QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 25 [QS. 38:25]

فَغَفَرۡنَا لَہٗ ذٰلِکَ ؕ وَ اِنَّ لَہٗ عِنۡدَنَا لَزُلۡفٰی وَ حُسۡنَ مَاٰبٍ
Faghafarnaa lahu dzalika wa-inna lahu ‘indanaa lazulfa wahusna maaabin;

Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu.
Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.
―QS. 38:25
Topik ▪ Taubat ▪ Keutamaan taubat ▪ Tauhid Rububiyyah
38:25, 38 25, 38-25, Shaad 25, Shaad 25, Shad 25, Sad 25

Tafsir surah Shaad (38) ayat 25

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 25. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dia telah memberikan ampun kepada Daud atas kesalahan yang ia sadari.
Allah subhanahu wa ta’ala menilai bahwa kesadaran yang tinggi terhadap peristiwa yang ia hayati, dan ketajaman nuraninya terhadap apa yang tergetuk dalam hatinya serta taatnya kepada Allah, sebagai tanda bahwa ia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Allah.
Dan hamba Allah seperti dialah yang berhak mendapat tempat kembali yang baik, yaitu surga na’im yang penuh dengan kenikmatan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami lalu mengampuni sikapnya yang tergesa-gesa dalam memberikan keputusan itu.
Sesungguhnya di sisi Kami ia mempunyai kedudukan yang dekat dan tempat kembali yang baik.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu.

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami) yakni dengan ditambahkan kebaikan baginya di dunia (dan tempat kembali yang baik) kelak di akhirat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Kami pun mengampuninya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang dekat kepada Kami, Kami menyiapkan untuknya di akhirat tempat kembali yang baik.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu.
(Q.S. Shaad [38]: 25)

Yakni semua amal perbuatan yang telah dilakukannya.
Hal ini termasuk ke dalam pengertian kaidah yang mengatakan:

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan orang-orang yang berbakti itu merupakan keburukan-keburukan orang-orang yang mendekatkan dirinya (Kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

Para imam berselisih pendapat tentang ayat sajdah yang terdapat di dalam surat Shad ini, apakah ia termasuk ayat sajdah yang dianjurkan bagi pembacanya melakukan sujud tilawah?
Ada dua pendapat mengenainya.

Menurut qaul jadid dari mazhab Imam Syafii r.a., ia bukan termasuk ayat sajdah yang dianjurkan sujud tilawah padanya, melainkan hanyalah sujud syukur.
Sebagai dalilnya ialah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Aliyyah, dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa ayat sajdah di dalam surat Shad bukan termasuk ‘azaimis sujud (sujud tilawah), tetapi ia pernah melihat Rasulullah ﷺ melakukan sujud padanya.

Hadis yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya melalui riwayat Ayyub dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Nasai telah mengatakan pula di dalam kitab tafsirnya sehubungan dengan makna ayat ini:

telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnul Hasan (yakni Al-Miqsami), telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Muhammad, dari Umar ibnu Zar, dari ayahnya, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ melakukan sujud dalam surat Shad, lalu beliau ﷺ bersabda: Daud ‘alaihis salam telah melakukan sujud padanya sebagai ungkapan tobat, dan kami melakukan sujud padanya sebagai ungkapan rasa syukur (sujud syukur).

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Nasai secara tunggal, dan semua perawinya berpredikat siqah.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepadaku guru kami (yaitu Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Mazi) yang dibacakan hadis ini kepadanya, sedangkan aku mendengarkannya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Madraji, telah menceritakan kepada kami Zahir ibnu Abu Tahir As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Zahir ibnu Abu Tahir Asy-Syahhami, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’d Al-Kanjadarwazi, telah menceritakan kepada kami Al-Hakim Abu Ahmad Muhammad ibnu Muhammad Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas As-Siraj, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid ibnu Khunais, dari Al-Hasan ibnu Muhammad ibnu Ubaidillah ibnu Abu Yazid yang mengatakan bahwa Ibnu Juraij pernah berkata kepadanya, “Hai Hasan, kakekmu (yakni Ubaidillah ibnu Abu Yazid) telah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bermimpi seakan-akan aku sedang salat di belakang sebuah pohon, lalu aku membaca surat yang di dalamnya ada ayat sajdah dan aku melakukan sujud, maka pohon itu ikut sujud bersama denganku, dan aku mendengarnya mengucapkan doa berikut dalam sujudnya, yaitu:

“Ya Allah, catatkanlah suatu pahala bagiku di sisi-Mu, dan jadikanlah sujud ini sebagai simpanan (pahala) di sisi-Mu, dan hapuskanlah karenanya suatu dosa dariku, dan terimalah sujud ini sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Daud.”

Ibnu Abbas r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia melihat Nabi ﷺ berdiri dan membaca surat yang ada ayat sajdahnya, kemudian beliau melakukan sujud, dan ia mendengarnya mengucapkan doa dalam sujudnya itu seperti doa yang dikisahkan oleh lelaki itu tentang apa yang dibaca oleh pohon tersebut.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini dari Qutaibah, sedangkan Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Khallad.
Keduanya menerima hadis ini dari Muhammad ibnu Yazid, dari Khunais dengan lafaz yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui jalur ini.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid At-Tayalisi, dari Al-Awwam yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang ayat sajdah yang ada di dalam surat Shad, maka Mujahid menjawab bahwa ia pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas r.a.
(saat ia melakukan sijud), “Mengapa engkau bersujud?”
Ibnu Abbas menjawab, bahwa apakah engkau tidak pernah membaca firman-Nya: dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh), yaitu Daud dan Sulaiman.
(Q.S. Al-An’am [6]: 84) Dan firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.
(Q.S. Al-An’am [6]: 90) Dan Daud ‘alaihis salam termasuk salah seorang yang Nabi kalian ﷺ telah memerintahkan kepada kita untuk mengikuti jejaknya.
Nabi Daud a.s telah melakukan sujud pada surat Shad, maka Rasulullah ﷺ pun melakukan sujud kepadanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, telah menceritakan kepada kami Humaid, telah menceritakan kepada kami Bakar ibnu Abdullah Al-Muzani, bahwa Abu Sa’id Al-Khudri pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bermimpi menulis surat Shad.
Dan ketikan tulisannya sampai pada ayat sajdah yang ada padanya, maka ia melihat tempat tinta pena dan segala sesuatu yang ada di hadapannya terbalik bersujud.
Lalu ia menceritakan mimpinya itu kepada Nabi ﷺ.
maka beliau ﷺ sesudah mendengar kisah itu selalu melakukan sujud bila membacanya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (tunggal).

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Sa’id ibnu Abu Hilal dari Iyad ibnu Abdullah ibnu Sa’d ibnu Abu Sarh, dari Abu Sa’id r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca surat Shad di atas mimbarnya.
Ketika bacaan beliau sampai pada ayat sajdah, beliau turun dari mimbarnya dan sujud.
Maka orang-orang pun ikut sujud bersamanya.
Pada hari yang lain, beliau ﷺ membacanya.
Dan ketika sampai pada ayat sajdah.
orang-orang bersiap-siap untuk melakukan sujud.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya sujud ini merupakan ungkapan tobat seorang nabi, tetapi aku melihat kalian bersiap-siap melakukannya.
Maka beliau ﷺ turun (dari mimbarnya) dan sujud.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid, dan sanadnya dengan syarat ada di dalam kitab sahih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ}

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.
(Q.S. Shaad [38]: 25)

Yakni sesungguhnya Daud ‘alaihis salam kelak di hari kiamat mendapat kedudukan yang dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan tempat kembali yang baik, yaitu derajat yang tinggi di surga berkat tobatnya dan keadilannya yang sempurna dalam kerajaannya.
Seperti yang disebutkan di dalam kitab sahih:

“الْمُقْسِطُونَ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يُقْسِطُونَ فِي أَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا”

Orang-orang yang adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya (kelak di hari kiamat) berada di sebelah kanan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan yang ada di hadapan-Nya itulah sebelah kanan tempat orang-orang yang berlaku adil terhadap keluarganya dan terhadap kepengurusan yang diserahkan (dipercayakan) kepada mereka.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam.
telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Atiyyah, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya manusia yang paling disukai oleh Allah di hari kiamat nanti dan yang paling dekat kedudukannya dengan Dia adalah pemimpin yang adil.
Dan sesungguhnya manusia yang paling dimurkai Allah kelak di hari kiamat dan paling keras azabnya adalah pemimpin yang zalim.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Fudail ibnu Marzuq Al-Agar, dari Atiyyah dengan sanad yang sama, Imam Turmuzi mengatakan bahwa ia tidak mengenal hadis ini dalam keadaan marfu’ kecuali melalui jalur ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ziad, telah menceritakan kepada kami Sayyar.
telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar Malik ibnu Dinar mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.
(Q.S. Shaad [38]: 25 )

Bahwa kelak di hari kiamat Daud ‘alaihis salam ditempatkan di kaki Arasy (tiangnya).
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Pujilah Aku pada hari ini dengan suaramu yang indah lagi merdu itu yang biasa engkau gunakan untuk memuji-Ku selama di dunia!” Daud menjawab, “Bagaimanakah caranya, sedangkan Engkau telah mencabutnya?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku pada hari ini mengembalikannya kepadamu.”

Malik ibnu Dinar melanjutkan, bahwa lalu Daud ‘alaihis salam mengumandang­kan suaranya yang membuat semua penduduk surga lupa akan kenikmatan yang sedang dialaminya (karena mendengar kemerduan suara Daud a.s).


Kata Pilihan Dalam Surah Shaad (38) Ayat 25

ZULFAA
زُلْفَىٰٓ

Ism mashdardari akar lafaz az zalf, dan ia adalah sifat seperti at taqwa dan al khislah.

Az Zulfa mengandung makna al qurbaa yaitu dekat atau mendekatkan, kedudukan, posisi, taman dan sebagainya.

Disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Saba’ (34), ayat 37;
-Shad (38), ayat 25, 40;
-Az Zumar (39), ayat 3.

Lafaz az zulfaa di dalam Al Qur’an megandung beberapa makna yaitu,

1. Dekat atau mendekatkan, dan kedudukan seperti yang terdapat dalam surah Saba’ dan surah Shad ayat 25 dan 40.
Allah berfirman dalam surah Saba’:

وَمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰٓ

Ibn Qutaibah memberikan makna lafaz ini dengan al qurba atau dekat. Begitu juga dengan pendapat Mujahid.

An Nasafi berkata,
tuqarribukum qurbatan atau seperti ayat wallah anbatakum minal ardh nabaatan

Al Baidawi menafsirkannya sebagai “kumpulan harta kamu dan anak-anak kamu, bukan sesuatu yang mendekatkan kamu di sisi Kami atau menjadikan kamu benar-benar dekat ke sisi Kami.”
Allah berfirman dalam surah Shad,

وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلْفَىٰ

At Tabari menyatakan maknanya, sesungguhnya baginya di sisi Kami (kedudukan) yang sangat dekat dari kami pada hari kiamat.

Muhammad bin Kaab dan Muhammad bin Qays menyatakan, makna zulfaa adalah (kedudukan yang dekat) setelah mendapat maghfirah (ampunan), dan demi Allah, sesungguhnya orang pertama yang minum al kas (gelas) pada hari kiamat adalah Nabi Daud.

Mujahid dari Abdullah bin Umar, az zulfaa bermakna ad dunuww (dekat) dari Allah pada hari kiamat.

2. Syafaat seperti yang terdapat dalam surah Az Zumar.
Allah berfirman,

إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ

As Syaukani berkata,
makna zulfaa dalah asy syafaa’ah (syafaat) seperti yang diceritakan Al Wahidi dari ahli tafsir.

Qatadah berkata,
sekiranya dikatakan kepada mereka dari Tuhan mereka dan Pencipta mereka, “Siapa yang mencipta langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit?” Mereka berkata,
“Allah” Lalu dikatakan kepada mereka, ”Apa makna ibadah kamu pada berhala?” Mereka berkata,
“Untuk mendekatkan kami kepada Allah dan memberikan syafa’at kepada kami di sisinya,”

Qatadah, As Suddi, Malik dari Zaid bin Aslam dan Ibn Zaid menyatakan, maknanya untuk memberikan syafa’at kepada kami dan mendekatkan kami di sisinya dengan kedudukan yang dekat.

Kesimpulannya, makna umum bagi lafaz zulfaa adalah perantara bagi mendekatkan diri dan juga bermakna syafa’at.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:273-274

Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 25 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 25 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 25 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:25
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.8
Ratingmu: 4.4 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim