Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 21 [QS. 52:21]

وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ اتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّیَّتُہُمۡ بِاِیۡمَانٍ اَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ مَاۤ اَلَتۡنٰہُمۡ مِّنۡ عَمَلِہِمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ کُلُّ امۡرِیًٔۢ بِمَا کَسَبَ رَہِیۡنٌ
Waal-ladziina aamanuu waattaba’athum dzurrii-yatuhum biiimaanin alhaqnaa bihim dzurrii-yatahum wamaa alatnaahum min ‘amalihim min syai-in kulluumri-in bimaa kasaba rahiinun;
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka.
Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

―QS. Ath Thuur [52]: 21

And those who believed and whose descendants followed them in faith – We will join with them their descendants, and We will not deprive them of anything of their deeds.
Every person, for what he earned, is retained.
― Chapter 52. Surah Ath Thuur [verse 21]

وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

And those who
ءَامَنُوا۟ beriman

believed
وَٱتَّبَعَتْهُمْ dan mengikuti mereka

and followed them
ذُرِّيَّتُهُم anak cucu mereka

their offspring
بِإِيمَٰنٍ dalam keimanan

in faith,
أَلْحَقْنَا Kami pertemukan

We will join
بِهِمْ dengan mereka

with them
ذُرِّيَّتَهُمْ anak cucu mereka

their offspring
وَمَآ dan tidak

and not
أَلَتْنَٰهُم Kami mengurangi mereka

We will deprive them
مِّنْ dari

of
عَمَلِهِم amal perbuatan mereka

their deeds
مِّن dari

(in) any
شَىْءٍ sedikit pun

thing.
كُلُّ tiap-tiap

Every
ٱمْرِئٍۭ seseorang

person
بِمَا dengan apa yang

for what
كَسَبَ ia kerjakan

he earned
رَهِينٌ terikat/tergantung

(is) pledged.

Tafsir

Alquran

Surah Ath Thuur
52:21

Tafsir QS. Ath Thuur (52) : 21. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, Allah ﷻ menerangkan bahwa orang-orang yang beriman yang diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan, akan dipertemukan Allah dalam satu tingkatan dan kedudukan yang sama sebagai karunia Allah kepada mereka meskipun para keturunan itu ternyata belum mencapai derajat tersebut dalam amal mereka.
Sehingga orang tua mereka menjadi senang, maka sempurnalah kegembiraan mereka karena dapat berkumpul semua bersama-sama.

Ketika membaca ayat 21 ini Ibnu ‘Abbas berkata bahwa keturunan anak cucu orang-orang beriman akan ditingkatkan oleh Allah ﷻ derajatnya bila ternyata tingkatan mereka lebih rendah dari derajat orang tua mereka.
Kemudian Allah ﷻ memberikan gambaran tentang situasi surga penuh kenikmatan seperti tersedianya makanan mereka di dalam surga.

Setiap buah-buahan atau makanan yang mereka inginkan pasti mereka peroleh sesuai dengan selera mereka.
Kemudian digambarkan bagaimana mereka hidup senang di sana.

Mereka saling berebutan minum, minum tetap dalam kesopanan, berbicara tentang hal lucu, di sana mereka dilayani oleh pelayanpelayan yang sangat ramah dan cantik.
Mereka juga membicarakan hal ihwal mereka di dunia dahulu sebelum mereka berada di dalam kesenangan dan kemewahan surgawi.

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah bersabda:
Apabila seseorang memasuki surga, menanyakan kedua orang tuanya, istrinya, dan anaknya, maka dikatakan kepadanya:
"Mereka belum sampai pada derajat dan amalanmu."
Maka ia berkata:
"Ya Tuhanku, aku telah beramal untukku dan untuk mereka".

Maka (permohonannya dikabulkan Tuhan) disuruhlah mereka (orang tua, istri, anak) untuk bergabung dengan dia."
(Riwayat Ibnu Mardawaih dan ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas)


Ini merupakan karunia Allah ﷻ terhadap anak cucu yang beriman dan berkat amal bapak-bapak mereka sebab bapak pun memperoleh karunia Allah ﷻ dengan berkat anak cucu mereka sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:Sesungguhnya Allah ﷻ niscaya mengangkat derajat seorang hamba, lalu ia bertanya,
"Ya Tuhanku, bagaimana aku memperoleh derajat ini?"
Allah menjawab,
"Kamu memperolehnya sebab doa anakmu.
"
(Riwayat Ahmad dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah) Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Apabila mati seorang anak Adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga:
amal jariah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang saleh yang mendoakannya."(Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)


Kemudian pada ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa pahala dari amal saleh para bapak yang saleh tidak dikurangi meskipun kedudukan anak dan isteri mereka yang beriman diangkat derajat mereka menjadi sama dengan suami/bapak mereka sebagai karunia Allah ﷻ Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap orang memang hanya bertanggungjawab terhadap amal dan perbuatan masing-masing.
Perbuatan dosa istri atau anak tidak menjadi tanggung jawab ayah/suami, demikian pula perbuatan dosa agar tidak dibebankan pada anak atau istrinya.
Hal ini perlu ditegaskan bahwa hal itu merupakan prinsip dasar.
Tetapi Allah memberi karunia banyak kepada orang tua yang beriman dan beramal saleh dengan menambah kebahagiaan orang tua untuk memenuhi keinginan orang tua berkumpul di surga bersama anak, istri dan cucu-cucunya, selama mereka beriman, meskipun derajat mereka lebih rendah, tetapi Allah mengangkat mereka menjadi sama dengan bapak yang mukmin dan saleh tadi.
Apabila si anak berbahagia masuk surga dan merindukan bersama orang tuanya maka Allah melimpahkan karunia-Nya, mengangkat bapak ibunya yang beriman untuk mendapat kebahagiaan bersama anak mereka di surga.
Karunia Allah yang demikian tidak mengubah prinsip setiap orang hanya bertanggungjawab atas perbuatan masing-masing, meskipun tetap masih ada pengecualian yang lain seperti firman Allah ﷻ:


كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌ ﴿۳۸﴾ اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ ﴿۳۹﴾

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan. (al-Muddatstsir [74]: 38-39)


Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah ﷻ Tanggung jawab itu tidak akan terlepas dari mereka kecuali golongan kanan yaitu orang-orang yang berbuat baik.
Mereka inilah yang akan terlepas dari tanggung jawab disebabkan oleh ketaatan mereka beribadah kepada Allah ﷻ

Tafsir QS. Ath Thuur (52) : 21. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dan orang-orang yang beriman dan berhak untuk memperoleh derajat yang tinggi lalu diikuti oleh anak cucu mereka dalam beriman, dan anak cucu itu belum mencapai derajat yang dicapai oleh bapak-bapak mereka, maka Kami akan menghubungkan mereka dengan anak cucu mereka itu, agar mereka dapat bergembira dengan anak cucunya.
Kami tidak akan mengurangi pahala perbuatan mereka sedikit pun, dan bapak tidak akan membawa kesalahan anak cucu mereka sedikit pun, karena setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan orang lain tidak akan dihukum karenanya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang beriman dan keturunan-keturunan mereka yang ikut dengan keimanannya, kami pertemukan dengan keturunan mereka di sebuah tempat yang berada di surga, meskipun amalan mereka tidak sampai seperti amalan ibu-bapaknya.
Di tempat itu, dengan keberadaan anak- cucunya membuat tenang hati ibu-bapaknya, mereka dikumpulkan dengan sebaik-baiknya keadaan.


Kami tidak mengurangi pahala amalan mereka.
Setiap orang terikat dengan amalan mereka, tidak menanggung dosa orang lain.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan orang-orang yang beriman) berkedudukan menjadi Mubtada


(dan mereka diikuti) menurut suatu qiraat dibaca Wa-atba’naahum yakni, Kami ikutkan kepada mereka, Di’athafkan kepada lafal Amanuu


(oleh anak cucu mereka) menurut suatu qiraat dibaca Dzurriyyatahum, dalam bentuk Mufrad, artinya oleh keturunan mereka, baik yang masih kecil maupun yang sudah dewasa


(dalam keimanan) maksudnya, diikuti oleh anak cucu mereka keimanannya.
Dan yang menjadi Khabarnya ialah


(Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) ke dalam surga, dengan demikian maka anak cucu mereka memiliki kedudukan yang sama dengan mereka, sekalipun anak cucu mereka tidak mempunyai amalan sebagaimana mereka.
Hal ini dimaksudkan sebagai kehormatan buat bapak-bapak mereka, yang karenanya lalu anak cucu mereka dikumpulkan dengan mereka


(dan Kami tidak mengurangi) dapat dibaca Alatnaahum atau Alitnaahum, artinya Kami tidak mengurangi


(dari pahala amal mereka) huruf Min di sini adalah Zaidah


(barang sedikit pun) yang ditambahkan kepada amal perbuatan anak-cucu mereka.


(Tiap-tiap orang dengan apa yang dikerjakannya) yakni amal baik atau amal buruknya


(terikat) yakni, ia dalam keadaan terikat, bila ia mengerjakan kejahatan diazab dan bila ia mengerjakan kebaikan diberi pahala.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang karunia dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya, juga kebaikan-Nya, bahwa orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka.
Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka, sehingga mereka dapat bergabung bersama-sama dalam keadaan yang sebaik-baiknya dari segala segi.
Yaitu Allah telah melenyapkan kekurangan dari amal dan menggantinya dengan amal yang sempurna, tanpa mengurangi amal dan kedudukan yang sempurna, mengingat adanya kesamaan di antara mereka.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.
(At– Thur:
21)

As-Sauri telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat anak cucu orang mukmin menjadi sederajat dengannya, sekalipun amal mereka berada di bawahnya agar dengan keberadaan mereka bersama hatinya menjadi senang.
Kemudian Ibnu Abbas membaca firman-Nya:
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.
Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadis Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.


Al-Bazzar meriwayatkannya dari Sahl ibnu Bahr, dari Al-Hasan ibnu Hammad Al-Warraq, dari Qais ibnur Rabi’, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara marfu‘.
Lalu ia mengetengahkannya, kemudian ia mengatakan bahwa As-Sauri meriwayatkan hadis ini dari Amr ibnu Murrah, dari Sa’id, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Walid ibnu Yazid Al-Bairuni, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepadaku Syaiban, telah menceritakan kepadaku Lais, dari Habib ibnu Abu Sabit Al-Asadi, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21)
Bahwa mereka adalah keturunan orang mukmin yang mati dalam keadaan beriman.
Sekalipun kedudukan ayah dan bapak mereka lebih tinggi daripada mereka, mereka tetap dihubungkan dengan ayah-ayah mereka, tanpa mengurangi pahala amal ayah-ayah mereka barang sedikit pun.

Al-Hafiz Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Ishaq At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menurutnya Ibnu Abbas pasti dari Nabi ﷺ Disebutkan:
Apabila seseorang masuk surga, maka ia ditanyai tentang kedua orang tuanya, istrinya, dan anak-anaknya.
Maka dikatakan,
"Sesungguhnya mereka masih belum dapat mencapai derajatmu."
Maka ia berkata,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah beramal untuk diriku dan juga untuk mereka,
"
maka diperintahkan agar mereka dihubungkan (digabungkan) bersamanya.
Setelah itu Ibnu Abbas r.a. membaca firman-Nya:
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21), hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa orang-orang yang anak cucunya beriman, lalu mengerjakan amal ketaatan kepada-Ku, maka Aku akan menghubungkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga, begitu pula anak-anak kecil mereka.


Pendapat ini merujuk kepada tafsir yang pertama, karena pada tafsir yang pertama dijelaskan hal yang lebih gamblang daripada ini.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Asy-Sya’bi, Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim, Qatadah, Abu Saleh, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid;
pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Us’man ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Muhammad ibnu Us’man, dari Zazan, dari Ali yang mengatakan bahwa Khadijah pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dua orang anaknya yang telah mati di masa Jahiliyah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Keduanya berada di dalam neraka."
Tetapi ketika beliau melihat roman muka yang tidak enak pada wajah Khadijah r.a., maka beliau bersabda,
"Seandainya engkau melihat kedudukan keduanya, niscaya engkau akan marah terhadap keduanya."
Khadijah r.a. bertanya,
"Lalu bagaimanakah dengan anak-anakku yang darimu?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
(Mereka) berada di dalam surga.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu dan anak-anak mereka berada di dalam surga.
Dan sesungguhnya orang-orang musyrik itu dan anak-anak mereka berada di dalam neraka.
Lalu beliau ﷺ membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21), hingga akhir ayat.

Ini merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada para anak berkat amal bapak-bapak mereka.
Adapun mengenai karunia Allah kepada para bapak berkat doa anak-anak yang saleh, maka dalilnya telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah benar-benar meninggikan derajat hamba yang saleh di dalam surga, lalu si hamba bertanya,
"Ya Tuhanku, dari manakah semuanya ini buatku?"
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawab,
"Berkat permohonan ampun anakmu untukmu."

Sanad hadis ini sahih, mereka tidak mengetengahkannya dari jalur ini, tetapi mempunyai syahid di dalam kitab Sahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah yang mengalir (pahalanya), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21)

Setelah menerangkan tentang karunia yang telah diberikannya, yaitu derajat keturunan ditinggikan sampai mencapai derajat para bapak, tanpa amal kebaikan yang mengharuskannya.
Maka Allah menceritakan perihal keadilan-Nya, yaitu bahwa Dia tidak menghukum seseorang karena dosa orang lain.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
(QS. Ath-Thuur [52]: 21)

Yakni tergantung kepada amal perbuatannya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain, baik bapaknya sendiri ataupun anaknya sendiri.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 38-41)

Unsur Pokok Surah Ath Thuur (الطور)

Surat Ath Thuur terdiri atas 49 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat As Sajdah.

Dinamai "Ath Thuur" (Bukit) diambil dari perkataan "Ath Thuur" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan "bukit" di sini ialah bukit Thursina yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musaalaihis salam menerima wahyu dari Tuhannya.

Keimanan:

▪ Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan keadaan orang-orang beriman di dalam syurga.
▪ Bukti kekuasaan dan ke-Esaan Allah.
▪ Setiap orang bertanggungjawab terhadap perbuatannya masing-masing, sekalipun demikian bapak dan anak akan dikumpulkan Allah dalam syurga apabila kedua-duanya sama-sama beriman.

Hukum:

▪ Kewajiban untuk tetap berdakwah dan anjuran melakukan zikir dan tasbih pada waktu siang dan malam.

Lain-lain:

▪ Orang-orang zalim pasti mendapat siksaan Allah di dunia dan akhirat.
▪ Allah tetap akan menjaga dan melindungi Nabi Muhammad ﷺ

Audio

QS. Ath-Thuur (52) : 1-49 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 49 + Terjemahan Indonesia

QS. Ath-Thuur (52) : 1-49 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 49

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ath Thuur ayat 21 - Gambar 1 Surah Ath Thuur ayat 21 - Gambar 2
Statistik QS. 52:21
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thuur.

Surah At-Tur (bahasa Arab:الطور) adalah surah ke-52 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 49 ayat.
Dinamakan at-Tur yang berarti Bukit diambil dari kata At-Tur yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan bukit disini ialah bukit Sinai yang terletak di semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa menerima Taurat dari Allah.

Nomor Surah52
Nama SurahAth Thuur
Arabالطور
ArtiBukit
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu76
JuzJuz 27
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat49
Jumlah kata313
Jumlah huruf1324
Surah sebelumnyaSurah Az-Zariyat
Surah selanjutnyaSurah An-Najm
Sending
User Review
4.5 (27 votes)
Tags:

52:21, 52 21, 52-21, Surah Ath Thuur 21, Tafsir surat AthThuur 21, Quran Ath Thur 21, At Thur 21, At-Tur 21, Surah At Thur ayat 21

▪ At thur 21 ▪ qs 52 21
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 12 [QS. 28:12]

12. Selanjutnya, dikisahkan bagaimana Musa kembali ke pangkuan ibunya. Allah berfirman ; dan kami cegah dia yakni Musa, dengan cara membuatnya enggan menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyus … 28:12, 28 12, 28-12, Surah Al Qashash 12, Tafsir surat AlQashash 12, Quran AlQasas 12, Al Qasas 12, AlQasas 12, Al-Qasas 12, Surah Al Qasas ayat 12

QS. Shaad (Shaad) – surah 38 ayat 52 [QS. 38:52]

49-52. Setelah menjelaskan kisah para nabi penyampai risalah, Allah beralih menguraikan imbalan bagi orang-orang yang mengikuti risalah mereka. Al-Qur’an ini adalah kehormatan bagi mereka yang berhara … 38:52, 38 52, 38-52, Surah Shaad 52, Tafsir surat Shaad 52, Quran Shad 52, Sad 52, Surah Shad ayat 52

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

قُمْ فَأَنْذِرْ

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #8

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … makruh sunnah haram mubah boleh Benar! Kurang tepat! Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali

Pendidikan Agama Islam #2

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Al ‘Aziz Al Akhir Al Jamii’ Al ‘Azim Al Azhar Benar!

Pendidikan Agama Islam #5

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … apa yang dirasakan oleh hatinya seperti yang kamu inginkan kebenaran bahwa kita hidup

Instagram