QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 48 [QS. 52:48]

وَ اصۡبِرۡ لِحُکۡمِ رَبِّکَ فَاِنَّکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ حِیۡنَ تَقُوۡمُ
Waashbir lihukmi rabbika fa-innaka bia’yuninaa wasabbih bihamdi rabbika hiina taquum(u);

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,
―QS. 52:48
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Kekuasaan Allah
52:48, 52 48, 52-48, Ath Thuur 48, AthThuur 48, Ath Thur 48, At Thur 48, At-Tur 48

Tafsir surah Ath Thuur (52) ayat 48

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thuur (52) : 48. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah menjelaskan berbagai situasi yang besar, menyedihkan hati rasul, akibat tindakan membangkang dan keras kepala orang-orang kafir dan musyrik yang menolak beriman kepada Allah dan rasulnya.
Maka dalam hal ini, Allah memerintahkan kepada Muhammad ﷺ supaya bersabar terhadap gangguan kaumnya dan tidak lagi menghiraukan mereka, serta tetap menyampaikan perintah-Nya dan memperingatkan larangan-Nya, dan menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepadanya, sebab Allah selalu melihatnya dan memperhatikan pekerjaannya serta menjaga dan melindunginya dari gangguan dan rintangan musuhnya.

Perihal bertasbih dan memuji Tuhan ketika bangun dan berdiri, meliputi tiga keadaan, yaitu:
1.
Ketika bangun dari tidur
2.
Ketika bangun dari duduk
3.
Ketika bangun akan salat

Hal ini mengandung hikmah supaya orang mukmin selalu bertasbih setiap saat, dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, terutama perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
Atha’, Sa’id, Sufyan ats-sauri, dan Abul Ahwas berkata: bahwa Nabi Muhammad ﷺ bertasbih tatkala ia bangkit dari tempat duduknya.

Sebagian hadis:

Dari Abu Barzah al-Aslami berkata, Rasulullah ﷺ pada akhir hayatnya, apabila beliau bangun dari tempat duduknya beliau mengucapkan, “Subhanaka Allahumma wabihamdika asyahadu an la ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaika! Engkau mengucapkan suatu ucapan yang belum pernah engkau ucapkan sebelumnya.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Ucapan ini penghapus dosa dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi di majlis.”
(Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Diriwayatkan bahwasanya Jibril telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar ucapan tersebut dibaca ketika hendak bangkit dan duduk dalam satu majlis yaitu:

“Mahasuci engkau, wahai Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku mohon pengampunan-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”
(Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka bersabarlah dengan ketetapan Tuhanmu yang menunda siksa bagi mereka, dan tabahlah dalam menghadapi penderitaan yang kamu terima dari mereka.
Sesungguhnya kamu berada dalam penjagaan dan pemeliharaan Kami.
Maka tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu, dan bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu ketika kamu bangun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu) yaitu dengan ditangguhkannya mereka dan janganlah dadamu merasa sempit karenanya (maka sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan-Ku) yaitu selalu dalam lindungan dan pengawasan-Ku (dan bertasbihlah) seraya (memuji Rabbmu) yaitu katakanlah, ‘Subhaanallah Wa Bihamdihii’ (ketika kamu bangun berdiri) dari tidurmu atau dari tempat majelismu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48)

Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka, janganlah engkau hiraukan mereka, karena sesungguhnya engkau selalu berada pada penglihatan Kami dan berada dalam penjagaan Kami; Allah memelihara kamu dari gangguan manusia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48)

Ad-Dahhak mengatakan bahwa yang dimaksud ialah bangun berdiri untuk mengerjakan salat.
Kalimat tasbih itu ialah, “Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji kepada Engkau, Mahasuci Asma-Mu dan Mahatinggi Keagungan-Mu, tiada Tuhan selain Engkau.”

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya.
Imam Muslim telah meriwayatkan di dalam kitab sahihnya dari Umar, bahwa ia selalu mengucapkan tasbih ini pada permulaan salatnya.

Imam Ahmad dan para pemilik kitab sunan telah meriwayatkannya dari Abu Sa’id dan lain-lainnya, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ selalu mengucapkan tasbih tersebut.

Abul Jauza telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48) Yakni dari tidurmu, dari peraduanmu.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Umair ibnu Hani”,
telah menceritakan kepadaku Junadah ibnu Abu Umayyah, telah menceritakan kepada kami Ubadah ibnus Samit, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang bangun di tengah malam, lalu mengucapkan, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah.
Dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Mahabesar, dan tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, ” kemudian ia mengucapkan, “Ya Tuhanku berilah ampunan bagiku” —atau kemudian ia berdoa— niscaya akan diperkenankan baginya.
Dan jika dia bangkit membenahi diri, lalu berwudu, kemudian salat, maka salatnya diterima.

Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya, juga para pemilik kitab sunan, melalui hadis Al-Walid ibnu Muslim dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48) Yaitu dari setiap majelis.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48) Yakni apabila seseorang hendak berdiri dari majelisnya, dianjurkan mengucapkan doa berikut sebelum meninggalkannya, yaitu: “Mahasuci Engkau, ya Allah dan dengan memuji kepada Engkau.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami AbunNadr Ishaq ibnu Ibrahim Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib, telah menceritakan kepadaku Talhah ibnu Amr Al-Hadrami, dari Ata ibnu Abu Rabah, bahwa ia telah menceritakan kepadanya tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 48) Yaitu bila engkau berdiri dari setiap majelismu dianjurkan membaca doa ini; dan jika engkau berbuat baik dalam majelismu, maka makin bertambahlah kebaikanmu; dan jika engkau berbuat selain itu, maka doamu itu merupakan penghapus dosanya.

Abdur Razzaq telah mengatakan di dalam kitab Jami’-nya, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Abu Usman Al-Faqir, bahwa Malaikat Jibril mengajari Nabi ﷺ doa berikut yang dibaca bila bangkit meninggalkan majelis, yaitu: Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku memohon ampun kepada Engkau dan bertobat kepada Engkau.

Ma’mar mengatakan bahwa ia pernah mendengar ulama lainnya meriwayatkan bahwa doa ini merupakan kifarat (penghapus dosa) majelis, dan predikatnya adalah mursal.

Akan tetapi, ada hadis-hadis yang disandarkan melalui berbagai jalur yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lain mengatakan hal yang senada.
Antara lain ialah hadis Ibnu Juraij, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Barang siapa yang duduk di suatu majelis, lalu banyak suara gaduh padanya, kemudian ia mengucapkan doa berikut saat berdiri akan meninggalkan majelisnya, “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu, ” melain­kan Allah mengampuni apa yang terjadi dalam majelisnya itu.

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini yang lafaznya adalah seperti hadis di atas, juga Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum walLailah, melalui hadis Ibnu Juraij.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Imam Hakim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa sanad hadis ini dengan syarat Muslim, terkecuali Imam Bukhari yang menilainya daif (lemah).

Menurut hemat kami, yang menilainya alil bukan hanya Imam Bukhari, tetapi juga Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Hatim, Abu Zar’ah, dan Ad-Daruqutni serta lain-lainnya.
Dan mereka menilainya suatu anggapan yang tidak benar bila hanya disandarkan kepada Ibnu Juraij, karena Imam Abu Daud telah meriwayatkannya di dalam kitab sunannya melalui jalur selain Ibnu Juraij sampai kepada Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang semisal.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan hadis ini, juga Imam Nasai serta Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, tetapi lafaznya berdasarkan apa yang ada pada Imam Abu Daud melalui jalur Al-Hajjaj ibnu Dinar, dari Hasyim, dari Abul Aliyah, dari Abu Barzah Al-Aslami yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ di usia senjanya apabila hendak meninggalkan majelisnya mengucapkan doa berikut:

Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau.
Aku memohon ampun kepada Engkau dan bertobat kepada Engkau.
Lalu ada seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar telah mengucapkan suatu doa yang tidak pernah engkau ucapkan sebelumnya di masa lalu.” Beliau ﷺ menjawab: Sebagai penghapus (dosa) yang terjadi di dalam majelis itu.

Tetapi hal yang semisal telah diriwayatkan pula melalui Abul Aliyah secara mursal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Nasai dan Imam Hakim meriwayatkan hadis yang semisal melalui Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Rafi’ ibnu Khadij, dari Nabi ﷺ.
tetapi telah diriwayatkan pula hal yang semisal secara mursal: hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Abu Daud melalui Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan:

Ada beberapa kalimat (doa) yang tidak sekali-kali dibaca oleh seseorang dalam majelisnya di saat hendak meninggalkan majelisnya sebanyak tiga kali, melainkan dihapuskan darinya apa yang dilakukannya dalam majelis itu berkat kalimat-kalimat tersebut.
Dan tidaklah ia mengucapkannya pada majelis kebaikan dan majelis zikir kecuali dianjurkan ditutup dengannya sebagaimana sepucuk surat yang diakhiri dengan cap, yaitu: “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji kepada Engkau, tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada Engkau dan bertobat kepada Engkau.,

Imam Hakim mengetengahkan hadis ini melalui Ummul Mu’minin Aisyah r.a.
yang dinilainya sahih melalui riwayat Jubair ibnu Mut’im.
Dan Abu Bakar Al-Ismaili telah meriwayatkan hal yang semisal melalui Amirul Mu-rninin Umar ibnul Khattab, yang semuanya dari Nabi ﷺ Dan kami telah menerangkan hal ini secara terpisah dengan rinci, yaitu dengan menyebutkan jalur-jalurnya, lafaz-lafaznya, kelemahan-kelemahannya, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengannya.
Segala puji dan karunia adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala


Kata Pilihan Dalam Surah Ath Thuur (52) Ayat 48

A’YUN
أَعْيُن

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah ‘ain. Menurut Ibn Asy Sukayt, ‘ain bermakna “sesuatu yang dengannya seseorang dapat melihat dan memandang.”

Ibn Saydah berkata,
‘Ain adalah orang yang dikirim untuk mencari berita dan ia dinamakan dzii al ‘ainain

Sedangkan Ar Razi berkata,
makna ‘ain ialah indera penglihatan.

Ia juga bermakna “kekuatan penglihatan. Makna lafaz ini juga berbeda-beda dari sudut penggunaannya. Apabila ia disandarkan kepada al-maa’ atau ‘ainul maa’ artinya adalah “mata air.” Apabila disandarkan kepada rumah maa bid daari ‘ain artinya “tiada siapapun di rumah itu'” Apabila disandarkan pula kepada an nafis bermakna “yang amat berharga.” Ia juga bermakna mata-mata, ilmu, matahari, kemuliaan dan sebagainya.

Lafaz a’yun disebut 22 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
-Al Maa’idah (5), ayat 83;
-Al A’raaf (7), ayat 116, 179, 195;
-Al­ Anfaal (8), ayat 44;
-At Taubah (9), ayat 92,
-Hud (11), ayat 31, 37;
-Al Kahfi (18), ayat 101;
-Al­ Anbiyaa (21), ayat 61;
-Al Mu’minuun (23), ayat 27;
-Al Furqaan (25), ayat 74;
-As Sajadah (32), ayat 17;
-Al Ahzab (33), ayat 19, 51;
-Yaa Siin (36), ayat 66;
-Al Mu’min (40), ayat 19;
-Az Zukhruf (43), ayat 71;
-Ath Thuur (52), ayat 48;
-Al Qamar (54), ayat 14, 37.

Dalam surah Al Furqaan, lafaz a’yun dikaitkan dengan dzurriyyatinaa qurrah.

Ibn Katsir menafsirkannya dengan “anak-anak yang menyembah Engkau dan membaguskan ibadah mereka kepadamu serta tidak durhaka kepada kami” Beliau menukilkan pandangan ‘Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam, yang berpendapat maksudnya ialah “memohon kepada Allah bagi isteri­ isteri dan anak-anak mereka supaya diberi petunjuk Islam.”

Dalam surah As Sajadah, beliau menafsirkannya dengan “kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata” sebagaimana yang dinukilkan dari Al Hasan Al Basri.”

Imam Asy Syawkani menafsirkan kata a’yun yang terdapat pada kisah Nabi Nuh (dalam surah Hud, ayat 37) yang dikaitkan dengan lafaz tajri dan wasna’ al fulk dengan “mata-mata malaikat yang selalu melidungi mereka,” karena kata a’yun bermakna alat penglihatan yang mayoritasnya digunakan untuk menjaga dan memperhatikan serta mengawasi sesuatu. A’yun yang dikaitkan dengan wasna’ al jul itu bermakna “dengan pandangan kami dan kasih sayang kami kepadamu.”

Dalam surah Al Kahfi, ayat 101, lafaz a’yun dikaitkan dengan kata ghitaa’, maksudnya ialah mereka yang di dunia ini buta akan dalil-dalil kekuasaan Allah dan keesaan Nya bahkan mereka tidak melihat dan memikirkannya.

Lafaz ini juga dikaitkan dengan ad dam sebagaimana yang terdapat dalam surah At-Taubah, ayat 92 dan Al Maa’idah, ayat 83.

At Tabari menafsirkan maksudnya “mata yang darinya keluar air mata” dan ayat ini diturunkan kepada Raja Najasyi dan para pengikutnya yang menangis karena melihat kebenaran Al Qur’an yang dibacakan kepada mereka.

Sedangkan dalam surah At Taubah, yang dimaksudkan adalah Bani Muqarrin dari kabilah Muzaynah yang menangis karena sedih disebabkan tiada sesuatu yang mereka dapat nafkahkan dan sumbangkan untuk berjihad di jalan Allah.

Kesimpulannya, makna dan maksud lafaz a’yun yang terdapat di dalam Al Qur’an dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, sudut zahir di mana ia adalah alat penglihatan.

Kedua, sudut maknawi yang tersirat, ia bermakna penjagaan, kasih sayang, diri yang mendapat petunjuk atau kesesatan dan sebagainya. Semua itu berdasarkan kepada konteks sandaran lafaz a’yun itu dan hubungannya dengan kalimat lain dalam suatu ayat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:11

Informasi Surah Ath Thuur (الطور)
Surat Ath Thuur terdiri atas 49 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat As Sajdah.

Dinamai “Ath Thuur” (Bukit) diambil dari perkataan “Ath Thuur” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan “bukit” di sini ialah bukit Thursina yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa ‘alaihis salam menerima wahyu dari Tuhannya.

Keimanan:

Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan keadaan orang-orang beriman di dalam syurga
bukti kekuasaan dan keesaan Allah
setiap orang bertanggungjawab terhadap perbuatannya masing-masing, sekalipun demikian bapak dan anak akan dikumpulkan Allah dalam syurga apabila kedua-duanya sama-sama beriman.

Hukum:

Kewajiban untuk tetap berda’wah dan anjuran melakukan zikir dan tasbih pada waktu siang dan malam.

Lain-lain:

Orang-orang zalim pasti mendapat siksaan Allah di dunia dan akhirat
Allah tetap akan menjaga dan melindungi Nabi Muhammad s.a.w

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thuur (49 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 48 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 48 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 48 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thuur - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 49 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 52:48
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thuur.

Surah At-Tur (bahasa Arab:الطور) adalah surah ke-52 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 49 ayat.
Dinamakan at-Tur yang berarti Bukit diambil dari kata At-Tur yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan bukit disini ialah bukit Sinai yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa menerima Taurat dari Allah.

Nomor Surah 52
Nama Surah Ath Thuur
Arab الطور
Arti Bukit
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 76
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 49
Jumlah kata 313
Jumlah huruf 1324
Surah sebelumnya Surah Az-Zariyat
Surah selanjutnya Surah An-Najm
4.4
Ratingmu: 4.8 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ at thur 48 ▪ fashbir lihukmi rabbika ▪ ath thur 48 ▪ atthur 48 al misbah ▪ Qs 52:48

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim