QS. Nuh (Nabi Nuh) – surah 71 ayat 16 [QS. 71:16]

وَّ جَعَلَ الۡقَمَرَ فِیۡہِنَّ نُوۡرًا وَّ جَعَلَ الشَّمۡسَ سِرَاجًا
Waja’alal qamara fiihinna nuuran waja’alasy-syamsa siraajan;

Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?
―QS. 71:16
Topik ▪ Manusia diciptakan pada bentuk yang terbaik
71:16, 71 16, 71-16, Nuh 16, Nuh 16, Nuh 16

Tafsir surah Nuh (71) ayat 16

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Nuh (71) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Nabi Nuh menerangkan kepada kaumnya bahwa Allah yang disembah itu menciptakan bulan bercahaya dan matahari bersinar.
Dari ayat itu dapat dipahami bahwa: 1.
Matahari memancarkan sinar sendiri, sedang bulan mendapat cahaya dari matahari.
Cahaya yang dipancarkan bulan berasal dari sinar matahari yang dipantulkannya ke bumi.
Oleh karena itu, sinar matahari lebih keras dan terang dari cahaya bulan.
2.
Sinar dan cahaya itu berguna bagi manusia, tetapi bentuk kegunaannya berbeda-beda.
Ayat yang membedakan cahaya dan sinar dari dua benda langit, matahari dan bulan telah berkali-kali dikemukakan.
Bintang mempunyai sumber sinar, sedangkan planet tidak.
Penjelasan mengenai hal ini dapat dilihat pada Surah Yunus: 5.
Uraian mengenai hal ini secara ilmiah adalah demikian: Dalam membicarakan benda-benda angkasa, Al-Qur’an juga sudah membedakan bintang dan planet.
Bintang adalah benda langit yang memancarkan sinar, sedangkan planet hanya memantulkan sinar yang diterima dari bintang.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu.
Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar.
Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

(Yunus: 5)

Matahari adalah benda angkasa terbesar dalam tata surya kita.
Ia merupakan gumpalan gas yang berpijar, dengan garis tengah sekitar 1,4 juta km.
Jarak rata-rata antara titik pusat bumi dan matahari sekitar 150 juta km.
Di pusat matahari, suhu mencapai sekitar 20.0000C.
Dalam ilmu astronomi, matahari merupakan benda langit yang digolongkan ke dalam jenis bintang.
Di jagad raya ini terdapat miliaran, bahkan triliunan bintang.
Matahari adalah salah satunya.
Bintang merupakan benda langit yang memancarkan sinar karena di permukaan maupun bagian dalam bintang masih berlangsung reaksi-reaksi nuklir hidrogen yang dahsyat.
Hasil reaksi inilah yang menimbulkan pancaran sinar.
Sedangkan 10 benda langit yang mengorbit matahari, termasuk di dalamnya bumi (dan bulan yang mengorbit bumi), digolongkan ke dalam jenis planet.
Jumlah bintang diperkirakan lebih dari 6 miliar, bahkan boleh jadi mencapai 100 miliar.
Akan tetapi, hanya sekitar 6.000 bintang yang dapat diamati dengan mata telanjang.
Suhu, warna, ukuran, dan kepadatan bintang bervariasi.
Bintang yang terpanas umumnya berwarna putih kebiruan.
Suhu permukaannya dapat mencapai 20.0000C.
Sedangkan yang kurang panas berwarna kuning, sebagaimana matahari.
Ukurannya ada yang melebihi ribuan atau jutaan kali ukuran Matahari.
Adapun jarak bintang terdekat dari tata surya adalah 4.000 tahun cahaya.
Apabila kecepatan cahaya 186.000 mil per detik, maka jarak bintang terdekat tersebut mencapai 104 x 109 mil.
Cahaya bintang terdekat ke tata surya, Alpha Centauri, memerlukan waktu 4 tahun untuk mencapai bumi.
Sedang bintang “terjauh”,
Riga, cahayanya baru mencapai bumi lebih dari 1.000 tahun kemudian.
Bandingkan dengan cahaya matahari yang mencapai bumi dalam hanya 4 menit saja.
Planet dapat dikategorikan sebagai bintang yang telah ‘mati.
Permukaannya telah mendingin, dan berubah menjadi padatan.
Planet tidak memancarkan sinar.
Akan tetapi, apabila ia disinari oleh satu sumber sinar (misal matahari), maka ia akan memantulkannya, sehingga tampak seperti bercahaya.
Dengan demikian, kata ‘bercahaya dapat diartikan sebagai dapat dilihat oleh mata karena memantulkan sinar yang diterima dari sumber sinar.
Bulan bercahaya karena memantulkan sinar yang diterimanya dari matahari.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, menjadikan bulan di tujuh langit tersebut sebagai cahaya yang memancar serta menjadikan matahari sebagai lampu yang menerangi penghuni dunia dengan sinarnya untuk melihat segala yang dibutuhkan?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Allah menciptakan padanya bulan) yaitu pada langit yang paling terdekat di antara keseluruhan langit itu (sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?) yang memancarkan sinar terang yang jauh lebih kuat daripada sinar bulan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
(Nuh: 15)

Yakni berlapis-lapis satu lapis di atas lapis yang lainnya bersusun-susun.
Akan tetapi, apakah hal ini termasuk di antara perkara yang hanya dapat didengar saja (metafisika)?
Ataukah termasuk di antara perkara yang dapat dijangkau oleh indra melalui penyelidikan dan penemuan ilmiah (fisika)?
Karena sesungguhnya tujuh bintang yang beredar satu sama lainnya saling menutupi yang lainnya.
Yang paling dekat dengan kita adalah bulan yang berada di langit terdekat, ia menutupi bintang lainnya yang ada di atasnya, dan pada lapis yang kedua terdapat bintang ‘Utarid, dan pada lapis yang ketiga terdapat Zahrah (Venus).
Sedangkan matahari terdapat pada lapis yang keempat.
Mars pada lapis yang kelima, Musytari pada lapis yang keenam, dan Zuhal pada lapis yang ketujuh.
Adapun bintang-bintang lainnya yaitu bintang-bintang yang tetap (tidak beredar), maka semuanya berada di lapis yang kedelapan; mereka menamakannya falak bintang-bintang yang menetap.
Dan para ahli falak yang berilmu syariat menamakannya dengan istilah Al-Kursi.
Dan falak yang kesembilan dinamakan Al-Atlas dan juga Al-Asir, yang menurut ahli ilmu falak pergerakannya kebalikan dari peredaran semua falak yang ada.
Yaitu peredarannya dimulai dari barat menuju ke timur, sedangkan semua falak kebalikannya yaitu dari arah timur ke arah barat, dan bersamaan dengannya beredar pula semua bintang mengikutinya.
Akan tetapi, bintang-bintang yang beredar mempunyai pergerakan yang berbeda dengan semua falaknya, karena sesungguhnya bintang-bintang tersebut beredar dari arah barat menuju ke arah timur.
Masing-masing darinya menempuh falaknya menurut kecepatannya.
Bulan menempuh garis edarnya setiap bulannya sekali, dan matahari menempuh garis edarnya setiap tahunnya sekali, dan Zuhal baru dapat menempuhnya selama tigapuluh tahun sekali.
Demikian itu berdasarkan luas falak masing-masing, sekalipun gerakan semuanya dalam hal kecepatannya berimbang.

Demikianlah kesimpulan dari apa yang dikatakan oleh ahli ilmu falak dalam bab ini dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai berbagai masalah yang cukup banyak, tetapi bukan termasuk ke dalam pembahasan kita sekarang ini.
Tujuan kita hanyalah untuk menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala:

telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
(Nuh: 15-16)

Yaitu Allah subhanahu wa ta’ala membedakan cahaya keduanya, dan menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai tanda untuk mengetahui malam dan siang hari melalui terbit dan tenggelamnya matahari.
Allah telah menetapkan pula garis-garis edar dan manzilah-manzilah bagi bulan serta mengubah-ubah cahayanya.
Adakalanya cahayanya bertambah hingga sempurna, kemudian menurun (berkurang) hingga lenyap tersembunyi; hal ini untuk mengetahui perjalanan bulan dan tahun, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.
Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
(Yunus: 5)


Informasi Surah Nuh (نوح)
Surat ini terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An Nahl.

Dinamakan dengan surat “Nuh” karena surat ini seluruhnya menjelaskan da’wah dan do’a Nabi Nuh ‘alaihis salam

Keimanan:

Ajakan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah s.w. t. serta bertobat kepada-Nya
perintah memperhatikan kejadian alam semesta,
dan kejadian manusia yang merupakan manifestasi kebesaran Allah
siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi kaum Nuh yang tetap kafir
do’a Nabi Nuh a.s.

Ayat-ayat dalam Surah Nuh (28 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Nuh (71) ayat 16 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Nuh (71) ayat 16 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Nuh (71) ayat 16 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Nuh - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 28 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 71:16
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Nuh.

Surah Nuh (bahasa Arab:نوح, "Nuh") adalah surah ke-71 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya.

Nomor Surah71
Nama SurahNuh
Arabنوح
ArtiNabi Nuh
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu71
JuzJuz 28
Jumlah ruku'2 ruku'
Jumlah ayat28
Jumlah kata227
Jumlah huruf965
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma’arij
Surah selanjutnyaSurah Al-Jinn
4.8
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ pengertian surah nuh ▪ qs nuh 16 ▪ q s nuh 16 ▪ surah nuh 16

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta