QS. Muhammad (Nabi Muhammad) – surah 47 ayat 4 [QS. 47:4]

فَاِذَا لَقِیۡتُمُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ وَ اِمَّا فِدَآءً حَتّٰی تَضَعَ الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ
Fa-idza laqiitumul-ladziina kafaruu fadharbarriqaabi hatta idzaa atskhantumuuhum fasyudduul watsaaqa fa-immaa mannan ba’du wa-immaa fidaa-an hatta tadha’al harbu auzaarahaa dzalika walau yasyaa-ullahu laantashara minhum walakin liyabluwa ba’dhakum biba’dhin waal-ladziina qutiluu fii sabiilillahi falan yudhilla a’maalahum;

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.
Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir.
Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.
Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
―QS. 47:4
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
47:4, 47 4, 47-4, Muhammad 4, Muhammad 4, Muhamad 4

Tafsir surah Muhammad (47) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Muhammad (47) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan kepada kaum Muslimin cara menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan.
Mereka harus mencurahkan segala kesanggupan dan kemampuan untuk menghancurkan musuh.
Hendaklah mengutamakan kemenangan yang akan dicapai pada setiap medan pertempuran dan jangan mengutamakan penawanan musuh dan perebutan harta rampasan.
Penawanan dilakukan setelah mereka dikalahkan, karena orang-orang kafir itu setiap saat berkeinginan membunuh dan menghancurkan kaum Muslimin dan mereka tidak dapat dipercaya.
Mereka berpura-pura ingin berdamai, tetapi hati dan keyakinan mereka tetap ingin menghancurkan agama Islam dan pengikutnya pada setiap kesempatan yang mungkin mereka miliki.
Setelah perang selesai dengan kemenangan di tangan kaum Muslimin, mereka boleh memilih salah satu dari dua hal, yaitu apakah akan membebaskan tawanan yang telah ditawan atau membebaskannya dengan membayar tebusan oleh pihak musuh atau dengan cara pertukaran tawanan.
Dalam ayat lain diterangkan bahwa batas kaum Muslimin harus berhenti memerangi orang-orang kafir Mekah itu adalah sampai tidak ada lagi fitnah.
Allah berfirman:

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.
Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 193)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Tatkala jumlah kaum Muslimin bertambah banyak dan kekuatannya semakin bertambah pula, Allah menurunkan ayat ini, dan Rasulullah bertindak menghadapi tawanan sesuai dengan ayat ini, begitu pula para khalifah yang datang sesudahnya.” Dari ayat di atas dan perkataan Ibnu ‘Abbas dapat dipahami hal-hal sebagai berikut:

1.
Ayat ini diturunkan setelah Perang Badar karena pada saat peperangan itu Rasulullah ﷺ lebih mengutamakan tebusan, seperti menebus dengan harta atau dengan menyuruh tawanan mengajarkan tulis baca kepada kaum Muslimin, sehingga Rasul mendapat teguran dari Allah.

2.
Ayat ini merupakan pegangan bagi Rasulullah dan para sahabat dalam menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan peperangan dan tawanan perang.

3.
Perintah membunuh orang-orang kafir dalam ayat ini dilakukan dalam peperangan, bukan di luar peperangan.
Oleh karena itu, wajar jika Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin membunuh musuh-musuh mereka dalam peperangan yang sedang berkecamuk karena musuh sendiri bertindak demikian pula terhadap mereka.
Jika Allah tidak memerintahkan demikian, tentu kaum Muslimin ragu-ragu menghadapi musuh yang akan membunuh mereka sehingga musuh berkesempatan menghancurkan mereka.

4.
Allah tidak memerintahkan kaum Muslimin membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka temui, tetapi Allah hanya memerintahkan kaum Muslimin memerangi orang-orang kafir yang bermaksud merusak, memfitnah, dan menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Terhadap orang kafir yang bersikap baik terhadap agama Islam dan kaum Muslimin, kaum Muslimin wajib bersikap baik pula terhadap mereka.

Allah berfirman:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu, orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain)untuk mengusirmu.
Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.

(Q.S. Al-Mumtahanah [60]: 8-9)

5.
Kepala negara mempunyai peranan dalam mengambil keputusan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan peperangan dan tawanan perang.
Ia harus mendasarkan keputusannya kepada kepentingan agama, kaum Muslimin dan kemanusiaan serta kemaslahatan pada umumnya.
Memaksa tawanan masuk agama Islam tidak dibolehkan karena tindakan itu bertentangan dengan firman Allah yang melarang kaum Muslimin memaksa orang lain memeluk agama Islam.

Allah berfirman:

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.
Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.
Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 256)

Membunuh tawanan bagi kaum Muslimin tentu ada dasarnya.
Tawanan yang dibunuh itu bukan tawanan biasa, tetapi merupakan penjahat perang yang telah banyak melakukan perbuatan mungkar.
Bila ia hidup, maka kejahatannya dalam peperangan akan terus berlanjut dalam waktu lama.
Menjadikan tawanan sebagai budak adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia sebelum kedatangan Islam.
Setelah datang agama Islam, maka musuh-musuh Islam menjadikan kaum Muslimin yang mereka tawan menjadi budak.

Pada dasarnya perbudakan itu dilarang oleh agama Islam, tetapi sebagai balasan dari tindakan orang kafir dan untuk menjaga perasaan kaum Muslimin, maka Rasulullah ﷺ membolehkan kaum Muslimin menjadikan orang-orang kafir yang ditawannya sebagai budak.
Hal ini berarti jika orang-orang kafir tidak menjadikan kaum Muslimin yang ditawannya menjadi budak, tentulah kaum Muslimin tidak boleh menjadikan orang-orang kafir yang ditawannya menjadi budak.
Meskipun terjadi perbudakan karena adanya tawanan perang, maka dalam agama Islam banyak ketentuan hukum yang dihubungkan dengan upaya memerdekakan budak yang disebut dengan kaffarat.
Agama Islam adalah agama perdamaian, bukan agama yang menganjurkan peperangan.
Jika dalam sejarah Islam terdapat peperangan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, maka peperangan itu terjadi karena mempertahankan agama Islam yang hendak dihapuskan orang-orang kafir, di samping mempertahankan diri dari kehancuran.

Sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi rasul, sejak itu pula timbul permusuhan dari orang-orang musyrik Mekah kepada beliau dan pengikut-pengikutnya.
Berbagai cara yang mereka lakukan untuk menumpas agama Islam dan kaum Muslimin, mulai dari cara yang lunak sampai kepada yang paling keras.
Puncak dari tindakan orang musyrik Mekah itu ialah berkomplot untuk membunuh Rasulullah ﷺ sehingga Allah memerintahkan beliau hijrah ke Medinah.
Setelah Rasulullah ﷺ berada di Medinah permusuhan itu semakin keras, sehingga kaum Muslimin terpaksa memerangi mereka untuk mempertahankan agama dan diri mereka.
Sesampainya Rasulullah ﷺ di Medinah, perjanjian damai dengan penduduk kota itu, yang antara lain adalah orang-orang Yahudi, ditandatangani, tetapi perjanjian damai itu dilanggar oleh mereka.
Bahkan mereka melakukan percobaan untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ.
Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ terpaksa memerangi orang Yahudi di Medinah.
Sangat banyak contoh yang dapat dikemukakan yang membuktikan bahwa agama Islam tidak disebarkan melalui peperangan, tetapi melalui dakwah yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.
Terhadap tawanan perang, sikap Rasulullah ﷺ baik sekali.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari diterangkan sikap beliau.
Abu Hurairah berkata, “Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukan berkuda ke Nejed, maka pasukan berkuda itu menawan seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama sumamah bin Utsal, ia diikat pada salah satu tiang masjid.
Maka Rasulullah ﷺ datang kepadanya, lalu berkata, ‘Apa yang engkau punyai ya sumamah?
sumamah menjawab, ‘Aku mempunyai harta, jika engkau mau membunuhku, lakukanlah, dan jika engkau mau membebaskanku maka aku berterima kasih kepadamu, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah berapa engkau mau.
Esok harinya Rasulullah ﷺ pun berkata kepadanya, ‘Apakah yang engkau punya ya sumamah?
Ia menjawab, ‘Aku mempunyai apa yang telah kukatakan kepadamu.
Rasulullah ﷺ berkata, ‘Lepaskanlah ikatan sumamah.
Maka sumamah pergi ke dekat pohon kurma yang berada di dekat masjid, lalu mandi kemudian ia masuk ke masjid, lalu menyatakan, ‘Aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasul-Nya.
Demi Allah, dahulu tidak ada orang yang paling aku benci di dunia ini selain engkau, sekarang jadilah engkau orang yang paling aku cintai.
Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agama engkau, maka jadilah sekarang agama engkau adalah agama yang paling aku cintai.
Demi Allah, dahulu negeri yang paling aku benci adalah negerimu, sekarang jadilah negerimu negeri yang paling aku cintai.
Sesungguhnya pasukan berkuda telah menangkapku, sedang aku bermaksud umrah, apa pendapatmu?
Maka Rasulullah memberi kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya melakukan umrah.
Tatkala ia sampai di Mekah, seseorang mengatakan kepadanya, ‘Engkau merasa rindu?
sumamah menjawab, ‘Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad ﷺ.”

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa Rasulullah ﷺ bersikap lemah-lembut kepada sumamah, seorang tawanan perang.
Beliau memberi kebebasan kepadanya, sehingga ia tertarik kepada Rasulullah ﷺ dan agama Islam, karena itu dia menyatakan dirinya masuk Islam.
Seandainya Rasulullah bersikap kasar kepadanya, tentulah sumamah tidak akan mengatakan pernyataan tersebut di dalam hadis itu.
Ia akan menyimpan dendam kepada Rasulullah ﷺ dan pada setiap kesempatan ia akan berusaha membalaskan dendamnya itu.
Agama Islam datang untuk menegakkan prinsip-prinsip yang harus ada dalam hidup dan kehidupan manusia, baik ia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial.

Di antara prinsip-prinsip itu ialah ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, dan musyawarah.
Dengan menegakkan prinsip-prinsip itu manusia akan berhasil dalam tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.
Atas dasar semuanya itulah segala persoalan diselesaikan, termasuk persoalan peperangan dan tawanan perang.
Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan balasan apa yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan mengatakan, “Bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah untuk membela agama Islam, sekali-kali Allah tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun, bahkan dia akan membalasnya dengan pahala yang berlipat-ganda.
Mengenai pahala berjihad di jalan Allah disebutkan dalam suatu hadis sebagai berikut:

Diriwayatkan al-Miqdam bin Ma’diyakrib, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang mati syahid itu memperoleh sembilan hal-atau sepuluh, yaitu akan diampuni pada saat darahnya pertama kali mengalir, melihat tempat tinggalnya di surga, dihiasi dengan perhiasan iman, dihindarkan dari azab kubur, dinikahkan dengan bidadari, memperoleh keamanan pada saat hari ketakutan yang besar (hari Kiamat), di atas kepalanya diletakkan mahkota kemuliaan dari bahan permata yang lebih baik dari pada dunia dan isinya, dinikahkan dengan 92 istri dari golongan bidadari, dan diberi hak syafaat bagi 70 orang kerabatnya.”
(Riwayat ath-thabrani)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang, pancunglah batang leher mereka.
Apabila kalian berhasil melemahkan dan mengalahkan mereka dengan banyak membunuh pasukan mereka, tawanlah mereka.
Sesudah perang, kalian boleh membebaskan mereka tanpa tebusan apapun atau meminta harta atau tawanan kaum Muslimin sebagai tebusan.
Hendaknya seperti itulah sikap kalian terhadap orang-orang kafir sampai perang berakhir.
Begitulah ketentuan Allah yang berlaku untuk mereka.
Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan memenangkan kaum Muslimin tanpa melalui perang.
Tetapi, karena Allah ingin menguji orang-orang Mukmin melalui orang-orang kafir, Dia menetapkan jihad.
Orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, amal perbuatannya tidak akan disia-siakan oleh Allah.[1] Mereka akan diberi petunjuk, keadaan mereka akan diperbaiki, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang telah diperkenalkan kepada mereka.

[1] Dalam ayat yang berbicara mengenai perintah membunuh ini digunakan kata riqab yang berarti ‘batang leher’, karena cara membunuh yang paling cepat dan tidak menyakitkan adalah dengan memenggal leher.
Secara ilmiah telah terbukti bahwa leher merupakan jaringan penghubung antara kepala dan seluruh organ tubuh.
Maka, apabila jaringan urat saraf manusia terputus, semua fungsi utama organ tubuh akan melemah.
Dan apabila jaringan urat nadi telah putus, maka darah akan berhenti dan tidak dapat memberi makan ke otak.
Begitu pula, apabila saluran pernapasan telah putus, maka manusia tidak lagi dapat bernapas.
Dalam kondisi seperti ini manusia akan cepat mati.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang maka pancunglah batang leher mereka) lafal Dharbur Riqaab adalah bentuk Mashdar yang menggantikan kedudukan Fi’ilnya, karena asalnya adalah, Fadhribuu Riqaabahum artinya, maka pancunglah batang leher mereka.

Maksudnya, bunuhlah mereka.

Di sini diungkapkan dengan kalimat Dharbur Riqaab yang artinya memancung leher, karena pukulan yang mematikan itu kebanyakan dilakukan dengan cara memukul atau memancung batang leher.

(Sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka) artinya kalian telah banyak membunuh mereka (maka kencangkanlah) tangkaplah dan tawanlah mereka lalu ikatlah mereka (ikatan mereka) dengan tali pengikat tawanan perang (dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka) lafal Mannan adalah bentuk Mashdar yang menggantikan kedudukan Fi’ilnya, maksudnya, kalian memberikan anugerah kepada mereka, yaitu dengan cara melepaskan mereka tanpa imbalan apa-apa (atau menerima tebusan) artinya, kalian meminta tebusan berupa harta atau tukaran dengan kaum muslimin yang ditawan oleh mereka (sampai perang meletakkan) maksudnya, orang-orang yang terlibat di dalam peperangan itu meletakkan (senjatanya) artinya, menghentikan adu senjata dan adu lain-lainnya, misalnya orang-orang kafir menyerah kalah atau mereka menandatangani perjanjian gencatan senjata, hal inilah akhir dari suatu peperangan dan saling tawan-menawan.

(Demikianlah) menjadi Khabar dari Mubtada yang diperkirakan keberadaannya, yaitu perkara tentang menghadapi orang-orang kafir adalah sebagaimana yang telah disebutkan tadi (apabila Allah menghendaki niscaya Allah dapat menang atas mereka) tanpa melalui peperangan lagi (tetapi) Dia memerintahkan kalian supaya berperang (untuk menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain) di antara mereka dalam peperangan itu, sebagian orang yang gugur di antara kalian ada yang dimasukkan ke dalam surga, dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam neraka.

(Dan orang-orang yang gugur) menurut suatu qiraat dibaca Qaataluu dan seterusnya, ayat ini diturunkan pada waktu perang Uhud, karena banyak di antara pasukan kaum muslimin yang gugur dan mengalami luka-luka (di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan) maksudnya, tidak akan menghapuskan (amal mereka.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada orang-orang mukmin tentang apa yang harus mereka pegang dalam peperangan mereka menghadapi orang-orang musyrik.

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Yakni apabila kamu berhadapan dengan mereka di medan perang, maka tunailah mereka dengan pedang, yakni babatlah leher mereka dengan pedang.

Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Maksudnya, kamu lumpuhkan mereka dan kamu bunuh sebagian dari mereka.

maka tawanlah mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Yaitu jadikanlah mereka orang-orang yang kamu tawan sebagai tawanan perang.
Kemudian sesudah,perang usai, kamu boleh memilih untuk menentukan nasib mereka.
Jika kamu suka, kamu boleh membebaskan mereka dengan cuma-cuma atau dengan tebusan yang kamu terima dari mereka sesuai dengan apa yang kamu persyaratkan terhadap mereka.
Makna lahiriah ayat menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan sesudah Perang Badar.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menegur sikap kaum mukmin yang lebih suka memperbanyak tawanan dengan tujuan agar mendapat tebusan yang banyak dari mereka dan mempersedikit hukuman mati.
Sehubungan dengan peristiwa tersebut Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.
Kamu menghendaki harta duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).
Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah berlalu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu terima.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 67-68)

Tetapi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ayat yang mempersilakan Nabi ﷺ boleh memilih antara menerima tebusan dari tawanan atau membebaskan mereka dengan cuma-cuma, telah di-mansukh oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka.
(Q.S. At-Taubah [9]: 5).
hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a., Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, dan Ibnu Juraij, juga ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini tidak di-mansukh.
Kemudian sebagian dari mereka mengatakan bahwa sesungguhnya imam hanya dibolehkan memilih antara membebaskan tawanan dan menerima tebusannya, tidak diperbolehkan baginya menghukum mati tawanan.
Sebagian yang lain dari mereka mengatakan bahwa bahkan diperbolehkan bagi imam membunuh tawanannya karena ada hadis yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ membunuh An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu’it tawanan Perang Badar.
Dan Sumamah ibnu Asal berkata kepada Rasulullah ﷺ saat beliau mengatakan kepadanya, “Apakah yang kamu punyai, hai Sumamah?”
Maka Sumamah menjawab, “Jika engkau menghukum mati, berarti engkau membunuh orang yang masih ada ikatan keluarganya denganmu.
Dan jika engkau membebaskan, berarti engkau akan membebaskan orang yang akan berterima kasih kepadamu.
Jika engkau menginginkan harta (tebusan), mintalah sesukamu, maka aku akan memberinya.”

Imam Syafii rahimahullah telah mengatakan bahwa imam boleh memilih antara menghukum mati, atau membebaskannya dengan cuma-cuma atau dengan tebusan atau dengan memperbudaknya.
Masalah ini diterangkan di dalam kitab-kitab ftqih yang telah kami kemukakan keterangan mengenainya di dalam kitab kami Al-Ahkam.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sampai perang berhenti.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sampai Isa putra Maryam ‘alaihis salam diturunkan, seakan-akan takwil ini disimpulkan dari sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:

Masih akan tetap ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan perkara yang hak hingga orang yang terakhir dari mereka memerangi Dajjal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Ibrahim ibnu Sulaiman, dari Al-Walid ibnu Abdur Rahman Al-Jarasyi, dari Jubair ibnu Nafir yang mengatakan bahwa sesungguhnya Salamah ibnu Nufail pernah menceritakan kepada mereka bahwa ia datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah melepaskan kudaku dan kuletakkan senjataku serta perang telah berhenti.” Dan aku mengatakan kepada beliau ﷺ, “Sekarang tidak ada perang lagi.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Sekarang peperangan akan datang, masih akan tetap ada segolongan dari umatku yang berjuang melawan orang lain; Allah menyesatkan hati banyak kaum, maka mereka memeranginya, dan Allah memberinya rezeki dari mereka, hingga datanglah perintah Allah (hari kiamat), sedangkan segolongan dari umatku itu tetap dalam keadaan berjuang.
Ingatlah, sesungguhnya kekuasaan negeri kaum mukmin berada di negeri Syam.
Dan kuda itu (yakni peralatan perang) pada ubun-ubunnya terikat kebaikan sampai hari kiamat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui dua jalur, dari Jubair ibnu Nafir, dari Salamah ibnu Nafil As-Sukuni dengan sanad yang sama.

Abul Qasim Al-Bagawi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, dari Jubair ibnu Muhammad ibnu Muhajir, dari Al-Walid ibnu Abdur Rahman Al-Jarasyi, dari Jubair ibnu Nafir, dari An-Nuwwas ibnu Sam’an r.a.
yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ beroleh suatu kemenangan, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kuda-kuda perang telah dilepaskan, dan semua senjata telah diletakkan serta peperangan telah berhenti.” Mereka mengatakan pula, “Tidak ada peperangan lagi.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Mereka dusta, sekarang peperangan akan datang lagi; Allah masih terus-menerus menyesatkan hati kaum, maka mereka memeranginya, dan Allah memberi rezeki kepada mereka darinya, hingga datanglah perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian (berjuang), dan kekuasaan negeri kaum muslim berada di Syam.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Daud ibnu Rasyid dengan sanad yang sama.
Menurut riwayat yang terkenal, hadis ini diriwayatkan melalui Salamah ibnu Nufail seperti yang telah disebutkan di atas.
Dan hadis ini memperkuat pendapat yang mengatakan tidak ada pe-nasikh-an.
Seakan-akan ketentuan hukum ini disyariatkan dalam kondisi perang, hingga perang tiada lagi.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: sampai perang berhenti.
(Q.S. Muhammad [47]: 4) Yakni hingga tiada kemusyrikan lagi.
Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 39)

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hingga para penyerang -yakni orang-orang musyrik itu- meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa mereka, yaitu bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memeluk agama-Nya.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang terlibat dalam perang itu meletakkan senjatanya dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Yakni hal itu seandainya Allah menghendaki, bisa saja Dia membalas orang-orang kafir dengan hukuman dan pembalasan dari sisi-Nya.

tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Akan tetapi, Allah memerintahkan kepada kalian untuk berjihad dan memerangi musuh, untuk menguji dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal ikhwal kalian.
Seperti yang disebutkan di dalam surat Ali Imran dan At-Taubah perihal hikmah disyariatkan-Nya jihad, juga diterangkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 142)

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman di dalam surat At-Taubah:

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin.
Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya.
Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
(Q.S. At-Taubah [9]: 14-15)

Mengingat peperangan itu memakan korban yang banyak, dan banyak dari kaum mukmin yang gugur di dalamnya, maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 4)

Yakni tidak akan menghapusnya, bahkan memperbanyak dan mengembangkannya serta melipatgandakannya.
Di antara mereka ada yang pahala amalnya terus mengalir kepadanya selama dalam alam kuburnya, sebagaimana yang telah diterangkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya yang menyebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Yahya Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Sauban, dari ayahnya, dari Mak-hul, dari Kasir ibnu Murrah, dari Qais Al-Juzami -seorang lelaki yang berpredikat sahabat- yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Orang yang mati syahid dianugerahi enam perkara, yaitu pada permulaan tetes darahnya diampuni semua dosanya, dan dapat melihat kedudukannya kelak di dalam surga dan akan dikawinkan dengan bidadari yang bermata jeli, dan diselamatkan dari kegemparan yang dahsyat (hari kiamat) serta diselamatkan dari azab kubur dan dihiasi dengan keimanan yang menyelimuti dirinya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Khalid ibnu Ma’dan, dari Al-Miqdam ibnu Ma’di Kariba Al-Kindi r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya bagi orang yang mati syahid ada enam perkara di sisi Allah, yaitu mendapat ampunan pada permulaan tetesan darahnya, dan dapat melihat kedudukannya di surga, dan dianugerahi keimanan yang menyelimuti dirinya, dan dikawinkan dengan bidadari yang bermata jeli, dan diselamatkan dari azab kubur, dan diselamatkan dari kegemparan hari kiamat, dan dikenakan pada kepalanya mahkota keagungan yang dihiasi dengan intan dan yaqut, sebutir permata yaqut yang ada di mahkotanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan dikawinkan dengan dua orang wanita (penghuni bumi yang masuk surga) dan tujuh puluh bidadari yang bermata jeli, serta dapat memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini, dan Ibnu Majah menilainya sahih.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui sahabat Abdullah ibnu Amr, juga dari Abu Qatadah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Diampuni bagi seorang yang mati syahid segala sesuatunya kecuali masalah utang.

Imam Muslim telah meriwayatkan pula melalui hadis sejumlah sahabat hal yang semisal.
Abu Darda r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Orang yang mati syahid dapat memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan ahli baitnya (keluarganya).

Dan Imam Abu Daud telah meriwayatkan hal yang semisal.
Hadis-hadis yang menerangkan tentang keutamaan orang yang mati syahid banyak sekali.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Muhammad (47) Ayat 4

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa akhir ayat ini (Muhammad: 4) turun pada waktu Perang Uhud, saat Rasulullah berada di markas.
Pada waktu itu perang sedang berkecamuk dan banyak yang luka-luka serta gugur.
Kaum musyrikin berteriak: “A’laa hubal (keagungan bagi tuhan Hubal).” Kaum Muslimin berseru: “Allaahu a’laa wa ajal (Alah lebih Luhur dan Mulia).” Kaum musyrikin berkata: “Kami mempunyai al-‘Uzza, sedang kalian tidak mempunyai al-‘Uzza.” Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukannya untuk menyahut: Allaahu maulaanaa wa laa maulaakum (Allah pelindung kami , dan kamu tidak mempunyai pelindung).
Ayat ini (Muhammad: 4) mengemukakan jaminan pahala kepada orang yang berperang fisabilillah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Muhammad (47) Ayat 4

AWZAAR
أَوْزَار

Lafaz awzaar adalah jamak dari al wizr, artinya dosa, muatan yang berat, senjata, profesi, salah, beban. Awzaar al ­harb maknanya barangan-barangan perang dan alat-alatnya.

Ungkapan Wadaat al harb awzarha bermakna peperangan berakhir disebabkan kedua belah pihak yang berperang meletakkan senjata pada masa itu.

Kata awzaar disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 31;
-An Nahl (16), ayat 25;
-Tha Ha (20), ayat 87;
-Muhammad (47), ayat 4.

Makna lafaz awzaar dalam ayat Al Qur’an dapat diklasifikasikan kepada tiga makna.

Pertama, senjata atau beban-beban peperangan sebagaimana dalam surah Muhammad.

Mujahid berkata,
“Peperangan tetap berlanjut sehingga ‘Isa bin Maryam turun, seakan-akan ia mengambil kata-kata Rasulullah. “Satu golongan dari umatku tetap berada dalam kebenaran sehingga yang akhir dari mereka memerangi Dajjal.”

Qatadah berkata,
“Sehingga tidak ada lagi kesyirikan.”

Ulama lain berpendapat, “Sehingga orang yang memerangi umat Islam meletakkan beban dan senjata mereka supaya bertaubat kepada Allah.”

Asy Syawkani berkata,
Awzaar dalam ayat ini bermaksud beban-beban peperangan yang tidak berlaku perang kecuali dengannya, dari senjata dan kuda. Al wad’ disandarkan kepada orangnya adalah majaz atau kinayah.”

Diriwayatkan dari Al Hasan dan Ata’ keduanya berkata,
“Dalam ayat itu wujud taqdim dan ta’khir, maksudnya, “Maka pukullah leher-leher mereka sehingga orangnya meletakkan senjatanya.”

Kedua, bermakna beban dosa. Pengertian ini terdapat dalam surah Al An’aam dan An Nahl.

Asy Sabuni menafsirkan lafaz awzaar pada ayat ini, “mereka membawa beban dosa mereka di atas belakang mereka.”

Al Baidawi berkata,
“Ini adalah contoh bagi bentuk dosa yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan Ibn Katsir, mereka membawanya ke dalam neraka, seperti yang difahami dari riwayat yang lebih sahih dari Al Suddi’

Ketiga, bermakna perhiasan karena ia dikaitkan dengan min zinah. Makna ini terdapat dalam surah Tha Ha.

Al Qurtubi menafsirkannya dengan atsqaal (beban dan muatan) dari perhiasan dan mereka meminjamnya dari Fir’aun ketika keluar bersama Musa dan menggunakannya ketika hari perayaan atau perkawinan.

Ibn Qutaibah berkata,
“Ia bermakna ahmal (beban) dari perhiasan mereka.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:90-91

Informasi Surah Muhammad (محمد)
Surat Muhammad terdiri atas 38 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hadiid,

Nama “Muhammad” sebagai nama surat ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surat ini.

Pada ayat 1, 2 dan 3 surat ini Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang­ orang yang percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya.
Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa Muhammad ﷺ merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti jejak yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya.
Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad ﷺ adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterirna, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.

Dinamai juga dengan “Al Qital” (peperangan), karena sebahagian besar surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagairnana seharusnya sikap orang­orang mu’min terhadap orang-orang kafir.

Keimanan:

Orang yang mati syahid akan masuk surga
balasan-balasan yang disediakan di akhirat bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang durhaka
keesaan Allah.

Hukum:

Menumpas musuh pada permulaan peperangan (sebelum gejala-gejala kemenangan)
menawan mereka kalau telah kelihatan gejala-gejala kemenangan
membebaskan tawanan itu dengan menerima tebusan atau tidak.
Larangan mengajak damai apabila telah nyata kemenangan

Lain-lain:

Allah selalu memberi cobaan kepada orang-orang mu’min, untuk mengetahui siapa yang berjihad dan siapa yang sabar
kehidupan dunia adalah permainan belaka dan bahwa iman dan takwalah yang menghasilkan pahala
Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah Muhammad (38 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Muhammad (47) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Muhammad (47) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Muhammad (47) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Muhammad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 38 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 47:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Muhammad.

Surah Muhammad (Arab: محمّد‎) adalah surah ke-47 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 38 ayat.
Nama Muhammad sebagai nama surah ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surah ini.

Pada ayat 1, 2 dan 3 surah ini, Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya.
Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa oleh Muhammad S.A.W merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya.
Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad S.A.W adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterima, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.

Surah ini dinamakan juga dengan Al-Qital yang berarti Peperangan, karena sebagian besar surah ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

Nomor Surah 47
Nama Surah Muhammad
Arab محمد
Arti Nabi Muhammad
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 95
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 38
Jumlah kata 542
Jumlah huruf 2424
Surah sebelumnya Surah Al-Ahqaf
Surah selanjutnya Surah Al-Fath
4.4
Ratingmu: 4.6 (20 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/47-4







Pembahasan ▪ arti qs 47:4 ▪ surah 47:4 ▪ tajwid surat muhammad

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim