QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 84 [QS. 11:84]

وَ اِلٰی مَدۡیَنَ اَخَاہُمۡ شُعَیۡبًا ؕ قَالَ یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ وَ لَا تَنۡقُصُوا الۡمِکۡیَالَ وَ الۡمِیۡزَانَ اِنِّیۡۤ اَرٰىکُمۡ بِخَیۡرٍ وَّ اِنِّیۡۤ اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ مُّحِیۡطٍ
Wa-ila madyana akhaahum syu’aiban qaala yaa qaumii’buduullaha maa lakum min ilahin ghairuhu walaa tanqushuul mikyaala wal miizaana innii araakum bikhairin wa-innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin muhiithin;

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib.
Ia berkata:
“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.
Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.
―QS. 11:84
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
11:84, 11 84, 11-84, Hud 84, Hud 84, Hud 84

Tafsir surah Hud (11) ayat 84

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 84. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Syuaib sebagai rasul-Nya kepada penduduk Madyan.
Syuaib dipilih dari kaumnya sendiri.
Syuaib adalah seorang putera keturunan dari Madyan bin Ibrahim a.s.
Madyan membangun suatu daerah untuk kaumnya yang terletak di Hajar dekat negeri Syam, dan dinamakan sesuai dengan namanya, sehingga daerah itu beserta penduduknya dan kabilahnya dikatakan Madyan.
Syuaib a.s.
sebagai rasul Allah memulai tugas dakwahnya dengan mengajak kaumnya supaya menyembah Allah dan melarang mempersekutukan-Nya dengan berhala-berhala, patung-patung, dan sebagainya, karena tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Esa yang menciptakan seluruh alam semesta.
Kemudian Syuaib a.s.
melarang kaumnya mengurangi takaran dan timbangan, sebagaimana yang mereka lakukan dalam segala macam perdagangan dan jual-beli, sebab perbuatan itu sama dengan mengambil hak orang dengan kecurangan yang sangat jahat dan keji.
Larangan serupa ini diterangkan pula dalam firman Allah:

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
(Al-Muthaffifin: 1- 3)

Syuaib a.s.
menjelaskan kepada kaumnya, bahwa ia melihat mereka hidup berkecukupan dan kaya raya, mereka tidak perlu melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan.
Sebab, perbuatan itu selain mengambil hak orang lain dengan cara yang licik dan keji juga berarti mengingkari nikmat Allah yang telah memberi kekayaan yang banyak kepada mereka.
Semestinya mereka bersyukur kepada-Nya, bukan sebalik-nya mereka menambah harta kekayaan dengan kecurangan-kecurangan dan kelicikan-kelicikan yang sangat dimurkai Allah.
Nabi Syuaib a.s.
mem-peringatkan kaumnya, bahwa apabila mereka masih tetap membangkang dalam kekafiran dan terus melakukan pekerjaan tercela itu, maka ia khawatir mereka akan ditimpa azab yang membinasakan mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Kami mengutus kepada penduduk Madyan[1] saudara mereka, Syu’aib.
Ia berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, sembahlah Allah semata.
Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Dia.
Janganlah kalian mengurangi takaran dan timbangan saat kalian menjual sesuatu yang harus ditimbang kepada orang lain.
Sesungguhnya aku melihat ada kebaikan yang diharapkan dari kalian untuk bersyukur dan taat kepada Allah serta memberikan hak-hak orang lain dengan sempurna.
Aku khawatir jika kalian tidak mensyukuri karunia Allah dan tidak menaati perintah-Nya, siksaan hari yang kalian tidak akan mampu menghindarinya akan menimpa kalian.
Sebab, siksaan hari itu meliputi semua orang yang tersiksa, dan tidak ada jalan keluar untuk menyelamatkan diri.

[1] Ayat ini dan ayat berikutnya menerangkan bahwa mengurangi takaran dan timbangan adalah suatu tindakan kejahatan yang pelakunya harus ditindak secara hukum.
Menurut Islam hukumannya adalah ta’zir (sanksi yang penentuannya ditetapkan oleh pihak penguasa).
Dalam hukum konvensional, tindakan tersebut dikenal dengan kejahatan pemalsuan timbangan atau takaran yang juga ada sanksi hukumnya.
Oleh Al Quran hal tersebut dilarang sebagai upaya melindungi harta.
Negeri Madyan terletak antara utara Hijaz dan selatan Syam.
Di situ, terdapat pepohonan rindang yang dinamakan Aykah.
Allah telah mengirim siksa yang kejam lantaran penduduk negeri itu mendurhakai-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) Kami utus (kepada penduduk Madyan saudara mereka Syuaib.

Ia berkata, “Hai kaumku! Sembahlah Allah) tauhidkanlah Dia (sekali-kali tiada Tuhan bagi kalian selain Dia.

Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik) kalian hidup dalam keadaan yang menyenangkan sehingga kalian tidak perlu melakukan pengurangan takaran dan timbangan (dan sesungguhnya aku) (khawatir terhadap kalian) jika kalian tidak mau beriman (akan azab hari yang membinasakan”) hari yang meliputi kalian dengan kebinasaan.

Lafal yaum disifati dengan lafal muhith mengandung pengertian majaz, karena terjadinya azab itu pada hari tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus saudara mereka, Syuaib.
Dia berkata :
Hai kaumku, sembahlah Allah semata, tidak ada bagi kalian sesembahan yang berhak disembah selain Dia yang Mahaagung lagi Mahatinggi maka ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Nya.
Dan janganlah kalian mengurangi hak orang-orang dengan mengurangi takaran dan timbangan.
Sesungguhnya aku melihat kalian dalam kehidupan yang baik, dan aku khawatir (karena kalian mengurangi takaran dan timbangan) Allah akan menurunkan adzab pada hari yang menyelimuti kalian (Hari Kiamat).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan, “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada penduduk kota Madyan yang penghuninya terdiri atas suatu kabilah dari kalangan bangsa Arab.
Mereka tinggal di kawasan antara Hijaz dan Syam, dekat dengan Ma’an, suatu kota yang dikenal dengan nama mereka, kota tersebut dijuluki dengan sebutan kota Madyan.”

Allah mengutus Nabi Syu’aib kepada mereka.
Nabi Syu’aib berasal dari keturunan orang yang terhormat di kalangan mereka.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

…saudara mereka Syu’aib.

Nabi Syu’aib memerintahkan mereka untuk menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Nabi Syu’aib pun melarang mereka mengurangi takaran dan timbangan mereka.

…sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik (mampu).

Yakni penghidupan dan rezeki kalian dalam keadaan baik-baik saja, dan sesungguhnya aku takut bila kenikmatan yang ada pada kalian itu di­cabut dari kalian karena kalian mengerjakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

…dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan azab hari yang membinasakan (kiamat).

Maksudnya, di hari akhirat nanti.


Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud ‘alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh ‘alaihis salam, Shaleh ‘alaihis salam, Ibrahim ‘alaihis salam, Luth ‘alaihis salam, Syu’aib ‘alaihis salam.
dan Musa ‘alaihis salam

Keimanan:

adanya ‘Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo’a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Hud (11) ayat 84 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Hud (11) ayat 84 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Hud (11) ayat 84 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Hud - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 123 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 11:84
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Hud.

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah11
Nama SurahHud
Arabهود
ArtiNabi Hud
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu52
JuzJuz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku'0
Jumlah ayat123
Jumlah kata1948
Jumlah huruf7820
Surah sebelumnyaSurah Yunus
Surah selanjutnyaSurah Yusuf
4.6
Ratingmu: 4.6 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ a rti hud 84 ▪ al hud ayat 84 beserta artinya ▪ surat al hud ayat 84 ▪ surat hud ayat 84-85 dan surat al-mutafifin ayat 1-5

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta