QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 34 [QS. 41:34]

وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ
Walaa tastawiil hasanatu walaassai-yi-atuudfa’ biillatii hiya ahsanu fa-idzaal-ladzii bainaka wabainahu ‘adaawatun kaannahu walii-yun hamiimun;

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan an-tara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.
―QS. 41:34
Topik ▪ Iman ▪ Perbedaan tingkat amal kebaikan ▪ Nama-nama hari kiamat
41:34, 41 34, 41-34, Fushshilat 34, Fushshilat 34, Fushilat 34, Fusilat 34, Fussilat 34
English Translation - Sahih International
And not equal are the good deed and the bad.
Repel (evil) by that (deed) which is better;
and thereupon the one whom between you and him is enmity (will become) as though he was a devoted friend.
―QS. 41:34

 

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 34

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 34. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa kebaikan yang diridai Allah dan diberi pahala itu tidak sama dengan keburukan yang dibenci-Nya dan orang yang melakukannya pasti diazab.

Ayat ini dapat ditafsirkan dengan pernyataan bahwa tidak sama dakwah orang yang menyeru kepada Allah dan mengikuti Islam, dengan perbuatan mencela orang-orang yang melaksanakan dakwah itu.
Sikap orang kafir yang mencela para dai diterangkan dalam firman Allah:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ

Dan mereka berkata,
“Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).”
(Fushshilat [41]: 5)

Dan firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ

Dan orang-orang yang kafir berkata,
“Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Alquran ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).”
(Fushshilat [41]: 26)

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah menyatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa jika ia mengerjakan kebaikan, maka akan memperoleh ganjaran kebaikan berupa penghargaan selama hidup di dunia dan pahala yang besar di akhirat nanti.
Sedang orang-orang kafir yang mengerjakan kejahatan itu akan memperoleh penghinaan di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh azab yang pedih.
Rasulullah juga dilarang untuk membalas kejahatan mereka dengan kejahatan.
Jika ia membalas kejahatan dengan kejahatan tentu mereka akan memperoleh kerugian yang berlipat ganda.
Oleh karena itu, Rasulullah diperintahkan untuk membalas kejahatan mereka dengan kebaikan.

Kemudian Allah menerangkan cara membalas kejahatan orang-orang kafir itu dengan kebaikan dengan memerintahkan kepada Rasulullah agar membalas kebodohan dan kejahatan orang-orang kafir dengan cara yang paling baik, membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, memaafkan kesalahan mereka, dan menghadapi kemarahan mereka dengan kesabaran.
Jika Nabi berbuat demikian, lambat laun mereka akan menilai sendiri perbuatan mereka, dan menimbulkan malu kepada mereka karena tindakan-tindakan mereka itu.

Allah menerangkan hasil yang akan diperoleh orang-orang yang beriman jika membalas perbuatan buruk orang-orang kafir dengan perbuatan baik.
Allah mengatakan jika orang-orang beriman berhasil berbuat demikian, tentu permusuhan orang-orang kafir kepada mereka akan berubah menjadi persahabatan, kebencian akan berubah menjadi kecintaan.
Ibnu ‘Abbas berkata bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar berlaku sabar ketika marah, penyantun terhadap orang yang bodoh, dan memaafkan kesalahan orang.
Jika seseorang mengerjakan yang demikian, Allah akan memelihara mereka dari setan, dan musuh-musuh mereka akan tunduk dan patuh kepada mereka.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mencela Qunbur, budak ‘Ali bin Abi thalib, yang telah dimerdekakannya.
‘Ali lalu memanggilnya dan berkata, Wahai Qunbur, tinggalkanlah orang yang mencelamu itu, biarkanlah ia, semoga Tuhan Yang Maha Penyayang meridai, dan setan menjadi marah.”

Menurut Muqatil, ayat ini turun berhubungan dengan Abu Sufyan.
Dia adalah salah seorang musuh Rasulullah yang paling besar.
Akan tetapi karena kesabaran dan sikap Nabi yang baik kepadanya, Abu Sufyan menjadi sahabat Nabi yang akrab, dengan mengadakan hubungan perbesanan (mushaharah).