QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 10 [QS. 41:10]

وَ جَعَلَ فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً لِّلسَّآئِلِیۡنَ
Waja’ala fiihaa rawaasiya min fauqihaa wabaaraka fiihaa waqaddara fiihaa aqwaatahaa fii arba’ati ai-yaamin sawaa-an li-ssaa-iliin(a);

Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
―QS. 41:10
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
41:10, 41 10, 41-10, Fushshilat 10, Fushshilat 10, Fushilat 10, Fusilat 10, Fussilat 10

Tafsir surah Fushshilat (41) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Fushshilat (41) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan kebagusan penciptaan dan hukum-hukum yang berlaku pada bumi yang diciptakan Nya itu.
Dia telah menjadikan gunung-gunung di permukaan bumi, ada yang tinggi ada yang sedang ada yang merupakan dataran tinggi saja, ada yang berapi dan ada pula gunung itu merupakan pasak atau paku bumi.
Dengan adanya gunung, permukaan bumi menjadi indah, ada yang tinggi dan ada yang rendah.
Tumbuh-tumbuhan pegunungan pun berbeda dengan tumbuh-tumbuhan yang ada di dataran rendah demikian pula binatang-binatangnya.
Dengan adanya gunung-gunung, maka ada pula sungai-sungai yang mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, dan akhirnya bermuara ke laut, seakan-akan gunung itu merupakan tempat penyimpanan air, yang terus menerus mengalir memenuhi keperluan manusia.

Jika di permukaan bumi ini tidak ada gunung-gunung yang menghijau, bukit-bukit yang berbaris, lembah dan jurang yang dialiri sungai-sungai, padang rumput dan padang pasir, tentulah keadaan bumi ini lain dari keadaan yang sekarang ini.
Betapa hambarnya hidup di dunia seandainya bumi ini merupakan dataran yang datar terhampar saja, sesayup-sayup mata memandang, hanya terdapat dataran yang luas saja, tidak bervariasi, tidak ada tanaman dan binatang yang beraneka ragam.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi ini sebagai tempat yang penuh keberkatan bagi manusia, penuh dengan kebagusan dan keindahan, dilengkapi dengan segala macam yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya dan keperluan makhluk-makhluk lain.
Sejak dari udara yang dihisap setiap saat, makanan-makanan yang diperlukan, tempat-tempat yang sejuk dan nyaman, lautan yang luas dapat dilayari, barang tambang yang terpendam di dalam tanah dan banyak lagi nikmat yang lain yang disediakan Nya yang tidak terhitung macam dan jumlahnya.

Dia pula yang telah menentukan ukuran dan kadar segala sesuatu.
Mengadakan makanan pengenyang yang sesuai dengan keadaan binatang atau manusia yang memerlukannya.
Untuk manusia disediakan Nya padi, gandum dan sebagainya.
Untuk binatang ternak disediakan Nya rumput dan sebagainya.
Betapa banyak jumlah manusia, berapa banyak ikan di laut, burung yang beterbangan.
binatang-binatang yang hidup di dalam rimba semuanya disediakan Allah rezeki dan keperluan hidupnya, sesuai dengan keadaan masing-masing.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa menciptakan bumi dan gunung-gunung yang ada padanya itu ialah dalam dua masa dan menciptakan keperluan-keperluan, makanan dan sebagainya itu dua masa pula.
Semuanya dilakukan dalam empat masa.
Dalam waktu empat masa itu terciptalah semuanya dan dasar-dasar dari segala sesuatu yang ada di alam ini, sesuai dengan masa dan keadaan dalam perkembangan selanjutnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dia juga menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi agar bumi tidak oleng, menurunkan banyak karunia di atasnya dan menentukan rezeki penduduknya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.
Semua itu dilakukan-Nya dalam waktu empat hari.
Kendati demikian, kalian tetap menyekutukan-Nya.
Dia menentukan segala sesuatu secara tepat:
tidak kurang dan tidak lebih.
Rincian tentang penciptaan bumi dan isinya itu adalah keterangan untuk orang-orang yang bertanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Dia menjadikan) merupakan jumlah Istinaf, dan tidak boleh di’athafkan kepada Shilah Al-Ladzii karena ada pemisah yang bersifat Ajnabii yaitu ayat, Wataj’aluuna Lahuu Andaadan dan seterusnya (di bumi itu gunung-gunung) yang kokoh dan kuat (di atasnya dan Dia memberkahinya) dengan air yang banyak, dan tanam-tanaman serta pohon-pohon yang banyak pula (dan Dia menentukan) artinya, membagi-bagikan (padanya kadar makanan-makanannya) untuk manusia dan fauna (dalam) masa penjadian yang sempurna yaitu (empat hari) hal ini dijadikan-Nya pada hari Selasa dan Rabu (yang genap) dinashabkan karena menjadi Mashdar, maksudnya penciptaan itu selama empat hari genap, tidak bertambah dan tidak pula berkurang dari itu (bagi orang-orang yang bertanya) maksudnya, sebagai jawaban bagi orang-orang yang menanyakan tentang penciptaan bumi dan segala isinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
Dia memberkahinya.
(Q.S. Fushshilat [41]: 10)

Allah menjadikan bumi penuh dengan berkah, yakni dapat menerima kebaikan, benih-benih tanaman, dan dapat dibajak.
Allah menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dan tempat-tempat yang layak untuk ditanami dan dijadikan lahan pertanian, yang hal ini dilakukan­Nya dalam dua hari —yaitu hari Selasa dan hari Rabu— yang bila digabungkan dengan dua hari yang sebelumnya menjadi empat hari.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dalam empat hari genap.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
(Q.S. Fushshilat [41]: 10)

Yaitu bagi orang yang mau bertanya tentang hal tersebut untuk menambah wawasan pengetahuannya.

Ikrimah dan Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia menentukan kadar makanan-makanan (penghuni)nya.
(Q.S. Fushshilat [41]: 10) Dia menjadikan pada tiap-tiap bagian bumi keistimewaannya tersendiri yang tidak dapat dimiliki oleh bagian yang lainnya, misalnya di negeri Yaman terkenal dengan ‘asb-nya, di Sabur terkenal dengan saburi-nya, sedangkan di Ar-Ray terkenal dengan tayalisah-nya.

Ibnu Abbas, Qatadah, dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang genap.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
(Q.S. Fushshilat [41]: 10) Maksudnya, bagi orang yang ingin mengetahui tentangnya.

Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa genap.
(Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
(Q.S. Fushshilat [41]: 10) Yakni sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya; bagi orang yang mempunyai keperluan terhadap rezeki atau kebutuhan, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menentukan baginya makanan dan keperluan yang dibutuhkannya.

Pendapat ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh mereka sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.
(Q.S. Ibrahim [14]: 34)

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Kata Pilihan Dalam Surah Fushshilat (41) Ayat 10

ARBA’AH
أَرْبَعَة

Lafaz ini mudzakkar dan mu’annatsnya adalah arba’. Ia mengandung beberapa makna berdasarkan sandarannya atau hubungannya dengan kalimat lain.

Apabila disandarkan kepada al ‘udad (bilangan) bermakna empat atau bilangan yang diketahui.

Arba’ al qawm bermakna mereka dalam musim semi atau musim bunga,

Arba’ al-hamil bermakna melahirkan dalam musim bunga.

Dzawat al-arba’ artinya hewan yang berjalan di atas empat kaki.

Ar riyah al-arba’ bermakna angin timur, barat, selatan dan utara.

Lafaz arba’ah disebut sembilan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 226, 234, 260;
-Al Nisaa (4), ayat 15;
-At Taubah (9), ayat 2, 36;
-An Nuur (24), ayat 4, 13;
-Fushshilat (41), ayat 10.

Lafaz arba’ah di dalam Al Qur’an disandarkan kepada beberapa perkara yang mengisyaratkan perbedaan makna.

Pertama, ia disandarkan kepada kesaksian atau arba’ syahadat sebagaimana dalam surah An Nisaa ayat 15 dan An Nuur, ayat 41 dan 13

“Bagi isteri-isteri yang berzina, suami-suami mereka perlu mendatangkan empat orang saksi dari lelaki muslim yang merdeka. Apabila terbukti kesalahan, wanita itu hendaklah dikurung sehingga mati.'”

Ibn Katsir berkata,
“Pada awal Islam, hukuman bagi seorang perempuan yang dibuktikan berzina dengan adanya saksi yang adil, ia dikurung di dalam rumah dan tidak dibolehkan keluar sehingga mati. Kemudian Allah memansuhkannya dengan perkataan sabila.

Kedua, ia disandarkan kepada bulan (arba’ah asyhur) sebagaimana dalam surah Al Baqarah (2), ayat 226, 234 dan At Taubah (9), ayat 2. Dalam ayat 226, surah Al Baqarah, Allah memberikan tempoh empat bulan bagi orang yang bersumpah tidak mencampuri isterinya.

Ketiga, ia disandarkan kepada hari atau malam (arba’ah ayyaam) yaitu yang terdapat dalam surah Fushshilat, ayat 10.

Az Zamakhsyari berkata,
“Maksud dari empat hari itu ialah tempoh di mana Allah menciptakan bumi dan segala yang ada di dalamnya, seakan-­akan Dia berkata,
“Penciptaan semua itu adalah sempurna dalam empat hari,” tidak kurang dan tidak lebih”

Keempat, ia disandarkan kepada hurum (arba’ah hurum), yaitu yang terdapat pada surah At Taubah, ayat 36.

Dalam Tafsir Al Jalalain, ia bermaksud empat bulan yang dihormati dalam Islam di antara dua belas bulan yaitu Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab.

Kelima, ia disandarkan kepada burung (arba’ah min al-tayr) sebagaimana dalam surah Al Baqarah, ayat 260.

Ibn Katsir berkata,
“Para mufassir berbeda pendapat tentang empat burung itu.
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas, ia adalah ayam jantan (al-dik), burung merpati (al-hamamah), burung merak (al­tawus) dan burung bangau (al-ghurnuq).

Dari Mujahid, Ibn Iuraij, Ibn Zaid, ia adalah al hamiimah (burung merpati), al dik (ayam jantan), al-tawus (burung merak) dan al ghurab (burung gagak).

Kesimpulannya adalah lafaz arba’ah bermakna bilangan empat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:60-61

Informasi Surah Fushshilat (فصلت)
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu’min.

Dinamai “Fushshilat” (yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan “Fush­shilat” yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti “yang dijelaskan”.
Maksudnya ayat­ ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji dan ancaman, budi pe­kerti, kisah dan sebagainya.

Dinamai juga dengan “Haa Miim As Sajdah” karena surat ini dimulai dengan “Haa Miim” dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.

Keimanan:

Al Qur’an dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya
kejadian-kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan adanya Allah
semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas dari pengetahuan Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Hikmah diciptakannya gunung-gunung
anggota tubuh tiap-tiap orang menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat
azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad dan Tsamud
Permohonan orang-orang kafir agar dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh
berita gembira dari malaikat kepada orang­ orang yang beriman
anjuran menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik
an­caman terhadap orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah
sifat-sifat Al Qur’an Al Karim
manusia dan wataknya.

Ayat-ayat dalam Surah Fushshilat (54 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Fushshilat (41) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Fushshilat (41) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Fushshilat (41) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Fushshilat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 54 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 41:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Fushshilat.

Surah Fussilat (Arab: فصّلت, "Yang Dijelaskan") adalah surah ke-41 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 54 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah yang diturunkan sesudah Surah Al-Mu’min ini dinamai Fussilat (Yang Dijelaskan) diambil dari kata Fushshilat yang terdapat pada permulaan surah ini.

Nomor Surah 41
Nama Surah Fushshilat
Arab فصلت
Arti Yang dijelaskan
Nama lain Ha Mim as-Sadjah, Mashabih
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 61
Juz Juz 24 (1-46) & juz 25 (47-54)
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 54
Jumlah kata 796
Jumlah huruf 3364
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’min
Surah selanjutnya Surah Asy-Syura
4.7
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Al-Fush-shilat/41: 10 ▪ apa maksud QS fusilat/ hamim al-sajadah 41:10

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim