QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 128 [QS. 20:128]

اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی النُّہٰی
Afalam yahdi lahum kam ahlaknaa qablahum minal quruuni yamsyuuna fii masaakinihim inna fii dzalika li-aayaatin auliinnuh(a);

Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
―QS. 20:128
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Keluasan ilmu Allah
20:128, 20 128, 20-128, Thaa Haa 128, ThaaHaa 128, Thoha 128, Thaha 128, Ta Ha 128

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 128

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 128. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat-ayat ini Allah meminta perhatian orang-orang kafir agar mereka memikirkan dengan tenang bagaimana kesudahan umat-umat yang telah lalu yang karena kekafiran, mereka telah dibinasakan oleh Allah dengan menurunkan berbagai macam malapetaka, ada yang berujud angin topan, ada yang berujud gempa yang dahsyat dan ada pula yang berujud suara keras yang mengguntur.
Mereka dapat melihat dengan mata kepala sendiri bekas-bekas yang ditinggalkan oleh umat-umat yang telah binasa itu.
Bekas-bekas itu menunjukkan bahwa mereka adalah umat-umat yang kuat dan jaya pada masanya memiliki bangunan-bangunan yang besar dan kokoh, mempunyai kebudayaan yang tinggi lebih dan apa yang dimiliki orang-orang kafir Mekah itu.
Tetapi karena keingkaran dan kedurhakaan, mereka dibinasakan Allah dengan sekejap mata tak seorangpun yang selamat dari malapetaka itu.
Yang dapat dilihat sekarang hanya puing-puing bekas istana dan benteng-benteng pertahanan mereka.
Kaum musyrikin Mekah selalu mondar-mandir dalam perjalanan mereka di musim panas dan di musim dingin melalui bekas-bekas kerajaan yang telah runtuh itu, tetapi mereka tidak memikirkan apakah sebabnya maka kerajaan-kerajaan itu hancur dan musnah, dan menganggap hal itu adalah bencana alam belaka.
Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari umat-umat yang dahulu itu dan menginsafi bahwa bagaimanapun kuat dan jayanya sesuatu umat, tetapi bila Allah menghendaki kehancuran mereka, karena kedurhakaan dan kekafiran tak ada yang dapat mempertahankan atau membela mereka.
Mengapa hal ini semua tidak menjadi perhatian mereka.
Sebenarnya kalau mereka mau berpikir amat banyak pelajaran dan bukti-bukti kekuasaan Allah yang terdapat pada umat-umat yang telah hancur binasa itu.
tetapi anehnya mereka tidak mengindahkannya walau sedikitpun.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kenapa mereka berpura-pura buta terhadap ayat-ayat Allah, padahal sudah jelas bagi mereka bahwa Kami telah memusnahkan banyak bangsa terdahulu, akibat kekufuran mereka?
Kenapa pula mereka tidak mengambil pelajaran dari bangsa-bangsa yang dihancurkan itu, padahal mereka berjalan di bekas rumah dan tempat tinggal bangsa-bangsa itu, dan menyaksikan bekas-bekas siksaan yang menimpa mereka?
Sesungguhnya pemandangan itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tidakkah menjadi petunjuk) yakni tidak jelas (bagi mereka) orang-orang kafir Mekah (berapa banyak) lafal Kam di sini adalah kalimat berita yang berkedudukan menjadi maf’ul (Kami membinasakan) sudah berapa banyak telah Kami binasakan (umat-umat sebelum mereka) umat-umat terdahulu disebabkan mereka mendustakan Rasul-rasul (padahal mereka berjalan) Lafal Yamsyuuna ini menjadi Hal daripada Dhamir Lahum (melewati peninggalan umat-umat itu?) sewaktu mereka berniaga ke negeri Syam dan negeri-negeri yang lain, seharusnya mereka mengambil pelajaran daripadanya.

Disebutkan pengertian membinasakan, hal ini diambil dari Fi’il atau kata kerjanya tanpa memakai huruf Mashdar demi memelihara keselarasan makna, maka hal ini tidak dilarang.

(Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda) pelajaran-pelajaran (bagi orang-orang yang berakal) yakni bagi mereka yang berakal.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah belum menjadi petunjuk bagi kaummu, wahai Rasul, untuk menempuh jalan yang lurus, banyaknya umat-umat yang mendustakan sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal mereka berjalan di bekas-bekas pemukiman umat-umat itu dan melihat bekas-bekas kebinasaan mereka??
Sesungguhnya pada banyaknya umat-umat itu dan bekas-bekas adzab yang menimpa mereka, benar-benar terdapat pelajaran-pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal dan pemahaman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka tidakkah menjadi petunjuk

bagi mereka yang mendustakan apa yang disampaikan olehmu, hai Muhammad, bahwa sudah berapa banyak Kami binasakan umat-umat yang mendustakan rasul-rasul sebelum mereka.
Umat-umat terdahulu itu dibinasakan dan tidak ada lagi bekas-bekasnya, seperti yang kalian saksikan sendiri di tempat-tempat bekas mereka yang sekarang kalian lewati dalam keadaan kosong.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Ulin nuha artinya orang yang berakal sehat dan berhati lurus, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(Q.S. Al-Hajj [22]: 46)

Di dalam surat As-Sajdah disebutkan oleh firman-Nya:

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat (bekas) kediaman mereka itu.
(Q.S. As-Sajdah [32]: 26), hingga akhir ayat.


Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 128 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 128 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 128 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa-Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 135 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 20:128
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Thaa Haa.

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah 20
Nama Surah Thaa Haa
Arab طه
Arti Ta Ha
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 45
Juz Juz 16
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 135
Jumlah kata 1534
Jumlah huruf 5399
Surah sebelumnya Surah Maryam
Surah selanjutnya Surah Al-Anbiya
4.7
Ratingmu: 4.5 (29 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim