Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Saba (Kaum Saba’) – surah 34 ayat 14 [QS. 34:14]

فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ
Falammaa qadhainaa ‘alaihil mauta maa dallahum ‘ala mautihi ilaa daabbatul ardhi ta’kulu minsaatahu falammaa kharra tabai-yanatil jinnu an lau kaanuu ya’lamuunal ghaiba maa labitsuu fiil ‘adzaabil muhiin(i);
Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.
―QS. Saba [34]: 14

Daftar isi

And when We decreed for Solomon death, nothing indicated to the jinn his death except a creature of the earth eating his staff.
But when he fell, it became clear to the jinn that if they had known the unseen, they would not have remained in humiliating punishment.
― Chapter 34. Surah Saba [verse 14]

فَلَمَّا maka tatkala

Then when
قَضَيْنَا Kami telah menetapkan

We decreed
عَلَيْهِ atasnya (Sulaiman)

for him
ٱلْمَوْتَ kematian

the death,
مَا tidak ada

not
دَلَّهُمْ menunjukkan kepada mereka

indicated to them
عَلَىٰ atas

[on]
مَوْتِهِۦٓ kematiannya

his death
إِلَّا kecuali

except
دَآبَّةُ binatang merayap

a creature
ٱلْأَرْضِ bumi

(of) the earth
تَأْكُلُ memakan

eating
مِنسَأَتَهُۥ tongkatnya

his staff.
فَلَمَّا maka tatkala

But when
خَرَّ dia tersungkur

he fell down,
تَبَيَّنَتِ menjadi jelas/nyata

became clear
ٱلْجِنُّ jin

(to) the jinn
أَن bahwa

that
لَّوْ sekiranya

if
كَانُوا۟ adalah mereka

they had
يَعْلَمُونَ mereka mengetahui

known
ٱلْغَيْبَ gaib

the unseen,
مَا tidak

not
لَبِثُوا۟ mereka tetap

they (would have) remained
فِى dalam

in
ٱلْعَذَابِ siksa

the punishment
ٱلْمُهِينِ menghinakan

humiliating.

Tafsir

Alquran

Surah Saba
34:14

Tafsir QS. Saba (34) : 14. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa ketika ajalnya telah dekat, Nabi Sulaiman duduk di atas singgasananya bertelekan pada tongkatnya.
Pada waktu itulah Sulaiman meninggal dunia dan tidak seorang pun yang tahu bahwa dia sudah meninggal baik para pengawalnya, penghuni istana, maupun jinjin yang selalu bekerja keras melaksanakan perintahnya.

Dia jatuh tersungkur karena tongkatnya dimakan rayap, sehingga tidak dapat menahan berat tubuhnya.
Ketika itu, barulah orang sadar bahwa Sulaiman sudah meninggal, demikian pula jinjin yang tetap bekerja keras melaksanakan perintahnya.

Pada waktu itulah mereka mengakui kelemahan diri mereka, karena tidak dapat mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal.
Kalau mereka tahu bahwa Sulaiman telah meninggal, tentulah mereka tidak akan tetap bekerja keras, karena mereka hanya diperintahkan Allah patuh kepada Nabi Sulaiman saja, tidak kepada pembesar-pembesar di istananya.

Allah tidak menerangkan dalam ayat ini berapa lama Sulaiman bertelekan di atas tongkatnya sampai ia jatuh tersungkur.


Sebagian mufasir mengatakan bahwa Nabi Sulaiman bertelekan pada tongkatnya sampai ia mati selama satu tahun.

Mereka mengatakan bahwa Nabi Daud telah mulai membangun Baitul Makdis tetapi tidak dapat menyelesaikan pembangunannya.
Ketika sudah dekat ajalnya, ia berwasiat kepada Nabi Sulaiman agar menyelesaikan pembangunannya.

Nabi Sulaiman memerintahkan jin yang tunduk di bawah kekuasaannya supaya menyelesaikan bangunan itu.
Tatkala Sulaiman merasa ajalnya sudah dekat, dia ingin menyembunyikan kematiannya kepada jinjin yang bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu Nabi Sulaiman bertelekan di atas tongkatnya agar kalau ia mati, orang akan menyangka ia masih hidup karena masih duduk bertelekan di atas tongkatnya.
Akhirnya tongkatnya itu dimakan rayap dan patah.
Pada waktu itu, barulah diketahui bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal.



Mereka ingin mengetahui berapa lama Sulaiman bertelekan pada tongkat itu setelah ia meninggal, dengan mengambil sisanya.
Setelah mereka perhitungkan, ternyata rayap itu dalam sehari semalam hanya memakan sebagian kecil saja dari tongkat itu, sehingga dibutuhkan waktu satu tahun untuk dapat merusaknya.


Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa Sulaiman bertelekan pada tongkatnya sampai ia meninggal.
Memang tongkat itu telah lama dimakan rayap tanpa diketahui oleh Sulaiman.
Pada waktu Sulaiman bertelekan di atas tongkat ketika ajalnya tiba, tongkat itu sudah lapuk juga.
Tidak mungkin seorang raja akan dibiarkan saja oleh keluarga dan pengawalnya tanpa makan dan minum, tanpa menanyakan kepadanya hal-hal penting yang harus dimintakan pendapatnya.


Mana yang benar di antara kedua pendapat ini tidak dapat kita ketahui.
Dalam kisah-kisah para nabi banyak sekali terjadi hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia karena mereka diberi mukjizat oleh Allah.
Kalau Nabi Sulaiman bertelekan hanya sebentar saja lalu roboh tersungkur, tentu para jin tidak akan menyesal demikian hebatnya karena mereka telah telanjur bekerja menyelesaikan Baitul Makdis.

Tafsir QS. Saba (34) : 14. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ketika Kami mematikan Sulaiman, tidak ada yang memberitahukan hal itu kepada bangsa jin selain seekor binatang melata yang menggerogoti tongkat sandaran Sulaiman.
Saat jatuh tersungkur, barulah bangsa jin menyadari bahwa seandainya mereka dapat mengetahui persoalan gaib, mereka pasti tidak akan membiarkan diri mereka berada dalam siksa yang menyusahkan dan menghinakan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Manakala Kami menetapkan kematian atas Sulaiman, jin juga tidak mengetahui kematiannya kecuali oleh petunjuk rayap yang telah menggerogoti tongkatnya yang biasa digunakan oleh Sulaiman untuk bersandar, maka Sulaiman pun jatuh ke tanah.
Saat itu jin baru mengetahui, seandainya mereka mengetahui yang ghaib niscaya mereka tidak akan berada dalam siksaan yang menghinakan dan pekerjaan berat untuk Sulaiman, karena mereka mengira bahwa Sulaiman masih hidup.


Ayat ini membantah keyakinan sebagian orang bahwa jin mengetahui perkara ghaib, karena bila jin mengetahui perkara gaib niscaya mereka pasti akan mengetahui wafatnya Sulaiman, dan mereka tidak akan hidup dalam siksaan yang menghinakan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka tatkala Kami telah menetapkan terhadapnya) terhadap Sulaiman


(kematian) ia mati dalam keadaan diam berdiri bertopang pada tongkatnya selama setahun penuh.
Para jin masih tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat sebagaimana biasanya, karena mereka tidak menduga bahwa Nabi Sulaiman telah mati.
Ketika rayap menggerogoti tongkatnya lalu tongkat itu patah, kemudian Nabi Sulaiman jatuh terjungkal maka menjadi nyatalah kematiannya di mata para jin itu


(tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap) lafal Al Ardhu adalah bentuk Mashdar dari lafal Uridhatul Khasyabatu, artinya kayu itu digerogoti oleh rayap


(yang memakan tongkatnya) lafal Minsa-atahuu dapat pula dibaca Minsaatahuu, yakni tongkatnya, dinamakan demikian karena tongkat itu dipakai untuk mengusir dan menghardik.


(Maka, tatkala ia telah tersungkur) dalam keadaan telah mati


(tahulah jin itu) yakni jelaslah bagi mereka


(bahwa)
"an"
berasal dari Anna yang kemudian ditakhfifkan, asalnya Annahum


(kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib) antara lain ialah apa yang gaib di mata mereka tentang kematian Nabi Sulaiman


(tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan) kerja berat yang selama ini mereka lakukan, karena mereka menduga bahwa Nabi Sulaiman masih tetap hidup, berbeda halnya jika mereka mengetahui ilmu gaib.
Mereka baru mengetahui kematiannya setelah satu tahun berdasarkan perhitungan masa yang diperkirakan jika sebuah tongkat dimakan rayap, sejak sehari semalam sesudah kematiannya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal kematian Sulaimanalaihis salam dan bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyembunyikan kematiannya terhadap makhluk jin yang telah Dia tundukkan baginya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat.
Dan sesungguhnya Sulaiman saat kematiannya dalam keadaan sedang bertopang pada tongkatnya, berdiri tegak.
Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Al-Hasan dan Qatadah serta yang lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman dalam keadaan begitu selama kurang lebih satu tahun.
Ketika tongkatnya dimakan oleh rayap tanah, maka tongkat penopangnya rapuh dan akhirnya jasad Nabi Sulaiman jatuh.
Pada saat itu barulah diketahui bahwa ia telah meninggal dunia, dan sebelum itu dalam waktu yang cukup lama tidak diketahui kematiannya.
Dengan demikian, maka diketahui pulalah bahwa makhluk jin itu tidak mengetahui perkara yang gaib, tidak seperti apa yang didugakan dan disangkakan-oleh manusia selama itu.

Sehubungan dengan hal itu ada sebuah hadis marfu‘ yang menceritakannya, tetapi kesahihannya masih diragukan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Tahman, dari Ata, dari As-Sa-ib ibnu Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi ﷺ yang menceritakan bahwa:
Nabi Sulaiman apabila salat selalu melihat pohon yang tumbuh di hadapannya, lalu ia bertanya kepada pohon itu,
"Siapakah namamu?"
Maka pohon itu menjawab dengan bahasanya sendiri,
"Namaku anu."
Ia bertanya lagi,
"Apakah kegunaanmu?"
Jika pohon itu untuk ditanam, maka ia ditanam, dan jika untuk obat, maka dicatat.
Ketika Nabi Sulaiman sedang salat di suatu hari, tiba-tiba ia melihat sebuah pohon ada di hadapannya, maka Sulaiman bertanya,
"Apakah namamu?"
Pohon itu menjawab bahwa namanya adalah Al-Kharub.
Sulaiman bertanya,
"Apakah kegunaanmu?"
Pohon itu menjawab,
"Untuk merusak Bait ini (Baitul Maqdis)."
Maka Nabi Sulaimanalaihis salam berdoa,
"Ya Allah, butakanlah jin dari kematianku, sehingga manusia mengetahui bahwa jin itu tidak mengetahui hal yang gaib."
Lalu Nabi Sulaiman mengukir pohon tersebut menjadi sebuah tongkat, kemudian ia berdiri seraya bersandar pada tongkat itu selama satu tahun dalam keadaan telah wafat, sedangkan jin selama itu tetap bekerja seperti biasanya.
Pada akhirnya tongkat itu dimakan oleh rayap (dan robohlah Sulaimanalaihis salam ke tanah).
Maka jelaslah bagi manusia saat itu bahwa seandainya jin itu mengetahui perkara yang gaib, tentulah mereka tidak akan tinggal selama satu tahun dalam siksaan kerja paksa yang menghinakan.

Perawi mengatakan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan tafsirnya memakai kata haulan.
Lalu jin berterima kasih kepada rayap, lalu jin dengan sukarela mendatangkan air kepada rayap.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Ibrahim ibnu Tuhman dengan sanad yang sama, tetapi predikat marfu ‘-nya masih diragukan, karena garib dan munkar.


Hal yang benar bila dikatakan sebagai hadis mauquf karena Ata ibnu Abu Muslim Al-Khurrasani mempunyai banyak hadis yang garib dan pada sebagian hadisnya terdapat hal-hal yang diingkari.
Menurut As-Saddi, di dalam hadisnya terdapat hal-hal yang diingkari.

As-Saddi telah mengetengahkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud r.a. dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman sering beribadah di dalam Baitul Muqaddas selama satu atau dua tahun, atau sebulan atau dua bulan, adakalanya kurang dari itu dan adakalanya lebih.
Jika ia masuk ke dalam Baitullah untuk beribadah, maka ia membawa serta pula makanan dan minumannya.
Akhirnya masuklah ia ke dalam Baitul Maqdis di suatu hari yang dia wafat padanya.
Sejak semula tiada suatu pagi hari pun bila Sulaimanalaihis salam berada di dalam Baitul Maqdis melainkan Allah menumbuhkan sebuah pohon di dalamnya, lalu Sulaiman mendatanginya dan menanyai namanya.
Lalu dijawab oleh pohon itu bahwa namanya adalah anu dan anu.
Jika pohon itu untuk ditanam, maka Sulaiman menanamnya, dan jika untuk obat, maka dijadikan untuk obat.
Hingga pada akhirnya tumbuhlah sebuah pohon yang dikenal dengan nama Kharubah, lalu Sulaiman menanyainya,
"Siapakah namamu?"
Pohon itu menjawab,
"Aku adalah Kharubah"
Sulaiman bertanya,
"Untuk apakah kegunaanmu?"
Pohon itu menjawab,
"Aku adalah tumbuh-tumbuhan yang ditumbuhkan untuk merusak masjid ini."
Maka Sulaiman berkata,,
"Allah tidak sekal-kali akan merusak masjid ini, sedangkan saya masih hidup.
Jadi, engkaulah pertanda sudah dekat masa kematianku dan hancurnya Baitul Maqdis ini."
Lalu Nabi Sulaiman mencabutnya dan menanamnya di salah satu kebun miliknya.
Kemudian ia masuk ke dalam mihrab dan berdiri melakukan salat seraya bertopang pada tongkatnya, di saat itulah ia meninggal dunia.
Setan-setan tidak ada yang mengetahui kematiannya.
Mereka mengira bahwa Sulaiman masih hidup dan mereka takut kepadanya.
Karena itu, mereka terus bekerja untuknya.
Mereka tidak berani membangkang karena takut bila Sulaimanalaihis salam mendatangi mereka dan menghukum mereka.
Setan-setan bekerja di sekitar mihrab, dan mihrab Sulaiman mempunyai lubang yang terletak di hadapan dan di belakangnya.
Dan tersebutlah bahwa ada setan yang hendak kabur berkata,
"Bukankah aku ini sakti?
Jika aku ingin, dapat saja menembus tembok ini dan keluar dari sebelah lainnya."
Lalu ia menembus tembok itu dan keluar dari sisi lain.
Ternyata tidak terjadi sesuatu pun padanya.
Sebelum itu tidak ada satu setan pun yang berani memandang Nabi Sulaimanalaihis salam yang sedang berada di mihrabnya karena ia pasti akan terbakar.
Kemudian salah satu dari setan itu menembus tembok itu dan kembali, ternyata ketika di dalam ia tidak mendengar suara Nabi Sulaiman.
Lalu ia penasaran dan masuk lagi, kemudian kembali dalam keadaan tidak terbakar.
Lalu ia kembali lagi masuk ke dalam Baitul Maqdis, dan ternyata dirinya tidak terbakar, dan ia melihat Sulaiman terjatuh dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Kemudian setan itu keluar dan memberitahukan kepada manusia bahwa Sulaiman telah meninggal dunia, lalu mereka mengeluarkannya.
Ternyata mereka menjumpai tongkat Nabi Sulaiman yang dijadikan sandaran olehnya telah dimakan oleh rayap.
Mereka tidak mengetahui sejak kapan Nabi Sulaiman meninggal dunia, akhirnya mereka letakkan rayap itu di atas tongkat dan mereka biarkan rayap itu memakannya hari demi hari dengan menahannya tetap dalam keadaan demikian.
Akhirnya mereka menyimpulkan setelah berlalu masa satu tahun, bahwa Nabi Sulaiman telah wafat sejak setahun yang silam.
Karena itulah di dalam qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan ma labisu haulan fil ‘adzabil muhin, dengan memakai kata haulan.
Lalu orang-orang tinggal selama satu tahun penuh sesudah kepergian Nabi Sulaiman seraya merasa berutang jasa kepadanya.
Dan sejak saat itulah manusia mengetahui bahwa sebelumnya jin adalah tukang berdusta kepada mereka, dan seandainya jin mengetahui perkara gaib, tentulah jin mengetahui kematian Nabi Sulaiman, dan tentulah mereka tidak tinggal dalam siksaan selama satu tahun dalam kerja paksa untuknya.
Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya:
tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
(QS. Saba‘ [34]: 14)
Maka jelaslah perkara jin itu bagi manusia bahwa mereka dahulu selalu membohongi manusia.
Kemudian setan berkata kepada rayap,
"Seandainya kamu pemakan makanan, niscaya akan kudatangkan kepadamu makanan yang paling enak, dan jika kamu minum, niscaya aku datangkan kepadamu minuman yang terbaik.
Tetapi mengingat keadaanmu, maka aku akan mendatangkan air dan tanah kepadamu."
Maka setan-setan itulah yang menyuplai air kepada rayap di mana pun rayap-rayap berada.
Jika kamu lihat tanah yang ada di dalam kayu, maka tanah itulah yang didatangkan oleh setan-setan untuk rayap yang ada di dalamnya sebagai rasa terima kasih mereka kepadanya.

Asar ini hanya Allah Yang Maha Mengetahui, tiada lain termasuk hal-hal yang dinukil dari ulama Ahli Kitab.
Maka sikap kita terhadapnya abstain, tidaklah kita membenarkannya kecuali jika sesuai dengan kebenaran, dan tidaklah kita mendustakannya kecuali terhadap apa yang bertentangan dengan kebenaran.
Sedangkan terhadap sisanya kita tidak boleh membenarkannya, tidak boleh pula mendustakannya.

Ibnu Wahb dan Asbag Ibnul Faraj telah menceritakan dari Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya:
tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
(QS. Saba‘ [34]: 14)
Sulaiman pernah berkata kepada malaikat maut,
"Jika engkau diperintahkan untuk mencabut nyawaku, maka beritahukanlah terlebih dahulu kepadaku."
Maka malaikat maut datang kepadanya dan mengatakan,
"Hai Sulaiman, sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk mencabut nyawamu, dan engkau masih punya kesempatan kurang dari sesaat."
Lalu Sulaimanalaihis salam memanggil setan-setan dan memerintahkan kepada mereka untuk membangun menara kaca untuknya yang tidak ada pintunya.
Lalu Sulaimanalaihis salam berdiri mengerjakan salatnya seraya bersandar pada tongkatnya.
Malaikat maut masuk ke dalam menara kaca itu dan menemuinya, lalu mencabut nyawanya, sedangkan ia (Sulaimanalaihis salam) dalam keadaan bertopang pada tongkatnya.
Sulaimanalaihis salam melakukan demikian bukan karena lari dari maut.
Dan jin terus bekerja di hadapannya seraya memandang ke arahnya dengan dugaan bahwa Sulaiman masih tetap hidup.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap —rayap adalah pemakan kayu—, lalu rayap masuk ke dalam tongkatnya dan memakannya.
Setelah rayap memakan bagian dalam tongkat itu, maka rapuhlah tongkat itu dan tidak kuat menyangga tubuh Nabi Sulaiman, akhirnya jasad Nabi Sulaiman ambruk ke tanah.
Ketika jin melihat peristiwa tersebut, maka mereka bubar dan pergi.
Hal inilah yang dimaksud di dalam firman-Nya:
tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.
(QS. Saba‘ [34]: 14)

Asbag mengatakan bahwa telah sampai suatu riwayat kepadanya dari orang lain yang mengatakan bahwa rayap itu tinggal di dalam tongkat tersebut dan memakaninya selama satu tahun, sebelum Sulaimanalaihis salam jatuh tersungkur.


Dan ulama Salaf yang bukan hanya seorang menyebut­kan hal yang semisal, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui

Kata Pilihan Dalam Surah Saba (34) Ayat 14

DAABBAH
دَآبَّة

Lafaz ini berasal dari lafaz dabba, jamaknya adalah dawaabb digunakan untuk mudzakkar dan mu’annats dan al-taa’ adalah isyarat untuk menunjukkan mufrad (satu). Maknanya setiap apa yang berjalan dengan perlahan di atas muka bumi dan mayoritasnya ditujukan kepada hewan yang digunakan sebagai tunggangan.

Al Kafawi berkata,
"Ia (dabbah) bermakna setiap yang berjalan di muka bumi secara umumnya dan kuda, baghal dan keledai khususnya."

Lafaz daabbah disebut sebanyak 14 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 164;
• Al An’aam (6), ayat 38;
Hud (11), ayat 6, 56;
An Nahl (16), ayat 49, 61;
An Nur (24), ayat 45;
An Naml (27), ayat 82;
Al Ankaabut (29), ayat 60;
Luqman (31), ayat 10;
Saba‘ (34), ayat 14;
Faathir (35), ayat 45;
Asy Syuura (42), ayat 29;
• Al Jaatsiyah (45) ayat 4.
Al Qurtubi berkata daabbah bermakna merangkum keseluruhan hewan," sedangkan Asy Syawkani berkata,
"Ia bermakna setiap hewan yang berjalan di muka bumi.

Dalam Tafsir Al Manar, makna lafaz daabbah adalah semua benda yang hidup yang merayap dan merangkak di muka bumi yang tidak terhitung bilangannya.

At Tabari berpendapat, lafaz daabbah bermakna nama bagi setiap yang memiliki roh yang berjalan atau merangkak di atas bumi selain burung.
Hal ini dikuatkan pemisahan antara lafaz daabbah dan at tayr (burung) dalam surah Al An’aam yang bermaksud, "Dan tidak seekor pun binatang yang melata di muka bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (mereka ialah) umat seperti kamu"

Muhammad Ali As Sabbuni berkata,
"Ad daabbah dalam ayat ini bermakna hewan yang melata di muka bumi dan burung yang terbang di udara." Namun, Al Qurtubi menerangkan sebahagian pakar ada yang mengeluarkan burung dari termasuk ke dalam makna daabbah adalah ditolak.
Allah berkata dalam surah Hud yang berrnaksud, "Dan tiadalah sesuatu pun dari makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jua yang menanggung rezekinya" Sesungguhnya burung dalam beberapa keadaan melata dan berjalan dengan kedua kakinya.

Kesimpulannya, lafaz daabbah apabila disebut dengan sendirinya termasuk hewan yang melata, bergerak di muka bumi dan bila disebut dengan hewan yang lain seperti burung ia bermakna hewan yang mayorisanya hanya melata di muka bumi.

Dawaabb disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
• Al Anafal (8), ayat 22, 55;
Al Hajj (22), ayat 18;
Faathir (35), ayat 28.
Lafaz dalam bentuk jamak ini mengandung dua makna:

Pertama, lafaz ini adalah kiasan bagi orang kafir dan makna itu terdapat dalam surah Al Anfaal.

Ibnu Katsir berkata,
"Sesungguhnya sehina-hina hewan di muka bumi adalah mereka yang kufur dan tidak beriman di mana setiap kali mereka membuat perjanjian, mereka mengingkarinya dan setiap kali mereka diyakinkan dengan keimanan, mereka melanggar dan merusakkannya.
Mereka adalah makhluk yang paling jahat dan hina karana setiap binatang dan lainnya tunduk dan taat kepada Allah padahal Dia menciptakannya bagi mereka sedangkan mereka dicipta untuk beribadah kepada Nya namun mereka kufur.

Oleh karena itu, mereka disamakan dengan binatang.

Allah berfirman, "Dan bandingan (orang yang menyeru) orang kafir (yang tidak mau beriman itu) samalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari hanya mendengar suara panggilan saja."

Dalam ayat yang lain yang berarti, "Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih hina; mereka itulah orang yang lalai".

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid dan Ibnu Jarir, yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah golongan suku Quraisy.

Muhammad bin Ishaq berpendapat mereka ialah orang munafik.

Ibnu Katsir berkata,
"Keduanya tidaklah bertentangan."

Kedua, lafaz dawaabb bermakna binatang yang melata di muka bumi seperti jamak dari pengertian di atas yang mencakup semua hewan.

Ibnu Zaid berkata,
lafaz dawaab bermakna al khalq ialah makhluk.
Namun, lafaz jamak yang disebutkan di dalam Al Qur’an kebanyakannya bermakna hewan secara umumnya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:216-218

Unsur Pokok Surah Saba (سبأ)

Surat Saba‘ terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Luqman.

Dinamakan Saba‘ karena di dalamnya terdapat kisah kaum Saba.
"Saba" adalah nama suatu kabilah dari kabilahkabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma’rib, telah dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bemama "Bendungan Ma’rib",
sehingga negeri mereka subur dan makmur.

Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba‘ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatNya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini Allah menimpakan kepada mereka azab berupa "sailul ‘arim" (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan Ma’rib bobol, negeri Saba‘ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Keimanan:

▪ Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi.
▪ Kebenaran adanya hari berbangkit dan hari pembalasan.
Nabi Muhammad ﷺ adalah pemberi peringatan.
▪ Pada hari kiamat berhalaberhala itu tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun.
▪ Kalau seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri, dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Daud `alaihis salam dan Nabi Sulaiman `alaihis salam.
▪ Kisah kaum Saba‘.

Lain-lain:

▪ Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala.
▪ Tuduh menuduh antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikutnya di hari kiamat.
▪ Sikap orang-orang musryik di waktu mendengar Alquran.
Rasulrasul tidak meminta upah dalam melaksanakan dakwahnya.
▪ Orang-orang musyrik mendoa kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
▪ Orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu memusuhi Nabi.

Audio

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 54 + Terjemahan Indonesia

QS. Saba (34) : 1-54 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 54

Gambar Kutipan Ayat

Surah Saba ayat 14 - Gambar 1 Surah Saba ayat 14 - Gambar 2
Statistik QS. 34:14
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Saba.

Surah Saba’ (bahasa Arab:سورة سبأ) adalah surah ke-34 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 54 ayat.
Dinamakan Saba’ karena dalam surah terdapat kisah kaum Saba’.
Saba’ adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman.
Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Saba yang ibukotanya Ma’rib; telah dapat membangun suatu bendungan raksasa yang bernama Bendungan Ma’rib, sehingga negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba’ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul.
Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa banjir yang besar yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib.
Setelah bendungan ma’rib bobol negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

Nomor Surah 34
Nama Surah Saba
Arab سبأ
Arti Kaum Saba’
Nama lain Daud
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 58
Juz Juz 21 & 22
Jumlah ruku’ 6 ruku’
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 887
Jumlah huruf 3596
Surah sebelumnya Surah Al-Ahzab
Surah selanjutnya Surah Fatir
Sending
User Review
4.5 (15 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

34:14, 34 14, 34-14, Surah Saba 14, Tafsir surat Saba 14, Quran Saba’ 14, Surah Saba ayat 14

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Saba

۞ QS. 34:1 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 34:2 • Keluasan ilmu Allah • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 34:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 34:4 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman •

۞ QS. 34:5 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 34:6 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 34:7 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 34:8 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 34:9 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah

۞ QS. 34:11 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Kewajiban hamba pada Allah •

۞ QS. 34:12 Ar Rabb (Tuhan) • Pahala jin dan balasannya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 34:13 Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 34:14 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 34:15 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 34:16 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 34:17 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 34:19 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:20 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 34:21 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Al Hafiz (Maha Penjaga) • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 34:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Mensucikan Allah dari segala sekutu

۞ QS. 34:23 Syafaat hak Allah semata • Memperoleh syafaat dengan izin Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar)

۞ QS. 34:24 Tauhid UluhiyyahAl Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Cacian Allah terhadap orang kafir

۞ QS. 34:25 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 34:26 Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Fattah (Maha Pembuka) • Kebenaran hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 34:27 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mensucikan Allah dari segala sekutu • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Cacian Allah terhadap orang kafir

۞ QS. 34:29 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 34:30 • Kebenaran hari penghimpunan • Segala sesuatu ada takdirnya • Maksiat dan dosa

۞ QS. 34:31 Ar Rabb (Tuhan) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 34:32 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:33 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 34:34 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:35 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:36 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 34:37 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin

۞ QS. 34:38 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 34:39 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 34:40 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 34:41 • Al Wali (Maha Pelindung) • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 34:42 • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah •

۞ QS. 34:43 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:45 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:46 Rasul diutus dan wafat saat kiamat telah dekat

۞ QS. 34:47 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 34:48 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 34:50 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al Qarib (Maha Dekat) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 34:51 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 34:52 • Beriman ketika datang hari kiamat

۞ QS. 34:53 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 34:54 • Mengingkari hari kebangkitan • Azab orang kafir

Ayat Pilihan

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit & yang ada di bumi.
Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki,
Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki,
dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. Ali ‘Imran [3]: 129

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan & menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.
Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
QS. Luqman [31]: 6

Jadilah engkau pemaaf & suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf,
serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
QS. Al-A’raf [7]: 199

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al 'Adl, yang berarti bahwa Allah ...

Benar! Kurang tepat!

Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Sifat adil Allah berlaku untuk ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #2
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #2 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #2 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Kamus

Al Mu’akkhir

Apa itu Al Mu’akkhir? Allah itu Al-Mu’akhkhir . Artinya adalah Maha Mengakhirkan. Allah Maha Kuasa untuk mengakhirkan sesuatu, dan mampu menunda apa yang seharusnya terjadi. Misalnya adal...

Pertempuran Yarmuk

Apa itu Pertempuran Yarmuk? Pertempuran Yarmuk (معركة اليرموك) adalah perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipert...

Ummu Aiman

Siapa itu Ummu Aiman?
Namanya adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu’man Al-Habasyiyah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewarisi wanit...