QS. Az Zumar (Rombongan-rombongan) – surah 39 ayat 67 [QS. 39:67]

وَ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ٭ۖ وَ الۡاَرۡضُ جَمِیۡعًا قَبۡضَتُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ وَ السَّمٰوٰتُ مَطۡوِیّٰتٌۢ بِیَمِیۡنِہٖ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ
Wamaa qadaruullaha haqqa qadrihi wal ardhu jamii’an qabdhatuhu yaumal qiyaamati was-samaawaatu mathwii-yaatun biyamiinihi subhaanahu wata’aala ‘ammaa yusyrikuun(a);

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
―QS. 39:67
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Kedahsyatan hari kiamat ▪ Azab orang kafir
39:67, 39 67, 39-67, Az Zumar 67, AzZumar 67, Az-Zumar 67

Tafsir surah Az Zumar (39) ayat 67

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Az Zumar (39) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah mencela perbuatan kaum musyrikin Mekah karena menyembah berhala dan patung, mengingkari kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Allah juga mengingatkan betapa besar nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka.
Seakan-akan yang berkuasa dan memberi karunia itu adalah patung-patung yang tidak berdaya yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.
Alangkah rendahnya jalan pikiran mereka dengan mengagungkan suatu yang hina dan tak berdaya.

Allah selanjutnya menegaskan bahwa bumi ini seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, demikian pula langit tergulung di tangan kanan-Nya.
Jika langit dan bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya, maka siapakah lagi yang lebih besar, lebih agung, lebih berkuasa dari Allah?
Apakah mereka mengagungkan patung-patung itu sedang patung-patung itu adalah sebagian kecil saja dari langit dan bumi?
Mengenai ayat ini, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud sebuah hadis: Telah datang salah seorang pendeta kepada Rasulullah ﷺ dan berkata kepadanya, “Hai Muhammad, sesungguhnya aku menemui (dalam kitab kami) bahwa Allah Yang Mahaperkasa meletakkan langit di salah satu jarinya, bumi di jari yang lain, pohon-pohon di jari yang lain, air dan tanah di jari yang lain, dan makhluk-makhluk lainnya di jari yang lain pula, lalu Dia berkata, ‘Akulah raja.” Rasulullah ﷺ tertawa mendengar kata-kata pendeta itu sehingga kelihatan gerahamnya tanda setuju.
Kemudian Nabi ﷺ membaca ayat 67 ini.

Tentang penggambaran langit dan bumi dalam genggaman-Nya, mungkin dapat dipahami dengan makna bahwa alam ini dalam kekuasaan-Nya.
Bagaimana hakikat yang sebenarnya dari keadaan bumi yang berada dalam genggaman Allah, kita tidak tahu.
Hal itu termasuk masalah-masalah yang gaib, yang harus diterima sebagaimana yang diterangkan Allah.
Yang mesti diyakini sepenuhnya adalah Allah tidak dapat diserupakan dengan suatu apa pun.
Firman Allah:

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.

(Asy-Syura/42: 11)

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa mempersekutukan Allah dengan makhluk lainnya apalagi dengan sesuatu yang remeh tak berdaya seperti patung-patung itu adalah perbuatan sesat dan menyesatkan.
Maha Suci Allah dari segala paham itu dan tidak layak bagi kekuasaan dan keagungan-Nya untuk dipersekutukan dengan yang lain.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang musyrik itu tidak mengetahui dan tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, karena mereka menyekutukan-Nya dengan yang lain.
Mereka juga mengajak Rasulullah ﷺ.
untuk, bersama mereka, menyekutukan Allah.
Padahal bumi, dengan segala isinya, berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat.
Sementara langit, dengan seluruh lapisannya, terlipat di tangan kanan-Nya.
Allah Mahasuci dari segala kekurangan, dan Dia Mahatinggi dari apa saja selain Dia yang mereka persekutukan dengan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya) yakni mereka tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya, atau, mereka tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang sesungguhnya sewaktu mereka menyekutukan-Nya dengan selain-Nya (padahal bumi seluruhnya) lafal ayat ini menjadi Hal dan maksud dari lafal Jamii’an ialah bumi yang berlapis tujuh itu (dalam genggaman kekuasaan-Nya) maksudnya berada di dalam kekuasaan dan tasharuf-Nya (pada hari kiamat dan langit digulung) dilipat menjadi satu (dengan tangan kanan-Nya) yakni dengan kekuasaan-Nya (Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan) bersama-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang musyrikin itu tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya, saat mereka menyembah selain-Nya bersama-Nya, yang tidak bisa memberikan manfaat apapun atau mudarat. Mereka menyemakan makhluk yang lemah dengan Khalik yang Mahaagung, di mana di antara bukti keagungan-Nya adalah bahwa seluruh bumi dalam genggaman-Nya di Hari Kiamat, sedangkan langit-langit tergulung di tangan kanan-Nya. Mahasuci Allah lagi Mahaagung dari apa yang dipersekutukan oleh orang-orang musyrik itu. Ayat ini mengandung dalil yang menetapkan sifat qabdhah (menggenggam) dan yamin (tangan kanan) serta ath-Thayy (melipat) bagi Allah seuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tanpa membagaimanakan dan tanpa menyamakan (dengan makhluk).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67)

Yakni orang-orang musyrik itu tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang sebenarnya karena mereka telah menyembah selain-Nya bersama Dia.
Padahal Allah Mahabesar, tiada yang lebih besar daripada-Nya, lagi Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang memiliki (menguasai) segala sesuatu, dan segala sesuatu itu berada di bawah takdir dan kekuasaan-Nya.

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap orang-orang Quraisy.

As-Saddi mengatakan, mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa seandainya mereka mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya, tentulah mereka tidak mendustakan-Nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada kekuasaan Allah atas diri mereka.
Maka barang siapa yang beriman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, berarti dia telah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
Dan barang siapa yang tidak beriman kepada hal tersebut, berarti dia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.

Banyak hadis yang menerangkan makna ayat ini, dan cara memahami ayat seperti ini dan yang semisal dengannya ialah menurut pemahaman ulama Salaf.
Yaitu memahaminya sesuai dengan apa adanya, tetapi tanpa menggambarkannya dan tanpa menyimpangkannya.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) Bahwa telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Ibrahim, dari Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a.
yang menceritakan bahwa pernah datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya kami menjumpai bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan langit pada satu jari tangan dan bumi pada satu jari tangan lainnya, dan pepohonan pada satu jari tangan, dan air serta manusia pada satu jari tangan, sedangkan makhluk lainnya pada satu jari tangan, lalu Allah berfirman, ‘Aku adalah raja’.” Maka Rasulullah ﷺ tertawa sehingga gigi seri beliau kelihatan karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman­nya pada hari kiamat.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari meriwayatkan pula di lain tempat pada kitab sahihnya, juga Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya, bagian dari kitab sunnahnya masing-masing; semuanya melalui Sulaiman ibnu Mahran Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Ubaidah, dari Ibnu Mas’ud r.a.
dengan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah r.a.
yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, dia berasal dari Ahli Kitab.
Lalu lelaki itu bertanya, “Hai Abul Qasim, aku akan menceritakan kepadamu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memikul semua makhluk di atas suatu jari, langit di atas suatu jari, bumi di atas suatu jari, dan air serta manusia di atas suatu jari.” Maka Rasulullah ﷺ tertawa hingga gigi serinya kelihatan; dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Al-A’masy dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnul Asyqar, telah menceritakan kepada kami Abu Kadinah, dari Ata, dari Abud Duha, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa seorang Yahudi bersua dengan Rasulullah ﷺ yang sedang duduk, lalu si Yahudi itu bertanya, “Hai Abul Qasim, bagaimanakah pendapatmu tentang suatu hari (yang pada hari itu) Allah menjadikan langit di atas ini (seraya memperagakan dengan jari telunjuknya), dan bumi di atas ini, dan gunung-gunung di atas ini, dan semua makhluk di atas ini (pada masing-masingnya ia memperagakannya dengan jari telunjuknya).” Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi di dalam kitab tafsir, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman Ad-Darimi, dari Muhammad ibnus Silt, dari Abu Ja’far, dari Abu Kadinah alias Yahya ibnul Muhallab, dari Ata ibnus Sa’ib, dari Abud Duha Muslim ibnu Sabih dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini sahih garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui jalur ini.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Afir, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahmah ibnu Khalid ibnu Musafir, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, bahwa Abu Hurairah r.a.
pernah mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan (kekuasaan)-Nya, kemudian berfirman, “Akulah Raja, di manakah sekarang raja-raja bumi?”

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui jalur ini secara tunggal.
Dan Imam Muslim meriwayatkannya dari jalur lain.

Imam Bukhari di tempat yang lain mengatakan, telah menceritakan kepada kami Miqdam ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami pamanku Al-Qasim ibnu Yahya, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menggenggam bumi pada hari kiamat dengan satu jari tangan-Nya, dan langit dengan tangan kanan-Nya.
Kemudian Dia berfirman, “Akulah Raja.”

Imam Bukhari melalui jalur ini telah meriwayatkannya secara tunggal pula; dan Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur lain.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dengan lafaz yang lebih panjang daripada ini.
Untuk itu ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abdullah ibnu AbuTalhah, dari Ubaidillah ibnu Miqsam, dari Ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari membaca ayat ini di atas mimbarnya, yaitu firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) Dan Rasulullah ﷺ memperagakannya dengan tangannya seraya menggerakkannya ke arah depan dan ke belakang, lalu bersabda: Tuhan memuji diri-Nya sendiri, “Akulah Tuhan Yang Mahaperkasa, Akulah Tuhan Yang Mahabesar, Akulah Raja, Akulah Tuhan Yang Mahamulia.” Maka mimbar bergetar menggoyangkan Rasulullah ﷺ sehingga kami mengira mimbar itu akan terbalik menjungkalkan Rasulullah ﷺ (karena kuatnya getaran).

Imam Muslim dan Imam Nasai serta Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadis ini melalui Abdul Aziz ibnu Abu Hazim; Imam Mus­lim dan Ya’qub ibnu Abdur Rahman menambahkan, dari Abu Hazim, dari Ubaidillah ibnu Miqsam, dari Ibnu Umar r.a.
dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Menurut lafaz Imam Muslim, dari Ubaidillah ibnu Miqsam, sehubungan dengan hadis ini disebutkan bahwa ia memandang Abdullah ibnu Umar r.a.
untuk melihat bagaimana Nabi ﷺ memperagakannya.
Disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengambil langit dan bumi dengan tangan-Nya, lalu berfirman, “Akulah Raja.” Dan Nabi ﷺ menggenggamkan jari jemarinya, lalu membukanya seraya bersabda, “Akulah Raja,” sehingga aku (Ibnu Umar r.a.) melihat mimbar yang dinaiki Nabi ﷺ seakan-akan bergerak-gerak dimulai dari bagian bawahnya, hingga aku mengira bahwa apakah mimbar akan terjatuh bersama Rasulullah ﷺ

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Saif, telah menceritakan kepada kami Abu Ali Al-Hanafi, telah menceritakan kepada kami Abbad Al-Minqari, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Munkadir yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaca ayat berikut di atas mimbar, yaitu firman-Nya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) sampai dengan firman-Nya: Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) Maka mimbar yang dinaiki oleh beliau ﷺ itu bergerak sebanyak tiga kali; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Al-Hafiz Abul Qasim alias ImamTabrani telah meriwayatkannya melalu hadis Ubaid ibnu Umair, dari Abdullah ibnu Amr r.a.
dan Imam Tabrani mengatakan bahwa hadis ini sahih.

ImamTabrani di dalam kitab Al-Mu jamui Kabir-nya mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mu’awiyah Al-Atabi, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Nafi’, dari Sakhr ibnu Juwairiyah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Salim Al-Qaddah, dari Ma’mar ibnul Hasan, dari Bakr ibnu Khunais, dari Abu Syaibah, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Jarir r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada sejumlah orang dari sahabatnya: Sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian beberapa ayat dari akhir surat Az-Zumar, maka barang siapa di antara kalian yang menangis (karena mendengarnya), dipastikan baginya surga.
Lalu Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya mulai dari: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 67) hingga akhir surat.
Maka di antara kami ada yang menangis, ada pula yang tidak menangis.
Lalu orang-orang yang tidak menangis berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menangis, tetapi tidak mau menangis juga.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku akan membacakannya kembali kepada kalian, maka barang siapa yang tidak dapat menangis, hendaklah ia berpura-pura menangis.

Hadis ini garib (aneh) sekali, dan lebih aneh lagi adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani pula di dalam kitab Mu’jamul Kabir­nya.
Yaitu:

telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnu Murtsad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur’ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ada tiga perkara yang sengaja Aku sembunyikan dari hamba-hamba-Ku; seandainya seseorang melihatnya, tentulah dia tidak akan melakukan suatu keburukan pun selamanya.
Dan seandainya Aku singkapkan tabir penutup-Ku, lalu ia melihat-Ku, tentulah ia merasa yakin dan mengetahui bagaimana yang Aku lakukan terhadap makhluk-Ku.
Yaitu ketika Aku datangkan mereka dan Aku genggam langit dengan tangan-Ku, kemudian Aku genggam pula bumi, lalu Aku berfirman, ‘Akulah Raja, tiada yang memiliki kerajaan selain Aku.’ Sekiranya Kuperlihatkan kepada mereka surga dan semua kebaikan yang telah Kusediakan buat mereka di dalamnya, maka barulah mereka meyakininya.
Dan seandainya Aku perlihatkan kepada mereka neraka dan semua keburukan yang ada di dalamnya yang telah Kusediakan bagi mereka, maka barulah mereka meyakininya.
Tetapi sengaja Aku menyembunyikan semuanya itu dari mereka agar Aku dapat mengetahui (secara nyata) apakah yang akan dikerjakan oleh mereka; dan Aku telah menjelaskannya kepada mereka.”

Sanad hadis ini mutaqarib (yang mempunyai banyak kemiripan) yang melaluinya sejumlah hadis yang cukup banyak diriwayatkan; hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Az Zumar (39) Ayat 67

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi –menurutnya, hadits ini shahih yang bersumber dari ‘Abbas bahwa seorang Yahudi lewat di depan Nabi ﷺ dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu (Islam), hai Abul Qasim, tentang Allah yang meletakkan langit, bumi, air, serta gunung-gunung seperti yang kita lihat sekarang ini?” Maka turunlah ayat ini (az-Zumar: 67) yang menegaskan bahwa orang-orang Yahudi tidak menghormati Allah sebagaimana mestinya, yaitu bahwa bumi dan langit ada di Tangan kekuasa Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al Hasan bahwa pada suatu pagi kaum Yahudi memperhatikan dan menganalisis tentang kejadian langit, bumi, dan malaikat, lalu mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan keagungan Yang menciptakannya.
Ayat ini (az-Zumar: 67) turun sebagai keterangan ihwal keagungan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa kaum Yahudi memperbincangkan sifat Rabb tanpa menggunakan ilmu pengetahuan yang seharusnya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (az-Zumar: 67) sebagai keterangan bahwa bumi dan langin di bawah kekuasaan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari ar-Rabi’ bin Anas bahwa ketika turun ayat…wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardl…(… kursi Allah meliputi langit dan bumi…)(al-Baqoroh: 255), ada orang-orang yang bertanya: “Ya, Rasulullah, kursi itu (bentuknya) begini, lalu bagaimana dengan Arasy?” Maka Allah menurunkan ayat ini (az-Zumar: 67) sebagai gambaran bahwa Allah Maha Suci dan Maha Mulia dari segala persamaan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Az Zumar (الزمر)
Surat Az Zumar terdiri atas 75 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Saba’.

Dinamakan “Az Zumar” (Rombongan-rombongan) karena perkataan “Az Zumar” yang ter­ dapat pada ayat 71 dan 73 ini.

Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka di­ hisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi dibawa ke surga.
Masing-masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu.

Surat ini dinamakan juga “Al Ghuraf” (kamar-kamar) berhubung perkataan “ghuraf” yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

Keimanan:

Dalil-dalil ke-Esaan dan kekuasaan Allah
malaikat-malaikat berkumpul di sekeli­ ling ‘Arsy bertasbih kepada Tuhannya
pada hari kiamat tiap-tiap orang mempu­nyai catatan amalan masing-masing.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Perintah memumikan keta’atan kepada Allah
larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.

Lain-lain:

Tabiat orang-orang musyrik dalam keadaan senang dan susah
perumpamaan dalam al Qur’an dan faedahnya
kedahsyatan hari kiamat
air muka orang musyrik dan air muka orang mu ‘min pada hari kiamat
janji Allah mengampuni orang-orang yang bersalah bila mereka bertaubat.

Ayat-ayat dalam Surah Az Zumar (75 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Az-Zumar (39) ayat 67 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Az-Zumar (39) ayat 67 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Az-Zumar (39) ayat 67 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Az-Zumar - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 75 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 39:67
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Az Zumar.

Surah Az-Zumar (Arab: الزمر , "Rombongan-Rombongan") adalah surah ke-39 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 75 ayat.
Dinamakan Az-Zumar yang berarti Rombongan-Rombongan karena kata Az-Zumar yang terdapat pada ayat 71 dan 73 pada surah ini.
Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka dihisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan; satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi dibawa ke surga.
Masing- masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu.
Surah ini dinamakan juga Al-Ghuraf yang berarti Kamar-Kamar karena kata Ghuraf yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

Nomor Surah 39
Nama Surah Az Zumar
Arab الزمر
Arti Rombongan-rombongan
Nama lain al-Guraf (Kamar-Kamar), Ghuraf, Surah Al-‘Arab
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 59
Juz Juz 23 & 24
Jumlah ruku' 8 ruku'
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1180
Jumlah huruf 4871
Surah sebelumnya Surah Sad
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’min
4.6
Ratingmu: 4.6 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta