Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Saba

Saba (Kaum Saba’) surah 34 ayat 19


فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ
Faqaaluuu rabbanaa baa’id baina asfaarinaa wazhalamuu anfusahum faja’alnaahum ahaadiitsa wamazzaqnaahum kulla mumazzaqin inna fii dzalika li-aayaatin likulli shabbaarin syakuurin;

Maka mereka berkata:
“Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”,
dan mereka menganiaya diri mereka sendiri, maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
―QS. 34:19
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Pemilihan para nabi
34:19, 34 19, 34-19, Saba 19, Saba 19, Saba’ 19
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Saba (34) : 19. Oleh Kementrian Agama RI

Oleh karena itu mereka meminta kepada Allah supaya jarak perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain jarak yang jauh tak ada tempat singgah untuk beristirahat, perjalanan harus dilnjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan.
beginilah watak mereka dan watak orang-orang yang sombong, sudah dapat yang mudah dan menyenangkan mereka menginginkan yang susah dan penuh kesulitan serta penderitaan.
Tak ubahnya seperti Bani Israil yang telah diberikan Allah makanan yang baik yaitu Manna dan Salwa, lalu mereka meminta makanan biasa tersebut dalam firman-Nya:

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa kami tidak sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja.
Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya".
Musa berkata "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta".
Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.

(Q.S.
Al Baqarah: 61)

Sebenarnya dengan permintaan itu kaum Saba' telah menganiaya diri sendiri dan tidak puas dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka dan mereka tidak mensyukurinya.
Mereka telah lupa bahwa Allah telah menghancurkan negeri mereka yang subur dan makmur tiada lain sebabnya melainkan karena tidak mau beriman dan bersyukur atas karunia Allah.
Oleh sebab itu Allah melaksanakan permintaan mereka dengan meniadakan tempat-tempat dalam perjalanan mereka, sehingga amat sulitlah bagi mereka melakukan perdagangan mereka, dan morat-maritlah kehidupan mereka.
Karena itu mereka harus meninggalkan negeri mereka hijrah ke negeri lain berpencar-pencar di sana-sini.
Kabilah Jafnah bin Amr terpaksa tinggal di negeri Syam, Aus dan Khazraj di Madinah, Azad (Uman) tinggal di Oman demikian pula kabilah-kabilah yang lain.
Hilanglah wujud mereka sebagai suatu umat yang dahulunya sangat termasyhur sebagai suatu umat yang mulia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi.
Yang tinggal hanya cerita-cerita yang diriwayatkan dari mulut ke mulut dan jadilah kemasyhuran dan kemegahan mereka sebagai bahan penghibur, dibicarakan di waktu mereka berjaga di malam hari.
Sesungguhnya yang dialami kaum Saba' ini patut menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sabar dan tahu berterima kasih serta bersyukur alas setiap nikmat yang diterimanya dari Allah Yang Maha Adil dan Maha Pemurah.
Setiap hamba harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar menerima cobaan-Nya, bahkan ia harus bersyukur kepada-Nya walaupun mendapat cobaan dari pada-Nya.

Diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku mengagumi ketetapan Allah untuk seorang mukmin.
Bila ia mendapat kebaikan ia memuji-Nya dan tetap bersyukur kepada-Nya.
Bila ia ditimpa musibah ia memuji-Nya dan tetap bersyukur kepada-Nya, orang mukmin mendapat pahala dalam segala hal walaupun ia hanya memberikan sesuap makanan untuk istrinya".

Saba (34) ayat 19 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Saba (34) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Saba (34) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan nikmat kedamaian dan keamanan yang Kami berikan itu, mereka menjadi sombong dan berkata dengan bangga, "Ya Tuhan, jadikanlah jarak perjalanan kami menjadi jauh.
Janganlah Engkau pertemukan kami dengan kota yang ramai di tengah perjalanan kami!" Mereka telah menganiaya diri sendiri dengan kesewenang-wenangan, sehingga Kami jadikan sebagai bahan perbincangan bagi orang lain.
Mereka Kami ceraiberaikan sejadi-jadinya.
Sesungguhnya apa yang tengah menimpa diri mereka merupakan pelajaran berharga bagi orang yang bersabar atas musibah dan bagi orang yang mau mensyukuri karunia Tuhan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka berkata, "Ya Rabb kami! Jauhkanlah) menurut suatu qiraat huruf 'Ain-nya di-tasydid-kan (jarak perjalanan kami") ke negeri Syam, maksudnya jadikanlah tempat-tempat yang dilalui itu menjadi padang sahara, supaya jarak perjalanan itu dianggap sangat jauh bagi orang-orang yang miskin, yaitu karena membutuhkan bekal-bekal yang banyak dan persediaan air yang cukup.
Maka mereka mengingkari nikmat tersebut (dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan kekafiran (maka Kami jadikan mereka buah mulut) bagi orang-orang yang sesudah mereka dalam hal itu (dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) Kami cerai-beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka.
(Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda) yakni pelajaran (bagi setiap orang yang sabar) menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat (lagi bersyukur) atas nikmat-nikmat-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Karena sikap mereka yang berlebih-lebihan, mereka bosan kepada kemudahan, keamanan dan kemakmuran hidup, mereka berkata :
Ya Rabbana, jadikanlah kota-kota Kami berjauhan agar perjalanan kami di antaranya menjadi jauh, sehingga kami tidak menemukan kota yang ramai dalam perjalanan kami.
Mereka malah menzhalimi diri mereka dengan kekufuran mereka, maka Kami membinasakan mereka dan menjadikan mereka sebagai pelajaran dan cerita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka.
Dan Kami memecahkan mereka sehingga mereka bercerai berai, dan negeri mereka pun akhirnya hancur.
Sesungguhnya apa yang menimpa Saba’ adalah pelajaran bagi orang yang sangat sabar menghadapi hal-hal yang dibenci lagi berat, pandai bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sedangkan ulama lain membaca ayat ini dengan bacaan baid baina asfarina, demikian itu karena mereka menjadi congkak karena nikmat tersebut.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa justru mereka lebih menyukai menempuh jalan padang sahara dan daerah-daerah yang tidak berpenghuni, yang untuk menempuhnya diperlukan membawa bekal dan unta kendaraan, serta berjalan di terik matahari dan tempat-tempat yang menakutkan.
Perihal mereka sama dengan apa yang diminta oleh kaum Bani Israil dari Musa 'alaihis salam, yaitu hendaknya Musa memohon kepada Allah agar menumbuhkan tumbuhan bumi buat mereka yang hasilnya berupa sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.
Padahal mereka saat itu berada dalam kehidupan yang makmur berkat Manna dan Salwa yang diturunkan buat mereka.
Kehidupan mereka juga mewah, baik makanan, minuman, maupun pakaiannya.
Karena itulah maka Musa berkata kepada mereka, yang disitir oleh firman-Nya:

Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.
(Al Baqarah:61)

Juga semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui Firman-Nya:

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupan­nya.
(Al-Qasas: 58)

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
(An Nahl:112).

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan tentang mereka, yang kisahnya disebutkan dalam surat ini, yaitu: Maka mereka berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami, " dan mereka menganiaya diri mereka sendiri.
(Saba':19) dikarenakan kekafiran mereka.

maka Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
(Saba':19)

Artinya, Kami jadikan mereka sebagai buah tutur manusia yang menceritakan kisah-kisah mereka, bagaimana Allah menimpakan azab­Nya kepada mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka sesudah bersatu dalam naungan kehidupan yang makmur, mereka menyebar kemana-mana, tidak lagi tinggal di negerinya.
Karena itulah ada pepatah Arab yang berbunyi, "Bercerai-berai seperti tercerai-berainya kaum Saba, dan hancur berantakan seperti hancurnya hasil karya kaum Saba, dan menyebar sebagaimana menyebarnya kaum Saba."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id ibnu Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Habib ibnusy Syahid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ikrimah menceritakan suatu kisah tentang penduduk Saba dengan mengutip firman-Nya: Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri.
(Saba':15) sampai dengan firman-Nya: maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.
(Saba':16).
Tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat banyak tukang tenung, dan setan-setan mencuri-curi dengar dari berita di langit, lalu tukang-tukang tenung itu menceritakan sebagian dari berita langit (yang mereka terima dari setan-setan pencuri berita itu).
Dan tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat seorang lelaki tukang tenung yang terpandang lagi banyak harta, Ia memberitakan bahwa runtuhnya masa kejayaan mereka sudah dekat, dan azab akan menimpa mereka, sedangkan ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya karena dia adalah seorang yang banyak memiliki harta dari tanah-tanah yang dimilikinya.
Lalu ia berkata kepada salah seorang anak lelakinya yang mempunyai paman-paman yang terhormat dari pihak ibunya, "Hai anakku, apabila besok hari tiba dan aku perintahkan kepadamu untuk melakukan sesuatu, maka janganlah kamu lakukan.
Dan apabila aku menghardikmu, maka balas hardiklah diriku.
Dan apabila aku menempelengmu, maka balas tempelenglah aku." Anak itu berkata, "Ayah, jangan engkau lakukan hal itu.
Sesungguhnya perbuatan itu dosa besar dan berat dilakukan".
Lelaki itu berkata, "Hai anakku, telah terjadi suatu perkara yang tidak dapat dielakkan lagi," dan lelaki itu terus-menerus mendesaknya.
Akhirnya si anak terpaksa menyetujuinya.
Pada pagi harinya ketika orang-orang telah berkumpul, lelaki itu berkata, "Hai anakku, lakukanlah anu dan anu," maka si anak tidak menurut, lalu si ayah menghardiknya dan si anak itu balas menghardiknya.
Keduanya terus-menerus bersengketa hingga pada akhirnya si ayah menempeleng anaknya, maka si anak balas menempeleng ayahnya.
Lalu si ayah berkata, "Anakku berani menempelengku, kemarikanlah pisauku." Mereka bertanya, "Untuk apa kamu meminta pisau?"
Ia menjawab, "Aku akan menyembelihnya".
Mereka bertanya, "Apakah kamu akan menyembelih anakmu sendiri?"
Tempelenglah lagi dia atau lakukanlah hal lainnya yang kamu ingini terhadapnya." Si ayah menolak dan bersikeras akan menyembelih anak lelakinya itu.
Maka mereka mengirimkan utusan untuk memanggil paman-paman anak itu dan menyampaikan kepada mereka berita tersebut.
Akhirnya mereka datang dan mengatakan kepada ayah si anak, "Ambillah dari kami apa yang kamu sukai," tetapi si lelaki itu menolak dan bersikeras untuk menyembelih anaknya.
Mereka berkata, "Sebelum kamu menyebelihnya, maka kamu dahulu yang akan mati." Lelaki itu berkata, "Kalau memang demikian, maka sesungguhnya aku tidak ingin lagi tinggal di negeri yang penduduknya menghalang-halangi antara aku dan anakku.
Sekarang belilah oleh kalian semua rumahku dan semua tanahku." Lelaki itu kemudian menjual rumah, lahan dan tanahnya.
Setelah semua uang hasil penjualan berada di tangannya, ia berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya azab akan menimpa kalian dan kejayaan kalian akan sirna, hal ini sudah dekat.
Maka barang siapa di antara kalian yang menginginkan rumah baru, tempat perlindungan yang kuat, serta perjalanan yang jauh, hendaklah pergi ke kota Amman.
Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, dan perasan buah, dan lain-lainnya —Ibrahim perawi lupa— hendaklah pergi ke negeri Basra.
Dan barang siapa yang menginginkan berlepotan dengan lumpur, mendapat makanan di negeri sendiri, dan sibuk dengan pertanian, hendaklah ia pergi ke kota Yasrib yang banyak pohon kurmanya.
Maka kaumnya menaati ucapannya itu, lalu orang-orang yang ingin tinggal di Amman pergi ke Amman, dan orang-orang Gassan pergi ke Basra, sedangkan Aus dan Khazraj serta Bani Usman pergi ke negeri Yasrib yang banyak pohon kurmanya.
Disebutkan bahwa dalam perjalanannya mereka sampai di Lembah Mur, lalu Bani Usman berkata, "Inilah tempat yang kami dambakan dan kami tidak mau menggantinya dengan tempat yang lain." Lalu mereka tinggal di Lembah Mur itu.
Maka tempat itu dinamakan Khuza'ah karena mereka memisahkan diri dari teman-temannya.
Kabilah Aus dan Khazraj meneruskan perjalanannya sampai tiba di Madinah, lalu tinggal di Madinah.
Sedangkan orang-orang yang ingin tinggal di Amman (Yordan) meneruskan perjalanannya sampai di Amman, dan orang-orang Gassan pergi menuju ke Basrah.
Asar ini garib lagi aneh.
Nama tukang tenung tersebut adalah Amr ibnu Amir, salah seorang pemimpin negeri Yaman dan pembesar Saba serta ahli tenung mereka.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah mengatakan di permulaan kitab Sirah-nya kisah tentang Amr ibnu Amir ini, bahwa dialah orang yang mula-mula keluar dari negeri Yaman karena ia mendapat berita yang mengatakan bahwa banjir besar akan menimpa mereka.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar melanjutkan, bahwa penyebab yang mendorong Amr ibnu Amir keluar dari negeri Yaman menurut kisah yang dikemukakan oleh Abu Zaid Al-Ansari kepadanya, Amr ibnu Amir bermimpi melihat tempat yang dipakai untuk menampung air di bendungan Ma'rib digali (yakni tanggulnya), lalu airnya dialirkan oleh para penggalinya keluar dari bendungan menurut apa yang mereka sukai.
Maka Amr ibnu Amir mengerti bahwa bendungan Ma'rib tidak akan lama lagi usianya, lalu ia bertekad untuk pindah dari negeri Yaman.
Untuk melaksanakan niatnya ini terlebih dahulu ia membuat tipu muslihat terhadap kaumnya.
Kemudian ia memerintahkan kepada anaknya yang paling muda, bahwa apabila ia ditempeleng dan dikerasi olehnya, hendaklah ia membalasnya.
Lalu si anak melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahya, ketika ayahnya memaki-maki dia dan menempelengnya, maka ia membalasnya.
Akhirnya Amr ibnu Amir berkata, "Aku tidak akan tinggal lagi di negeri yang menjadi peneyebab anakku yang termuda berani menempeleng wajahku." Lalu ia menawarkan hartanya (untuk dijual).
Maka orang-orang yang terpandang dari penduduk Yaman mengatakan, "Ambillah kesempatan yang baik ini untuk membeli harta Amr," lalu mereka membelinya.
Amr menjual semua harta miliknya, kemudian dia dan semua anak cucunya pindah meninggalkan negeri Yaman.
Kabilah Asad berkata,"Kami tidak akan membiarkan Amr pergi sendirian," lalu mereka pun menjual semua hartanya dan ikut keluar bersama-sama rombongan Amr.
Mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Akhirnya mereka turun beristirahat di negeri Ak, lalu berkeliling di sekitar negeri Ak.
Tetapi orang-orang Ak memeranginya, maka terjadilah pertempuran di antara mereka.
Adakalanya Amr menang, dan adakalanya orang-orang Ak beroleh kemenangan.
Sehubungan dengan peristiwa ini Abbas ibnu Muradis As-Sulami r.a.
telah mengatakan dalam bait syairnya mengenang peristiwa tersebut:

Ak ibnu Adnan yang menyalakan api peperangan di Gassan sehingga mereka terusir sejauh-jauhnya

Bait syair ini merupakan petikan dari kasidahnya.
Kemudian Amr ibnu Amir dan kawan-kawannya pergi meninggalkan tanah orang-orang Ak dan menyebar ke seluruh negeri.
Keluarga Jafnah ibnu Amr ibnu Amir tinggal di negeri Syam.
Aus dan khazraj tinggal di Yasrib, Khuza'ah tinggal di Mur, Azdus Surah tinggal di As-Surah, dan Azd Amman tinggal di Amman.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala mengirimkan banjir besar yang melanda bendungan Ma'rib hingga bobol dan hancur.
Peristiwa inilah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala melalui ayat-ayatnya di atas.

As-Saddi telah menyebutkan kisah Amr ibnu Amir dengan kisah yang semisal dengan apa yang telah disebutkan oleh Muhammad ibnu Ishaq.
Hanya dalam riwayat As-Saddi disebutkan bahwa lalu Amr ibnu Amir memerintahkan kepada keponakannya, bukan anaknya.
Akhirnya ia menjual seluruh hartanya, lalu pergi bersama keluarganya meninggalkan Saba, dan selanjutnya mereka bercerai-berai.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ibnu Ishaq yang menceritakan bahwa mereka mengira Amr ibnu Amir adalah paman dari kaumnya, dia adalah seorang tukang ramal, lalu dalam peramalannya ia melihat bahwa kaumnya kelak akan dicerai-beraikan dan perjalanan mereka akan dijauhkan.
Lalu ia berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya aku telah diberi tahu bahwa kelak kalian akan dicerai-beraikan.
Maka barang siapa di antara kalian yang mampu melakukan perjalanan jauh, penuh dengan penderitaan yang keras dan kesabaran yang tinggi, hendaklah ia pergi ke Ka's atau Kurud." Maka yang melakukannya adalah Wada'ah ibnu Amr.
Kemudian Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menyukai daerah perkotaan dan urusan yang mudah, hendaklah ia pergi ke Syam." Yang melakukannya adalah Auf ibnu Amr, dan merekalah yang dikenal dengan nama Bariq.
Amr ibnu Amir berkata lagi, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan penghidupan yang tenang dan tanah haram yang aman, hendaklah ia pergi ke Arzin." dan yang melakukannya adalah Khuza'ah.
Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan hidup berlepotan dengan lumpur dan pertanian, hendaklah ia pergi ke Yasrib yang banyak pohon kurmanya," maka yang melakukan­nya adalah Aus dan Khazraj, kedua kabilah inilah yang akan menjadi orang-orang Ansar.
Amr ibnu Amir berkata, "Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, emas, kain sutra serta kerajaan dan kekuasaan, hendaklah ia pergi ke Kausa dan Basra." Maka yang melakukannya adalah Gassan alias Bani Jafnah yang kelak menjadi raja-raja di negeri Syam dan sebagian dari kalangan mereka yang tinggal di Irak.

Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar salah seorang ahlul 'ilmi mengatakan bahwa sesungguhnya yang mengucapkan kata-kata tersebut adalah Tarifah istri Amr ibnu Amir, dia adalah seorang tukang ramal perempuan.
Dalam peramalannya ia melihat hal tersebut, maka hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui yang benar di antara kedua pendapat itu.

Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Asy-Sya'bi, bahwa Gassan pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan separah-parahnya di negeri Syam.
Dan orang-orang Ansar pergi ke negeri Yasrib, Khuza'ah pergi ke Tihamah, dan Azd pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan sebenar-benarnya.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Selanjutnya Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah, bahwa Al-Asya alias A'syanya Bani Qais ibnu Sa'labah yang nama aslinya Maimun ibnu Qais telah mengatakan:

Dalam hal tersebut terdapat suri teladan bagi orang yang merenungkannya, yaitu Ma-rib setelah terlanda oleh banjir besar.
Ma-rib adalah bendungan yang dibangunkan bagi mereka oleh Himyar, untuk menampung air yang datang kepada mereka, sehingga mereka dapat mengairi lahan-lahan dan kebun anggur mereka dengan suburnya.
Kemudian mereka menjadi bercerai-berai, tidak mampu lagi untuk memberi minum anak kecil yang baru disapih.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
(Saba':19)

Yakni sesungguhnya pada peristiwa yang telah menimpa mereka —berupa pembalasan Allah dan azab-Nya, diubah-Nya nikmat, dan dilenyapkan­Nya kemakmuran sebagai siksaan akibat kekufuran dan dosa-dosa yang dilakukan mereka— benar-benar terdapat pelajaran dan petunjuk bagi setiap orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, lagi bersyukur atas nikmat-nikmat yang diperolehnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman dan Abdur Razzaq.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar ibnu Hurayyis, dari Umar ibnu Sa'd, dari ayahnya (yaitu Sa'd ibnu Abu Waqqas r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Saya kagum dengan orang mukmin dalam menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta'ala Jika Allah memberikan kebaikan kepadanya, maka ia memuji Tuhannya dan bersyukur.
Dan jika ia tertimpa musibah, ia tetap memuji Tuhannya dan bersabar.
Orang mukmin diberi pahala dalam segala sesuatu, sehingga suapan yang ia masukkan ke dalam mulut istrinya.

Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui hadis Abu Ishaq As-Subai'i dengan sanad yang sama.
Hadis ini merupakan hadis yang sanadnya jarang ada karena melalui riwayat Umar ibnu Sa'd dari ayahnya.
Akan tetapi, hadis ini mempunyai saksi yang menguatkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Abu Hurairah r.a.
yang telah menyebutkan:

Sungguh menakjubkan perihal orang mukmin itu, tidak sekali-kali Allah menetapkan suatu takdir baginya melainkan hal itu baik baginya.
Jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya.
Dan jika tertimpa musibah, maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya.
Sikap seperti ini tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada diri orang mukmin.

Abdu mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Sufyan, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
(Saba':19) Mutarrif mengatakan bahwa sebaik-baik hamba adalah orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, yaitu apabila diberi bersyukur dan apabila diuji bersabar.

Kata Pilihan Dalam Surah Saba (34) Ayat 19

AHAADITS
أَحَادِيث

Lafaz ini adalah jamak, mufradnya adalah al hadits, yang bermakna baru dan khabar. Asalnya dari at-tahdiits yang bermakna al ikhbar yang bermakna memberitakan atau mengkhabarkan.

Hadits juga bermakna perkataan, kalam, Al Qur'an, hikayat dan pengajaran dari penceritaan mengenai orang kafir dan yang berbuat maksiat.

Ahaadits juga dalam bentuk jamak dari ahdutsah yang bermakna apa yang dicakapkan atau dibincangkan.

Lafaz ahaadits disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-Yusuf (12), ayat 6, 21, 101;
-Al Mu'minuun (23), ayat 44;
-Saba' (34), ayat 19.

Mujahid dan As Suddi berpendapat, ungkapan ta'wiilull ahaadits artinya pentafsiran mimpi.

Menurut Al Hasan, pengertian ahaadits dalam ayat itu ialah kesudahan segala perkara.

Muqatil berkata,
ia bermakna keanehan-keanehan mimpi.

Sedangkan Az Zamaksyari berpendapat, ahaadits bermakna mimpi, baik itu percakapan jiwa, malaikat, maupun syaitan. Sedangkan tafsirannya, ia adalah bentuk jamak dari kata hadits, bukan jamak dari ahdutsah."

Al­ Qurtubi menafsirkan lafaz ahaadits pada surah Al Mu'minuun sebagai perkara yang menjadi topik perbincangan.

Menurut Al­ Akhfasy, ia digunakan bagi perkara jahat, bukan baik, sebagaimana yang dikatakan orang, "Si A menjadi bahan atau buah percakapan," atau sebagai pengajaran dan contoh. Itu juga maksud ahaadith pada surah Saba', yang merupakan jamak dari ahdutsah.

Menurut Al Fayruz Abadi, yang dimaksudkan dengan ahaadits ialah setiap perkataan yang sampai kepada manusia melalui wahyu dalam keadaan sadar atau tidur. Sedangkan ahadits pada surah Yusuf bermaksud apa yang dicakapkan kepada manusia dalam tidurnya.

Pengertian lafaz ahaadits ialah apa yang dibicarakan kepada manusia dalam keadaan tidur atau mimpi-­mimpi sebagaimana yang terdapat pada surah Yusuf. Ia juga bermakna buah percakapan sebagai pengajaran dan contoh, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al Mu'minuun dan Saba'.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:25

Informasi Surah Saba (سبأ)
Surat Saba' terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesu­ dah surat Luqman.

Dinamakan Saba' karena di dalamnya terdapat kisah kaum Saba.
"Saba" adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah 'Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini.
Mereka mendiri­ kan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bemama "Bendungan Ma'rib",
sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan ni'matNya kepada mereka, serta mereka meng­ingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini Allah menimpakan kepada mereka azab berupa "sailul 'arim" (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib.
Setelah bendungan Ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Keimanan:

Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi
kebenar­an adanya hari berbangkit dan hari pembalasan
Nabi Muhammad ﷺ adalah pemberi peringatan
pada hari kiamat berhala-berhala itu tidak dapat memberi man­ fa'at sedikitpun
kalau seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri, dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.
kisah kaum Saba'.

Lain-lain:

Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala
tuduh menuduh antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikutnya di hari kia­ mat
sikap orang-orang musryik di waktu rnendengar Al Qur 'an
rasul-rasul tidak meminta upah dalam melaksanakan da'wahnya
orang-orang musyrik mendo'a kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melaksanakan perintah dan men­ jauhi larangan Allah
orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu memusuhi Nabi.


Gambar Kutipan Surah Saba Ayat 19 *beta

Surah Saba Ayat 19



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Saba

Surah Saba' (bahasa Arab:سورة سبأ) adalah surah ke-34 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 54 ayat.
Dinamakan Saba' karena dalam surah terdapat kisah kaum Saba'.
Saba' adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba yang ibukotanya Ma'rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma'rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib.
Setelah bendungan ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Nomor Surah 34
Nama Surah Saba
Arab سبأ
Arti Kaum Saba'
Nama lain Daud
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 58
Juz Juz 21 & 22
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 887
Jumlah huruf 3596
Surah sebelumnya Surah Al-Ahzab
Surah selanjutnya Surah Fatir
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku