Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Luqman (Keluarga Luqman) – surah 31 ayat 12 [QS. 31:12]

وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا لُقۡمٰنَ الۡحِکۡمَۃَ اَنِ اشۡکُرۡ لِلّٰہِ ؕ وَ مَنۡ یَّشۡکُرۡ فَاِنَّمَا یَشۡکُرُ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاِنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ حَمِیۡدٌ
Walaqad aatainaa luqmaanal hikmata aniisykur lillahi waman yasykur fa-innamaa yasykuru linafsihi waman kafara fa-innallaha ghanii-yun hamiidun;
Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

―QS. Luqman [31]: 12

Daftar isi

And We had certainly given Luqman wisdom (and said),
"Be grateful to Allah."
And whoever is grateful is grateful for (the benefit of) himself.
And whoever denies (His favor) – then indeed, Allah is Free of need and Praiseworthy.
― Chapter 31. Surah Luqman [verse 12]

وَلَقَدْ dan sesungguhnya
And verily,
ءَاتَيْنَا Kami telah memberikan
We gave
لُقْمَٰنَ Luqmân
ٱلْحِكْمَةَ hikmah
the wisdom
أَنِ agar
that,
ٱشْكُرْ bersyukur
"Be grateful
لِلَّهِ kepada Allah
to Allah."
وَمَن dan barang siapa
And whoever
يَشْكُرْ bersyukur
(is) grateful
فَإِنَّمَا maka sesungguhnya hanyalah
then only
يَشْكُرُ ia bersyukur
he is grateful
لِنَفْسِهِۦ untuk dirinya sendiri
for himself.
وَمَن dan barang siapa yang
And whoever
كَفَرَ ingkar
(is) ungrateful,
فَإِنَّ maka sesungguhnya
then indeed,
ٱللَّهَ Allah
Allah
غَنِىٌّ Maha Kaya
(is) Free of need,
حَمِيدٌ Maha Terpuji
Praiseworthy.

Tafsir Al-Quran

Surah Luqman
31:12

Tafsir QS. Luqman (31) : 12. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Lukman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran, dan kearifan yang dapat menyampaikannya kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi.
Oleh karena itu, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya nikmat itu.

Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan Lukman itu bukanlah berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, tetapi semata-mata berdasarkan ilmu dan hikmah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.


Berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir ath-thabari, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi hatim dari Ibnu ‘Abbas bahwa Lukman adalah seorang hamba/budak dan tukang kayu dari Habasyah.

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Lukman adalah seorang yang arif, bijak, dan bukan nabi.


Banyak riwayat yang menerangkan asal-usul Lukman ini, dan riwayat-riwayat itu antara yang satu dengan yang lain tidak ada kesesuaian.

Said bin Musayyab mengatakan bahwa Lukman berasal dari Sudan, sebelah selatan Mesir.
Zamakhsyari dan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Lukman termasuk keturunan Bani Israil dan salah seorang cucu Azar, ayah Ibrahim.

Menurut pendapat ini, Lukman hidup sebelum kedatangan Nabi Daud.
Sedang menurut al-Waqidi, ia salah seorang qadhi Bani Israil.

Ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Lukman hanyalah seorang yang sangat saleh (wali), bukan seorang nabi.



Terlepas dari semua pendapat riwayat di atas, apakah Lukman itu seorang nabi atau bukan, apakah ia orang Sudan atau keturunan Bani Israil, maka yang jelas dan diyakini ialah Lukman adalah seorang hamba Allah yang telah dianugerahi hikmah, mempunyai akidah yang benar, memahami dasar-dasar agama Allah, dan mengetahui akhlak yang mulia.

Namanya disebut dalam Alquran sebagai salah seorang yang selalu menghambakan diri kepada-Nya.


Sebagai tanda bahwa Lukman itu seorang hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya, merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini adalah sikapnya yang selalu bersyukur kepada Allah.
Ia merasa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah itu dan merasa dia telah mendapat hikmah dari-Nya.


Menurut riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda,
"Lukman bukanlah seorang nabi, tetapi ia adalah seorang hamba yang banyak melakukan tafakur, ia mencintai Allah, maka Allah mencintainya pula."


Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah, berarti ia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri.
Sebab, Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang banyak karena syukurnya itu.
Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia. (an-Naml [27]: 40)


Sufyan bin Uyainah berkata,
"Siapa yang melakukan salat lima waktu berarti ia bersyukur kepada Allah, dan orang yang berdoa untuk kedua orang tuanya setiap usai salat, ia telah bersyukur kepada keduanya."


Orang-orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena Allah tidak akan memberinya pahala bahkan menyiksanya dengan siksaan yang pedih.
Allah sendiri tidak memerlukan syukur hamba-Nya karena syukur hamba-Nya itu tidak akan memberikan keuntungan kepada-Nya sedikit pun, dan tidak pula akan menambah kemuliaan-Nya.
Dia Mahakuasa lagi Maha Terpuji.

Tafsir QS. Luqman (31) : 12. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya Kami telah memberikan Luqman hikmah, ilmu dan kebenaran dalam berkata.
Dan Kami katakan kepadanya,
"Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan kepadamu.


Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia mencari kebaikan untuk dirinya sendiri.
Dan barangsiapa yang mengingkari nikmat dan tidak mensyukurinya, maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan rasa syukurnya.


Dialah yang berhak dipuji, walau tak ada seorang pun yang memuji-Nya."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan Kami telah memberi hamba Kami yang shalih, yaitu Luqman hikmah, yaitu pemahaman dalam agama, akal dan kebenaran dalam berkata.
Kami katakan kepadanya:
Syukurilah nikmat-nikmat Allah kepadamu untuk-Nya.


Barangsiapa yang bersyukur kepada Rabb-nya, maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri.
Sebaliknya barangsiapa mengingkari nikmat-nikmat-Nya maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari syukurnya, tidak memerlukannya, bagi-Nya segala puji dan sanjungan baik dalam keadaan apa pun.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu, agama dan tepat pembicaraannya, dan kata-kata mutiara yang diucapkannya cukup banyak serta diriwayatkan secara turun-temurun.
Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi rasul dia selalu memberikan fatwa, dan dia sempat mengalami zaman kenabian Nabi Daud, lalu ia meninggalkan fatwa dan belajar menimba ilmu dari Nabi Daud.
Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan,
"Aku tidak pernah merasa cukup apabila aku telah dicukupkan."
Pada suatu hari pernah ditanyakan oleh orang kepadanya,
"Siapakah manusia yang paling buruk itu?"
Luqman menjawab,
"Dia adalah orang yang tidak mempedulikan orang lain yang melihatnya sewaktu dia mengerjakan kejahatan."


(Yaitu) dan Kami katakan kepadanya, hendaklah


(bersyukurlah kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu.


(Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri


(dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya


(maka sesungguhnya Allah Maha Kaya) tidak membutuhkan makhluk-Nya


(lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Ulama Salaf berselisih pendapat tentang Luqman, apakah dia seorang nabi ataukah seorang hamba yang saleh saja tanpa predikat nabi?
Ada dua pendapat mengenainya, kebanyakan ulama mengatakan bahwa dia adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-Asy’as, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Luqman adalah seorang budak dari negeri Habsyah (Abesenia) dan seorang tukang kayu.

Qatadah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah,
"Sampai seberapakah pengetahuanmu tentang Luqman?"
Jabir ibnu Abdullah menjawab, bahwa Luqman adalah seorang yang berperawakan pendek, berhidung lebar (tidak mancung) berasal dari Nubian.

Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari telah meriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa Luqman berasal dari daerah pedalaman Mesir (berkulit hitam) dan berbibir tebal.
Allah telah memberinya hikmah, tetapi tidak diberi kenabian.

Al-Auza’i mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Harmalah yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki berkulit hitam datang kepada Sa’id ibnul Musayyab meminta-minta kepadanya.
Maka Sa’id ibnul Musayyab menghiburnya,
"Jangan kamu bersedih hati karena kamu berkulit hitam, karena sesungguhnya ada tiga orang manusia yang terbaik berasal dari bangsa kulit hitam, yaitu Bilal, Mahja’ maula Umar ibnul Khattab, dan Luqmanul Hakim yang berkulit hitam, berasal dari Nubian dan berbibir tebal."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Abul Asy-hab, dari Khalid Ar-Rab’i yang mengatakan bahwa Luqman adalah seorang budak Habsyah, seorang tukang kayu.
Majikannya berkata kepadanya,
"Sembelihkanlah kambing ini buat kami!"
Maka Luqman menyembelih kambing itu.
Lalu si majikan berkata,
"Keluarkanlah dua anggota jeroannya yang paling baik."
Maka Luqman mengeluarkan lidah dan hati kambing itu, sesudah itu Luqman tinggal selama masa yang dikehendaki oleh Allah.
Kemudian majikannya kembali memerintahkannya,
"Sembelihkanlah kambing ini buat kami!"
Maka Luqman menyembelihnya, dan si majikan berkata kepadanya,
"Keluarkanlah dua anggota jeroannya yang paling buruk,"
maka Luqman mengeluarkan lidah dan hati kambing itu.
Si majikan bertanya kepadanya,
"Aku telah memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkan dua anggota jeroannya yang terbaik, dan kamu mengeluarkan keduanya.
Lalu aku perintahkan lagi kepadamu untuk mengeluarkan dua anggotanya yang paling buruk, ternyata kamu masih tetap mengeluarkan yang itu juga, sama dengan yang tadi."
Maka Luqman menjawab,
"Sesungguhnya tiada sesuatu anggota pun yang lebih baik daripada keduanya jika keduanya baik, dan tiada pula yang lebih buruk daripada keduanya bila keduanya buruk."

Syu’bah telah meriwayatkan dari Al-Hakam, dari Mujahid, bahwa Luqman adalah seorang hamba yang saleh, bukan seorang nabi.

Al-A’masy mengatakan, Mujahid telah mengatakan bahwa Luqman adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah, berbibir tebal, dan berkaki besar.
Dia seorang qadi di kalangan kaum Bani Israil.

Selain Mujahid menyebutkan bahwa Luqman adalah seorang qadi di kalangan kaum Bani Israil di masa Nabi Daudalaihis salam

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Qais yang mengatakan bahwa Luqman adalah seorang budak berkulit hitam, berbibir tebal, dan bertelapak kaki lebar.
Lalu ia kedatangan seorang lelaki saat ia berada di majelis sedang berbincang-bincang dengan orang banyak.
Maka lelaki itu bertanya kepadanya,
"Bukankah kamu yang pernah menggembalakan kambing bersamaku di tempat anu dan anu?"
Luqman menjawab,
"Benar."
Lelaki itu bertanya,
"Lalu apakah yang membuatmu menjadi seorang yang terhormat seperti yang kulihat sekarang?"
Luqman menjawab,
"Jujur dalam berkata, dan diam tidak ikut campur terhadap apa yang bukan urusanku."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Yazid, dari Jabir yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah mengangkat Luqmanul Hakim (ke kedudukan yang tinggi) berkat hikmah (yang dianugerahkan-Nya).
Pernah ada seorang lelaki yang mengenalnya di masa lalu bertanya,
"Bukankah kamu budak si Fulan yang dahulu menggembalakan ternak kambingnya?"
Luqman menjawab,
"Benar."
Lelaki itu bertanya,
"Lalu apakah yang menghantarkanmu dapat mencapai kedudukan seperti yang kulihat sekarang?"
Luqman menjawab,
"Takdir Allah, menunaikan amanat, berkata jujur, dan tidak ikut campur terhadap apa yang bukan urusanku."

Semua asar ini antara lain menjelaskan bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, dan sebagian lainnya mengisyaratkan ke arah itu (seorang nabi).
Dikatakan bahwa dia bukan seorang nabi karena dia adalah seorang budak, hal ini bertentangan dengan sifat seorang nabi, mengingat semua rasul dilahirkan dari kalangan terpandang kaumnya.
Karena itulah maka jumhur ulama Salaf menyatakan bahwa Luqman bukanlah seorang nabi.

Sesungguhnya pendapat yang mengatakan bahwa dia adalah seorang nabi hanyalah menurut riwayat yang bersumber dari Ikrimah jika memang sanadnya sahih bersumber darinya.
Riwayat tersebut dikemukakan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui Waki’, dari Israil, dari Jabir, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Luqman adalah seorang nabi.
Jabir yang disebutkan dalam sanad riwayat ini adalah Ibnu Yazid Al-Ju’fi, seorang yang berpredikat daif, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Ayyasy Al-Qatbani, dari Umar maula Gafrah yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki berdiri di hadapan Luqmanul Hakim, lalu bertanya,
"Bukankah engkau adalah Luqman budak Banil Has-sas?"
Luqman menjawab,
"Ya."
Lelaki itu bertanya lagi,
"Bukankah engkau pernah menggembalakan kambing?"
Luqman menjawab,
"Ya."
Lelaki itu bertanya lagi,
"Bukankah kamu berkulit hitam?"
Luqman menjawab,
"Adapun warna hitam kulitku ini jelas, lalu apakah yang mengherankanmu tentang diriku?"
Lelaki itu menjawab,
"Orang-orang banyak yang duduk di hamparanmu, dan berdesakan memasuki pintumu, serta mereka rida dengan ucapanmu."
Luqman berkata,
"Hai Saudaraku, jika engkau mau mendengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu, tentu kamu pun dapat seperti diriku."
Luqman melanjutkan perkataannya,
"Aku selalu menundukkan pandangan mataku (dari hal-hal yang diharamkan), lisanku selalu kujaga, makananku selalu bersih (halal), kemaluanku aku jaga (tidak melakukan zina), aku selalu jujur dalam perkataanku, semua janjiku selalu kutepati, tamu-tamuku selalu kumuliakan, para tetanggaku selalu kuhormati, dan aku tidak pernah melakukan hal yang tidak perlu bagiku.
Itulah kiat yang menghantarkan diriku kepada kedudukanku sekarang seperti yang kamu lihat."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Waqid, dari Abdah ibnu Rabah, dari Rabi’ah, dari Abu Darda, bahwa ia pernah bercerita di suatu hari yang antara lain mengisahkan perihal Luqmanul Hakim.
Lalu ia mengatakan bahwa apa yang diberikan kepada Luqman bukan berasal dari keluarga, harta, kedudukan, bukan pula dari jasanya, melainkan dia adalah seorang yang pendiam, suka bertafakkur, dan tajam pandangannya.
Dia tidak pernah tidur di siang hari, dan belum pernah ada seseorang melihatnya meludah, tidak pernah mengeluarkan ingus, tidak pernah kelihatan kencing, buang air besar dan mandi, juga tidak pernah bercengkrama serta tidak pernah tertawa.
Dia tidak pernah mengulangi perkataan yang telah diucapkannya, melainkan hanya kata-kata bijak yang diminta oleh seseorang agar ia mengulanginya.
Dia pernah kawin dan mempunyai banyak anak, tetapi mereka mati semuanya dan dia tidak menangisi kematian mereka (bersabar).
Dia sering mendekati penguasa dan hakim-hakim untuk menimba pengalaman dan memikirkannya serta mengambil pelajaran darinya.
Karena itulah maka ia berhasil meraih kedudukan yang diperolehnya.

Disebutkan dalam suatu asar yang garib bersumber dari Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Yahya ibnu Ubaid Al-Khuza’i, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Allah menyuruh Luqman memilih antara hikmah dan kenabian.
Maka Luqmanul Hakim memilih hikmah, tidak mau memilih kenabian.

Qatadah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Jibril mendatanginya saat ia sedang tidur.
Jibril menaburkan kepadanya atau mencipratkan kepadanya hikmah itu.
Pada pagi harinya Luqman dapat mengucapkan kata-kata hikmah.

Sa’id mengatakan, Qatadah pernah berkata bahwa dikatakan kepada Luqman,
"Mengapa engkau memilih hikmah atau ditaburi hikmah, padahal Tuhanmu menyuruhmu memilih?"
Maka Luqman menjawab,
"Seandainya aku diharuskan menjadi nabi, tentulah aku berharap beroleh keberhasilan dan tentu pula aku berharap dapat menunaikan tugas risalahku sebaik-baiknya.
Tetapi ternyata Dia menyuruhku memilih, maka aku merasa khawatir bila tidak mampu menjalankan tugas kenabian.
Karena itulah maka hikmah lebih aku sukai."

Ini merupakan riwayat melalui jalur Sa’id ibnu Basyir, dia berpredikat agak daif dan para ulama hadis banyak yang membicarakan kelemahan­nya.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Menurut riwayat Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.
(Luqman:12)
Bahwa yang dimaksud dengan hikmah ialah pengetahuan tentang agama Islam, dan dia bukanlah seorang nabi yang diberi wahyu.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.
(Luqman:12)

Yakni pemahaman, ilmu, dan ungkapan.

yaitu,
"Bersyukurlah kepada Allah.” (Luqman:12)

Kami perintahkan kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas apa yang telah Dia anugerahkan kepadanya berupa keutamaan yang secara khusus hanya diberikan kepadanya, bukan kepada orang lain yang sezaman dengannya.

Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.
(Luqman:12)

Artinya, sesungguhnya manfaat dan pahala dari bersyukur itu kembali kepada para pelakunya, karena ada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:

dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).
(Ar Ruum:44)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
(Luqman:12)

Yaitu Mahakaya, tidak memerlukan hamba-hamba-Nya.
Dia tidak kekurangan, walaupun mereka tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Seandainya semua penduduk bumi ingkar kepada nikmat-Nya, maka sesungguhnya Dia Mahakaya dari selain-Nya, tidak ada Tuhan selain Dia, dan kami tidak menyembah selain hanya kepada-Nya.

Unsur Pokok Surah Luqman (لقمان)

Surat Luqman terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ash Shaaffaat.

Dinamai "Luqman" karena pada ayat 12 disebutkan bahwa "Luqman" telah diberi oleh Allah nikmat dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu dia bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan itu.
Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.

Ini adalah sebagai isyarat dari Allah supaya setiap ibu bapak melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagai yang telah dilakukan oleh Luqman.

Keimanan:

Alquran merupakan petunjuk dan rahmat yang dirasakan benar-benar oleh orang-orang mukmin.
▪ Keadaan di langit dan di bumi serta keajaiban-keajaiban yang terdapat pada keduanya adalah bukti-bukti atas ke-Esaan dan kekuasaan Allah.
▪ Manusia tiada akan selamat kecuali dengan taat kepada perintah-perintah Tuhan dan berbuat amal-amal yang saleh.
▪ Lima hal yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah sendiri.
▪ Ilmu Allah meliputi segala-galanya baik yang lahir maupun yang batin.

Hukum:

▪ Kewajiban patuh dan berbakti kepada ibu dan bapak selama tidak bertentangan dengan perintah-perintah Allah.
▪ Perintah supaya memperhatikan alam dan keajaibannya untuk memperkuat keimanan dan kepercayaan akan ke-Esaan Tuhan.
▪ Perintah supaya selalu bertakwa dan takut akan pembalasan Tuhan pada hari kiamat di waktu seseorang tidak dapat ditolong baik oleh anak atau bapaknya sekalipun.

Kisah:

▪ Kisah Luqman, ilmu dan hikmah yang didapatnya.

Lain-lain:

▪ Orang-orang yang sesat dari jalan Allah dan selalu memperolok-olokkan ayat-ayat Allah.
▪ Celaan terhadap orang-orang musyrik karena tidak menghiraukan seruan untuk memperhatikan alam dan tidak menyembah Penciptanya.
▪ Menghibur hati Rasulullah ﷺ terhadap keingkaran orang-orang musyrik karena hal ini bukanlah merupakan kelalaiannya.
▪ Nikmat dan karunia Allah tidak dapat dihitung,

Audio Murottal

QS. Luqman (31) : 1-34 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy Ayat 1 sampai 34 + Terjemahan Indonesia
QS. Luqman (31) : 1-34 ⊸ Nabil ar-Rifa’i Ayat 1 sampai 34

Gambar Kutipan Ayat

Surah Luqman ayat 12 - Gambar 1 Surah Luqman ayat 12 - Gambar 2 Surah Luqman ayat 12 - Gambar 3
Statistik QS. 31:12
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Luqman.

Surah Luqman (Arab: لقمان, “Luqman al-Hakim”) adalah surah ke-31 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat.
Nama Luqman diambil dari kisah tentang Luqman yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik anaknya.

Nomor Surah 31
Nama Surah Luqman
Arab لقمان
Arti Keluarga Luqman
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 57
Juz Juz 21
Jumlah ruku’ 4 ruku’
Jumlah ayat 34
Jumlah kata 550
Jumlah huruf 2171
Surah sebelumnya Surah Ar-Rum
Surah selanjutnya Surah As-Sajdah
Sending
User Review
4.2 (16 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:
31:12, 31 12, 31-12, Surah Luqman 12, Tafsir surat Luqman 12, Quran Lukman 12, Surah Luqman ayat 12
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video Surah 31:12

More Videos

Kandungan Surah Luqman

۞ QS. 31:3 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 31:4 • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 31:5 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 31:6 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Maksiat dan dosa

۞ QS. 31:7 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 31:8 • Pahala iman • Nama-nama surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 31:9 • Pahala iman • Allah menepati janji • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Keabadian surga

۞ QS. 31:10 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Kekuasaan Allah

۞ QS. 31:11 Dalil Allah atas hambaNya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 31:12 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya) • Kewajiban hamba pada Allah • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 31:13 Syirik adalah kezaliman • Dosa-dosa besar

۞ QS. 31:14 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 31:15 • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 31:16 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) •

۞ QS. 31:17 • Hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)

۞ QS. 31:20 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 31:21 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 31:22 • Ajakan masuk Islam • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 31:23 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 31:24 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 31:25 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 31:26 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 31:27 • Sifat Kalam (berfirman) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 31:28 • Kekuasaan Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 31:29 Dalil-dalil adanya Allah Ta’alaAl Khabir (Maha Waspada) • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 31:30 Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah •

۞ QS. 31:31 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 31:33 • Allah menepati janji • Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 31:34 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Nama-nama hari kiamat • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

Ayat Pilihan

Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.
Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu,
Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.
QS. Al-Haqqah [69]: 26-28

Kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam prasangka. Di situlah diuji orang-orang Mukmin (mereka mendapat cobaan supaya menjadi jelas, siapa Mukmin yang benar & siapa yang gadungan) & hati mereka diguncang dengan guncangan yang sangat.
QS. Al-Ahzab [33]: 10-11

Bersyukurlah kepada Allah.
Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah),
maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri,
dan barang siapa yang tidak bersyukur,
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji
QS. Luqman [31]: 12


mereka (penduduk di Surga) memakai sutera yang halus & sutera yang tebal,
(duduk) berhadap-hadapan.
QS. Ad-Dukhan [44]: 53

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Correct! Wrong!

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Correct! Wrong!

+

Array

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Correct! Wrong!

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Kamus Istilah Islam

taqrir

Apa itu taqrir? taqrir (تقرير) pembolehan oleh Nabi Muhammad mengenai suatu perbuatan. Apabila suatu perbuatan dilakukan oleh sahabat Nabi, belum pernah diperintahkan atau dilarang oleh Nabi, Nab...

Kalalah

Apa itu Kalalah? Kalalah adalah istilah dalam kajian hukum waris Islam yang berarti orang yang tidak mempunyai anak dan ayah. Penggunaan istilah ini dapat diperuntukkan untuk pewaris dan ahli waris. S...

Salat Witir

Apa itu Salat Witir? Salat Witir (Arab: صلاة الوتر Sholatul witr) adalah salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari antara setelah waktu isya dan sebelum waktu salat subuh, dengan raka...