Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 11 [QS. 41:11]

ثُمَّ اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ
Tsummaastawa ilassamaa-i wahiya dukhaanun faqaala lahaa walil-ardhi i-atiyaa thau’an au karhan qaalataa atainaa thaa-i’iin(a);
Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi,
“Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.”
Keduanya menjawab,
“Kami datang dengan patuh.”
―QS. Fushshilat [41]: 11

Then He directed Himself to the heaven while it was smoke and said to it and to the earth,
"Come (into being), willingly or by compulsion."
They said,
"We have come willingly."
― Chapter 41. Surah Fushshilat [verse 11]

ثُمَّ kemudian

Then
ٱسْتَوَىٰٓ Dia menuju

He directed (Himself)
إِلَى kepada

towards
ٱلسَّمَآءِ langit

the heaven
وَهِىَ dan ia/langit

while it (was)
دُخَانٌ asap

smoke,
فَقَالَ lalu Dia berkata

and He said
لَهَا kepadanya

to it
وَلِلْأَرْضِ dan kepada bumi

and to the earth,
ٱئْتِيَا datanglah kamu berdua

"Come both of you
طَوْعًا suka hati

willingly
أَوْ atau

or
كَرْهًا terpaksa

unwillingly."
قَالَتَآ keduanya berkata

They both said,
أَتَيْنَا kami datang

"We come
طَآئِعِينَ dengan suka hati

willingly."

Tafsir

Alquran

Surah Fushshilat
41:11

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 11. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini Allah menerangkan keadaan langit.
Setelah Allah menciptakan bumi Dia menuju ke langit, waktu itu langit berupa asap.

Bagaimana keadaan asap itu dan apa hakikatnya, hanya Allah sajalah yang mengetahui-Nya.
Sekalipun ada yang mencoba menerangkan keadaan asap yang dimaksud, baik yang dikemukakan oleh pendeta-pendeta Yahudi, maupun oleh para ahli yang telah mencoba menyelidikinya, namun belum ada keterangan yang pasti yang menerangkan keadaan dan hakikat asap itu.


Menurut teori ilmu pengetahuan, ayat di atas menggambarkan mengenai permulaan alam semesta.
Peristiwa tersebut ditandai dengan terjadinya peristiwa yang oleh para ilmuwan disebut Big Bang.

Peristiwa tersebut sangat jelas terlihat pada surah al-Anbiya‘ [21]: 30 yang penggalannya berbunyi demikian:
"..
..
bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah satu yang padu, kemudian Kami pisahkan..
."
.


Ilmu kosmologi modern, baik dari pengamatan maupun teori, secara jelas mengindikasikan bahwa pada suatu saat, seluruh alam semesta terdiri hanya dari awan dari
"asap"
yang terdiri atas komposisi gas yang padat dan sangat panas.
Kumpulan ini terdiri atas sejumlah besar kekuatan atom yang saling berkaitan dan berada di bawah tekanan yang sangat kuat.
Jari-jari kumpulan yang berbentuk bola ini diperkirakan sekitar 5 juta kilometer.
Cairan atom pertamanya berupa ledakan dahsyat (yang biasa disebut Big Bang), dan mengakibatkan terbentuk dan terpencarnya berbagai benda langit.
Hal ini sudah menjadi prinsip yang teruji dan menjadi dasar dalam kosmologi modern.
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, para peneliti saat ini dapat menyaksikan
"kelahiran"
bintang dengan menggunakan teleskop yang sangat canggih.
Teori mengenai bentukan
"asap"
sebagai asal-muasal suatu bintang, juga telah disebutkan dalam Surah Fushshilat [41]: 11 di atas.
Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi, dan sebagainya) terbentuk dari
"asap"
yang sama, maka para pakar menyimpulkan bahwa bumi dan isi langit seluruhnya adalah satu kesatuan sebelumnya.
Dari material
"asap"
yang sama ini, kemudian mereka terpisah satu sama lain.
Hal yang demikian ini juga telah diungkapkan oleh Alquran dalam Surah al-Anbiya‘ [21]: 30 tersebut di atas.



Pada ayat ini, seolah-olah Allah menerangkan bahwa bumi lebih dahulu diciptakan dari langit dengan segala isinya, termasuk di dalamnya matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Ayat yang lain menerangkan bahwa Allah menciptakan langit lebih dahulu dari menciptakan bumi.
Oleh karena itu, ada sebagian mufasir yang mencoba mengompromikan kedua ayat ini.
Menurut mereka, dalam perencanaan, Allah lebih dahulu merencanakan bumi dengan segala isinya.
Akan tetapi, dalam pelaksanaannya, Allah menciptakan langit dengan segala isinya lebih dahulu, kemudian sesudah itu baru menciptakan bumi dengan segala isinya.


Setelah selesai menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, Allah memerintahkan keduanya untuk datang kepada-Nya, baik dalam keadaan senang maupun terpaksa.
Langit dan bumi mengatakan bahwa mereka akan datang dengan tunduk dan patuh.
Kemudian Allah bertitah kepada langit,
"Perhatikanlah sinar mataharimu, cahaya bulanmu, cahaya gemerlap dari binatang-bintang, hembuskanlah anginmu, edarkanlah awanmu, sehingga dapat menurunkan hujan."
Allah ﷻ berfirman pula kepada bumi,
"Alirkanlah sungai-sungaimu, serta tumbuhkanlah tanaman-tanaman dan pohon-pohonmu."
Keduanya menjawab,
"Kami penuhi segala perintah-Mu dengan patuh dan taat."


Sebagian ahli tafsir menafsirkan
"datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka atau terpaksa"
dengan
"jadilah kamu keduanya menurut Sunnah-Ku yang telah Aku tetapkan, jangan menyimpang sedikit pun dari ketentuan-Ku itu, ikutilah proses-proses kejadianmu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan."
Dengan kata lain dapat dipahami bahwa Allah memerintahkan kepada langit dan bumi untuk menyempurnakan kejadiannya sesuai dengan ketetapan yang telah ditentukan, seperti bumi akan tercipta pada saatnya, demikian pula gunung-gunung, air, udara, binatang-binatang, manusia, dan tumbuh-tumbuhan.
Semuanya akan terjadi pada waktu yang ditentukan-Nya, tidak ada satu pun yang menyimpang dari ketentuan-Nya.


Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kejadian langit dan bumi itu, mulai dari terjadinya sampai kepada bentuk yang ada sekarang, melalui proses-proses tertentu sesuai dengan sunah Allah.
Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit akan ada pada waktunya, dan akan hilang atau musnah pada waktunya pula, sesuai dengan keadaan langit dan bumi pada waktu itu.


Tafsir QS. Fushshilat (41) : 11. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kekuasaan-Nya kemudian tertuju kepada penciptaan langit yang pada saat itu berujud asap, dan langit itu pun tercipta.
Penciptaan langit dan bumi menurut kehendak-Nya itu adalah mudah, yaitu seperti orang yang mengatakan kepada sesuatu,
"Datanglah, suka atau tidak suka!"
Sesuatu itu pun kemudian menurut. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kemudian Allah menuju langit yang sebelumnya adalah kabut.
Lalu Dia berfirman kepada langit dan bumi :
Tunduklah kalian berdua kepda perintah-Ku, suka atau tidak.


Maka keduanya menjawab :
Kami menghadap kepada-Mu dengan ketundukan, kami tidak memiliki keinginan yang menyelisihi keinginan-Mu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Kemudian Dia menuju) bermaksud kepada


(penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap) masih berbentuk asap yang membumbung tinggi


(lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu keduanya) menurut perintah-Ku


(dengan suka hati atau terpaksa") kedua lafal ini berkedudukan sama dengan Hal, yakni baik dalam keadaan senang hati atau terpaksa


(keduanya menjawab,
"Kami datang) beserta makhluk yang ada pada kami


(dengan suka hati") di dalam ungkapan ini diprioritaskan Dhamir Mudzakkar lagi Aqil, atau khithab kepada keduanya disamakan dengan jamak.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih merupakan asap.
(QS. Fushshilat [41]: 11)

Yaitu asap air yang naik membumbung saat bumi diciptakan.

lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa."
(QS. Fushshilat [41]: 11)

Artinya, turutilah perintah-Ku dan tunduklah kepada kemauan-Ku dengan taat atau terpaksa.

Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman ibnu Musa, dari Mujahid dan Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi,
"Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa."
(QS. Fushshilat [41]: 11)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada langit,
"Munculkanlah matahari, rembulan, dan bintang-bintang (ciptaan)-Ku!"
Dan berfirman kepada bumi,
"Belahlah kamu untuk sungai-sungaimu dan keluarkanlah buah-buahanmu!"
Keduanya menjawab,
"Kami datang dengan suka hati."(QS. Fushshilat [41]: 11)

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir rahimahullah.


Keduanya menjawab,
"Tidak, bahkan kami datang dengan suka rela penuh ketaatan kepada-Mu bersama semua makhluk yang hendak Engkau ciptakan, yaitu malaikat, jin, dan manusia yang ada pada kami, semuanya taat kepada Engkau."


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ahli bahasa yang telah mengatakan bahwa suatu pendapat ada yang menakwilkan bahwa keduanya diperlakukan sebagaimana perlakuan terhadap makhluk yang berakal berikut dengan pembicaraan keduanya.
Menurut pendapat lain, sesungguhnya yang berkata demikian dari bagian bumi ialah tempat Ka’bah berada, dan dari langit ialah bagian yang berada di atas Ka’bah (Baitul Ma’mur).
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seandainya keduanya menolak, tidak mau datang, niscaya Allah memerintahkan agar keduanya diazab dengan suatu azab yang keduanya dapat merasakan rasa sakitnya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Kata Pilihan Dalam Surah Fushshilat (41) Ayat 11

DUKHAAN
دُخَان

Lafaz dukhaan berasal dari lafaz dakhana bermakna apa yang naik dari api berupa bahagian kecil yang dinyalakan dan ia tidak membakar, kabut dan asap.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Fushshilat (41), ayat 11;
Ad Dukhaan (44), ayat 10.
Ad Dukhaan di dalam Al Qur’an memiliki dua makna:

Pertama, bermakna kabut yang darinya tercipta langit dan bumi sebagaimana yang terdapat dalam surah Fushshilat.

Ibnu Katsir berkata,
"Ad dukhaan adalah uap air yang naik dan darinya bumi diciptakan."

Dalam Tafsir Al Kasysyaf dikatakan, ‘Arasy Nya di atas air sebelum diciptakan langit dan bumi lalu dikeluarkan dari air itu kabut sehingga naik ke atas dan berada di atasnya.
Air tadi dikeringkan dan ia menjadi bumi kemudian dipecahkan Nya sehingga menjadi bumi yang banyak.
Sedangkan langit diciptakan dari kabut yang naik.

Kedua, bermakna awan tebal sebagai azab bagi orang kafir dan tanda datangnya hari kiamat seperti yang terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Al Qurtubi berkata,
"Terdapat tiga pendapat mengenai makna ad dukhaan dalam ayat surah Ad Dukhaan yaitu :

– Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Ali, Al Hasan, Ibnu Mulaikah dan lainnya berpendapat, ia adalah salah satu tanda datangnya hari kiamat yang belum tiba.
Berada di bumi selama 40 hari yang menutupi diantara langit dan bumi.
Bagi orang yang beriman, ia menimpanya seperti orang yang terkena penyakit salesema.
Sedangkan bagi orang kafir dan fajir, ia masuk kedalam telinga, mulut dan kepala mereka dan menjadi seperti orang gila atau mabuk dan memanggang" serta menyekat pernafasan mereka.
ltu adalah kesan api neraka pada hari kiamat.

Dalam Sahih Muslim, dari Abi At Tufail dari Hudzaifah bin Usid Al Ghiffari katanya, "Nabi Muhammad melihat kami sedang bermuzakarah lalu beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kamu bicarakan ?" Kami menjawab, "Kami bermuzakarah tentang hari kiamat" Beliau bersabda, "Tidak akan datang hari kiamat sehingga kamu melihat sepuluh tanda-tandanya yaitu, ad dukhaan (asap kabut yang tebal), Dajjal, dabbah.
(hewan melata), matahari terbit dari barat, turunnya (Isa bin Maryam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana yaitu gerhana di Timur, Barat dan negeri Arab.
Terakhir, keluarnya api dari negeri Yaman yang mengusir penduduknya dari kediaman mereka.

– Ibnu Mas’ud mengatakan, ia bermakna apa yang menimpa kaum Quraisy dari kelaparan karena doa Rasulullah, sehingga seorang lelaki melihat asap tebal antara langit dan bumi.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari hadits dari Abdullah bin Mas’ud.
Beliau berkata,
"Hal ini terjadi disebabkan kaum Quraisy ingin berbuat jahat kepada Nabi Muhammad, lalu nabi berdoa atas mereka agar mereka ditimpa musim kemarau dan kelaparan seperti yang menimpa pada zaman Nabi Yusuf dan mereka pun mengalami musim kemarau dan kelaparan sehingga memakan tulang-tulang dan ketika seorang dari mereka menoleh ke langit maka terlihat asap tebal (dukhaan) antara langit dan bumi.

– Abd Rahman Al A’raj berpendapat, ia bermaksud Fathul Makkah ketika langit diselubungi debu dan awan tebal.
Al Qurtubi berkata,
"Apabila terjadi ia dikhususkan kepada orang musyrik Makkah dan apabila ia bermaksud tanda-tanda hari kiamat, maka ia adalah umum dan berita bagi keadaan yang berlaku pada masa hadapan.

Lafaz ad dukhaan juga adalah salah satu nama surah yang ke 44 menurut urutan di dalam Al Qur’an yang terdiri dari 59 ayat ke seluruhannya dan diturunkan di Makkah kecuali ayat 5 yaitu :

أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Terdapat riwaat yang menyebut berkenaan kelebihan surah ini:

– Diriwayatkan oleh At Tirmidzi" hadis dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang membaca "Haa miim ad dukhaan" pada malam hari maka 70000 malaikat akan memohonkam ampunan baginya”
– Diriwayatkan secara marfu‘ oleh Ats Tsa’labi hadits dari Abu Hurairah Nabi Muhammad bersabda, "Barangsiapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at, dosanya akan diampuni."
– Diriwayatkan dalam Musnad Ad Darimi hadits dari Abi Rafi’, katanya, "Barang siapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at dosanya akan di ampuni dan dikawinkan dengan bidadari."
– Diriwayatkan dari Abu Umamah, katanya, aku mendengar nabi Muhammad bersabda, "Barang siapa yang membaca "hamim ad dukhaan" pada malam Jum’at, Allah membangun baginya rumah di dalam syurga."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 230-232

Unsur Pokok Surah Fushshilat (فصلت)

Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al mukmin.

Dinamai "Fushshilat" (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan "Fush­shilat" yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti "yang dijelaskan".
Maksudnya ayat-ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukumhukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pekerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan "Haa Miim As Sajdah" karena surat ini dimulai dengan "Haa Miim" dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Alquran dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya.
▪ Kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah.
▪ Semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung.
▪ Anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat.
Azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad dan Tsamud.
▪ Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amalamal saleh.
▪ Berita gembira dari malaikat kepada orang-orang yang beriman.
▪ Anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik.
▪ Ancaman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah.
▪ Sifat-sifat Alquran Al Karim.
▪ Manusia dan wataknya.

Audio

QS. Fushshilat (41) : 1-54 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 54 + Terjemahan Indonesia

QS. Fushshilat (41) : 1-54 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 54

Gambar Kutipan Ayat

Surah Fushshilat ayat 11 - Gambar 1 Surah Fushshilat ayat 11 - Gambar 2
Statistik QS. 41:11
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, “Yang Dijelaskan”) adalah surah ke-41 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah41
Nama SurahFushshilat
Arabفصلت
ArtiYang dijelaskan
Nama lainHa Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu61
JuzJuz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku’5 ruku’
Jumlah ayat54
Jumlah kata796
Jumlah huruf3364
Surah sebelumnyaSurah Al-Mu’min
Surah selanjutnyaSurah Asy-Syura
Sending
User Review
4.6 (8 votes)
Tags:

41:11, 41 11, 41-11, Surah Fushshilat 11, Tafsir surat Fushshilat 11, Quran Fushilat 11, Fusilat 11, Fussilat 11, Surah Fusilat ayat 11

▪ fhushilat 41:11 ▪ Fushshilat: 11 ▪ qs 41: 11
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 68 [QS. 22:68]

68. Dan jika mereka, kaum Yahudi dan Nasrani, membantah engkau, Muhammad, ketika engkau mengajarkan tauhid yang lurus, ibadah yang sempurna, dan akhlak yang mulia; maka katakanlah kepada ahli kitab, Y … 22:68, 22 68, 22-68, Surah Al Hajj 68, Tafsir surat AlHajj 68, Quran Al-Haj 68, Alhaj 68, Al Haj 68, Al-Hajj 68, Surah Al Hajj ayat 68

QS. Yaa Siin (Yaasiin) – surah 36 ayat 52 [QS. 36:52]

52. Orang-orang kafir itu kaget dan heran pada saat dibangkitkan. Me-reka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami di alam kubur?” Mereka berkata demikian kare … 36:52, 36 52, 36-52, Surah Yaa Siin 52, Tafsir surat YaaSiin 52, Quran Yasin 52, Surah Yasin ayat 52

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

+

Array

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa waḍa'nā 'angka wizrak

'dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,'
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #8

Orang yang menceritakan hadits disebut … haditsain perawi tabi’in sanad tabi’ut tabi’in Benar! Kurang tepat! Berikut adalah hadits yang rusak,

Pendidikan Agama Islam #11

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … QS. Al A’raf : 31

Instagram