QS. Az Zumar (Rombongan-rombongan) – surah 39 ayat 53 [QS. 39:53]

قُلۡ یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ
Qul yaa ‘ibaadiyal-ladziina asrafuu ‘ala anfusihim laa taqnathuu min rahmatillahi innallaha yaghfirudz-dzunuuba jamii’an innahu huwal ghafuurur-rahiim(u);

Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 39:53
Topik ▪ Taubat ▪ Tidak putus asa untuk mendapatkan ampunan ▪ Manusia keras kepala
39:53, 39 53, 39-53, Az Zumar 53, AzZumar 53, Az-Zumar 53

Tafsir surah Az Zumar (39) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Az Zumar (39) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada umatnya bahwa Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang dan sangat luas rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap hamba-Nya yang beriman, akan mengampuni segala dosa yang telah terlanjur mereka kerjakan seperti meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan larangan-Nya apabila benar-benar tobat dari kesalahan mereka.
Banyak orang yang menyangka bahwa karena dosanya telah bertumpuk-tumpuk, tidak akan diampuni Allah lagi.
Jadilah ia seorang yang berputus asa terhadap ampunan, rahmat, dan kasih sayang-Nya.

Dunia sudah menjadi gelap menurut pandangannya karena selama ini dia tidak mengindahkan ajaran-ajaran agamanya dan selalu membelakangi petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya.
Hatinya sudah penuh diliputi kekotoran dan kedurhakaan, tak tampak lagi olehnya jalan kebenaran dan kebaikan yang akan ditempuhnya.
Dia telah dibingungkan oleh rasa putus asa dan tak ada harapan yang tampak olehnya untuk kembali dari kesesatan dan kemaksiatan yang selalu diperbuatnya.
Tetapi Allah, meskipun besar dosa hamba-Nya, Dia tetap mengasihi dan menyantuninya dan melarangnya berputus asa terhadap rahmat dan kasih sayang-Nya, Dia tetap memandangnya sebagai hamba-Nya yang berhak menerima kasih sayang-Nya itu apabila ia telah menginsyafi kesalahannya dan memohon ampun kepada-Nya.
Jangankan untuk orang-orang yang beriman, untuk orang-orang musyrik pun masih terbuka pintu tobat apabila mereka masuk Islam dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas bahwa banyak di antara orang-orang musyrik yang telah banyak melakukan pembunuhan dan sering berzina datang kepada Nabi Muhammad.
Mereka berkata kepadanya, “Sesungguhnya apa yang engkau serukan kepada kami adalah baik.
Dapatkah engkau terangkan kepada kami bahwa yang kami kerjakan dahulu itu akan diampuni-Nya.” Nabi menjawab dengan membacakan firman Allah:

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(Q.S. Al-Furqaan [25]: 68-70)

Dalam hadis Nabi ﷺ juga dijelaskan:

Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Anbasah bahwa telah datang menemui Nabi ﷺ seorang yang telah tua bangka bertelekan di atas tongkatnya dan berkata kepada beliau, “Hai Rasulullah, saya banyak mengerjakan kesalahan dan maksiat.
Apakah mungkin kesalahan itu diampuni?”
Nabi ﷺ menjawab, “Apakah engkau telah mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah?”
Orang tua itu menjawab, “Benar, bahkan aku mengakui bahwa engkau utusan Allah.” Rasulullah ﷺ menegaskan, Allah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah engkau lakukan itu.”
(Riwayat A.hmad)

Hadis-hadis tersebut menegaskan bahwa Allah mengampuni semua kesalahan bagaimanapun besar dan banyaknya, bila seseorang itu benar-benar bertobat dengan setulus hati, berikrar tidak akan kembali melakukan kesalahan, dan akan tetap melakukan amal saleh.
Hamba Allah tidak boleh berputus asa terhadap ampunan, rahmat, dan kasih sayang-Nya, karena pintu rahmat-Nya terbuka seluas-luasnya bagi orang yang bertobat, sebagai ditegaskan dalam firman-Nya:

Dan barang siapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 110)

Setelah melarang hamba-Nya berputus asa terhadap rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah mendorong hamba-Nya agar segera meminta ampun dan bertobat kepada-Nya atas segala ketelanjuran dan kesalahan yang telah dilakukan.
Allah juga menegaskan bahwa Dia mengampuni segala dosa kecuali dosa syirik sebagai tersebut dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

(Q.S. An-Nisa’ [4]: 48)

Memang besar dan luas rahmat Allah terhadap hamba-Nya.
Hamba yang telah mendurhakai karena mengabaikan perintah-Nya, melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bergelimang dalam dosa dan maksiat, masih saja dipanggil sebagai hamba-Nya dan dinasihati supaya jangan berputus asa terhadap ampunan dan rahmat-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan, wahai Muhammad, dengan menyampaikan pesan dari Tuhanmu, “Wahai hamba-hamba-Ku yang banyak berbuat maksiat bagi dirinya, janganlah kalian berputus asa dengan rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa.
Sesungguhnya hanya Dia yang ampunan dan rahmat- Nya amat besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa) dapat dibaca Laa Taqnithuu atau Laa Taqnathuu, sebagian ahli qiraat ada yang membacanya Laa Taqnuthuu, artinya janganlah kalian putus asa (dari rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya) bagi orang yang bertobat dari kemusyrikan.

(Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah (wahai Rasul) kepada hamba-hamba-Ku yang terbenam dalam kemaksiatan, dan melampaui batas atas diri mereka sendiri dengan melakukan dosa-dosa ajakan dari hawa nafsu mereka : Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah hanya karena banyaknya dosa kalian, karena sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat darinya dan meninggalkannya sebanyak apa pun dosa-dosa itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi dosa para hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya, lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat-ayat ini merupakan seruan kepada segenap para pendurhaka dari kalangan orang-orang kafir dan lain-lainnya agar bertobat dan kembali kepada-Nya.
Juga sebagai pemberitahuan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni semua dosa bagi orang yang mau bertobat kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan-perbuatan dosanya, betapapun banyaknya dosa yang telah dilakukannya dan sekalipun banyaknya seperti buih laut.
Tidak benar menakwilkan ayat ini untuk pengertian selain tobat, karena dosa syirik tidak mendapatkan ampunan selama pelakunya tidak bertobat dari kemusyrikannya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, bahwa Ibnu Juraij pernah menceritakan kepada mereka bahwa Ya’la pernah mengatakan, “Sesungguhnya Sa’id ibnu Jubair pernah bercerita kepadanya dari Ibnu Abbas r.a., bahwa pernah ada segolongan orang dari kalangan kaum musyrik yang banyak membunuh dan banyak berbuat zina, lalu mereka mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, ‘Sesungguhnya yang engkau katakan (maksudnya Al-Qur’an) dan yang engkau serukan itu benar-benar baik, sekiranya engkau menceritakan kepada kami bahwa apa yang telah kami perbuat ada kifaratnya (penghapus dosanya).” Maka turunlah firman-Nya: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).
(Q.S. Al-Furqaan [25]: 68) Lalu turun pula firman-Nya: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai melalui hadis Ibnu Juraij, dari Ya’la ibnu Muslim Al-Makki, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.

Makna yang dimaksud oleh ayat pertama dijelaskan oleh firman-Nya:

kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh.
(Q.S. Al-Furqaan [25]: 70), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abu Qabil yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Abdur Rahman Al-Muzani mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sauban maula Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Aku tidak suka bila diberikan kepadaku dunia dan seisinya sebagai ganti dari ayat ini, yaitu: “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, ‘hingga akhir ayat.” Lalu ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimanakah dengan orang yang musyrik?”
Rasulullah ﷺ diam, lalu bersabda, “Ingatlah, dan juga terhadap orang yang musyrik,” sebanyak tiga kali.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (tunggal).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Nuh ibnu Qais, dari Asy’as ibnu Jabir Al-Haddani, dari Mak-hul, dari Amr ibnu Anbasah r.a.
yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki tua datang menghadap kepada Nabi ﷺ dengan bertelekan pada tongkatnya, lalu lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah melakukan banyak perbuatan khianat dan durhaka, maka apakah diriku ini masih dapat diampuni?”
Nabi ﷺ balik bertanya, “Bukankah engkau telah bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah melainkan Allah?”
Lelaki itu menjawab, “Benar, dan aku bersaksi pula bahwa engkau adalah utusan Allah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Semua perbuatan khianat dan durhakamu telah diampuni.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara tunggal.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid radiyallahu anha mengatakan bahwa aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.
(Q.S. Hud [11]: 46).
Dan aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53) tanpa peduli betapa pun banyaknya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Sabit dengan sanad yang sama.

Semua hadis di atas menunjukkan bahwa makna yang dimaksud ialah bahwa Allah mengampuni semua dosa tersebut bila disertai dengan tobat.
Dan seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, bagaimanapun besarnya dosa-dosanya, karena sesungguh­nya pintu rahmat dan pintu tobat itu luas.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya.
(Q.S. At-Taubah [9]: 104)

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia men­dapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 110)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berkenaan dengan orang-orang munafik:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.
Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.
Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 145-146)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa.
Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 73)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 74)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat.
(Q.S. Al-Buruj [85]: 10)

Al-Hasan Al-Basri rahimahullah telah mengatakan bahwa perhatikanlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka telah membunuh kekasih-kekasih-Nya, tetapi Dia menyeru mereka untuk bertobat dan memohon ampun kepada-Nya; ayat-ayat yang semakna cukup banyak.

Di dalam kitab Sahihain dari Abu Sa’id r.a., dari Rasulullah ﷺ disebutkan sebuah hadis yang mengisahkan tentang seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa.
Lalu ia menyesali perbuatannya dan bertanya kepada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil, “Apakah masih ada pintu tobat bagiku?”
Si ahli ibadah itu menjawab, “Tidak ada,” maka si ahli ibadah itu dibunuhnya hingga genaplah jumlah orang yang dibunuhnya menjadi seratus orang.
Kemudian orang tersebut bertanya kepada seorang ulama di antara ulama mereka yang terkenal, bahwa apakah masih ada tobat baginya.
Ulama itu balik bertanya, “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dan tobat?”

Kemudian ulama itu memerintahkannya untuk pergi ke kota lain untuk beribadah kepada Allah di dalamnya, lalu lelaki itu pergi menuju ke kota yang dimaksud, tetapi di tengah jalan maut merenggut nyawanya.
Maka bertengkarlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang lelaki itu (siapakah di antara keduanya yang berhak mengambilnya).

Maka Allah memerintahkan kepada mereka agar mengukur jarak di antara kedua kota tersebut (kota tempat si lelaki dan kota yang ditujunya).
Mana yang lebih dekat kepada jenazah si lelaki itu, maka dialah yang lebih berhak untuk mengambilnya.
Setelah diukur, ternyata mereka menjumpainya lebih dekat ke kota yang ditujunya, tempat ia akan berhijrah, bedanya hanya satu jengkal.
Lalu roh lelaki itu diambil oleh malaikat rahmat.

Disebutkan bahwa lelaki itu pada saat matinya menggulirkan tubuhnya menjauh (dari negeri yang baik), maka Allah memerintahkan kepada negeri yang baik agar mendekat dan memerintahkan kepada negeri yang jahat (tempat asal lelaki itu) agar menjauh.
Demikianlah kesimpulan dari makna hadis, dan kami telah menulisnya di tempat lain dengan lengkap.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53), hingga akhir ayat.
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menyerukan untuk memohon ampunan dari-Nya terhadap mereka yang mengira bahwa Al-Masih adalah tuhan, juga orang yang menduga bahwa Al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengira bahwa Uzair anak Allah, orang yang mengira bahwa Allah fakir, orang yang mengira bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir), dan orang yang mengira bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga.
Terhadap mereka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 74)

Kemudian Allah menyerukan untuk bertobat terhadap orang yang ucapannya jauh lebih berat dosanya ketimbang mereka, yaitu orang yang mengatakan, “Aku adalah Tuhan kalian yang tertinggi,” yaitu ucapan yang disitir oleh firman-Nya:

aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.
(Q.S. Al-Qasas: 38)

Kemudian Ibnu Abbas r.a.
mengatakan bahwa barang siapa di antara hamba Allah yang berputus asa dari tobat sesudah kesemuanya itu, berarti dia telah mengingkari Kitabullah.
Tetapi seseorang hamba tidaklah mampu bertobat sebelum Allah menerima tobatnya.

Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui jalur Asy-Sya’bi, dari Sunaid ibnu Syakl; ia pernah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa sesungguhnya ayat dari Kitabullah yang paling agung ialah firman-Nya:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).
(Q.S. Al-Baqarah: 255)

Sesungguhnya ayat yang paling banyak memuat kebaikan dan keburukan di dalam Al-Qur’an adalah firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(An-Nahl: 90)

Sesungguhnya ayat Al-Qur’an yang paling menggembirakan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam surat Az-Zumar, yaitu:

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Dan sesungguhnya ayat yang paling menonjolkan masalah berserah diri adalah firman-Nya:

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
(At-Talaq: 2-3)

Maka Masruq berkata kepadanya, “Engkau benar.”

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abu Sa’id, dari Abul Kanud yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud r.a.
berjalan melewati seorang tukang dongeng yang sedang bercerita kepada orang-orang.
Maka Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Hai tukang cerita, mengapa engkau membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah?”
kemudian Ibnu Mas’ud membaca firman-Nya: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Berikut ini hadis-hadis yang menyebutkan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Abdul Mu’min ibnu Ubaidillah As-Saddi, telah menceritakan kepadaku Hasan As-Sadusi yang mengatakan bahwa ia masuk mengunjungi Anas ibnu Malik r.a., lalu Anas berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­nya, sekiranya kalian berbuat kesalahan sehingga kesalahan kalian memenuhi antara langit dan bumi, kemudian kalian mohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia memberi ampun bagi kalian.
Dan demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sekiranya kalian tidak berbuat kesalahan (dosa), tentulah Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat kesalahan, kemudian mereka mohon ampun kepada Allah, maka Allah memberi ampun bagi mereka.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Isa, telah menceritakan kepadaku Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Qais tukang dongengnya Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz, dari Abu Sirmah, dari Abu Ayyub Al-Ansari r.a.
yang mengatakan ketika sakit yang membawa kepada kematiannya, bahwa ia telah menyembunyikan sesuatu yang pernah ia dengar dari Rasulullah ﷺ, yaitu Rasulullah ﷺ telah bersabda: Seandainya kalian tidak berdosa, tentulah Allah subhanahu wa ta’ala akan menciptakan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu Dia memberi ampun bagi mereka.

Demikianlah menurut Imam Ahmad; Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkan hal yang sama, dan Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula; semuanya meriwayatkannya melalui Qutaibah dari Al-Lais ibnu Sa’d dengan sanad yang sama.
Imam Muslim telah meriwayatkannya pula melalui jalur lain dengan lafaz yang sama dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, dari Abu Sirmah Al-Ansari r.a., dari Abu Ayyub r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Amr ibnu Malik Al-Bakri yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis berikut dari Abul Jauza, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kifarat (penghapus) dosa ialah penyesalan.
Rasulullah ﷺ telah bersabda pula: Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu Dia memberi ampun bagi mereka.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara tunggal.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul A’la ibnu Hammad Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah alias Maslamah ibnu Abdullah Ar-Razi, dari Abu Amr Al-Bajali, dari Abdul Malik ibnu Sufyan As-Saqafi, dari Abu Ja’far alias Muhammad ibnu Ali, dari Muhammad ibnul Hanafiyyah, dari ayahnya (yaitu Ali ibnu AbuTalib r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang teperdaya oleh dosa lagi suka bertobat.

Mereka tidak ada yang mengetengahkannya dari jalur ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit dan Humaid, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa iblis la’natullah berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengusirku dari surga karena Adam, dan sesungguhnya aku tidak dapat mengalahkannya kecuali dengan kekuasaan dari-Mu.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kalau begitu, engkau mendapat kekuasaan itu.” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Allah berfirman, “Tidak sekali-kali dilahirkan bagi Adam seorang anak, melainkan dilahirkan pula seorang anak bagimu.” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Allah berfirman, “Aku jadikan dada mereka sebagai sarang kamu, dan kamu dapat merasuki mereka melalui aliran darahnya.” Iblis berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Allah berfirman, “Aku datangkan terhadap mereka dengan pasukan kuda dan pasukan jalan kakimu, dan bersekutulah dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak, dan umbarkanlah janjimu kepada mereka.
Dan tiadalah yang dijanjikan oleh setan kepada mereka, melainkan hanya tipuan belaka.” Maka Adam ‘alaihis salam berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah memberi kekuasaan kepada Iblis untuk dapat menggodaku, dan sesungguhnya aku tidak mampu menahannya kecuali dengan pertolongan-Mu.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tidak sekali-kali dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan Aku perintahkan kepada malaikat untuk menjaganya dari qarin-nya (teman setannya) yang jahat.” Adam ‘alaihis salam berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipatnya atau Aku tambahkan lagi kelipatannya, dan satu keburukan ditulis satu atau Aku hapuskan.” Adam berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Pintu tobat tetap terbuka selama roh berada di dalam tubuh.” Adam berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nafi’ telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar, dari Umar r.a.
tentang pendapatnya yang mengatakan, “Dahulu kami mengatakan bahwa tidak sekali-kali Allah menerima amal sunnah, amal wajib, dan tobat seseorang yang teperdaya melakukan dosa.
Mereka telah mengenal Allah, tetapi berbalik ingkar kepada (nikmat)-Nya, sungguh itu merupakan petaka yang menimpa mereka.” Dan pada mulanya para sahabat pun mempunyai pendapat yang sama.
Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, maka Allah menurunkan firman-Nya sebagai jawaban terhadap pendapatku dan juga pendapat mereka yang demikian itu, yaitu firman-Nya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 53-55)

Umar r.a.
mengatakan bahwa lalu ia menulisnya pada suatu lembaran dan ia kirimkan kepada Hisyam ibnul As r.a.
Maka ketika Hisyam menerima surat itu, ia membacanya di Zi Tuwa dengan terlebih dahulu mendaki ke puncaknya, lalu membacanya dengan bersuara, tetapi masih belum mengerti.
Akhirnya ia berkata, “Ya Allah, berilah aku pemahaman terhadap ayat-ayat ini.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pemahaman ke dalam hatiku, bahwa sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami dan pendapat kami terhadap diri kami, dan dikatakan berkenaan dengan sikap kami.
Maka aku turun menuju ke untaku, lalu kukendarai dan langsung bergabung dengan Rasulullah ﷺ di Madinah.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Az Zumar (39) Ayat 53

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (az-Zumar: 53) turun berkenaan dengan kaum musyrikin Mekah, yang keterlaluan dalam melakukan maksiat.
Ayat ini memperingatkan mereka untuk tidak putus harapan mencari ampunan Allah.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar berkata: “Kami pernah menganggap bahwa tobat seseorang yang menyeleweng dari agama Islam, bahkan meninggalkannya dengan penuh kesadaran, tidak akan diterima.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah (saat hijrah dari Mekah) turunlah ayat ini (az-Zumar: 53)”, yang menegaskan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Nya walaupun telah melampaui batas.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang lemah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah mengirim utusan kepada Wahsyi (pembunuh paman beliau, Hamzah) agar dia masuk Islam.
Wahsyi menjawab:
“Bagaimana mungkin engkau mengajak aku masuk agama Islam, padahal engkau menganggap bahwa orang yang membunuh, berzina, atau syirik, akan mendapat siksa, bahkan dilipatgandakan siksanya pada hari kiamat, serta abadi di dalamnya dengan terhina.
Aku termasuk orang seperti itu.
Apakah ada pengecualian bagiku?” Maka turunlah surah Maryam ayat 60 dan surah al-Furqon ayat 70, yang menunjukkan jalan seharusnya.
Setelah turun ayat tersebut, Wahsyi berkata: “Syarat itu terlalu berat bagiku.
Mungkin aku tidak akan sanggup melaksanakannya.” Maka turunlah surah an-Nisa’ ayat 48 dan 116, yang menegaskan bahwa Allah akan mengampuni dosa seseorang kecuali syirik.
Sehubungan dengan turunnya ayat tersebut, Wahsyi berkata: “Aku masih ragu, apakah aku termasuk orang yang dikehendaki Allah untuk diampuni?
Apakah ada ketentuan selain itu?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (az-Zumar: 53) yang melarang berputus asa dari rahmat Allah.
Setelah ayat tersebut turun, Wahsyi berkata: “Inilah yang aku harapkan.” Kemudian iapun masuk Islam.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Az Zumar (الزمر)
Surat Az Zumar terdiri atas 75 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Saba’.

Dinamakan “Az Zumar” (Rombongan-rombongan) karena perkataan “Az Zumar” yang ter­ dapat pada ayat 71 dan 73 ini.

Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka di­ hisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi dibawa ke surga.
Masing-masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu.

Surat ini dinamakan juga “Al Ghuraf” (kamar-kamar) berhubung perkataan “ghuraf” yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

Keimanan:

Dalil-dalil ke-Esaan dan kekuasaan Allah
malaikat-malaikat berkumpul di sekeli­ ling ‘Arsy bertasbih kepada Tuhannya
pada hari kiamat tiap-tiap orang mempu­nyai catatan amalan masing-masing.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Perintah memumikan keta’atan kepada Allah
larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.

Lain-lain:

Tabiat orang-orang musyrik dalam keadaan senang dan susah
perumpamaan dalam al Qur’an dan faedahnya
kedahsyatan hari kiamat
air muka orang musyrik dan air muka orang mu ‘min pada hari kiamat
janji Allah mengampuni orang-orang yang bersalah bila mereka bertaubat.

Ayat-ayat dalam Surah Az Zumar (75 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Az-Zumar (39) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Az-Zumar (39) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Az-Zumar (39) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Az-Zumar (39) ayat 53-55 - Rangga Saleh (Bahasa Indonesia)
Q.S. Az-Zumar (39) ayat 53-55 - Rangga Saleh (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Az-Zumar - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 75 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 39:53
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Az Zumar.

Surah Az-Zumar (Arab: الزمر , "Rombongan-Rombongan") adalah surah ke-39 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 75 ayat.
Dinamakan Az-Zumar yang berarti Rombongan-Rombongan karena kata Az-Zumar yang terdapat pada ayat 71 dan 73 pada surah ini.
Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka dihisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan; satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi dibawa ke surga.
Masing- masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu.
Surah ini dinamakan juga Al-Ghuraf yang berarti Kamar-Kamar karena kata Ghuraf yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

Nomor Surah 39
Nama Surah Az Zumar
Arab الزمر
Arti Rombongan-rombongan
Nama lain al-Guraf (Kamar-Kamar), Ghuraf, Surah Al-‘Arab
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 59
Juz Juz 23 & 24
Jumlah ruku' 8 ruku'
Jumlah ayat 75
Jumlah kata 1180
Jumlah huruf 4871
Surah sebelumnya Surah Sad
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’min
4.4
Ratingmu: 4.8 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ arti Qs 53:39 ▪ az zumar 53-54

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta