QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 33 [QS. 38:33]

رُدُّوۡہَا عَلَیَّ ؕ فَطَفِقَ مَسۡحًۢا بِالسُّوۡقِ وَ الۡاَعۡنَاقِ
Rudduuhaa ‘alai-ya fathafiqa mashan bissuuqi wal a’naaq(i);

Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.
Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.
―QS. 38:33
Topik ▪ Keutamaan kalam Allah
38:33, 38 33, 38-33, Shaad 33, Shaad 33, Shad 33, Sad 33

Tafsir surah Shaad (38) ayat 33

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 33. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan apa yang diperintahkan Sulaiman kepada para pelatih kudanya.
Ia menyuruh pelatihnya agar kuda-kuda itu dibawa kembali kepadanya.
Dan setelah pelatih itu membawa kuda kepadanya, ia pun mendekati.
Lalu ia mengusap kaki dan lehernya sebagai tanda kepuasan Sulaiman terhadap hasil gemilang yang dicapai kuda-kuda itu.
Dengan demikian kuda itu telah dapat dipergunakan dalam peperangan untuk menggempur musuh atau untuk mengelakkan serangan-serangan musuh yang datang secara mendadak.

Dari uraian tersebut dapatlah dikatakan bahwa Sulaiman as hamba Allah yang saleh, taat beribadah, teliti dan cermat merencanakan perjuangan untuk menegakkan kalimat Tauhid serta mempunyai kesadaran yang tinggi dalam saat-saat menentukan mana yang lebih penting dari yang penting.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ia memerintahkan agar kuda-kuda itu diperlihatkan kembali kepadanya untuk dikenali betul hal ihwalnya.
Kemudian ia mengusap kaki dan leher kuda sebagai bentuk ungkapan kasih-sayangnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ia berkata, “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”) yaitu kuda-kuda yang ditampilkan tadi kemudian mereka membawanya kepada Nabi Sulaiman (lalu ia membabat kuda-kuda itu) dengan pedangnya (pada kaki-kakinya) lafal As-Suuq ini adalah bentuk jamak dari lafal Saaqun (dan pada lehernya) artinya Nabi Sulaiman menyembelih semua kuda-kuda itu kemudian memotong kakinya sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala Karena kuda-kuda itu ternyata membuatnya lalai dari salat, kemudian ia menyedekahkan daging-dagingnya.

Akhirnya Allah menggantikan kudanya dengan kendaraan yang jauh lebih baik dan lebih cepat larinya, yaitu kendaraan angin, angin dapat diperintah untuk bertiup dengan membawanya ke mana saja yang ia kehendaki.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kembalikan kepadaku kuda-kuda yang telah aku lihat tadi. Maka ia pun dikembalikan kepadanya, lantas dia mulai menebas kaki-kaki dan leher-lehernya dengan pedang untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena ia menjadi sebab dirinya melalaikan shalat. Mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih kuda disyariatkan dalam ajaran Sulaiman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di antara mereka ada pula yang berpendapat bahwa hal tersebut diperbolehkan di saat perang sedang berkecamuk, beradu senjata dan kontak tubuh dengan musuh sehingga salat tidak mungkin dapat dilaksanakan, dan rukuk tidak dapat dilakukan, serta sujud pun tidak dapat.
Hal ini telah dilakukan oleh para sahabat saat mereka menaklukkan Tustur.
Riwayat ini dinukil dari Mak-hul, dan Al-Auaz’i serta selain keduanya.
Akan tetapi, pendapat yeng pertamalah yang lebih mendekati kebenaran, karena dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:

(Ia Berkata), “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku!” Lalu ia menebas kaki dan leher kuda itu.
(Q.S. Shaad [38]: 33)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Tidak,” Sulaiman berkata, “Demi Allah, janganlah engkau melalaikanku dari menyembah Tuhanku, sekarang engkau harus menerima pembalasannya?”
Kemudian Sulaiman memerintahkan agar kuda-kuda itu ditangkap, lalu disembelih.

Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah.
As-Saddi mengatakan bahwa Sulaiman menebas batang leher dan pergelangan kaki kuda-kuda itu.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa Nabi Sulaiman mengusap-usap leher dan kaki kuda itu.

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan, tidaklah mungkin Sulaiman ‘alaihis salam menyiksa hewan dengan menyembelihnya, yang berarti dia telah memusnahkan sebagian dari hartanya tanpa penyebab.
Hanya karena alasan harta tersebut dia lalai dari salatnya karena keasyikan memandangnya, sedangkan kuda itu tidak mempunyai dosa.

Pendapa yang diperkuat oleh Ibnu Jarir ini masih perlu diteliti kebenarannya, karena barangkali hal seperti itu diperbolehkan menurut syariat mereka, terlebih lagi jika marah yang diakibatkannya adalah demi karena Allah subhanahu wa ta’ala disebabkan kuda tersebut menjadi penyebab dia lupa dari salatnya hingga waktu salat habis.
Oleh karena itulah setelah Nabi Suliman ‘alaihis salam membebaskan dirinya dari kuda-kuda itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya dengan kendaraan yang jauh lebih baik daripada kuda-kuda itu.
Yaitu angin yang dapat membawanya pergi ke mana pun yang dia perintahkan, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan satu bulan, dan perjalanannya di waktu petang hari sama dengan perjalanan satu bulan.
Hal ini jelas jauh lebih baik dari kuda.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah, dari Humaid ibnu Hilal, dari Abu Qatadah dan Abud Dahma yang keduanya sering melakukan perjalanan ke Baitullah.
Keduanya mengatakan bahwa kami mendatangi seorang lelaki Badui, lalu lelaki Badui itu berkata kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ pernah memegang tangannya, kemudian mengajarinya apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya.
Lalu beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya kamu tidak sekali-kali meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala akan memberimu (sebagai gantinya) hal yang lebih baik dari itu.


Kata Pilihan Dalam Surah Shaad (38) Ayat 33

A’NAAQ
أَعْنَاق

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya ialah ‘unq atau ‘unuq yang berarti penyambung antara kepala dan badan (leher). ‘Unuqun ilayk artinya cenderung kepadamu untuk menunggu dan mendengar. ‘Unuq ad dahr artinya zaman dahulu.

Apabila lafaz ini disandarkan kepada sesuatu, artinya adalah permulaan sesuatu itu.

Jika dikaitkan dengan pohon, maknanya ialah apa yang ada di antara batang dan akarnya. Dzu ‘unuq juga sebagai nama bagi kuda Al Miqdad bin Al Aswad, atau gelaran bagi Amir bin Al Mulawwih, atau gelaran Khuwailid bin Hilal Al Bajali.

Lafaz ‘unuq ini kadang digunakan dalam bentuk mudzakkar (maskulin), dan kadang­ dalam bentuk mu’annats (feminin).

Lafaz dalam bentuk jamak ini (a’naaq) disebut tujuh kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Anfaal (8), ayat 12;
-Ar Rad (13) ayat 5;
-Asy Syu’araa’ (26) ayat 4;
-Saba (34) ayat 33;
-Yaa Siin (36) ayat 8;
-Shad (38) ayat 33;
-Al Mu’min (40) ayat 71

Lafaz a’naaq mengandung beberapa makna, ia dapat memberi makna kelompok manusia, para pemimpin, bahagian dari kebaikan. Contoh bahagian kebaikan dalam hadis disebutkan:

“Orang yang mengumandangkan azan adalah orang yang paling panjang leher mereka.”

Artinya, mereka banyak amalannya juga dikaitkan dengan pembesar dan pemimpin, karena mereka diberikan sifat leher yang panjang.

Asy Syawkani berpendapat, makna kata a’naaq yang terdapat dalam surah Al­ Anfaal adalah diri atau jiwa, karena ia berkaitan dengan pukulan sebagaimana yang dijelaskan Ibn Katsir ketika menafsirkan surah As­y Syu’araa’ ayat 4,

“Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.”

Namun, At Tabari berkata yang dimaksudkan dengan a’naaq dalam surah Al Anfaal, ayat 12 ialah leher, atau kepala karena sebelumnya terdapat lafaz fauq (di atas). Beliau menyimpulkan maknanya kepala atau leher karena Nabi Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya memukul kepala orang musyrik, leher, tangan dan kaki mereka pada waktu Perang Badar. Sedangkan pada surah lain, ia bermakna leher, karena lafaz a’naaq itu dikaitkan dengan al aghlaal yaitu belenggu. Sehubungan dengan itu, Ibn Katsir menukilkan dari Al Kufi satu riwayat dari Ibn Abbas yaitu makna ayat 29 dari surah Al Israa’:

(Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu di leher, yaitu tangan-tangan mereka terikat dan terbelenggu di leher mereka, sehingga tidak dapat memberikan kebaikan.”

Kesimpulannya, makna kata a’naaq pada ketujuh ayat di atas mengandung dua makna.

Makna pertama ialah leher, yaitu yang terdapat pada surah Ar Ra’d, Saba, Sad dan Al Mu’min.

Makna kedua ialah diri atau jiwa, seperti yang terdapat dalam surah Al Anfaal dan Asy Syu’araa,

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:6-7

Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 33 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 33 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 33 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:33
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.4
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta