Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Saba (Kaum Saba’) – surah 34 ayat 23 [QS. 34:23]

وَ لَا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَۃُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا لِمَنۡ اَذِنَ لَہٗ ؕ حَتّٰۤی اِذَا فُزِّعَ عَنۡ قُلُوۡبِہِمۡ قَالُوۡا مَاذَا ۙ قَالَ رَبُّکُمۡ ؕ قَالُوا الۡحَقَّ ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ الۡکَبِیۡرُ
Walaa tanfa’usy-syafaa’atu ‘indahu ilaa liman adzina lahu hatta idzaa fuzzi’a ‘an quluubihim qaaluuu maadzaa qaala rabbukum qaaluuul haqqa wahuwal ‘alii-yul kabiir(u);
Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu).
Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata,
“Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?”
Mereka menjawab,
“(Perkataan) yang benar,”
dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.
―QS. Saba [34]: 23

And intercession does not benefit with Him except for one whom He permits.
(And those wait) until, when terror is removed from their hearts, they will say (to one another),
"What has your Lord said?"
They will say,
"The truth."
And He is the Most High, the Grand.
― Chapter 34. Surah Saba [verse 23]

وَلَا dan tidak

And not
تَنفَعُ berguna

benefits
ٱلشَّفَٰعَةُ pertolongan

the intercession
عِندَهُۥٓ di sisi-Nya

with Him
إِلَّا kecuali

except
لِمَنْ bagi orang

for (one) whom
أَذِنَ Dia izinkan

He permits
لَهُۥ baginya

for him.
حَتَّىٰٓ sehingga

Until
إِذَا apabila

when
فُزِّعَ dihilangkan ketakutan

fear is removed
عَن dari

on
قُلُوبِهِمْ hati mereka

their hearts,
قَالُوا۟ mereka berkata

they will say,
مَاذَا apakah

"What is that –
قَالَ berkata/kata

your Lord has said?" *[meaning includes next or prev. word]
رَبُّكُمْ Tuhan kalian

your Lord has said?" *[meaning includes next or prev. word]
قَالُوا۟ mereka berkata (menjawab)

They will say,
ٱلْحَقَّ kebenaran

"The truth."
وَهُوَ dan Dia

And He
ٱلْعَلِىُّ Maha Tinggi

(is) the Most High,
ٱلْكَبِيرُ Maha Besar

the Most Great.

Tafsir

Alquran

Surah Saba
34:23

Tafsir QS. Saba (34) : 23. Oleh Kementrian Agama RI


Di akhirat berhala itu tidak dapat menolong mereka dari kesulitan.
Juga tidak mungkin memberi syafaat karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat, kecuali dengan izin Allah.

Apakah mungkin Allah akan mengizinkan berhalaberhala yang menjadi sebab bagi kesesatan hamba-Nya untuk memberi syafaat?
Syafaat tidak akan diberikan Allah kecuali kepada para nabi, malaikat, dan hamba-Nya yang dianggap berhak untuk diberi syafaat.
Firman Allah:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖ

Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.
(al-Baqarah [2]: 255)

وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى

Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai. (an-Najm [53]: 26)


Pada hari itu, hamba-hamba Allah menunggu dengan perasaan gelisah dan tidak sabar, siapakah di antara mereka yang akan diizinkan-Nya untuk memberi syafaat dan yang akan mendapat syafaat.

Ketika itu, mereka berdiam semuanya karena ketakutan telah hilang dari hati mereka dan Allah akan memberi ketetapan-Nya.
Mereka menunggu sambil berharap-harap dan bertanya-tanya antara sesama mereka apa yang difirmankan Tuhan.

Semua menjawab,
"Yang difirmankan Allah ialah perkataan yang benar yaitu syafaat-Nya akan diberikan kepada siapa yang diridai-Nya karena Dia Mahatinggi dan Mahabesar."
Pada waktu itu, sadarlah orang-orang kafir bahwa mereka tidak akan mendapat syafaat dan tahulah mereka nasib apa yang harus mereka alami.

Tafsir QS. Saba (34) : 23. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tidak seorang pun dapat menggunakan syafaat di sisi Allah kecuali orang yang benar-benar dipersiapkan untuk memberikan syafaat.
Sehingga, ketika rasa takut telah lenyap dari diri mereka karena izin Allah kepada mereka untuk mendapatkan syafaat, mereka saling bertanya dengan perasaan gembira,
"Apa kata Tuhan kalian?"
Dikatakan kepada mereka,
"Allah berkata benar.


Dia memberikan izin bagi orang yang dikehendaki-Nya.
Hanya Allah yang berhak merasa besar dan sombong.


Allah mengizinkan dan melarang siapa saja sesuai dengan kehendak-Nya."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Syafaat pemberi syafa’at di sisi Allah tidak akan berguna kecuali bagi siapa yang Allah izinkan.
Dan diantara keagungan dan kemuliaan Allah adalah bahwa bila Dia berfirman dengan wahyu lalu penduduk langit mendengar firman-Nya, maka mereka akan gemetar ketakutan, sehingga mereka seperti pingsan.


Sehingga pada saat ketakutan itu lenyap dari hati mereka, sebagian bertanya kepada sebagian yang lain:
Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?
Malaikat menjawab:
Dia berfirman yang haq, dan Dia Mahatinggi dengan Dzat-Nya, kekuasaan-Nya dan kedudukan-Nya, lagi Mahabesar atas segala sesuatu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah) Maha Tinggi Allah, ayat ini merupakan sanggahan terhadap perkataan mereka, bahwa sesungguhnya tuhan-tuhan sesembahan mereka akan dapat memberikan syafaat kepada mereka di sisi-Nya


(melainkan bagi orang yang telah diizinkan) dapat dibaca Adzina atau Udzina


(baginya) untuk memberi syafaat itu


(sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan) dapat dibaca Fazza’a atau Fuzzi’a


(dari hati mereka) karena ada orang yang diizinkan untuk memberi syafaat


(mereka berkata) sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain karena mendapat berita gembira itu,


("Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?") mengenai syafaat itu.


(Mereka menjawab)
"Perkataan


(yang benar") yakni Dia telah memberi izin kepadanya untuk memberi syafaat


(dan Dialah Yang Maha Tinggi) di atas semua makhluk-Nya dengan mengalahkan mereka semuanya


(lagi Maha Besar) yakni Maha Agung.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Selanjutnya disebutkan oleh firman-Nya:

Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.
(QS. Saba‘ [34]: 23)

Yakni karena kebesaran, kemuliaan, dan keagungan-Nya, tiada seorang pun yang berani memberikan syafaat di sisi-Nya terhadap sesuatu kecuali dengan seizin-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan seizin-Nya.
(QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya.).
(QS. An-Najm [53]: 26)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.
(QS. Al-Anbiyaa [21]: 28)

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah ﷺ, penghulu anak Adam dan pemberi syafaat yang terbesar di sisi Allah, bahwa ketika beliau berdiri di kedudukan yang terpuji untuk memohon syafaat buat semua makhluk, hendaknyalah Tuhan segera tiba menemui mereka guna memutuskan peradilan di antara mereka, lalu beliau menceritakan melalui sabdanya:

Maka aku bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Dia membiarkan diriku selama apa yang dikehendaki-Nya, sedangkan saya dalam keadaan bersujud.
Lalu Dia memujiku dengan pujian-pujian yang sekarang aku tidak dapat mengungkapkannya.
Kemudian Dia berfirman,
"Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan katakanlah engkau didengar, dan mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat, engkau diberi izin untuk memberi syafaat,
"
hingga akhir hadis.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan­mu?"
Mereka menjawab,
"(Perkataan) yang benar,"
(QS. Saba‘ [34]: 23)

Ayat ini menceritakan tentang kedudukan Yang Mahabesar lagi Maha tinggi bagi Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu apabila Dia berfirman, maka semua penduduk langit mendengar firman-Nya, lalu mereka bergetar karena ketakutan sehingga keadaan mereka sama dengan orang yang pingsan karena ketakutan yang sangat terhadap Kebesaran dan Keagungan Allah subhanahu wa ta’ala

Demikianlah menurut apa yang diutarakan oleh Ibnu Mas’ud r.a., Masruq r.a., dan lain-lainnya.

sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.
(QS. Saba‘ [34]: 23)

Yakni rasa takut yang mencekam mereka hilang.


Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Abdur Rahman As-Sulami, Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan­mu?"
Mereka menjawab,
"(Perkataan) yang benar."
(QS. Saba‘ [34]: 23)
Bahwa ketakutan dihilangkan dari hati mereka, karenanya mereka baru bisa angkat bicara.


Qiraat yang lain ada yang membacanya furiga memakai gin yang diriwayatkan melalui hadis yang marfu‘, tetapi maknanya sama dengan qiraat pertama.
Dengan kata lain, apabila ketakutan telah dihilangkan dari hati mereka, maka sebagian dari mereka bertanya kepada sebagian yang lain, bahwa apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?
Maka para malaikat penyangga Arasy yang ada di sisi Tuhan menyampaikan berita itu kepada para malaikat yang ada di bawah mereka, lalu disampaikan lagi kepada para malaikat yang ada di bawahnya, demikianlah seterusnya hingga sampailah berita itu kepada para malaikat yang ada di langit yang terdekat dengan dunia.
Karena itulah disebutkan:
Mereka menjawab,
"(Perkataan) yang benar."
(QS. Saba‘ [34]: 23)

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sampaikanlah apa yang telah difirmankan-Nya tanpa ditambah-tambahi dan tanpa dikurang-kurangi, yakni secara apa adanya.

dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
(QS. Saba‘ [34]: 23)


Menurut ulama lain, sebenarnya makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.
(QS. Saba‘ [34]: 23)
Yaitu menceritakan keadaan orang-orang musyrik saat meregang nyawa dan pada hari kiamat nanti di saat mereka dibangkitkan dalam keadaan menyadari semua kelalaian mereka sewaktu di dunia dan akal sehat mereka kembali, lalu mereka bertanya,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?"
Maka dikatakan kepada mereka,
"Perkataan yang benar,"
lalu diceritakan kepada mereka semua hal yang telah dilalaikan oleh mereka ketika di dunia.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:
sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.
(QS. Saba‘ [34]: 23)
Yakni penutup telah dibukakan bagi mereka di hari kiamat.

Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.
(QS. Saba‘ [34]: 23)
Maksudnya, semua keraguan dan kedustaan.


Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka.
(QS. Saba‘ [34]: 23)
Yaitu semua keraguan yang ada dalam hati mereka.
Bahwa setan keluar dari hati mereka dan meninggalkan mereka, tidak lagi memberikan angan-angan kepada mereka dan tidak lagi menyesatkan mereka, hingga mereka sadar.

Mereka berkata,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan­mu?"
Mereka menjawab,
"(Perkataan) yang benar,
"
dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
(QS. Saba‘ [34]: 23)

Hal ini menceritakan keadaan anak Adam di saat meregang nyawa.
Saat itu mereka mulai mengakui kebenaran, akan tetapi sayang pintu tobat telah tertutup dan nasi sudah menjadi bubur.

Ibnu Jarir memilih pendapat pertama yang mengatakan bahwa damir yang ada dalam ayat ini kembali kepada para malaikat.
Dan memang pendapat inilah yang benar dan tidak mengandung keraguan karena didukung oleh sejumlah hadis dan asar yang sahih yang menjelaskannya.
Untuk itu berikut ini kami kemukakan sebagian darinya yang di dalamnya terkandung isyarat yang menunjukkan pengertian yang berbeda dengan pendapat yang pertama.

Imam Bukhari dalam kitab sahihnya sehubungan dengan tafsir ayat ini menyebutkan, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, ia pernah mendengar Ikrimah mengatakan bahwa Ikrimah pernah mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Apabila Allah memutuskan suatu urusan di langit, maka para malaikat bergetar mengepak-ngepakkan sayapnya karena ketakutan terhadap firman-Nya, (dari sayap mereka keluar bunyi) seperti rantai (yang dijatuhkan) di atas batu licin.
Dan apabila ketakutan telah dihilangkan dari hati mereka, maka (sebagian dari) mereka bertanya (kepada sebagian yang lain),
"Apakah yang difirmankan oleh Tuhan kalian?"
Maka mereka (yang ditanya) menjawab kepada yang bertanya,
"(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar."
Lalu pembicaraan itu dicuri dengar oleh setan-setan yang mencuri-curi dengar berita dari langit.
Setan-setan itu sebagian berada di atas sebagian yang lainnya.
Sufyan (perawi) memperagakan hal itu dengan membuka semua jari tangannya dan menyusunnya.
Lalu setan itu mendengarkan pembicaraan tersebut, maka ia menyampaikannya kepada temannya yang ada di bawahnya, lalu si penerima berita menyampaikannya lagi kepada temannya yang ada di bawahnya.
Demikianlah seterusnya hingga sampai pada setan yang paling bawah, lalu berita tersebut disampaikannya kepada penyihir dan tukang tenung.
Dan barangkali setan yang ada di paling atas keburu tertembak oleh bintang yang menyala-nyala sebelum ia sempat menyampaikannya kepada setan yang ada di bawahnya.
Barangkali pula setan itu sempat menyampaikannya sebelum terkena lemparan bintang menyala, maka ia mencampuri berita itu dengan seratus kedustaan darinya.
Dan setan itu berkata,
"Bukankah telah disampaikan kepada kita bahwa hari anu akan terjadi anu dan anu,"
dan secara kebetulan bersesuaian dengan kalimat yang didengar dari langit."

Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim melalui jalur ini.
Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hadis lain,

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far dan Abdur Razzaq.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Ali ibnul Husain, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ duduk bersama sejumlah orang sahabatnya, yang menurut Abdur Razzaq dari kalangan Ansar.
Lalu ada bintang meteor yang terlempar mengeluarkan sinar yang terang.
Maka Nabi ﷺ bertanya,
"Apakah yang akan kalian katakan bila melihat bintang seperti itu di masa Jahiliah?"
Kami menjawab,
"Kami katakan bahwa akan dilahirkan seorang yang besar atau akan mati seorang yang besar."
Saya bertanya kepada Az-Zuhri,
"Apakah di masa Jahiliah pun langit itu sudah dijaga dengan bintang-bintang tersebut?"
Az-Zuhri menjawab,
"Ya, tetapi di masa Nabi ﷺ lebih diperketat."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya bintang-bintang itu dilemparkan bukan karena matinya seseorang atau lahirnya seseorang, tetapi manakala Tuhan kita menetapkan suatu urusan (perintah), maka bertasbihlah para malaikat pemikul ‘Arasy kemudian bertasbih pula penduduk langit (para malaikat) yang ada di bawah mereka, sehingga tasbih sampai kepada penduduk langit yang terdekat.
Kemudian penduduk langit yang ada di bawah para malaikat pemikul ‘Arasy bertanya, dan mereka mengatakan kepada para malaikat pemikul Arasy,
"Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?"
Lalu malaikat pemikul Arasy menceritakannya kepada mereka, selanjutnya para malaikat penerima berita itu menyampaikannya kepada penduduk langit yang ada di bawah mereka, sehingga berita itu sampai kepada para malaikat yang ada di langit yang terdekat ini.
Dan jin mencuri dengar berita itu, lalu mereka dilempari (dengan bintang tersebut).
Maka apa yang disampaikan oleh para jin itu dengan apa adanya adalah benar, tetapi para jin itu selalu mencampuradukkannya dengan tambahan-tambahan dari mereka sendiri.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Imam Muslim telah mengetengahkannya di dalam kitab sahihnya melalui hadis Saleh ibnu Kaisan, Auza’i, Yunus, dan Ma’qal ibnu Ubaidillah, mereka menerimanya dari Az-Zuhri, dari Ali ibnul Husain, dari Ibnu Abbas r.a., dari seorang lelaki Ansar dengan sanad yang sama.
Imam Muslim mengatakan pula bahwa Yunus menerimanya dari beberapa orang lelaki Ansar.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsir melalui hadis Az-Zubaidi, dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula, yang di dalamnya disebutkan dari Al-Husain ibnu Hurayyis, dari Al-Walid ibnu Muslim, dari Al-Auza’i, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas r.a. dari seorang lelaki Ansar.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hadis lain,

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf dan Ahmad ibnu Mansur ibnu Sayyar Ar-Ramadi, sedangkan teks hadis dari Muhammad ibnu Auf.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Na’im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, dari Abdullah ibnu Abu Zakaria, dari Raja Ibnu Haiwah, dari An-Nawwas ibnu Sam’an r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Apabila Allah subhanahu wa ta’ala hendak memutuskan suatu perintah, maka Allah berfirman mengutarakannya, dan apabila Allah berfirman, maka semua langit bergetar atau berguncang keras karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala Dan apabila penduduk langit mendengar firman itu, maka mereka pingsan dan bersujud kepada Allah.
Dan mula-mula malaikat yang mengangkat kepalanya adalah JibrilJibril mengutarakan perintah yang dikehendaki-Nya.
Lalu Jibrilmalaikat, setiap kali ia melewati suatu langit, maka para penduduknya menanyainya,
"Hai Jibril, apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita?"
Maka JibrilJibril.
Lalu Jibril dalam membawa wahyu itu sampai ke tempat yang diperintahkan oleh Allah, baik di langit atau di bumi.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Khuzaimah, dari Zakaria ibnu Aban Al-Masri, dari Na’im ibnu Hammad dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan,
"Ayahku pernah mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan melalui jalur Al-Walid ibnu Muslim rahimahullah tidak lengkap."

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a. dan dari Qatadah, bahwa keduanya menafsirkan makna ayat ini sebagai permulaan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sesudah terputus dalam jarak masa antara beliau ﷺ dengan Nabi Isatakwil dari makna ayat di atas.

Kata Pilihan Dalam Surah Saba (34) Ayat 23

ALIYY
عَلِىّ

Lafaz ini berasal dari perkataan ‘alaa, jamaknya ‘aliyyun dan ‘iiyah, artinya yang tinggi, yang keras, dan amat kuat, berkedudukan tinggi yang mulia.

Al Fayruz berkata,
"Apabila lafaz al ‘aliy disandarkan kepada Allah, maknanya salah satu nama dari nama- nama Allah yang bermakna Dia begitu tinggi dan jauh untuk diketahui hakikatnya oleh para ahli sufi dan oleh ilmu ahli makrifat."

Lafaz ‘aliy disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 255;
An Nisaa‘ (4), ayat 34;
Maryam (19), ayat 50, 57;
Al Hajj (22), ayat 62;
Luqman (31), ayat 30;
Saba‘ (34), ayat 23;
-Al Mu’min (40), ayat 12;
Asy Syuura (42), ayat 4, 51;
Az Zukhruf (43), ayat 4.

At Tabari berkata,
"Al uliy, wazannya (bentuk katanya) adalah al fa’il dari ungkapan ‘alaa-ya’lu-‘uluwwan maknanya apabila ia naik, dan ism fa’ilnya ialah ‘ali dan ‘aliy.

Makna ‘aliy adalah yang memiliki ketinggian di atas makhluk Nya dengan kekuasaannya.
Terdapat perbedaan pendapat berkenaan lafaz al ‘aliy.

– Sebahagian ulama berpendapat, makna al ‘aliy adalah yang maha tinggi dari segala apa yang serupa dengannya dan mereka tidak bersepakat jika ia diberi makna yang tinggi tempatnya karena makna itu bisa diartikan Allah berada di suatu tempat dan tidak berada di suatu tempat.

– Sebahagian yang lain mengatakan, makna al ‘aliy adalah yang Maha Tinggi diatas makhluk Nya dengan ketinggian tempatnya dari tempat makhluk Nya karena Allah di atas seluruh makhluk Nya dan makhluk Nya berada di bawah Nya, sebagaimana Allah menyifatkan diri Nya di atas Al Arsy, yaitu yang tinggi tempatnya di atas mereka.

Ibn ‘Atiyyah berkata,
"Pendapat kedua di atas adalah dari kalangan Mufassirin yang jahil karena sepatutnya ianya (makna Al ‘aliy) jangan diperselisihkan."

Asy Syawkani berkata,
"Makna lafaz al ‘aliy adalah ke tinggian, kekuasaan dan kedudukan Nya."

Kesimpulannya, lafaz al ‘aliy adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang bermakna yang Maha Tinggi dari segala tasybih (penyerupaan) dan tamthil (pe nyamaan dengan yang lain) lagi Maha Mulia dari segala sesuatu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 378-379

Unsur Pokok Surah Saba (سبأ)

Surat Saba‘ terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Luqman.

Dinamakan Saba‘ karena di dalamnya terdapat kisah kaum Saba.
"Saba" adalah nama suatu kabilah dari kabilahkabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma’rib, telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bemama "Bendungan Ma’rib",
sehingga negeri mereka subur dan makmur.

Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba‘ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatNya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini Allah menimpakan kepada mereka azab berupa "sailul ‘arim" (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan Ma’rib bobol, negeri Saba‘ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Keimanan:

▪ Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi.
▪ Kebenaran adanya hari berbangkit dan hari pembalasan.
Nabi Muhammad ﷺ adalah pemberi peringatan.
▪ Pada hari kiamat berhalaberhala itu tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun.
▪ Kalau seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri, dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Daud `alaihis salam dan Nabi Sulaiman `alaihis salam.
▪ Kisah kaum Saba‘.

Lain-lain:

▪ Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala.
▪ Tuduh menuduh antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikutnya di hari kiamat.
▪ Sikap orang-orang musryik di waktu mendengar Alquran.
Rasulrasul tidak meminta upah dalam melaksanakan dakwahnya.
▪ Orang-orang musyrik mendoa kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
▪ Orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu memusuhi Nabi.

Audio

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 54 + Terjemahan Indonesia

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 54

Gambar Kutipan Ayat

Surah Saba ayat 23 - Gambar 1 Surah Saba ayat 23 - Gambar 2
Statistik QS. 34:23
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Saba.

Surah Saba’ (bahasa Arab:سورة سبأ) adalah surah ke-34 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 54 ayat.
Dinamakan Saba’ karena dalam surah terdapat kisah kaum Saba’.
Saba’ adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba yang ibukotanya Ma’rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma’rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba’ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan ma’rib bobol negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Nomor Surah34
Nama SurahSaba
Arabسبأ
ArtiKaum Saba’
Nama lainDaud
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu58
JuzJuz 21 & 22
Jumlah ruku’6 ruku’
Jumlah ayat54
Jumlah kata887
Jumlah huruf3596
Surah sebelumnyaSurah Al-Ahzab
Surah selanjutnyaSurah Fatir
Sending
User Review
4.6 (10 votes)
Tags:

34:23, 34 23, 34-23, Surah Saba 23, Tafsir surat Saba 23, Quran Saba’ 23, Surah Saba ayat 23

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 274 [QS. 2:274]

Orang-orang yang menginfakkan hartanya dalam berbagai situasi dan kondisi, di malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, banyak atau sedikit, mereka akan mendapat paha … 2:274, 2 274, 2-274, Surah Al Baqarah 274, Tafsir surat AlBaqarah 274, Quran Al-Baqarah 274, Surah Al Baqarah ayat 274

QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 46 [QS. 18:46]

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, baik dan indah sifatnya serta bermanfaat bagi manusia, tetapi dapat memperdaya dan tidak kekal; tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh yang di … 18:46, 18 46, 18-46, Surah Al Kahfi 46, Tafsir surat AlKahfi 46, Quran Al-Kahf 46, Surah Al Kahfi ayat 46

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

+

Array

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #12

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Aisyah Sofia Hafsah Zainab Saudah Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Fastabiqul khoirot Muhahadah fi sabilillah Mujahada gazwa Mujahadah

Pendidikan Agama Islam #1

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Maha Penemu Maha Segalanya

Instagram