QS. Nuh (Nabi Nuh) – surah 71 ayat 22 [QS. 71:22]

وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا کُبَّارًا
Wamakaruu makran kubbaaran;

dan melakukan tipu-daya yang amat besar”.
―QS. 71:22
Topik ▪ Perbuatan yang menghalangi api neraka
71:22, 71 22, 71-22, Nuh 22, Nuh 22, Nuh 22

Tafsir surah Nuh (71) ayat 22

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Nuh (71) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa para pembesar dan pemimpin umat Nabi Nuh, melakukan segala macam tipu muslihat untuk menghambat dan menghancurkan agama yang dibawa Nabi Nuh.
Di antaranya adalah dengan menghalangi dan mengancam orang-orang yang hendak mengikuti seruan Nuh, memperkuat kedudukan berhala, dan bahkan menghasut masyarakat untuk menganiaya Nabi Nuh.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nuh melanjutkan berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah melanggar seruanku untuk beriman dan memohon ampunan.
Orang-orang lemah dari mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anaknya malah membuat mereka tambah merugi di akhirat.
Para pemilik harta dan anak yang banyak itu telah melakukan tipu daya yang sangat besar terhadap orang-orang lemah yang mengikuti mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka melakukan tipu daya) yaitu para pemimpin mereka (yang amat besar.”) Tipu daya mereka sangat besar, yaitu mereka telah mendustakan Nabi Nuh dan menyakitinya serta menyakiti orang-orang yang beriman kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan melakukan tipu daya yang amat besar.
(Q.S. Nuh [71]: 22)

Mujahid mengatakan bahwa kubbar artinya amat besar, menurut Ibnu Zaid artinya besar.
Orang-orang Arab mengatakan amrun ‘ajibun, ujaban, dan ‘ujjabun (perkara yang mengagumkan).
Dikatakan pula rajulun husanun dan hussanun (lelaki yang tampan), atau jumalun dan jummalun, mempunyai makna yang sama.

Makna firman-Nya:

Dan melakukan tipu daya yang amat besar.
(Q.S. Nuh [71]: 22)

Yakni dengan para pengikutnya melalui hasutan mereka terhadap para pengikutnya yang mengelabui mereka bahwa jalan yang mereka tempuh adalah benar dan berada pada petunjuk, sebagaimana yang dikatakan oleh para pengikut mereka terhadap pemimpin mereka di hari kiamat, yang hal ini disitir oleh firman-Nya:

(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.
(Q.S. Saba’ [34]: 33)

Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Dan melakukan tipu daya yang amat besar.
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa’, yagus, ya’uq dan nasr.” (Q.S. Nuh [71]: 22-23)

Ini adalah nama berhala-berhala sesembahan mereka selain Allah.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ibnu Juraij dan Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa berhala-berhala yang ada pada kaum Nuh itu kemudian menjadi sembahan orang-orang Arab di kemudian harinya.
Wadd sembahan Bani Kalb yang terletak di Daumatul Jandal, suwa’ sembahan Huzail, yagus sembahan Murad, kemudian Bani Gatif di Al-Jirf di negeri Saba, sedangkan ya’uq adalah berhala sembahan Hamdan, dan nasr sembahan Himyar dan keluarga Zul Kala’.

Pada mulanya nama-nama tersebut merupakan nama orang-orang saleh dari kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum mereka, “Buatkanlah tugu-tugu pada bekas tempat-tempat duduk mereka berupa patung-patung, lalu namailah dengan nama-nama mereka.” Maka mereka melakukannya, dan pada mulanya tidak disembah.
Tetapi lama-kelamaan setelah ilmu diangkat dari mereka, maka mulailah patung-patung itu disembah dan dipuja.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Ibnu Ishaq.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa berhala-berhala tersebut merupakan sembahan-sembahan di masaNabi Nuh ‘alaihis salam

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Musa, dari Muhammad ibnu Qais sehubungan dengan makna firman-Nya: yagus, ya ‘uq dan nasr.
(Q.S. Nuh [71]: 23) Bahwa mereka adalah orang-orang yang saleh yang hidup di masa antara Adam dan Nuh ‘alaihis salam; mereka mempunyai banyak pengikut yang mengikuti jejak mereka.
Dan ketika mereka telah meninggal dunia, para muridnya yang setia mengikuti jejaknya mengatakan, “Sebaiknya kita buatkan patung-patung mereka sebagai peringatan buat kita yang akan mendorong kepada kita untuk tetap giat beribadah.” Lalu mereka membuat patung-patungnya, dan ketika generasi itu telah meninggal dunia, lalu datang generasi berikutnya iblis membisikkan kepada mereka dan mengatakan, “Sesungguhnya generasi terdahulu hanyalah menyembah berhala-berhala ini, dan karena berhala-berhala inilah mereka dahulu diberi hujan, maka kalian pun sebaiknya menyembahnya.”

Al-Hafiz ibnu Asakir di dalam biografi Syis ‘alaihis salam telah meriwayatkan melalui jalur Ishaq ibnu Bisyr yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Juwaibir dan Muqatil, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Adam ‘alaihis salam mempunyai empat puluh orang putra; dua puluh orang laki-laki dan dua puluh orang perempuan.-Di antara mereka yang hidup ialah Habil, Qabil,Saleh, Abdur Rahman yang juga dinamai Abdul Haris, dan Wadd.
Nama lain dari Wadd ialah Syis, juga disebut dengan nama Hibatullah, dan saudara-saudaranya telah membuatnya menjadi hitam.
Lalu Adam beranak lagi, yaitu Suwa’, Yagus, Ya’uq, dan Nasr.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Wadd adalah putra Adam yang paling besar dan paling berbakti kepadanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Ad-Dauri, telah menceritakan kepadaku Abu Ismail Al-Mu’addib, dari Abdullah ibnu Muslim ibnu Hurmuz, dari Abu Hirzah, dari Urwah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa Adam ‘alaihis salam jatuh sakit, sedangkan di hadapannya terdapat semua anaknya, Wadd, Yagus, Ya’uq, Suwa’, dan Nasr.
Ibnuz Zubair mengatakan bahwa Wadd adalah yang paling besar dari mereka, dan dialah yang paling berbakti kepada ayahnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, dari Abul Mutahhiryang telah mengatakan bahwa orang-orang memperbincangkan perihal Yazid ibnul Muhallab di tempat Abu Ja’far yang saat itu Abu Ja’far sedang mengerjakan salat.
Setelah selesai dari salatnya, Abu Ja’far berkata, “Kalian telah membicarakan perihal Yazid ibnul Muhallab.
Ketahuilah bahwa dia telah terbunuh di suatu tempat yang padanya mula-mula disembah selain Allah.”

Kemudian ia menyebutkan perihal seorang lelaki muslim yang dicintai di kalangan kaumnya.
Ketika ia mati, mereka mendiami sekitar kuburnya.
Hal ini terjadi di suatu tempat di negeri Babil, sikap demikian itu karena kedukaan mereka atas kepergiannya.
Ketika iblis melihat kedukaan mereka atas meninggalnya lelaki itu, maka ia mengubah dirinya menjadi seorang manusia, lalu berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku melihat duka cita kalian atas kepergian laki-laki ini, maka bolehkah aku membuat patung untuk kalian yang serupa dengan bentuk laki-laki ini di tempat perkumpulan kalian, sehingga kalian dapat mengingatnya?”

Mereka menjawab, “Baiklah.” Lalu iblis membuat patung lelaki itu, kemudian mereka meletakkan patung itu di tempat perkumpulan mereka, dan karenanya mereka selalu mengingatnya.
Ketika iblis melihat kerinduan mereka kepada laki-laki itu, ia berkata, “Bolehkah aku buat sebuah patung untuk tiap-tiap rumah seseorang dari kamu, sehingga di dalam rumahnya terdapat patungnya, dan ia dapat selalu mengingatnya?”
Mereka menjawab, “Boleh.” Maka setan membuat bagi tiap-tiap ahli bait sebuah patung yang mirip dengan lelaki muslim yang mereka cintai itu.
Mereka menerimanya dan selalu mengingatnya dengan adanya patung itu di tiap-tiap rumah mereka.

Kemudian anak-anak mereka menjumpai apa yang diperbuat oleh orang tua-orang tua mereka, lalu mereka mengikuti jejaknya, kemudian mereka berkembang biak dan telah punah kisah mereka tentang patung lelaki muslim itu, pada akhirnya generasi-generasi berikutnya menjadikan patung itu sebagai sesembahan mereka selain Allah.
Maka patung yang mula-mula disembah selain Allah adalah berhala yang mereka namai Wadd.


Informasi Surah Nuh (نوح)
Surat ini terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An Nahl.

Dinamakan dengan surat “Nuh” karena surat ini seluruhnya menjelaskan da’wah dan do’a Nabi Nuh ‘alaihis salam

Keimanan:

Ajakan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah s.w. t. serta bertobat kepada-Nya
perintah memperhatikan kejadian alam semesta,
dan kejadian manusia yang merupakan manifestasi kebesaran Allah
siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi kaum Nuh yang tetap kafir
do’a Nabi Nuh a.s.

Ayat-ayat dalam Surah Nuh (28 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Nuh (71) ayat 22 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Nuh (71) ayat 22 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Nuh (71) ayat 22 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Nuh - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 28 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 71:22
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Nuh.

Surah Nuh (bahasa Arab:نوح, "Nuh") adalah surah ke-71 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya.

Nomor Surah 71
Nama Surah Nuh
Arab نوح
Arti Nabi Nuh
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 71
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 28
Jumlah kata 227
Jumlah huruf 965
Surah sebelumnya Surah Al-Ma’arij
Surah selanjutnya Surah Al-Jinn
4.8
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta