QS. Qaaf (Qaaf) – surah 50 ayat 18 [QS. 50:18]

مَا یَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ اِلَّا لَدَیۡہِ رَقِیۡبٌ عَتِیۡدٌ
Maa yalfizhu min qaulin ilaa ladaihi raqiibun ‘atiidun;

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
―QS. 50:18
Topik ▪ Malaikat ▪ Tugas-tugas malaikat ▪ Sifat orang munafik
50:18, 50 18, 50-18, Qaaf 18, Qaaf 18, Qaf 18

Tafsir surah Qaaf (50) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Qaaf (50) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diterangkan bahwa tugas yang dibebankan kepada kedua malaikat itu ialah bahwa tiada satu kata pun yang diucapkan seseorang kecuali di sampingnya malaikat yang mengawasi dan mencatat amal perbuatannya.

Al-Hasan Al-Basri dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Wahai anak-anak Adam, telah disiapkan untuk kamu sebuah daftar dan telah ditugasi malaikat untuk mencatat segala amalanmu, yang satu di sebelah kanan dan yang satu lagi di sebelah kiri.
Adapun yang berada di sebelah kananmu ialah yang mencatat kebaikan dan yang satu lagi di kirimu mencatat kejahatan.
Oleh karena itu, terserah kepadamu, apakah kamu mau memperkecil atau memperbesar amal dan perbuatan amal jahatmu, kamu diberi kebebasan dan bertanggung jawab terhadapnya dan nanti setelah mati, daftar itu ditutup dan digantungkan pada lehermu, masuk bersama-sama engkau ke dalam kubur sampai kamu dibangkitkan pada hari Kiamat, dan ketika itulah Allah akan berfirman:

Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya.
Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”

(Q.S. Al Israa [17]: 13-14)

Kemudian Al-Hasan al-Basri berkata, “Demi Allah, adil benar Tuhan yang menjadikan dirimu sebagai penghisab atas dirimu sendiri.”

Abu Usamah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

“Malaikat yang mencatat kebajikan memimpin malaikat yang mencatat kejahatan.
Jika manusia berbuat kebajikan, malaikat di sebelah kanan itu mencatat sepuluh kebajikan, tetapi jika manusia berbuat suatu kejahatan, ia berkata kepada yang di sebelah kiri, ‘Tunggu dulu tujuh jam, barangkali ia membaca tasbih memohon ampunan.”

Hadis itu mengandung hikmah karena adanya malaikat di kanan dan kiri manusia mencatat perbuatannya.
Allah tidak menciptakan manusia untuk diazab, akan tetapi untuk dididik dan dibersihkan.
Setiap penderitaan itu bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan melatih kesabaran.
Setiap benda biasanya lebih banyak mengandung kemanfaatan daripada kemudaratan, dan Allah menciptakan manusia dengan tujuan-tujuan yang mulia bagi manusia sendiri.
Kebaikan itu yang pokok, sedangkan kejahatan itu datang kemudian.
Benda (materi) pokoknya mengandung kemanfaatan sedangkan mudaratnya datang kemudian.
Unsur yang empat pun demikian: api, angin, air dan tanah pokoknya untuk kemanfaatan manusia.
Kebakaran, angin topan, banjir, dan gempa bumi datangnya kemudian.
Perbuatan yang baik adalah yang pokok bagi manusia, dan kejahatan datang kemudian.
Manusia diberi kebebasan dan pertanggungjawaban sepenuhnya dan oleh karena itu, siapa yang berbuat kejahatan janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat penjaga yang siap mencatatnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tiada suatu ucapan pun yang dikatakan melainkan ada malaikat pengawas) yakni malaikat pencatat amal (yang selalu hadir) selalu berada di sisinya, lafal Raqiib dan ‘Atiid ini keduanya mengandung makna Mutsanna.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
(Q.S. Qaaf [50]: 18)

Yaitu tiada suatu kalimat pun yang dikatakannya, melainkan ada malaikat yang selalu mengawasinya dan mencatatnya; tiada suatu kalimat pun yang tertinggal, dan tiada suatu gerakan pun yang tidak tercatat olehnya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Infithar: 10-12)

Para ulama berselisih pendapat mengenai masalah pekerjaan malaikat ini, apakah ia mencatat semua kalimat yang diucapkan.

Al-Hasan dan Qatadah mengiakan.
Atau yang dicatatnya hanyalah hal-hal yang ada kaitannya dengan pahala dan siksaan, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas; ada dua pendapat mengenai masalah ini.
Tetapi makna lahiriah ayat berpihak kepada pendapat yang pertama, mengingat keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
(Q.S. Qaaf [50]: 18)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah Al-Lais’i, dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah, dari Bilal ibnul Haris Al-Muzani r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridai oleh Allah subhanahu wa ta’ala tanpa diduganya dapat menghantarkan kepada kedudukan yang diraihnya hingga Allah mencatatkan baginya keridaan dari-Nya untuk dia, berkat kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya.
Dan sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah subhanahu wa ta’ala murka tanpa diduganya dapat menjerumuskan dirinya ke dalam kemurkaan-Nya, hingga Allah subhanahu wa ta’ala mencatatkan kemurkaan-Nya terhadap dia disebabkan kalimat itu hingga hari ia menghadap kepada-Nya.

Tersebutlah pula bahwa Alqamah pernah mengatakan berapa banyak kata-kata yang hendak diungkapkannya, tetapi ia tahan karena adanya hadis Bilal ibnul Haris tersebut.

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, dan mempunyai syahid dalam kitab sahih.

Al-Ahnaf ibnu Qais mengatakan bahwa malaikat sebelah kanan tugasnya mencatat kebaikan, dan dia adalah kepercayaan malaikat yang sebelah kiri.
Apabila hamba yang bersangkutan melakukan suatu dosa, malaikat yang di sebelah kanan berkata, “Tahan dulu,” jika dia memohon ampun kepada Allah, maka malaikat sebelah kanan melarangnya mencatat.
Tetapi jika hamba yang bersangkutan tidak memohon ampun, maka malaikat sebelah kiri mencatatnya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.
(Q.S. Qaaf [50]: 17) Lalu ia mengatakan, “Hai anak Adam, lembaran catatan telah dibuka untukmu dan telah ditugaskan kepadamu dua malaikat yang mulia; salah satunya berada di sebelah kananmu dan yang lain berada di sebelah kirimu.
Malaikat yang ada di sebelah kananmu bertugas mencatat semua amal baikmu, dan yang di sebelah kirimu bertugas mencatat dosa-dosamu.
Maka beramallah menurut kehendakmu, sedikit atau banyak; apabila kamu telah mati, lembaran itu ditutup, lalu dibebankan di lehermu bersama­ sama denganmu di dalam kubur, hingga kamu keluar dari kubur dengan membawanya di hari kiamat nanti.” Hal inilah yang dimaksud oleh firman-Nya:

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Q.S. Al Israa [17]: 13-14)

Kemudian Al-Hasan mengatakan, “Demi Allah, benar-benar adil, orang yang menyerahkan perhitungan kepada diri yang bersangkutan.”

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
(Q.S. Qaaf [50]: 18) Bahwa semua yang diucapkan oleh hamba Allah berupa kebaikan atau keburukan dicatat, hingga benar-benar dicatat ucapannya yang mengatakan, “Aku telah makan dan minum, aku telah pergi dan aku baru datang, dan aku telah melihat anu,” dan lain sebagainya.
Apabila hari Kamis, maka ucapan dan amal perbuatannya itu ditampilkan di hadapannya, lalu ia mengakuinya, apakah itu yang baik ataupun yang buruk, sedangkan selain dari itu tidak dianggap.
Yang demikian itulah yang dimaksud oleh firman-Nya:

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Manfuz).
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 39)

Telah diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa ia merintih di saat sakitnya, lalu disampaikan kepadanya berita dari Tawus yang mengatakan bahwa malaikat pencatat amal perbuatan menulis segala sesuatu hingga rintihan.
Maka sejak saat itu Imam Ahmad tidak merintih lagi sampai ia meninggal dunia, rahimahullah.


Kata Pilihan Dalam Surah Qaaf (50) Ayat 18

AATID
عَتِيد

Lafaz ini adalah ism fa’il dari ‘atada, maknanya yang hadir, yang tersedia, yang ada, yang besar.

Ia disebut sebanyak dua kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Qaf (50), ayat 18 dan 23.

Qatadah berkata,
Atiid adalah nama malaikat.”

Ibn Zayd berkata,
Al Atiid adalah yang mengambilnya dan datang dengannya saa ‘iq (malaikat yang mengiringi) dan malaikat penjaga (al haafiz) bersama-sama”

At Tabari berkata,
”Apa yang dilafazkan manusia dari perkataan, tatkala ia berkata maka baginya ada Raqiib dan ‘Atiid, yaitu penjaga yang menjaga dan mengawasinya dan ‘Atiid yang disediakan untuk menulis.”

Mujahid berkata,
“Di sebelah kanan ada malaikat yang menulis segala kebaikan dan di sebelah kiri ada malaikat yang menulis segala kejahatan.”

Al Qurtubi menerangkan terdapat dua makna bagi lafaz ‘Atiid.

Pertama,
‘Atiid adalah yang selalu hadir (bersama manusia) dan tidak pernah ghaib atau alpa.

Kedua,
‘Atiid adalah malaikat yang menjaga (Al haafiz) dan tersedia, baik untuk menjaga maupun untuk menjadi saksi.”

Al Jauhari berkata,
Al ‘Atiid adalah sesuatu yang hadir dan tersedia, maknanya malaikat yang diwakilkan berkata,
ini dia dari kitab amalan kamu yang ada, terjaga dan tersedia”

Mujahid berkata,
“Sesungguhnya malaikat berkata kepada Tuhannya, “Ini dia yang Engkau wakilkan kepadaku mengawasi anak Adam, aku hadirkan dan sediakan buku amalannya,”
Dari sini lafaz ‘Atiid adalah sifat bagi Raqiib. Penjelasannya, ‘Atiid adalah yang selalu mengikuti manusia di mana saja berada dan bersedia menulis apa yang diperintahkan.

Ibn ‘Abbas berkata,
“Yang sedia menulis setiap perkataan yang dilafazkan, yang baik atau jahat.”

Kesimpulannya, ‘Atiid adalah malaikat yang mengawasi dan bersedia, disediakan untuk menulis setiap perbuatan dan percakapan manusia, tidak tertinggal walau sedikit pun sebagaimana Allah berfirman di dalam Al Qur’an yang berarti,

Padahal sesungguhnya, ada malaikat-malaikat yang menjaga dan mengawasi segala bawaan kamu, (mereka adalah makhluk) yang mulia (di sisi Allah) dan ditugaskan menulis (amalamal kamu)

Sedangkan dalam ayat 23, Allah memberitahu tentang malaikat yang diwakilkan kepada anak Adam ia akan menjadi saksi di atas apa yang dilakukan dengan mengatakan “ini dia anak Adam, sudah tersedia dan hadir (‘Atiid) (bersama kitab amalannya) tanpa mengurangi atau menambah sebagaimana yang Engkau wakilkan kepadaku.

Dari sini, ‘Atiid dalam ayat 18 adalah malaikat yang menulis amalan manusia yang baik maupun jahat dan dalam ayat 23 adalah sifat bagi anak Adam yang tersedia atau ‘Atiid dengan buku amalannya yang diiringi oleh malaikat As Saa’iq dan Asy Syahiid tatkala menghadap Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:387

Informasi Surah Qaaf (ق)
Surat Qaaf terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al Mursalaat.

Dinamai “QAAF” karena surat ini dirnulai dengan huruf Hijaiyyah “Qaaf”.

Menurut hadits yang diriwayatkan Iman Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ senang membaca surat ini pada rakaat pertama shalat subuh dan pada shalat hari raya.
Sedang menurut riwayat Abu Daud, Al Baihaqy dan lbnu Majah bahwa Rasulullah ﷺ membaca surat ini pada tiap-tiap membaca Khutbah pada hari Jum’at.

Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa surat QAAF, sering dibaca Nabi Muhammad ﷺ di tempat-tempat umum, untuk memperingatkan manusia tentang kejadian mereka dan ni’mat­ni’mat yang diberikan kepadanya, begitu pula tentang hari berbangkit, hari berhisab, surga, neraka, pahala, dosa dan sebagainya.

Surat ini dinamai juga “Al Baasiqaat”,
diambil dari perkataan “Al Baasiqaat” yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Keimanan:

Setiap manusia pada hari kiamat akan hadir di padang mahsyar diiringkan oleh dua orang malaikat, yang seorang sebagai pengiringnya dan yang seorang lagi sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.
Kebangkitan manusia dari kubur digambarkan sebagai tanah yang kering, setelah disirami hujan hidup kembali
Allah lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri
tiap-tiap manusia didampingi oleh malaikat yang selalu mencatat segala perbuatannya
Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa.

Hukum:

Anjuran bertasbih dan bertahmid kepada Tuhan pada waktu-waktu malam sebelum terbit dan terbenam matahari dan sesudah mengerjakan shalat.
Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar memberi peringatan dengan ayat-ayat Al Qur’an kepada orang yang beriman
anjuran memperhatikan kejadian langit dan bumi.

Lain-lain:

Keingkaran orang-orang musyrik terhadap kenabian dan hari berbangkit
hiburan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar jangan berputus asa dalam menghadapi keingkaran orang-orang kafir Mekah, karena rasul-rasul dahulu juga menghadapi keingkaran kaumnya masing-masing
Al Qur’an adalah sebagai peringatan bagi orang­ orang yang takut kepada ancaman Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Qaaf (45 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Qaaf (50) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Qaaf (50) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Qaaf (50) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Qaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 45 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 50:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Qaaf.

Surah Qaf (Arab: ق , "Qaf") adalah surah ke-50 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Dinamakan Qaf karena surah ini dimulai dengan huruf Qaf.
Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi Muhammad senang membaca surah ini pada raka'at pertama salat subuh dan pada salat hari raya.
Sedang menurut riwayat Abu Daud, Al-Baihaqi dan Ibnu Majah bahwa Nabi Muhammad membaca surat ini pada tiap-tiap membaca Kotbah pada salat Jumat.
Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa surah Qaf sering dibaca Nabi Muhammad di tempat-tempat umum, untuk memperingatkan manusia tentang kejadian mereka dan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya, begitu pula tentang hari berbangkit, hari berhisab, surga, neraka, pahala, dosa, dsb.
Surah ini dinamai juga Al-Basiqat diambil dari perkataan Al-Basiqat yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Nomor Surah 50
Nama Surah Qaaf
Arab ق
Arti Qaaf
Nama lain al-Basiqat
(Yang Tinggi-Tinggi)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 34
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 45
Jumlah kata 373
Jumlah huruf 1507
Surah sebelumnya Surah Al-Hujurat
Surah selanjutnya Surah Az-Zariyat
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ malaikat pengawas ▪ qs qaf 17-18 ▪ surat qaaf 18

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim