QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 21 [QS. 52:21]

وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ مَاۤ اَلَتۡنٰہُمۡ مِّنۡ عَمَلِہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ کُلُّ امۡرِیًٔۢ بِمَا کَسَبَ رَہِیۡنٌ
Waal-ladziina aamanuu waattaba’athum dzurrii-yatuhum biiimaanin alhaqnaa bihim dzurrii-yatahum wamaa alatnaahum min ‘amalihim min syai-in kulluumri-in bimaa kasaba rahiinun;

Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.
Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
―QS. 52:21
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menanggung dosa orang lain ▪ Pembentukan langit dalam Al Qur’an
52:21, 52 21, 52-21, Ath Thuur 21, AthThuur 21, Ath Thur 21, At Thur 21, At-Tur 21

Tafsir surah Ath Thuur (52) ayat 21

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thuur (52) : 21. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa orang-orang yang beriman yang diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan, akan dipertemukan Allah dalam satu tingkatan dan kedudukan yang sama sebagai karunia Allah kepada mereka meskipun para keturunan itu ternyata belum mencapai derajat tersebut dalam amal mereka.
Sehingga orang tua mereka menjadi senang, maka sempurnalah kegembiraan mereka karena dapat berkumpul semua bersama-sama.

Ketika membaca ayat 21 ini Ibnu ‘Abbas berkata bahwa keturunan anak cucu orang-orang beriman akan ditingkatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala derajatnya bila ternyata tingkatan mereka lebih rendah dari derajat orang tua mereka.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberikan gambaran tentang situasi surga penuh kenikmatan seperti tersedianya makanan mereka di dalam surga.
Setiap buah-buahan atau makanan yang mereka inginkan pasti mereka peroleh sesuai dengan selera mereka.
Kemudian digambarkan bagaimana mereka hidup senang di sana.
Mereka saling berebutan minum, minum tetap dalam kesopanan, berbicara tentang hal lucu, di sana mereka dilayani oleh pelayanpelayan yang sangat ramah dan cantik.
Mereka juga membicarakan hal ihwal mereka di dunia dahulu sebelum mereka berada di dalam kesenangan dan kemewahan surgawi.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda:

Apabila seseorang memasuki surga, menanyakan kedua orang tuanya, istrinya, dan anaknya, maka dikatakan kepadanya: “Mereka belum sampai pada derajat dan amalanmu.” Maka ia berkata: “Ya Tuhanku, aku telah beramal untukku dan untuk mereka”.
Maka (permohonannya dikabulkan Tuhan) disuruhlah mereka (orang tua, istri, anak) untuk bergabung dengan dia.”

(Riwayat Ibnu Mardawaih dan ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas)

Ini merupakan karunia Allah subhanahu wa ta’ala terhadap anak cucu yang beriman dan berkat amal bapak-bapak mereka sebab bapak pun memperoleh karunia Allah subhanahu wa ta’ala dengan berkat anak cucu mereka sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala niscaya mengangkat derajat seorang hamba, lalu ia bertanya, “Ya Tuhanku, bagaimana aku memperoleh derajat ini?”
Allah menjawab, “Kamu memperolehnya sebab doa anakmu.”

(Riwayat Ahmad dan (Baihaqi dari Abu Hurairah)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila mati seorang anak Adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: amal jariah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang saleh yang mendoakannya.”
(Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Kemudian pada ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa pahala dari amal saleh para bapak yang saleh tidak dikurangi meskipun kedudukan anak dan isteri mereka yang beriman diangkat derajat mereka menjadi sama dengan suami/bapak mereka sebagai karunia Allah subhanahu wa ta’ala

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap orang memang hanya bertanggungjawab terhadap amal dan perbuatan masing-masing.
Perbuatan dosa istri atau anak tidak menjadi tanggung jawab ayah/suami, demikian pula perbuatan dosa agar tidak dibebankan pada anak atau istrinya.
Hal ini perlu ditegaskan bahwa hal itu merupakan prinsip dasar.
Tetapi Allah memberi karunia banyak kepada orang tua yang beriman dan beramal saleh dengan menambah kebahagiaan orang tua untuk memenuhi keinginan orang tua berkumpul di surga bersama anak, istri dan cucu-cucunya, selama mereka beriman, meskipun derajat mereka lebih rendah, tetapi Allah mengangkat mereka menjadi sama dengan bapak yang mukmin dan saleh tadi.
Apabila si anak berbahagia masuk surga dan merindukan bersama orang tuanya maka Allah melimpahkan karunia-Nya, mengangkat bapak ibunya yang beriman untuk mendapat kebahagiaan bersama anak mereka di surga.
Karunia Allah yang demikian tidak mengubah prinsip setiap orang hanya bertanggungjawab atas perbuatan masing-masing, meskipun tetap masih ada pengecualian yang lain seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan.
(Al-Muddatstsir: 38-39)

Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala Tanggung jawab itu tidak akan terlepas dari mereka kecuali golongan kanan yaitu orang-orang yang berbuat baik.
Mereka inilah yang akan terlepas dari tanggung jawab disebabkan oleh ketaatan mereka beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan orang-orang yang beriman dan berhak untuk memperoleh derajat yang tinggi lalu diikuti oleh anak cucu mereka dalam beriman, dan anak cucu itu belum mencapai derajat yang dicapai oleh bapak-bapak mereka, maka Kami akan menghubungkan mereka dengan anak cucu mereka itu, agar mereka dapat bergembira dengan anak cucunya.
Kami tidak akan mengurangi pahala perbuatan mereka sedikit pun, dan bapak tidak akan membawa kesalahan anak cucu mereka sedikit pun, karena setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan orang lain tidak akan dihukum karenanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang beriman) berkedudukan menjadi Mubtada (dan mereka diikuti) menurut suatu qiraat dibaca Wa-atba’naahum yakni, Kami ikutkan kepada mereka, Di’athafkan kepada lafal Amanuu (oleh anak cucu mereka) menurut suatu qiraat dibaca Dzurriyyatahum, dalam bentuk Mufrad, artinya oleh keturunan mereka, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa (dalam keimanan) maksudnya, diikuti oleh anak cucu mereka keimanannya.

Dan yang menjadi Khabarnya ialah (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) ke dalam surga, dengan demikian maka anak cucu mereka memiliki kedudukan yang sama dengan mereka, sekalipun anak cucu mereka tidak mempunyai amalan sebagaimana mereka.

Hal ini dimaksudkan sebagai kehormatan buat bapak-bapak mereka, yang karenanya lalu anak cucu mereka dikumpulkan dengan mereka (dan Kami tidak mengurangi) dapat dibaca Alatnaahum atau Alitnaahum, artinya Kami tidak mengurangi (dari pahala amal mereka) huruf Min di sini adalah Zaidah (barang sedikit pun) yang ditambahkan kepada amal perbuatan anak-cucu mereka.

(Tiap-tiap orang dengan apa yang dikerjakannya) yakni amal baik atau amal buruknya (terikat) yakni, ia dalam keadaan terikat, bila ia mengerjakan kejahatan diazab dan bila ia mengerjakan kebaikan diberi pahala.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang karunia dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya, juga kebaikan-Nya, bahwa orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka.
Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka, sehingga mereka dapat bergabung bersama-sama dalam keadaan yang sebaik-baiknya dari segala segi.
Yaitu Allah telah melenyapkan kekurangan dari amal dan menggantinya dengan amal yang sempurna, tanpa mengurangi amal dan kedudukan yang sempurna, mengingat adanya kesamaan di antara mereka.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.
(At– Thur: 21)

As-Sauri telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat anak cucu orang mukmin menjadi sederajat dengannya, sekalipun amal mereka berada di bawahnya agar dengan keberadaan mereka bersama hatinya menjadi senang.
Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.
Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.

Al-Bazzar meriwayatkannya dari Sahl ibnu Bahr, dari Al-Hasan ibnu Hammad Al-Warraq, dari Qais ibnur Rabi’, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara marfu’.
Lalu ia mengetengahkannya, kemudian ia mengatakan bahwa As-Sauri meriwayatkan hadis ini dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid ibnu Yazid Al-Bairuni, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku Syaiban, telah menceritakan kepadaku Lais, dari Habib ibnu Abu Sabit Al-Asadi, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21) Bahwa mereka adalah keturunan orang mukmin yang mati dalam keadaan beriman.
Sekalipun kedudukan ayah dan bapak mereka lebih tinggi daripada mereka, mereka tetap dihubungkan dengan ayah-ayah mereka, tanpa mengurangi pahala amal ayah-ayah mereka barang sedikit pun.

Al-Hafiz Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Ishaq At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menurutnya Ibnu Abbas pasti dari Nabi ﷺ Disebutkan: Apabila seseorang masuk surga, maka ia ditanyai tentang kedua orang tuanya, istrinya, dan anak-anaknya.
Maka dikatakan, “Sesungguhnya mereka masih belum dapat mencapai derajatmu.” Maka ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah beramal untuk diriku dan juga untuk mereka, ” maka diperintahkan agar mereka dihubungkan (digabungkan) bersamanya.
Setelah itu Ibnu Abbas r.a.
membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21), hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa orang-orang yang anak cucunya beriman, lalu mengerjakan amal ketaatan kepada-Ku, maka Aku akan menghubungkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga, begitu pula anak-anak kecil mereka.

Pendapat ini merujuk kepada tafsir yang pertama, karena pada tafsir yang pertama dijelaskan hal yang lebih gamblang daripada ini.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Asy-Sya’bi, Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, Abu Saleh, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid; pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Us’man ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Muhammad ibnu Us’man, dari Zazan, dari Ali yang mengatakan bahwa Khadijah pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dua orang anaknya yang telah mati di masa Jahiliyah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Keduanya berada di dalam neraka.” Tetapi ketika beliau melihat roman muka yang tidak enak pada wajah Khadijah r.a., maka beliau bersabda, “Seandainya engkau melihat kedudukan keduanya, niscaya engkau akan marah terhadap keduanya.” Khadijah r.a.
bertanya, “Lalu bagaimanakah dengan anak-anakku yang darimu?”
Rasulullah ﷺ bersabda: (Mereka) berada di dalam surga.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu dan anak-anak mereka berada di dalam surga.
Dan sesungguhnya orang-orang musyrik itu dan anak-anak mereka berada di dalam neraka.
Lalu beliau ﷺ membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21), hingga akhir ayat.

Ini merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada para anak berkat amal bapak-bapak mereka.
Adapun mengenai karunia Allah kepada para bapak berkat doa anak-anak yang saleh, maka dalilnya telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar meninggikan derajat hamba yang saleh di dalam surga, lalu si hamba bertanya, “Ya Tuhanku, dari manakah semuanya ini buatku?” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, “Berkat permohonan ampun anakmu untukmu.”

Sanad hadis ini sahih, mereka tidak mengetengahkannya dari jalur ini, tetapi mempunyai syahid di dalam kitab Sahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah yang mengalir (pahalanya), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21)

Setelah menerangkan tentang karunia yang telah diberikannya, yaitu derajat keturunan ditinggikan sampai mencapai derajat para bapak, tanpa amal kebaikan yang mengharuskannya.
Maka Allah menceritakan perihal keadilan-Nya, yaitu bahwa Dia tidak menghukum seseorang karena dosa orang lain.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(Q.S. Ath-Thuur [52]: 21)

Yakni tergantung kepada amal perbuatannya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain, baik bapaknya sendiri ataupun anaknya sendiri.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.
(Q.S. Al-Muddatstsir: 38-41)


Informasi Surah Ath Thuur (الطور)
Surat Ath Thuur terdiri atas 49 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat As Sajdah.

Dinamai “Ath Thuur” (Bukit) diambil dari perkataan “Ath Thuur” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan “bukit” di sini ialah bukit Thursina yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa ‘alaihis salam menerima wahyu dari Tuhannya.

Keimanan:

Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan keadaan orang-orang beriman di dalam syurga
bukti kekuasaan dan keesaan Allah
setiap orang bertanggungjawab terhadap perbuatannya masing-masing, sekalipun demikian bapak dan anak akan dikumpulkan Allah dalam syurga apabila kedua-duanya sama-sama beriman.

Hukum:

Kewajiban untuk tetap berda’wah dan anjuran melakukan zikir dan tasbih pada waktu siang dan malam.

Lain-lain:

Orang-orang zalim pasti mendapat siksaan Allah di dunia dan akhirat
Allah tetap akan menjaga dan melindungi Nabi Muhammad s.a.w

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thuur (49 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 21 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 21 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thuur (52) ayat 21 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. At-Thuur (52) ayat 21 - Nina Tamam (Bahasa Indonesia)
Q.S. At-Thuur (52) ayat 21 - Nina Tamam (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thuur - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 49 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 52:21
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thuur.

Surah At-Tur (bahasa Arab:الطور) adalah surah ke-52 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 49 ayat.
Dinamakan at-Tur yang berarti Bukit diambil dari kata At-Tur yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan bukit disini ialah bukit Sinai yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa menerima Taurat dari Allah.

Nomor Surah 52
Nama Surah Ath Thuur
Arab الطور
Arti Bukit
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 76
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 49
Jumlah kata 313
Jumlah huruf 1324
Surah sebelumnya Surah Az-Zariyat
Surah selanjutnya Surah An-Najm
4.7
Ratingmu: 4.5 (27 orang)
Sending







Pembahasan ▪ at thur 52:21 ▪ Qs 52 : 21

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim