QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 124 [QS. 20:124]

وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی
Waman a’radha ‘an dzikrii fa-inna lahu ma’iisyatan dhankan wanahsyuruhu yaumal qiyaamati a’m(a);

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
―QS. 20:124
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
20:124, 20 124, 20-124, Thaa Haa 124, ThaaHaa 124, Thoha 124, Thaha 124, Ta Ha 124

Tafsir surah Thaa Haa (20) ayat 124

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Thaa Haa (20) : 124. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan pula bahwa orang-orang yang berpaling dari ajaran Alquran itu tidak mengindahkannya dan menentang petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya maka dia akan selalu dalam kesepian dan kesulitan dalam menempuh hidupnya.
Dia akan selalu bimbang dan gelisah walaupun dia memiliki kekayaan, pangkat dan kedudukan karena selalu diganggu oleh pikiran dan khayalan yang bukan-bukan mengenai kekayaan dan kedudukannya itu.
Dia akan dibayangi oleh momok kehilangan kesenangan yang telah dicapainya.
Sehingga ia melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan kebencian dan kerugian di dalam masyarakatnya.
Kemudian di akhirat nanti ia akan dikumpulkan Allah bersama makhluk-makhluk lainnya dalam keadaan buta mata hatinya Sebagaimana dia di dunia selalu menolak petunjuk-petunjuk Allah yang terang benderang dan memicingkan matanya agar petunjuk itu jangan terlihat olehnya sehingga ia berlarut-larut dalam kesesatan, demikian pula di akhirat ia tidak dapat melihat suatu alasan pun untuk membela dirinya dari ketetapan Allah Yang Maha Adil.
Sebagian Ahli Tafsir mengatakan bahwa orang yang berpaling dari ajaran Allah itu memang menjadi buta pancaindera tidak melihat suatu apapun sebagai tambahan siksaan atasnya.
Seorang yang buta di kala terjadi huru-hara dan malapetaka akan lebih kalang-kabut pikirannya karena tidak tahu apa yang akan dibuatnya dan tidak tentu arah yang akan ditujunya untuk menyelamatkan dirinya karena tidak melihat dari mana datangnya bahaya yang mengancamnya.
Tetapi sesudah itu matanya akan menjadi terang kembali karena akan melihat sendiri buku catatan amalnya dan bagaimana hebat dan dahsyatnya siksaan neraka sebagaimana tersebut dalam ayat:

Dan orang-orang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling dari padanya.
(Q.S Al Kahfi: 53)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tetapi, sebaliknya, siapa saja yang tidak mau menerima petunjuk Allah dan tidak pula menaati-Nya, ia tak akan mendapat kebahagiaan hidup di dunia, sehingga tak akan pernah merasa puas dengan pemberian Allah dan tak akan pasrah dengan qadla’ dan qadar-Nya.
Sehingga, begitu hari kiamat tiba, ia akan datang ke tempat perhitungan untuk dibalas atas dosa-dosanya, dalam keadaan tidak mampu berkilah dan beralasan.
Ia bagai orang buta, seperti ia buta terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah ketika hidup di dunia dulu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku) yakni Alquran, yaitu dia tidak beriman kepadanya (maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit) lafal Dhankan ini merupakan Mashdar artinya sempit.

Ditafsirkan oleh sebuah hadis, bahwa hal ini menunjukkan tentang diazabnya orang kafir di dalam kuburnya (dan Kami akan mengumpulkannya) orang yang berpaling dari Alquran (pada hari kiamat dalam keadaan buta”) penglihatannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebaliknya barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku yang Aku peringatkan kepadanya, maka dalam kehidupan dunia ini, ia mendapat penghidupan yang sempit lagi berat (meskipun secara lahiriahnya ia adalah orang yang berkelebihan dan berkelapangan), kuburnya disempitkan dan diadzab di dalamnya.
Dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta, tidak bias melihat sesuatu dan tidak bias melihat hujjah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku.

Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.

Yakni kehidupan yang sempit di dunia.
Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya, walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya.
Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu.
Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya.
Hal inilah yang dimaksudkan dengan penghidupan yang sempit.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.
Yaitu kesengsaraan.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.
Segala sesuatu yang Aku berikan kepada seorang hamba, sedikit atau banyak, ia tidak bertakwa kepada-Ku karenanya, maka tiada kebaikan pada sesuatu itu, inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit.

Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa sesungguhnya bila ada suatu kaum yang sesat, mereka berpaling dari kebenaran, padahal kehidupan mereka makmur dan mudah lagi bersikap sombong, maka itulah yang dinamakan kehidupan yang sempit.
Dikatakan demikian karena mereka memandang bahwa tidaklah Allah menentang prinsip kehidupan mereka yang berburuk sangka kepada Allah dan mendustakan-Nya.
Apabila seorang hamba mendustakan Allah dan berburuk sangka terhadap-Nya serta tidak percaya kepada-Nya, maka kehidupannya menjadi keras, dan kehidupan yang keras inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit dalam ayat ini.

Ad-Dahhak mengatakan, kehidupan yang sempit ialah pekerjaan yang buruk dan rezeki yang kotor.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Malik ibnu Dinar.

Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Abu Hazim, dari Abu Salamah, dari Abu Sa’id sehubungan dengan makna firman-Nya:

kehidupan yang sempit.
Bahwa kuburannya menjepitnya (mengimpitnya) sehingga tulang-tulang iganya berantakan (bila ia telah mati nanti).
Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa An-Nu’man ibnu Abu Iyasy nama julukannya adalah Abu Salamah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Lahi’ah, dari Darij, dari Abul Haisam, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.
(Thaahaa:124) Bahwa makna yang dimaksud ialah kuburan mengimpitnya.

Predikat mauquf hadis ini lebih dibenarkan (daripada predikat marfu -nya).

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa’d, dari Sa’id ibnu Abu Hilal, dari Ibnu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.
Nabi ﷺ bersabda: Penghidupan yang sempit yang disebutkan oleh Allah ialah Dia menguasakan si orang kafir kepada sembilan puluh sembilan ular, yang semuanya menggerogoti dagingnya sampai hari kiamat terjadi.

Al-Bazzar mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.
Bahwa yang dimaksud ialah azab kubur.
Sanad hadis berpredikat jayyid.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Menurut Mujahid, Abu Saleh, dan As-Saddi, makna yang dimaksud ialah bahwa orang yang bersangkutan tidak mempunyai alasan kelak di hari kiamat untuk membela dirinya.
Ikrimah mengatakan bahwa orang kafir dibutakan matanya dari segala sesuatu, kecuali neraka Jahanam.
Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud ialah orang kafir dibangkitkan atau digiring ke neraka dalam keadaan buta penglihatan, juga buta hatinya.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak.
Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam.
(Al Israa’:97), hingga akhir ayat.


Kata Pilihan Dalam Surah Thaa Haa (20) Ayat 124

DHANKA
ضَنكًا

Arti lafaz dhanka ialah sempit atau lemah, baik tentang badan, jiwa mahupun pikiran.

Di dalam Al Qur’an, perkataan dhanka disebut sekali saja yaitu dalam surah Tha Ha (20), ayat 124. Dalam ayat ini, Allah menegaskan manusia yang berpaling dan ingkar dari ingatan dan petunjuknya, akan mengalami kehidup­ an yang sempit ma’iisyatan dhanka dan Allah akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Imam Ibn Katsir mentafsirkan ayat itu dengan mengatakan orang yang menentang perintah Allah dan tidak mematuhi aturan yang diturunkan kepada rasul Nya, berpaling daripadanya serta melupakannya, malah menjadikan selain aturan Allah sebagai pe­tunjuknya, orang itu akan hidup dalam ke­ sempitan (ma’iisyatan dhanka) di dunia ini. Dia tidak merasa tenang dan dadanya tidak merasa lapang, malah dadanya terasa sempit dan susah karena kesesatannya.

Meskipun secara zahirnya mereka men­dapat nikmat yang banyak, memakai pakaian yang disukai, memakan makanan yang disukai, dapat singgah di tempat yang dikehendakinya, tetapi hati orang itu berada dalam keadaan bingung dan ragu-ragu selagi mereka tidak melepaskan diri menuju keyakinan dan pe­tunjuk yang sebenarnya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:327-328

Informasi Surah Thaa Haa (طه)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, ter­masuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Surat ini dinamai “Thaahaa”,
diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surat ini.
Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf “thaahaa” dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah bebe­rapa orang nabi akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya ke­pada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain hal­ hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:

Keimanan:

Al Qur’an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang yang ber­ takwa
Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa perantara Jibril
Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui sesuatu yang samar dan yang lebih samar
ke­adaan orang berdosa dihimpunkan di hari kiamat
syafa ‘at tidak bermanfaa’at di hari kiamat, kecuali syafa’at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat dan keutamaan waktu-waktunya
kewajiban menyuruh keluarga melakukan shalat.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir’aun dan Bani Israil
kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.

Lain-lain:

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya dia meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi rasul
Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus rasul kepada mereka
jangan terpengaruh oleh kesenangan kehidupan dunia.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 124 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 124 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Thaa-Haa (20) ayat 124 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Thaa-Haa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 135 & Terjemahan


Gambar

[ngg src=”tags” ids=”20-124″ display=”basic_thumbnail” images_per_page=”6″ number_of_columns=”2″ order_direction=”DESC”]



Statistik Q.S. 20:124
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Thaa Haa.

Surah Ta Ha (Arab: طه , Tā-Hā, "Ta Ha") adalah surah ke-20 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 135 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai Ta Ha, diambil ayat pertama surah ini.
Sebagaimana juga yang lazim terdapat pada surah-surah yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf Ta Ha dalam surah ini.
Allah menerangkan bahwa Al-Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.
Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Nomor Surah20
Nama SurahThaa Haa
Arabطه
ArtiTa Ha
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu45
JuzJuz 16
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat135
Jumlah kata1534
Jumlah huruf5399
Surah sebelumnyaSurah Maryam
Surah selanjutnyaSurah Al-Anbiya
4.9
Ratingmu: 4.9 (15 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

[ngg src="galleries" ids="1,2,6" display="basic_thumbnail" override_thumbnail_settings="1" images_per_page="6" number_of_columns="3" ajax_pagination="0" order_by="rand()"]
RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta