Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Saba

Saba (Kaum Saba’) surah 34 ayat 54


وَ حِیۡلَ بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ مَا یَشۡتَہُوۡنَ کَمَا فُعِلَ بِاَشۡیَاعِہِمۡ مِّنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا فِیۡ شَکٍّ مُّرِیۡبٍ
Wahiila bainahum wabaina maa yasytahuuna kamaa fu’ila biasyyaa’ihim min qablu innahum kaanuu fii syakkin muriibin;

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu.
Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.
―QS. 34:54
Topik ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
34:54, 34 54, 34-54, Saba 54, Saba 54, Saba’ 54
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Saba (34) : 54. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa keinginan mereka beriman kepada Allah, dan kembali ke dunia untuk beramal saleh, tidak mungkin dituruti tidak ada gunanya lagi dan tidak ada jalan untuk dikabulkan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka tatkala mereka melihat azab kami mereka berkata: "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah".
Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka, tatkala mereka telah melihat siksaan Kami

(Q.S.
Al Mu'min: 84-85)

Tindakan yang demikian itu, telah dilakukan pula kepada umat-umat yang telah melakukan hal yang serupa, yaitu mendustakan Rasul-rasul yang diutus kepada mereka, dan baru menyatakan beriman setelah mereka itu melihat siksa yang akan ditimpakan kepada mereka.
Dan mereka di waktu berada di dunia sangat ragu kepada apa yang disampaikan kepada mereka seperti hari berbangkit dan hari pembalasan yang menyebabkan mereka itu mengingkari segala apa yang dibawa oleh Rasul itu.

Saba (34) ayat 54 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Saba (34) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Saba (34) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagaimana nasib orang-orang sebelum mereka yang menyatakan keimanan setelah lewat masanya, keinginan mereka untuk memanfaatkan keimanan itu pun kini terhalang sudah.
Mereka semua adalah orang-orang yang meragukan kebenaran dan kini duduk sebagai pesakitan (terdakwa).

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini) yakni ingin beriman, maksudnya iman mereka tidak diterima lagi, karena waktunya sudah habis (sebagaimana dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka) yakni golongan-golongan mereka dalam hal kekafiran (pada masa dahulu) sebelum mereka.
(Sesungguhnya mereka dahulu di dunia dalam keraguan yang mendalam) tentang hal-hal yang sekarang mereka imani, disebabkan sewaktu di dunia mereka tidak mau menganggap dalil-dalil yang menunjuk ke arahnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang kafir itu dihalangi dari apa yang mereka inginkan, yaitu taubat dan kembali ke dunia agar bisa beriman, sebagaimana Allah melakukan hal yang sama kepada orang-orang kafir seperti mereka dari umat-umat sebelumnya.
Sesungguhnya mereka di dunia dalam kebimbangan terhadap perkara para rasul, kebangkitan dan hisab, serta membuat keragu-raguan dan kegoncangan.
Oleh karena itu mereka tidak beriman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.
(Saba':54)

Al-Hasan Al-Basri Ad-Dahhak, dan lain-lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud ialah iman.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.
(Saba':54) Yakni tobat.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir rahimahullah.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.
(Saba':54) Yakni dari dunia ini berupa harta benda, perhiasan duniawi, dan keluarga (anak-anak).

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ar-Rabi, ibnu Anas r.a.
Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Bukhari dan Jamaah.

Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat tersebut, karena sesungguhnya adakalanya dihalangi antara mereka dengan apa yang diingini oleh mereka di dunia ini, juga antara mereka dengan apa yang dicari mereka di akhirat, mereka tidak mendapatkannya.

Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah asar yang garib lagi aneh sekali, ia mengetengahkannya secara panjang lebar seperti berikut:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Hajar Asy-Syami, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Mansur Al-Anbari, dari Ar-Ruqqi Ibnu Qattami, dari Sa'id ibnu Tarif, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.
(Saba':54), hingga akhir ayat.

Ibnu Abbas bercerita bahwa dahulu ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang banyak mempunyai harta berupa tanah yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya dari hasil perjuangannya di jalan Allah.
Lalu ia meninggal dunia, dan hartanya diwarisi oleh anak lelaki tunggalnya yang pendurhaka.
Dia menggunakan harta Allah untuk perbuatan-perbuatan yang durhaka.

Ketika saudara-saudara ayahnya menyaksikan dia berbuat demikian, maka mereka mendatanginya, lalu mencela apa yang dilakukannya.
Si anak merasa terganggu, lalu diam-diam ia menjual semua tanah hasil warisannya.

Kemudian pemuda itu (si anak tersebut) pergi dan datang ke sebuah mata air yang berlimpah airnya, maka ia melepaskan hewan ternaknya di tempat itu dan membangun sebuah gedung.
Di suatu hari ketika ia sedang duduk, tiba-tiba angin bertiup mengenduskan kepadanya bau seorang wanita yang sangat cantik lagi sangat harum baunya.

Wanita itu menemuinya dan bertanya kepadanya, "Wahai hamba Allah, siapakah Anda?"
Pemuda itu menjawab, "Saya adalah seorang Bani Israil." Wanita itu bertanya, "Apakah gedung dan harta ini kepunyaanmu?"
Pemuda menjawab, "Ya." Wanita bertanya, "Apakah engkau mempunyai istri?"
Pemuda menjawab, "Tidak." Wanita bertanya, "Bagaimana kamu hidup senang tanpa istri?"
Pemuda menjawab, "Memang itulah apa adanya tentang diriku."

Pemuda itu balik bertanya, "Apakah engkau mempunyai suami?"
Wanita itu menjawab, "Tidak." Pemuda itu bertanya, "Bolehkah jika aku mengambilmu sebagai istriku?"
Wanita menjawab, "Sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang tinggal sejauh perjalanan sehari dari tempatmu ini.
Untuk itu apabila esok tiba, ambillah bekal yang cukup untuk sehari, lalu datanglah kepadaku.
Dan jika engkau melihat hal-hal yang menakutkan dalam perjalananmu, janganlah sekali-kali kamu merasa takut."

Pada keesokan harinya pemuda itu membawa bekal sehari, lalu berangkat, hingga sampailah di sebuah gedung.
Ia mengetuk pintunya, lalu keluarlah seorang pemuda yang sangat tampan lagi sangat harum baunya menyambutnya seraya bertanya, "Siapakah Anda, hai hamba Allah?"
Pemuda itu menjawab, "Saya adalah seorang Israil." Penjaga pintu bertanya, "Apakah keperluanmu datang ke sini?"
Pemuda itu menjawab, "Pemilik gedung ini telah mengundangku untuk menemuinya." Penjaga pintu berkata, "Kamu benar."

Penjaga pintu bertanya, "Apakah di perjalanan kamu melihat hal-hal yang menakutkan?"
Pemuda ini menjawab, "Benar, seandainya tidak ada nasihat dari dia yang mengatakan agar aku jangan takut, tentulah aku akan ketakutan melihatnya." Penjaga pintu bertanya, "Apa sajakah yang kamu lihat?"

Si pemuda menjawab, "Saya berangkat.
Dan ketika sampai di jalan yang terbuka, tiba-tiba saya bersua dengan seekor anjing betina yang mengangakan mulutnya.
Maka saya terkejut, lalu melarikan diri.
Tetapi tiba-tiba anjing betina itu telah berada di hadapanku dan aku berada di belakangnya.
Dan tiba-tiba anak-anaknya yang masih ada di dalam perutnya menggonggong." Penjaga pintu itu berkata kepadanya menjelaskan, "Sebenarnya tidak seperti yang kamu lihat, itu adalah gambaran tentang apa yang akan terjadi di akhir zaman.
Seorang pemuda duduk di tempat duduk seorang syekh dalam suatu majelis, dan ia dengan bicaranya membuat mereka senang."

Si pemuda melanjutkan ceritanya, bahwa ia melanjutkan per­jalanannya.
Ketika sampai di jalan yang lebar, tiba-tiba ia bersua dengan seratus ekor kambing yang besar-besar teteknya, dan tiba-tiba terdapat anak kambing yang sedang menyusu.
Apabila anak kambing itu telah menyusu kepada semua kambing betina tersebut hingga tiada air susu lagi yang tersisa, maka ia membukakan mulutnya mencari tambahan menyusu.
Penjaga pintu itu berkata, "Pada hakikatnya tidaklah seperti yang kamu lihat.
Itu adalah tamsil yang menggambarkan keadaan nanti di akhir zaman, akan ada raja yang menghimpun semua orang yang pendiam.
Setelah ia menduga bahwa tiada sesuatu pun yang tersisa, maka ia membukakan mulutnya mencari tambahan lagi."

Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di suatu jalan yang lebar.
Tiba-tiba ia menjumpai pohon-pohon yang salah satunya membuat ia tertarik karena warnanya yang hijau segar, lalu ia hendak memetiknya, Tiba-tiba ada pohon lain yang berseru kepadanya, "Hai hamba Allah, ambillah dariku," sehingga semua pohon menyeru demikian kepadanya untuk mengambil darinya.
Penjaga pintu itu menjawab, "Pada hakikatnya tidaklah seperti yang kamu saksikan.
Itu merupakan gambaran di akhir zaman, yaitu kaum lelaki berkurang, sedangkan kaum wanita banyak, sehingga seorang lelaki melamar seorang wanita, tetapi ada sepuluh orang atau dua puluh orang wanita yang menyerunya untuk kawin dengan mereka."

Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya.
Ketika sampai di jalan yang lebar, tiba-tiba bersua dengan seorang lelaki yang berdiri di pinggir sebuah sumur menimbakan air buat orang-orang.
Dan apabila orang-orang telah bubar darinya, maka ia menuangkan air yang ada dalam gentongnya sehingga tiada setetes air pun yang tersisa pada gentongnya.
Penjaga pintu itu berkata, "Pada hakikatnya tidaklah seperti yang kamu lihat.
Itu merupakan gambaran yang akan terjadi di akhir zaman.
Seorang pendongeng memberikan pelajaran ilmu kepada orang-orang lain, kemudian ia sendiri bersikap berbeda dengan mereka dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat."

Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya.
Ketika sampai di jalan yang lebar, tiba-tiba ia menjumpai sekumpulan kambing betina, dan tiba-tiba ada suatu kaum yang mengambil kakinya, ada seorang lelaki yang mengambil tanduknya, ada seorang lelaki yang mengambil ekornya, ada pula yang menungganginya.
Dan tiba-tiba ada seorang lelaki yang memerah air susunya.
Penjaga pintu itu berkata, "Adapun kambing betina itu merupakan tamsil dari dunia, orang-orang yang mengambil kakinya adalah mereka yang taraf hidupnya rendah, dan mereka yang memegang kedua tanduknya adalah orang yang dalam kehidupannya mengalami kesempitan.
Adapun orang yang memegang ekornya menggambarkan bahwa dunia berpaling darinya.
Dan orang yang menungganginya adalah orang yang meninggalkan duniawi, sedangkan orang yang memerahnya adalah orang yang mengambil dunia itu."

Pemuda itu melanjutkan, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan yang lebar.
Tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sedang menimba air di suatu sumur, setiap kali dia mengeluarkan timbanya dari dalam sumur, maka ia tumpahkan lagi airnya ke dalam sumur itu.
Penjaga pintu itu berkata, bahwa itu merupakan gambaran seseorang yang Allah menolak amal salehnya dan tidak menerimanya.

Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan yang lebar.
Tiba-tiba ia menjumpai seorang laki-laki yang sedang menyemaikan benihnya, lalu ia langsung menuai hasilnya yang berupa gandum yang bermutu tinggi lagi baik, Penjaga pintu itu berkata, "Itu merupakan gambaran tentang seorang laki-laki yang amal salehnya diterima dan dikembangkan pahalanya baginya."

Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan yang lebar.
Tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sedang terlentang, lalu lelaki itu berkata, "Hai hamba Allah, mendekatlah kepadaku, peganglah tanganku, dan dudukkanlah aku.
Demi Allah, aku belum pernah duduk sejak diciptakan oleh Allah." Maka aku (pemuda itu) memegang tangannya dan ia pun berdiri, lalu lari hingga hilang dari pandangan mataku.

Penjaga pintu itu berkata kepadanya, "Ini adalah usia orang yang dijauhkan yang telah habis.
Aku adalah malaikat maut, dan aku jualah wanita yang datang kepadamu itu.
Allah telah memerintahkan kepadaku agar mencabut nyawa orang yang dijauhkan di tempat ini, kemudian aku masukkan dia ke dalam neraka Jahannam."

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa berkenaan dengan kisah yang semisal ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini.
(Saba':54)

Asar ini garib, dan mengenai kesahihannya masih sangat diragukan.

Barangkali yang dimaksud oleh Ibnu Abbas sehubungan dengan kisah ini ialah bahwa orang-orang kafir itu semuanya bila dimatikan, arwah mereka dalam keadaan bergantung kepada kehidupan dunia (yaitu mencintainya).
Sebagaimana yang terjadi dengan pemuda yang teperdaya ini lagi terfitnah dengan kekayaannya.
Dia pergi untuk mencari apa yang didambakannya, tetapi tiba-tiba malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya sekonyong-konyong, sehingga terhalanglah dia dari apa yang diingininya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu.
(Saba':54)

Yakni sebagaimana yang telah dilakukan terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, ketika azab Allah datang menimpa mereka, maka mereka berangan-angan seandainya saja mereka dahulu beriman.
Tetapi nasi telah menjadi bubur, iman mereka saat itu tidak dapat diterima.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami mempersekutukan(nya) dengan Allah.” Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksaan Kami.
Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya.
Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.
(Al-Mu-min: 84-85)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.
(Saba':54)

Yakni mereka dahulu sewaktu di dunia selalu berada dalam keraguan dan kebimbangan, karena itulah iman mereka tidak diterima saat mereka menyaksikan azab Allah.

Qatadah pernah mengatakan, "Janganlah kamu ragu dan bimbang.
Karena sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan bimbang dan ragu, maka ia dibangkitkan dalam keadaan seperti waktu ia mati.
Dan barang siapa yang mati dalam keadaan yakin, maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan yakni pula.

Kata Pilihan Dalam Surah Saba (34) Ayat 54

ASY YAA'
أَشْيَاع

Lafaz asy ya'a adalah jamak bagi al-syi'ah yaitu kelompok dan golongan sebagaimana Allah menyatakan dalam surah Maryam ayat 69,

"Sesudah itu, sesungguhnya Kami akan mencabut dari tiap-tiap golongan orang yang sangat durhaka kepada Allah diantara mereka"

Syi'alir rajul bermakna pengikut dan penolongnya.

Al Kafawi berkata,
"Asy syi'ah adalah setiap golongan yang mempunyai satu perkara atau pendapat yang sebahagiannya mengikuti pendapat sebahagian lain dan ia biasanya digunakan pada perkara yang dicela."

Syi'ah adalah nama kumpulan yang menjadikan Ali bin Abi Talib dan keluarganya sebagai wali atau penguasa sehingga ia menjadi nama khusus bagi mereka, atau ia adalah kelompok yang besar dari orang Islam yang berhimpun atas kecintaan mereka kepada 'Ali dan keluarganya serta beranggapan mereka lebih berhak menjadi Imam atau Khalifah.

Lafaz asy ya' disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Saba' (34), ayat 54;
-Al Qamar (54), ayat 51.

Ibn Abi Najih meriwayatkan makna asy yaa' dalam ayat itu ialah orang kafir."

Qatadah berkata,
"Ayat ini menjelaskan di dunia apabila ditentukan dan ditimpakan azab ke atas mereka (orang kafir), maka iman mereka tidak diterima lagi".

Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, di mana makna asy yaa' dalam surah Saba' ialah orang musyrik yang ditimpakan azab ke atas mereka disebabkan kekufuran mereka kepada Allah.

Ibn Qutaibah berkata,
"Maksud lafaz ini adalah orang yang sama seperti mereka dari umat-umat terdahulu sebagaimana penafsirannya yang terdapat dalam Tafsir Al Jalalain yaitu orang yang sama dengan mereka dalam kekufuran dari umat­umat terdahulu."

Kesimpulannya, makna asy yaa' ialah kelompok, golongan atau orang musyrik.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:81-82

Informasi Surah Saba (سبأ)
Surat Saba' terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesu­ dah surat Luqman.

Dinamakan Saba' karena di dalamnya terdapat kisah kaum Saba.
"Saba" adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah 'Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini.
Mereka mendiri­ kan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bemama "Bendungan Ma'rib",
sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan ni'matNya kepada mereka, serta mereka meng­ingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini Allah menimpakan kepada mereka azab berupa "sailul 'arim" (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib.
Setelah bendungan Ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Keimanan:

Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi
kebenar­an adanya hari berbangkit dan hari pembalasan
Nabi Muhammad ﷺ adalah pemberi peringatan
pada hari kiamat berhala-berhala itu tidak dapat memberi man­ fa'at sedikitpun
kalau seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri, dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
kisah kaum Saba'.

Lain-lain:

Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala
tuduh menuduh antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikutnya di hari kia­ mat
sikap orang-orang musryik di waktu rnendengar Al Qur 'an
rasul-rasul tidak meminta upah dalam melaksanakan da'wahnya
orang-orang musyrik mendo'a kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melaksanakan perintah dan men­ jauhi larangan Allah
orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu memusuhi Nabi.


Gambar Kutipan Surah Saba Ayat 54 *beta

Surah Saba Ayat 54



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Saba

Surah Saba' (bahasa Arab:سورة سبأ) adalah surah ke-34 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 54 ayat.
Dinamakan Saba' karena dalam surah terdapat kisah kaum Saba'.
Saba' adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba yang ibukotanya Ma'rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma'rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib.
Setelah bendungan ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Nomor Surah34
Nama SurahSaba
Arabسبأ
ArtiKaum Saba'
Nama lainDaud
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu58
JuzJuz 21 & 22
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat54
Jumlah kata887
Jumlah huruf3596
Surah sebelumnyaSurah Al-Ahzab
Surah selanjutnyaSurah Fatir
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending