Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. At Tahrim (Mengharamkan) – surah 66 ayat 1 [QS. 66:1]

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰہُ لَکَ ۚ تَبۡتَغِیۡ مَرۡضَاتَ اَزۡوَاجِکَ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaannabii-yu lima tuharrimu maa ahallallahu laka tabtaghii mardhaata azwaajika wallahu ghafuurun rahiimun;
Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu?
Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu?
Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

―QS. At Tahrim [66]: 1

Daftar isi

O Prophet, why do you prohibit (yourself from) what Allah has made lawful for you, seeking the approval of your wives?
And Allah is Forgiving and Merciful.
― Chapter 66. Surah At Tahrim [verse 1]

يَٰٓأَيُّهَا wahai
O
ٱلنَّبِىُّ Nabi
Prophet!
لِمَ mengapa
Why (do)
تُحَرِّمُ kamu mengharamkan
you prohibit
مَآ apa
what
أَحَلَّ yang menghalalkan
has made lawful
ٱللَّهُ Allah
Allah
لَكَ bagimu
for you,
تَبْتَغِى kamu mencari
seeking
مَرْضَاتَ kesenangan
(to) please
أَزْوَٰجِكَ isteri-isterimu
your wives?
وَٱللَّهُ dan Allah
And Allah
غَفُورٌ Maha Pengampun
(is) Oft-Forgiving,
رَّحِيمٌ Maha Penyayang
Most Merciful.

Tafsir Al-Quran

Surah At Tahrim
66:1

Tafsir QS. At Tahrim (66) : 1. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah menegur Nabi ﷺ karena bersumpah tidak akan meminum madu lagi, padahal madu itu adalah minuman yang halal.
Sebabnya hanyalah karena menghendaki kesenangan hati istri-istrinya.


Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah Maha Pengampun atas dosa hamba-Nya yang bertobat, dan Dia telah mengampuni kesalahan Nabi ﷺ yang telah bersumpah tidak mau lagi minum madu.

Tafsir QS. At Tahrim (66) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan bagi dirimu sesuatu yang dihalalkan oleh Allah demi menyenangkan istri-istrimu?
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan dirimu untuk sesuatu yang dihalalkan Allah bagimu untuk mendapat kesenangan hati istri-istrimu?
Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepadamu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai nabi! Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu) mengenai istri budak wanitamu, yakni Mariyah Qibtiah, yaitu sewaktu Nabi ﷺ menggaulinya di rumah Hafshah, sedangkan pada waktu itu Siti Hafshah sedang tidak ada di rumah.
Lalu datanglah Siti Hafshah, dan ia merasa keberatan dengan adanya hal tersebut yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di dalam rumahnya dan di tempat tidurnya.
Lalu kamu mengatakan, dia


(Siti Mariyah) haram atas diriku


(kamu mencari) dengan mengharamkannya atas dirimu


(keridaan istri-istrimu) kerelaan mereka terhadap dirimu.


(Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia telah mengampunimu atas tindakan pengharamanmu itu.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan asbabun nuzul yang melatarbelakangi penurunan permulaan surat At-Tahrim ini.


Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Mariyah Al-Qibtiyyah, lalu Rasulullah ﷺ mengharamkannya bagi dirinya (yakni tidak akan menggaulinya lagi).
Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu;
kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?
(QS. At-Tahrim [66]: 1), hingga akhir ayat.

Abu Abdur Rahman An-Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ mempunyai seorang budak perempuan yang beliau gauli, lalu Siti Aisyah dan Siti Hafsah terus-menerus dangan gencarnya menghalang-halangi Nabi ﷺ untuk tidak mendekatinya lagi hingga pada akhirnya Nabi ﷺ mengharamkan budak itu atas dirinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu?
(QS. At-Tahrim [66]: 1), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abdur Rahim Al-Burfi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, bahwa Rasulullah ﷺ menggauli ibu Ibrahim di rumah salah seorang istri beliau ﷺ Maka istri beliau ﷺ berkata,
"Hai Rasulullah, teganya engkau melakukan itu di rumahku dan di atas ranjangku."
Maka Nabi ﷺ mengharamkan ibu Ibrahim itu atas dirinya.
Lalu istri beliau ﷺ bertanya,
"Hai Rasulullah, mengapa engkau haramkan atas dirimu hal yang halal bagimu?"
Dan Nabi ﷺ bersumpah kepada istrinya itu bahwa dia tidak akan menggauli budak perempuannya itu lagi.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya atas dirimu?
(QS. At-Tahrim [66]: 1)

Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ucapan Nabi ﷺ,
"Engkau haram bagiku,"
adalah lagwu (tiada artinya).
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid, dari ayahnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Malik, dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada ibu Ibrahim:
Engkau haram atas diriku.
Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu.

Sufyan As-Sauri dan Ibnu Aliyyah telah meriwayatkan dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan sumpah ila dan mengharamkan budak perempuannya itu atas dirinya.
Lalu beliau ﷺ ditegur melalui surat At-Tahrim dan diperintahkan untuk membayar kifarat sumpahnya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Qatadah dan lain-lainnya, dari Asy-Sya’bi.
Hal yang semisal telah dikatakan pula oleh bukan hanya seorang dari ulama salaf, antara lain Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan.
Al-Aufi telah meriwayatkan kisah ini dari Ibnu Abbas secara panjang lebar.

Ibnii Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Umar ibnul Khattab,
"Siapakah kedua wanita itu?"
Umar ibnul Khattab menjawab,
"Keduanya adalah Aisyah dan Hafsah."
Permulaan kisahnya ialah berkenaan dengan ibu Ibrahim (yaitu Mariyah Al-Ojibtiyyah).
Nabi ﷺ menggaulinya di rumah Hafsah di hari gilirannya, maka Hafsah mengetahuinya, lalu berkata,
"Hai Nabi Allah, sesungguhnya engkau telah melakukan terhadapku suatu perbuatan yang belum pernah engkau lakukan terhadap seorang pun dari istri-istrimu.
Engkau melakukannya di hari giliranku dan di atas peraduanku."
Maka Nabi ﷺ menjawab:
Puaskah engkau bila aku mengharamkannya atas diriku dan aku tidak akan mendekatinya lagi?
Hafsah menjawab,
"Baiklah."
Maka Nabi pun mengharamkan dirinya untuk menggauli Mariyah, Nabi ﷺ bersabda,
"Tetapi jangan kamu ceritakan hal ini kepada siapa pun."
Hafsah tidak tahan, akhirnya ia menceritakan kisah itu kepada Aisyah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menampakkan (memberitahukan) hal itu kepada Nabi ﷺ, dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu;
kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?
(At-Tahrim, 1)
hingga beberapa ayat sesudahnya.
Maka telah sampai kepada kamu suatu berita yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membayar kifarat sumpahnya dan kembali menggauli budak perempuannya itu.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Tahrim (66) Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan an-Nasa-i dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ mempunyai seorang sahaya yang suka ‘disentuhnya’.
Namun karena Siti Hafsah selalu merongrongnya, maka Rasulullah ﷺ mengharamkan sahaya tersebut bagi dirinya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada beliau karena mengharamkan yang halal.

Diriwayatkan oleh adl-Dliya’ di dalam Kitab al-Mukhtaaroh, dari Hadits Ibnu ‘Umar yang bersumber dari ‘Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Hafsah: “Jangan engkau sebarluaskan bahwa Ummu Ibrahim (Mariyah al-Qibthiyyah) telah aku haramkan bagiku.” Sejak itu Rasulullah tidak mendekatinya hingga Hafsah memberitahukan hal ini kepada ‘Aisyah.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai jalan keluar dari sumpah yang telah diucapkan beliau.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ membawa sahayanya yang bernama Mariyah al-Qibtiyyah ke rumah Hafsah.
Ketika Hafsah datang, didapatinya Rasulullah bersama Mariyah.
Berkatalah Hafsah: “Ya Rasulullah, mengapa di rumahku, tidak di rumah istrimu yang lain.” Rasulullah bersabda: “Ia (Mariyah) aku haramkan untuk ‘kusentuh’.
Tetapi pengharaman ini tidak perlu engkau bicarakan kepada orang lain.” Tetapi Hafsah keluar juga menemui Siti ‘Aisyah dan langsung memberitahukan persoalan tersebut kepadanya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada Rasulullah yang telah mengharamkan perkara yang halal baginya.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyyah (seorang sahaya Rasulullah ﷺ) yang beliau haramkan untuk “menyentuhnya”.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Hadits ini mempunyai syaahid (penguat) di dalam ash-Shaahihul Bukhaarii dan Shahihu Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ minum madu di rumah Saudah, kemudian pergi ke rumah ‘Aisyah.
Aisyah berkata: “Aku mencium bau yang tidak sedap.” Kemudian Rasulullah datang ke rumah Hafsah, dan iapun berkata seperti ucapan ‘Aisyah itu.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangkali bau tersebut berasal dari minuman yang diminum di rumah Saudah.
Demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi.” Maka turunlah ayat ini (at-Tahrim: 1-2) sebagai teguran kepada Rasulullah ﷺ yang telah mengharamkan apa yang halal baginya.
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini bisa saja diturunkan berkenaan dengan kedua sebab itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang bersumber dari ‘Abdullah bin Rafi’ bahwa ‘Abdullah bin Rafi’ bertanya kepada Ummu Salamah tentang ayat ini (at-Tahrim: 1).
Ummu Salamah menjawab:
“Ketika aku mempunyai madu putih yang kusimpan dalam satu wadah, Rasulullah ﷺ mencicipinya karena beliau menyukai madu.” Berkatalah ‘Aisyah kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Rupanya madu yang tuan minum itu berasal dari tawon yang biasa mengisap ‘arfath (buah-buahan yang berbau busuk yang tidak disukai Rasul).” Seketika itu juga Rasulullah mengharamkan madu putih bagi dirinya.
Ayat ini (at-Tahrim: 1) menegur Rasulullah ﷺ yang mengharamkan sesuatu yang halal bagi dirinya.

Diriwayatkan oleh al-Harits bin Usamah di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari ‘Aisyah.
Hadits ini terlalu jauh apabila dianggap sebagai asbabun nuzul ayat ini, bahwa Abu Bakr bersumpah tidak akan memberi belanja kepada Misthah karena turut memfitnah ‘Aisyah.
Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai perintah agar menebus sumpah yang telah diucapkan.
Setelah turun ayat tersebut Abu Bakr pun memberi belanja kembali kepada Misthah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Riwayat ini gharib dan sanadnya daif, bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi ﷺ
5. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
Asbabun Nuzul ayat ini (at-Tahrim: 2) telah diterangkan pada asbabun nuzul surat al-Baqoroh ayat 125.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah At Tahrim (التحريم)

Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Hujurat.

Dinamai surat At-Tahrim karena pada awal surat ini terdapat kata "tuharrim" yang kata asalnya adalah AtTahriim yang berarti "mengharamkan".

Keimanan:

▪ Kesempatan bertaubat itu hanyalah di dunia saja, segala amal perbuatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.

Hukum:

▪ Larangan mengharamkan apa yang dibolehkan Allah subhanahu wa ta’ala.
▪ Kewajiban membebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang halal dengan membayar kaffarat.
▪ Kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka.
▪ Perintah memerangi orang-orang kafir dan munafiq dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.

Lain-lain:

▪ Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami isteri, seperti isteri Nabi Nuh `alaihis salam, isteri Nabi Luth `alaihis salam, isteri Fir’aun dan Maryam.

Audio Murottal

QS. At-Tahrim (66) : 1-12 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy Ayat 1 sampai 12 + Terjemahan Indonesia
QS. At-Tahrim (66) : 1-12 ⊸ Nabil ar-Rifa’i Ayat 1 sampai 12

Gambar Kutipan Ayat

Surah At Tahrim ayat 1 - Gambar 1 Surah At Tahrim ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 66:1
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah At Tahrim.

Surah At-Tahrim (bahasa Arab:التّحري) adalah surah ke 66 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surat Madaniyah yang terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Tahrim karena pada awal surah ini terdapat kata tuharrim yang berasal dari at-Tahrim yang berarti mengharamkan.

Nomor Surah 66
Nama Surah At Tahrim
Arab التحريم
Arti Mengharamkan
Nama lain Lima Tuharrim, Mutaharrim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 107
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 254
Jumlah huruf 1105
Surah sebelumnya Surah At-Talaq
Surah selanjutnya Surah Al-Mulk
Sending
User Review
4.7 (15 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:
66:1, 66 1, 66-1, Surah At Tahrim 1, Tafsir surat AtTahrim 1, Quran At-Tahrim 1, Surah At Tahrim ayat 1
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video Surah 66:1

More Videos

Kandungan Surah At Tahrim

۞ QS. 66:1 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 66:2 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Maula (Maha Penolong)

۞ QS. 66:3 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 66:4 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Maula (Maha Penolong) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 66:5 Ar Rabb (Tuhan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 66:6 • Tugas-tugas malaikat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Penjaga neraka • Sifat neraka •

۞ QS. 66:7 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 66:8 • Pahala iman • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Derajat para pemeluk agama

۞ QS. 66:9 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Bersikap keras terhadap orang kafir • Azab orang kafir • Siksa orang munafik

۞ QS. 66:10 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 66:11 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 66:12 Ar Rabb (Tuhan)

Ayat Pilihan

Dan tiadalah kehidupan dunia ini,
selain dari main-main & senda gurau belaka.
Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
Maka tidakkah kamu memahaminya?
QS. Al-An’am [6]: 32

Seandainya manusia & jin bergabung & saling membantu untuk mendatangkan sesuatu yang serupa Alquran ini dalam komposisi & maknanya,
mereka tidak akan mampu melakukannya,
meskipun mereka bekerjasama & saling membantu satu sama lain.
QS. Al-Isra’ [17]: 88

Kelak kamu (Muhammad) akan melihat & mereka (orang-orang ingkar) akan melihat.
Siapa di antara kamu yang gila.
Sungguh Tuhanmu, Dia Yang Paling Tahu siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Yang Paling Mengetahui orang yang mendapat petunjuk.
QS. Al-Qalam [68]: 5-7

dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu & bertaubat kepada-Nya.
(Jika kamu mengerjakan yang demikian),
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan..
QS. Hud [11]: 3

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Correct! Wrong!

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Correct! Wrong!

+

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Kamus Istilah Islam

Hadits Qudsi

Apa itu Hadits Qudsi? Hadits Qudsi (bahasa Arab: الحديث القدسي, al-ḥadīṡ al-qudsī‎. Secara sederhana dikatakan hadits qudsi adalah perkataan Nabi Muhammad, tentang wahyu Allah yang...

Zalim

Apa itu Zalim? Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil.
Etimologi
Kata zal...

Al-Mulk

Apa itu Al-Mulk? Surah Al-Mulk (Arab: الملك ,”Kerajaan”) adalah surah ke-67 dalam Alquran. Surah ini tergolong surat Makkiyah, terdiri atas 30 ayat. Dinamakan Al Mulk yang berarti Ker...