Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Saba (Kaum Saba’) – surah 34 ayat 19 [QS. 34:19]

فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ
Faqaaluuu rabbanaa baa’id baina asfaarinaa wazhalamuu anfusahum faja’alnaahum ahaadiitsa wamazzaqnaahum kulla mumazzaqin inna fii dzalika li-aayaatin likulli shabbaarin syakuurin;
Maka mereka berkata,
“Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,”
dan (berarti mereka) menzalimi diri mereka sendiri;
maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.
―QS. Saba [34]: 19

But (insolently) they said,
"Our Lord, lengthen the distance between our journeys,"
and wronged themselves, so We made them narrations and dispersed them in total dispersion.
Indeed in that are signs for everyone patient and grateful.
― Chapter 34. Surah Saba [verse 19]

فَقَالُوا۟ maka mereka berkata

But they said,
رَبَّنَا ya Tuhan kami

"Our Lord
بَٰعِدْ jauhkanlah

lengthen (the distance)
بَيْنَ antara

between
أَسْفَارِنَا perjalanan kami

our journeys."
وَظَلَمُوٓا۟ dan mereka menganiaya

And they wronged
أَنفُسَهُمْ diri mereka sendiri

themselves,
فَجَعَلْنَٰهُمْ maka Kami jadikan mereka

so We made them
أَحَادِيثَ percakapan/buah mulut

narrations
وَمَزَّقْنَٰهُمْ dan Kami hancurkan mereka

and We dispersed them
كُلَّ setiap/segala

(in) a total
مُمَزَّقٍ sehancur-hancurnya

dispersion.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
فِى pada

in
ذَٰلِكَ demikian itu

that
لَءَايَٰتٍ benar-benar tanda-tanda

surely (are) Signs
لِّكُلِّ bagi setiap

for everyone,
صَبَّارٍ orang-orang yang sabar

patient
شَكُورٍ orang-orang yang bersyukur

(and) grateful.

Tafsir

Alquran

Surah Saba
34:19

Tafsir QS. Saba (34) : 19. Oleh Kementrian Agama RI


Oleh karena itu, mereka meminta kepada Allah supaya di sepanjang perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain tidak ada tempat singgah untuk beristirahat, sehingga perjalanan harus dilanjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan.
Beginilah watak mereka dan watak orang-orang sombong, sudah mendapat kemudahan, justru mereka menginginkan kesulitan dan penderitaan.

Tidak ubahnya seperti Bani Israil yang telah diberi Allah makanan yang baik yaitu Manna dan Salwa, lalu mereka meminta makanan biasa, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata,
"Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah."
Dia (Musa) menjawab,
"Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?
Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.
"
Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah.
Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar).

Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (al-Baqarah [2]: 61)


Sebenarnya dengan permintaan itu, kaum Saba‘ telah menganiaya diri sendiri dan tidak puas dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

Mereka telah lupa bahwa Allah menghancurkan negeri mereka yang subur dan makmur tiada lain karena mereka tidak mau beriman dan bersyukur atas karunia Allah.
Oleh sebab itu, Allah memenuhi permintaan mereka dengan meniadakan tempat singgah dalam perjalanan mereka, sehingga mereka kesulitan melakukan perdagangan, dan kehidupan mereka menjadi susah.


Mereka harus hijrah ke negeri lain meninggalkan negeri mereka dan berpencar-pencar ke sana kemari.
Kabilah Jafnah bin Amr terpaksa tinggal di negeri Syam, Aus dan Khazraj di Madinah, dan Azad (Uman) tinggal di Oman.

Demikian pula kabilahkabilah yang lain.
Hilanglah wujud mereka sebagai suatu umat yang dahulunya sangat masyhur sebagai suatu umat yang mulia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi.
Yang tinggal hanya cerita-cerita yang diriwayatkan dari mulut ke mulut dan kemasyhuran mereka hanya menjadi bahan penghibur, dibicarakan pada waktu mereka berjaga di malam hari.


Sesungguhnya yang dialami kaum Saba‘ ini patut menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sabar dan tahu bersyukur atas setiap nikmat yang diterimanya dari Allah.
Setiap hamba harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar menerima cobaan-Nya.
Bahkan ia harus bersyukur kepada Allah walaupun mendapat cobaan dari-Nya.


Diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah bersabda:



Aku mengagumi ketetapan Allah untuk seorang mukmin.
Bila ia mendapat kebaikan ia memuji dan bersyukur kepada-Nya.
Bila ia ditimpa musibah ia memuji dan bersyukur kepada-Nya.
Orang mukmin mendapat pahala dalam segala hal walaupun hanya sesuap makanan yang ia berikan untuk istrinya.
(Riwayat Ahmad)

Tafsir QS. Saba (34) : 19. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dengan nikmat kedamaian dan keamanan yang Kami berikan itu, mereka menjadi sombong dan berkata dengan bangga,
"Ya Tuhan, jadikanlah jarak perjalanan kami menjadi jauh.
Janganlah Engkau pertemukan kami dengan kota yang ramai di tengah perjalanan kami!"
Mereka telah menganiaya diri sendiri dengan kesewenang-wenangan, sehingga Kami jadikan sebagai bahan perbincangan bagi orang lain.


Mereka Kami ceraiberaikan sejadi-jadinya.
Sesungguhnya apa yang tengah menimpa diri mereka merupakan pelajaran berharga bagi orang yang bersabar atas musibah dan bagi orang yang mau mensyukuri karunia Tuhan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Karena sikap mereka yang berlebih-lebihan, mereka bosan kepada kemudahan, keamanan dan kemakmuran hidup, mereka berkata:
Ya Rabbana, jadikanlah kota-kota Kami berjauhan agar perjalanan kami di antaranya menjadi jauh, sehingga kami tidak menemukan kota yang ramai dalam perjalanan kami.
Mereka malah menzalimi diri mereka dengan kekufuran mereka, maka Kami membinasakan mereka dan menjadikan mereka sebagai pelajaran dan cerita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka.


Dan Kami memecahkan mereka sehingga mereka bercerai berai, dan negeri mereka pun akhirnya hancur.
Sesungguhnya apa yang menimpa Saba’ adalah pelajaran bagi orang yang sangat sabar menghadapi hal-hal yang dibenci lagi berat, pandai bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Mereka berkata,
"Ya Rabb kami! Jauhkanlah) menurut suatu qiraat huruf ‘Ain-nya di-tasydid-kan


(jarak perjalanan kami") ke negeri Syam, maksudnya jadikanlah tempat-tempat yang dilalui itu menjadi padang sahara, supaya jarak perjalanan itu dianggap sangat jauh bagi orang-orang yang miskin, yaitu karena membutuhkan bekal-bekal yang banyak dan persediaan air yang cukup.
Maka mereka mengingkari nikmat tersebut


(dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan kekafiran


(maka Kami jadikan mereka buah mulut) bagi orang-orang yang sesudah mereka dalam hal itu


(dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) Kami cerai-beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka.


(Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada yang telah disebutkan itu


(benar-benar terdapat tanda-tanda) yakni pelajaran


(bagi setiap orang yang sabar) menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat


(lagi bersyukur) atas nikmat-nikmat-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Sedangkan ulama lain membaca ayat ini dengan bacaan baid baina asfarina, demikian itu karena mereka menjadi congkak karena nikmat tersebut.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa justru mereka lebih menyukai menempuh jalan padang sahara dan daerah-daerah yang tidak berpenghuni, yang untuk menempuhnya diperlukan membawa bekal dan unta kendaraan, serta berjalan di terik matahari dan tempat-tempat yang menakutkan.
Perihal mereka sama dengan apa yang diminta oleh kaum Bani Israil dari MusaMusa memohon kepada Allah agar menumbuhkan tumbuhan bumi buat mereka yang hasilnya berupa sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.
Padahal mereka saat itu berada dalam kehidupan yang makmur berkat Manna dan Salwa yang diturunkan buat mereka.
Kehidupan mereka juga mewah, baik makanan, minuman, maupun pakaiannya.
Karena itulah maka Musa berkata kepada mereka, yang disitir oleh firman-Nya:

Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta."
Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.
(QS. Al-Baqarah [2]: 61)

Juga semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui Firman-Nya:

Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupan­nya.
(QS. Al-Qasas:
58)

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
(QS. Al-Hijr [15]: 112).

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang mereka, yang kisahnya disebutkan dalam surat ini, yaitu:
Maka mereka berkata,
"Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,
"
dan mereka menganiaya diri mereka sendiri.
(QS. Saba‘ [34]: 19)
dikarenakan kekafiran mereka.

maka Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
(QS. Saba‘ [34]: 19)

Artinya, Kami jadikan mereka sebagai buah tutur manusia yang menceritakan kisah-kisah mereka, bagaimana Allah menimpakan azab­Nya kepada mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka sesudah bersatu dalam naungan kehidupan yang makmur, mereka menyebar kemana-mana, tidak lagi tinggal di negerinya.
Karena itulah ada pepatah Arab yang berbunyi,
"Bercerai-berai seperti tercerai-berainya kaum Saba, dan hancur berantakan seperti hancurnya hasil karya kaum Saba, dan menyebar sebagaimana menyebarnya kaum Saba."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id ibnu Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Habib ibnusy Syahid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ikrimah menceritakan suatu kisah tentang penduduk Saba dengan mengutip firman-Nya:
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri.
(QS. Saba‘ [34]: 15)
sampai dengan firman-Nya:
maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.
(QS. Saba‘ [34]: 16).
Tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat banyak tukang tenung, dan setan-setan mencuri-curi dengar dari berita di langit, lalu tukang-tukang tenung itu menceritakan sebagian dari berita langit (yang mereka terima dari setan-setan pencuri berita itu).
Dan tersebutlah bahwa di kalangan mereka terdapat seorang lelaki tukang tenung yang terpandang lagi banyak harta, Ia memberitakan bahwa runtuhnya masa kejayaan mereka sudah dekat, dan azab akan menimpa mereka, sedangkan ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya karena dia adalah seorang yang banyak memiliki harta dari tanah-tanah yang dimilikinya.
Lalu ia berkata kepada salah seorang anak lelakinya yang mempunyai paman-paman yang terhormat dari pihak ibunya,
"Hai anakku, apabila besok hari tiba dan aku perintahkan kepadamu untuk melakukan sesuatu, maka janganlah kamu lakukan.
Dan apabila aku menghardikmu, maka balas hardiklah diriku.
Dan apabila aku menempelengmu, maka balas tempelenglah aku."
Anak itu berkata,
"Ayah, jangan engkau lakukan hal itu.
Sesungguhnya perbuatan itu dosa besar dan berat dilakukan".
Lelaki itu berkata,
"Hai anakku, telah terjadi suatu perkara yang tidak dapat dielakkan lagi,"
dan lelaki itu terus-menerus mendesaknya.
Akhirnya si anak terpaksa menyetujuinya.
Pada pagi harinya ketika orang-orang telah berkumpul, lelaki itu berkata,
"Hai anakku, lakukanlah anu dan anu,"
maka si anak tidak menurut, lalu si ayah menghardiknya dan si anak itu balas menghardiknya.
Keduanya terus-menerus bersengketa hingga pada akhirnya si ayah menempeleng anaknya, maka si anak balas menempeleng ayahnya.
Lalu si ayah berkata,
"Anakku berani menempelengku, kemarikanlah pisauku."
Mereka bertanya,
"Untuk apa kamu meminta pisau?"
Ia menjawab,
"Aku akan menyembelihnya".
Mereka bertanya,
"Apakah kamu akan menyembelih anakmu sendiri?"
Tempelenglah lagi dia atau lakukanlah hal lainnya yang kamu ingini terhadapnya."
Si ayah menolak dan bersikeras akan menyembelih anak lelakinya itu.
Maka mereka mengirimkan utusan untuk memanggil paman-paman anak itu dan menyampaikan kepada mereka berita tersebut.
Akhirnya mereka datang dan mengatakan kepada ayah si anak,
"Ambillah dari kami apa yang kamu sukai,"
tetapi si lelaki itu menolak dan bersikeras untuk menyembelih anaknya.
Mereka berkata,
"Sebelum kamu menyebelihnya, maka kamu dahulu yang akan mati."
Lelaki itu berkata,
"Kalau memang demikian, maka sesungguhnya aku tidak ingin lagi tinggal di negeri yang penduduknya menghalang-halangi antara aku dan anakku.
Sekarang belilah oleh kalian semua rumahku dan semua tanahku."
Lelaki itu kemudian menjual rumah, lahan dan tanahnya.
Setelah semua uang hasil penjualan berada di tangannya, ia berkata,
"Hai kaumku, sesungguhnya azab akan menimpa kalian dan kejayaan kalian akan sirna, hal ini sudah dekat.
Maka barang siapa di antara kalian yang menginginkan rumah baru, tempat perlindungan yang kuat, serta perjalanan yang jauh, hendaklah pergi ke kota Amman.
Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, dan perasan buah, dan lain-lainnya —Ibrahim perawi lupa— hendaklah pergi ke negeri Basra.
Dan barang siapa yang menginginkan berlepotan dengan lumpur, mendapat makanan di negeri sendiri, dan sibuk dengan pertanian, hendaklah ia pergi ke kota Yasrib yang banyak pohon kurmanya.
Maka kaumnya menaati ucapannya itu, lalu orang-orang yang ingin tinggal di Amman pergi ke Amman, dan orang-orang Gassan pergi ke Basra, sedangkan Aus dan Khazraj serta Usman pergi ke negeri Yasrib yang banyak pohon kurmanya.
Disebutkan bahwa dalam perjalanannya mereka sampai di Lembah Mur, lalu Usman berkata,
"Inilah tempat yang kami dambakan dan kami tidak mau menggantinya dengan tempat yang lain."
Lalu mereka tinggal di Lembah Mur itu.
Maka tempat itu dinamakan Khuza’ah karena mereka memisahkan diri dari teman-temannya.
Kabilah Aus dan Khazraj meneruskan perjalanannya sampai tiba di Madinah, lalu tinggal di Madinah.
Sedangkan orang-orang yang ingin tinggal di Amman (Yordan) meneruskan perjalanannya sampai di Amman, dan orang-orang Gassan pergi menuju ke Basrah.
Asar ini garib lagi aneh.
Nama tukang tenung tersebut adalah Amr ibnu Amir, salah seorang pemimpin negeri Yaman dan pembesar Saba serta ahli tenung mereka.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah mengatakan di permulaan kitab Sirah-nya kisah tentang Amr ibnu Amir ini, bahwa dialah orang yang mula-mula keluar dari negeri Yaman karena ia mendapat berita yang mengatakan bahwa banjir besar akan menimpa mereka.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar melanjutkan, bahwa penyebab yang mendorong Amr ibnu Amir keluar dari negeri Yaman menurut kisah yang dikemukakan oleh Abu Zaid Al-Ansari kepadanya, Amr ibnu Amir bermimpi melihat tempat yang dipakai untuk menampung air di bendungan Ma’rib digali (yakni tanggulnya), lalu airnya dialirkan oleh para penggalinya keluar dari bendungan menurut apa yang mereka sukai.
Maka Amr ibnu Amir mengerti bahwa bendungan Ma’rib tidak akan lama lagi usianya, lalu ia bertekad untuk pindah dari negeri Yaman.
Untuk melaksanakan niatnya ini terlebih dahulu ia membuat tipu muslihat terhadap kaumnya.
Kemudian ia memerintahkan kepada anaknya yang paling muda, bahwa apabila ia ditempeleng dan dikerasi olehnya, hendaklah ia membalasnya.
Lalu si anak melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahya, ketika ayahnya memaki-maki dia dan menempelengnya, maka ia membalasnya.
Akhirnya Amr ibnu Amir berkata,
"Aku tidak akan tinggal lagi di negeri yang menjadi peneyebab anakku yang termuda berani menempeleng wajahku."
Lalu ia menawarkan hartanya (untuk dijual).
Maka orang-orang yang terpandang dari penduduk Yaman mengatakan,
"Ambillah kesempatan yang baik ini untuk membeli harta Amr,"
lalu mereka membelinya.
Amr menjual semua harta miliknya, kemudian dia dan semua anak cucunya pindah meninggalkan negeri Yaman.
Kabilah Asad berkata,"Kami tidak akan membiarkan Amr pergi sendirian,"
lalu mereka pun menjual semua hartanya dan ikut keluar bersama-sama rombongan Amr.
Mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Akhirnya mereka turun beristirahat di negeri Ak, lalu berkeliling di sekitar negeri Ak.
Tetapi orang-orang Ak memeranginya, maka terjadilah pertempuran di antara mereka.
Adakalanya Amr menang, dan adakalanya orang-orang Ak beroleh kemenangan.
Sehubungan dengan peristiwa ini Abbas ibnu Muradis As-Sulami r.a. telah mengatakan dalam bait syairnya mengenang peristiwa tersebut:

Ak ibnu Adnan yang menyalakan api peperangan di Gassan sehingga mereka terusir sejauh-jauhnya

Bait syair ini merupakan petikan dari kasidahnya.
Kemudian Amr ibnu Amir dan kawan-kawannya pergi meninggalkan tanah orang-orang Ak dan menyebar ke seluruh negeri.
Keluarga Jafnah ibnu Amr ibnu Amir tinggal di negeri Syam.
Aus dan khazraj tinggal di Yasrib, Khuza’ah tinggal di Mur, Azdus Surah tinggal di As-Surah, dan Azd Amman tinggal di Amman.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan banjir besar yang melanda bendungan Ma’rib hingga bobol dan hancur.
Peristiwa inilah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui ayat-ayatnya di atas.

As-Saddi telah menyebutkan kisah Amr ibnu Amir dengan kisah yang semisal dengan apa yang telah disebutkan oleh Muhammad ibnu Ishaq.
Hanya dalam riwayat As-Saddi disebutkan bahwa lalu Amr ibnu Amir memerintahkan kepada keponakannya, bukan anaknya.
Akhirnya ia menjual seluruh hartanya, lalu pergi bersama keluarganya meninggalkan Saba, dan selanjutnya mereka bercerai-berai.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ibnu Ishaq yang menceritakan bahwa mereka mengira Amr ibnu Amir adalah paman dari kaumnya, dia adalah seorang tukang ramal, lalu dalam peramalannya ia melihat bahwa kaumnya kelak akan dicerai-beraikan dan perjalanan mereka akan dijauhkan.
Lalu ia berkata kepada kaumnya,
"Sesungguhnya aku telah diberi tahu bahwa kelak kalian akan dicerai-beraikan.
Maka barang siapa di antara kalian yang mampu melakukan perjalanan jauh, penuh dengan penderitaan yang keras dan kesabaran yang tinggi, hendaklah ia pergi ke Ka’s atau Kurud."
Maka yang melakukannya adalah Wada’ah ibnu Amr.
Kemudian Amr ibnu Amir berkata,
"Dan barang siapa di antara kalian yang menyukai daerah perkotaan dan urusan yang mudah, hendaklah ia pergi ke Syam."
Yang melakukannya adalah Auf ibnu Amr, dan merekalah yang dikenal dengan nama Bariq.
Amr ibnu Amir berkata lagi,
"Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan penghidupan yang tenang dan tanah haram yang aman, hendaklah ia pergi ke Arzin."
dan yang melakukannya adalah Khuza’ah.
Amr ibnu Amir berkata,
"Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan hidup berlepotan dengan lumpur dan pertanian, hendaklah ia pergi ke Yasrib yang banyak pohon kurmanya,"
maka yang melakukan­nya adalah Aus dan Khazraj, kedua kabilah inilah yang akan menjadi orang-orang Ansar.
Amr ibnu Amir berkata,
"Dan barang siapa di antara kalian yang menginginkan khamr, ragi, emas, kain sutra serta kerajaan dan kekuasaan, hendaklah ia pergi ke Kausa dan Basra."
Maka yang melakukannya adalah Gassan alias negeri Syam dan sebagian dari kalangan mereka yang tinggal di Irak.

Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar salah seorang ahlul ‘ilmi mengatakan bahwa sesungguhnya yang mengucapkan kata-kata tersebut adalah Tarifah istri Amr ibnu Amir, dia adalah seorang tukang ramal perempuan.
Dalam peramalannya ia melihat hal tersebut, maka hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui yang benar di antara kedua pendapat itu.

Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Asy-Sya’bi, bahwa Gassan pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan separah-parahnya di negeri Syam.
Dan orang-orang Ansar pergi ke negeri Yasrib, Khuza’ah pergi ke Tihamah, dan Azd pergi ke negeri Amman, lalu Allah mencerai-beraikan mereka dengan sebenar-benarnya.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Selanjutnya Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Ubaidah, bahwa Al-Asya alias A’syanya Maimun ibnu Qais telah mengatakan:

Dalam hal tersebut terdapat suri teladan bagi orang yang merenungkannya, yaitu Ma-rib setelah terlanda oleh banjir besar.
Ma-rib adalah bendungan yang dibangunkan bagi mereka oleh Himyar, untuk menampung air yang datang kepada mereka, sehingga mereka dapat mengairi lahan-lahan dan kebun anggur mereka dengan suburnya.
Kemudian mereka menjadi bercerai-berai, tidak mampu lagi untuk memberi minum anak kecil yang baru disapih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
(QS. Saba‘ [34]: 19)

Yakni sesungguhnya pada peristiwa yang telah menimpa mereka —berupa pembalasan Allah dan azab-Nya, diubah-Nya nikmat, dan dilenyapkan­Nya kemakmuran sebagai siksaan akibat kekufuran dan dosa-dosa yang dilakukan mereka— benar-benar terdapat pelajaran dan petunjuk bagi setiap orang yang bersabar dalam menghadapi musibah, lagi bersyukur atas nikmat-nikmat yang diperolehnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman dan Abdur Razzaq.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar ibnu Hurayyis, dari Umar ibnu Sa’d, dari ayahnya (yaitu Sa’d ibnu Abu Waqqas r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Saya kagum dengan orang mukmin dalam menghadapi takdir Allah subhanahu wa ta’ala Jika Allah memberikan kebaikan kepadanya, maka ia memuji Tuhannya dan bersyukur.
Dan jika ia tertimpa musibah, ia tetap memuji Tuhannya dan bersabar.
Orang mukmin diberi pahala dalam segala sesuatu, sehingga suapan yang ia masukkan ke dalam mulut istrinya.

Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui hadis Abu Ishaq As-Subai’i dengan sanad yang sama.
Hadis ini merupakan hadis yang sanadnya jarang ada karena melalui riwayat Umar ibnu Sa’d dari ayahnya.
Akan tetapi, hadis ini mempunyai saksi yang menguatkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah menyebutkan:

Sungguh menakjubkan perihal orang mukmin itu, tidak sekali-kali Allah menetapkan suatu takdir baginya melainkan hal itu baik baginya.
Jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya.
Dan jika tertimpa musibah, maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya.
Sikap seperti ini tidak terdapat pada seorang pun kecuali pada diri orang mukmin.

Abdu mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Sufyan, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
(QS. Saba‘ [34]: 19)
Mutarrif mengatakan bahwa sebaik-baik hamba adalah orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, yaitu apabila diberi bersyukur dan apabila diuji bersabar.

Kata Pilihan Dalam Surah Saba (34) Ayat 19

AHAADITS
أَحَادِيث

Lafaz ini adalah jamak, mufradnya adalah al hadits, yang bermakna baru dan khabar.
Asalnya dari at-tahdiits yang bermakna al ikhbar yang bermakna memberitakan atau mengkhabarkan.

Hadits juga bermakna perkataan, kalam, Al Qur’an, hikayat dan pengajaran dari penceritaan mengenai orang kafir dan yang berbuat maksiat.

Ahaadits juga dalam bentuk jamak dari ahdutsah yang bermakna apa yang dicakapkan atau dibincangkan.

Lafaz ahaadits disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
Yusuf (12), ayat 6, 21, 101;
-Al Mu’minuun (23), ayat 44;
Saba‘ (34), ayat 19.
Mujahid dan As Suddi berpendapat, ungkapan ta’wiilull ahaadits artinya pentafsiran mimpi.

Menurut Al Hasan, pengertian ahaadits dalam ayat itu ialah kesudahan segala perkara.

Muqatil berkata,
ia bermakna keanehan-keanehan mimpi.

Sedangkan Az Zamaksyari berpendapat, ahaadits bermakna mimpi, baik itu percakapan jiwa, malaikat, maupun syaitan.
Sedangkan tafsirannya, ia adalah bentuk jamak dari kata hadits, bukan jamak dari ahdutsah."

Al Qurtubi menafsirkan lafaz ahaadits pada surah Al Mu’minuun sebagai perkara yang menjadi topik perbincangan.

Menurut Al Akhfasy, ia digunakan bagi perkara jahat, bukan baik, sebagaimana yang dikatakan orang, "Si A menjadi bahan atau buah percakapan," atau sebagai pengajaran dan contoh.
Itu juga maksud ahaadith pada surah Saba‘, yang merupakan jamak dari ahdutsah.

Menurut Al Fayruz Abadi, yang dimaksudkan dengan ahaadits ialah setiap perkataan yang sampai kepada manusia melalui wahyu dalam keadaan sadar atau tidur.
Sedangkan ahadits pada surah Yusuf bermaksud apa yang dicakapkan kepada manusia dalam tidurnya.

Pengertian lafaz ahaadits ialah apa yang dibicarakan kepada manusia dalam keadaan tidur atau mimpi-mimpi sebagaimana yang terdapat pada surah Yusuf.
Ia juga bermakna buah percakapan sebagai pengajaran dan contoh, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al Mu’minuun dan Saba‘.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 25

Unsur Pokok Surah Saba (سبأ)

Surat Saba‘ terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Luqman.

Dinamakan Saba‘ karena di dalamnya terdapat kisah kaum Saba.
"Saba" adalah nama suatu kabilah dari kabilahkabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma’rib, telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bemama "Bendungan Ma’rib",
sehingga negeri mereka subur dan makmur.

Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba‘ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatNya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini Allah menimpakan kepada mereka azab berupa "sailul ‘arim" (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan Ma’rib bobol, negeri Saba‘ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Keimanan:

▪ Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi.
▪ Kebenaran adanya hari berbangkit dan hari pembalasan.
Nabi Muhammad ﷺ adalah pemberi peringatan.
▪ Pada hari kiamat berhalaberhala itu tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun.
▪ Kalau seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri, dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Daud `alaihis salam dan Nabi Sulaiman `alaihis salam.
▪ Kisah kaum Saba‘.

Lain-lain:

▪ Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala.
▪ Tuduh menuduh antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikutnya di hari kiamat.
▪ Sikap orang-orang musryik di waktu mendengar Alquran.
Rasulrasul tidak meminta upah dalam melaksanakan dakwahnya.
▪ Orang-orang musyrik mendoa kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
▪ Orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu memusuhi Nabi.

Audio

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 54 + Terjemahan Indonesia

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 54

Gambar Kutipan Ayat

Surah Saba ayat 19 - Gambar 1 Surah Saba ayat 19 - Gambar 2
Statistik QS. 34:19
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Saba.

Surah Saba’ (bahasa Arab:سورة سبأ) adalah surah ke-34 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 54 ayat.
Dinamakan Saba’ karena dalam surah terdapat kisah kaum Saba’.
Saba’ adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba yang ibukotanya Ma’rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma’rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba’ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan ma’rib bobol negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Nomor Surah34
Nama SurahSaba
Arabسبأ
ArtiKaum Saba’
Nama lainDaud
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu58
JuzJuz 21 & 22
Jumlah ruku’6 ruku’
Jumlah ayat54
Jumlah kata887
Jumlah huruf3596
Surah sebelumnyaSurah Al-Ahzab
Surah selanjutnyaSurah Fatir
Sending
User Review
4.2 (20 votes)
Tags:

34:19, 34 19, 34-19, Surah Saba 19, Tafsir surat Saba 19, Quran Saba’ 19, Surah Saba ayat 19

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 97 [QS. 17:97]

Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, disebabkan kecenderungan hatinya untuk mendapat petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk, tidak ada siapa pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa Di … 17:97, 17 97, 17-97, Surah Al Israa 97, Tafsir surat AlIsraa 97, Quran Al Isra 97, Al-Isra’ 97, Surah Al Isra ayat 97

QS. Yusuf (Nabi Yusuf) – surah 12 ayat 35 [QS. 12:35]

Kemudian timbul pikiran pada mereka, yakni al-Aziz dan para penasehatnya setelah melihat tanda-tanda kebenaran Nabi Yusuf bahwa mereka harus memenjarakannya demi menjaga kehormatan keluarganya, serta … 12:35, 12 35, 12-35, Surah Yusuf 35, Tafsir surat Yusuf 35, Quran Yusuf 35, Surah Yusuf ayat 35

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis ...

Benar! Kurang tepat!

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah ...

Benar! Kurang tepat!

Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada bulan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, di Tahun Gajah. Lalu pada tanggal 17 Rabiul Awal ini merupakan hari ketika Rasulullah hijrah atau meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Pendidikan Agama Islam #12
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #12 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #12 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #20

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna … memanah memberikan mengeluarkan melepaskan membersihkan Benar! Kurang tepat! Yang termasuk mustahiq (orang

Pendidikan Agama Islam #23

Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … ihsan iman rasul shalat islam Benar! Kurang tepat! Al Falaq artinya …

Pendidikan Agama Islam #4

Aurat dari tubuh pria adalah mulai … dari leher ke pergelangan kaki dari pusar ke lutut dari siku ke lutut

Instagram