QS. Luqman (Keluarga Luqman) – surah 31 ayat 18 [QS. 31:18]

وَ لَا تُصَعِّرۡ خَدَّکَ لِلنَّاسِ وَ لَا تَمۡشِ فِی الۡاَرۡضِ مَرَحًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرٍ
Walaa tusha’iir khaddaka li-nnaasi walaa tamsyi fiil ardhi marahan innallaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurin;

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
―QS. 31:18
Topik ▪ Sifat neraka
31:18, 31 18, 31-18, Luqman 18, Luqman 18, Lukman 18

Tafsir surah Luqman (31) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Luqman (31) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, yaitu dengan:

1.
Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, suka membangga-banggakan diri dan memandang rendah orang lain.
Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah:

a.
Bila berjalan dan bertemu dengan temannya atau orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah kepada orang yang berselisih jalan dengannya.

b.
Ia berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan di jalan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat.
Dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda:

Janganlah kamu berbenci-bencian, janganlah kamu belakang membelakangi dan janganlah kamu berdengki-dengkian dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.
Tidak boleh bagi seorang muslim memencilkan (tidak berbaik) dengan temannya lebih dari tiga hari.

2.
Hendaklah sederhana waktu berjalan, lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.
Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong itu dilarang Allah karena pembicaraan yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga, seperti tidak enaknya suara keledai.

Yahya bin Jabir At Ta’i meriwayatkan dari Gudaif bin Haris, ia berkata: “Aku duduk dekat Abdullah bin Amr bin Al `asi, maka aku mendengar ia berkata: “Sesungguhnya kubur itu akan berbicara dengan orang yang dikuburkan di dalamnya, ia berkata: “Hai anak Adam apakah yang telah memperdayakan engkau, sehingga engkau masuk ke dalam liangku?
Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah tempat engkau berada sendirian?
Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku tempat yang gelap?
Tidakkah engkau mengetahui bahwa aku rumah kebenaran?
Apakah yang memperdayakan engkau sehingga engkau masuk ke dalam liangku?
Sesungguhnya engkau waktu hidup menyombongkan diri”.
Pada riwayat yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:

Barangsiapa yang menjela-jelakan kainnya karena sombong.
Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.

Yang dimaksud dengan sederhana dalam berjalan dun berbicara bukanlah berarti bahwa berjalan itu harus menundukkan kepala dan berbicara hendaklah dengan lunak dan di bawah-bawah, tetapi yang dimaksud ialah berjalan dan berbicara dengan sopan dan lemah lembut, sehingga orang merasa senang melihatnya.

Adapun berjalan dengan sikap gagah dan wajar, serta berkata dengan tegas yang menunjukkan suatu pendirian yang kuat, tidaklah dilarang oleh agama.

Menurut suatu riwayat dari `Aisyah ra, beliau melihat seorang laki-laki berjalan menunduk lemah, seakan-akan ia telah kehilangan kekuatan tubuhnya, maka beliaupun bertanya : “Mengapa orang itu berjalan terlalu lemah dan lambat?
Seseorang menjawab: “Dia adalah seorang fuqaha yang sangat alim.
Mendengar jawaban itu `Aisyah berkata: “Umar adalah penghulu fuqaha, tetapi apabila ia berjalan adalah dengan sikap yang gagah dan apabila berkata: “dia bersuara sedikit keras dan apabila ia memukul.
maka pukulannya adalah keras”.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dengan sikap sombong serta jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong yang selalu membangga-banggakan perbuatan baiknya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa`ir (mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkannya dari mereka dengan rasa takabur (dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa sombong.

(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong) yakni orang-orang yang sombong di dalam berjalan (lagi membanggakan diri) atas manusia.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jangan memalingkan wajahmu dari manusia bila kamu berbicara dengan mereka, atau mereka berbicara kepadamu dalam rangka merendahkan mereka, atau karena kamu menyombongkan diri atas mereka.
Jangan berjalan di muka bumi di antara manusia dengan penuh kesombongan dan keangkuhan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dalam penampilan dan ucapannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia.
(Q.S. Luqman [31]: 18)

Janganlah kamu memalingkan mukamu saat berbicara dengan orang lain, atau saat mereka berbicara kepadamu, kamu lakukan itu dengan maksud menganggap mereka remeh dan bersikap sombong kepada mereka.
Akan tetapi, bersikap lemah lembutlah kamu dan cerahkanlah wajahmu dalam menghadapi mereka.
Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:

sekalipun berupa sikap yang ramah dan wajah yang cerah saat kamu menjumpai saudaramu.
Dan janganlah kamu memanjangkan kainmu, karena sesungguhnya cara berpakaian seperti itu termasuk sikap sombong yang tidak disukai oleh Allah.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia.
(Q.S. Luqman [31]: 18) Yakni janganlah kamu bersikap sombong, menganggap remeh hamba-hamba Allah, dan kamu palingkan mukamu saat mereka berbicara denganmu.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Al-Aufi dan Ikrimah bersumber dari Ibnu Abbas.

Malik Ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia.
(Q.S. Luqman [31]: 18) Maksudnya, janganlah kamu berbicara dengan memalingkan mukamu.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Yazid ibnul Asam, Abul Jauza, Sa’id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya.

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, makna yang dimaksud ialah membual.
Akan tetapi, yang benar adalah pendapat yang pertama.

Abu Talib telah mengatakan pula dalam salah satu bait syairnya:

Dan dahulu kami tidak pernah membiarkan suatu perbuatan aniaya pun.
Bila mereka mendapat pujian, lalu bersikap sombong, maka kami meluruskannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
(Q.S. Luqman [31]: 18)

Yaitu dengan langkah yang angkuh, sombong, serta takabur.
Janganlah kamu bersikap demikian, karena Allah pasti akan membencimu.
Dalam firman berikutnya disebutkan:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(Q.S. Luqman [31]: 18)

Yakni orang yang sombong dan merasa bangga dengan dirinya terhadap orang lain.
Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya hal yang semakna, yaitu:

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
(Q.S. Al Israa [17]: 37)

Tafsir ayat ini telah dikemukakan pada pembahasannya.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Imran ibnu Abu Laila, dari Isa, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Sabit ibnu Qais Syammas yang menceritakan bahwa pada suatu hari disebutkan masalah takabur di hadapan Rasulullah ﷺ Maka beliau memperingatkannya dengan keras dan bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang-sombong lagi membanggakan diri.” Maka seorang lelaki dari kaum yang hadir bertanya, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya saya biasa mencuci pakaian saya karena saya suka dengan warna putihnya.
Saya juga suka dengan tali sandal saya serta tempat gantungan cemeti saya.” Maka beliau ﷺ menjawab, “Itu bukan takabur namanya, sesungguhnya yang dinamakan takabur itu ialah bila kamu meremehkan perkara yang hak dan merendahkan orang lain.”

Imam Tabrani telah meriwayatkan hal yang semisal melalui jalur lain, yang mengandung kisah yang cukup panjang, juga tentang gugurnya Sabit serta wasiatnya.


Kata Pilihan Dalam Surah Luqman (31) Ayat 18

FAKHUUR
فَخُور

Arti kata fakhr adalah sikap berbangga diri atau sombong atas sesuatu yang di­miliki seperti harta, pangkat atau yang lain. Untuk menyebut orang yang mempunyai sikap seperti itu digunakan kata faakhir, fakhuur dan fakhiir. Sedangkan untuk menyebut sikap saling berbangga dan sombong yang terjadi di antara manusia maka digunakan kata tafaakhur.

Dari kelima kata di atas, Al Qur’an hanya menyebut kata fakhuur dan tafaakhur saja.

Kata fakhuur diulang empat kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-An Nisaa’ (4), ayat 36;
-Hud (11), ayat 10;
-Luqman (31), ayat 18;
-Al Hadid (57), ayat 23.

Sedangkan kata tafaakhur di­ ulang sekali saja, yaitu pada surah Al Hadid (57), ayat 20. Pada surah Al Hadid (57), ayat 20, Allah menerangkan realitas kehidupan manusia di dunia yang sebahagian besar waktunya dihabiskan untuk permainan, melakukan perbuatan-perbuatan yang melalaikan hati dari ingat kepada Allah, menyombongkan diri dan berbangga-bangga di hadapan yang lain dan juga berlomba-lomba untuk memperbanyak harta dan keturunan. Padahal semuanya itu akan berakhir dan akan men­ dapat pembalasan di akhirat.

Pada beberapa ayat berikutnya, yaitu ayat ke 23 surah Al Hadid, Allah menegaskan se­cara khusus bahawa Dia sangat tidak menyukai orang yang bersikap sombong (mukhtaalin fakhuur) dalam kehidupan di dunia. Kebencian Allah kepada muktaalin dan fakhuur juga disebut pada surah An Nisa (4), ayat 36 dan surah Luqman (31), ayat 18.

Arti kata mukhtaalin dan fakhuur adalah hampir sama yaitu orang yang sombong namun di antara keduanya ada perbedaan; muktaalin adalah orang sombong yang kesombongannya tampak pada perilaku dan gerak tubuhnya, sedangkan fakhuur adalah orang sombong yang kesombongannya tampak pada ucapannya umpamanya dengan menceritakan kebaikan­ kebaikan yang pernah dilakukannya dengan penuh rasa kesombongan. Dalam ketiga ayat tersebut ditegaskan bahawa sikap sombong seperti itu adalah sikap yang sangat tidak di­ sukai oleh Allah.

Sedangkan pada surah Hud (11), ayat 10, Allah menerangkan bila biasanya seseorang men­ jadi sombong (fakhuur), yaitu sewaktu Allah menghilangkan kepayahan dan kesusahan dari diri seseorang dan menggantinya dengan kemudahan dan kelapangan. Pada saat seperti ini biasanya pada diri manusia muncul rasa bangga dengan diri sendiri karena merasa telah berjaya melewati ujian dan cobaan, selanjutnya muncul rasa sombong dan merasa lebih hebat berbanding dengan orang lain. Padalah sebenarnya kejayaan yang diperolehnya itu adalah anugerah dan karunia Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:407-408

Informasi Surah Luqman (لقمان)
Surat Luqman terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ash Shaaffaat.

Dinamai “Luqman” karena pada ayat 12 disebutkan bahwa “Luqman” telah diberi oleh Allah ni’mat dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas ni’mat yang diberikan itu.
Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.

Ini adalah sebagai isyarat dari Allah supaya setiap ibu bapak melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagai yang telah dilakukan oleh Luqman.

Keimanan:

Al Qur’an merupakan petunjuk dan rahmat yang dirasakan benar-benar oleh orang­ orang mu’min
keadaan di langit dan di bumi serta keajaiban-keajaiban yang ter­dapat pada keduanya adalah bukti-bukti atas keesaan dan kekuasaan Allah
manusia tiada akan selamat kecuali dengan taat kepada perintah-perintah Tuhan dan berbuat amal-amal yang saleh
lima hal yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah sendiri
ilmu Allah meliputi segala-galanya baik yang lahir maupun yang batin.

Hukum:

Kewajiban patuh dan berbakti kepada ibu dan bapa selama tidak bertentangan dengan perintah-perintah Allah
perintah supaya memperhatikan alam dan keajaib­annya untuk memperkuat keimanan dan kepercayaan akan ke-Esaan Tuhan
pe­rintah supaya selalu bertakwa dan takut akan pembalasan Tuhan pada hari kiamat di waktu seseorang tidak dapat ditolong baik oleh anak atau bapaknya sekalipun.

Kisah:

Kisah Luqman, ilmu dan hikmat yang didapatnya.

Lain-lain:

Orang-orang yang sesat dari jalan Allah dan selalu mernperolok-olokkan ayat­ ayat Allah
celaan terhadap orang-orang musyrik karena tidak menghiraukan seruan untuk memperhatikan alam dan tidak menyembah Penciptanya
menghibur hati Rasulullah ﷺ terhadap keingkaran orang-orang musyrik karena hal ini bukanlah merupakan kelalaiannya
ni’mat dan karunia Allah tidak dapat dihitung,

Ayat-ayat dalam Surah Luqman (34 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Luqman (31) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Luqman (31) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Luqman (31) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Luqman (31) ayat 12-19 - Gita Prisilfia (Bahasa Indonesia)
Q.S. Luqman (31) ayat 12-19 - Gita Prisilfia (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Luqman - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 34 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 31:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Luqman.

Surah Luqman (Arab: لقمان, "Luqman al-Hakim") adalah surah ke-31 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat.
Nama Luqman diambil dari kisah tentang Luqman yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik anaknya.

Nomor Surah 31
Nama Surah Luqman
Arab لقمان
Arti Keluarga Luqman
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 57
Juz Juz 21
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 34
Jumlah kata 550
Jumlah huruf 2171
Surah sebelumnya Surah Ar-Rum
Surah selanjutnya Surah As-Sajdah
4.4
Ratingmu: 4.8 (8 orang)
Sending







Pembahasan ▪ q s 31:18 ▪ Hadits yang meriwayatkan tentang kesombongan ▪ sikap angkuh dalam islam ▪ sombong dalam alquran

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta