Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Faathir (Pencipta) – surah 35 ayat 28 [QS. 35:28]

وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ
Waminannaasi waddawaabbi wal an’aami mukhtalifun alwaanuhu kadzalika innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa-u innallaha ‘aziizun ghafuurun;
Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.
Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.
―QS. Faathir [35]: 28

And among people and moving creatures and grazing livestock are various colors similarly.
Only those fear Allah, from among His servants, who have knowledge.
Indeed, Allah is Exalted in Might and Forgiving.
― Chapter 35. Surah Faathir [verse 28]

وَمِنَ dan diantara

And among
ٱلنَّاسِ manusia

men
وَٱلدَّوَآبِّ dan binatang melata

and moving creatures
وَٱلْأَنْعَٰمِ dan binatang ternak

and the cattle
مُخْتَلِفٌ bermacam-macam

(are) various
أَلْوَٰنُهُۥ warnanya

[their] colors
كَذَٰلِكَ demikian itu

likewise.
إِنَّمَا sesunguhnya hanyalah

Only
يَخْشَى takut

fear
ٱللَّهَ Allah

Allah
مِنْ dari/diantara

among
عِبَادِهِ hamba-hamba-Nya

His slaves
ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ para ‘ulama

those who have knowledge.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
عَزِيزٌ Maha Perkasa

(is) All-Mighty,
غَفُورٌ Maha Pengampun

Oft-Forgiving.

Tafsir

Alquran

Surah Faathir
35:28

Tafsir QS. Faathir (35) : 28. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah menambah penjelasan lagi tentang hal-hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan-Nya.
Allah menciptakan binatang melata dan binatang ternak, yang bermacam-macam warnanya sekalipun berasal dari jenis yang satu.

Bahkan ada binatang yang satu, tetapi memiliki warna yang bermacam-macam.
Mahasuci Allah pencipta alam semesta dengan sebaik-baiknya.

Sejalan dengan ini firman Allah:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(ar-Rum [30]: 22)


Demikianlah Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya seperti tersebut di atas untuk dapat diketahui secara mendalam.
Hanya ulama yang benar-benar menyadari dan mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah, sehingga mereka benar-benar tunduk kepada kekuasaan-Nya dan takut kepada siksa-Nya.


Ibnu ‘Abbas berkata,
"Yang dinamakan ulama ialah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu."
Di dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas berkata,
"Ulama itu ialah orang yang tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu apa pun, yang menghalalkan yang telah dihalalkan Allah dan mengharamkan yang telah diharamkan-Nya, menjaga perintah-perintah-Nya, dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya yang akan menghisab dan membalas semua amalan manusia.
"


Ayat ini ditutup dengan suatu penegasan bahwa Allah Mahaperkasa menindak orang-orang yang kafir kepada-Nya.
Dia tidak mengazab orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya, tetapi Maha Pengampun kepada mereka.

Dia kuasa mengazab orang-orang yang selalu berbuat maksiat dan bergelimang dosa, sebagaimana Dia kuasa memberi pahala kepada orang-orang yang taat kepada-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka, maka sepatutnya manusia itu takut kepada-Nya.

Tafsir QS. Faathir (35) : 28. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Demikian pula di antara manusia, binatang melata, unta, sapi dan domba terdapat bermacam-macam bentuk, ukuran dan warnanya pula.
Hanya para ilmuwan yang mengetahui rahasia penciptaanlah yang dapat mencermati hasil ciptaan yang mengagumkan ini dan membuat mereka tunduk kepada Sang Pencipta.


Sesungguhnya Allah Mahaperkasa yang ditakuti orang-orang Mukmin, Maha Pengampun segala dosa siapa pun yang berserah diri kepada-Nya.[1].


[1] Setelah memaparkan bahwa berbagai jenis buah-buahan dan perbedaan warna pegunungan itu berasal dari suatu unsur yang sama–yakni, buah-buahan berasal dari air dan gunung-gunung berasal dari magma, ayat ini pun menyitir bahwa perbedaan bentuk dan warna yang ada pada manusia, binatang-binatang melata dan hewan-hewan ternak tidak tampak dari sperma-sperma yang menjadi cikal bakalnya.
Bahkan sekiranya kita menggunakan alat pembesar sekali pun, sperma-sperma tersebut tampak tidak berbeda.


Di sinilah sebenarnya letak rahasia dan misteri gen dan plasma.
Ayat ini pun mengisyaratkan bahwa faktor genetislah yang menjadikan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia tetap memiliki ciri khasnya dan tidak berubah hanya disebabkan oleh habitat dan makanannya.


Maka sungguh benar jika ayat ini menyatakan bahwa para ilmuwan yang menetahui rahasia-rahasia penciptaan sebagai sekelompok manusia yang paling takut kepada Allah.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan Kami juga menciptakan manusia, hewan-hewan, unta, sapi dan kambing dengan warna yang berbeda-beda pula.
Ada yang merah, putih, hitam dan ada yang lainnya, seperti perbedaan warna buah-buahan dan gunung.


Sesungguhnya yang takut kepada Allah dan membentengi diri dari azab Allah dengan menaati-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah para ulama, orang-orang yang mengetahui-Nya, mengetahui sifat-sifat-Nya, syariat-Nya dan kuasa-Nya atas segala sesuatu.
Di antaranya adalah perbedaan makhluk-makhluk ini sekalipun penciptanya adalah satu, dan mereka merenungkan nasihat-nasihat dan pelajaran-pelajaran yang ada padanya.


Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahakuat yang tidak terkalahkan, Maha Pengampun membalas pahala kepada orang-orang yang menaati-Nya dan memaafkan mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya) sebagaimana beraneka ragamnya buah-buahan dan gunung-gunung.


(Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama) berbeda halnya dengan orang-orang yang jahil seperti orang-orang kafir Mekah.


(Sesungguhnya Allah Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya


(lagi Maha Pengampun) terhadap dosa hamba-hamba-Nya yang mukmin.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
(QS. Faathir [35]: 28)

Yakni demikian pula makhluk hidup, baik manusia maupun binatang.
Binatang diungkapkan oleh ayat dengan istilah dawab yang artinya setiap hewan yang berjalan dengan kaki, sedangkan lafaz an’am yang jatuh sesudahnya di-ataf-kan kepadanya, termasuk ke dalam pengertian ataf khas kepada am.
Yakni demikian pula manusia dan binatang-binatang serta hewan ternak, beraneka ragam pula warna dan jenisnya.
Manusia ada yang termasuk bangsa Barbar, ada yang termasuk bangsa Habsyah dan bangsa yang berkulit hitam, ada yang termasuk bangsa Sicilia, dan bangsa Romawi yang keduanya berkulit putih, sedangkan bangsa Arab berkulit pertengahan dan bangsa Indian berkulit merah.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
(QS. Ar-Rum [30]: 22)

Demikian pula hewan yang melata dan hewan ternak beraneka ragam warnanya, sekalipun dari satu jenis.
Bahkan satu jenis dari hewan ada yang mempunyai warna kulit yang beraneka ragam, di antaranya ada yang berwarna blonde dan warna-warna lainnya.
Mahasuci Allah sebaik-baik Yang Menciptakan.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Umar ibnu Aban ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Abdullah, dari Ata ibnus Sa’ib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya,
"Apakah Tuhanmu memberi warna?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Ya, warna yang tidak pernah luntur, merah, kuning dan putih."

Hadis ini diriwayatkan ada yang mursal ada pula yang mauquf, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
(QS. Faathir [35]: 28)

Yakni sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui tentang Allah subhanahu wa ta’ala Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah subhanahu wa ta’ala Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Mengetahui lagi menyandang semua sifat sempurna dan memiliki nama-nama yang terbaik, maka makin bertambah sempurnalah ketakutannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
(QS. Faathir [35]: 28)
Yaitu orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.


Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang yang mengetahui tentang Allah Yang Maha Pemurah dari kalangan hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan ia menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, serta berpegang teguh kepada perintah-Nya, dan meyakini bahwa dia pasti akan bersua dengan-Nya dan Dia akan menghisab amal perbuatannya.


Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa khasy-yah atau takut kepada Allah ialah perasaan yang menghalang-halangi antara kamu dan perbuatan durhaka terhadap Allah subhanahu wa ta’ala

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa orang yang alim ialah orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sekalipun dia tidak melihat-Nya, menyukai apa yang disukai-Nya, dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya.
Kemudian Al-Hasan membacakan firman-Nya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
(QS. Faathir [35]: 28)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa orang yang alim itu bukanlah orang yang banyak hafal hadis, melainkan orang yang banyak takutnya kepada Allah.

Ahmad ibnu Saleh Al-Masri telah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Malik yang mengatakan,
"Sesungguhnya berilmu itu bukanlah karena banyak meriwayatkan hadis, melainkan ilmu itu adalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbu."
Selanjutnya Ahmad ibnu Saleh Al-Masri menjelaskan bahwa takut kepada Allah itu bukan dijumpai melalui banyak meriwayatkan hadis.
Dan sesungguhnya ilmu yang diharuskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar diikuti hanyalah ilmu mengenai Alquran, sunnah, dan apa yang disampaikan oleh para sahabat dan orang-orang yang sesudah mereka dari kalangan para imam kaum muslim.
Hal seperti ini tidak dapat diraih melainkan dengan melalui periwayatan.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan cahaya ialah pemahaman mengenai ilmu tersebut dan pengamalannya dalam realita kehidupan.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Hayyan At-Tamimi, dari seorang lelaki yang telah mengatakan bahwa ulama itu ada tiga macam, yaitu ulama yang mengetahui tentang Allah dan mengetahui tentang perintah Allah, ulama yang mengetahui tentang Allah, tetapi tidak mengetahui tentang perintah Allah, dan ulama yang mengetahui tentang perintah Allah, tetapi tidak mengetahui tentang Allah.
Orang yang alim (ulama) yang mengetahui tentang Allah dan mengetahui tentang perintah Allah ialah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui batasan-batasan serta fardufardu yang telah ditetapkan-Nya.
Dan orang yang alim tentang Allah, tetapi tidak alim tentang perintah Allah ialah orang yang takut kepada Allah, tetapi tidak mengetahui batasan-batasan dan fardufardu yang ditetapkan-Nya.
Dan orang alim tentang perintah Allah, tetapi tidak alim tentang Allah adalah orang yang mengetahui batasan-batasan dan fardufardu yang ditetapkan-Nya, tetapi tidak takut kepada Allah ﷺ

Kata Pilihan Dalam Surah Faathir (35) Ayat 28

AN’AAM
أَنْعَٰم

Lafaz ini adalah bentuk jamak, mufradnya ialah an na’am, bermakna al ibl (unta) yang banyak manfaat dan kegunaannya.
An’aam berarti al baha’im (hewan atau binatang binatang).
Kerbau, sapi dan kambing bisa disebut sebagai an’aam.

Al Fayruz Abadi berkata,
"Tidak dikatakan an’aam sehingga jumlah manfaatnya sama seperti unta.
Namun begitu, ia bersifat umum yang mencakup unta dan laln-lainnya."

Al Farra berkata,
"Al An’aam adalah lafaz mudzakkar dan tidak dimuannatskan seperti pada contoh haadzaa na’amun waridun artinya "Ini hewan ternak yang diimport."

Lafaz an’aam disebut sebanyak 32 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 14;
An Nisaa (4), ayat 119;
-Al Maa’idah (5), ayat 1;
-Al An’aam (6), ayat 136, 138, 138, 138, 139, 142;
-Al A’raaf (7), ayat 179;
Yunus (10), ayat 24;
An Nahl (16), ayat 5, 66, 80;
-Tha Ha (20), ayat 54;
Al Hajj (22), ayat 28, 30, 34;
-Al Mu’minuun (23), ayat 21;
Al Furqaan (25), ayat 44, 49;
-Asy Syu’araa (26), ayat 133;
As Sajadah (32), ayat 27;
Faathir (35), ayat 28;
Yaa Siin (36), ayat 71;
Az Zumar (39), ayat 6;
-Al Mu’min (40), ayat 79;
-Asy Syu’araa (42), ayat 11;
Az Zukhruf (43), ayat 12;
Muhammad (47), ayat 12;
-An Naazi’at (79), ayat 33;
-‘Abasa (80), ayat 32.

Lafaz an’aam di dalam Al Qur’an mencakup hewan-hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing.
la bersesuaian dengan pendapat para mufassir.

Al Baidawi berkata,
"Al an’aam bermakna unta, sapi dan kambing."

Al Alusi berkata,
la mencakupi unta, sapi dan kambing, dan dinamakan ia seperti itu karena jalannya perlahan dan kelembutannya."

Begitu juga pendapat Ibn Qutaibah, Al Fayruz Abadi dan ulama lain.

At Tabari berkata,
"Al an’aam ialah delapan ekor hewan ternak yang disebut dalam surah Al An’aam yaitu dua kambing biri-biri jantan dan betina, dua ekor kambing biasa jantan dan betina, jantan dan betina dari unta dan sapi."

Kesimpulannya, lafaz an’aam bermakna hewan-hewan ternak.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 52

Unsur Pokok Surah Faathir (فاطر)

Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Furqaan dan merupakan surat akhir dari urutan surat-surat dalam Alquran yang dimulai dengan "Alhamdulillah".

Dinamakan "Faathir" (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan "Faathir" yang terdapat pada ayat pertama pada surat ini.

Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta malaikatmalaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamai juga dengan "surat Malaikat" karena pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikatmalaikat sebagai utusan-Nya yang mempunyai beberapa sayap.

Keimanan:

▪ Bukti-bukti kekuasaan Allah dan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya.
▪ Allah menciptakan para malaikat menurut bentuk yang dikehendaki-Nya.
▪ Bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.

Lain-lain:

▪ Kesenangan hidup di dunia adalah sementara.
▪ Menguatkan hati Rasulullah ﷺ dalam menyeru orang-orang kafir dengan mengingatkannya kepada Rasulrasul yang terdahulu dan orang-orang yang mendustakannya.
▪ Seruan kepada manusia supaya mengerjakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk supaya jangan mengikuti langkah syaitan.
▪ Tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri.
▪ Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi.
▪ Gambaran akibat-akibat yang diterima oleh orang mukmin dan orang-orang kafir.
▪ Tingkatan orang-orang mukmin.

Audio

QS. Faathir (35) : 1-45 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 45 + Terjemahan Indonesia

QS. Faathir (35) : 1-45 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 45

Gambar Kutipan Ayat

Surah Faathir ayat 28 - Gambar 1 Surah Faathir ayat 28 - Gambar 2
Statistik QS. 35:28
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Faathir.

Surah Fatir (bahasa Arab: فاطر) adalah surah ke-35 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini.
Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.
Surah Fatir dinamakan surat Al-Mala’ikah (Malaikat) karena pada ayat pertama Allah menerangkan bahwa Allah mengutus beberapa malaikat yang memiliki sayap.

Nomor Surah35
Nama SurahFaathir
Arabفاطر
ArtiPencipta
Nama lainAl-Mala’ikah (Malaikat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu43
JuzJuz 22
Jumlah ruku’5 ruku’
Jumlah ayat45
Jumlah kata780
Jumlah huruf3227
Surah sebelumnyaSurah Saba’
Surah selanjutnyaSurah Ya Sin
Sending
User Review
5 (2 votes)
Tags:

35:28, 35 28, 35-28, Surah Faathir 28, Tafsir surat Faathir 28, Quran AlFathir 28, Al-Fathir 28, Fatir 28, Surah Al Fathir ayat 28

▪ AL FATHIR 35 ▪ q s fatir/35 28 ▪ QS Fathir 35: 28 ▪ waminannasi wattawabbi wal anami
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 47 [QS. 9:47]

Bahkan seandainya mereka berangkat berperang bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah kekuatan-mu, malah keberadaan mereka hanya akan membuat kekacauan serta melemahkan mental kaum muslim, dan se … 9:47, 9 47, 9-47, Surah At Taubah 47, Tafsir surat AtTaubah 47, Quran At-Taubah 47, Surah At Taubah ayat 47

QS. Ar Rahmaan (Yang Maha Pemurah) – surah 55 ayat 38 [QS. 55:38]

37-38. Usai menjelaskan ketidakmampuan manusia menghindar dari pertanggung jawaban, Allah menguraikan keadaan pada hari kemudian. Maka apabila langit telah terbelah karena takut dengan balasan Allah d … 55:38, 55 38, 55-38, Surah Ar Rahmaan 38, Tafsir surat ArRahmaan 38, Quran Ar-Rahman 38, ArRahman 38, Ar Rahman 38, Surah Ar Rahman ayat 38

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَیَانٌ لِّلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ مَوۡعِظَۃٌ لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #7

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah .. mengkabarkan melengkapi menjelaskan menterjemahkan menyelesaikan Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Arti mubayyin

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … hadits yang diriwayatkan langsung oleh sahabat hadits palsu (dikarang-karang) hadits terpercaya hadits sahabat nabi hadits

Pendidikan Agama Islam #5

Orang yang suka berbohong adalah orang … munafik kaya jujur mukmin yang suka melarikan diri Benar! Kurang tepat! Lawan kata

Instagram