Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 34 [QS. 38:34]

وَ لَقَدۡ فَتَنَّا سُلَیۡمٰنَ وَ اَلۡقَیۡنَا عَلٰی کُرۡسِیِّہٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ
Walaqad fatannaa sulaimaana wa-alqainaa ‘ala kursii-yihi jasadan tsumma anaab(a);
Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat.
―QS. Shaad [38]: 34

Daftar isi

And We certainly tried Solomon and placed on his throne a body;
then he returned.
― Chapter 38. Surah Shaad [verse 34]

وَلَقَدْ dan sesungguhnya

And certainly
فَتَنَّا Kami telah menguji

We tried
سُلَيْمَٰنَ Sulaiman

وَأَلْقَيْنَا dan Kami jatuhkan/letakkan

and We placed
عَلَىٰ atas

on
كُرْسِيِّهِۦ kursinya

his throne
جَسَدًا jasad

a body;
ثُمَّ kemudian

then
أَنَابَ dia kembali

he turned.

Tafsir

Alquran

Surah Shaad
38:34

Tafsir QS. Shaad (38) : 34. Oleh Kementrian Agama RI


Kemudian Allah menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat mendapat cobaan dan keadaannya setelah selesai menghadapi cobaan itu.
Allah mencobanya dengan menimpakan sakit keras.

Demikian hebatnya serangan penyakitnya itu hingga kehilangan kekuatan sama sekali.
Badannya lemah lunglai tergeletak di atas kursinya seolah-olah tak bernyawa lagi.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:



Nabi Sulaiman berkata,
"Saya akan berkeliling malam ini untuk mengumpuli sembilan puluh istri, semuanya nanti akan melahirkan anak yang mahir menunggang kuda dan berjihad fi sabilillah".
Maka seorang sahabatnya berkata kepadanya.

"Katakan insya Allah",
tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan insya Allah.
Nabi Sulaiman kemudian mengumpuli istri-istrinya itu semua, tetapi tidak ada yang hamil dari mereka kecuali seorang istri, yang kemudian melahirkan anak yang tidak sempurna.

Demi Zat yang menguasai diri Muhammad,
"Seandainya Nabi Sulaiman mengatakan insya Allah, niscaya semua istrinya melahirkan anak-anak yang mahir menunggang kuda dan berjihad fi sabilillah".(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


Keterangan lain menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cobaan itu ialah berkenaan dengan keinginan Nabi Sulaiman mendatangi sembilan puluh istrinya dalam satu malam dan setiap istrinya melahirkan seorang penunggang kuda.

Namun, ia tidak mengucapkan insya Allah, sehingga Allah mengujinya dengan cobaan tidak ada yang melahirkan kecuali hanya satu orang dan melahirkan bayi lumpuh setengah badan dan diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman.


Di saat-saat menerima cobaan seperti itu, ia selalu memanjatkan harapannya kepada Allah serta penyerahan dirinya menerima cobaan itu dengan ikhlas.

Pada penghujung ayat, Allah menegaskan bahwa Sulaiman lalu bertobat meminta ampun atas kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya serta berserah diri kepada Allah.

Tafsir QS. Shaad (38) : 34. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman sehingga ia tidak tergoda oleh kekuasaan.
Kami menjadikannya tergeletak di atas kursinya sebagai jasad yang tidak mampu mengendalikan urusan.


Kemudian ia menyadari cobaan itu dan segera kembali bertobat kepada Allah.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan sungguh Kami menguji Sulaiman dan Kami menjatuhkan separuh tubuh anaknya di atas singgasananya.
Anak ini lahir setelah Sulaiman bersumpah akan menggilir istri-istrinya, masing-masing dari mereka melahirkan seorang penunggang kuda handal yang berjihad di jalan Allah, namun dia tidak mengucapkan:
Insya Allah, lalu Sualiman pun melakukan sumpahnya dengan menggilir seluruh istrinya, dan tidak seorang pun dari mereka yang mengandung kecuali seorang istri yang akhirnya hanya melahirkan separuh jasad bayi.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain.
Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.
Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu.
Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya.
Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya


(dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman.
Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya.
Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang.
Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ,
"Aku adalah Sulaiman."
Akan tetapi orang-orang mengingkarinya


(kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari, yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



irman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.
(QS. Shaad [38]: 34)


Yakni Kami telah mengujinya dengan mencabut kerajaan dari tangannya.

dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit).
(QS. Shaad [38]: 34)

Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Sa’id ibnu Jubair Al-Hasan, dan Qatadah serta lain-lainnya menyebutkan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu:
Dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh (yang mirip dengan dia).
Mereka menyebutkan bahwa sosok tubuh itu adalah setan yang merupakan dirinya dengan Nabi Sulaiman.

Kemudian ia bertobat.
(QS. Shaad [38]: 34)

Mereka menyebutkan bahwa makna anaba ialah kembali, yakni kemudian kerajaan, pengaruh, dan wibawanya kembali kepada Sulaiman seperti semula.

Ibnu Jarir meyebutkan bahwa nama setan (Jin) tersebut adalah Sakhr, demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Qatadah.
Menurut pendapat lain nama setan itu adalah Asif, kata Mujahid.
Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Asruwa, yang juga kata Mujahid.
Menurut As-Saddi, nama setan itu adalah Habyaq.
Dalam menyebutkan kisah kejadian ini sebagian dari mereka ada yang menceritakannya secara panjang lebar, dan sebagian yang lain menceritakannya secara ringkas.

Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah yang telah menceritakan bahwa Sulaiman diperintahkan untuk membangun Baitul Maqdis.
Maka dikatakan kepadanya,
"Bangunlah ia, tetapi jangan sampai terdengar suara besi beradu."
Nabi Sulaiman a.s berusaha untuk melakukannya, tetapi tidak mampu (karena harus tanpa suara).

Kemudian dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya ada yang mampu melakukannya.
Dia adalah setan yang bertempat tinggal di laut, dikenal dengan nama Sakhr, jin yang jahat."

Maka Sulaimanalaihis salam mencarinya, dan tersebutlah bahwa di tepi laut tersebut terdapat sebuah mata air yang biasa didatangi oleh jin Sakhr untuk minum darinya seminggu-sekali.
Lalu Nabi Sulaiman mengeringkan airnya dan menggantinya dengan khamr.

Dan pada hari minumnya, jin Sakhr datang.
Ternyata ia menjumpainya telah menjadi khamr, maka ia berkata,
"Sesungguhnya airmu ini adalah minuman yang baik, hanya saja engkau akan membuat orang yang penyabar menjadi mabuk dan membuat orang yang bodoh makin bertambah bodoh."

Setelah minum Sakhr pulang, dan kembali lagi kepadanya setelah merasa kehausan yang sangat.
Ia berkata,
"Sesungguhnya engkau adalah minuman yang baik, tetapi engkau dapat menjadikan orang yang penyabar mabuk dan menambahkan kebodohan kepada orang yang bodoh."
Lalu Sakhr meminumnya lagi hingga pengaruh khamr menguasai akalnya.

Kemudian diperlihatkan kepadanya cincin Sulaiman, atau cincin itu ditempelkan di antara kedua tulang belikatnya, hingga Sakhr lumpuh dan tunduk.

Disebutkan bahwa letak kesaktian Nabi Sulaiman berada pada cincinnya.
Lalu Sakhr dibawa menghadap kepada Nabi Sulaiman a.s, dan Nabi Sulaiman berkata,
"Sesungguhnya kami telah diperintahkan untuk membangun rumah ini (Baitul Maqdis), dan dikatakan kepada kami bahwa dalam membangunnya tidak boleh ada suara besi."

Maka Sakhr mendatangkan telur burung hudhud, lalu meletakkannya di dalam sebuah kotak kaca yang tertutup rapat.
Ketika induk burung hudhud itu datang, ia hanya bisa berputar di sekitar peti kaca tersebut, ia dapat melihat telurnya, tetapi tidak dapat mendekatinya.
Maka burung hudhud itu pergi dan datang lagi dengan membawa intan, lalu ia mengeratkan intan itu pada kotak kaca dan pecahlah kacanya hingga ia bisa mengerami telurnya.
Maka Nabi Sulaiman mengambil intan dan menjadikannya sebagai alat untuk memotong batu-batuan.

Nabi Sulaimanalaihis salam apabila hendak memasuki kamar kecil atau kamar mandi tidak membawa serta cincinnya itu.
Pada suatu hari ia pergi ke tempat mandi, sedangkan setan itu (yakni Sakhr) ikut bersamanya, peristiwa ini terjadi seusai Nabi Sulaiman menggauli salah seorang istrinya.

Sebelum Sulaimanalaihis salam memasuki kamar mandinya, terlebih dahulu ia menitipkan cincinnya itu kepada Sakhr.
Tetapi setelah Sakhr menerimanya, ia melemparkannya ke laut dan cincin itu ditelan oleh ikan.

Maka kesaktian Nabi Sulaiman hilang.
Kemudian Sakhr menyerupakan dirinya dengan Suliaman, ia datang ke kerajaannya, lalu duduk di atas singgasananya.
Sejak saat itu Sakhr menguasai seluruh kerajaan milik Nabi Sulaiman, kecuali istri-istri Nabi Sulaiman.
Sakhr menjalankan roda pemerintahan dan memutuskan peradilan di antara mereka, tetapi mereka memprotes banyak hal yang telah diputuskannya, hingga mereka mengatakan,
"Sesungguhnya Nabi Allah mendapat cobaan."
Di antara mereka terdapat seorang lelaki yang diserupakan oleh mereka mempunyai kekuatan yang mirip dengan sahabat Umar ibnul Khattab.
Lelaki itu berkata,
"Demi Allah, sungguh aku akan mencobanya."
Ia bertanya,
"Hai Nabi Allah, dia mengira bahwa yang duduk di atas singgasana itu adalah Nabi Sulaiman, bagaimanakah jika salah seorang dari kami mengalami jinabah di suatu malam yang dingin, lalu ia meninggalkan mandi jinabah dengan sengaja hingga matahari terbit, apakah menurut pendapatmu ia tidak berdosa?
Sakhr yang menyerupai dirinya dengan Nabi Sulaiman menjawab,
"Tidak."

Ketika Sakhr dalam keadaan demikian selama empat puluh hari, tiba-tiba Nabi Sulaiman menemukan cincinnya di dalam perut seekor ikan.
Lalu ia datang, tiada jin dan tiada pula burung yang bersua dengannya melainkan bersujud hormat kepadanya, hingga sampailah ia ke kerajaannya tempat mereka berada.

dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(QS. Shaad [38]: 34)

Tubuh tersebut tiada lain kecualijin Sakhr yang jahat itu.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.
(QS. Shaad [38]: 34)
Yakni Kami uji dia, dengan cara seperti yang disebutkan firman berikutnya:
dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(QS. Shaad [38]: 34)

Bahwa dia adalah setan yang didudukkan di atas singgasananya selama empat puluh hari.

Disebutkan bahwa Nabi Sulaimanalaihis salam mempunyai seratus orang istri dan di antaranya ada seorang istri yang dikenal dengan nama Jaradah, yang paling dicintainya dan paling dipercayai olehnya di antara semua istri-istrinya.
Tersebutlah apabila Sulaiman hendak melakukan sesuatu yang mengakibatkan dirinya berjinabah atau hendak membuang hajatnya, terlebih dahulu ia menanggalkan cincinnya, maka tiada seorang pun yang dipercaya olehnya selain dari Jaradah istri tersayangnya itu.
Ia menitipkan cincinnya itu kepadanya di suatu hari, lalu ia masuk ke tempat buang air.
Tidak lama kemudian muncullah setan yang menyerupakan diri seperti dia, lalu setan itu berkata,
"Kemarikanlah cincinku!"
Jaradah menyerahkan cincin tersebut kepadanya.
Selanjutnya setan itu datang ke kerajaan Nabi Sulaiman, lalu duduk di atas tempat duduk Nabi Sulaiman.

Sesudah itu Nabi Sulaimanalaihis salam keluar dari tempat buang airnya lalu meminta kepada istrinya (Jaradah) untuk menyerahkan cincinnya itu.
Maka istinya menjawab."Bukankah engkau telah mengambilnya tadi?"
Nabi Sulaimanalaihis salam berkata,
"Belum."
Sejak saat itu Nabi Sulaiman pergi, seakan-akan seperti layang-layang yang putus tanpa tujuan sedangkan setan itu tinggal selama empat puluh hari memerintah kerajaannya dan memutuskan perkara di antara manusia.

Orang-orang mengingkari keputusan-keputusan hukumnya, maka Ahli Qurra Bani Israil berkumpul bersama ulamanya, setelah itu mereka mendatangi istri-istri Nabi Sulaiman dan mengatakan kepada mereka,
"Sesungguhnya kami mengingkari sepak terjang orang ini.
Jika memang Nabi Sulaiman telah kehilangan akal sehatnya, maka kami tidak mau menerima semua keputusannya."

Mendengar berita itu semua istri Nabi Sulaiman menangis.
Mereka pergi mendatangi Sulaiman dengan jalan kaki.
Setelah sampai di hadapannya, mereka memandangnya dengan pandangan yang teliti, kemudian mereka membuka kitab Taurat dan membacanya.

Maka dengan serta merta setan itu terpental ke udara dan jatuh di halaman istana, sedangkan cincin Sulaiman berada di tangannya.
Kemudian ia terbang jauh dan pergi ke laut, tetapi cincin tersebut terjatuh darinya, jatuh ke laut, lalu dimakan oleh seekor ikan yang ada di laut.

Sulaiman datang dalam keadaan tertanggalkan darinya kebesaran seorang raja ke tepi laut, hingga sampailah ia pada salah seorang penangkap ikan di laut tersebut.
Ia dalam keadaan sangat lapar, maka ia meminta ikan kepada para penangkap ikan itu.
Ia berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya aku adalah Sulaiman,"
maka sebagian dari mereka bangkit dan memukulnya dengan tongkat hingga Sulaiman terluka pada kepalanya.
Sulaiman bersabar dan mencuci lukanya itu di tepi pantai dengan air laut.
Para nelayan yang ada mencela perbuatan teman mereka yang memukul Sulaiman, dan mereka berkata kepadanya,
"Buruk sekali perlakuanmu itu dengan memukul dia."
Orang yang memukulnya menjawab."Dia mengira bahwa dirinya adalah Sulaiman."

Akhirnya mereka memberinya dua ekor ikan yang tidak terpakai oleh mereka.
Sulaiman tidak mengindahkan lagi luka akibat pukulan, ia bangkit menuju ke tepi pantai, lalu membelah perut kedua ikan itu dan mencucinya.
Ternyata ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut salah satu dari kedua ekor ikan pemberian itu.

Ia segera memungutnya dan mengenakannya, maka dengan serta merta Allah mengembalikan kepadanya wibawanya sebagai seorang raja dan juga kesaktiannya.
Burung-burung pun berdatangan hingga mengelilinginya, Melihat kejadian itu barulah kaum yang ada di pantai itu merasa yakin bahwa dia adalah Sulaimanalaihis salam Maka orang-orang berdatangan kepadanya seraya meminta maaf kepadanya atas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya.
Sulaimanalaihis salam menjawab,
"Aku tidak memuji kalian atas permintaan maaf kalian, tidak pula aku mencela apa yang telah kalian lakukan terhadapku, karena sesungguhnya peristiwa tersebut merupakan suatu perkara yang telah terjadi."

Sulaimanalaihis salam berangkat hingga datang ke kerajaannya, lalu ia memerintahkan agar setan tersebut ditangkap.
Setelah setan itu ditangkap, ia menjatuhkan hukuman terhadapnya, maka ia memasukkannya ke dalam sebuah peti besi yang dikuncinya rapat-rapat dan dilak dengan cap dari cincinnya.
Kemudian ia memerintahkan agar peti itu dilemparkan ke dalam laut, dan setan tersebut akan tetap berada di dalam peti itu hingga hari kiamat nanti.
Disebutkan bahwa nama setan itu adalah Habyaq.

As-Saddi melanjutkan kisahnya, bahwa telah ditundukkan bagi Sulaiman angin, yang sebelum itu tidak ditundukkan terhadapnya.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.
(QS. Shaad [38]: 35)

Ibnu Abu Najib telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh.
(QS. Shaad [38]: 34)
Yaitu setan yang dikenal dengan nama Asif.
Sulaimanalaihis salam berkata kepadanya,
"Bagaimanakah caranya kamu menguji manusia?"
Asif berkata,
"Perlihatkanlah kepadaku cincinmu, nanti aku akan menceritakannya kepadamu!"
Ketika Nabi Sulaiman memberikan cincin itu kepadanya, maka ia (Asif) melemparnya ke laut.

Setelah itn Sulaimanalaihis salam pergi mengembara, kerajaannya (kesaktiannya) telah lenyap dari tangannya, sedangkan si Asif duduk di atas singgasananya.
Tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mencegahnya dari istri-istri Nabi Sulaiman, maka dia tidak dapat mendekati mereka, dan tidak sekali-kali mereka mendekatinya, mereka langsung merasa benci terhadapnya.

Sejak itu Nabi Sulaimanalaihis salam makannya dari meminta-minta.
Dia meminta makan dan mengatakan,
"Tahukan kalian, siapakah aku ini?
Berilah aku makan, aku adalah Sulaiman,"
tetapi mereka mendustakannya (tidak percaya kepadanya).
Hinggga pada suatu hari ada seorang wanita yang memberinya seekor ikan, lalu Sulaiman membelah perutnya dan ternyata ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut ikan itu.
Maka kembalilah kepadanya kebesaran kerajaan dan kesaktiannya, sedangkan Asif kabur, lalu masuk ke dalam laut.

Semuanya itu bersumber dari kisah israiliyat, tetapi tiada seorang pun yang mengingkari apa yang dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim berikut:
Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, Usman ibnu Abu Syaibah, dan Ali ibnu Muhammad, ketiganya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Al-Minhal ibnu Amr dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan Kami jadikan di atas singgasananya sesosok tubuh (yang mirip degannya), kemudian ia kembali (merebut kerajaannya).
(QS. Shaad [38]: 34)
Bahwa ketika Nabi Sulaiman hendak memasuki kamar kecil, ia menyerahkan cincinnya itu kepada Jaradah, salah seorang istrinya yang paling dicintainya.

Tiba-tiba datanglah setan yang menyerupai dirinya dengan Sulaiman, lalu berkata kepada Jaradah,
"Berikanlah cincinku kepadaku,"
maka Jaradah menyerahkan cincin itu kepadanya.
Setelah setan itu mengenakan cincin tersebut, tunduklah kepadanya semua manusia, jin, dan setan.

Ketika Sulaiman keluar dari kamar kecilnya, berkatalah ia kepada istrinya,
"Kemarikanlah cincinku!"
Jaradah menjawab,
"Bukankah tadi telah kuberikan kepada Sulaiman?"
Sulaimanalaihis salam berkata,
"Akulah Sulaiman."
Jaradah menjawab,
"Kamu dusta, bukan Sulaiman."

Sejak saat itu tidak sekali-kali ia mendatangi seseorang dan mengatakan kepadanya."Akulah Sulaiman,"
melainkan orang itu mendustakannya, hingga anak-anak kecil melemparinya dengan batu.
Ketika Sulaiman menyaksikan kenyataan ini, maka sadarlah ia bahwa ini merupakan perintah (ujian) dari Allah subhanahu wa ta’ala

Sedangkan setan itu bangkit dan memutuskan perkata di antara manusia (rakyat kerajaan Nabi Sulaiman).
Dan ketika Allah menghendaki akan mengembalikan kerajaan kepada Sulaiman a.s, Allah menanamkan rasa ingkar dan benci terhadap setan yang menyerupakan dirinya dengan rupa Sulaiman itu.

Maka orang-orang mengirimkan utusan untuk menghadap kepada istri-istri Nabi Sulaiman.
Para utusan mengatakan kepada mereka,
"Apakah kalian menyaksikan sesuatu yang aneh pada diri Sulaiman?"
Mereka menjawab,
"Ya, sesungguhnya dia sekarang selalu mendatangi kami di saat kami sedang haid, padahal sebelum itu dia tidak pernah melakukannya."

Ketika setan melihat bahwa perihal dirinya akan diketahui dan kedoknya akan terbuka, mereka menulis sebuah kitab yang di dalamnya terkandung sihir dan kekufuran, lalu mereka pendam di bawah singgasananya.
Setelah itu mereka gali dan berpura-pura menemukannya, dan mereka membacakannya kepada orang-orang.
Akhirnya mereka mengatakan,
"Dengan cara inikah Sulaiman menguasai manusia dan mengalahkan mereka?"
Kemudian semua orang mengingkari Sulaiman dan mereka tetap bersikap mengingkarinya.

Selanjutnya setan itu melemparkan cincin Sulaiman ke dalam laut.
Setelah dilemparkan, cincin itu ditelan oleh ikan.
Tersebutlah bahwa Nabi Sulaiman (sesudah peristiwa itu) bekerja sebagai kuli di sebuah pantai.
Maka datanglah seorang lelaki membeli ikan-ikan di pantai itu dari jenis ikan yang menelan cincin Sulaiman, dari ikan yang menelan cincin itu pun ada pada kelompoknya tersebut.
Lelaki itu memanggil Sulaiman dan berkata kepadanya."Maukah engkau pikul ikan-ikan ini?"
Sulaiman menjawab,
"Ya."
Sulaiman bertanya,
"Berapa upahnya?"
Lelaki itu menjawab,
"Saya bayar dengan ikan jenis ini yang kamu pikul nanti."

Nabi Sulaimanalaihis salam setuju, lalu ia memikul ikan-ikan itu dan pergi membawanya ke rumah laki-laki itu.
Setelah sampai di pintu rumah lelaki itu, maka si lelaki itu memberinya upah berupa ikan yang ternyata di dalamnya terdapat cincinnya.

Nabi Sulaiman menerimanya, lalu membelah ikan itu.
Tiba-tiba ia menjumpai cincinnya berada di dalam perut ikan tersebut, maka ia pungut dan memakainya.
Setelah ia memakai cincinnya itu, maka tunduklah kepadanya semua manusia, jin, dan setan, keadaannya kembali seperti semula, sedangkan setan yang merebut kedudukannya lari ke sebuah pulau di tengah laut.

Nabi Sulaimanalaihis salam mengirimkan utusan untuk mengejar dan menangkap setan yang sangat jahat itu.
Maka mereka mengejarnya, tetapi mereka tidak mampu menangkapnya, pada akhirnya setan itu dijumpai sedang tidur.
Kemudian mereka membangun di atasnya sebuah bangunan tertutup dari timah.
Ketika setan itu bangun, ia kaget dan melompat, tetapi tidak sekail-kali ia melompat di bagian mana pun dari bangunan itu melainkan timah itu melentur dan membelitnya.

Akhirnya mereka dapat menangkapnya dan mengikatnya, lalu membawanya ke hadapan Nabi Sulaimanalaihis salam Maka Nabi Sulaiman memerintahkan agar dibuatkan untuknya keramik yang diberi lubang, kemudian setan itu dimasukkan ke dalamnya dan disumbat dengan penutup dari tembaga.
Setelah itu ia memerintahkan agar keramik itu dilemparkan ke laut.
Yang demikian itu disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman, dan Kami jadikan di atas kursinya sesosok tubuh (mirip dengan dia), kemudian ia kembali (dapat merebutnya).
(QS. Shaad [38]: 34)
Yang dimaksud dengan sosok tubuh itu adalah setan yang telah menguasai kursinya.


Sanad riwayat ini kuat sampai kepada Ibnu Abbas.
Akan tetapi, lahiriahnya menunjukkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas menerimanya jika sanadnya sahih, dari kalangan Ahli Kitab.
Perlu diketahui bahwa di antara Ahli Kitab ada sebagian orang yang tidak meyakini kenabian Nabi Sulaimanalaihis salam Dengan kata lain, mereka mendustakannya.
Karena itu, dalam konteks kisah ini terdapat hal-hal yang mungkar, dan yang paling parah ialah disebutkannya istri-istri Nabi Sulaimanalaihis salam (yang dapat disetubuhi oleh setan itu di masa haidnya).

Karena sesungguhnya menurut riwayat yang terkenal dari Mujahid dan para imam ulama Salaf lainnya yang bukan hanya seorang, setan atau jin itu tidak dapat menguasai istri-istri Nabi Sulaiman, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjaga mereka dari setan itu untuk memelihata kehormatan dan kemuliaan Sulaimanalaihis salam

Kisah ini telah diriwayatkan secara pajang lebar bersumber dari sejumlah ulama Salaf, seperti Sa’id ibnul Musayyab, Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.
Semuanya itu dinukil dari kisah-kisah Ahli Kitab, hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Yahya ibnu Abu Arubah Asy-Syaibani mengatakan bahwa Sulaiman menemukan kembali cincinnya di Asqalan, lalu ia berjalan dengan mengenakan kain saja menuju Baitul Maqdis sebagai ungkapan rasa tawadu‘nya (rendah dirinya) kepada Allah subhanahu wa ta’ala Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Ka’bul Ahbar mengenai gambaran tentang singgasana Nabi Sulaimanalaihis salam yang kisahnya menakjub­kan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh juru tulis Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq Al-Masri, dari Ka’bul Ahbar.
Disebutkan bahwa setelah Ka’bul Ahbar selesai dari kisah kaum Iram yang mempunyai tiang-tiang yang tinggi, Mu’awiyah berkata kepadanya,
"Hai Abu Ishaq, ceritakanlah kepadaku tentang singgasana Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daudalaihis salam dan gambaran tentangnya, Terbuat dari apakah ia?"

Ka’bul Ahbar menjawab, bahwa singgasana Nabi Sulaiman terbuat dari gading gajah yang bertahtakan mutiara, yaqut, zabarjad, dan intan.
Nabi Sulaiman telah membuat tangga untuk naik ke singgasananya itu, yang antara lain dihiasi dengan intan, yaqut dan zabarjad.

Selanjutnya Nabi Sulaiman memerintahkan agar di sebelah kanan dan kiri kursi (singgasana)nya dihiasi dengan pohon kurma dari emas yang pelepah daunnya terbuat dari yaqut, zabarjad dan mutiara.
Sedangkan di atas pohon kurma yang di sebelah kanan singgasananya dibuat patung burung merak dari emas, dan di atas pohon kurma yang ada di sebelah kirinya dibuat burung garuda dari emas yang posisinya berhadapan dengan burung merak.

Kemudian di sebelah kanan tangga naik ke singgasananya dibuat pohon sanubar dari emas, sedangkan di sebelah kiri tangga dibuat dua buah patung singa dari emas, yang di atas kepala masing-masing dibuat sebuah tiang terbuat dari zabarjad.
Selanjutnya di sebelah kanan dan kiri singgasananya dibuat dua pohon anggur yang menaungi singgasana sedangkan buah-buahnya terbuat dari intan dan yaqut merah.

Di bagian atas tangga singgasana dibuat dua buah patung singa yang besar terbuat dari emas yang berongga, dan di dalam rongganya diisi dengan minyak misik dan minyak ambar (yang sangat harum baunya) Apabila Nabi Sulaiman hendak menaiki singgasananya, maka singa besar itu berputar sesaat, lalu diam seraya menyemprotkan parfum yang ada di dalam rongganya ke sekitar singgasananya.

Kemudian diletakkan dua buah mimbar yang terbuat dari emas, yang satu untuk wakilnya, sedangkan yang lain untuk para pemimpin pendeta Bani Israil di masa itu.
Setelah itu diletakkan pula di hadapan singgasananya tujuh puluh mimbar yang semuanya terbuat dari emas, untuk tempat duduk para ulama, dan orang-orang terhormat Bani Israil.
Di belakang semua mimbar itu terdapat pula tiga puluh lima mimbar terbuat dari emas, tiada seorang pun yang duduk di atasnya.

Apabila Nabi Sulaiman hendak naik untuk duduk di atas singgasana­nya, maka ia menginjakkan kakinya di atas tangga naik bagian bawah maka berputarlah singgasananya bersama apa yang ada di sekitarnya patung singa merentangkan kaki kanannya, sedangkan burung garuda mengembangkan sayap kirinya.
Apabila Nabi Sulaiman menginjakkan kakinya ke tangga yang kedua, maka patung singa itu merentangkan tangan kirinya, dan burung garuda merentangkan sayap kanannya.

Apabila Nabi Sulaiman telah menaiki tangga ketiganya, lalu duduk di atas singgasananya, maka patung burung garuda itu bergerak mengambil mahkota Nabi Sulaimanalaihis salam, lalu meletakkannya di atas kepala Nabi Sulaiman.
Dan apabila mahkota telah di letakkan di atas kepalanya, maka berputarlah singgasananya berikut semua yang ada padanya sebagaimana berputarnya kincir dengan putaran yang cepat.

Mu’awiyah berkata,
"Lalu apakah yang menggerakkannya dapat berputar, hai Abu Ishak (nama julukan Ka’bul Ahbar)?"
Ka’bul Ahbar menjawab, bahwa yang menggerakkannya adalah naga emas yang ada pada singgasananya.
Naga itu merupakan suatu karya yang hebat dan buah tangan jin Sakhr.

Apabila tombol yang berupa naga itu diputar, maka berputarlah semua patung singa, patung garuda, dan patung merak yang berada di bawah singgasananya, sedangkan yang ada di atas tidak.
Dan apabila tombol ditekan lagi, maka berhentilah semua patung itu dan berputarnya, sedangkan kepala mereka tertunduk berada di atas kepala Nabi Sulaiman a s.
yang telah duduk di atas singgasananya.
Kemudian patung-patung itu menyemprotkan semua parfum yang ada di dalam rongganya ke atas kepala Nabi Sulaimanalaihis salam

Kemudian burung merpati emas yang bertengger di atas tiang yang terbuat dari mutiara mengambil kitab Taurat, lalu meletakkannya di tangan Nabi Sulaimanalaihis salam Maka Nabi Sulaimanalaihis salam membacakannya kepada orang-orang.
Kemudian Ka’bul Ahbar menceritakan kisah selanjutnya sampai akhir Kisah, tetapi kisah ini aneh sekali.

Kata Pilihan Dalam Surah Shaad (38) Ayat 34

JASAD
جَسَد

Arti lafaz jasad adalah tubuh yang tidak bergerak, tidak makan dan tidak minum.

Kata jasad diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
• Al A’raaf (7), ayat 148;
Tha Ha (20), ayat 88;
• Al Anbiyaa (21), ayat 8;
Shad (38), ayat 34.

Dalam surah Al A’raaf (7), ayat 148 dan surah Tha Ha (20), ayat 88 menceritakan perilaku Bani Israil ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa ke Gunung Thur.
Mereka terlepas dari ajaran Nabi Musa karena mereka menyembah patung anak lembu yang (‘ijlan jasad) dan dapat bersuara yang dibuat oleh Samiri.
Mereka menganggap patung anak lembu itu adalah tuhan mereka.

Ahli tafsir berbedza pendapat mengenai bentuk patung anak lembu itu.
Sebahagian dari mereka berpendapat patung itu kemudian berubah menjadi anak lembu yang mempunyai daging, darah dan dapat bersuara.
Sedangkan sebahagian yang lain berpendapat patung itu tetap berbentuk emas dan suara yang muncul adalah akibat tiupan angin yang melalui rongga bahagian dalamnya.
Diceritakan juga, ketika patung anak lembu itu bersuara, kaum Bani Israil menari-nari mengelilinginya dan mengatakan ia adalah tuhan yang dilupakan oleh Nabi Musa.

Dalam surah Al Anbiyaa (21), ayat 8, Allah menegaskan para rasul yang diutus kepada manusia adalah dari kalangan manusia sendiri, bukan dari penduduk langit (malaikat) seperti yang diyakini oleh orang kafir.
Sehingga para rasul bukan badan yang tidak makan makanan.
(jasadan laa ya’kuluunal tha’aam) melainkan mereka adalah manusia yang makan dan minum seperti manusia yang lain dan juga pergi ke pasar untuk bekerja dan berdagang.
Hal itu tidaklah mengurangi kehormatan mereka seperti yang disangka oleh orang musyrik.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 34 menerangkan ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman.
Ujian itu adalah karena Nabi Sulaiman berkata,
"Pada malam ini saya akan menggilir isteri-isteriku yang berjumlah 90, nanti mereka akan melahirkan seorang anak yang menjadi tentara berkuda dan berperang di jalan Allah" Namun, beliau tidak mengucapkan Insya Allah.
Akhirnya, Allah menguji beliau dengan mendatangkan sesosok tubuh ("jasadan") di singgahsana kerajaannya.

Ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan lafaz jasadan. Diantara pendapat mereka mengenai "tubuh" pada ayat itu adalah tubuh anak yang tidak sempurna yang dilahirkan oleh salah seorang dari 90 isteri Nabi Sulaiman, sedangkan yang lainnya tidak melahirkan.

Sebahagian ahli tafsir mengatakan sesosok tubuh itu adalah syaitan yang wajahnya seperti Nabi Sulaiman.
Hal ini terjadi semasa Nabi Sulaiman hendak membuang hajat, beliau menyerahkan cincinnya kepada isterinya.
Lalu syaitan itu berubah wajah seperti Nabi Sulaiman dan meminta cincin itu dari isteri Nabi Sulaiman.
Akhirnya, syaitan itu memerintah kerajaan selama 40 hari dan Nabi Sulaiman pula bersembunyi hingga cincinnya kembali kepadanya.
Setelah itu, beliau pun meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:147-148

Unsur Pokok Surah Shaad (ص)

Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Qamar.

Dinamai dengan "Shaad" karena surat ini dimulai dengan "Shaad".

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Alquran, untuk menunjukkan bahwa Alquran itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Alquran ini adalah mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalildalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal-hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu.
▪ Sumpah iblis untuk menyesatkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas.
Alquran diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Kisah:

▪ Kisah Daud `alaihis salam dan kisah Sulaiman `alaihis salam.
▪ Kisah Ayyub `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ bahwa Allah adalah Maha Esa.
▪ Rahasia yang terdapat pada kejadian alam.
▪ Pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka.
▪ Nikmat-nikmat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka.

Audio

QS. Shaad (38) : 1-88 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 88 + Terjemahan Indonesia

QS. Shaad (38) : 1-88 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 88

Gambar Kutipan Ayat

Surah Shaad ayat 34 - Gambar 1 Surah Shaad ayat 34 - Gambar 2
Statistik QS. 38:34
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , “Ṣad”) adalah surah ke-38 dalam Alquran.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku’ 5 ruku’
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
Sending
User Review
4.5 (21 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

38:34, 38 34, 38-34, Surah Shaad 34, Tafsir surat Shaad 34, Quran Shad 34, Sad 34, Surah Shad ayat 34

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Shaad

۞ QS. 38:2 • Azab orang kafir

۞ QS. 38:3 • Azab orang kafir

۞ QS. 38:4 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:5 Islam agama para nabi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:7 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:8 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 38:9 • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Wahhab (Maha Pemberi) •

۞ QS. 38:10 • Segala sesuatu milik Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:11 • Azab orang kafir

۞ QS. 38:12 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:13 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:14 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:15 • Peniupan sangkakala • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir

۞ QS. 38:16 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:22 Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 38:24 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 38:25 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 38:26 • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Maksiat dan dosa

۞ QS. 38:27 • Mendustai Allah • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 38:28 • Derajat para pemeluk agama • Keadilan Allah dalam menghakimi • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya •

۞ QS. 38:29 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 38:32 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 38:35 Ar Rabb (Tuhan) • Al Wahhab (Maha Pemberi)

۞ QS. 38:37 Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 38:38 Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 38:41 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 38:49 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 38:50 • Pahala iman • Nama-nama surga • Pintu-pintu surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga •

۞ QS. 38:51 • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga

۞ QS. 38:52 • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Sifat wanita penghuni surga

۞ QS. 38:53 • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 38:54 • Keabadian surga

۞ QS. 38:55 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:56 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:57 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:58 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:59 • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:60 • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:61 Ar Rabb (Tuhan) • Percakapan ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 38:62 • Derajat para pemeluk agama • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 38:63 • Derajat para pemeluk agama • Percakapan ahli neraka

۞ QS. 38:64 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 38:65 Tauhid UluhiyyahAl Qahhar (Maha Pemaksa) • Al Wahid (Maha Esa) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 38:66 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Ghaffar (Maha Pemgampun) •

۞ QS. 38:68 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 38:71 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 38:78 • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 38:79 Ar Rabb (Tuhan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 38:83 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Menjaga diri dari syetan • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 38:84 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 38:85 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 38:86 • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 38:87 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

Ayat Pilihan

Pada hari kiamat orang punya urusan yang cukup menyibukkan.
Banyak muka pada hari itu berseri, tertawa & gembira, dan banyak (pula) muka tertutup debu, ditutup lagi oleh kegelapan.
Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
QS. ‘Abasa [80]: 37-42

Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah & Rasul (Muhammad) & (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
QS. Al-Anfal [8]: 27

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Luqman adalah orang yang disebut dalam Alquran dalam surah Luqman [31] : 12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
الفرقان, artinya 'Pembeda'.
Alquran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ٱلذِّكْرَ = Adz-Dzikr (pemberi peringatan).
Firman Allah:
'Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.'
(QS. Al Hijr [15] : 9)

+

Array

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Mujahadah merupakan sebuah istilah yang terbentuk dari asal kata jihad, artinya berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syari'at Islam.

Istilah lain yang juga berasal dari kata Jihad, yakni Mujahidin. Mujahidin adalah istilah bagi pejuang (Muslim) yang turut dalam suatu peperangan atau terlibat dalam suatu pergolakan.

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #15
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #15 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #15 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah … .Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … … Surah yang menjelaskan bahwa ‘Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta’, yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Kamus

Ibnu Hibban

Siapa itu Ibnu Hibban? Abu Hatim Muhammad ibn faisal al-Tamimi al-Darimi al-Busti (270-354 H / 884–965 M) adalah seorang sarjana Muslim, Muhaddith, sejarawan, penulis karya terkenal,
“Sheikh ...

Perjanjian Baru

Apa itu Perjanjian Baru? Perjanjian Baru (bahasa Yunani Koine: Ἡ Καινὴ Διαθήκη, Hē Kainḕ Diathḗkē), atau biasa disingkat PB, merupakan bagian utama kedua kanon Alkitab Kristen, ya...

Kaum ‘Ad

Siapa itu Kaum ‘Ad? Kaum `Ad (Arab:عاد, ʿĀd) adalah sebuah suku bangsa kuno yang tinggal di daerah Al-Ahqaf di sebelah utara Hadramaut, antara Yaman dan Oman. Mereka hidup pasca banjir besa...