka perbuat.
Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir) ulah tukang sihir belaka.
(Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”) dengan sihirnya itu.
Lalu Nabi Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat Nabi Musa itu menjadi ular yang besar dan menelan semua apa yang diperbuat oleh para ahli sihir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Lemparkanlah tongkatmu yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka.
Apa yang mereka perbuat di hadapanmu hanyalah makar penyihir dan bayangan sihir.
Penyihir itu tidak akan menang dengan sihirnya, di mana saja ia berada.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mu’az (menurut dugaanku dia adalah As-Saig), dari Al-Hasan, dari Jundub ibnu Abdullah Al-Bajali yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Apabila kalian menangkapnya —yakni penyihir—, maka bunuhlah dia oleh kalian.
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya: Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.
(Thaahaa:69) Nabi ﷺ bersabda menjelaskannya, “Orang tukang sihir itu tidaklah beriman, di mana pun ia berada.”

Asal dari hadis ini telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi secara mauquf dan marfu’.

Setelah tukang sihir itu menyaksikan hal tersebut dengan mata kepala mereka sendiri, sedangkan mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengalaman yang mendalam dalam ilmu sihir dan berbagai macam aliran serta jenis-jenisnya, maka mereka mengetahui dengan yakin bahwa apa yang didatangkan oleh Musa ini bukan termasuk ke dalam ilmu sihir dan tipu muslihat pandangan mata, dan bahwa hal tersebut adalah nyata dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
Tiada seorang pun yang mampu melakukan demikian kecuali mendapat izin dari Tuhan yang bila menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah kamu,” lalu terjadilah ia.
Maka pada saat itu juga para ahli sihir menyungkur bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka mengatakan, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhannya Musa dan Harun.”

Ibnu Abbas dan Abid ibnu Umair mengatakan bahwa para ahli sihir itu pada pagi harinya masih berstatus sebagai tukang sihir, kemudian di petang harinya mereka menjadi para syuhada yang benar-benar berbakti.

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan, mereka berjumlah delapan puluh ribu orang.

Al-Qasim ibnu Abu Buzzah mengatakan bahwa jumlah mereka ada tujuh puluh ribu orang.

Menurut As-Saddi, jumlah mereka terdiri atas tiga puluh ribu lebih beberapa ribu orang.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Abdul Aziz ibnu Rafi’, dari Abu Tamamah, bahwa para ahli sihir Fir’aun berjumlah sembilan belas ribu orang.

Menurut Muhammad ibnu Ishaq jumlah mereka ada lima belas ribu orang.

Ka’b Al-Ahbar mengatakan bahwa jumlah mereka ada dua belas ribu orang.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnu Waqid, dari ayahnya, dari Yazid An-Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa para ahli sihir Fir’aun terdiri atas tujuh puluh orang, pada pagi harinya mereka masih menjadi tukang sihir, kemudian pada petang harinya mereka menjadi syuhada (karena dihukum mati oleh Fir’aun).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Musayyab ibnu Wadih di Mekah, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak yang mengatakan, “Al-Auza’i pernah menceritakan bahwa setelah para ahli sihir menyungkur bersujud, maka ditampakkanlah surga kepada mereka sehingga mereka dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Salam, bahwa telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah ibnu Salman, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud.
(Thaahaa:70) Bahwa mereka melihat kedudukan mereka (di surga) dalam sujud mereka.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Al-Qasim ibnu Abu Buzzah.


Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Thaa Haa (20) ayat 69 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Thaa Haa (20) ayat 69 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Thaa Haa (20) ayat 69 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 135 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah20
Nama SurahThaa Haa
Arabطه
ArtiTa Ha
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu45
JuzJuz 16
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat135
Jumlah kata1534
Jumlah huruf5399
Surah sebelumnyaSurah Maryam
Surah selanjutnyaSurah Al-Anbiya
4.8
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/20-69









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta