QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 34 [QS. 38:34]

وَ لَقَدۡ فَتَنَّا سُلَیۡمٰنَ وَ اَلۡقَیۡنَا عَلٰی کُرۡسِیِّہٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ
Walaqad fatannaa sulaimaana wa-alqainaa ‘ala kursii-yihi jasadan tsumma anaab(a);

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.
―QS. 38:34
Topik ▪ Turunnya Al Qur’an kepada Nabi saw.
38:34, 38 34, 38-34, Shaad 34, Shaad 34, Shad 34, Sad 34

Tafsir surah Shaad (38) ayat 34

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 34. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat mendapat cobaan dan keadaannya setelah selesai menghadapi cobaan itu.
Allah subhanahu wa ta’ala mencobanya dengan menimpakan sakit keras.
Demikian hebatnya serangan penyakitnya itu hingga kehilangan kekuatan sama sekali.
Badannya lemah lunglai tergeletak di atas kursinya seolah-olah tidak bernyawa lagi.

Di saat-saat menerima cobaan seperti itu, ia selalu meluangkan harapannya kepada Allah serta menerima cobaan itu dengan ikhlas.
Pada penghujung ayat, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Sulaiman lalu bertobat meminta ampun atas kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya serta berserah diri kepada Allah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman sehingga ia tidak tergoda oleh kekuasaan.
Kami menjadikannya tergeletak di atas kursinya sebagai jasad yang tidak mampu mengendalikan urusan.
Kemudian ia menyadari cobaan itu dan segera kembali bertobat kepada Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain.

Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.

Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu.

Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya.

Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya (dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman.

Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya.

Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang.

Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ, “Aku adalah Sulaiman.” Akan tetapi orang-orang mengingkarinya (kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari, yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan sungguh Kami menguji Sulaiman dan Kami menjatuhkan separuh tubuh anaknya di atas singgasananya. Anak ini lahir setelah Sulaiman bersumpah akan menggilir istri-istrinya, masing-masing dari mereka melahirkan seorang penunggang kuda handal yang berjihad di jalan Allah, namun dia tidak mengucapkan : Insya Allah, lalu Sualiman pun melakukan sumpahnya dengan menggilir seluruh istrinya, dan tidak seorang pun dari mereka yang mengandung kecuali seorang istri yang akhirnya hanya melahirkan separuh jasad bayi.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

irman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.
(Q.S. Shaad [38]: 34)

Yakni Kami telah mengujinya dengan mencabut kerajaan dari tangannya.

dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit).
(Q.S. Shaad [38]: 34)

Ibnu Abbas r.a.
Mujahid, Sa’id ibnu Jubair Al-Hasan, dan Qatadah serta lain-lainnya menyebutkan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu: Dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh (yang mirip dengan dia).
Mereka menyebutkan bahwa sosok tubuh itu adalah setan yang merupakan dirinya dengan Nabi Sulaiman.

Kemudian ia bertobat.
(Q.S. Shaad [38]: 34)

Mereka menyebutkan bahwa makna anaba ialah kembali, yakni kemudian kerajaan, pengaruh, dan wibawanya kembali kepada Sulaiman seperti semula.

Ibnu Jarir meyebutkan bahwa nama setan (Jin) tersebut adalah Sakhr, demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Qatadah.
Menurut pendapat lain nama setan itu adalah Asif, kata Mujahid.
Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Asruwa, yang juga kata Mujahid.
Menurut As-Saddi, nama setan itu adalah Habyaq.
Dalam menyebutkan kisah kejadian ini sebagian dari mereka ada yang menceritakannya secara panjang lebar, dan sebagian yang lain menceritakannya secara ringkas.

Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah yang telah menceritakan bahwa Sulaiman diperintahkan untuk membangun Baitul Maqdis.
Maka dikatakan kepadanya, “Bangunlah ia, tetapi jangan sampai terdengar suara besi beradu.” Nabi Sulaiman a.s berusaha untuk melakukannya, tetapi tidak mampu (karena harus tanpa suara).

Kemudian dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya ada yang mampu melakukannya.
Dia adalah setan yang bertempat tinggal di laut, dikenal dengan nama Sakhr, jin yang jahat.”

Maka Sulaiman ‘alaihis salam mencarinya, dan tersebutlah bahwa di tepi laut tersebut terdapat sebuah mata air yang biasa didatangi oleh jin Sakhr untuk minum darinya seminggu-sekali.
Lalu Nabi Sulaiman mengeringkan airnya dan menggantinya dengan khamr.

Dan pada hari minumnya, jin Sakhr datang.
Ternyata ia menjumpainya telah menjadi khamr, maka ia berkata, “Sesungguhnya airmu ini adalah minuman yang baik, hanya saja engkau akan membuat orang yang penyabar menjadi mabuk dan membuat orang yang bodoh makin bertambah bodoh.”

Setelah minum Sakhr pulang, dan kembali lagi kepadanya setelah merasa kehausan yang sangat.
Ia berkata, “Sesungguhnya engkau adalah minuman yang baik, tetapi engkau dapat menjadikan orang yang penyabar mabuk dan menambahkan kebodohan kepada orang yang bodoh.” Lalu Sakhr meminumnya lagi hingga pengaruh khamr menguasai akalnya.

Kemudian diperlihatkan kepadanya cincin Sulaiman, atau cincin itu ditempelkan di antara kedua tulang belikatnya, hingga Sakhr lumpuh dan tunduk.

Disebutkan bahwa letak kesaktian Nabi Sulaiman berada pada cincinnya.
Lalu Sakhr dibawa menghadap kepada Nabi Sulaiman a.s, dan Nabi Sulaiman berkata, “Sesungguhnya kami telah diperintahkan untuk membangun rumah ini (Baitul Maqdis), dan dikatakan kepada kami bahwa dalam membangunnya tidak boleh ada suara besi.”

Maka Sakhr mendatangkan telur burung hudhud, lalu meletakkannya di dalam sebuah kotak kaca yang tertutup rapat.
Ketika induk burung hudhud itu datang, ia hanya bisa berputar di sekitar peti kaca tersebut, ia dapat melihat telurnya, tetapi tidak dapat mendekatinya.
Maka burung hudhud itu pergi dan datang lagi dengan membawa intan, lalu ia mengeratkan intan itu pada kotak kaca dan pecahlah kacanya hingga ia bisa mengerami telurnya.
Maka Nabi Sulaiman mengambil intan dan menjadikannya sebagai alat untuk memotong batu-batuan.

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam apabila hendak memasuki kamar kecil atau kamar mandi tidak membawa serta cincinnya itu.
Pada suatu hari ia pergi ke tempat mandi, sedangkan setan itu (yakni Sakhr) ikut bersamanya, peristiwa ini terjadi seusai Nabi Sulaiman menggauli salah seorang istrinya.

Sebelum Sulaiman ‘alaihis salam memasuki kamar mandinya, terlebih dahulu ia menitipkan cincinnya itu kepada Sakhr.
Tetapi setelah Sakhr menerimanya, ia melemparkannya ke laut dan cincin itu ditelan oleh ikan.

Maka kesaktian Nabi Sulaiman hilang.
Kemudian Sakhr menyerupakan dirinya dengan Suliaman, ia datang ke kerajaannya, lalu duduk di atas singgasananya.
Sejak saat itu Sakhr menguasai seluruh kerajaan milik Nabi Sulaiman, kecuali istri-istri Nabi Sulaiman.
Sakhr menjalankan roda pemerintahan dan memutuskan peradilan di antara mereka, tetapi mereka memprotes banyak hal yang telah diputuskannya, hingga mereka mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Allah mendapat cobaan.” Di antara mereka terdapat seorang lelaki yang diserupakan oleh mereka mempunyai kekuatan yang mirip dengan sahabat Umar ibnul Khattab.
Lelaki itu berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan mencobanya.” Ia bertanya, “Hai Nabi Allah, dia mengira bahwa yang duduk di atas singgasana itu adalah Nabi Sulaiman, bagaimanakah jika salah seorang dari kami mengalami jinabah di suatu malam yang dingin, lalu ia meninggalkan mandi jinabah dengan sengaja hingga matahari terbit, apakah menurut pendapatmu ia tidak berdosa?
Sakhr yang menyerupai dirinya dengan Nabi Sulaiman menjawab, “Tidak.”

Ketika Sakhr dalam keadaan demikian selama empat puluh hari, tiba-tiba Nabi Sulaiman menemukan cincinnya di dalam perut seekor ikan.
Lalu ia datang, tiada jin dan tiada pula burung yang bersua dengannya melainkan bersujud hormat kepadanya, hingga sampailah ia ke kerajaannya tempat mereka berada.

dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(Q.S. Shaad [38]: 34)

Tubuh tersebut tiada lain kecualijin Sakhr yang jahat itu.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.
(Q.S. Shaad [38]: 34) Yakni Kami uji dia, dengan cara seperti yang disebutkan firman berikutnya: dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(Q.S. Shaad [38]: 34)

Bahwa dia adalah setan yang didudukkan di atas singgasananya selama empat puluh hari.

Disebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam mempunyai seratus orang istri dan di antaranya ada seorang istri yang dikenal dengan nama Jaradah, yang paling dicintainya dan paling dipercayai olehnya di antara semua istri-istrinya.
Tersebutlah apabila Sulaiman hendak melakukan sesuatu yang mengakibatkan dirinya berjinabah atau hendak membuang hajatnya, terlebih dahulu ia menanggalkan cincinnya, maka tiada seorang pun yang dipercaya olehnya selain dari Jaradah istri tersayangnya itu.
Ia menitipkan cincinnya itu kepadanya di suatu hari, lalu ia masuk ke tempat buang air.
Tidak lama kemudian muncullah setan yang menyerupakan diri seperti dia, lalu setan itu berkata, “Kemarikanlah cincinku!” Jaradah menyerahkan cincin tersebut kepadanya.
Selanjutnya setan itu datang ke kerajaan Nabi Sulaiman, lalu duduk di atas tempat duduk Nabi Sulaiman.

Sesudah itu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam keluar dari tempat buang airnya lalu meminta kepada istrinya (Jaradah) untuk menyerahkan cincinnya itu.
Maka istinya menjawab.”Bukankah engkau telah mengambilnya tadi?”
Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata, “Belum.” Sejak saat itu Nabi Sulaiman pergi, seakan-akan seperti layang-layang yang putus tanpa tujuan sedangkan setan itu tinggal selama empat puluh hari memerintah kerajaannya dan memutuskan perkara di antara manusia.

Orang-orang mengingkari keputusan-keputusan hukumnya, maka Ahli Qurra Bani Israil berkumpul bersama ulamanya, setelah itu mereka mendatangi istri-istri Nabi Sulaiman dan mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya kami mengingkari sepak terjang orang ini.
Jika memang Nabi Sulaiman telah kehilangan akal sehatnya, maka kami tidak mau menerima semua keputusannya.”

Mendengar berita itu semua istri Nabi Sulaiman menangis.
Mereka pergi mendatangi Sulaiman dengan jalan kaki.
Setelah sampai di hadapannya, mereka memandangnya dengan pandangan yang teliti, kemudian mereka membuka kitab Taurat dan membacanya.

Maka dengan serta merta setan itu terpental ke udara dan jatuh di halaman istana, sedangkan cincin Sulaiman berada di tangannya.
Kemudian ia terbang jauh dan pergi ke laut, tetapi cincin tersebut terjatuh darinya, jatuh ke laut, lalu dimakan oleh seekor ikan yang ada di laut.

Sulaiman datang dalam keadaan tertanggalkan darinya kebesaran seorang raja ke tepi laut, hingga sampailah ia pada salah seorang penangkap ikan di laut tersebut.
Ia dalam keadaan sangat lapar, maka ia meminta ikan kepada para penangkap ikan itu.
Ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku adalah Sulaiman,” maka sebagian dari mereka bangkit dan memukulnya dengan tongkat hingga Sulaiman terluka pada kepalanya.
Sulaiman bersabar dan mencuci lukanya itu di tepi pantai dengan air laut.
Para nelayan yang ada mencela perbuatan teman mereka yang memukul Sulaiman, dan mereka berkata kepadanya, “Buruk sekali perlakuanmu itu dengan memukul dia.” Orang yang memukulnya menjawab.”Dia mengira bahwa dirinya adalah Sulaiman.”

Akhirnya mereka memberinya dua ekor ikan yang tidak terpakai oleh mereka.
Sulaiman tidak mengindahkan lagi luka akibat pukulan, ia bangkit menuju ke tepi pantai, lalu membelah perut kedua ikan itu dan mencucinya.
Ternyata ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut salah satu dari kedua ekor ikan pemberian itu.

Ia segera memungutnya dan mengenakannya, maka dengan serta merta Allah mengembalikan kepadanya wibawanya sebagai seorang raja dan juga kesaktiannya.
Burung-burung pun berdatangan hingga mengelilinginya, Melihat kejadian itu barulah kaum yang ada di pantai itu merasa yakin bahwa dia adalah Sulaiman ‘alaihis salam Maka orang-orang berdatangan kepadanya seraya meminta maaf kepadanya atas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya.
Sulaiman ‘alaihis salam menjawab, “Aku tidak memuji kalian atas permintaan maaf kalian, tidak pula aku mencela apa yang telah kalian lakukan terhadapku, karena sesungguhnya peristiwa tersebut merupakan suatu perkara yang telah terjadi.”

Sulaiman ‘alaihis salam berangkat hingga datang ke kerajaannya, lalu ia memerintahkan agar setan tersebut ditangkap.
Setelah setan itu ditangkap, ia menjatuhkan hukuman terhadapnya, maka ia memasukkannya ke dalam sebuah peti besi yang dikuncinya rapat-rapat dan dilak dengan cap dari cincinnya.
Kemudian ia memerintahkan agar peti itu dilemparkan ke dalam laut, dan setan tersebut akan tetap berada di dalam peti itu hingga hari kiamat nanti.
Disebutkan bahwa nama setan itu adalah Habyaq.

As-Saddi melanjutkan kisahnya, bahwa telah ditundukkan bagi Sulaiman angin, yang sebelum itu tidak ditundukkan terhadapnya.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.
(Q.S. Shaad [38]: 35)

Ibnu Abu Najib telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(Q.S. Shaad [38]: 34) Yaitu setan yang dikenal dengan nama Asif.
Sulaiman ‘alaihis salam berkata kepadanya, “Bagaimanakah caranya kamu menguji manusia?”
Asif berkata, “Perlihatkanlah kepadaku cincinmu, nanti aku akan menceritakannya kepadamu!” Ketika Nabi Sulaiman memberikan cincin itu kepadanya, maka ia (Asif) melemparnya ke laut.

Setelah itn Sulaiman ‘alaihis salam pergi mengembara, kerajaannya (kesaktiannya) telah lenyap dari tangannya, sedangkan si Asif duduk di atas singgasananya.
Tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mencegahnya dari istri-istri Nabi Sulaiman, maka dia tidak dapat mendekati mereka, dan tidak sekali-kali mereka mendekatinya, mereka langsung merasa benci terhadapnya.

Sejak itu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam makannya dari meminta-minta.
Dia meminta makan dan mengatakan, “Tahukan kalian, siapakah aku ini?
Berilah aku makan, aku adalah Sulaiman,” tetapi mereka mendustakannya (tidak percaya kepadanya).
Hinggga pada suatu hari ada seorang wanita yang memberinya seekor ikan, lalu Sulaiman membelah perutnya dan ternyata ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut ikan itu.
Maka kembalilah kepadanya kebesaran kerajaan dan kesaktiannya, sedangkan Asif kabur, lalu masuk ke dalam laut.

Semuanya itu bersumber dari kisah israiliyat, tetapi tiada seorang pun yang mengingkari apa yang dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim berikut: Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, Usman ibnu Abu Syaibah, dan Ali ibnu Muhammad, ketiganya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Al-Minhal ibnu Amr dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh (yang mirip degannya), kemudian ia kembali (merebut kerajaannya).
(Q.S. Shaad [38]: 34) Bahwa ketika Nabi Sulaiman hendak memasuki kamar kecil, ia menyerahkan cincinnya itu kepada Jaradah, salah seorang istrinya yang paling dicintainya.

Tiba-tiba datanglah setan yang menyerupai dirinya dengan Sulaiman, lalu berkata kepada Jaradah, “Berikanlah cincinku kepadaku,” maka Jaradah menyerahkan cincin itu kepadanya.
Setelah setan itu mengenakan cincin tersebut, tunduklah kepadanya semua manusia, jin, dan setan.

Ketika Sulaiman keluar dari kamar kecilnya, berkatalah ia kepada istrinya, “Kemarikanlah cincinku!” Jaradah menjawab, “Bukankah tadi telah kuberikan kepada Sulaiman?”
Sulaiman ‘alaihis salam berkata, “Akulah Sulaiman.” Jaradah menjawab, “Kamu dusta, bukan Sulaiman.”

Sejak saat itu tidak sekali-kali ia mendatangi seseorang dan mengatakan kepadanya.”Akulah Sulaiman,” melainkan orang itu mendustakannya, hingga anak-anak kecil melemparinya dengan batu.
Ketika Sulaiman menyaksikan kenyataan ini, maka sadarlah ia bahwa ini merupakan perintah (ujian) dari Allah subhanahu wa ta’ala

Sedangkan setan itu bangkit dan memutuskan perkata di antara manusia (rakyat kerajaan Nabi Sulaiman).
Dan ketika Allah menghendaki akan mengembalikan kerajaan kepada Sulaiman a.s, Allah menanamkan rasa ingkar dan benci terhadap setan yang menyerupakan dirinya dengan rupa Sulaiman itu.

Maka orang-orang mengirimkan utusan untuk menghadap kepada istri-istri Nabi Sulaiman.
Para utusan mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian menyaksikan sesuatu yang aneh pada diri Sulaiman?”
Mereka menjawab, “Ya, sesungguhnya dia sekarang selalu mendatangi kami di saat kami sedang haid, padahal sebelum itu dia tidak pernah melakukannya.”

Ketika setan melihat bahwa perihal dirinya akan diketahui dan kedoknya akan terbuka, mereka menulis sebuah kitab yang di dalamnya terkandung sihir dan kekufuran, lalu mereka pendam di bawah singgasananya.
Setelah itu mereka gali dan berpura-pura menemukannya, dan mereka membacakannya kepada orang-orang.
Akhirnya mereka mengatakan, “Dengan cara inikah Sulaiman menguasai manusia dan mengalahkan mereka?”
Kemudian semua orang mengingkari Sulaiman dan mereka tetap bersikap mengingkarinya.

Selanjutnya setan itu melemparkan cincin Sulaiman ke dalam laut.
Setelah dilemparkan, cincin itu ditelan oleh ikan.
Tersebutlah bahwa Nabi Sulaiman (sesudah peristiwa itu) bekerja sebagai kuli di sebuah pantai.
Maka datanglah seorang lelaki membeli ikan-ikan di pantai itu dari jenis ikan yang menelan cincin Sulaiman, dari ikan yang menelan cincin itu pun ada pada kelompoknya tersebut.
Lelaki itu memanggil Sulaiman dan berkata kepadanya.”Maukah engkau pikul ikan-ikan ini?”
Sulaiman menjawab, “Ya.” Sulaiman bertanya, “Berapa upahnya?”
Lelaki itu menjawab, “Saya bayar dengan ikan jenis ini yang kamu pikul nanti.”

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam setuju, lalu ia memikul ikan-ikan itu dan pergi membawanya ke rumah laki-laki itu.
Setelah sampai di pintu rumah lelaki itu, maka si lelaki itu memberinya upah berupa ikan yang ternyata di dalamnya terdapat cincinnya.

Nabi Sulaiman menerimanya, lalu membelah ikan itu.
Tiba-tiba ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut ikan tersebut, maka ia pungut dan memakainya.
Setelah ia memakai cincinnya itu, maka tunduklah kepadanya semua manusia, jin, dan setan, keadaannya kembali seperti semula, sedangkan setan yang merebut kedudukannya lari ke sebuah pulau di tengah laut.

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam mengirimkan utusan untuk mengejar dan menangkap setan yang sangat jahat itu.
Maka mereka mengejarnya, tetapi mereka tidak mampu menangkapnya, pada akhirnya setan itu dijumpai sedang tidur.
Kemudian mereka membangun di atasnya sebuah bangunan tertutup dari timah.
Ketika setan itu bangun, ia kaget dan melompat, tetapi tidak sekail-kali ia melompat di bagian mana pun dari bangunan itu melainkan timah itu melentur dan membelitnya.

Akhirnya mereka dapat menangkapnya dan mengikatnya, lalu membawanya ke hadapan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam Maka Nabi Sulaiman memerintahkan agar dibuatkan untuknya keramik yang diberi lubang, kemudian setan itu dimasukkan ke dalamnya dan disumbat dengan penutup dari tembaga.
Setelah itu ia memerintahkan agar keramik itu dilemparkan ke laut.
Yang demikian itu disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman, dan Kami jadikan di atas kursinya sesosok tubuh (mirip dengan dia), kemudian ia kembali (dapat merebutnya).
(Q.S. Shaad [38]: 34) Yang dimaksud dengan sosok tubuh itu adalah setan yang telah menguasai kursinya.

Sanad riwayat ini kuat sampai kepada Ibnu Abbas.
Akan tetapi, lahiriahnya menunjukkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas menerimanya jika sanadnya sahih, dari kalangan Ahli Kitab.
Perlu diketahui bahwa di antara Ahli Kitab ada sebagian orang yang tidak meyakini kenabian Nabi Sulaiman ‘alaihis salam Dengan kata lain, mereka mendustakannya.
Karena itu, dalam konteks kisah ini terdapat hal-hal yang mungkar, dan yang paling parah ialah disebutkannya istri-istri Nabi Sulaiman ‘alaihis salam (yang dapat disetubuhi oleh setan itu di masa haidnya).

Karena sesungguhnya menurut riwayat yang terkenal dari Mujahid dan para imam ulama Salaf lainnya yang bukan hanya seorang, setan atau jin itu tidak dapat menguasai istri-istri Nabi Sulaiman, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjaga mereka dari setan itu untuk memelihata kehormatan dan kemuliaan Sulaiman ‘alaihis salam

Kisah ini telah diriwayatkan secara pajang lebar bersumber dari sejumlah ulama Salaf, seperti Sa’id ibnul Musayyab, Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.
Semuanya itu dinukil dari kisah-kisah Ahli Kitab, hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Yahya ibnu Abu Arubah Asy-Syaibani mengatakan bahwa Sulaiman menemukan kembali cincinnya di Asqalan, lalu ia berjalan dengan mengenakan kain saja menuju Baitul Maqdis sebagai ungkapan rasa tawadu’nya (rendah dirinya) kepada Allah subhanahu wa ta’ala Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Ka’bul Ahbar mengenai gambaran tentang singgasana Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang kisahnya menakjub­kan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh juru tulis Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq Al-Masri, dari Ka’bul Ahbar.
Disebutkan bahwa setelah Ka’bul Ahbar selesai dari kisah kaum Iram yang mempunyai tiang-tiang yang tinggi, Mu’awiyah berkata kepadanya, “Hai Abu Ishaq, ceritakanlah kepadaku tentang singgasana Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daud ‘alaihis salam dan gambaran tentangnya, Terbuat dari apakah ia?”

Ka’bul Ahbar menjawab, bahwa singgasana Nabi Sulaiman terbuat dari gading gajah yang bertahtakan mutiara, yaqut, zabarjad, dan intan.
Nabi Sulaiman telah membuat tangga untuk naik ke singgasananya itu, yang antara lain dihiasi dengan intan, yaqut dan zabarjad.

Selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan agar di sebelah kanan dan kiri kursi (singgasana)nya dihiasi dengan pohon kurma dari emas yang pelepah daunnya terbuat dari yaqut, zabarjad dan mutiara.
Sedangkan di atas pohon kurma yang di sebelah kanan singgasananya dibuat patung burung merak dari emas, dan di atas pohon kurma yang ada di sebelah kirinya dibuat burung garuda dari emas yang posisinya berhadapan dengan burung merak.

Kemudian di sebelah kanan tangga naik ke singgasananya dibuat pohon sanubar dari emas, sedangkan di sebelah kiri tangga dibuat dua buah patung singa dari emas, yang di atas kepala masing-masing dibuat sebuah tiang terbuat dari zabarjad.
Selanjutnya di sebelah kanan dan kiri singgasananya dibuat dua pohon anggur yang menaungi singgasana sedangkan buah-buahnya terbuat dari intan dan yaqut merah.

Di bagian atas tangga singgasana dibuat dua buah patung singa yang besar terbuat dari emas yang berongga, dan di dalam rongganya diisi dengan minyak misik dan minyak ambar (yang sangat harum baunya) Apabila Nabi Sulaiman hendak menaiki singgasananya, maka singa besar itu berputar sesaat, lalu diam seraya menyemprotkan parfum yang ada di dalam rongganya ke sekitar singgasananya.

Kemudian diletakkan dua buah mimbar yang terbuat dari emas, yang satu untuk wakilnya, sedangkan yang lain untuk para pemimpin pendeta Bani Israil di masa itu.
Setelah itu diletakkan pula di hadapan singgasananya tujuh puluh mimbar yang semuanya terbuat dari emas, untuk tempat duduk para kadi, para ulama, dan orang-orang terhormat Bani Israil.
Di belakang semua mimbar itu terdapat pula tiga puluh lima mimbar terbuat dari emas, tiada seorang pun yang duduk di atasnya.

Apabila Nabi Sulaiman hendak naik untuk duduk di atas singgasana­nya, maka ia menginjakkan kakinya di atas tangga naik bagian bawah maka berputarlah singgasananya bersama apa yang ada di sekitarnya patung singa merentangkan kaki kanannya, sedangkan burung garuda mengembangkan sayap kirinya.
Apabila Nabi Sulaiman menginjakkan kakinya ke tangga yang kedua, maka patung singa itu merentangkan tangan kirinya, dan burung garuda merentangkan sayap kanannya.

Apabila Nabi Sulaiman telah menaiki tangga ketiganya, lalu duduk di atas singgasananya, maka patung burung garuda itu bergerak mengambil mahkota Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, lalu meletakkannya di atas kepala Nabi Sulaiman.
Dan apabila mahkota telah di letakkan di atas kepalanya, maka berputarlah singgasananya berikut semua yang ada padanya sebagaimana berputarnya kincir dengan putaran yang cepat.

Mu’awiyah berkata, “Lalu apakah yang menggerakkannya dapat berputar, hai Abu Ishak (nama julukan Ka’bul Ahbar)?”
Ka’bul Ahbar menjawab, bahwa yang menggerakkannya adalah naga emas yang ada pada singgasananya.
Naga itu merupakan suatu karya yang hebat dan buah tangan jin Sakhr.

Apabila tombol yang berupa naga itu diputar, maka berputarlah semua patung singa, patung garuda, dan patung merak yang berada di bawah singgasananya, sedangkan yang ada di atas tidak.
Dan apabila tombol ditekan lagi, maka berhentilah semua patung itu dan berputarnya, sedangkan kepala mereka tertunduk berada di atas kepala Nabi Sulaiman a s.
yang telah duduk di atas singgasananya.
Kemudian patung-patung itu menyemprotkan semua parfum yang ada di dalam rongganya ke atas kepala Nabi Sulaiman ‘alaihis salam

Kemudian burung merpati emas yang bertengger di atas tiang yang terbuat dari mutiara mengambil kitab Taurat, lalu meletakkannya di tangan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam Maka Nabi Sulaiman ‘alaihis salam membacakannya kepada orang-orang.
Kemudian Ka’bul Ahbar menceritakan kisah selanjutnya sampai akhir Kisah, tetapi kisah ini aneh sekali.


Kata Pilihan Dalam Surah Shaad (38) Ayat 34

JASAD
جَسَد

Arti lafaz jasad adalah tubuh yang tidak bergerak, tidak makan dan tidak minum.

Kata jasad diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al A’raaf (7), ayat 148;
-Tha Ha (20), ayat 88;
-Al­ Anbiyaa (21), ayat 8;
-Shad (38), ayat 34.

Dalam surah Al A’raaf (7), ayat 148 dan surah Tha Ha (20), ayat 88 menceritakan perilaku Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ke Gunung Thur. Mereka terlepas dari ajar­an Nabi Musa karena mereka menyembah patung anak lembu yang (‘ijlan jasad) dan dapat bersuara yang dibuat oleh Samiri. Mereka menganggap patung anak lembu itu adalah tuhan mereka.

Ahli tafsir berbedza pendapat mengenai bentuk patung anak lembu itu. Sebahagian dari mereka berpendapat patung itu kemudian berubah menjadi anak lembu yang mempunyai daging, darah dan dapat bersuara. Sedangkan sebahagian yang lain berpendapat patung itu tetap berbentuk emas dan suara yang muncul adalah akibat tiupan angin yang melalui rongga bahagian dalamnya. Diceritakan juga, ketika patung anak lembu itu bersuara, kaum Bani Israil menari-nari mengelilinginya dan mengatakan ia adalah tuhan yang dilupakan oleh Nabi Musa.

Dalam surah Al Anbiyaa (21), ayat 8, Allah menegaskan para rasul yang diutus kepada manusia adalah dari kalangan manusia sendiri, bukan dari penduduk langit (malaikat) seperti yang diyakini oleh orang kafir. Sehingga para rasul bukan badan yang tidak makan makanan. (jasadan laa ya’kuluunal tha’aam) melainkan mereka adalah manusia yang makan dan minum seperti manusia yang lain dan juga pergi ke pasar untuk bekerja dan berdagang. Hal itu tidaklah mengurangi kehormatan mereka seperti yang disangka oleh orang musyrik.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 34 menerangkan ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman. Ujian itu adalah karena Nabi Sulaiman berkata,
“Pada malam ini saya akan menggilir isteri-isteriku yang berjumlah 90, nanti mereka akan melahirkan seorang anak yang menjadi tentara berkuda dan berperang di jalan Allah” Namun, beliau tidak mengucap­kan Insya Allah. Akhirnya, Allah menguji beliau dengan mendatangkan sesosok tubuh (“jasadan”) di singgahsana kerajaannya.

Ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan lafaz jasadan. Diantara pen­dapat mereka mengenai “tubuh” pada ayat itu adalah tubuh anak yang tidak sempurna yang dilahirkan oleh salah seorang dari 90 isteri Nabi Sulaiman, sedangkan yang lainnya tidak melahirkan.

Sebahagian ahli tafsir mengatakan sesosok tubuh itu adalah syaitan yang wajahnya seperti Nabi Sulaiman. Hal ini terjadi semasa Nabi Sulaiman hendak membuang hajat, beliau menyerahkan cincinnya kepada isterinya. Lalu syaitan itu berubah wajah seperti Nabi Sulaiman dan meminta cincin itu dari isteri Nabi Sulaiman. Akhirnya, syaitan itu memerintah kerajaan selama 40 hari dan Nabi Sulaiman pula bersembunyi hingga cincinnya kembali kepadanya. Setelah itu, beliau pun meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:147-148

Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 34 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 34 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 34 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:34
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.5
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta