Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Faathir

Faathir (Pencipta) surah 35 ayat 45


وَ لَوۡ یُؤَاخِذُ اللّٰہُ النَّاسَ بِمَا کَسَبُوۡا مَا تَرَکَ عَلٰی ظَہۡرِہَا مِنۡ دَآبَّۃٍ وَّ لٰکِنۡ یُّؤَخِّرُہُمۡ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ فَاِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِعِبَادِہٖ بَصِیۡرًا
Walau yu’aakhidzul-lahunnaasa bimaa kasabuu maa taraka ‘ala zhahrihaa min daabbatin walakin yu’akh-khiruhum ila ajalin musamman fa-idzaa jaa-a ajaluhum fa-innallaha kaana bi’ibaadihi bashiiran;

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu, maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
―QS. 35:45
Topik ▪ Takdir ▪ Usia dan rezeki sesuai dengan takdir ▪ Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat
35:45, 35 45, 35-45, Faathir 45, Faathir 45, AlFathir 45, Al-Fathir 45, Fatir 45
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Faathir (35) : 45. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan manifestasi dari sifat Rahman dan Rahim dari Allah subhanahu wa ta'ala Andaikata Allah langsung menyiksa orang-omng musyrik itu seperti apa yang mereka kehendaki itu, pastilah mereka dan hewan atau binatang-binatang mati kehausan, akibat kurang minum.
Akan tetapi Allah tidaklah sampai bertindak begitu sekalipun Dia berkuasa, tetapi sebaliknya Dia tetapkan suatu ketentuan yakni siksaan itu ditunda sampai pada waktu Dia sendiri mengetahuinya.
Tetapi kalau azab itu telah menimpa tidak akan dikurangi dan tidak akan bisa melepaskan diri.
Ketentuan Allah demikian itu hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad saja, sedang pada umat sebelumnya bila mereka bersalah langsung dihukum tanpa ditunda-tunda lagi.

Pengarang Tafsir Al Wadih mengomentari, ketentuan itu adalah kemuliaan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebagai suatu hukum (syariat) bagi beliau dan umatnya.
Dengan harapan agar orang-orang yang masih belum mau beriman segera tobat, kembali kepada petunjuk dan ajarannya.
Tetapi bila janji Allah telah datang, tiada ada waktu lagi untuk menundanya.
Di situlah nanti masing-masing orang akan diperhitungkan sesuai dengan amal perbuatannya.
Yang baik dibalas dengan ganjaran kebaikan, yang jahat dibalas dengan azab".
(Tafsir al Wadih Juz: XX)

Dengan kasih dan sayang Allah, Alquran menyerukan supaya manusia bertobat dan kembali kepada Nya.
Sebab biarpun azab itu telah ditunda kedatangannya, namun kapan waktunya yang pasti, tiada seorangpun yang mengetahuinya.
Orang yang merasa dirinya bersalah tidak perlu berputus asa, sebab betapapun besarnya kesalahan, bilamana diakhiri dengan penyesalan dan tobat yang sesungguhnya, pasti akan diampuni Allah.
Dialah Yang Maha Pengampun dan Penyayang.
Dialah Yang Maha Mengetahui dan memperhatikan sekalian hamba-Nya.

Faathir (35) ayat 45 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Faathir (35) ayat 45 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Faathir (35) ayat 45 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Seandainya Allah menurunkan siksa kepada manusia di dunia ini, maka siksa-Nya itu akan meluas sehingga tak satu binatang pun yang dapat tinggal di muka bumi.
Akan tetapi, Dia menangguhkan siksaan- Nya kepada mereka sampai waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada hari kiamat nanti.
Apabila waktu yang telah ditetapkan itu tiba, Dia akan membalas perbuatan-perbuatan mereka secara teliti.
Dia Maha Melihat segala perbuatan para hamba-Nya.
Tak satu pun yang luput dari pengamatan-Nya.
Wa Allah a'lam.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kalau sekiranya Allah subhanahu wa ta'ala menyiksa manusia disebabkan usahanya) karena maksiat-maksiat yang telah dikerjakannya (niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi (suatu makhluk pun) yang hidup merayap di atasnya (akan tetapi Allah menangguhkan penyiksaan mereka, sampai waktu yang tertentu) yakni hari kiamat (maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya) Dia kelak akan membalas amal perbuatan mereka, yaitu dengan memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan menghukum orang-orang yang kafir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Seandainya Allah menghukum manusia Karena dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan, niscaya Dia tidak akan membiarkan seekor hewan melata pun di muka bumi.
Akan tetapi Allah menangguhkan mereka dan menunda hukuman mereka sampai batas waktu yang sudah ditetapkan di sisinya.
Bila saat hukuman atas mereka sudah tiba, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Tidak seorangpun dari mereka yang samar atas-Nya, tidak ada sedikitpun ilmu tentang mereka yang tidak diketahui-Nya, dan Dia akan membalas mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan baik atau buruk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yaitu sekiranya Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, tentulah akan binasa semua penduduk langit dan bumi dan segala sesuatu yang dimiliki oleh mereka berupa hewan ternak (harta kekayaan) dan sumber-sumber penghidupan mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Saurr, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah yang mengatakan bahwa hampir saja serangga tanah disiksa di dalam liangnya karena dosa yang dilakukan oleh anak manusia.
Kemudian Abdullah (Ibnu Mas'ud r.a.) membaca firman-Nya: Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.
(Faathir':45)

Sa'id ibnu Jubair dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta'ala: niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun.
(Faathir':45) Yakni niscaya Allah tidak memberi mereka air hujan, akhirnya semua hewan melata pun binasa semuanya.

Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu.
(Faathir':45)

Maksudnya, Allah menangguhkan mereka sampai hari kiamat, lalu Dia akan menghisab mereka di hari itu dan setiap orang akan mendapat balasan dari amal perbuatannya.
Orang yang taat akan mendapat pahala, sedangkan orang yang durhaka akan mendapat azab dan siksaan.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
(Faathir':45)

Kata Pilihan Dalam Surah Faathir (35) Ayat 45

DAABBAH
دَآبَّة

Lafaz ini berasal dari lafaz dabba, jamaknya adalah dawaabb digunakan untuk mudzakkar dan mu'annats dan al-taa' adalah isyarat untuk menunjukkan mufrad (satu). Maknanya setiap apa yang berjalan dengan perlahan di atas muka bumi dan mayoritasnya ditujukan kepada hewan yang digunakan sebagai tunggangan.

Al Kafawi berkata,
"Ia (dabbah) bermakna setiap yang berjalan di muka bumi secara umumnya dan kuda, baghal dan keledai khususnya."

Lafaz daabbah disebut sebanyak 14 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 164;
-Al An'aam (6), ayat 38;
-Hud (11), ayat 6, 56;
-An Nahl (16), ayat 49, 61;
-An Nur (24), ayat 45;
-An Naml (27), ayat 82;
-Al Ankaabut (29), ayat 60;
-Luqman (31), ayat 10;
-Saba' (34), ayat 14;
-Faathir (35), ayat 45;
-Asy Syuura (42), ayat 29;
-Al­ Jaatsiyah (45) ayat 4.

Al Qurtubi berkata daabbah bermakna merangkum keseluruhan hewan," sedang­kan Asy Syawkani berkata,
"Ia bermakna setiap hewan yang berjalan di muka bumi.

Dalam Tafsir Al Manar, makna lafaz daabbah ada­lah semua benda yang hidup yang merayap dan merangkak di muka bumi yang tidak ter­hitung bilangannya.

At Tabari berpendapat, lafaz daabbah ber­makna nama bagi setiap yang memiliki roh yang berjalan atau merangkak di atas bumi selain burung. Hal ini dikuatkan pemisahan antara lafaz daabbah dan at tayr (burung) dalam surah Al An'aam yang bermaksud, "Dan tidak seekor pun binatang yang melata di muka bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (mereka ialah) umat seperti kamu"

Muhammad Ali As Sabbuni berkata,
"Ad daabbah dalam ayat ini bermakna hewan yang melata di muka bumi dan burung yang terbang di udara." Namun, Al Qurtubi me­nerangkan sebahagian pakar ada yang me­ngeluarkan burung dari termasuk ke dalam makna daabbah adalah ditolak. Allah berkata dalam surah Hud yang berrnaksud, "Dan tiadalah sesuatu pun dari makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jua yang menanggung rezekinya" Sesungguhnya burung dalam beberapa keadaan melata dan berjalan dengan kedua kakinya.

Kesimpulannya, lafaz daabbah apabila di­sebut dengan sendirinya termasuk hewan yang melata, bergerak di muka bumi dan bila disebut dengan hewan yang lain seperti burung ia bermakna hewan yang mayorisanya hanya melata di muka bumi.

Dawaabb disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Anafal (8), ayat 22, 55;
-Al Hajj (22), ayat 18;
-Faathir (35), ayat 28.

Lafaz dalam bentuk jamak ini mengandung dua makna:

Pertama, lafaz ini adalah kiasan bagi orang kafir dan makna itu terdapat dalam surah Al Anfaal.

Ibn Katsir berkata,
"Sesungguhnya sehina-hina hewan di muka bumi adalah mereka yang kufur dan tidak beriman di mana setiap kali mereka membuat perjanji­an, mereka mengingkarinya dan setiap kali mereka diyakinkan dengan ke­imanan, mereka melanggar dan me­rusakkannya. Mereka adalah makhluk yang paling jahat dan hina karana se­tiap binatang dan lainnya tunduk dan taat kepada Allah padahal Dia men­ciptakannya bagi mereka sedangkan mereka dicipta untuk beribadah kepada­ Nya namun mereka kufur.
Oleh karena itu, mereka disamakan dengan binatang.

Allah berfirman, "Dan ban­dingan (orang yang menyeru) orang kafir (yang tidak mau beriman itu) samalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari hanya mendengar suara panggilan saja."

Dalam ayat yang lain yang berarti, "Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih hina; mereka itu­lah orang yang lalai".

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, Mujahid dan Ibnu Jarir, yang di­maksudkan dalam ayat di atas adalah golongan Bani 'Abd Ad Dar dari suku Quraisy.

Muhammad bin Ishaq ber­pendapat mereka ialah orang munafik.

Ibnu Katsir berkata,
"Keduanya tidaklah bertentangan."

Kedua, lafaz dawaabb bermakna binatang yang melata di muka bumi seperti jamak dari pengertian di atas yang mencakup semua hewan.

Ibnu Zaid berkata,
lafaz dawaab bermakna al khalq ialah makhluk. Namun, lafaz jamak yang disebutkan di dalam Al Qur'an kebanyakannya bermakna hewan secara umumnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:216-218

Informasi Surah Faathir (فاطر)
Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan se­ sudah surat Al Furqaan dan merupakan surat akhir dari urutan surat-surat dalam Al-Qur'an yang dimulai dengan "Alhamdulillah".

Dinamakan "Faathir" (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan "Faathir" yang ter­dapat pada ayat pertama pada surat ini.

Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta malai­kat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamai juga dengan "surat Malaikat" karena pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang mempunyai beberapa sayap.

Keimanan:

Bukti-bukti kekuasaan Allah dan ni'mat-ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya
Allah menciptakan para malaikat menurut bentuk yang dikehendaki-Nya
bukti­ bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Kesenangan hidup di dunia adalah sementara
menguatkan hati Rasulullah ﷺ dalam menyeru orang-orang kafir dengan mengingatkannya kepada Rasul-rasul yang terdahulu dan orang-orang yang mendustakannya
seruan kepada manusia supaya mengerjakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk supaya jangan mengikuti langkah syaitan
tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri
manusia adalah khalifah Allah di muka bumi
gambaran akibat-akibat yang dite­rima oleh orang mu'min dan orang-orang kafir
tingkatan orang-orang mu'min.


Gambar Kutipan Surah Faathir Ayat 45 *beta

Surah Faathir Ayat 45



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Faathir

Surah Fatir (bahasa Arab: فاطر) adalah surah ke-35 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini.
Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.
Surah Fatir dinamakan surat Al-Mala'ikah (Malaikat) karena pada ayat pertama Allah menerangkan bahwa Allah mengutus beberapa malaikat yang memiliki sayap.

Nomor Surah 35
Nama Surah Faathir
Arab فاطر
Arti Pencipta
Nama lain Al-Mala'ikah (Malaikat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 43
Juz Juz 22
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 45
Jumlah kata 780
Jumlah huruf 3227
Surah sebelumnya Surah Saba’
Surah selanjutnya Surah Ya Sin
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (16 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku