QS. Faathir (Pencipta) – surah 35 ayat 19 [QS. 35:19]

وَ مَا یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ
Wamaa yastawiil a’ma wal bashiir(u);

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.
―QS. 35:19
Topik ▪ Kebutuhan tumbuhan akan air
35:19, 35 19, 35-19, Faathir 19, Faathir 19, AlFathir 19, Al-Fathir 19, Fatir 19

Tafsir surah Faathir (35) ayat 19

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Faathir (35) : 19. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang buta agama, yang tidak mengetahui atau yang mengingkari agama yang dibawa oleh junjungan Nabi Besar Muhammad ﷺ; tidak sama dengan orang-orang yang membuka matanya lebar-lebar sehingga dapat melihat dan mengetahui dengan jelas kebenaran agama yang dibawa Muhammad ﷺ, lalu mereka mengikuti dan menaatinya.
Golongan pertama termasuk orang-orang yang jahat dan tidak mengetahui sedang golongan kedua adalah orang-orang yang baik dan mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah “Tidak sama yang buruk dengan yang baik
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 100)

Dan firman-Nya:

Katakanlah : “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?
(Q.S. Az-Zumar [39]: 9)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidaklah dapat disamakan antara orang yang tidak mendapat petunjuk kebenaran karena kebodohan dengan orang yang berjalan dalam tuntunan hidayah karena pengetahuannya.
Juga tidak dapat disamakan antara kebatilan dan kebenaran, antara keteduhan dan udara panas.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat) orang kafir dan orang mukmin.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak sama, orang yang buta terhadap agama Allah dengan orang yang bisa melihat jalan kebenaran dan mengikutinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sebagaimana tidak sama di antara segala sesuatu yang beraneka ragam dan bertentangan, seperti buta dan melihat, yang jelasnya keduanya jauh berbeda.
Sebagaimana tidak sama antara gelap dan terang, tidak pula antara naungan dan terik matahari, maka berbeda pula antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.
Ini merupakan tamsil atau perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan orang-orang mukmin diumpamakan sebagai orang-orang yang hidup, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan oleh Allah sebagai orang-orang yang mati, sebagaimana yang disebutkan pula dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?
(Q.S. Al-An’am [6]: 122)


Kata Pilihan Dalam Surah Faathir (35) Ayat 19

A’MAA
أَعْمَىٰ

Lafaz ini adalah kata nama mufrad dari kata kerja ‘amiya yang berarti menjadi buta, jamaknya adalah ‘amya.

A’ma ar rajula maknanya menjadikannya buta, atau mendapatinya buta, atau jahil. Jika lafaz ini disandarkan pada hati atau dikatakan maa a’maahu maka maknanya ialah betapa buta hatinya karena disebabkan banyak kesesatannya. Sebab itu, ungkapan makaan a’ma bermaksud tempat yang tidak diberi petunjuk di dalamnya.

Kata ini disebut 13 kali di dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 50;
-Ar Ra’d (13), ayat 16, 19;
-Hud (11), ayat 24;
-Al Israa’ (17), ayat 72;
-Thaa Haa (20), ayat 124, 125;
-An Nuur (24), ayat 61;
-Faathir (35), ayat 19;
-Al Mu’min (40), ayat 58;
-Muhammad (47), ayat 23;
-Al Fath (48), ayat 17;
-‘Abasa (80), ayat 2.

Al Qasim menafsirkan lafaz a’maa dalam surah Al An’aam (6), ayat 50 dengan katanya, ”Ayat ini mengandung perumpamaan orang sesat dan yang mendapat petunjuk. Maksudnya, perumpamaan antara orang yang tidak mengetahui perkara yang benar dan orang yang mengetahuinya, dan ini memberikan pesan supaya menjauhkan diri dari kesesatan dan mendekatkan diri kepada petunjuk'”

Az Zuhaili menafsirkan, perkataan al­ a’maa wal bashiir adalah “orang kafir dan orang yang beriman; atau “yang sesat dan yang mendapat petunjuk.” Sedangkan tafsiran al a’maa dalam surah Al­ Fath adalah “buta,” karena dikaitkan dengan jihad, ketika diterangkan tiada dosa bagi mereka meninggalkan jihad, disebabkan ada keuzuran yang nyata yaitu buta.

Dalam menafsirkan surah Thaa Haa, ayat 124, Ibn Katsir menukilkan dari Mujahid, Abu Salih dan As Suddi mengenai makna a’maa dalam ayat tersebut, yaitu “tidak ada hujah baginya”

Sedangkan Ikrimah menjelaskan orang yang dimaksudkan buta itu tidak nampak segala sesuatu selain neraka. Ini bermakna, dia dibangkitkan dan diseret ke neraka dalam keadaan buta mata dan hatinya.” Yang dimaksudkan dengan a’maa dalam surah Abasa ialah ‘Abdullah bin Umm Maktum,

A’isyah meriwayatkan, “Abasa watawallaa” diturunkan kepada Ibn Umm Maktum yang buta, ketika beliau datang kepada Nabi Muhammad dan berkata,
‘Wahai Rasulullah, berilah bimbingan dan ajaran kepadaku tentang apa yang diajarkan oleh Allah”. Pada saat itu, nabi sibuk menyampaikan dakwah kepada pembesar-pembesar musyrik, lalu nabi pun berpaling darinya dan menghadap kepada mereka. Karena peristiwa inilah ayat itu diturunkan. Kemudian setelah itu nabi pun memuliakannya dan setiap kali nabi berjumpa dengannya, nabi berkata,
“Salam sejahtera, wahai orang yang membuatku ditegur oleh Allah” Lalu nabi memakaikan jubahnya kepada beliau.”

Kesimpulannya, lafaz a’maa dalam ayat-ayat di atas mengandung tiga makna.

Pertama, bermakna buta mata sebagaimana pada surah An Nuur, Al Fath dan Thaa Haa.

Kedua, bermakna buta hati atau dalam kesesatan yaitu yang terdapat dalam surah Al An’aam, Hud, Ar Ra’d, Al Israa, Thaa Haa, Faathir,Al Mu’min dan Muhammad.

Ketiga, bermaksud Abdullah bin Umm Maktum, ini terdapat dalam surah ‘Abasa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal: 4-5

Informasi Surah Faathir (فاطر)
Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan se­ sudah surat Al Furqaan dan merupakan surat akhir dari urutan surat-surat dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan “Alhamdulillah”.

Dinamakan “Faathir” (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan “Faathir” yang ter­dapat pada ayat pertama pada surat ini.

Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pencipta malai­kat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamai juga dengan “surat Malaikat” karena pada ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang mempunyai beberapa sayap.

Keimanan:

Bukti-bukti kekuasaan Allah dan ni’mat-ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya
Allah menciptakan para malaikat menurut bentuk yang dikehendaki-Nya
bukti­ bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Kesenangan hidup di dunia adalah sementara
menguatkan hati Rasulullah ﷺ dalam menyeru orang-orang kafir dengan mengingatkannya kepada Rasul-rasul yang terdahulu dan orang-orang yang mendustakannya
seruan kepada manusia supaya mengerjakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk supaya jangan mengikuti langkah syaitan
tiap-tiap orang memikul dosanya sendiri
manusia adalah khalifah Allah di muka bumi
gambaran akibat-akibat yang dite­rima oleh orang mu’min dan orang-orang kafir
tingkatan orang-orang mu’min.

Ayat-ayat dalam Surah Faathir (45 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Faathir (35) ayat 19 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Faathir (35) ayat 19 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Faathir (35) ayat 19 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Faathir - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 45 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 35:19
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Faathir.

Surah Fatir (bahasa Arab: فاطر) adalah surah ke-35 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat.
Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini.
Fathir menerangkan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, manusia, dan makhluk lainnya.
Surah Fatir dinamakan surat Al-Mala'ikah (Malaikat) karena pada ayat pertama Allah menerangkan bahwa Allah mengutus beberapa malaikat yang memiliki sayap.

Nomor Surah 35
Nama Surah Faathir
Arab فاطر
Arti Pencipta
Nama lain Al-Mala'ikah (Malaikat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 43
Juz Juz 22
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 45
Jumlah kata 780
Jumlah huruf 3227
Surah sebelumnya Surah Saba’
Surah selanjutnya Surah Ya Sin
4.4
Ratingmu: 4.8 (28 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim