QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 52 [QS. 43:52]

اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ
Am anaa khairun min hadzaal-ladzii huwa mahiinun walaa yakaadu yubiin(u);

Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?
―QS. 43:52
Topik ▪ Kekuasaan Allah
43:52, 43 52, 43-52, Az Zukhruf 52, AzZukhruf 52, Az-Zukhruf 52

Tafsir surah Az Zukhruf (43) ayat 52

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Az Zukhruf (43) : 52. Oleh Kementrian Agama RI

Fir’aun semakin menunjukkan kecongkakannya.
Ia menghina Nabi Musa.
Ia bertanya kepada kaumnya, sekali lagi untuk menegaskan, bukankah yang terbaik adalah dia, sedangkan Nabi Musa adalah seorang yang hina karena ia tidak memiliki apa-apa, seperti kekuasaan, jabatan, dan kekayaan seperti yang ia miliki.
Dan bukankah Nabi Musa itu begitu hinanya mengingat untuk menjelaskan sesuatu dengan kata-kata saja ia tidak mampu.
Yang dimaksudkannya adalah ketidakmampuan Nabi Musa berbicara secara jelas karena lidahnya kelu sebagaimana diakuinya dalam doanya kepada Allah agar memperkuatnya dengan mengutus saudaranya, Nabi Harun.
Allah berfirman:

Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 34)

Tujuan Fir’aun bertanya kepada kaumnya dengan menyampaikan kekurangan-kekurangan Nabi Musa bukanlah untuk bertanya tetapi untuk tujuan menghina beliau.
Ia berharap dengan mengemukakan kekurangan Nabi Musa, rakyatnya memiliki pandangan yang tidak baik kepadanya dan tidak mempercayainya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lebih dari itu, Fir’aun bahkan berkata, “Aku bahkan lebih baik dari orang yang lemah dan hina-dina yang hampir saja tidak mampu menjelaskan dakwanya dengan bahasa yang fasih.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Bukankah) kalian telah melihat sesudah kesemuanya itu (aku lebih baik dari orang ini) dari Nabi Musa (yang dia adalah orang hina) lemah lagi hina (dan yang hampir tidak dapat berbicara dengan jelas) tidak dapat menjelaskan perkataannya, karena sewaktu kecil ia pernah memakan bara api, hingga lisannya pelan atau tidak fasih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyitir kata-kata Fir’aun:

Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya) ?
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 52)

As-Saddi mengatakan bahwa Fir’aun mengatakan, “Tidak, aku lebih baik daripada orang ini yang tidak dapat menjelaskan perkataannya.”

Hal yang sama dikatakan oleh sebagian ulama Nahwu Basrah, bahwa am di sini mengandung makna bal.
Dan pendapat ini dikuatkan dengan adanya apa yang diriwayatkan oleh Imam Farra dari sebagian ahli qira’at, bahwa dia membacanya:

Ibnu Jarir menjawab bahwa seandainya qiraat ini benar, tentulah maknanya pun benar dan jelas, tetapi qiraat ini bertentangan dengan qiraat semua ulama yang ada di kota-kota besar Islam, karena sesungguhnya mereka membacanya seperti berikut:

Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya).
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 52)

dengan memakai istifham, yaitu am.

Menurut hemat kami, berdasarkan hipotesis mana pun kesimpulannya menunjukkan bahwa sesungguhnya yang dimaksud oleh Fir’aun tiada lain suatu pernyataan bahwa dirinya lebih baik dari Musa ‘alaihis salam padahal kenyataannya Fir’aun dusta secara terang-terangan.
Semoga laknat Allah terus menimpanya sampai hari kiamat.

Dan yang dimaksud dengan lafaz mahin, menurut Sufyan ialah rendah.
Menurut Qatadah dan As-Saddi artinya lemah.
Menurut Ibnu Jarir artinya tidak memiliki kerajaan, tidak memiliki pengaruh, dan tidak pula memiliki harta.

dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya).
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 52)

Yakni hampir tidak dapat berbicara dengan fasih, karena lisannya pelat.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya).
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 52) Maksudnya, hampir saja tidak dipahami perkataanya.

Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa lisan Musa pelat.

Sufyan mengatakan bahwa pada lisan Musa terdapat luka bekas bara api saat ia memakan bara api semasa kecilnya.

Dan apa yang dikatakan oleh Fir’aun la ‘natullah ini dusta dan buat-buatannya (rekayasanya) sendiri.
Sesungguhnya yang mendorongnya berkata demikian hanyalah kekufuran dan keingkarannya, hal inilah yang menyebabkan dia memandang Musa ‘alaihis salam dengan pandangan mata kekafiran dan kerendahan.
Padahal sesungguhnya penampilan Musa ‘alaihis salam sangat anggun dan mulia lagi berwibawa sehingga memukau pandangan orang-orang yang berakal sehat.

Ucapannya terhadap Musa ‘alaihis salam sebagai seorang yang hina adalah dusta, justru dia sendirilah yang hina lagi rendah, baik dari segi penampilan, akhlak, maupun agamanya.
Dan Musalah orang yang mulia, seorang pemimpin, benar, berbakti, lagi mendapat petunjuk.
Dan ucapannya yang disitir oleh firman-Nya: dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 52) merupakan buat-buatan dan rekayasa Fir’aun pula yang ia tuduhkan kepada Musa ‘alaihis salam Karena sekalipun lisan Musa benar mengalami sesuatu akibat dari bara api yang dikunyahnya, maka sesungguhnya dia telah memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia melepaskan kesulitan lidahnya, supaya mereka dapat memahami perkataannya, Dan Allah subhanahu wa ta’ala mengabul­kan permintaannya itu, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.
(Q.S. Thaa haa [20]: 36)

Seandainya masih ada sesuatu yang membekas pada lisannya yang tidak dimintakan olehnya agar dilenyapkan, seperti apa yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, maka sesungguhnya dia telah memohon kepada Allah agar dirinya dibebaskan dari akibat kepelatan lisannya dalam tugas menyampaikan dan memberi pengertian.
Karena hal-hal yang timbul dari cacat kejadian yang merupakan hal yang di luar kekuasaan seorang hamba, maka ia tidak dicela dan tidak pula dicaci karenanya.
Sedangkan Fir’aun sendiri sebagai seorang yang mempunyai pengertian dan akal, dia menyadari kenyataan ini.
Dan sesungguhnya tujuannya ialah hendak mengelabui rakyatnya karena mereka terdiri dari orang-orang yang tidak mengerti.


Informasi Surah Az Zukhruf (الزخرف)
Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura.

Dinamai “Az Zukhruf” (Perhiasan) diambil dari perkataan “Az Zukhruf” yang terdapat pada ayat 35 surat ini.

Orang-orang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad ﷺ adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai seorang rasul dan nabi.
Pangkat rasul dan nabi itu harus diberikan kepada orang yang kaya.

Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak da­ pat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Keimanan:

Al Qur’an berasal dari Lauh Mahfuzh
Nabi Isa a.s. itu tidak lain hanyalah seorang hamba Allah
pengakuan Nabi Isa a.s. bahwa Allah-lah Tuhan yang sebenarnya
mensifatkan bagaimana kesenangan di dalam syurga dan hebatnya penderitaan orang kafir di dalam neraka sehingga mereka ingin mati saja agar terlepas dari siksa itu
Tuhan tidak mempunyai anak.

Hukum:

Perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya menjauhi orang-orang yang tidak beriman.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. sebagai perbandingan bagi Nabi dan sebagai penawar sewaktu menghadapi kesulitan dalam melakukan da’wah.

Lain-lain:

Pengakuan orang musyrik Mekah bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi, tetapi mereka tetap menyembah berhala
kepercayaan mereka bahwa malaikat adalah anak Allah dan penolakan atas kepercayaan yang salah itu
Muhammad ﷺ sebagai rasul mendapat ejekan dan celaan-celaan dari kaumnya dan hal ini adalah biasa, karena rasul-rasul yang dahulupun demikian pula halnya
orang­ orang musyrik sangat kuat berpegang kepada tradisi dan adat istiadat nenek moyang mereka dalam beragama, sehingga tertutup hati mereka untuk menerima kebenaran.

Ayat-ayat dalam Surah Az Zukhruf (89 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 52 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 52 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 52 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Az-Zukhruf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 89 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 43:52
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Az Zukhruf.

Surah Az-Zukhruf (Arab: الزخرف , "Perhiasan") adalah surah ke-43 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 89 ayat.
Dinamakan Az-Zukhruf yang berarti Perhiasan karena kata Az-Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 pada surah ini.
Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Nomor Surah 43
Nama Surah Az Zukhruf
Arab الزخرف
Arti Perhiasan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 63
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 89
Jumlah kata 838
Jumlah huruf 3609
Surah sebelumnya Surah Asy-Syura
Surah selanjutnya Surah Ad-Dukhan
4.6
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat az zukhruf 52

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta