Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Faathir

Faathir (Pencipta) surah 35 ayat 6


اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمۡ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوۡہُ عَدُوًّا ؕ اِنَّمَا یَدۡعُوۡا حِزۡبَہٗ لِیَکُوۡنُوۡا مِنۡ اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ ؕ
Innasy-syaithaana lakum ‘aduu-wun faattakhidzuuhu ‘aduu-wan innamaa yad’uu hizbahu liyakuunuu min ashhaabissa’iir(i);

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala
―QS. 35:6
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Allah tidak membutuhkan makhlukNya
35:6, 35 6, 35-6, Faathir 6, Faathir 6, AlFathir 6, Al-Fathir 6, Fatir 6
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Faathir (35) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa setan itu adalah musuh bagi manusia yang selalu membuat keraguan, membisikkan yang jahat dengan daya tariknya yang mempesonakan, supaya manusia itu menuruti dan mengerjakannya.

Firman Allah:

Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam.
(Q.S.
Al Ankabut: 38)

Oleh karena itu hendaklah manusia menganggap dan menjadikan setan itu musuhnya yang sangat berbahaya yang tidak perlu dilayani sama sekali, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

(Q.S.
Al An'am: 142)

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa maksud dan tujuan setan itu mendorong manusia berbuat yang bertentangan dengan perintah Allah, adalah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?
(Q.S.
Luqman: 21)

Faathir (35) ayat 6 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Faathir (35) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Faathir (35) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya setan adalah musuh besar kalian.
Maka janganlah kalian terpedaya oleh bujuk rayunya.
Tetapi, jadikanlah setan itu sebagai musuh kalian karena ia ingin menjajak para pengikutnya untuk menjadi penghuni neraka yang nyala apinya berkobar-kobar, bukan untuk sesuatu yang lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh) dengan cara taat kepada Allah dan tidak menaati setan (karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya) yakni pengikut-pengikutnya yang sama-sama kafir dengannya (supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala) yakni neraka yang keras siksaannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya setan adalah musuh bagi Bani Adam, maka jadikanlah dia sebagai musuh dan jangan menaatinya.
Karena dia hanya mengajak orang-orang yang mengikutinya kepada kesesatan, sehingga mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan permusuhan iblis terhadap anak Adam melalui firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu).
(Faathir':6)

Setan itu adalah musuh kalian yang terang, maka musuhilah setan itu oleh kalian dengan permusuhan yang keras.
Tentanglah mereka dan dustakanlah mereka bila membujuk kalian untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran.

karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
(Faathir':6)

Yakni sesungguhnya tujuan setan menyesatkan kalian hanyalah agar kalian masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala bersama-sama dengan mereka, setan adalah musuh yang jelas.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita sebagai musuh-musuh setan dan hendaknyalah Dia memberi taufik kepada kita untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an-Nya dan mengikuti jejak Rasul-Nya.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya dan Mahakuasa untuk memperkenankan doa yang dipanjatkan kepada-Nya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam, "maka sujudlah mereka kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.
Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu.
Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.
(Al Kahfi:50)

Kata Pilihan Dalam Surah Faathir (35) Ayat 6

HIZB
حِزْب

Lafaz hizb adalah bentuk tunggal yang bentuk jamaknya adalah ahzaab.

Dalam bahasa Arab ia digunakan untuk menunjukkan beberapa makna yaitu:
(1) Sekumpulan manusia yang hatinya bersatu dan tingkah lakunya sama meskipun antara mereka tidak saling bertemu;
(2) Wirid atau bacaan seperti bacaan Al Qur'an dan shalawat yang dibaca seseorang secara rutin dinamakan al hizbu.
(3) Bahagian,
(4) Aliran air.

Di dalam Al Qur'an, lafaz ini dalam bentuk tunggal (mufrad) diulang sebanyak delapan kali yaitu dalam surah:
-Al Maa'idah (5), ayat 56;
-Al Mu'minuun (23), ayat 53;
-Ar Rum (30), ayat 32;
-Faathir (35), ayat 6;
Al Mujaadalah (58), ayat 19 (dua kali), ayat 22 (dua kali).

Dalam bentuk ganda (mutshanna) jizbain diulang hanya sekali saja yaitu dalam surah Al Kahfi (18), ayat 12.

Dan dalam bentuk jamak diulang 11 kali yaitu dalam surah:
-Hud (11), ayat 17;
-Ar Ra'd (13), ayat 36;
-Maryam (19), ayat 37;
-Al Ahzab (33), ayat 20 (dua kali), ayat 22;
-Shad (38), ayat 11, ayat 13;
-Al Mu'min (40), ayat 5, ayat 30;
-Az Zukhruuf (43), ayat 65.

Sedangkan makna hizbu syaithaan ialah kelompok orang yang mengikuti kehendak syaitan yaitu orang kafir dan munafik. Dalam ayal-ayat itu diterangkan beberapa sifat hizbu syaithaan yaitu orang yang dilalaikan oleh dunia sehingga tidak mau mengingati Allah; menentang Allah dan rasul Nya, suka berkasih-sayang dengan orang yang me­nentang Allah dan rasul Nya. Kelompok orang seperti ini ditetapkan sebagai orang yang rugi karena mereka diperdaya oleh bujuk rayu syaitan yang mengajak mereka masuk ke dalam neraka.

Bentuk ganda (mutsanna) yang ada dalam surah Al Kahfi (18), ayat 12 bermakna kaum Ashabul Kahfi yang terpecah menjadi dua kelompok dan saling berdebat dalam menentukan lamanya mereka tidur di dalam gua. Diantara mereka ada yang mendapat petunjuk dengan kejadian yang dahsyat ini dan ada juga yang tersesat dari kebenaran.

Sedangkan lafaz al ahzaab dalam bentuk jamak digunakan untuk menunjukkan ke­lompok orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah, mendustakan dan memerangi para nabi, baik nabi-nabi terdahulu maupun Nabi Muhammad. Kesemua ke­lompok ini mempunyai nasib yang sama yaitu mereka dikalahkan, baik kalah dalam pe­perangan atau hancur binasa karena azab dan di akhirat nanti mereka semua akan disiksa di neraka.

Dalam surah Shad (38), ayat 13 dan surah Al Mu'min (40), ayat 5, 30, lafaz al ahzaab digunakan untuk menunjukkan kaum kafir terdahulu yaitu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun, Tsamud, Luth dan Ashabul Aikah. Mereka semua adalah kaum yang menentang kebenaran, mendustakan dan memerangi para rasul yang diutus kepada mereka. Akhirnya, mereka semua diazab oleh Allah dengan berbagai jenis azab yang dahsyat dan pedih.

Sedangkan lafaz al ahzaab dalam surah Maryam (19), ayat 37 dan surah Az Zukhruuf (43), ayat 65 merujuk kepada kelompok yang berbeda pendapat mengenai kedudukan Nabi 'Isa seperti kelompok dalam agama Yahudi dan Nasrani. Sebahagian dari mereka mengatakan 'Isa adalah Allah, sebahagian yang lain mengatakan beliau adalah anak Allah, ada juga yang mengatakan 'Isa ada­lah salah satu dari tiga kesatuan (triniti), malah ada yang mengatakan 'Isa adalah anak hasil zina. Mereka semua akan mendapatkan kecelakaan yang besar karena di akhirat nanti mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Lafaz al ahzaab dalam surah Hud (11) ayat 17 dan surah Ar Ra'd (13) ayat 36 merujuk kepada kelompok orang yang tidak beriman kepada Al Qur'an.

Ketika men­afsirkan surah Hud (11), ayat 17, Imam Ibn Katsir berkata,
"Maksudnya adalah semua penduduk bumi yang mengenal Al Qur'an, namun mereka tidak mau mempercayainya baik mereka adalah orang musyrik, kafir, Ahli Kitab maupun keturunan anak Adam lainnya dari berbagai jenis warna kulit dan rupa."

Ketika mentafsirkan surah Ar­ Ra'd (13), ayat 36, beliau berkata,
"Diantara kelompok manusia ada yang mendustakan sebahagian wahyu yang turun kepadamu (Muhammad).

Imam Mujahid mengata­kan mereka adalah sebahagian Yahudi dan Nasrani yang tidak mempercayai kebenaran yang datang kepadamu (Muhammad). Imam Qatadah dan Imam 'Abdur aRahman bin Zaid bin Aslam juga berpendapat demikian" Dalam ayat itu ditegaskan, Allah berjanji memasuk­kan mereka ke dalam neraka.

Sedangkan al ahzaab dalam surah Al­ Ahzab (33), ayat 20, 22 dan surah Shad (38), ayat 11 maksudnya kelompok yang bersekutu untuk menyerang dan menghancurkan umat Islam sewaktu Perang Ahzab atau Khandaq. Mereka begitu kuat dan jumlahnya banyak. Mereka terdiri dari Bani Ghatafan yang dipimpin oleh Malik bin 'Auf dan 'Uyainah bin Hisan Al Fazari, Bani Asad yang dipimpin oleh Tulaihah bin Khuwailid; penduduk Makkah dan kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, Yazid bin Khalf dan Al-A'war Al­ Sulami dan juga kaum Yahudi Bani Quraizah yang dipimpin oleh Hayi bin Akhtab. Mereka semua mengepung bala tentara muslimin yang berada di Madinah dari berbagai arah.

Para sahabat yang kuat imannya meng­hadapi peperangan ini dengan penuh keyakinan, sedangkan orang munafik mencari alasan untuk menghindarkan diri dari peperangan. Akhirnya, musuh Islam yang kuat dan banyak itu tidak berhasil karena Allah mengirim angin besar yang memporak­ poranda dan menghancurkan kekuatan mereka sehingga mereka pulang dengan hampa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:197-200

Informasi Surah Faathir (فاطر)
Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan se­ sudah surat Al Furqaan dan merupakan surat akhir dari urutan surat-surat dalam Al-Qur'an yang dimulai dengan "Alhamdulillah".

Dinamakan "Faathir" (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan "Faathir" yang ter­dapat pada ayat pertama pada surat ini.

Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta malai­kat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamai juga dengan "surat Malaikat" karena pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang mempunyai beberapa sayap.

Keimanan:

Bukti-bukti kekuasaan Allah dan ni'mat-ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya
Allah menciptakan para malaikat menurut bentuk yang dikehendaki-Nya
bukti­ bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Kesenangan hidup di dunia adalah sementara
menguatkan hati Rasulullah ﷺ dalam menyeru orang-orang kafir dengan mengingatkannya kepada Rasul-rasul yang terdahulu dan orang-orang yang mendustakannya
seruan kepada manusia supaya mengerjakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk supaya jangan mengikuti langkah syaitan
tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri
manusia adalah khalifah Allah di muka bumi
gambaran akibat-akibat yang dite­rima oleh orang mu'min dan orang-orang kafir
tingkatan orang-orang mu'min.


Gambar Kutipan Surah Faathir Ayat 6 *beta

Surah Faathir Ayat 6



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Faathir

Surah Fatir (bahasa Arab: فاطر) adalah surah ke-35 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini.
Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.
Surah Fatir dinamakan surat Al-Mala'ikah (Malaikat) karena pada ayat pertama Allah menerangkan bahwa Allah mengutus beberapa malaikat yang memiliki sayap.

Nomor Surah 35
Nama Surah Faathir
Arab فاطر
Arti Pencipta
Nama lain Al-Mala'ikah (Malaikat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 43
Juz Juz 22
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 45
Jumlah kata 780
Jumlah huruf 3227
Surah sebelumnya Surah Saba’
Surah selanjutnya Surah Ya Sin
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending







✔ faathir ayat 6, tafsir surah fathir ayat 6

[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku