QS. Muhammad (Nabi Muhammad) – surah 47 ayat 15 [QS. 47:15]

مَثَلُ الۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ فِیۡہَاۤ اَنۡہٰرٌ مِّنۡ مَّآءٍ غَیۡرِ اٰسِنٍ ۚ وَ اَنۡہٰرٌ مِّنۡ لَّبَنٍ لَّمۡ یَتَغَیَّرۡ طَعۡمُہٗ ۚ وَ اَنۡہٰرٌ مِّنۡ خَمۡرٍ لَّذَّۃٍ لِّلشّٰرِبِیۡنَ ۬ۚ وَ اَنۡہٰرٌ مِّنۡ عَسَلٍ مُّصَفًّی ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ وَ مَغۡفِرَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ؕ کَمَنۡ ہُوَ خَالِدٌ فِی النَّارِ وَ سُقُوۡا مَآءً حَمِیۡمًا فَقَطَّعَ اَمۡعَآءَہُمۡ
Matsalul jannatillatii wu’idal muttaquuna fiihaa anhaarun min maa-in ghairi aasinin waanhaarun min labanin lam yataghai-yar tha’muhu waanhaarun min khamrin ladz-dzatin li-sysyaaribiina waanhaarun min ‘asalin mushaffan walahum fiihaa min kullits-tsamaraati wamaghfiratun min rabbihim kaman huwa khaalidun fiinnaari wasuquu maa-an hamiiman faqath-tha’a am’aa-ahum;

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?
―QS. 47:15
Topik ▪ Neraka ▪ Keabadian neraka ▪ Sifat neraka
47:15, 47 15, 47-15, Muhammad 15, Muhammad 15, Muhamad 15

Tafsir surah Muhammad (47) ayat 15

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Muhammad (47) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Tidak sama ganjaran yang akan diperoleh oleh orang yang beriman di akhirat dengan ganjaran yang akan diperoleh oleh orang yang tidak beriman.
Ayat ini melukiskan keadaan surga dan neraka dalam bentuk simbolis yang menarik sekali.

Di mulai dengan kata “perumpamaan”(matsalul jannati).

Pertama
“surga”,
dan “perumpamaan” kedua, “samakah” (kaman) yang dirangkum dalam nada tanya.
Kata az-Zamakhsyari (dalam al-Kasysyaf), ungkapan ini dalam bentuk afirmasi, tetapi hakikatnya penyangkalan, suatu negasi.
Sifat-sifat surga yang dijelaskan dalam ayat ini di antaranya: pertama, di dalamnya mengalir sungai yang banyak dan setiap sungai mempunyai air yang berbagai macam jenis dan rasanya serta enak diminum oleh para penghuni surga.
Di antara jenis air itu ialah:

1.
Ada yang airnya jernih lagi bersih, tidak dikotori oleh suatu apa pun.
Oleh karena itu, tidak akan berubah rasa, warna, dan baunya.

2.
Ada sungai yang mengalirkan air susu yang baik diminum.
Susu itu tetap baik dan enak, tidak akan berubah rasanya karena rusak atau busuk.

3.
Ada sungai yang mengalirkan khamar yang enak diminum, menyehatkan, dan menyegarkan tubuh dan perasaan peminumnya.
Tidak seperti khamar di dunia.
Sekali pun enak diminum oleh pecandunya, tetapi dapat merusak tubuh, akal, dan pikiran.
Oleh karena itu, khamar di surga halal diminum, sedangkan khamar di dunia haram.

4.
Ada sungai yang mengalirkan madu yang bersih, seperti madu yang telah disaring, enak, dan menyehatkan badan peminumnya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan lain-lain dari Mu’awiyah bin haidah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

“Di surga ada lautan susu, lautan air, lautan madu, dan lautan khamar, kemudian mengalirlah sungai-sungai dari lautan-lautan itu.”
(Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, dan lain-lain dari Mu’awiyah bin haidah)

Kedua, di dalam surga terdapat buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya, berbeda warna, bentuk, dan rasanya.
Semuanya merupakan makanan yang enak bagi setiap penghuni surga.
Ketiga, penduduk surga itu adalah orang-orang bersih dari segala noda dan dosa, karena mereka itu telah diampuni Allah Tuhan Yang Maha Penyayang, Pelindung mereka.
Kemudian Allah menerangkan keadaan orang-orang yang hidup dalam neraka.
Mereka meminum air yang sangat panas yang menghancurkan usus-ususnya dan api neraka yang membakar hangus muka mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Surga yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa memiliki sungai yang airnya tak pernah berubah, sungai susu yang rasanya tak pernah rusak, sungai khamar yang rasanya lezat saat diminum, dan sungai madu yang telah disaring.
Mereka akan memperoleh berbagai macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan.
Apakah surga mereka itu sama dengan balasan orang yang kekal di dalam neraka dan diberi minum dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?[1].

[1] Ayat di atas menjelaskan bahwa air yang tidak mengalir dan berubah adalah air yang membahayakan kesehatan.
Dengan demikian, ayat ini telah menjelaskan hal itu jauh beberapa abad sebelum ditemukannya mikroskop.
Kini, setelah ditemukan mikroskop, orang dapat mengetahui bahwa pada air yang tidak mengalir dan berubah terdapat jutaan bakteri yang dan virus yang membahayakan kesehatan manusia dan hewan melalui berbagai macam penyakit.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Perumpamaan) gambaran tentang (surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa) dan yang menjadi milik bersama bagi orang-orang yang memasukinya.

Lafal ayat ini menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya ialah (yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya) dapat dibaca Aasinin atau Asinin, jika dibaca Aasinin wazannya sama dengan lafal Dhaaribin, jika dibaca Asinin Wazannya sama dengan lafal Hadzirun.

Artinya, airnya tidak berubah atau tidak berbeda dengan air dunia yang dapat berubah karena ada sesuatu yang mencampurinya (sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya) berbeda dengan air susu di dunia, karena air susu di dunia keluar dari susu (sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya) sangat lezat rasanya (bagi peminumnya) berbeda halnya dengan khamar di dunia, khamar dunia rasanya tidak enak bila diminum (dan sungai-sungai dari madu yang disaring) berbeda dengan madu di dunia, karena madu di dunia keluar dari perut tawon kemudian bercampur dengan lilin dan lain sebagainya (dan mereka memperoleh di dalamnya) berbagai macam jenis (dari aneka ragam buah-buahan, dan ampunan dari Rabb mereka) Rabb mereka rela terhadap mereka di samping kebaikan-Nya yang terus melimpah bagi mereka tanpa henti-hentinya, yaitu berupa kenikmatan-kenikmatan yang telah disebutkan tadi.

Berbeda halnya dengan perihal seorang tuan atau pemilik hamba sahaya di dunia, karena sesungguhnya sekalipun majikan dari hamba sahaya itu berbuat baik kepadanya hal itu dibarengi dengan amarahnya, yakni terkadang sang majikan memarahinya (sama dengan orang yang kekal dalam neraka) lafal ayat ini menjadi Khabar dari Mubtada yang diperkirakan keberadaannya yakni, apakah orang yang berada dalam kenikmatan tersebut sama dengan orang yang kekal di dalam neraka (dan diberi minuman dengan air yang mendidih) yakni air yang sangat panas (sehingga memotong-motong ususnya?) artinya, minuman itu menghancurkan dan mencabik-cabik isi perutnya.

Lafal Am’aa adalah bentuk jamak dari lafal Mi’a, sedangkan huruf Alifnya adalah ganti dari huruf Ya, karena sebagian dari mereka ada yang mengatakan Mi’yaani.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(Apakah) perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Menurut Ikrimah, makna yang dimaksud ialah sifat-sifat surga.

yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Menurut Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah, makna yang dimaksud ialah airnya tidak berubah rasa dan baunya.

Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah tidak bau.

Orang-orang Arab mengatakan terhadap air yang berubah baunya dengan sebutan asin.
Di dalam hadis yang marfu’ yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, gairu asin artinya yang jernih dan tidak keruh.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud r.a.
telah mengatakan bahwa sungai-sungai di surga itu berhulu dari gunung minyak kesturi.

dan sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Bahkan warnanya sangat keruh dan rasanya sangat manis lagi berlemak Di dalam sebuah hadis marfu’ disebutkan:

Tidak dikeluarkan dari tetek hewan ternak.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Yakni bau dan rasanya tidak buruk seperti yang ada pada khamr di dunia melainkan warna, bau, rasa, dan pengaruhnya sangat baik.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tiada mabuk karena (meminum)nya.
(Q.S. As-Saffat [37]: 47)

mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 19)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang vanz minum.
(Q.S. As-Saffat [37]: 46)

Di dalam hadis Marfu’ disebutkan:

Tidak diperas dengan kaki-kaki kaum lelaki.

dan sungai-sungai dari madu yang disaring.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Yaitu sangat jernih, indah warnanya, rasanya, dan baunya.
Di dalam hadis yang marfu’ disebutkan:

yang bukan dikeluarkan dari perut lebah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Hakim ibnu Mu’awiyah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Di dalam surga terdapat sungai susu, sungai air, sungai madu, dan sungai khamr, kemudian semua sungai terbelah darinya sesudah itu.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya di dalam Sifatul Jannah, dari Muhammad ibnu Yasar, dari Yazid ibnu Harun, dari Sa’id ibnu Abu Iyas Al-Jariri, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnunNu’man, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Qais, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sungai-sungai ini mengalir dari surga ‘Adn dari mata air yang ada di dalamnya, kemudian terbelah menjadi banyak sungai sesudahnya.

Di dalam hadis sahih disebutkan:

Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus kepada-Nya, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi; darinya mengalir semua sungai di surga, dan di atasnya terdapat Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mus’ab ibnu Ibrahim ibnu Hamzah Az-Zubairi dan Abdullah ibnus Safar As-Sukari.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mugirah, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Iyasy, dari Dalham ibnul Aswad; dan Dalham menerima hadis ini pula dari Abul Aswad, dari Asim ibnu Laqit yang mengatakan bahwa sesungguhnya Laqit ibnu Amir berangkat sebagai delegasi kaumnya kepada Rasulullah ﷺ Aku (Laqit ibnu Amir) bertanya, “Wahai Rasulullah, pemandangan apakah yang akan kita lihat di dalam surga itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Sungai-sungai dari madu yang disaring, sungai-sungai dari khamr yang tidak memabukkan dan tidak pula membuat kecanduan, dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari air yang tiada berubah bau dan rasanya, dan berbagai macam buah-buahan, demi usia Tuhanmu, seperti yang pernah kalian ketahui, tetapi jauh lebih baik daripadanya, dan juga istri-istri yang disucikan.
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bagi kita ada istri-istri yang saleh di dalam surga?’ Rasulullah ﷺ menjawab: Istri-istri yang saleh untuk orang-orang yang saleh, kalian merasakan kenikmatan mereka sebagaimana kenikmatan kalian di dunia dan mereka pun merasakan kenikmatan dari kalian, hanya saja tiada beranak.

Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ubaid, dari Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Al-Jariri, dari Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari ayahnya, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang mengatakan, “Barangkali kalian mengira bahwa sungai-sungai surga itu mengalir di parit-parit sebagaimana di bumi.
Demi Allah, sesungguhnya sungai-sungai di surga itu benar-benar mengalir bebas di permukaan tanah; kedua sisinya adalah kubah-kubah dari mutiara dan tanahnya adalah minyak kesturi yang harum sekali.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih melalui hadis Mahdi ibnu Hakim, dari Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama secara marfu’.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Semakna dengan firman-Nya:

Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran).
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 55)

Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
(Q.S. Ar-Rahman [55]: 52)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan ampunan dari Tuhan mereka.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

selain dari semua kenikmatan surgawi itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sama dengan orang yang kekal dalam neraka.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Apakah mereka yang telah disebutkan kedudukan mereka di dalam surga sama dengan orang-orang yang kekal di dalam neraka?
Tentu saja tidak sama, orang yang berada di tingkat yang tinggi tidaklah sama dengan orang yang berada di dasar neraka.

dan diberi minum dengan air yang mendidih.
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Yakni air yang sangat panas yang panasnya tak terperikan.

sehingga memotong-motong ususnya?
(Q.S. Muhammad [47]: 15)

Yaitu menghancurleburkan semua isi perut dan usus yang bersangkutan.
Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka.


Kata Pilihan Dalam Surah Muhammad (47) Ayat 15

ASAL
عَسَل

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, berasal dari kata ‘asala. Jamaknya ‘a’sal, ‘usl, ‘usul, ‘usul dan ‘uslan, artinya air liur lebah atau disebut juga dengan madu.

‘Asal As sukkar berarti, gula cair atau sirap.

Syahr Al ‘asal bermakna bulan madu.

Disebut sekali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Muhammad (47), ayat 15. Allah berfirman,

وَأَنْهَٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّىۖ

Lafaz ‘asal dalam ayat ini dikaitkan dengan mushaffaa. Ia adalah sifat bagi madu dan anhar yang bermakna sungai-sungai. Mushaffaa berarti madu itu begitu bersih, baik warnanya, rasanya dan baunya, tidak keluar dari perut-perut lebah sehingga ia bercampur dengan lilin dan benda lainnya.

Allah menciptakan demikian karena ia tidak dimasak di atas api dan tidak dikotori oleh lebah itu.

Ayat ini adalah kenikmatan yang diperoleh oleh orang yang bertakwa di dalam syurga, di mana bagi mereka sungai yang mengalir di dalamnya madu.

Diriwayatkan oleh Hakim bin Mu’awiyah dari bapaknya, beliau berkata,
saya mendengar Rasulullah bersabda, “Di dalam syurga terdapat sungai susu, sungai air, sungai madu dan sungai khamar. Kemudian, terpancar dan terpecah darinya sungai-sungai.”

Kesimpulannya, lafaz ‘asal di dalam Al Qur’an bermakna madu yang diperuntukkan kepada penghuni syurga yang tidak keluar dari perut lebah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:385

Informasi Surah Muhammad (محمد)
Surat Muhammad terdiri atas 38 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hadiid,

Nama “Muhammad” sebagai nama surat ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surat ini.

Pada ayat 1, 2 dan 3 surat ini Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang­ orang yang percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya.
Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa Muhammad ﷺ merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti jejak yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya.
Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad ﷺ adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterirna, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.

Dinamai juga dengan “Al Qital” (peperangan), karena sebahagian besar surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagairnana seharusnya sikap orang­orang mu’min terhadap orang-orang kafir.

Keimanan:

Orang yang mati syahid akan masuk surga
balasan-balasan yang disediakan di akhirat bagi orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang durhaka
keesaan Allah.

Hukum:

Menumpas musuh pada permulaan peperangan (sebelum gejala-gejala kemenangan)
menawan mereka kalau telah kelihatan gejala-gejala kemenangan
membebaskan tawanan itu dengan menerima tebusan atau tidak.
Larangan mengajak damai apabila telah nyata kemenangan

Lain-lain:

Allah selalu memberi cobaan kepada orang-orang mu’min, untuk mengetahui siapa yang berjihad dan siapa yang sabar
kehidupan dunia adalah permainan belaka dan bahwa iman dan takwalah yang menghasilkan pahala
Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah Muhammad (38 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Muhammad (47) ayat 15 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Muhammad (47) ayat 15 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Muhammad (47) ayat 15 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Muhammad - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 38 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 47:15
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Muhammad.

Surah Muhammad (Arab: محمّد‎) adalah surah ke-47 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 38 ayat.
Nama Muhammad sebagai nama surah ini diambil dari perkataan Muhammad yang terdapat pada ayat 2 surah ini.

Pada ayat 1, 2 dan 3 surah ini, Allah membandingkan antara hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan hasil yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya.
Orang-orang yang percaya kepada apa yang dibawa oleh Muhammad S.A.W merekalah orang-orang yang beriman dan mengikuti yang hak, diterima Allah semua amalnya, diampuni segala kesalahannya.
Adapun orang-orang yang tidak percaya kepada Muhammad S.A.W adalah orang-orang yang mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterima, dosa mereka tidak diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.

Surah ini dinamakan juga dengan Al-Qital yang berarti Peperangan, karena sebagian besar surah ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

Nomor Surah 47
Nama Surah Muhammad
Arab محمد
Arti Nabi Muhammad
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 95
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 38
Jumlah kata 542
Jumlah huruf 2424
Surah sebelumnya Surah Al-Ahqaf
Surah selanjutnya Surah Al-Fath
4.9
Ratingmu: 4.9 (27 orang)
Sending







Pembahasan ▪ tafsir surah muhammad 15 ▪ doa dijauhkan dari kebatilan

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim