QS. Ath Thalaaq (Talak) – surah 65 ayat 4 [QS. 65:4]

وَ الِّٰٓیۡٔ یَئِسۡنَ مِنَ الۡمَحِیۡضِ مِنۡ نِّسَآئِکُمۡ اِنِ ارۡتَبۡتُمۡ فَعِدَّتُہُنَّ ثَلٰثَۃُ اَشۡہُرٍ ۙ وَّ الِّٰٓیۡٔ لَمۡ یَحِضۡنَ ؕ وَ اُولَاتُ الۡاَحۡمَالِ اَجَلُہُنَّ اَنۡ یَّضَعۡنَ حَمۡلَہُنَّ ؕ وَ مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّہٗ مِنۡ اَمۡرِہٖ یُسۡرًا
Wal-laa-ii ya-isna minal mahiidhi min nisaa-ikum iniirtabtum fa’iddatuhunna tsalaatsatu asyhurin wal-laa-ii lam yahidhna wa-uulaatul ahmaali ajaluhunna an yadha’na hamlahunna waman yattaqillaha yaj’al lahu min amrihi yusran;

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
―QS. 65:4
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Ayat yang berhubungan dengan Ibnu Ummi Maktum
65:4, 65 4, 65-4, Ath Thalaaq 4, AthThalaaq 4, Ath Thalaq 4, At Talaq 4

Tafsir surah Ath Thalaaq (65) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thalaaq (65) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan bahwa idah perempuan-perempuan yang ya’is (tidak haid lagi), adalah tiga bulan.
Begitu juga perempuan muda yang belum pernah haid.
Adapun bagi perempuan-perempuan yang hamil, maka idahnya sampai melahirkan kandungannya.
Begitu juga perempuan-perempuan hamil yang meninggal suaminya, idahnya sampai melahirkan kandungannya, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Malik, Imam Syafi’i, Abdur Razaq, Ibnu Abi Syaibah, dan Ibnu Mundhir dari Ibnu ‘Umar.
Ketika ditanya tentang perempuan hamil yang meninggal suaminya, Ibnu ‘Umar menjawab, “Apabila perempuan itu melahirkan kandungannya, maka ia menjadi halal (untuk dinikahi).”

Mengenai hal ini ada ulama yang berpendapat yang didasarkan pada masa terlama dari dua waktu, yaitu kalau hamil tua dan segera melahirkan maka idahnya 4 bulan 10 hari.
Sedang kalau hamil muda, idahnya sampai perempuan itu melahirkan.
Orang yang bertakwa kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka ia akan dimudahkan urusannya, dilepaskan dari kesulitan yang dialaminya.
Dua ayat di atas (ayat 1 dan 4), dan 2 (dua) ayat lain yang berada di antaranya (ayat 2 dan 3), mengatur mengenai tata cara perceraian.
Di antaranya hal yang mengatur masa idah.
Masa tersebut dengan jelas disebutkan sebagai 3 (tiga) bulan bagi wanita yang (sedang) tidak haid dan mereka yang sudah memasuki masa menopause, dan sampai saat melahirkan bagi mereka yang sedang mengandung.
Pada dasarnya, waktu tiga bulan, apabila tidak lagi terjadi persetubuhan, maka akan dapat ditentukan kondisi wanita, apakah dalam keadaan hamil atau tidak.
Karena mulai pada bulan pertama kehamilan, haid akan berhenti.
Tentunya, berhentinya haid ini dapat disebabkan oleh banyak hal.
Dapat karena hamil, atau sedang memulai proses menopause, atau karena adanya penyakit.
Bagi seorang wanita, mereka akan mengetahui terjadinya kehamilan dari adanya beberapa ciri lain, karena kehamilan tidak saja ditandai oleh terlambatnya haid atau makin “gendutnya” perut.
Masih ada tanda-tanda lainnya.
Memang tidak mudah mengetahui apakah seseorang benar-benar hamil atau tidak.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wanita-wanita usia menopause (tidak haid lagi karena usia lanjut) yang masih dalam masa idah, jika kalian ragu-ragu tentang masa idah mereka, maka masa idahnya adalah tiga bulan.
Begitu pula wanita- wanita yang tidak haid.
Sedang wanita-wanita yang hamil, waktu idah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah lalu melaksanakan segala ketentuan-Nya, maka Allah akan memudahkan segala urusannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan perempuan-perempuan) dibaca wallaa’iy dan wallaa’i, dengan memakai hamzah dan ya atau tanpa memakai ya, demikian pula lafal yang sama sesudahnya
(yang putus asa dari haid) lafal al-mahidh di sini bermakna haid
(di antara perempuan-perempuan kalian jika kalian ragu-ragu) tentang masa idahnya
(maka idah mereka adalah tiga bulan, dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid) karena mengingat mereka masih di bawah umur, maka idah mereka tiga bulan pula.

Kedua kasus ini menyangkut wanita-wanita atau istri-istri yang tidak ditinggal mati oleh suaminya.

Adapun istri-istri yang ditinggal mati oleh suaminya, idah mereka sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, yaitu, “Hendaklah para istri itu menangguhkan dirinya
(beridah) empat bulan sepuluh hari.”
(Q.S. Al-Baqarah 234)

(Dan perempuan-perempuan yang hamil masa idahnya) baik mereka itu karena ditalak atau karena ditinggal mati oleh suaminya, maka batas masa idah mereka ialah
(sampai mereka melahirkan kandungannya.

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya) baik di dunia maupun di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan tentang idah bagi perempuan yang tidak haid lagi karena faktor usia yang telah lanjut, bahwa idah wanita yang demikian adalah tiga bulan sebagai ganti dari tiga quru yang ditetapkan atas perempuan yang berhaid, sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh surat Al-Baqarah yang menerangkannya.
Demikian pula perempuan-perempuan yang belum mencapai usia balig, idah mereka sama dengan idah wanita-wanita yang tidak haid lagi, yaitu tiga bulan.
Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya).
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Ada dua pendapat sehubungan dengan makna ayat ini.

Pendapat pertama dikatakan oleh sejumlah ulama Salaf, seperti Mujahid, Az-Zuhri, dan Ibnu Zaid, bahwa makna yang dimaksud ialah jika perempuan-perempuan itu melihat adanya darah, lalu kalian merasa ragu apakah darah itu adalah darah haid ataukah darah istihadah (penyakit keputihan), sedangkan kalian bimbang memutuskannya.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa jika kamu merasa ragu mengenai hukum idah mereka dan kamu tidak mengetahuinya, maka idahnya adalah tiga bulan.
Pendapat ini diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Pendapat ini lebih jelas pengertiannya dan Ibnu Jarir memperkuat pendapatnya ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Kuraib dan Abus Sa’id, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, telah menceritakan kepadaku Mutarrif, dari Amr ibnu Salim yang mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka’b pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada beberapa macam wanita yang tidak disebutkan idahnya di dalam Kitabullah, yaitu perempuan yang belum balig, perempuan yang telah lanjut usia, dan perempuan yang sedang hamil.
Amr ibnu Salim melanjutkan, bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya), maka idah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hadis ini dengan konteks yang lebih rinci daripada hadis di atas.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah menceritakan kepadaku Jarir, dari Mutarrif, dari Umar ibnu Salim, dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ bahwa sesungguhnya sejumlah orang dari penduduk Madinah ketika diturunkan surat Al-Baqarah yang menceritakan hukum idah kaum wanita, mereka mengatakan, “Sesungguhnya masih ada beberapa macam wanita yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu perempuan yang masih kecil, perempuan yang telah lanjut usia, dan perempuan yang tidak berhaid lagi, serta perempuan yang sedang hamil.” Ubay ibnu Ka’b melanjutkan, bahwa lalu diturunkanlah ayat mengenai sejumlah wanita yang tidak disebutkan itu, yaitu firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya), maka idah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa wanita yang hamil itu masa idahnya ialah sampai melahirkan kandungannya, sekalipun bersalinnya itu terjadi sesudah talak dijatuhkan atau sesudah ditinggal mati suaminya dalam jarak tenggang waktu yang tidak lama.
Ini menurut pendapat jumhur ulama Salaf dan Khalaf, sebagaimana yang di-nas-kan oleh ayat yang mulia ini dan juga sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah nabawiyah.

Tetapi telah diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas, bahwa keduanya berpendapat sehubungan dengan wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, bahwa ia menjalani idahnya berdasarkan salah satu dari dua masa yang lebih lama (panjang) antara melahirkan kandungannya atau berdasarkan perhitungan bulan, karena berdasarkan ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Al-Baqarah.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Hafs, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Yahya yang menceritakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Salamah, bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas yang saat itu Abu Hurairah r.a.
sedang duduk di tempat yang sama.
Maka lelaki itu bertanya, “Berikanlah fatwa kepadaku tentang seorang wanita yang melahirkan bayinya sesudah ditinggal mati suaminya dalam tenggang waktu empat puluh hari.” Ibnu Abbas menjawab, “Wanita itu menjalani idahnya selama masa yang paling panjang di antara kedua masa (jarak melahirkan atau perhitungan bulan yaitu empat bulan sepuluh hari, mana yang paling lama di antara keduanya).” Maka Abu Salamah mengatakan, “Menurutku masa idahnya adalah seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: ‘Danperempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah stimpai mereka melahirkan kandungannya’ (Q.S. At-Talaq [65]: 4) Maka Abu Hurairah memotong, “Aku sependapat dengan anak saudaraku,” yakni sependapat dengan Abu Salamah.
Lalu Ibnu Abbas mengirimkan pelayannya (si Karib) kepada Ummu Salamah untuk menanyakan masalah ini kepadanya.
Maka Ummu Salamah menjawab, “Subai’ah Al-Aslami ditinggal mati oleh suaminya yang terbunuh, sedangkan ia dalam keadaan hamil.
Dan selang empat puluh hari sesudah kematian suaminya itu Subai’ah melahirkan kandungannya.
Lalu ia dilamar, maka Rasulullah ﷺmengawinkannya dengan lelaki lain; di antara mereka yang melamarnya adalah Abus Sanabil.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini secara ringkas.
Tetapi Imam Muslim dan para pemilik kitab hadis lainnya telah meriwayatkannya dengan panjang lebar melalui berbagai jalur lainnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Usamah, telah menceritakan kepadaku Hisyam, dari ayahnya, dari Al-Miwar ibnu Makhramah, bahwa Subai’ah Al-Aslamiyah ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan mengandung.
Tidak berapa lama—yakni selang beberapa hari kemudian— ia melahirkan kandungannya, kemudian setelah bersih dari nifasnya ia dilamar.
Maka ia meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk menikah.
Beliau ﷺ mengizinkannya, lalu ia menikah.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya, juga Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Subai’ah Al-Aslamiyah.
Seperti yang dikatakan oleh Muslim ibnul Hajjaj, bahwa telah menceritakan kepadaku Abut Tahir, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Yazid, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah, bahwa ayahnya pernah berkirim surat kepada Umar ibnu Abdullah ibnul Arqam Az-Zuhri yang memerintahkan kepadanya agar menemui Subai’ah bintil Haris Al-Aslamiyyah dan menanyakan kepadanya mengenai hadis yang dialaminya dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya saat ia meminta fatwa kepadanya.

Maka Umar ibnu Abdullah membalas suratnya yang isinya memberitakan bahwa Subai’ah telah menceritakan kepadanya bahwa dahulu ia menjadi istri Sa’d ibnu Khaulah, dia adalah salah seorang yang ikut dalam Perang Badar, Lalu Sa’d meninggal dunia di masa haji wada’, sedangkan ia dalam keadaan mengandung.
Tidak lama kemudian sepeninggal suaminya, ia melahirkan kandungannya.
Setelah habis masa nifasnya, ia merias dirinya dan siap untuk dipinang, lalu Abus Sanabil ibnu Ba’kak masuk menemuinya dan bertanya kepadanya, “Kulihat engkau sekarang telah merias dirimu, rupanya engkau ingin menikah lagi.
Demi Allah, sesungguhnya engkau tidak boleh menikah sebelum menjalani masa idahmu, yaitu empat bulan sepuluh hari.”

Subai’ah melanjutkan kisahnya, bahwa setelah ia mendengar perkataan Abus Sanabil itu, maka pada petang harinya ia mengemasi pakaiannya dan datang mertghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu menanyakan kepadanya tentang hal tersebut.
Maka Rasulullah ﷺ memberikan fatwa kepadanya bahwa dia telah halal sejak melahirkan kandungannya, dan menganjurkan kepadanya untuk kawin jika ia menghendakinya.
Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim.
Imam Bukhari meriwayatkannya secara ringkas.
Kemudian Imam Bukhari sesudah meriwayatkan hadis yang pertama mengetengahkan hadis ini pada tafsir ayat ini.

Abu Sulaiman ibnu Harb dan Abun Nu’man mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan, bahwa aku berada di dalam suatu halqah (pengajian) yang di dalamnya terdapat Abdur Rahman ibnu Abu Laila; murid-muridnya sangat menghormatinya, lalu ia menyinggung tentang salah satu di antara dua masa idah yang paling terakhir.
Maka aku utarakan hadis Subai’ah bintil Haris, dari Abdullah ibnu Atabah, dan ternyata salah seorang muridnya merasa tidak senang terhadapku.
Maka aku tanggap terhadap situasi itu, lalu aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku benar-benar berani bila melakukan kedustaan terhadap Abdullah, karena dia berada jauh di kota Kufah.” Akhirnya muridnya itu malu, dan berkata, “Tetapi pamannya tidak mengatakan demikian,” kilahnya.
Lalu aku menemui Abu Atiyyah alias Malik ibnu Amir, dan kutanyakan kepadanya masalah tersebut, maka ia menceritakan kepadaku hadis Subai’ah.
Dan aku bertanya, “Apakah engkau pernah mendengar dari Abdullah sesuatu hadis mengenai Subai’ah?”
Lalu Malik ibnu Amir menjawab, bahwa ketika kami berada di rumah Abdullah, lalu ia berkata, “Apakah kalian menjadikan baginya sanksi yang memberatkan dan tidak menjadikannya baginya sanksi yang ringan?
Bukankah telah diturunkan masa idah yang pendek bagi wanita sesudah diturunkan masa idah yang panjang?”
Yaitu firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui jalur Sufyan ibnu Uyaynah dan Ismail ibnu Aliyyah, dari Ayyub dengan sanad yang sama, tetapi lebih singkat.
Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya, dari Muhammad ibnu Abdul A’la, dari Khalid ibnul Haris, dari Ibnu Aun, dari Muhammad ibnu Sirin, lalu disebutkan hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Zakaria ibnu Yahya ibnu Aban Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syubramah Al-Kufi, dari Ibrahim, dari Alqamah ibnu Qais, bahwa Abdullah ibnu Mas’ud pernah mengatakan bahwa ia berani bersumpah dengan siapa pun bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4) tidak diturunkan kecuali sesudah ayat yang menerangkan wanita yang ditinggal mati oleh suaminya.
Ibnu Mas’ud melanjutkan bahwa apabila wanita yang hamil dan telah ditinggal mati oleh suaminya itu telah bersalin, maka ia telah halal untuk melakukan pernikahan.
Yang dimaksud dengan ayat yang menerangkan wanita yang ditinggal mati oleh suaminya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari.
(Al-Baqarah: 234)

Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui hadis Sa’id ibnu Abu Maryam dengan sanad yang sama.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mani’, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa pernah diceritakan di hadapan Ibnu Mas’ud tentang salah satu dari masa idah yang terakhir, maka Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ia berani bersumpah dengan siapa pun atas nama Allah, bahwa sesungguhnya surat Ath-Thalaq ini diturunkan sesudah ayat wanita yang ditinggal mati oleh suaminya yang idahnya empat bulan sepuluh hari.
Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa selesainya masa idah wanita yang hamil ialah bila ia telah bersalin.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Abud Duha, dari Masruq yang menceritakan bahwa telah sampai kepada Ibnu Mas’ud bahwa Ali r.a.
mengatakan salah satu dari dua masa idah yang terakhir.
Maka Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia berani bersumpah demi kebenaran terhadap siapa pun, bahwa sesungguhnya ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4) diturunkan sesudah surat Al-Baqarah ayat 234.

Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Mu’awiyah, dari Al-A’masy.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Bakar Al-Maqdami, telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab As-Saqafi, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Amr, dari Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai makna firman-Nya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4) Apakah yang dimaksud adalah wanita yang diceraikan tiga kali, ataukah wanita yang ditinggal mati suaminya?
Maka Nabi ﷺ menjawab, bahwa keduanya termasuk ke dalam pengertian ayat ini, yakni wanita yang diceraikan tiga kali dan juga yang ditinggal mati oleh suaminya.

Hadis ini garib sekali, bahkan munkar, karena di dalam sanadnya terdapat Al-Musanna ibnus Sabah yang hadisnya sama sekali tidak terpakai.

Tetapi Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui sanad lain, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Daud As-Samani, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Khalid Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Amr ibnu Syu’aib, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa ketika ayat ini diturunkan Ubay ibnu Ka’b berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Aku tidak mengetahui apakah makna ayat ini musytarakah (persekutuan) ataukah mubhamah (misteri).” Rasulullah ﷺ bertanya, “Ayat yang mana?”
Ubay ibnu Ka’b menjawab: waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4) Apakah yang dimaksud adalah wanita yang ditinggal mati suaminya dan wanita yang ditalak habis-habisan (tiga kali)?”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Ya, seperti itu.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib, dari Musa ibnu Daud, dari Ibnu Lahi’ah dengan sanad yang sama.
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula dari Abu Kuraib, dari Malik ibnu Ismail, dari Ibnu Uyaynah, dari Abdul Karim ibnu Abul Makhariq, bahwa ia pernah menceritakan hadis berikut dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4) Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Batas terakhir idah wanita yang hamil ialah bila ia melahirkan kandungannya.

Abdul Karim orangnya daif dan tidak menjumpai masa Ubay.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 4)

Yakni memudahkan urusannya dan mengadakan baginya penyelesaian dan jalan keluar yang dekat (tidak lama).


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 4

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ishaq bin Rahawaih, al-Hakim, dll, yang bersumber dari Ubay bin Ka’ab.
Isnad hadits ini shahih, bahwa ketika turun ayat tentang idah wanita di dalam surat al-Baqoroh ayat 226-237, para shahabat berkata: “Masih ada masalah idah wanita yang belum disebut (di dalam al-Qur’an), yaitu idah wanita muda (yang belum haid), yang sudah tua (tidak haid lagi), dan yang hamil.
Maka turunlah ayat ini (ath-Thalaq: 4) yang menegaskan bahwa masa idah bagi wanita muda yang belum haid dan wanita yang sudah berhenti haid ialah tiga bulan, sedang idah bagi wanita hamil ialah hingga melahirkan.

Diriwayatkan oleh Muqatil dalam Tafsir-nya bahwa Khallad bin ‘Amr bin al-Jamuh bertanya kepada Nabi ﷺ tentang idah wanita yang sudah tidak haid lagi.
Maka turunlah ayat ini (ath-Thalaq: 4) sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 4

AHMAL
أَحْمَال

Lafaz ini berbentuk jamak dari al haml yang berarti apa yang ada di dalam perut yaitu anak. la juga bermakna buah pohon.

Ibn As Sukkayt berkata al­ haml adalah apa yang ada di dalam perut dan diatas pohon.

Sedangkan Al Azhari berpendapat al haml adalah apa (janin) yang dikandung oleh wanita di dalam perutnya. Adapun haml asy syajarah adalah buah yang nampak atau kelihatan daripadanya, dan ia juga disebut sebagai al himl, sedangkan apa yang tersembunyi maka dinamakan haml.

Lafaz ahmal disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Ath Thalaaq (65) ayat 4.

Ibn Katsir berkata,
“Barang siapa yang hamil atau mengandung, ‘iddahnya adalah sehingga ia melahirkan anak, walaupun selepas talak atau kematian suaminya, berdasarkan pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf”.

Asy Syawkani berkata,
“Zahir surah Ath Thalaaq, ayat 4 ini mengisyaratkan bagi wanita-wanita yang hamil atau mengandung ‘iddahnya ialah sehingga melahirkan anak, baik itu mereka itu wanita-wanita yang diceraikan secara talak atau disebabkan kematian suami-suami mereka.

Maka, yang dimaksudkan ahmal pada ayat itu ialah hamil atau mengandung.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:31-32

Informasi Surah Ath Thalaaq (الطلاق)
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al lnsaan.

Dinamai surat Ath-thalaaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Keimanan:

Dalam surat ini diterangkan hukurn-hukum mengenai thalaq, iddah dan kewajiban masing-masing suami dan isteri dalam masa-masa talaq dan iddah, agar tak ada pihak yang dirugikan dan keadilan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemudian disebutkan perintah kepada orang-orang mu’min supaya bertakwa kepada Allah yang telah mengutus seorang Rasul yang memberikan petunjuk kepada mereka. Maka siapa yang beriman akan dimasukkan ke dalam syurga dan kepada yang ingkar diberikan peringatan bagaimana nasibnya orang-orang ingkar di masa dahulu.

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thalaaq (12 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thalaaq - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 12 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 65:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Surah At-Talaq (Arab: الطّلاق ,"Talak") adalah surah ke-65 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Talaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Nomor Surah 65
Nama Surah Ath Thalaaq
Arab الطلاق
Arti Talak
Nama lain an-Nisa'us Sugra
(an-Nisa' yang kecil)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 99
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 289
Jumlah huruf 1203
Surah sebelumnya Surah At-Tagabun
Surah selanjutnya Surah At-Tahrim
4.4
Ratingmu: 4.6 (20 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/65-4







Pembahasan ▪ qur an 65:4 indo ▪ tafsir alt thalaq 4

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim