QS. Faathir (Pencipta) – surah 35 ayat 27 [QS. 35:27]

اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ
Alam tara annallaha anzala minassamaa-i maa-an fa-akhrajnaa bihi tsamaraatin mukhtalifan alwaanuhaa waminal jibaali judadun biidhun wahumrun mukhtalifun alwaanuhaa wagharaabiibu suudun;

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.
Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
―QS. 35:27
Topik ▪ Perumpamaan orang kafir dan mukmin
35:27, 35 27, 35-27, Faathir 27, Faathir 27, AlFathir 27, Al-Fathir 27, Fatir 27

Tafsir surah Faathir (35) ayat 27

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Faathir (35) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menguraikan beberapa hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan Nya yang oleh kaum musyrikin dapat dilihat setiap waktu yang kalau mereka menyadari dan menginsafi semuanya itu tentunya mereka akan menyadari pula keesaan dan kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna itu.
Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sesuatu yang beraneka ragam macamnya yang bersumber dari yang satu.
Allah menurunkan hujan dari langit, karenanya tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang mengeluarkan buah-buahan yang beraneka ragam warna, rasa dan baunya, sebagaimana yang kita saksikan.
Buah-buahan itu warnanya ada yang kuning, ada yang merah, ada yang hijan dan sebagainya.
Hal yang sama dijelaskan pula di dalam ayat yang lain.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang disirami dengan air yang sama.
Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

(Q.S. Ar Ra’d: 4)

Kecuali itu Allah juga menciptakan gunung-gunung yang kelihatan seperti garis-garis ada yang kelihatan putih, ada yang merah dan ada yang hitam pekat, sebagaimana yang dapat kita saksikan.
Di antara gunung-gunung itu terbentang pula jalan-jalan yang beraneka ragam pula warnanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang yang berpikir, bukankah kamu telah melihat bahwa Allahlah yang menurunkan air hujan dari langit.
Lalu dengan sebab air hujan itu, muncullah berbagai jenis buah-buahan, ada yang merah dan kuning, ada yang manis dan masam, dan ada yang baik dan buruk.
Dan di antara gunung-gunung ada yang memiliki jalur-jalur dan garis-garis berwarna putih dan merah yang kejelasan dan keburamannya berbeda satu sama lain Dan gunung-gunung….
[1].

[1] (Terdapat kesalahan cetak di bagian akhir tafsir ayat ini).
Kemukjizatan ayat ini dari segi ilmu pengetahuan sebenarnya bukan saja tampak ketika ia menyebutkan bahwa warna gunung yang bermacam-macam itu disebabkan adanya perbedaan materi-materi yang dikandung oleh bebatuan gunung-gunung itu.
Jika materinya besi, maka warna dominannya adalah merah, jika materinya batubara, maka warna dominannya hitam, jika materinya perunggu, maka gunung tersebut berwarna kehijau-hijauan, dan seterusnya.
Tidak hanya sampai di situ, kemukjizatan ayat ini sebenarnya sangat menonjol ketika ia mengaitkan adanya berbagai jenis buah-buahan meskipun pepohonannya disiram dengan air yang sama, dengan penciptaan gunung-gunung yang beraneka warna–merah, putih atau hitam–meskipun juga berasal dari suatu materi yang sama di dalam perut bumi.
Materi ini, oleh para geolog, dinamakan magma yang muncul di berbagai kawasan bumi.
Akan tetapi, karena kemunculan magma itu dari kedalaman yang berbeda, maka kandungannya menjadi berbeda pula.
Magma yang berproses dari kedalaman yag berbeda, pada akhirnya, mengkristal membentuk gundukan- gundukan atau gunung-gunung yang beraneka ragam warna dan materinya.
Demikianlah sebenarnya kesatuan hukum Allah.
Meskipun bentuknya beraneka ragam, tetapi berasal dari materi yang satu.
Semua itu adalah untuk kemudahan dan kemanfaatan umat manusia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu melihat) mengetahui (bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan) di dalam ungkapan ayat ini terkandung Iltifat dari dhamir Gaib (dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya) ada yang berwarna hijau, merah dan kuning dan warna-warna lainnya.

(Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis) Judadun adalah bentuk jamak dari lafal Juddatun, artinya jalan yang terdapat di gunung dan lainnya (putih, merah) dan kuning (yang beraneka macam warnanya) ada yang tua dan ada yang muda (dan ada -pula yang hitam pekat) di’athafkan kepada lafal Judadun, artinya ialah batu-batu yang besar yang hitam pekat warnanya.

Dikatakan Aswadu Gharbiibu, hitam pekat, tetapi sangat sedikit dikatakan Gharabiibu Aswadu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu tidak melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami menyiramkannya ke pohon-pohon di bumi, sehingga Kami mengeluarkan dari pohon-pohon itu buah-buahan yang bermacam-macam warnanya, ada yang merah, ada yang hitam, ada yang kuning dan ada yang lain??
Dan Kami menciptakan gunung dengan keanekaragamannya, ada yang putih dan ada yang merah, dengan berbagai macam warna, dan Kami menciptakan gunung dengan batunya yang sangat hitam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna melalui segala sesuatu yang diciptakan-Nya yang beraneka ragam bentuk dan rupanya, padahal mereka diciptakan dari air yang diturunkan-Nya dari langit.
Lalu tumbuhlah darinya berbagai macam buah yang beraneka ragam warnanya, ada yang kuning, ada yang merah, ada yang hijau, ada yang putih, ada pula warna-warna lainnya, dan bermacam-macam pula rasa dan baunya.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan ain yang sama.
Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 4)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya.
(Q.S. Faathir [35]: 27)

Artinya, Dia menciptakan gunung-gunung yang beraneka ragam warnanya sebagaimana yang dapat kita saksikan, ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah.
Pada sebagiannya ada yang bergaris-garis.
Diungkapkan oleh Al-Qur’an dengan lafaz al-judud yang artinya beraneka warna.

Ibnu Abbas r.a.
mengatakan bahwa al-judud artinya bergaris-garis, hal yang sama telah mengatakan oleh Abu Malik, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi.

Ikrimah mengatakan bahwa garabibu sud artinya gunung-gunung yang panjang lagi berwarna hitam, orang-orang Arab mengatakan aswad garabib, artinya hitam pekat.
Karena itulah maka ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa ungkapan ayat ini (yakni lafaz garabibu sud) termasuk ungkapan muqaddam dan muakhkhar, diungkapkan oleh firman-Nya, “garabibu sud,” artinya sud garabib, yakni hitam pekat.
Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti.


Kata Pilihan Dalam Surah Faathir (35) Ayat 27

JUDAD
جُدَد

Lafaz judad adalah bentuk jamak dari lafaz juddah maksudnya jalan.

Al Mubarrad mengatakan makna juddah ialah jalan dan garis.

Sementara Al Jauhari memberi makna yang lebih khusus yaitu garis yang be­rada di belakang keledai yang warnanya berbeda dari kulit keledai.

Lafaz ini disebut sekali saja di dalam Al Qur’an dalam bentuk jamaknya saja yaitu judad. Dapat ditemui dalam surah Faathir (35), ayat 27.

Para mufassir mengertikan judad dalam ayat ini dengan jalan atau garis yang ada pada gunung-gunung dan menyamakan­nya dengan urat-urat darah dalam tubuh manusia. Ayat ini berada pada rangkai­an ayat yang menerangkan kekuasaan Allah yang sanggup menciptakan makhluk sama jenis namun bentuknya beragam. Makhluk ciptaannya yang disebut pada rangkaian ayat ini adalah buah-buahan yang mempunyai berbagai warna; manusia dan hewan juga mempunyai berbagai warna; begitu juga dengan gunung-gunung.

Allah menciptakannya dengan mempunyai berbagai warna dan ragam seperti yang dapat dilihat oleh mata. Sebahagian gunung itu mempunyai garis-garis judad yang warna­nya juga berrnacam-macam, ada yang putih dan ada juga yang merah. Sebahagian gunung juga ada yang berwarna hitam legam keseluruhannya. Hati orang yang memahami dan menyedari kehebatan ciptaan ini tentu berasa takut kepada penciptanya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:163

Informasi Surah Faathir (فاطر)
Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan se­ sudah surat Al Furqaan dan merupakan surat akhir dari urutan surat-surat dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan “Alhamdulillah”.

Dinamakan “Faathir” (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan “Faathir” yang ter­dapat pada ayat pertama pada surat ini.

Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta malai­kat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamai juga dengan “surat Malaikat” karena pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang mempunyai beberapa sayap.

Keimanan:

Bukti-bukti kekuasaan Allah dan ni’mat-ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya
Allah menciptakan para malaikat menurut bentuk yang dikehendaki-Nya
bukti­ bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Kesenangan hidup di dunia adalah sementara
menguatkan hati Rasulullah ﷺ dalam menyeru orang-orang kafir dengan mengingatkannya kepada Rasul-rasul yang terdahulu dan orang-orang yang mendustakannya
seruan kepada manusia supaya mengerjakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk supaya jangan mengikuti langkah syaitan
tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri
manusia adalah khalifah Allah di muka bumi
gambaran akibat-akibat yang dite­rima oleh orang mu’min dan orang-orang kafir
tingkatan orang-orang mu’min.

Ayat-ayat dalam Surah Faathir (45 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Faathir (35) ayat 27 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Faathir (35) ayat 27 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Faathir (35) ayat 27 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Faathir - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 45 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 35:27
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Faathir.

Surah Fatir (bahasa Arab: فاطر) adalah surah ke-35 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini.
Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.
Surah Fatir dinamakan surat Al-Mala'ikah (Malaikat) karena pada ayat pertama Allah menerangkan bahwa Allah mengutus beberapa malaikat yang memiliki sayap.

Nomor Surah 35
Nama Surah Faathir
Arab فاطر
Arti Pencipta
Nama lain Al-Mala'ikah (Malaikat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 43
Juz Juz 22
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 45
Jumlah kata 780
Jumlah huruf 3227
Surah sebelumnya Surah Saba’
Surah selanjutnya Surah Ya Sin
4.6
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta