QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 33 [QS. 41:33]

وَ مَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
Waman ahsanu qaulaa mimman da’aa ilallahi wa’amila shaalihan waqaala innanii minal muslimiin(a);

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”
―QS. 41:33
Topik ▪ Takwa ▪ Ikhlas dalam berbuat ▪ Allah menepati janji
41:33, 41 33, 41-33, Fushshilat 33, Fushshilat 33, Fushilat 33, Fusilat 33, Fussilat 33

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 33

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 33. Oleh Kementrian Agama RI

Seandainya Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kapal yang berlayar tadi tidak dapat berlayar lagi, maka Dia akan menahan angin yang mendorong kapal tadi bergerak dan berlayar, dan tinggallah kapal itu tetap di permukaan air tidak dapat maju dan tidak dapat mundur.
Orang-orang yang dapat mengerti dan menyadari hal ini ialah orang-orang yang mempunyai pandangan luas, sabar dan patuh kepada perintah Allah dan senantiasa mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Dan tidak sedikit orang-orang yang menganggap bahwa halilintar termasuk tanda-tanda kekuasaan itu.
Adanya bencana yang terjadi pada suatu tempat berupa gempa bumi, tanah longsor, ombak yang menghanyutkan dan membinasakan, dan lain-lain dianggapnya semua itu hanya kejadian alami, tidak ada hubungan sedikit pun dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala
Camkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedangkan mereka berpaling dari padanya.
(Q.S. Yusuf [12]: 105)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak ada yang perkataannya lebih baik daripada orang yang mengajak mengesakan Allah dan menaati- Nya serta berbuat baik, sembari mengatakan, sebagai pengakuan atas akidah yang dipeluknya, “Aku benar- benar termasuk dalam golongan orang yang mematuhi perintah-perintah Allah.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Siapakah yang lebih baik perkataannya) maksudnya, tiada seorang pun yang lebih baik perkataannya (daripada seorang yang menyeru kepada Allah) yakni mentauhidkan-Nya (mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.
(Q.S. Fushshilat [41]: 33)

Yakni menyeru manusia untuk menyembah Allah semata.

mengerjakan amal saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”?
(Q.S. Fushshilat [41]: 33)

Yaitu dirinya sendiri mengerjakan apa yang dikatakannya dengan penuh konsekuen sehingga bermanfaat bagi dirinya, juga bagi orang lain yang mengikuti jejaknya.
Dan dia bukan termasuk orang-orang yang memerintahkan kepada kebajikan, sedangkan mereka sendiri tidak mengerjakannya; bukan pula termasuk orang-orang yang mencegah perkara yang mungkar, sedangkan mereka sendiri mengerjakannya.
Bahkan dia menganjurkan kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan, dan menyeru manusia untuk kembali ke jalan Khaliq.

Ayat ini mengandung makna yang umum mencakup setiap orang yang menyeru manusia kepada kebaikan, sedangkan dia sendiri mengerja­kannya dengan penuh konsekuen, dan orang yang paling utama dalam hal ini adalah Rasulullah ﷺ Demikianlah menurut pendapat Muhammad ibnu Sirin, As-Saddi, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud adalah para juru azan yang saleh, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui salah satu hadisnya yang mengatakan:

juru azan adalah orang yang paling panjang lehernya (terhormat) kelak di hari kiamat.

Dan di dalam kitab sunan disebutkan melalui salah satu hadisnya yang berpredikat marfu’:

Imam adalah penjamin, dan juru azan adalah orang yang dipercaya.
Maka Allah memberi petunjuk kepada para imam, dan memberi ampun bagi para juru azan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Urwah, telah menceritakan kepada kami Gassan kadi Hirah.
Abu Zar’ah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnuTuhman, dari Matar, dari Al-Hasan, dari Sa’d ibnu Abu Waqqas r.a.
yang mengatakan bahwa anak panah juru azan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat sama dengan anak panah mujahidin.
Seorang juru azan di antara azan dan iqamahnya sama (pahalanya) dengan seorang mujahid yang berlumuran darahnya di jalan Allah.

Ibnu Mas’ud r.a.
telah mengatakan bahwa seandainya dirinya ditugaskan menjadi juru azan, maka ia tidak peduli lagi dengan ibadah haji, tidak pula dengan ibadah umrah, tidak pula dengan jihad.

Umar ibnul Khattab r.a.
telah mengatakan, “Seandainya aku menjadi juru azan, sempurnalah urusanku dan aku tidak mempedulikan lagi untuk tidak berdiri di malam hari salat sunat, tidak pula puasa (sunat) di siang harinya, karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ berdoa:

‘Ya Allah, berilah ampunan bagi orang-orang yang azan.’

sebanyak tiga kali.
Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, engkau tinggalkan kami (dalam doamu), padahal kami berjuang dengan pedang untuk membela seruan azan.’ Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Bukan itu, hai Umar.
Sesungguhnya kelak akan datang suatu masa bagi manusia, di masa itu manusia meninggalkan azan (dan menyerahkannya) kepada orang-orang lemah mereka.
Dan daging itu diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk neraka, yaitu daging para juru azan’.”

Siti Aisyah r.a.
mengatakan bahwa berkenaan dengan para juru azanlah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”?
(Q.S. Fushshilat [41]: 33)

Siti Aisyah r.a.
mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah seruan juru azan saat mengucapkan, “Hayya ‘alas salah (marilah kita kerjakan salat),” dan sesungguhnya dia menyeru (manusia) kepada Allah.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Umar dan Ikrimah, bahwa sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan juru azan.

Al-Bagawi telah meriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili r.a.
yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan mengerjakan amal yang saleh.
(Q.S. Fushshilat [41]: 33) Yakni salat dua rakaat di antara azan dan iqamah.
Kemudian Al-Bagawi mengetengahkan hadis Abdullah ibnul Mugaffal r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Di antara dua azan (azan dan iqamah) terdapat salat (sunat) —kemudian pada yang ketiga kalinya beliau ﷺ bersabda— bagi orang yang menghendaki (nya).

Jamaah telah mengetengahkan di dalam kitab mereka masing-masing melalui hadis Abdullah ibnu Buraidah, dari Abdullah ibnul Mugaffal r.a.
Juga melalui hadis Ats-Tsauri, dari Zaid Al-Ama, dari Abu Iyas Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari Anas ibnu Malik r.a.
Ats-Tsauri mengatakan, ia merasa yakin bahwa Anas ibnu Malik me-rafa ‘-kan hadis ini sampai kepada Nabi ﷺ, yaitu:

Doa yang dipanjatkan di antara azan dan iqamah tidak ditolak.

Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaumu wal Lailah telah meriwayatkan semuanya melalui hadis Ats-Tsauri dengan sanad yang sama.

Pendapat yang benar menunjukkan bahwa makna ayat ini bersifat umum menyangkut para juru azan dan lain-lainnya.
Adapun mengenai saat diturunkannya ayat ini, azan salat masih belum disyariatkan sama sekali karena ayat ini Makkiyyah; sedangkan azan baru disyariatkan hanya di Madinah sesudah hijrah ketika kalimat-kalimat azan diperlihatkan kepada Abdullah ibnu Abdu Rabbih Al-Ansari dalam mimpinya, lalu ia menceritakannya kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan kepadanya agar mengajarkan azan kepada Bilal r.a.
karena sesungguhnya Bilal memiliki suara yang keras dan lantang, sebagaimana yang telah disebutkan di tempatnya.

Dengan demikian, berarti yang benar makna ayat ini bersifat umum.
Seperti yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa ia membaca firman-Nya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Q.S. Fushshilat [41]: 33)

Lalu Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa orang yang dimaksud adalah kekasih Allah, dia penolong (agama) Allah, dia orang pilihan Allah, dia orang yang diutamakan oleh Allah, dia adalah orang yang paling disukai Allah di antara penduduk bumi.
Dia memenuhi seruan Allah dan menyeru manusia untuk memenuhi seruan Allah seperti yang dilakukan olehnya, dan ia beramal saleh sebagai pengamalan seman Allah, lalu ia berkata, “Aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” dan ini menjadikannya sebagai khalifah Allah.


Informasi Surah Fushshilat (فصلت)
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu’min.

Dinamai “Fushshilat” (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan “Fush­shilat” yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti “yang dijelaskan”.
Maksudnya ayat­ ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pe­kerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan “Haa Miim As Sajdah” karena surat ini dimulai dengan “Haa Miim” dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Al Qur’an dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya
kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah
semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung
anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat
azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud
Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh
berita gembira dari malaikat kepada orang­ orang yang beriman
anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik
an­caman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah
sifat-sifat Al Qur’an Al Karim
manusia dan wataknya.

Ayat-ayat dalam Surah Fushshilat (54 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Fushshilat (41) ayat 33 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Fushshilat (41) ayat 33 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Fushshilat (41) ayat 33 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Fusilat (41) ayat 30-35 - Nasrullah Darwis (Bahasa Indonesia)
Q.S. Fusilat (41) ayat 30-35 - Nasrullah Darwis (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Fushshilat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 54 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 41:33
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, "Yang Dijelaskan") adalah surah ke-41 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah 41
Nama Surah Fushshilat
Arab فصلت
Arti Yang dijelaskan
Nama lain Ha Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 61
Juz Juz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 796
Jumlah huruf 3364
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’min
Surah selanjutnya Surah Asy-Syura
4.6
Ratingmu: 4.4 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 41:33 ▪ ayat waman ahsanu ▪ fushshilat 33 ▪ tafsir surat fussilat

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim