QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 12 [QS. 38:12]

کَذَّبَتۡ قَبۡلَہُمۡ قَوۡمُ نُوۡحٍ وَّ عَادٌ وَّ فِرۡعَوۡنُ ذُو الۡاَوۡتَادِ
Kadz-dzabat qablahum qaumu nuuhin wa’aadun wafir’aunu dzuul autaad(i);

Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka itu kaum Nuh, ‘Aad, Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak,
―QS. 38:12
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
38:12, 38 12, 38-12, Shaad 12, Shaad 12, Shad 12, Sad 12

Tafsir surah Shaad (38) ayat 12

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Shaad (38) : 12. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam kedua ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan enam kaum yang mendustakan Rasul-rasul Allah, serta akibat yang mereka derita, dengan maksud agar menjadi pelajaran bagi kaum musyrik Quraisy, sehingga mereka terlepas dari kesesatan, dan mau menerima tuntunan hidayah.

Pertama:
Kaum Nuh yang menuduh Nabi Nuh as telah memberikan nasihat-nasihat dan peringatan yang dibuat-buat, oleh karena itu mereka memperolok-olokkannya, bahkan mengatakannya gila.
Meskipun Nabi Nuh telah berulang kali menyeru kepada mereka dengan lemah lembut agar mereka beragama tauhid tetapi tantangan mereka tidak berkurang juga, bahkan bertambah-tambah, akhirnya sampailah Nabi Nuh pada keputusan untuk berlindung dan berdoa kepada Allah:

Firman Allah:

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan,: seorangpun di antara orang-orang kafir itu linggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir”.

(Q.S. Nuh [71]: 26-27)

Kemudian setelah kaum Nuh itu tetap juga mendustakan seruan Nuh, dan tenggelam dalam kesesatan, Allah subhanahu wa ta’ala membinasakan mereka dengan perantaraan badai dan topan sebagai balasan dari kejahatan yang mereka lakukan.
Akan tetapi Nuh dan pengikut-pengikut setianya diselamatkan Allah dari siksaan itu.

Allah subhanahu wa ta’ala Berfirman:

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.
Dan Kami angkat Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari(Nuh).

(Q.S. Al-Qamar [54]: 11-14)

Kedua:
Kaum ‘Ad mendustakan seruan Hud yang mengajak mereka menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan sembahan-sembahan yang mereka persekutukan dengan Allah.
Akan tetapi kaum `Ad menentang seruan itu bahkan mereka memperolok-olokkan Hud dan mengatakannya gila.
Itulah sebabnya mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Adapun kaum `Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.
Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Ad pada waktu itu mati bergelimpangan, seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).
Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.

(Q.S. Al-Haqqah [69]: 6-8)

Ketiga:
Firaun yang mempunyai bala tentara yang besar.
Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Musa as kepada Firaun dan pengikut-pengikutnya agar menghentikan kesesatannya dan menyembah Allah Yang Maha Esa.
Kebenaran seruan Musa itu dikuatkan pula dengan mukjizat.
Akan tetapi Firaun dan pengikut-pengikutnya tetap berkeras hati menolak seruan Musa, bahkan bersikap sombong dan menghinanya dengan menyatakan bahwa dialah tuhan yang maha tinggi.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Musa untuk mengungsikan kaumnya agar selamat dari kekejaman Firaun.
Dengan itu selamatlah Musa dan kaum Bani Israil dari pengejaran Firaun sedang dia dengan bala tentaranya tenggelam ditelan gelombang laut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga ketika Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil; dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

(Q.S. Yunus [10]: 90-92)

Keempat:
Kaum Samud mendustakan seruan Nabi Saleh yang diutus untuk mereka.
Mereka telah berbuat kesalahan yang melampaui batas.
Mereka telah menyembelih unta yang disuruh untuk dipelihara.
Sebagai balasan atas kedurhakaan mereka, Allah telah menimpakan suara keras yang mengguntur, hingga mereka musnah seperti rumput-rumput kering.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kaum Samud-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu).
Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita?
Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila” Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita?
Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.
Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.
Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah.
Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu), tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran).
Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.
Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.

(Q.S. Al-Qamar [54]: 23-31)

Kelima:
Nabi Lut juga didustakan kaumnya.
Berulang kali dia memperingatkan kaumnya agar bertakwa kepada Allah dan meninggalkan perbuatan keji, melakukan homoseks, namun mereka tetap tidak menghiraukannya.
Maka Allah memerintahkan Lut dan keluarganya meninggalkan Sodom karena mereka akan diazab dengan siksa yang membinasakan mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kaum Lut-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya).
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka) kecuali keluarga Lut.
Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.

(Q.S. Al-Qamar [54]: 33-34)

Keenam:
Ashabul Aikah.
Mereka ini kaum Nabi Syuaib, yang juga mendustakan Nabinya.
Nabi Syuaib mengajak mereka agar menyembah Allah Yang Maha Esa, melarang mempersekutukan-Nya dan mengurangi timbangan.
Tetapi kaumnya bukan saja menolak seruan itu, bahkan mereka bersekutu menentangnya.
Itulah sebabnya maka mereka dibinasakan dengan kilat yang menyambar mereka dalam keadaan gelap gulita.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit jika kamu termasuk orang-orang yang benar.
Syuaib berkata: “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan, kemudian mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.

(Q.S. As syu’ara: 187-189)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebelum mereka, kaum Nuh, bangsa ‘Ad, Fir’aun yang memiliki gedung-gedung megah dan kuat bagai gunung, demikian pula Tsamud, kaum Nabi Luth dan kaum Nabi Syu’aib, pemilik pepohonan yang rindang, semuanya telah mendustakan para rasul.
Mereka bersekongkol melawan rasul-rasul mereka seperti halnya kaummu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Telah mendustakan pula sebelum mereka itu kaum Nuh) lafal Qaum dianggap sebagai muannats karena ditinjau dari segi maknanya (Ad dan Firaun yang mempunyai patok yang banyak) disebutkan bahwa Firaun selalu mematok atau memasung setiap orang yang menentangnya, lalu kedua kaki dan tangan orang yang menentangnya itu diikatkan pada empat patok, kemudian disiksa.

Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Dzul Autaad.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebelum mereka kaum Nuh, Ad. Fir’aun pemilik kekuatan yang besar,

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan perihal umat-umat terdahulu dan apa yang telah menimpa mereka berupa azab, pembalasan, dan siksaan, karena mereka menentang para rasul dan mendustakan nabi-nabi Allah.
Kisah-kisah mereka telah dijelaskan secara panjang lebar di berbagai tempat.


Kata Pilihan Dalam Surah Shaad (38) Ayat 12

AWTAAD
أَوْتَاد

Lafaz ini adalah jamak dari al-watiid, artinya apa yang ditanam di dalam bumi, dinding buku atau aur.

Awtaad al ardh artinya bukit-bukit.

Awtaad al-famm makna­nya gigi-gigi

Awtaad al-bilad maknanya para pemimpin.”

Awtaad as sufiyyah bermakna empat lelaki di mana kedudukan mereka di atas kedudukan empat tiang di bumi, Timur dan Barat, Utara dan Selatan.

Lafaz ini disebut tiga kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Shad (38), ayat 12,
-Al Fajr (89), ayat 10 dan
-An Nabaa (78), ayat 7.

Dalam surah Shad, awtaad dikaitkan dengan dzu dan Firaun.

Az Zamakhsyari berkata,
“Ia bermakna rumah yang kukuh yang berdiri dengan pasak-pasaknya,”

Asy Syawkani berkata,
“Para mufassir berpendapat, dzu al-awtaad bermakna dia (Firaun) mempunyai tiang-tiang untuk mendera manusia dengannya yaitu apabila dia marah kepada seseorang, tangan dan kakinya diikat sedangkan kepalanya di atas bumi.”

Ada pendapat yang mengatakan, ia bermakna kumpulan atau bala tentara yang ramai. Mereka menguatkan kerajaannya sebagaimana menguatkan tiang-tiang sehingga tidak dapat dimusnahkan dan dikalahkan.”

Ibn Qutaibah berkata,
“Ia bermakna mempunyai bangunan yang tersusun dan kukuh dan asal dari ini rumah-rumah mereka kukuh dengan pasak-pasaknya.”

Diriwayatkan dari As-Suddi dan Ar-Rabi’ bin Anas”, makna dzu al-awtaad ialah bagi mengazab dan menyiksa manusia dengan tiang-tiang, menyiksa mereka dengan empat tiang. Kemudian batu diangkat ke atas yang diikat dengan tali, lalu dilemparkan kepadanya, maka hancurlah ia.

At Tabari berkata,
“Makna lafaz awtaad dalam surah An Nabaa ialah gunung-gunung bagi bumi seperti pasak atau tiang, berfungsi menetapnya supaya tidak mengayun­ ayunkan manusia sebagaimana Allah menyatakan dalam surah An Nahl, ayat 15,

“Dan Dia menancaokan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu,..”

Ibn Katsir berkata,
“Maksudnya menjadikan bagi bumi tiang atau pasak yang mengukuhkannya, menetapkannya dan menguatkannya sehingga menjadi tenang dan tidak menggoyangkan siapa yang berada di atasnya'”

Kesimpulannya, lafaz awtaad mengandung dua makna.

Pertama, ia bermakna tiang-tiang kepunyaan Fir’aun bagi menyiksa manusia dengannya, atau rumah dan istana dengan bala tentara yang kuat.

Kedua, ia bermakna pasak untuk menstabilkan keadaan bumi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:88-89

Informasi Surah Shaad (ص)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.

Dinamai dengan “Shaad” karena surat ini dimulai dengan “Shaad” (selanjutnya lihat no 10).

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur’an, untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur’an ini adalah mu’jizat Nabi Muham­ mad s.a.
w.
yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad ﷺ yaitu bahwa dia mengetahui hal­ hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu
sumpah iblis untuk menye­satkan manusia seluruhnya kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas
Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.
kisah Ayyub a.s.

Lain-lain:

Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad ﷺ
bahwa Allah adalah Maha Esa
rahasia yang terdapat pada kejadian alam
pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan pengikut mereka di neraka
ni’mat·ni’mat yang dilimpahkan kepada penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka

Ayat-ayat dalam Surah Shaad (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Shaad (38) ayat 12 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Shaad (38) ayat 12 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Shaad (38) ayat 12 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Shaad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 38:12
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Shaad.

Surah Sad (Arab: ص , "Ṣad") adalah surah ke-38 dalam al-Qur'an.
Surah yang terdiri atas 88 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Qamar.
Dinamai dengan Sad karena surah ini dimulai dengan huruf Shaad.

Nomor Surah 38
Nama Surah Shaad
Arab ص
Arti Shaad
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 38
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 735
Jumlah huruf 3061
Surah sebelumnya Surah As-Saffat
Surah selanjutnya Surah Az-Zumar
4.7
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim