QS. At Tahrim (Mengharamkan) – surah 66 ayat 4 [QS. 66:4]

اِنۡ تَتُوۡبَاۤ اِلَی اللّٰہِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوۡبُکُمَا ۚ وَ اِنۡ تَظٰہَرَا عَلَیۡہِ فَاِنَّ اللّٰہَ ہُوَ مَوۡلٰىہُ وَ جِبۡرِیۡلُ وَ صَالِحُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ بَعۡدَ ذٰلِکَ ظَہِیۡرٌ
In tatuubaa ilallahi faqad shaghat quluubukumaa wa-in tazhaaharaa ‘alaihi fa-innallaha huwa maulaahu wajibriilu washaalihul mu’miniina wal malaa-ikatu ba’da dzalika zhahiirun;

Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
―QS. 66:4
Topik ▪ Taubat ▪ Keutamaan taubat ▪ Sifat-sifat malaikat
66:4, 66 4, 66-4, At Tahrim 4, AtTahrim 4, At-Tahrim 4

Tafsir surah At Tahrim (66) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Tahrim (66) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa jika Hafsah dan ‘Aisyah mau bertobat, dan mengatakan bahwa dirinya telah menyalahi kehendak Nabi ﷺ, keduanya cinta kepada apa yang beliau cintai, dan membenci apa yang beliau benci, berarti keduanya telah cenderung untuk menerima kebaikan.

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya senantiasa ingin menanyakan kepada Umar tentang dua istri Nabi ﷺ yang dimaksudkan firman Allah, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah,” sampai ‘Umar menunaikan ibadah haji dan saya pun menunaikan ibadah haji bersama dia.
Ketika ‘Umar dalam perjalanannya mampir untuk berwudu, saya guyur kedua tangannya dan bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Siapakah kedua istri Nabi yang dituju oleh firman Allah, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah.” ‘Umar lalu menjawab, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas! Kedua istri Nabi ﷺ yang dimaksud itu ialah ‘Aisyah dan Hafsah.
Kalau keduanya (‘Aisyah dan Hafsah) tetap sepakat berbuat apa yang menyakiti hati Nabi ﷺ dengan menyiarkan rahasianya, hal itu tidak akan menyusahkan Nabi, karena Allah-lah pelindungnya, serta membantunya di dalam urusan agama dan semua hal yang dihadapinya.
Begitu pula Jibril, orang-orang mukmin yang saleh, dan para malaikat, semuanya turut menolong dan membantunya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika kalian berdua bertobat kepada Allah dengan penuh penyesalan, maka kalian telah melakukan yang seharusnya dalam bertobat.
Sebab hati kalian berdua telah berpaling dari sesuatu yang dicintai Rasulullah, yaitu menjaga rahasianya.
Dan jika kalian berdua bersekongkol untuk menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah penolongnya.
Begitu pula Jibril, orang-orang Mukmin dan malaikat yang mempunyai sifat baik akan menjadi penolong dan pelindungnya setelah Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Jika kamu berdua bertobat) yakni Siti Hafshah dan Siti Aisyah (kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong) cenderung untuk diharamkannya Siti Mariyah, artinya, kamu berdua merahasiakan hal tersebut dalam hati kamu, padahal Nabi ﷺ tidak menyukai hal tersebut, dan hal ini adalah suatu perbuatan yang berdosa.

Jawab Syarat dari kalimat ini tidak disebutkan, yakni jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka tobat kamu diterima.

Diungkapkan dengan memakai lafal quluubun dalam bentuk jamak sebagai pengganti dari lafal qalbaini, hal ini tiada lain karena dirasakan amat berat mengucapkan dua isim tatsniah yang digabungkan dalam satu lafal (dan jika kamu berdua saling bantu-membantu) lafal tazhaahara artinya bantu-membantu.

Menurut qiraat yang lain dibaca tazhzhaharaa bentuk asalnya adalah Tatazhaaharaa, kemudian huruf ta yang kedua diidgamkan ke dalam huruf zha sehingga jadilah tazhzhaaharaa (terhadapnya) terhadap Nabi ﷺ dalam melakukan hal-hal yang tidak disukainya, yakni membuat susah Nabi ﷺ (maka sesungguhnya Allah adalah) lafal huwa ini merupakan dhamir fashl (Pelindungnya) maksudnya, yang menolongnya (dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh) seperti Abu Bakar dan Umar r.a.

Lafal ini diathafkan secara mahall kepada isimnya inna, yakni begitu pula mereka akan menjadi penolongnya (dan selain dari itu malaikat-malaikat) yaitu sesudah pertolongan Allah dan orang-orang yang telah disebutkan tadi (adalah penolongnya pula) maksudnya mereka semua menjadi penolong Nabi terhadap kamu berdua.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan orang-orang mukmin yang baik.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 4)

Yakni Abu Bakar dan Umar; Al-Hasan Al-Basri menambahkan, juga Usman.

Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan orang-orang mukmin yang baik.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 4) Bahwa yang dimaksud adalah Ali ibnu Abu Talib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far ibnu Muhammad ibnul Husain yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang berpredikat siqah, ia me-rafa’-kannya sampai kepada Ali r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: dan orang-orang mukmin yang baik.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 4) Bahwa orang itu adalah Ali ibnu Abu Talib.
Sanad hadis ini daif, dan dinilai munkar sekali.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa Umar telah mengatakan bahwa istri-istri Nabi ﷺ berkumpul dalam kasus kecemburuan mereka terhadap beliau ﷺ Maka kukatakan kepada mereka, “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu.” Maka turunlah ayat ini.
Dan dalam pembahasan yang terdahulu telah disebutkan bahwa Umar acapkali bersesuaian dengan wahyu dalam berbagai tempat (kejadian); antara lain ialah turunnya ayat hijab, lalu mengenai para tawanan Perang Badar, dan yang lainnya ialah ucapan Umar sehubungan dengan maqam Ibrahim, “Sebaiknya engkau jadikan sebagian dari maqam Ibrahim tempat salat,” lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 125)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan bahwa telah sampai kepadanya suatu berita yang terjadi di antara Ummahatul Mu’minin dan Nabi ﷺ Maka ia menasihati mereka seorang demi seorang.
Umar mengatakan kepada mereka, “Sungguh kamu harus menghentikan sikap kamu terhadap Rasulullah ﷺ yang demikian, atau benar-benar Allah akan memberikan ganti kepadanya dengan istri-istri lain yang lebih baik daripada kamu.” Hingga sampailah Umar kepada Ummahatul Mu’minin yang terakhir, tetapi ia disanggahnya dengan ucapan, “Hai Umar, ingatlah, Rasulullah ﷺ sendiri tidak menasihati istri-istrinya terlebih kamu.” Akhirnya Umar diam, dan turunlah firman-Nya: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 5)

Wanita yang menyanggah Umar dalam riwayat ini saat Umar menasihatinya adalah Ummu Salamah r.a.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnuNa-ilah Al-Asbahani, telah menceritakan kepada kami Ismail Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Sinan, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafsah).
(Q.S. At-Tahrim [66]: 3) Bahwa Hafsah memasuki rumahnya untuk menemui Nabi ﷺ dan ia menjumpai Nabi ﷺ sedang menggauli Mariyah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Jangan kamu ceritakan kepada Aisyah, maka aku akan memberimu suatu berita gembira.
Sesungguhnya ayahmu akan menjadi khalifah sesudah Abu Bakar jika aku telah tiada.
Maka Hafsah pergi dan menceritakan kejadian itu kepada Aisyah.
Maka Aisyah r.a.
bertanya kepada Rasulullah ﷺ, Siapakah yang memberitahu­mu hal itu (kekhalifahan Umar sesudah Abu Bakar)?”
Nabi ﷺ menjawab: Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 3)

Aisyah r.a.
berkata, “Aku tidak mau memandangmu sebelum engkau mengharamkan Mariyah atas dirimu,” akhirnya beliau ﷺ mengharam­kannya atas dirinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan.
(Q.S. At-Tahrim [66]: 1), hingga ayat berikutnya.

Akan tetapi, hadis ini ditinjau dari segi sanadnya perlu diteliti kembali karena telah jelas dari apa yang telah kami kemukakan mengenai tafsir ayat-ayat ini.


Informasi Surah At Tahrim (التحريم)
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hujuraat.

Dinamai surat At Tahriim karena pada awal surat ini terdapat kata “tuharrim” yang kata asalnya adalah AtTahriim yang berarti “mengharamkan”.

Keimanan:

Kesempatan bertaubat itu hanyalah di dunia saja, segala amal perbuatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.

Hukum:

Larangan mengharamkan apa yang dibolehkan Allah subhanahu wa ta’ala
kewajiban membebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang halal dengan membayar kaffarat
kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka
perintah memerangi orang-orang kafir dan munafiq dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.

Lain-lain:

Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami isteri, seperti isteri Nabi Nuh a.s., isteri Nabi Luth a.s., isteri Fir’aun dan Maryam.

Ayat-ayat dalam Surah At Tahrim (12 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Tahrim (66) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Tahrim (66) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Tahrim (66) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Tahrim - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 12 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 66:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Tahrim.

Surah At-Tahrim (bahasa Arab:التّحري) adalah surah ke 66 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat Madaniyah yang terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Tahrim karena pada awal surah ini terdapat kata tuharrim yang berasal dari at-Tahrim yang berarti mengharamkan.

Nomor Surah 66
Nama Surah At Tahrim
Arab التحريم
Arti Mengharamkan
Nama lain Lima Tuharrim, Mutaharrim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 107
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 254
Jumlah huruf 1105
Surah sebelumnya Surah At-Talaq
Surah selanjutnya Surah Al-Mulk
4.4
Ratingmu: 4.2 (28 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/66-4







Pembahasan ▪ salman amrillah qs at tahrim

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta