QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 6 [QS. 38:6]

وَ انۡطَلَقَ الۡمَلَاُ مِنۡہُمۡ اَنِ امۡشُوۡا وَ اصۡبِرُوۡا عَلٰۤی اٰلِہَتِکُمۡ ۚۖ اِنَّ ہٰذَا لَشَیۡءٌ یُّرَادُ ۖ
Waanthalaqal malaa minhum aniimsyuu waashbiruu ‘ala aalihatikum inna hadzaa lasyayun yuraad(u);

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata):
“Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.
―QS. 38:6
Topik ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
38:6, 38 6, 38-6, Shaad 6, Shaad 6, Shad 6, Sad 6

Tafsir surah Shaad (38) ayat 6

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa pemimpin-pemimpin Quraisy itu pergi dari rumah Abu Talib setelah terbungkam oleh jawaban Rasul.
Mereka mengetahui-Muhammad berkeras hati membela agama.
Itulah sebabnya mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk melunakkan hati Muhammad dengan perantaraan pamannya.
Mereka berunding apa yang seharusnya dilakukan; dan memeras otak untuk mendapatkan penyelesaian.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memperkokoh keyakinan pengikut-pengikutnya tetap berjalan dengan keyakinan mereka dan tetap menyembah tuhan-tuhan mereka.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala mengungkapkan perkataan pemimpin-pemimpin Quraisy itu kepada pengikut-pengikutnya, bahwa menyembah berhala-berhala itulah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Para pembesar mereka terdorong untuk saling mengingatkan satu sama lain sambil berkata, “Berjalanlah menurut cara kalian dan tetaplah menyembah tuhan-tuhan kalian.
Sesungguhnya ini suatu hal yang besar yang dikehendaki untuk kita.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka) dari majelis tempat mereka berkumpul, yaitu tempat Abu Thalib, di tempat itulah mereka mendengar dari Nabi ﷺ yang mengatakan, “Katakanlah oleh kalian, ‘Laa Ilaaha Illallaah’, artinya tiada Tuhan selain Allah (seraya mengatakan, ‘Pergilah kalian’) maksudnya, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain ‘pergilah kalian’ (dan tetaplah menyembah tuhan-tuhan kalian) artinya bertahanlah kalian di dalam menyembah tuhan-tuhan kalian itu (sesungguhnya ini) ajaran tauhid yang disampaikan Nabi itu (benar-benar suatu hal yang dikehendaki”) olehnya supaya kita melakukannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Lalu para tokoh dan para pembesar kaum berusaha mendorong mereka untuk mempertahankan kesyirikan dan memperjuangkan keragaman tuhan-tuhan. Mereka berkata : Apa yang dibawa Rasul tersebut adalah sesuatu yang direncanakan dengan tujuan meraih kepemimpinan dan kedudukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yang dimaksud dengan al-mala ialah pemuka, pemimpin, dan pembesar mereka.
Mereka pergi seraya mengatakan:

Pergilah kamu (Q.S. Shaad [38]: 6)

Yakni tetaplah pada agama kalian

dan bertahanlah (menyembah) tuhan-tuhanmu (Q.S. Shaad [38]: 6)

Artinya, janganlah kamu menuruti ajaran tauhid yang diserukan oleh Muhammad kepada kamu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki (Q.S. Shaad [38]: 6)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesungguhnya ajaran tauhid yang diserukan oleh Muhammad kepada kita benar-benar dijadikannya sebagai sarana untuk meraih kedudukan yang tinggi di atas kalian, juga agar kalian semua menjadi pengikutnya, dan kita tidak akan mau menerima seruannya itu.

Latar Belakang Turunnya Ayat yang Mulia Ini

As-Saddi menceritakan bahwa sesungguhnya sejumlah orang Quraisy mengadakan suatu pertemuan, yang antara lain dihadiri oleh Abu Jahal ibnu Hisyam, Al-As ibnu Wa’il, Al-Aswad ibnu Muttalib, dan Al-Aswad ibnu Abdu Yagus bersama sejumlah pemuka kabilah Quraisy.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain.”Marilah kita berangkat menuju tempat Abu Talib, kita harus berbicara kepadanya tentang keponakannya itu, mudah-mudahan kita terbebas dari gangguannya dan dia tidak lagi mencaci maki sembahan-sembahan kita, maka kita akan membiarkan dia dan Tuhan yang disembahnya.
Karena sesungguhnya kita khawatir bila syekh (Abu Talib) ini mati, lalu dia (Nabi ﷺ) harus kita tangkap, maka orang-orang Arab akan mencela kita semua.
Mereka akan mengatakan bahwa kita membiarkannya.
Dan manakala Abu Talib mati meninggalkannya, baru kita berani menangkapnya.

Maka mereka mengutus seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Al-Muttalib, lalu Al-Muttalib meminta izin masuk kepada Abu Talib untuk mereka, seraya mengatakan, “Mereka adalah para tetua kaummu dan para hartawannya ingin bertemu denganmu.” Abu Talib menjawab, “Persilakanlah mereka masuk.”

Setelah menemui Abu Talib, mereka berkata, “Hai Abu Talib, engkau adalah pemimpin dan penghulu kami, bebaskanlah kami dari ulah keponakanmu itu, perintahkanlah kepadanya agar dia menahan diri dan tidak lagi mencaci maki sembahan-sembahan kami, maka kami akan membiarkan dia bebas bersama Tuhan yang disembahnya.”

Abu Talib memanggil Nabi ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ telah masuk menemuinya, maka Abu Talib berkata, “Hai Keponakanku, mereka adalah tetua kaummu dan orang-orang terhormatnya, mereka telah meminta agar kamu menahan diri dan menghentikan caci makimu terhadap sembahan-sembahan mereka, maka mereka akan membiarkanmu dan sembahanmu.” Rasulullah ﷺmenjawab, “Hai Paman, apakah tidak boleh aku menyeru mereka kepada sesuatu yang lebih baik bagi mereka?”
Abu Talib bertanya, “Apakah yang engkau serukan kepada mereka (untuk mengikutinya)?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku ajak mereka untuk mengucapkan suatu kalimah, yang dengan kalimah itu semua orang Arab akan tunduk kepada mereka dan mereka dapat menguasai orang-orang Ajam (non-Arab).”

Abu Jahal laknatullah yang ada di antara kaum berkata, Demi ayahmu, katakanlah apakah kalimah itu, sungguh kami akan memberikannya kepadamu dan sepuluh kali lipatnya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

Kalian ucapkan, “Tidak ada Tuhan melainkan Allah.”

Mereka menolak dan mereka berkata, “Mintalah kepada kami selainnya!” Rasulullah ﷺ bersabda:

Sekiranya kalian dapat mendatangkan matahari kepadaku, lalu kalian letakkan di tanganku, aku tidak akan meminta kepada kalian selain darinya (kalimah tauhid itu)

Maka mereka pergi darinya dalam keadaan marah seraya berkata, “Demi Tuhan, kami benar-benar akan mencaci maki kamu dan Tuhanmu yang telah memerintahkanmu menyampaikan hal ini.”

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki” (Q.S. Shaad [38]: 6)

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini, dan Ibnu Jarir dalam riwayatnya menambahkan, bahwa setelah para pemimpin Quraisy keluar, Rasulullah ﷺ menyeru pamannya untuk mengucapkan kalimah, “Tidak ada Tuhan melainkan Allah subhanahu wa ta’ala” Tetapi Abu Talib menolak, bahkan berkata, “Tidak, bahkan tetap pada agama para tetua.” Lalu turunlah firman-Nya:

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau sukai (Q.S. Al-Qasas: 56)

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Ibnu Waki’.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa ketika Abu Talib sakit keras, serombongan orang-orang Quraisy datang menjenguknya, di antaranya terdapat Abu Jahal.
Mereka berkata, “Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci maki sembahan-sembahan kami dan melakukan serta mengatakan anu dan anu.
Maka sebaiknya engkau panggil dia, lalu kita suruh dia agar menghentikan perbuatannya itu.”

Abu Talib menyuruh seseorang untuk memanggilnya, dan ia (Nabi Saw) datang dan masuk ke dalam rumah.
Saat itu terdapat jarak yang cukup untuk duduk seseorang antara mereka dan Abu Talib.
Melihat kedatangan Nabi Saw, Abu Jahal merasa khawatir jika Nabi ﷺ duduk di dekat Abu Talib.
Maka Abu Talib akan lebih kasihan kepada keponakannya dan akan memihaknya.
Abu Jahal cepat-cepat melompat dan menempati tempat itu, sehingga Rasulullah ﷺ tidak menemukan tempat duduk yang terdekat dengan pamannya.
Maka beliau terpaksa duduk di dekat pintu.

Abu Talib berkata kepadanya, “Hai Anak Saudaraku, mengapa kaummu ini mengadukan perihalmu, dan mereka menuduh bahwa kamu telah mencaci maki sembahan-sembahan mereka dan kamu katakan anu dan anu?”
Maka berhamburanlah dari mereka kata-kata yapg menyudutkan Rasulullah ﷺ Akhirnya Rasulullah ﷺ angkat bicara dan berkata, “Hai paman, sesungguhnya aku menginginkan mereka kepada suatu kalimah yang harus mereka katakan, maka semua orang Arab akan tunduk patuh kepadanya dan orang-orang Ajam akan membayar Jizyah (upeti) kepada mereka berkat kalimah itu.”

Mereka terkejut dengan jawaban yang dikemukakan oleh Rasulullah ﷺdan suatu kalimah yapg dikehendakinya itu.
Maka mereka mengatakan, “Hanya satu kalimah saja, baiklah.
Demi ayahmu, sepuluh pun kami sanggup.” Mereka berkata, “Kalimah apakah itu?”
Dan Abu Talib pun bertanya, “Benar, hai keponakanku, kalimah apakah itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Tidak ada Tuhan melainkan Allah.
Maka mereka berdiri dengan terkejut seraya menepiskan baju mereka, lalu berkata, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja?
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.
(Q.S. Shaad [38]: 8)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikianlah kisah turunnya ayat ini sampai dengan firman-Nya: dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku (Q.S. Shaad [38]: 8)

Menurut lafaz yang dikemukakan oleh Abu Kuraib.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai melalui hadis Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir, keduanya dari Abu Usamah, dari Al-A’masy, dari Abbad tanpa dinisbatkan kepadanya dengan lafaz yang semisal.

Imam Turmuzi, Imam Nasai, Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula hadis ini, semuanya mengetengahkannya di dalam kitab tafsir masing-masing melalui Sufyan As-Sauri, dari Al-A’masy, dari Yahya ibnu Imarah Al-Kufi, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a., lalu disebutkan hal yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan hadis ini hasan.


Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 6 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 6 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 6 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:6
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/38-6









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim