Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Hud

Hud (Nabi Hud) surah 11 ayat 81


قَالُوۡا یٰلُوۡطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّکَ لَنۡ یَّصِلُوۡۤا اِلَیۡکَ فَاَسۡرِ بِاَہۡلِکَ بِقِطۡعٍ مِّنَ الَّیۡلِ وَ لَا یَلۡتَفِتۡ مِنۡکُمۡ اَحَدٌ اِلَّا امۡرَاَتَکَ ؕ اِنَّہٗ مُصِیۡبُہَا مَاۤ اَصَابَہُمۡ ؕ اِنَّ مَوۡعِدَہُمُ الصُّبۡحُ ؕ اَلَـیۡسَ الصُّبۡحُ بِقَرِیۡبٍ
Qaaluuu yaa luuthu innaa rusulu rabbika lan yashiluu ilaika fa-asri biahlika biqith’in minallaili walaa yaltafit minkum ahadun ilaaamraataka innahu mushiibuhaa maa ashaabahum inna mau’idahumush-shubhu alaisash-shubhu biqariibin;

Para utusan (malaikat) berkata:
“Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu.
Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat?”.
―QS. 11:81
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Keputusan hukum bersandar pada apa yang nampak
11:81, 11 81, 11-81, Hud 81, Hud 81, Hud 81
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Hud (11) : 81. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah para Malaikat yang menjadi tamu Nabi Lut a.s.
itu menyaksikan adanya kekhawatiran pada diri Nabi Lut a.s., mereka berkata: "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu yang sengaja diutus untuk membinasakan mereka dan menyelamatkan kamu dari kejahatan-kejahatan mereka.
Mereka sekali-kali tidak akan dapat mengganggu kamu, maka tenangkanlah hatimu.
Ternyata penglihatan kaum Nabi Lut a.s.
itu dijadikan gelap oleh Allah sehingga mereka tidak dapat melihat kepada Nabi Lut a.s.
dan kepada tamu-tamunya seperti diterangkan dalam firman Allah:

Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka) lalu Kami butakan mata mereka.
(Q.S.
Al-Qamar: 37)

Akhirnya mereka kembali ke rumahnya masing-masing dalam keadaan buta, tidak mengetahui jalan menuju ke rumahnya, mereka berteriak-teriak minta tolong dan mengatakan bahwa kami disihir oleh tamu-tamu yang berada di rumah Lut a.s.
Malaikat itu berkata kepada Nabi Lut a.s.: "Keluarlah dari kampung ini, beserta keluarga dan kaummu yang beriman di akhir malam ini dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang ketinggalan atau menoleh ke belakang kecuali istrimu, karena sesungguhnya azab yang akan menimpa mereka itu akan menimpa istrimu pula, karena ia adalah seorang perempuan yang tidak beriman bahkan telah khianat kepada suaminya." Adapun sebabnya mereka tidak menoleh ke belakang, karena akibat menyaksikan azab itu, ia akan panik sehingga kakinya tidak akan dapat melangkah lagi dan akhirnya ditimpa oleh azab yang menyusul di belakangnya.
Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah pada waktu subuh seperti diterangkan dalam firman Allah:

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.
(Q.S.
Al-Hijr: 73)

Kemudian malaikat itu memperkuat ketentuan akan turunnya azab dengan sebuah pertanyaan: "Bukankah subuh itu sudah dekat?
Maka segeralah kamu bersiap-siap untuk mencari keselamatan."

Hud (11) ayat 81 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Hud (11) ayat 81 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Hud (11) ayat 81 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah berubah menjadi bentuk aslinya, malaikat berkata, "Hai Luth, jangan takut dan cemas! Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, bukan manusia seperti yang tampak menurut penglihatanmu dan kaummu.
Mereka tidak akan dapat menyakitimu dan mengganggumu.
Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam.
Keluarlah bersama mereka dari negeri ini, dan jangan sampai ada seorang pun yang tertinggal supaya tidak terkena pedihnya azab.
Akan tetapi jangan kamu ikut sertakan istrimu keluar bersamamu, sebab dia harus ditimpa azab seperti yang lainnya.
Sesungguhnya waktu kehancuran mereka ialah waktu subuh yang sudah dekat.
Maka, kau tak perlu takut."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Para utusan itu berkata, "Hai Luth! Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu) dengan berlaku jahat terhadap dirimu (sebab itu bawalah pergi keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir) pada bagian yang terakhir dari (malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal) supaya ia tidak melihat kengerian azab yang menimpa mereka (kecuali istrimu) dengan dibaca rafa`, yaitu imra-atuka, berkedudukan menjadi badal dari lafal ahadin.
Menurut qiraat lain dibaca nashab, yaitu imra-ataka, berkedudukan menjadi istitsna dari lafal al-ahl.
Artinya janganlah engkau membawa pergi dia.
(Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa Nabi Luth tidak membawa istrinya pergi.
Akan tetapi menurut pendapat yang lain dikatakan bahwa Nabi Luth membawanya pergi.
Hanya saja ia menoleh ke belakang seraya mengatakan, 'Aduh kaumku!' Lalu ia ditimpa oleh batu besar sehingga matilah dia." Nabi Luth bertanya kepada utusan tentang waktu pembinasaan kaumnya, maka para utusan itu berkata.
("Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh) Nabi Luth meminta, 'Aku minta supaya lebih disegerakan lagi.' Mereka menjawab ('Bukankah subuh itu sudah dekat?'")

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para malaikat itu berkata :
Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan Rabbmu, yang diutus untuk membinasakan kaummu.
Mereka tidak akan dapat mengganggumu.
Maka keluarlah kamu bersama keluargamu dari desa ini pada akhir malam.
Dan janganlah ada seorang pun yang menoleh ke belakang agar tidak melihat adzab yang diturunkan, maka dia akan ikut terkena.
Akan tetapi, istrimu yang telah mengkhianatimu dengan menjadi kafir dan munafik akan kami binasakan pula bersama kaummu.
Sesungguhnya saat jatuhnya adzab mereka adalah waktu Shubuh, yaitu waktu yang sudah dekat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Para utusan (malaikat) berkata, "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu."

Para malaikat itu pun memerintahkan Lut agar pergi meninggalkan kota itu bersama keluarganya di akhir malam, dan hendaknya Lut berjalan di belakang keluarganya, yakni menggiring mereka.

...dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh ke belakang.

Yakni apabila kamu mendengar suara azab yang menimpa kaummu, janganlah kamu terkejut dan takut dengan suara yang menggetarkan itu, tetapi tetaplah berjalan terus, jangan hiraukan mereka.

kecuali istrimu.

Kebanyakan ulama tafsir menilai istisna ini dari kalimat yang musbat, yakni kalimat yang dikecualikannya adalah kalimat positif, yaitu firman-Nya:

Sebab itu pergilah dengan membawa keluargamu.

Dengan kata lain, pergilah dengan membawa keluargamu dan pengikut-pengikutmu kecuali istrimu.
Hal yang sama disebutkan menurut qiraat Ibnu Mas'ud.
Mereka me-nasab-kan lafaz imra-ah.
karena —menurut mereka— istisna dari kalimat yang musbat itu hukumnya wajib di-nasab-kan.

Ulama qiraat lainnya dan ulama nahwu mengatakan bahwa istisna ini berasal dari firman-Nya:

...dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang menoleh kecuali istrimu.

Karena itulah mereka memperbolehkan bacaan rafa dan nasab.
Mereka menyebutkan pula bahwa istri Nabi Lut berangkat bersama rombongan Nabi Lut.
Tetapi ketika mendengar suara gemuruh, istri Nabi Lut menoleh ke belakang.
Maka ia menjerit seraya berkata, "Aduhai kaumku!" Lalu datanglah sebuah batu besar dari langit menimpanya, sehingga matilah ia.

Kemudian para utusan itu mempercepat kebinasaan kaumnya, sebagai berita gembira untuknya, karena ia berkata kepada mereka, "Binasakanlah mereka saat sekarang juga." Maka mereka (para utusan) itu berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

...karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat?

Saat itu juga kaum Lut berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu.
Mereka datang ke rumah Nabi Lut dengan bergegas-gegas dari semua penjuru, sedangkan Nabi Lut berdiri di depan pintu, menolak mereka dan melarang serta mengusir mereka agar tidak melakukan kebiasaannya terhadap tamu-tamunya itu.
Tetapi sebaliknya kaum Lut tidak mau menerima perlakuan itu, bahkan mereka mengancam dan menekannya.
Maka pada saat itu .
Jibril keluar menghadapi mereka dan memukul wajah mereka dengan sayapnya, sehingga wajah mereka penuh dengan debu, lalu mereka pergi tanpa mengetahui jalan yang ditempuhnya.
Hal ini diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
melalui firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerah­kan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
(Al Qamar:37)

Ma'mar telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Huzaifah ibnul Yaman yang mengatakan bahwa Ibrahim 'alaihis salam sering datang kepada kaum Lut dan mengatakan kepada mereka, "Allah telah melarang kalian melakukan perbuatan yang menyebabkan kalian akan tertimpa siksa dan azab-Nya." Tetapi mereka tidak menaatinya.
Ketika ketetapan Allah telah tiba, maka para malaikat datang kepada Nabi Lut yang saat itu sedang bekerja di lahan miliknya, lalu Lut mengundang mereka untuk bertamu kepadanya.
Maka mereka menjawab, "Kami akan menjadi tamu-tamumu malam ini." Allah telah memerintahkan kepada Malaikat Jibril, bahwa janganlah ia mengazab mereka sebelum Lut mempersaksikan mereka sebanyak empat kali persaksian.
Ketika Lut berangkat bersama mereka ke rumahnya untuk menerima mereka sebagai tamunya, maka Lut menceritakan kejahatan yang dilakukan oleh kaumnya.
Lut berjalan sesaat dengan mereka, lalu ia menoleh kepada mereka dan berkata, "Tidakkah kalian mengetahui apa yang dilakukan oleh penduduk kota ini?
Aku belum pernah mengetahui di muka bumi ini manusia yang lebih jahat daripada mereka.
Ke manakah aku akan membawa kalian pergi?
Kepada kaumku?
Mereka adalah sejahat-jahatnya makhluk Allah." Jibril menoleh kepada malaikat lainnya seraya berkata, "Catatlah oleh kalian, ini adalah persaksian pertama.
Kemudian Nabi Lut berjalan sesaat lagi bersama mereka, dan ketika sampai ditengah kota, Nabi Lut merasa khawatir akan keselamatan mereka dan merasa malu kepada mereka.
Lalu ia berkata, "Tidakkah kalian ketahui apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini?
Aku belum pernah mengetahui ada manusia yang lebih jahat daripada mereka di muka bumi ini.
Sesungguhnya kaumku adalah manusia yang paling jahat." Jibril menoleh kepada malaikat lainnya dan berkata, "Catatlah oleh kalian kedua persaksian ini." Ketika Lut sampai di depan pintu rumahnya, ia menangis karena malu kepada mereka dan sekaligus merasa khawatir akan keselamatan mereka.
Lalu ia berkata, "Sesungguhnya kaumku adalah makhluk yang paling jahat.
Tidakkah kalian tahu apa yang biasa dilakukan oleh penduduk kota ini.
Aku belum pernah mengetahui suatu penduduk kota pun di muka bumi ini yang lebih jahat daripada mereka." Maka Jibril berkata, "Catatlah oleh kalian ketiga persaksian ini, kini azab pasti diturunkan." Setelah mereka masuk ke dalam rumah, ternyata istri Nabi Lut yang sudah berusia lanjut lagi berhati buruk itu pergi dan naik ke atas rumah, ia mengibarkan pakaiannya sebagai isyarat yang ditujukan kepada kaumnya.
Maka orang-orang fasik berlomba-lomba datang dengan cepat menuju ke arahnya, lalu bertanya, "Apakah yang telah terjadi denganmu?"
Istri Lut berkata, "Lut telah menerima suatu kaum sebagai tamunya, aku belum pernah melihat wajah yang setampan mereka dan belum pernah mencium bau yang sewangi bau mereka." Maka mereka bersegera menuju pintu rumah Nabi Lut, lalu Nabi Lut menutup pintu rumahnya dan menahan mereka dari dalam, sedangkan mereka mendorong pintu dari luar.
Dalam keadaan demikian Nabi Lut mengingatkan mereka kepada Allah seraya berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagi kalian.
Maka Malaikat Jibril bangkit dan menyumbat pintu itu, lalu ia meminta izin kepada Tuhannya untuk menyiksa mereka, maka Allah mengizin­kannya.
Lalu Jibril bangkit dan berubah ujud seperti aslinya di langit, kemudian membeberkan kedua sayapnya.
Jibril mempunyai dua buah sayap, dan pada sayapnya terdapat kain selendang yang terbuat dari mutiara yang dianyam.
Malaikat Jibril mempunyai gigi seri yang berkilauan, keningnya lebar lagi bercahaya sedangkan (rambut) kepalanya ikal bergelombang berwarna mutiara yang sangat putih seperti salju, dan kedua kakinya berwarna kehijau-hijauan.
Lalu ia berkata, "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (Huud:81) Pergilah kamu, hai Lut, menjauhlah dari pintu itu dan biarkanlah aku menghadapi mereka.
Maka Lut menjauh dari pintu, lalu Malaikat Jibril keluar menghadapi mereka dan merentangkan sayapnya, ia pukul wajah mereka dengan sayapnya dengan pukulan yang membuat mata mereka tidak dapat melihat, sehingga mereka menjadi buta, tidak dapat melihat jalan.
Kemudian Lut diperintahkan untuk pergi bersama keluarganya pada malam itu juga:

Sebab itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam.

Telah diriwayatkan dari Muhammad ibnu Ka'b, Qatadah, dan As-Saddi hal yang semisal dengan keterangan di atas.

Informasi Surah Hud (هود)
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surat Yunus.
Surat ini dinamai surat Hud karena ada hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Hud 'alaihis salam dan kaumnya, dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh 'alaihis salam, Shaleh 'alaihis salam, Ibrahim 'alaihis salam, Luth 'alaihis salam, Syu'aib 'alaihis salam.
dan Musa 'alaihis salam

Keimanan:

adanya 'Arsy Allah
kejadian alam dalam 6 pase
adanya golongan-golongan manusia di hari kiamat.

Hukum:

agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal tidak berlebih-lebihan
tidak boleh berlaku sombong
tidak boleh mendo'a atau mengha­rapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.

Kisah:

Kisah Nuh a.s. dan kaumnya
kisah Huud a.s. dan kaumnya
kisah Shaleh a.s. dan kaumnya
kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya
kisah Syuaib a.s. dan kaumnya
kisah Luth a.s. dan kaumnya
kisah Musa a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Pelajaran-pelajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi
air sumber segala ke­hidupan
sembahyang itu memperkuat iman
sunnah Allah yang berhubungan de­ngan kebinasaan suatu kaum.


Gambar Kutipan Surah Hud Ayat 81 *beta

Surah Hud Ayat 81



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Hud

Surah Hud (Arab: هود , Hūd, "Nabi Hud") adalah surah ke-11 dalam al-Qur'an dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini terdiri dari 123 ayat diturunkan sesudah surah Yunus.
Surah ini dinamai surah Hud karena ada hubungan dengan kisah Nabi Hud dan kaumnya dalam surah.
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa.

Nomor Surah 11
Nama Surah Hud
Arab هود
Arti Nabi Hud
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 52
Juz Juz 11 (ayat 1-5),

juz 12 (ayat 6-123)

Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 123
Jumlah kata 1948
Jumlah huruf 7820
Surah sebelumnya Surah Yunus
Surah selanjutnya Surah Yusuf
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending







✔ surat hud ayat 72-81

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku