Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Maryam

Maryam (Maryam (Maria)) surah 19 ayat 82


کَلَّا ؕ سَیَکۡفُرُوۡنَ بِعِبَادَتِہِمۡ وَ یَکُوۡنُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ ضِدًّا
Kalaa sayakfuruuna bi’ibaadatihim wayakuunuuna ‘alaihim dhiddan;

sekali-kali tidak.
Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
―QS. 19:82
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan ▪ Keutamaan nabi Daud as.
19:82, 19 82, 19-82, Maryam 82, Maryam 82, Maryam 82
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Maryam (19) : 82. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menolak paham yang salah itu terutama mengenai pertolongan di akhirat nanti.
Berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu sekali-kali tidak akan dapat menolong mereka bahkan mereka akan mengingkari di hadapan Allah bahwa mereka disembah oleh orang-orang musyrik itu sebagai tersebut dalam firman Allah:

Apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata "Ya Tuhan kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau".
Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka "Sesungguhnya kamu benar-benar orang-orang yang berdusta".

(Q.S.
An Nahl: 86)

Dan firman-Nya:

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami".
Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka,

(Q.S.
Al Baqarah: 166-167)

Berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu bukan saja tidak dapat memberi syafaat kepada penyembah-penyembahnya dan berlepas diri dari mereka, tetapi juga menjadi musuh yang selalu melaknati mereka.
Beginilah nasib kaum musyrikin itu di akhirat nanti, tuhan-tuhan yang mereka persekutukan dengan Allah itu tidak dapat menghindarkan mereka dari azab yang disediakan Allah untuk mereka.
Mereka benar-benar merasakan bahwa mereka telah terjerumus ke dalam perangkap yang dipasang setan untuk mencelakakan mereka.

Maryam (19) ayat 82 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Maryam (19) ayat 82 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Maryam (19) ayat 82 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hendaknya mereka menghindari prasangka seperti itu.
Sebab, tuhan-tuhan itu kelak akan mengingkari penyembahan terhadap diri mereka.
Mereka justru akan menjadi musuh orang-orang musyrik yang menuntut agar mereka disiksa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sekali-kali tidak) tiada sesuatu pun yang dapat mencegah azab mereka.
(Kelak mereka itu akan mengingkari) yakni tuhan-tuhan sembahan mereka itu (penyembahan mereka) artinya mereka akan mengingkari penyembahan orang-orang yang mempertuhankan mereka, sebagaimana dijelaskan pula oleh ayat lain, yaitu firman-Nya, "Mereka sekali-kali tidak menyembah Kami..." (Q.S.
Al-Qashash, 63).
(dan tuhan-tuhan itu akan menjadi musuh bagi mereka) yakni berhala-berhala itu justru akan menjadi musuh orang-orang yang menyembahnya kelak di akhirat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Perkaranya bukan sebagaimana yang mereka sangka.
Sembahan-sembahan itu sama sekali tidak akan menjadi kekuatan bagi mereka, bahkan sembahan-sembahan itu di akhirat akan mengingkari penyembahan mereka kepadanya, dan sembahan-sembahan itu akan menjadi musuh dalam membantah dan mendustakan mereka, berbeda dengan apa yang mereka duga selama ini.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan perihal orang-orang kafir yang musyrik terhadap Tuhan mereka, bahwa mereka menjadikan sembahan-sembahan selain dari Allah sebagai tuhan-tuhan mereka.
Yang dengan tuhan-tuhan itu mereka membanggakan dirinya dan meminta pertolongan kepadanya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan bahwa duduk perkaranya tidaklah seperti apa yang mereka duga, bahkan apa yang mereka harapkan itu tidak ada sama sekali dan kosong belaka.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

...sekali-kali tidak.
Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya.

Yakni kelak di hari kiamat akan terjadi pengingkaran itu.

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.

Yaitu bersikap berbeda dengan apa yang didugakan oleh mereka terhadap sembahan-sembahannya.
Pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
(Al Ahqaaf:5-6)

Abu Nuhaik membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
artinya: Masing-masing dari sembahan mereka akan mengingkari penyembahan mereka.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...Sekali-kali tidak.
Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya.

Yakni berhala-berhala sembahan mereka akan mengingkari penyembahan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.

Yaitu bersikap berbeda dengan apa yang diharap-harapkan oleh mereka dari sembahan-sembahannya.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.

Bahwa makna diddan ialah a'wanan, yakni menjadi teman-teman mereka.

Mujahid mengatakan bahwa sembahan-sembahan itu kelak di hari kiamat akan menjadi lawan mereka yang mendebat dan mendustakan pemujaan-pemujaan mereka terhadapnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
Bahwa yang dimaksud dengan diddan ialah teman-teman,

Qatadah mengatakan bahwa sembahan-sembahan itu akan menjadi teman-teman mereka di dalam neraka, sebagian dari mereka melaknat dan mengingkari sebagian yang lainnya.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
Bahwa sembahan-sembahan itu kelak di hari kiamat akan menjadi musuh-musuh mereka yang sangat sengit.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.
Bahwa sembahan-sembahan itu kelak akan menjadi musuh mereka.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa ad-diddu artinya malapetaka.

Ikrimah mengatakan bahwa ad-diddu artinya penyesalan.

Kata Pilihan Dalam Surah Maryam (19) Ayat 82

DHIDD
ضِدّ

Arti lafaz dhid adalah lawan atau musuh yang mahu mengalahkan yang lainnya. Contohnya, hitam lawan (dhid) dari putih, malam lawan (dhid) dari siang. Apabila salah satu daripada dua perkara itu wujud, yang lainnya kalah ataupun hilang.

Lafaz dhid disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Maryam (19), ayat 82. Ayat itu dan ayat sebelumnya menceritakan alasan orang kafir menyembah makhluk selain dari Allah sebagai tuhan­tuhan supaya benda-benda yang disembah itu dapat menjadi penolong-penolong yang memberi kemuliaan dan pengaruh kepada mereka. Namun, anggapan mereka itu salah karena di akhirat nanti, makhluk yang disembah itu mengingkari perbuatan mereka, malah menjadi lawan yang memusuhi mereka

Imam Ibn Katsir menyenaraikan beberapa penafsiran mengenainya ini. Diantara makhluk yang mereka sembah itu akan memusuhi, mendustakan mereka dan mereka saling melaknat dan mengingkari. Keadaan ini jauh berbeda dengan apa yang mereka harapkan sewaktu di dunia, di mana mereka mengharapkan penolong dan penyelamat.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:329

Informasi Surah Maryam (مريم)
Surat Maryam terdiri atas 98 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, karena ham­pir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, bahkan se­belum sahabat-sahabat beliau hijrah ke negeri Habsyi.

Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan surat Maryam ini kepada raja Najasyi dan pengikut-pengikut­nya diwaktu ia ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri Habsyi.

Surat ini dinamai "Maryam",
karena surat ini mengandung kisah Maryam, ibu Nabi Isa 'alaihis salam yang serba ajaib, yaitu melahirkan puteranya Isa 'alaihis salam, sedang ia sebelumnya belum pernah dika­wini atau dicampuri oleh seorang laki-laki pun.
Kelahiran Isa 'alaihis salam tanpa Bapak merupakan suatu bukti kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu dikabulkan­ nya do'a Zakariya 'alaihis salamoleh Allahsubhanahu wa ta'ala agar beliau dianugerahi seorang putera sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita dan kepercayaan beliau, sedang usia beliau sudah sangat tua dan isteri beliau seorang yang mandul, yang menurut ukuran ilmu biologi tidak mungkin akan terjadi.

Keimanan:

Allah berbuat sesuatu menurut yang dikehendaki-Nya, kendatipun menyimpang dari hukum-hukum alam
Isa a.s. bukan anak Allah karena mustahil Allah mem­ punyai anak
Jibril a.s. turun kepada rasul-rasul membawa wahyu atas perintah Allah
di hari kiamat orang kafir menghadap Allah sendiri-sendiri semua manusia akan menghadap Tuhan sebagai hamba.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Allah mengabulkan do'a Zakariya a.s.untuk memperoleh anak, sekalipun usia be­ liau sudah sangat tua dan isteri beliau seorang yang mandul
kisah kelahiran Isa a.s. tanpa bapak
kisah Ibrahim a.s. dengan bapaknya
Musa a.s. seorang yang dipilih oleh Allah
Ismail a.s. seorang yang benar dalam janjinya
Idris a.s. seorang yang sangat kuat kepercayaannya.

Lain-lain:

Ancaman terhadap orang yang meninggalkan shalat dan mengikuti hawa nafsunya serta kabar gembira untuk orang-orang yang telah taubat dan mengerjakan amal-amal yang saleh
keadaan di surga
membiarkan orang yang sesat setelah diberi petunjuk bergelimang dalam kesesatannya adalah sunnah Allah.


Gambar Kutipan Surah Maryam Ayat 82 *beta

Surah Maryam Ayat 82



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Maryam

Surah Maryam (Arab: مريم‎, Maryam, "Maryam") adalah surah ke-19 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 98 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah karena hampir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, bahkan sebelum sahabat-sahabat dia hijrah ke negeri Habsyi.
Menurut riwayat Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan surah Maryam ini kepada raja Najasyi dan pengikut-pengikutnya di waktu ia ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri Habsyi.

Surah ini dinamai Maryam, karena surat ini mengandung kisah Maryam (atau Maria dalam agama Kristen), ibu dari Nabi Isa AS.
Surah ini menceritakan kelahiran yang ajaib, di mana Ia melahirkan Isa AS sedang ia sebelumnya belum pernah digauli oleh seorang laki-laki.
Kelahiran Isa AS tanpa ayah, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala.
Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surah ini, diawali dengan kisah kejadian ajaib lainnya, yaitu dikabulkannya doa nabi Zakaria AS oleh Allah subhanahu wa ta'ala, di mana ia ingin dianugerahi seorang putra sebagai pewaris dan penerus cita-cita dan kepercayaannya, sedang usianya sudah sangat tua dan istrinya adalah wanita yang mandul.

Nomor Surah19
Nama SurahMaryam
Arabمريم
ArtiMaryam (Maria)
Nama lainKaf, Ha, Ya, ‘Ain, Shad (کهیعص), Ka-ha
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu44
JuzJuz 16
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat98
Jumlah kata972
Jumlah huruf3935
Surah sebelumnyaSurah Al-Kahf
Surah selanjutnyaSurah Ta Ha
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (15 votes)
Sending