QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 11 [QS. 41:11]

ثُمَّ اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ
Tsummaastawa ilassamaa-i wahiya dukhaanun faqaala lahaa walil-ardhi i-atiyaa thau’an au karhan qaalataa atainaa thaa-i’iin(a);

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:
“Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”.
Keduanya menjawab:
“Kami datang dengan suka hati”.
―QS. 41:11
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan langit dan bumi ▪ Tugas-tugas malaikat
41:11, 41 11, 41-11, Fushshilat 11, Fushshilat 11, Fushilat 11, Fusilat 11, Fussilat 11

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 11

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah penciptaan bumi pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keadaan langit.
Setelah Allah menciptakan bumi Dia menuju ke langit, waktu itu langit berupa asap.

Bagaimana keadaan asap itu dan bagaimana hakikatnya, hanya Allah sajalah yang mengetahui Nya, sekalipun ada yang mencoba menerangkan keadaan asap yang dimaksud, baik yang dikemukakan oleh pendeta-pendeta Yahudi, maupun oleh para ahli yang telah mencoba menyelidikinya, namun belum ada keterangan yang pasti yang menerangkan keadaan dan hakikat asap itu.

Dalam ayat ini, seolah-olah Allah menerangkan bahwa bumi lebih dahulu diciptakan Nya dari langit, barulah Dia menciptakan langit dengan segala isinya, termasuk di dalamnya matahari, bulan dan bintang-bintang yang lain.
Tentang pada ayat yang lain diterangkan bahwa Allah menciptakan langit lebih dahulu dari menciptakan bumi.
Karena itu ada sebagian mufassir yang mencoba mengkompromikan kedua ayat ini.
Menurut mereka bahwa dalam merencanakan, maka Allah subhanahu wa ta’ala lebih dahulu merencanakan bumi dengan segala isinya.
Tetapi dalam pelaksanaanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dengan segala isinya lebih dahulu, kemudian sesudah itu baru menciptakan bumi dengan segala isinya.

Setelah Allah selesai menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, maka Dia memerintahkan kepada keduanya, “Datanglah kamu berdua kepada Ku, baik dalam keadaan senang hati maupun terpaksa” Maka langit dan bumi itu menjawab: “Kami akan datang dengan tunduk dan patuh”.
Kemudian Allah bertitah kepada alam langit: “Perhatikanlah sinar mataharimu, cahaya bulanmu, cahaya gemerlapan dari bintang-bintang, hembuskanlah anginmu, edarkanlah awanmu, sehingga dapat menurunkan hujan”.
Dan Dia berkata pula kepada bumi: “Alirkanlah sungai-sungaimu, tumbuhkanlah tanaman-tanaman dan pohon-pohonanmu”.
Maka keduanya menjawab: “Kami penuhi segala perintah Mu dengan patuh dan taat”.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan “Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa” dengan “Jadilah kamu keduanya menurut Sunah Ku yang telah Aku tetapkan, jangan menyimpang sedikitpun dari ketentuan-Ku itu, ikutilah proses-proses kejadianmu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan”.
Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepada langit dan bumi untuk meyempurnakan kejadiannya sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan, seperti bumi akan tercipta pada saatnya, demikian pula gunung-gunung, air, udara, binatang-binatang, manusia, tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman.
Semuanya akan terjadi pada waktu yang ditentukan Nya, tidak ada sesuatu pun yang menyimpang dari ketentuan Nya itu.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kejadian langit dan bumi itu, mulai dari terjadinya sampai kepada bentuk yang ada sekarang melalui proses-proses tertentu, sesuai dengan Sunah Allah.
Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit akan ada pada waktunya, dan akan hilang atau musnah pada waktunya pula, sesuai dengan keadaan langit dan bumi pada waktu itu.
Seperti kehidupan akan ada di bumi setelah ada air dan sebagainya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kekuasaan-Nya kemudian tertuju kepada penciptaan langit yang pada saat itu berujud asap, dan langit itu pun tercipta.
Penciptaan langit dan bumi menurut kehendak-Nya itu adalah mudah, yaitu seperti orang yang mengatakan kepada sesuatu, “Datanglah, suka atau tidak suka!” Sesuatu itu pun kemudian menurut.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Dia menuju) bermaksud kepada (penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap) masih berbentuk asap yang membumbung tinggi (lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya) menurut perintah-Ku (dengan suka hati atau terpaksa”) kedua lafal ini berkedudukan sama dengan Hal, yakni baik dalam keadaan senang hati atau terpaksa (keduanya menjawab, “Kami datang) beserta makhluk yang ada pada kami (dengan suka hati”) di dalam ungkapan ini diprioritaskan Dhamir Mudzakkar lagi Aqil, atau khithab kepada keduanya disamakan dengan jamak.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih merupakan asap.
(Q.S. Fushshilat [41]: 11)

Yaitu asap air yang naik membumbung saat bumi diciptakan.

lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” (Q.S. Fushshilat [41]: 11)

Artinya, turutilah perintah-Ku dan tunduklah kepada kemauan-Ku dengan taat atau terpaksa.

Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” (Q.S. Fushshilat [41]: 11) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada langit, “Munculkanlah matahari, rembulan, dan bintang-bintang (ciptaan)-Ku!” Dan berfirman kepada bumi, “Belahlah kamu untuk sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu!” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.”(Q.S. Fushshilat [41]: 11)

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir rahimahullah.

Keduanya menjawab, “Tidak, bahkan kami datang dengan suka rela penuh ketaatan kepada-Mu bersama semua makhluk yang hendak Engkau ciptakan, yaitu malaikat, jin, dan manusia yang ada pada kami, semuanya taat kepada Engkau.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ahli bahasa yang telah mengatakan bahwa suatu pendapat ada yang menakwilkan bahwa keduanya diperlakukan sebagaimana perlakuan terhadap makhluk yang berakal berikut dengan pembicaraan keduanya.
Menurut pendapat lain, sesungguhnya yang berkata demikian dari bagian bumi ialah tempat Ka’bah berada, dan dari langit ialah bagian yang berada di atas Ka’bah (Baitul Ma’mur).
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seandainya keduanya menolak, tidak mau datang, niscaya Allah memerintahkan agar keduanya diazab dengan suatu azab yang keduanya dapat merasakan rasa sakitnya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.


Kata Pilihan Dalam Surah Fushshilat (41) Ayat 11

DUKHAAN
دُخَان

Lafaz dukhaan berasal dari lafaz dakhana bermakna apa yang naik dari api berupa bahagian kecil yang dinyalakan dan ia tidak membakar, kabut dan asap.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Fushshilat (41), ayat 11;
-Ad Dukhaan (44), ayat 10.

Ad Dukhaan di dalam Al Qur’an memiliki dua makna:

Pertama, bermakna kabut yang darinya tercipta langit dan bumi sebagaimana yang terdapat dalam surah Fushshilat.

Ibnu Katsir berkata,
Ad dukhaan adalah uap air yang naik dan darinya bumi diciptakan.”

Dalam Tafsir Al Kasysyaf dikatakan, ‘Arasy Nya di atas air sebelum diciptakan langit dan bumi lalu dikeluarkan dari air itu kabut sehingga naik ke atas dan berada di atasnya. Air tadi dikeringkan dan ia menjadi bumi kemudian dipecahkan Nya sehingga menjadi bumi yang banyak. Sedangkan langit diciptakan dari kabut yang naik.

Kedua, bermakna awan tebal sebagai azab bagi orang kafir dan tanda datangnya hari kiamat seperti yang terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Al Qurtubi berkata,
“Terdapat tiga pendapat mengenai makna ad dukhaan dalam ayat surah Ad Dukhaan yaitu :

– Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Ali, Al Hasan, Ibnu Mulaikah dan lainnya berpendapat, ia adalah salah satu tanda datangnya hari kiamat yang belum tiba. Berada di bumi selama 40 hari yang me­nutupi diantara langit dan bumi. Bagi orang yang beriman, ia menimpanya seperti orang yang terkena penyakit salesema. Sedangkan bagi orang kafir dan fajir, ia masuk kedalam telinga, mulut dan kepala mereka dan menjadi seperti orang gila atau mabuk dan memanggang” serta menyekat pernafasan mereka. ltu adalah kesan api neraka pada hari kiamat.

Dalam Sahih Muslim, dari Abi At Tufail dari Hudzaifah bin Usid Al Ghiffari katanya, “Nabi Muhammad melihat kami sedang bermuzakarah lalu beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kamu bicarakan ?” Kami menjawab, “Kami bermuzakarah tentang hari kiamat” Beliau bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kamu melihat sepuluh tanda-tandanya yaitu, ad dukhaan (asap kabut yang tebal), Dajjal, dabbah. (hewan melata), matahari terbit dari barat, turunnya (Isa bin Maryam, keluar­nya Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana yaitu gerhana di Timur, Barat dan negeri Arab. Terakhir, keluarnya api dari negeri Yaman yang mengusir penduduknya dari kediaman mereka.

– Ibnu Mas’ud mengatakan, ia bermakna apa yang menimpa kaum Quraisy dari kelaparan karena doa Rasulullah, sehingga seorang lelaki melihat asap tebal antara langit dan bumi. Diriwayatkan oleh Al Bukhari hadits dari Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata,
“Hal ini terjadi disebabkan kaum Quraisy ingin berbuat jahat kepada Nabi Muhammad, lalu nabi ber­doa atas mereka agar mereka ditimpa musim kemarau dan kelaparan seperti yang menimpa pada zaman Nabi Yusuf dan mereka pun meng­alami musim kemarau dan kelaparan sehingga memakan tulang-tulang dan ketika seorang dari mereka me­noleh ke langit maka terlihat asap tebal (dukhaan) antara langit dan bumi.

– Abd Rahman Al A’raj berpendapat, ia bermaksud Fathul Makkah ketika langit diselubungi debu dan awan tebal. Al Qurtubi berkata,
“Apabila terjadi ia dikhususkan kepada orang musyrik Makkah dan apabila ia bermaksud tanda-tanda hari kiamat, maka ia adalah umum dan berita bagi keadaan yang berlaku pada masa hadapan.

Lafaz ad dukhaan juga adalah salah satu nama surah yang ke 44 menurut urutan di dalam Al Qur’an yang terdiri dari 59 ayat ke­ seluruhannya dan diturunkan di Makkah kecuali ayat 5 yaitu :

أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Terdapat riwaat yang me­nyebut berkenaan kelebihan surah ini:

– Diriwayatkan oleh At Tirmidzi” hadis dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca “Haa miim ad dukhaan” pada malam hari maka 70000 malaikat akan memohonkam ampunan baginya”
– Diriwayatkan secara marfu’ oleh Ats Tsa’labi hadits dari Abu Hurairah Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at, dosanya akan diampuni.”
– Diriwayatkan dalam Musnad Ad Darimi hadits dari Abi Rafi’, katanya, “Barang siapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at dosanya akan di­ ampuni dan dikawinkan dengan bidadari.”
– Diriwayatkan dari Abu Umamah, katanya, aku mendengar nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang membaca “hamim ad dukhaan” pada malam Jum’at, Allah membangun bagi­nya rumah di dalam syurga.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:230-232

Informasi Surah Fushshilat (فصلت)
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu’min.

Dinamai “Fushshilat” (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan “Fush­shilat” yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti “yang dijelaskan”.
Maksudnya ayat­ ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pe­kerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan “Haa Miim As Sajdah” karena surat ini dimulai dengan “Haa Miim” dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Al Qur’an dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya
kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah
semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung
anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat
azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud
Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh
berita gembira dari malaikat kepada orang­ orang yang beriman
anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik
an­caman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah
sifat-sifat Al Qur’an Al Karim
manusia dan wataknya.

Ayat-ayat dalam Surah Fushshilat (54 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Fushshilat (41) ayat 11 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Fushshilat (41) ayat 11 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Fushshilat (41) ayat 11 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Fushshilat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 54 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 41:11
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, "Yang Dijelaskan") adalah surah ke-41 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah 41
Nama Surah Fushshilat
Arab فصلت
Arti Yang dijelaskan
Nama lain Ha Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 61
Juz Juz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 796
Jumlah huruf 3364
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’min
Surah selanjutnya Surah Asy-Syura
4.8
Ratingmu: 4.6 (8 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim