QS. Ath Thalaaq (Talak) – surah 65 ayat 3 [QS. 65:3]

وَّ یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا
Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasibu waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuhu innallaha baalighu amrihi qad ja’alallahu likulli syai-in qadran;

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
―QS. 65:3
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Ayat yang berhubungan dengan Ibnu Ummi Maktum
65:3, 65 3, 65-3, Ath Thalaaq 3, AthThalaaq 3, Ath Thalaq 3, At Talaq 3

Tafsir surah Ath Thalaaq (65) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ath Thalaaq (65) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa apabila masa idah istri hampir habis dan suami masih ingin berkumpul kembali, ia boleh rujuk kepada istrinya dan tinggal bersama secara baik sebagai suami-istri, melaksanakan kewajibannya, memberi belanja, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya.
Akan tetapi, kalau suami tetap tidak akan rujuk kepada istri, maka ia boleh melepaskannya secara baik pula tanpa ada ketegangan terjadi, menyempurnakan maharnya, memberi mut’ah sebagai imbalan dan terima kasih atas kebaikan istrinya selama ia hidup bersama dan lain-lain yang menghibur hatinya.
Apabila suami memilih rujuk, maka hendaknya hal itu disaksikan oleh dua orang saksi laki-laki yang adil, untuk memantapkan rumah tangganya kembali.

Selanjutnya Allah menyerukan agar kesaksian itu diberikan secara jujur karena Allah semata-mata tanpa mengharapkan bayaran dan tanpa memihak, sebagaimana firman Allah:

Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 135)

Demikian seruan mengenai rujuk dan talak untuk menjadi pelajaran bagi orang yang beriman kepada Allah di hari akhirat.
Orang yang bertakwa kepada Allah, dan patuh menaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan-Nya, antara lain mengenai rujuk dan talak tersebut di atas, niscaya Ia akan menunjukkan baginya jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya.
Bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah, tidak saja diberi dan dimudahkan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya, tetapi juga diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak disangka-sangka, yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.

Selanjutnya Allah menyerukan agar mereka bertawakal kepada-Nya, karena Allah-lah yang mencukupkan keperluannya mensukseskan urusannya.
Bertawakal kepada Allah artinya berserah diri kepada-Nya, menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya keberhasilan usaha.
Setelah ia berusaha dan memantapkan satu ikhtiar, barulah ia bertawakal.
Bukanlah tawakal namanya apabila seorang menyerahkan keadaannya kepada Allah tanpa usaha dan ikhtiar.
Berusaha dan berikhtiar dahulu baru bertawakal menyerahkan diri kepada Allah.

Pernah terjadi seorang Arab Badui berkunjung kepada Nabi di Medinah dengan mengendarai unta.
Setelah orang Arab itu sampai ke tempat yang dituju, ia turun dari untanya lalu masuk menemui Nabi ﷺ.
Nabi bertanya, “Apakah unta sudah ditambatkan?”
Orang Badui itu menjawab, “Tidak! Saya melepaskan begitu saja, dan saya bertawakal kepada Allah.” Nabi ﷺ bersabda, “Tambatkan dulu untamu, baru bertawakal.” Allah akan melaksanakan dan menyempurnakan urusan orang yang bertawakal kepada-Nya sesuai dengan kodrat iradat-Nya, pada waktu yang telah ditetapkan, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya.
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 8)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Akan disediakan baginya sebab-sebab memperoleh rezeki yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka Dia akan mencukupi segala keperluannya.
Sesungguhnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya.
Segala sesuatu telah ditentukan waktu dan ukurannya masing-masing, yang tidak akan dilampaui, oleh Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya) dari arah yang belum pernah terbisik dalam kalbunya.

(Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah) dalam semua perkaranya (niscaya Allah akan memberi kecukupan) akan mencukupinya.

(Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya) tentang apa yang dikehendaki-Nya.

Menurut suatu qiraat dibaca baalighu amrihi yakni dengan dimudhafkan.

(Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi setiap sesuatu) seperti hidup penuh dengan kecukupan, dan hidup sengsara (ketentuan) atau waktu-waktu yang ditentukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 3)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Hajjaj, dari Hanasy As-San’ani, dari Abdullah ibnu Abbas yang telah menceritakan kepadanya bahwa di suatu hari ia pernah dibonceng di belakang Rasulullah ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: hai para pemuda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Peliharalah (batasan-batasan) Allah, niscaya Dia akan memeliharamu.
Ingatlah selalu Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya di hadapanmu.
Dan apabila kamu memohon, mohonlah kepada Allah; dan apabila kamu meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah.
Dan ketahuilah bahwa umat ini seandainya bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu.
Dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan mudarat terhadap dirimu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudarat terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah akan menimpa dirimu.
Qalam telah diangkat (takdir telah ditetapkan) dan semua lembaran telah kering (telah penuh dengan catatan).

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Lais” ibnu Sa’d dan Ibnu Lahi’ah dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Basyir ibnu Sulaiman, dari Sayyar Abul Hakam, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu ia menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan bahwa keperluannya itu tidak dimudahkan baginya.
Dan barang siapa yang menyerahkan keperluannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki yang segera atau memberinya kematian yang ditangguhkan (usia yang diperpanjang).

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Abdur Razzaq, dari Sufyan, dari Basyir, dari Sayyar alias Abu Hamzah.
Selanjutnya Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad inilah yang benar, karena Sayyar Abul Hakam belum pernah meriwayatkan hadis dari Tariq.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
(Q.S. At-Talaq [65]: 3)

Yakni melaksanakan ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum-Nya terhadap makhluk-Nya menurut apa yang dikehendaki dan yang diinginkan-Nya.

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(Q.S. At-Talaq [65]: 3)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 8)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 3

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Jabir.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Salim bin Abil ja’d bahwa ayat ini (ath-Thalaq: 3) turun berkenaan dengan seorang suku Asyja’ yang fakir, cekatan dan banyak anak.
Ia menghadap Rasulullah ﷺ meminta bantuan beliau (tentang anaknya yang ditawan musuh dan tentang penderitaan hidupnya).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Tiada lama kemudian datanglah anaknya (yang ditawan itu) membawa seekor kambing (hasil rampasan dari musuh sewaktu ia melarikan diri).
Hal ini segera dilaporkannya kepada Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ bersabda: “Makanlah (kambing itu).” Ayat ini (Ath-Thalaq: 2-3) menerangkan bahwa Allah memberi rizky kepada umatnya tanpa disangka-sangka dan akan memberi jalan keluar bagi orang yang bertakwa.

Adz-Dzahabi berkata: “Riwayat ini munkar, tapi mempunyai beberapa syahid (penguat).” Menurut al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud dan as-Suddi, nama orang tersebut ialah ‘Auf al-Asja’i.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh al-Khatib di dalam Tarikh-nya, dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pulan oleh ats-Tsa’labi dari sumber lain, tetapi daif.
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari sumber lain tapi mursal, bahwa ‘Auf bin Malik al-Asyja’i menghadap Rasulullah dan berkata : “Anakku ditawan musuh, dan ibunya sangat gelisah.
Apa yang tuan perintahkan kepadaku ?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku perintahkan agar engkau dan istrimu memperbanyak ucapan laa haulaa walaa quwwata illaa billaah (tak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata).” Istrinya berkata; “Alangkah baiknya apa yang diperintahkan oleh Rasul kepadamu.” Kedua suami istri itu pun membanyakkan bacaan tersebut.
Alhasil, pada waktu musuh sedang lalai, anaknya yang ditawan itu membawa pulang kambing musuhnya ke rumah bapaknya.
Ayat ini (ath-Thalaq: 3) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menjanjikan jalan keluar bagi orang yang bertakwa.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ath Thalaaq (65) Ayat 3

QADR
قَدْر

Lafaz ini adalah ism masdar dari kata kerja qadara, jamaknya aqdaar, bermakna kadar, jumlah, persamaan sesuatu tanpa ditambah atau dikurangkan, kehormatan dan kewibawaan, pangkat, derajat, kemampuan, kekuatan, kedudukan dalam masyarakat dan sebagainya.

Lafaz qadr disebut sebanyak 4 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Qadr (97), ayat 1, 2, 3;
-Ath Thalaaq (65), ayat 3;

Tiga kali dengan menggunakan kata ganti al ha yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 91;
-Al Haj (22), ayat 74;
-Az Zumar (39), ayat 67.

Lafaz qadr di dalam Al Qur’an mengandung tiga makna:
Lafaz qadr dikaitkan dengan lailah atau malam sehingga menjadi lailatul qadr.

Mujahid berkata,
Lailatul qadr adalah lailatul hukm (malam penetapan), maknanya lailatul taqdir (malam penentuan), ia dinamakan demikian karena Allah mentakdirkan suatu perkara mengikut kehendak Nya sehingga ke tahun yang akan datang; dari perkara mati, ajal, rezeki dan lainnya, memberikan pengurusan perkara itu kepada empat malaikat, yaitu: Israfil, Izra’il, Mika’il dan Jibril.

Az Zuhri mengatakan ia dinamakan demikian karena keagungannya, kemuliaannya dan kedudukannya.

Abu Bakar Al Warraq berkata,
“Ia dinamakan demikian karena siapa yang tidak mempunyai kedudukan dan kemuliaan maka ia menjadi mulia dan agung jika menghidupkannya.

Ada juga yang mengatakan ia dinamakan demikian karena di dalamnya diturunkan kitab yang mulia, kepada rasul yang agung dan kepada umat yang mulia atau karena Allah menurunkan di dalamnya kebaikan, keberkahan dan ampunan atau karena ketaatan di dalamnya begitu besar pahalanya.

Terdapat tiga kelebihan yang terkandung dalam lailatul qadr, yaitu:

1. Al Qur’an diturunkan di dalam malam yang penuh keberkahan sebagaimana dalam ayat Allah yang artinya,

Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada satu malam yang diberkahi
(Al Dukhan (44), ayat 3)

dan pada bulan Ramadan sebagaimana dalam ayat Allah yang artinya,

Bulan Ramadan, bulan yang diturunkan (permulaan) Al Qur’an,
(Al Baqarah (2), ayat 185).

Penurunan Al Qur’an pada malam ini secara keseluruhan ke langit dunia (samaa’ad dunyaa) dari Lauh Mahfuz dan kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun.

2. Ia lebih baik dari seribu bulan, yaitu lebih dari 80 tahun. Mayoritas ulama tafsir mengatakan beramal di dalamnya lebih baik dari beramal seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadr.

Ada yang mengatakan seribu bulan bermakna keseluruhan zaman karena orang Arab menyebutkan seribu adalah untuk sesuatu yang melampau dan ketinggiannya.

3. Para malaikat ramai yang turun pada malam ini disebabkan banyak keberkahannya. Mereka turun membawa keberkahan dan rahmat, begitu juga dengan malaikat Jibrail yang mendoakan manusia sehingga waktu fajar.

Qatadah berkata,
“Ia adalah kebaikan yang sempurna, tidak ada kejahatan di dalamnya sehingga waktu fajar”

Ubadah bin Samit meriwayatkan Rasulullah berkata,
“Malam lailatul qadr terdapat pada 10 malam terakhir (pada bulan Ramadan). Siapa yang menghidupkannya dengan penuh harapan dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dan ia dalam malam yang ganjil, sembilan atau tujuh atau lima atau tiga atau malam terakhir.”

Qadr bermakna kadar atau batasan tertentu sebagaimana yang terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Masruq berkata,
Qadr bermakna ajal, muntaha (batas terakhir).”

As Suddi memberikannya makna batasan haid dan ‘iddah.

Asy Syawkani berkata,
“Ia bermakna ketetapan, masa dan kadar.”

Tafsirannya, ”Allah menjadikan sesuatu kesusahan batas dan masa yang akan berakhir serta bagi kesenangan batas dan masa yang akan berakhir juga.” Pengetahuan, sifat dan kadar sebenarnya, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al An’aam, Al Hajj dan Az Zumar.

Az Zamaksyari berkata,
Wa ma qadarullaaha haqqa qadrihi bermakna mereka tidak tahu dengan sebenar-benarnya pengetahuan pada pemberian rahmat kepada hamba Nya dan kasih kepada mereka ketika mereka ingkar perutusan rasul-rasul dan wahyu yang diturunkan kepada mereka. Ini adalah karena keagungannya dan ketinggian nikmat Nya.

Al Fayruz berkata,
“Maknanya, mereka tidak tahu kadar atau ketetapan Nya, Ini adalah peringatan bagaimana mereka dapat mengetahui kadar dan sifat Nya.” Oleh karena itu Ibn Qutaybah menafsirkannya dengan “mereka tidak dapat menyifatkan Nya dengan sebenar-benar sifat Nya dan tidak mengetahui Nya dengan sebenar-benar pengetahuan.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:450

Informasi Surah Ath Thalaaq (الطلاق)
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al lnsaan.

Dinamai surat Ath-thalaaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Keimanan:

Dalam surat ini diterangkan hukurn-hukum mengenai thalaq, iddah dan kewajiban masing-masing suami dan isteri dalam masa-masa talaq dan iddah, agar tak ada pihak yang dirugikan dan keadilan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemudian disebutkan perintah kepada orang-orang mu’min supaya bertakwa kepada Allah yang telah mengutus seorang Rasul yang memberikan petunjuk kepada mereka. Maka siapa yang beriman akan dimasukkan ke dalam syurga dan kepada yang ingkar diberikan peringatan bagaimana nasibnya orang-orang ingkar di masa dahulu.

Ayat-ayat dalam Surah Ath Thalaaq (12 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ath-Thalaaq (65) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ath-Thalaaq - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 12 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 65:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Surah At-Talaq (Arab: الطّلاق ,"Talak") adalah surah ke-65 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Talaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.

Nomor Surah 65
Nama Surah Ath Thalaaq
Arab الطلاق
Arti Talak
Nama lain an-Nisa'us Sugra
(an-Nisa' yang kecil)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 99
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 289
Jumlah huruf 1203
Surah sebelumnya Surah At-Tagabun
Surah selanjutnya Surah At-Tahrim
4.9
Ratingmu: 5 (2 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/65-3







Pembahasan ▪ tafsir Ath Thalaq 65 7 jpg ▪ surat ath-thalaq 65 64-65 ▪ surat at thalaq tentang rezeki ▪ rezeki artinya ▪ QS ath-Thalaq: 3 ▪ QS 65:3 ▪ qs 65 ▪ Ath-Thalaaq [65]: 64-65 ▪ ath thalaq 65/3 ▪ At-thalaq 65:3 ▪ at talaq 65

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta