QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 71 [QS. 43:71]

یُطَافُ عَلَیۡہِمۡ بِصِحَافٍ مِّنۡ ذَہَبٍ وَّ اَکۡوَابٍ ۚ وَ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡہِ الۡاَنۡفُسُ وَ تَلَذُّ الۡاَعۡیُنُ ۚ وَ اَنۡتُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
Yuthaafu ‘alaihim bishihaafin min dzahabin wa-akwaabin wafiihaa maa tasytahiihil anfusu wataladz-dzul a’yunu wa-antum fiihaa khaaliduun(a);

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.
―QS. 43:71
Topik ▪ Surga ▪ Keabadian surga ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
43:71, 43 71, 43-71, Az Zukhruf 71, AzZukhruf 71, Az-Zukhruf 71

Tafsir surah Az Zukhruf (43) ayat 71

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Az Zukhruf (43) : 71. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah orang-orang yang beriman beserta keluarga mereka masuk surga, datanglah kepada mereka pelayan-pelayan membawa piring-piring emas yang berisi makanan-makanan yang lezat dan piala-piala yang berisi minuman yang menyegarkan jasmani dan rohani.
Di dalam surga itu mereka memperoleh semua yang mereka inginkan, semua yang menyejukkan dan menenteramkan hati mereka, semua yang indah menurut pandangan dan pendengaran mereka.
Tidaklah dapat digambarkan keadaan surga itu sebelumnya, karena semuanya itu belum pernah ada contoh dan bandingannya dalam kehidupan duniawi.
Dinyatakan pula bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kekal di dalam surga mengecap kenikmatan hidup di dalamnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah mereka masuk surga, kepada mereka diedarkan piring dan gelas dari emas.
Di dalamnya terdapat beraneka ragam makanan dan minuman.
Mereka, di dalam surga, akan memperoleh apa saja yang membangkitkan selera dan menyedapkan pandangan.
Kepada mereka dikatakan, sebagai penyempurnaan kebahagiaan, “Kalian hidup selamanya dalam kenikmatan ini.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Diedarkan kepada mereka piring-piring) yang besar-besar (dari emas, gelas-gelas) tempat untuk minum yang tidak ada pengikatnya hingga si peminum dapat meminum dari sebelah mana saja, lafal Akwaabun adalah bentuk jamak dari lafal Kuubun (dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati) untuk dinikmati kelezatannya (dan sedap dipandang mata) artinya, sangat menyejukkan bila dipandang (dan kalian kekal di dalamnya.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Yaitu piring-piring besar yang berisikan makanan.

dan piala-piala.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Yakni gelas-gelas yang tiada corong —tiada pula pegangannya— yang juga terbuat dari emas.

dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Sebagian ulama membacanya dengan bacaan berikut,

dengan tambahan damir sesudah lafaz tasytahi.

dan sedap (dipandang) mata.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Maksudnya, lezat rasanya dan harum baunya serta indah dipandang.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abu Sa’id yang mengatakan bahwa sesungguhnya Ikrimah maula Ibnu Abbas r.a.
pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya ahli surga yang paling bawah kedudukannya dan pa­ling rendah tingkatannya benar-benar adalah seorang lelaki yang tiada seorangpun masuk surga lagi sesudahnya.
Diberikan kepadanya tempat tinggal seluas pandangan matanya dalam jarak perjalanan seratus tahun berikut gedung-gedung dari emas dan kemah-kemah dari mutiara; tiada suatu jengkal tempat pun darinya, melainkan diberi bangunan.
Pagi dan petang disajikan kepadanya tujuh puluh ribu piring-piring emas; tiada suatu makanan pun yang ada di suatu piring, melainkan tidak terdapat makanan yang semisal pada piring yang lainnya.
Selera makannya di permulaan sama saja dengan selera makan di penghujungnya.
Seandainya sebuah piring dari surga itu diturunkan kepada seluruh penduduk bumi, tentulah makanan itu dapat memberikan keluasan lebih dari apa yang ada pada mereka, tanpa mengurangi apa yang telah diberikan kepada ahli surga itu barang sedikit pun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Sawad As-Sarhi, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi’ah, dari Uqail ibnu Khalid, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa Abu Umamah r.a.
telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menceritakan kepada para sahabat tentang surga, yang antara lain beliau ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya seseorang dari kamu kala mengambil sesuap makanan, lalu ia memasukkannya ke mulutnya, dan tiba-tiba terdetik di dalam hatinya suatu makanan lain.
Maka dengan serta merta berubahlah makanan yang ada dalam mulutnya itu menjadi makanan lain yang diinginkannya itu.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.
(Az-Zuhruf: 71)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan alias Ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Sukain ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abul Asy’as yang tuna netra, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya ahli surga yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang diberikan kepadanya kedudukan yang berada di tengah-tengah antara tingkatan yang keenam dan yang ketujuh.
Dan sesungguhnya dia diberi tiga ratus orang pelayan dan disajikan kepadanya setiap pagi dan petang sebanyak tiga ratus piring makanan setiap harinya —perawi mengatakan, dia merasa yakin bahwa piring itu adalah terbuat dari emas—pada tiap-tiap piring terdapat sejenis makanan yang tidak ada pada piring yang lain.
Dan sesungguhnya dia benar-benar merasa tetap berselera di penghujungnya sebagaimana seleranya di permulaannya.
Dan (diberikan pula kepadanya) berbagai macam minuman sebanyak tiga ratus piala, pada setiap piala terdapat sejenis minuman yang tidak didapati pada piala yang lainnya.
Dan sesungguhnya dia benar-benar tetap berselera di penghujungnya sebagaimana seleranya di permulaan meminumnya.
Dan sesungguhnya dia benar-benar mengatakan, “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau mengizinkan kepadaku, tentulah aku akan menjamu makan dan minum semua penduduk surga tanpa merasa kekurangan sedikit pun dari apa yang ada padaku.” Dan sesungguhnya dia mempunyai tujuh puluh dua orang istri dari bidadari selain dari istri-istrinya dari kalangan penduduk bumi.
Dan sesungguhnya seseorang istri dari mereka benar-benar menempati tempat duduknya dalam jarak satu mil bumi (dari istri yang lainnya).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan kamu di dalamnya.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Maksudnya, di dalam surga itu.

hidup kekal.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Yaitu tidak akan keluar darinya dan tidak mau pindah darinya


Kata Pilihan Dalam Surah Az Zukhruf (43) Ayat 71

ANFUS
أَنفُس

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah an nafs yang mengandung beberapa makna. Diantaranya darah. Oleh itu, al haidh dinamakan an nufasa karena darahnya keluar, an nifas adalah kelahiran atau persalinan, dan apabila sudah melahirkan dinamakan nufasa. la juga bermakna roh, mata, dan di sisi. la juga bermakna jasad.

Dikatakan huwa aztm an nafs berarti dia mempunyai jasad yang besar. Apabila disandarkan kepada al amr atau nafs al amr bermaksud hakikat perkara itu atau perintah yang sama. Apabila disandarkan kepada sesuatu atau nafs asy syai’ bermaksud sesuatu itu sendiri.

Lafaz anfus disebut sebanyak 153 kali dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 9, 44, 54, 54, 57, 84, 85, 87, 90, 102, 109, 110, 155, 187, 223, 228, 234, 234, 240, 235, 235, 265, 284;
-Ali Imran (3), ayat 61, 61, 69, 117, 135, 154, 154, 164,165, 168, 178, 186;
-An Nisaa (4), ayat 29, 49, 63, 64, 65, 66, 95, 95, 97, 107, 113, 128, 135;
-Al Maa’idah (5), ayat 52, 70, 80, 105;
-Al An’aam (6), ayat 12, 20, 24, 26, 93, 123, 130, 130;
-Al A’raaf (7), ayat 9, 23, 37, 53, 160, 172, 177, 192, 197;
-Al Anfaal (8), ayat 53, 72;
-At Taubah (9), ayat 17, 20, 35, 36, 41, 42, 44, 55, 70, 81, 85, 88, 111, 118, 120, 128;
-Yunus (10), ayat 23, 44;
-Hud (11), ayat 21, 31, 101;
-Yusuf (12), ayat 18, 83;
-Ar Ra’d (13), ayat 11, 16;
-Ibrahim (14), ayat 22, 45;
-An ­Nahl (16), ayat 7, 28, 33, 72, 89, 118;
-Al Israa (17), ayat 7;
-Al Kahfi (18), ayat 51;
-Al Anbiyaa (21), ayat 43, 64, 102;
-Al Mu’minun (23), ayat 103;
-An Nuur (24), ayat 6, 12, 61, 61;
-Al Furqaan (25), ayat 3, 21;
-An Naml (27), ayat: 14;
-Al­ Ankabut (29), ayat 40;
-Ar Rum (3), ayat 8, 9, 21, 28, 44;
-As Sajadah (32), ayat 27;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Saba’ (34), ayat 19;
-Az Zumar (39), ayat 15, 42, 53;
-Al Mu’min (40), ayat 10;
-Fushshilat (41), ayat 31, 53;
-Asy ­Syuura (42), ayat 11, 45;
-Az-Zukhruf (43), ayat 71;
-Al Hujurat (49), ayat 11, 15;
-Adz Dhariyat (51), ayat 21;
-An Najm (53), ayat 23, 32;
-Al­ Hadid (57), ayat 14, 22;
-Al Mujadalah (58), ayat 8;
-Al Hasyr (59), ayat 9, 19;
-Ash Shaff (61), ayat 11;
-At Taghaabun (64), ayat 16;
-At Tahrim (66), ayat 6;
-Al Muzzammil (73), ayat 20.

Lafaz anfus di dalam Al Qur’an bermakna jiwa atau diri.

Dalam surah Al Baqarah, ayat 155, At Tibrisi berkata,
”Allah menguji dengan segala cobaan, antaranya diuji dengan naqs al-anfus yaitu dengan kematian diri.”

Dalam surah Ali Imran, ayat 165 As Sabuni menafsirkan, “Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, sesungguhnya sebab datangnya musibah ialah dari diri mereka dan keingkaran mereka pada suruhan rasul serta tamak pada harta rampasan.”

Dalam surah An Nisaa, ayat 128, anfus dikaitkan dengan as syuhh (bakhil).

Dalam Tafsir Al Jalalain memiliki makna sangat bakhil yaitu diri seorang isteri hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan suaminya dan diri seorang suami hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan isterinya apabila dia mencintai wanita lain.

Sedangkan dalam surah An Nahl, ayat 7, al anfus dikaitkan dengan asy syiqq (bi syiqqil anfus).

Asy Syawkani berkata,
“Kamu tidak sampai kepada suatu negeri melainkan dengan kehilangan separuh diri karena susah payah atau penat.”

Makna anfus yang memiliki pengertian diri atau jiwa juga diisyaratkan dalam surah­ surah yang lain berdasarkan sandarannya. Diantaranya :

dalam surah Az Zumar ayat 42, al­ anfus dikaitkan dengan tawaffa (mematikan),

dalam surah Az Zukhruf ayat 71, al anfus dikaitkan dengan tasytahi (mau),

dalam surah An Najm ayat 23, al anfus dikaitkan dengan tahwi, yaitu tahwi al anfus yang bermakna dihiasi dan dibisikkan oleh syaitan kepada diri mereka apa yang mereka sembah selain Allah memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:53-54

Informasi Surah Az Zukhruf (الزخرف)
Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura.

Dinamai “Az Zukhruf” (Perhiasan) diambil dari perkataan “Az Zukhruf” yang terdapat pada ayat 35 surat ini.

Orang-orang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad ﷺ adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai seorang rasul dan nabi.
Pangkat rasul dan nabi itu harus diberikan kepada orang yang kaya.

Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak da­ pat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Keimanan:

Al Qur’an berasal dari Lauh Mahfuzh
Nabi Isa a.s. itu tidak lain hanyalah seorang hamba Allah
pengakuan Nabi Isa a.s. bahwa Allah-lah Tuhan yang sebenarnya
mensifatkan bagaimana kesenangan di dalam syurga dan hebatnya penderitaan orang kafir di dalam neraka sehingga mereka ingin mati saja agar terlepas dari siksa itu
Tuhan tidak mempunyai anak.

Hukum:

Perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya menjauhi orang-orang yang tidak beriman.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. sebagai perbandingan bagi Nabi dan sebagai penawar sewaktu menghadapi kesulitan dalam melakukan da’wah.

Lain-lain:

Pengakuan orang musyrik Mekah bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi, tetapi mereka tetap menyembah berhala
kepercayaan mereka bahwa malaikat adalah anak Allah dan penolakan atas kepercayaan yang salah itu
Muhammad ﷺ sebagai rasul mendapat ejekan dan celaan-celaan dari kaumnya dan hal ini adalah biasa, karena rasul-rasul yang dahulupun demikian pula halnya
orang­ orang musyrik sangat kuat berpegang kepada tradisi dan adat istiadat nenek moyang mereka dalam beragama, sehingga tertutup hati mereka untuk menerima kebenaran.

Ayat-ayat dalam Surah Az Zukhruf (89 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 71 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 71 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 71 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 67-73 - Muthia Zahra (Bahasa Indonesia)
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 67-73 - Muthia Zahra (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Az-Zukhruf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 89 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 43:71
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Az Zukhruf.

Surah Az-Zukhruf (Arab: الزخرف , "Perhiasan") adalah surah ke-43 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 89 ayat.
Dinamakan Az-Zukhruf yang berarti Perhiasan karena kata Az-Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 pada surah ini.
Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Nomor Surah 43
Nama Surah Az Zukhruf
Arab الزخرف
Arti Perhiasan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 63
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 89
Jumlah kata 838
Jumlah huruf 3609
Surah sebelumnya Surah Asy-Syura
Surah selanjutnya Surah Ad-Dukhan
4.7
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ adzukhruf 71

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim