QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 4 [QS. 43:4]

وَ اِنَّہٗ فِیۡۤ اُمِّ الۡکِتٰبِ لَدَیۡنَا لَعَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ؕ
Wa-innahu fii ummil kitaabi ladainaa la’alii-yun hakiimun;

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
―QS. 43:4
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Tugas rasul hanya menyampaikan
43:4, 43 4, 43-4, Az Zukhruf 4, AzZukhruf 4, Az-Zukhruf 4

Tafsir surah Az Zukhruf (43) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Az Zukhruf (43) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan kedudukan Al-Qur’an di Lauh Mahfudz bahwa ia telah ada dalam ilmu-Nya yang azali, amat tinggi nilainya karena dia mengandung rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang menerangkan kebahagiaan manusia, dan petunjuk-petunjuk yang membawa mereka ke jalan yang benar.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.
Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

(Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 77-80)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Al-Qur’an yang berada di al-Lawh al-Mahfuzh ini mempunyai kedudukan sangat tinggi, dengan redaksi dan komposisinya yang amat tepat.
Balaghahnya menempati peringkat teratas.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Alquran itu) telah ditetapkan (dalam induk Alkitab) asal Kitab, yaitu Lohmahfuz (di sisi Kami) lafal ayat ini menjadi Badal dari lafal ‘Indana (adalah benar-benar tinggi) yang jauh lebih tinggi daripada Kitab-kitab sebelumnya (dan amat banyak mengandung hikmah) artinya sangat padat dengan hikmah-hikmah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 4)

Artinya, Al-Qur’an itu jelas kemuliaannya di kalangan mala-ul a’la (para malaikat) agar penduduk bumi memuliakan, membesarkan, dan menaatinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Innahu” yakni sesungguhnya Al-Qur’an itu.
Fi UmmilKitabi, yakni di Lauh Mahfuz, menurut pendapat Ibnu Abbas r.a.
dan Mujahid.
Ladaina yakni di sisi Kami, menurut Qatadah dan lain-lainnya.
La’aliyyun, yakni mempunyai kedudukan yang besar, kemuliaan, dan keutamaan, menurut Qatadah.
Hakimun, yakni muhkam (dikukuhkan) bebas dari kekeliruan dan penyimpangan.

Semuanya ini menonjolkan kemuliaan dan keutamaan Al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.
Diturunkan dari Tuhan semesta alam.
(Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 77-80)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.
Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.
(Q.S. ‘Abasa [80]: 11-16)

Berdasarkan kedua ayat ini para ulama menyimpulkan dalil, bahwa orang yang berhadas tidak boleh menyentuh mus-haf, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis —jika sahih— yang menyebutkan bahwa dikatakan demikian karena para malaikat menghormati semua su­huf (kitab-kitab suci) yang antara lain ialah Al-Qur’an di alam atas, maka penduduk bumi lebih utama lagi untuk menghormatinya.
Mengingat Al-Qur’an diturunkan kepada mereka dan khitab-nya ditujukan kepada mereka, maka mereka lebih berhak untuk menerimanya dengan penuh kehormatan dan kemuliaan serta tunduk patuh kepada ajarannya dengan menerima dan menaatinya, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuz) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 4)


Kata Pilihan Dalam Surah Az Zukhruf (43) Ayat 4

ALIYY
عَلِىّ

Lafaz ini berasal dari perkataan ‘alaa, jamaknya ‘aliyyun dan ‘iiyah, artinya yang tinggi, yang keras, dan amat kuat, berkedudukan tinggi yang mulia.

Al Fayruz berkata,
“Apabila lafaz al ‘aliy disandarkan kepada Allah, maknanya salah satu nama dari nama- nama Allah yang bermakna Dia begitu tinggi dan jauh untuk diketahui hakikatnya oleh para ahli sufi dan oleh ilmu ahli makrifat.”

Lafaz ‘aliy disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 255;
-An Nisaa’ (4), ayat 34;
-Maryam (19), ayat 50, 57;
-Al Hajj (22), ayat 62;
-Luqman (31), ayat 30;
-Saba’ (34), ayat 23;
-Al Mu’min (40), ayat 12;
-Asy Syuura (42), ayat 4, 51;
-Az Zukhruf (43), ayat 4.

At Tabari berkata,
Al uliy, wazannya (bentuk katanya) adalah al fa’il dari ungkapan ‘alaa-ya’lu-‘uluwwan maknanya apabila ia naik, dan ism fa’ilnya ialah ‘ali dan ‘aliy.

Makna ‘aliy adalah yang memiliki ketinggian di atas makhluk Nya dengan kekuasaannya. Terdapat perbedaan pendapat berkenaan lafaz al ‘aliy.

– Sebahagian ulama berpendapat, makna al ‘aliy adalah yang maha tinggi dari segala apa yang serupa dengannya dan mereka tidak ber­sepakat jika ia diberi makna yang tinggi tempatnya karena makna itu bisa diartikan Allah berada di suatu tempat dan tidak berada di suatu tempat.

– Sebahagian yang lain mengatakan, makna al ‘aliy adalah yang Maha Tinggi diatas makhluk Nya dengan ketinggian tempatnya dari tempat makhluk­ Nya karena Allah di atas seluruh makhluk Nya dan makhluk Nya berada di bawah Nya, sebagaimana Allah me­nyifatkan diri Nya di atas Al Arsy, yaitu yang tinggi tempatnya di atas mereka.

Ibn ‘Atiyyah berkata,
“Pendapat kedua di atas adalah dari kalangan Mufassirin yang jahil karena sepatutnya ianya (makna Al ‘aliy) jangan diperselisihkan.”

Asy Syawkani berkata,
“Makna lafaz al ‘aliy adalah ke­ tinggian, kekuasaan dan kedudukan Nya.”

Kesimpulannya, lafaz al ‘aliy adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang bermakna yang Maha Tinggi dari segala tasybih (penyerupaan) dan tamthil (pe­ nyamaan dengan yang lain) lagi Maha Mulia dari segala sesuatu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:378-379

Informasi Surah Az Zukhruf (الزخرف)
Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura.

Dinamai “Az Zukhruf” (Perhiasan) diambil dari perkataan “Az Zukhruf” yang terdapat pada ayat 35 surat ini.

Orang-orang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad ﷺ adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai seorang rasul dan nabi.
Pangkat rasul dan nabi itu harus diberikan kepada orang yang kaya.

Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak da­ pat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Keimanan:

Al Qur’an berasal dari Lauh Mahfuzh
Nabi Isa a.s. itu tidak lain hanyalah seorang hamba Allah
pengakuan Nabi Isa a.s. bahwa Allah-lah Tuhan yang sebenarnya
mensifatkan bagaimana kesenangan di dalam syurga dan hebatnya penderitaan orang kafir di dalam neraka sehingga mereka ingin mati saja agar terlepas dari siksa itu
Tuhan tidak mempunyai anak.

Hukum:

Perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ supaya menjauhi orang-orang yang tidak beriman.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. sebagai perbandingan bagi Nabi dan sebagai penawar sewaktu menghadapi kesulitan dalam melakukan da’wah.

Lain-lain:

Pengakuan orang musyrik Mekah bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi, tetapi mereka tetap menyembah berhala
kepercayaan mereka bahwa malaikat adalah anak Allah dan penolakan atas kepercayaan yang salah itu
Muhammad ﷺ sebagai rasul mendapat ejekan dan celaan-celaan dari kaumnya dan hal ini adalah biasa, karena rasul-rasul yang dahulupun demikian pula halnya
orang­ orang musyrik sangat kuat berpegang kepada tradisi dan adat istiadat nenek moyang mereka dalam beragama, sehingga tertutup hati mereka untuk menerima kebenaran.

Ayat-ayat dalam Surah Az Zukhruf (89 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Az-Zukhruf (43) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Az-Zukhruf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 89 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 43:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Az Zukhruf.

Surah Az-Zukhruf (Arab: الزخرف , "Perhiasan") adalah surah ke-43 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 89 ayat.
Dinamakan Az-Zukhruf yang berarti Perhiasan karena kata Az-Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 pada surah ini.
Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

Nomor Surah 43
Nama Surah Az Zukhruf
Arab الزخرف
Arti Perhiasan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 63
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 89
Jumlah kata 838
Jumlah huruf 3609
Surah sebelumnya Surah Asy-Syura
Surah selanjutnya Surah Ad-Dukhan
4.6
Ratingmu: 4.2 (10 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/43-4







Pembahasan ▪ tafsir qs 43:4 ▪ surat 43 AZZUKHRUF 4 : ▪ surat 43 AZZUKHRUF 4 maksudnya

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta