QS. At Takaatsur (Bermegah-megahan) – surah 102 ayat 8 [QS. 102:8]

ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ
Tsumma latus-alun-na yauma-idzin ‘anin-na’iim(i);

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
―QS. 102:8
Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Al ‘Ash bin Wail
102:8, 102 8, 102-8, At Takaatsur 8, AtTakaatsur 8, At Takasur 8, At Takatsur 8, At-Takasur 8

Tafsir surah At Takaatsur (102) ayat 8

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Takaatsur (102) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala, lebih memperkuat lagi celaan-Nya terhadap mereka, bahwa sesungguhnya mereka akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan yang mereka megah-megahkan di dunia, apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat itu.
Apakah kamu telah menunaikan hak Allah daripadanya, atau apakah kamu menjaga batas-batas hukum Allah yang telah ditentukan dalam bersenang-senang dengan nikmat tersebut.
Jika kamu tidak melakukannya, ketahuilah bahwa nikmat-nikmat itu adalah puncak kecelakaan di hari akhirat.
Telah diriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu, bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ.:

“Nikmat apakah yang ditanyakan kepada kami, Ya Rasulullah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan harta kami?”.
Nabi ﷺ.
menjawab: “Naungan-naungan rumah, pohon-pohon, gubuk-gubuk yang melindungi kamu dari udara panas dan dingin dan air yang sejuk di hari yang panas”.
(lihat Tafsir Al Maragi, halaman 232, juz 30, jilid X).

Dan telah diriwayatkan pula dari Nabi Muhammad ﷺ., beliau bersabda:

Barangsiapa yang bangun pagi dalam keadaan aman sentosa dalam keluarganya, sehat walafiat badannya serta mempunyai bekal hidup untuk harinya, maka seolah olah dunia dengan segala kekayaannya telah diserahkan kepadanya.
(lihat Tafsir Al Maragi, halaman 232, juz 30 jilid X)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Aku bersumpah, dan Aku tekankan sumpah-Ku itu, bahwa kelak kalian akan ditanya tentang segala karunia yang kalian nikmati secara bermegah-megahan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian kalian pasti akan ditanyai) lafal Latus-alunna dibuang daripadanya Nun alamat Rafa’ karena berturut-turutnya huruf Nun, dibuang pula daripadanya Wawu dhamir jamak, tetapi bukan karena ‘Illat atau sebab bertemunya kedua huruf yang disukunkan, bentuk asal daripada Latus-alunna adalah Latus-aluunanna (pada hari itu) yakni di hari kalian melihat neraka Jahim (tentang kenikmatan) yang kalian peroleh semasa di dunia, yaitu berupa kesehatan, waktu luang, keamanan, makanan, minuman dan nikmat-nikmat lainnya.

Artinya dipergunakan untuk apakah kenikmatan itu?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8)

Yakni kemudian kalian benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban di hari itu tentang mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian, seperti kesehatan, keamanan, rezeki, dan lain sebagainya, apakah kalian bersyukur dan beribadah kepada-Nya?

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Al-Jazzar Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Isa alias Abu Khalid Al-Jazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Ubaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ keluar di waktu tengah hari, dan beliau menjumpai Abu Bakar berada di dalam masjid.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah yang mendorongmu keluar di saat seperti ini?”
Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, telah mengeluarkan aku Tuhan yang telah mengeluarkanmu.” Lalu datanglah pula Umar ibnul Khattab, makaNabi ﷺ bertanya, “Apakah yang menyebabkan kamu keluar, hai Ibnul Khattab?”
Umar menjawab, “Tuhan yang telah menyebabkan kamu berdua keluar.” Lalu Umar duduk, dan Rasulullah ﷺ berbicara kepada keduanya, “Maukah kamu berdua aku ajak menuju ke kebun kurma itu, maka kamu akan mendapat makanan, minuman, dan naungan?”
Keduanya menjawab, “Kami mau.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Marilah kita singgah di rumah Ibnut Taihan alias Abul Haisam Al-Ansari.” Maka Rasulullah ﷺ berada di depan kami dan mengucapkan salam serta meminta izin sebanyak tiga kali, sedangkan Ummul Haisam berada di balik pintu rumahnya mendengarkan ucapan Rasulullah ﷺ dengan maksud ia mendapat tambahan dari salam Rasulullah ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ hendak pergi, Ummul Haisam keluar dan mengerjarnya dari belakang, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya aku mendengar suara salammu, tetapi aku bermaksud ingin mendapat tambahan dari salammu.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Itu baik.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Mana Abul Haisam, aku tidak melihatnya?”
Ummul Haisam menjawab, “Wahai Rasulullah, dia pergi sebentar untuk menyejukkan air minum, sebentar lagi insya Allah dia akan datang, masuklah.” Lalu Ummul Haisam menggelarkan permadani di bawah pohon kurma.
Tidak lama kemudian datanglah Abul Haisam, dan ia merasa senang dengan kedatangan mereka, lalu ia segera menaiki pohon kurma dan memetik beberapa tangkai buah kurma.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Itu sudah cukup, hai Abul Haisam.” Abul Haisam berkata, “Wahai Rasulullah, engkau makan buahnya yang masih gemading dan yang telah masak,” lalu Abul Haisam menyuguhkan air minum buat mereka dan mereka pun minum dari air yang disuguhkannya.
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda:

Ini termasuk nikmat yang kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban mengenainya

Hadis berpredikat garib bila ditinjau dari segi jalurnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Ali As-Sada’i, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnul Qasim, dari Yazid ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar dan Umar sedang duduk,’ maka datanglah Nabi ﷺ kepada keduanya, lalu beliau ﷺ bertanya, “Apakah yang membuat kamu berdua duduk di sini?”
keduanya menjawab, “Demi Tuhan Yang telah mengutus engkau dengan hak, tiada yang menyebabkan kami keluar melainkan rasa lapar.” Nabi ﷺ bersabda; “Demi Allah yang telah mengutusku dengan hak, tidak ada yang mendorongku keluar selain dari alasan yang sama.” Lalu mereka pergi hingga sampai di rumah seorang lelaki dari kalangan Ansar, maka mereka disambut oleh seorang wanita, dan Nabi ﷺ bertanya kepada wanita itu, “Kemanakah si Fulan (suaminya)?”
Wanita itu menjawab bahwa suaminya sedang pergi untuk menyejukkan air minum buat dia dan keluarganya.
Tidak lama kemudian datanglah orang yang dicari mereka dengan membawa qirbah wadah airnya, dan ia langsung berkata menyambut mereka, “Marhaban (selamat datang), tiada seorang tamu pun berkunjung kepada seseorang lebih afdal daripada Nabi yang hari ini datang berkunjung kepadaku.” Lalu ia menggantungkan qirbah wadah airnya ke pohon kurma dan ia pergi, kemudian datang lagi dengan membawa setandan buah kurma.
MakaNabi ﷺ bersabda kepadanya, “Bukankah engkau telah memetik buah kurmamu?”
Lelaki itu menjawab “Aku ingin menghormati kalian dengan rnenyajikan makanan yang masih segar menurut kesukaan kalian.” Kemudian ia mengambil pisau besar (untuk menyembelih kambing), maka Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kamu sembelih kambing yang sedang menyusui.” Ia menyembelih kambing buat mereka di hari itu dan mereka makan makanan yang telah disajikan, lalu Nabi ﷺ bersabda:

Sungguh kamu akan ditanyai mengenai hal ini kelak di hari kiamat.
Kamu keluar karena terdorong oleh rasa lapar, dan sebelum pulang kamu telah mendapatkan semua ini, dan ini termasuk dari nikmat.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Yazid ibnu Kaisan dengan sanad yang sama.
Abu Ya’la dan Ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Al-Mukari, dari Yahya ibnu Ubaidillah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Abu Bakar dengan lafaz yang sama.
Arba’ah telah meriwayatkan hadis ini melalui Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan teks yang semisal dan juga kisahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan’kepada kami Hasyraj, dari Abu Nadrah, dari Abu Asib maula Rasulullah ﷺ yang telah menceritakan bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ keluar.
lalu lewat di dekat rumahku, maka beliau memanggilku dan aku pun keluar menemaninya.
Lalu Nabi ﷺ melewati rumah Abu Bakar dan memanggilnya, maka Abu Bakar keluar dan bergabung bersamanya.
Nabi ﷺ berangkat meneruskan perjalannya hingga sampailah di sebuah kebun kurma milik seorang Ansar dan beliau memasukinya, lalu berkata kepada pemilik kebun itu, “Berilah kami makan.” Lalu pemilik kebun itu datang dengan membawa setandan buah kurma, dan Rasulullah ﷺ makan bersama sahabat-sahabatnya, kemudian meminta air sejuk dan minum, lalu bersabda: Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang ini kelak di hari kiamat.
Maka Umar mengambil ketandan buah kurma itu dan memukulkannya ke tanah hingga buahnya yang gemading berceceran di hadapan Rasulullah ﷺ, kemudian Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita sungguh akan dimintai pertanggungjawaban tentang ini kelak di hari kiamat?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Ya, kecuali tiga hal, yaitu kain yang digunakan oleh seseorang untuk menutupi aurat tubuhnya, atau sepotong roti yang dimakan untuk menutup rasa laparnya, atau rumah tempat bernaungnya dari kepanasan dan kedinginan.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ammar; ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar memakan buah kurma dan minum air, setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda:

Ini termasuk nikmat yang kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Ammar ibnu Abu Ammar, dari Jabir dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Safwan ibnu Sulaim, dari Mahmud ibnur Rabi’ yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.
(Q.S. At-Takatsur [102]: 1) Ia meneruskan bacaannya sampai pada firman-Nya: kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia ini).
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8) Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tentang nikmat apakah yang kami akan ditanyai mengenainya?
Padahal sesungguhnya hanya kurma dan air, dan pedang kami yang selalu tersandang, sedangkan musuh menghadang di hadapan.
Lalu nikmat apakah yang akan dipertanyakan kepada kami?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Ingatlah, sesungguhnya pertanyaan tentang hal itu pasti akan terjadi.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Abdullah ibnu Habib, dari ayahnya, dari pamannya yang mengatakan bahwa kami berada di suatu majelis, lalu muncullah Nabi ﷺ, sedangkan di kepala beliau terdapat bekas air.
Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau dalam keadaan senang.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya.” Kemudian orang-orang berbincang-bincang tentang kekayaan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang yang bertakwa kepada Allah, dan sehat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa kepada Allah daripada kekayaan, dan senang hati lebih baik daripada kesenangan.

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Khalid ibnu Makhlad, dari Abdullah ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.

Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Abdullah ibnul Ala, dari Ad-Dahhak ibnu Abdur Rahman ibnu Arzab Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah r.a.
mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya yang mula-mula dipertanyakan kepada seorang hamba —yakni di hari kiamat nanti— mengenai kesenangan ialah dikatakan kepadanya.
Bukankah Kami telah menyehatkan tubuhmu dan memberimu minum dengan air yang sejuk?”

Imam Turmuzi meriwayatkannya secara munfarid.

Dan Ibnu Hibban meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui jalur Al-Walid ibnu Muslim, dari Abdullah ibnul Ala ibnu Zubair dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad ibnu Amr, dari Yahya ibnu Hatib, dari Abdullah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa Az-Zubair pernah mengatakan bahwa ketika turun firman-Nya: kemudian kalian pasti akan ditanyaipada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu .
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8) Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, nikmat apakah yang dipertanyakan kepada kami, padahal sesungguhnya makanan kami hanyalah kurma dan air saja?”
Rasulullah ﷺ menjawab:

Sesungguhnya pertanyaan itu akan ada.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad telah meriwayatkannya dari jalur yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8) Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, nikmat apakah yang kami dapatkan, sesungguhnya kami hanya makan roti gandum untuk mengganjal perut kami?”
Maka Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya: Katakanlah kepada mereka, “Bukankah kamu mengenakan terompah dan minum air yang sejuk?
Itu adalah termasuk nikmat.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sulaiman ibnul Asbahani, dari Ibnu Abu Laila, yang menurut perawi diyakini ia menerimanya dari Amir, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).
(At-Takasxir: 8) Kemudian beliau ﷺ bersabda: (yaitu) Keamanan dan kesehatan.

Zaid ibnu Aslam telah mengatakan dari Rasulullah ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8) Yakni perut kenyang, minuman yang sejuk, naungan rumah.
penciptaan bentuk yang tegak (sempurna).
dan nikmatnya tidur.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya dengan sanad seperti di atas, dari Zaid ibnuy Aslam dalam permulaan surat ini.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa akan dipertanyakan juga sampai madu yang diminum.
Mujahid mengatakan akan dipertanyakan pula semua kesenangan dunia.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa termasuk nikmat yang akan dipertanyakan ialah makan siang dan makan malam.
Abu Qilabah mengatakan bahwa termasuk nikmat ialah makan samin dan madu dengan roti.
Dan pendapat yang paling mencakup adalah yang dikemukakan oleh Mujahid.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.
(Q.S. At-Takatsur [102]: 8) Bahwa nikmat itu adalah kesehatan tubuh, pendengaran, dan penglihatan.
Allah akan mempertanyakan hamba-hamba-Nya untuk apakah semuanya itu digunakan, sedangkan Dia Maha Mengetahui hal tersebut dari mereka.
Hal ini disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(Al-Isra: 36)

Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sunan Turumuzi serta Sunan Nasai dan Sunan Ibnu Majah telah disebutkan melalui hadis Abdullah ibnu Sa’id ibnu Abu Hindun, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

ada dua macam nikmat yang banyak memperdaya kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.

Makna yang dimaksud dari hadis ini ialah bahwa mereka melalaikan mensyukuri kedua nikmat tersebut dan tidak mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan terhadap keduanya.
Dan barang siapa yang tidak menunaikan suatu hak yang diwajibkan atas dirinya, maka dia adalah orang yang terperdaya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Yahya Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnu Syaqiq, telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah, dari Lais, dari Abu Fazzarah, dari Yazid ibnu Asam, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Pakaian di atas kain, naungan tembok (rumah), dan air minum, kelak seorang hamba akan dihisab mengenainya atau diminta pertanggungjawabannya.

Kemudian Imam Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengenai hadis ini kecuaii hanya melalui sanad ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz dan Affan, keduannya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hammad, bahwa Affan telah mengatakan dalam hadisnya bahwa Ishaq ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman —Affan mengatakan pada hari kiamat nanti— , “Hai anak Adam, Aku telah membawamu di atas kuda dan unta, dan Aku kawinkan kamu dengan wanita, dan Aku jadikan kamu dapat memimpin dan berkuasa, maka manakah ungkapan rasa syukurmu atas semuanya itu?”


Informasi Surah At Takaatsur (التكاثر‎‎)
Surat At Takaatsur terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kautsar.

Dinamai “At Takaatsur” (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At Takaatsur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi, sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru menyadari kesalahannya itu setelah maut mendatanginya
manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga­ banggakannya itu.

Lain-lain:

Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi, sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru menyadari kesalahannya itu setelah maut mendatanginya
manusia akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga­ banggakannya itu.

Ayat-ayat dalam Surah At Takaatsur (8 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Takaatsur (102) ayat 8 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Takaatsur (102) ayat 8 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Takaatsur (102) ayat 8 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. At-Takasur (102) ayat 1-8 - Atras Mafazi (Bahasa Indonesia)
Q.S. At-Takasur (102) ayat 1-8 - Atras Mafazi (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Takaatsur - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 8 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 102:8
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Takaatsur.

Surah At-Takasur (bahasa Arab:التكاثر) adalah surah ke-102 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Al-Kausar.
Dinamai At-Takasur (bermegah-megahan) diambil dari perkataan At-Takasur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 102
Nama Surah At Takaatsur
Arab التكاثر‎‎
Arti Bermegah-megahan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 16
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 8
Jumlah kata 28
Jumlah huruf 123
Surah sebelumnya Surah Al-Qari'ah
Surah selanjutnya Surah Al-'Asr
4.5
Ratingmu: 4.9 (9 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta