QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 28 [QS. 38:28]

اَمۡ نَجۡعَلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ کَالۡمُفۡسِدِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ۫ اَمۡ نَجۡعَلُ الۡمُتَّقِیۡنَ کَالۡفُجَّارِ
Am naj’alul-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati kal mufsidiina fiil ardhi am naj’alul muttaqiina kal fujjaar(i);

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?
Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?
―QS. 38:28
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Segala sesuatu milik Allah
38:28, 38 28, 38-28, Shaad 28, Shaad 28, Shad 28, Sad 28

Tafsir surah Shaad (38) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa di antara kebijaksanaan Allah ialah tidak menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan, dengan orang-orang yang terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, apabila menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsunya.

Dimaksud dengan orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah orang-orang yang meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa, Dia tidak memerlukan sekutu dalam melaksanakan kekuasaan dan kehendak-Nya.
Atas keyakinan itulah mereka menyadari dan melaksanakan apa yang seharusnya diperbuat terhadap sesamanya dan kepada Penciptanya.
Dan dengan keyakinan itu pula mereka menaati perintah Khaliknya yang disampaikan melalui Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Mereka selalu berusaha keras memelihara kebersihan jiwanya dari noda-noda yang mengotorinya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
Dan Kami keluarkan baginya pada Hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.
“Bacalah kitabmu”,
cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.

(Q.S. Al Israa [17]: 13-14)

Sedang yang dimaksud dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ialah orang yang tidak mau mengikuti kebenaran dan memperturutkan hawa nafsunya.
Mereka ini tidak mau mengakui Keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari berbangkit dan hari pembalasan.
Karena itulah mereka jauh dari rahmat Allah, berani menerjang larangan-larangan-Nya.
Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari kuburnya dan akan dihimpun di padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Banyak muka pada hari itu berseri-seri.
Tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu dan ditutup lagi oleh kegelapan.
Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

(Q.S. Abasa: 34-42)

Apabila ada di antara hamba Allah yang diberi pahala karena amal baiknya di dunia, dan ada pula yang disiksa akibat amal buruknya, maka hal itulah yang sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan akal, agar dengan akal itu mereka dapat mengetahui betapa luasnya nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka.
Tetapi mereka tidak mau mempergunakan akal itu sebaik-baiknya, sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat itu, bahkan mereka mengingkarinya.
Juga Allah telah mengutus Rasul-Nya untuk membimbing mereka kepada jalan yang benar.
Petunjuk dan bimbingan Rasul itu bukan saja tidak mereka hiraukan, tetapi malah didustakan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apakah sesuai dengan hikmah (kebijakan) dan keadilan Kami, menganggap sama antara orang-orang Mukmin yang berbuat baik dan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.
Dan apakah patut bagi Kami menganggap sama antara orang-orang yang takut akan siksa Kami dan orang-orang yang keluar dari ketentuan hukum Kami.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?
Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?) Ayat ini diturunkan sewaktu orang-orang kafir Mekah berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sesungguhnya kami kelak di hari kemudian akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kalian.” Lafal Am di sini untuk menunjukkan makna sanggahan, yakni jelas tidak sama.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah Kami menjadikan orang-orang beriman dan beramal shalih seperti orang-orang yang membuat kerusakan di bumi, atau Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa lagi beriman seperti para pelaku dosa yang kafir? Penyamaan ini tidak layak di sisi Allah, karena Allah akan membalas orang-orang Mukmin yang bertakwa dan menghukum orang-orang yang merusak lagi sengsara.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah menjelaskan, bahwa termasuk keadilan dan hikmah-Nya Dia tidak menyamakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi?
Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?
(Q.S. Shaad [38]: 28)

Yakni Kami tidak akan melakukan hal seperti itu, mereka tidaklah sama di sisi Allah.
Dan apabila demikian, berarti pasti ada negeri lain yang di dalamnya orang yang taat diberi pahala dan orang yang durhaka mendapat siksaan.
Petunjuk ini menuntut akal yang sehat dan fitrah yang lurus untuk menyimpulkan bahwa adanya hari akhirat dan hari pembalasan merupakan suatu kepastian.
Karena sesungguhnya kita sering melihat orang yang zalim lagi melampaui batas makin bertambah harta, anak dan kenikmatannya, serta mati dalam keadaan demikian.
Sebaliknya kita sering melihat orang yang taat lagi teraniaya mati dalam keadaan sengsara dan miskin.
Maka sudah merupakan suatu kepastian hal tersebut menuntut kebijaksanaan Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha-adil yang tidak pernah aniaya barang sedikit pun untuk menegakkan keadilan dengan memenangkan si teraniaya atas orang yang menganiayanya.
Apabila hal ini tidak terjadi di dunia ini, berarti di sana ada negeri lain yang padanya dilakukan pembalasan dan keadilan ini, yaitu negeri akhirat ‘ Mengingat Al-Qur’an itu memberi petunjuk ke tujuan-tujuan yang benar dan kesimpulan-kesimpulan rasio yang jelas


Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 28 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 28 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 28 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:28
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.5
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending







Pembahasan ▪ tafsir surah saad 28

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim