QS. At Tahrim (Mengharamkan) – surah 66 ayat 1 [QS. 66:1]

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰہُ لَکَ ۚ تَبۡتَغِیۡ مَرۡضَاتَ اَزۡوَاجِکَ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaannabii-yu lima tuharrimu maa ahallallahu laka tabtaghii mardhaata azwaajika wallahu ghafuurun rahiimun;

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu?
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
―QS. 66:1
Topik ▪ Lembaran catatan amal perbuatan
66:1, 66 1, 66-1, At Tahrim 1, AtTahrim 1, At-Tahrim 1

Tafsir surah At Tahrim (66) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Tahrim (66) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menegur Nabi ﷺ karena bersumpah tidak akan meminum madu lagi, padahal madu itu adalah minuman yang halal.
Sebabnya hanyalah karena menghendaki kesenangan hati istri-istrinya.
Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah Maha Pengampun atas dosa hamba-Nya yang bertobat, dan Dia telah mengampuni kesalahan Nabi ﷺ yang telah bersumpah tidak mau lagi minum madu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan bagi dirimu sesuatu yang dihalalkan oleh Allah demi menyenangkan istri-istrimu?
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai nabi! Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu) mengenai istri budak wanitamu, yakni Mariyah Qibtiah, yaitu sewaktu Nabi ﷺ menggaulinya di rumah Hafshah, sedangkan pada waktu itu Siti Hafshah sedang tidak ada di rumah.

Lalu datanglah Siti Hafshah, dan ia merasa keberatan dengan adanya hal tersebut yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di dalam rumahnya dan di tempat tidurnya.

Lalu kamu mengatakan, dia (Siti Mariyah) haram atas diriku (kamu mencari) dengan mengharamkannya atas dirimu (keridaan istri-istrimu) kerelaan mereka terhadap dirimu.

(Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) Dia telah mengampunimu atas tindakan pengharamanmu itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan asbabun nuzul yang melatarbelakangi penurunan permulaan surat At-Tahrim ini.

Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Mariyah Al-Qibtiyyah, lalu Rasulullah ﷺ mengharamkannya bagi dirinya (yakni tidak akan menggaulinya lagi).
Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?
(Q.S. At-Tahrim [66]: 1), hingga akhir ayat.

Abu Abdur Rahman An-Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ mempunyai seorang budak perempuan yang beliau gauli, lalu Siti Aisyah dan Siti Hafsah terus-menerus dangan gencarnya menghalang-halangi Nabi ﷺ untuk tidak mendekatinya lagi hingga pada akhirnya Nabi ﷺ mengharamkan budak itu atas dirinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu?
(Q.S. At-Tahrim [66]: 1), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abdur Rahim Al-Burfi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, bahwa Rasulullah ﷺ menggauli ibu Ibrahim di rumah salah seorang istri beliau ﷺ Maka istri beliau ﷺ berkata, “Hai Rasulullah, teganya engkau melakukan itu di rumahku dan di atas ranjangku.” Maka Nabi ﷺ mengharamkan ibu Ibrahim itu atas dirinya.
Lalu istri beliau ﷺ bertanya, “Hai Rasulullah, mengapa engkau haramkan atas dirimu hal yang halal bagimu?”
Dan Nabi ﷺ bersumpah kepada istrinya itu bahwa dia tidak akan menggauli budak perempuannya itu lagi.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya atas dirimu?
(Q.S. At-Tahrim [66]: 1)

Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa ucapan Nabi ﷺ, “Engkau haram bagiku,” adalah lagwu (tiada artinya).
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid, dari ayahnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Malik, dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ berkata kepada ibu Ibrahim: Engkau haram atas diriku.
Demi Allah, aku tidak akan menggaulimu.

Sufyan As-Sauri dan Ibnu Aliyyah telah meriwayatkan dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan sumpah ila dan mengharamkan budak perempuannya itu atas dirinya.
Lalu beliau ﷺ ditegur melalui surat At-Tahrim dan diperintahkan untuk membayar kifarat sumpahnya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dan hal yang semisal telah diriwayatkan dari Qatadah dan lain-lainnya, dari Asy-Sya’bi.
Hal yang semisal telah dikatakan pula oleh bukan hanya seorang dari ulama salaf, antara lain Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan.
Al-Aufi telah meriwayatkan kisah ini dari Ibnu Abbas secara panjang lebar.

Ibnii Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Umar ibnul Khattab, “Siapakah kedua wanita itu?”
Umar ibnul Khattab menjawab, “Keduanya adalah Aisyah dan Hafsah.” Permulaan kisahnya ialah berkenaan dengan ibu Ibrahim (yaitu Mariyah Al-Ojibtiyyah).
Nabi ﷺ menggaulinya di rumah Hafsah di hari gilirannya, maka Hafsah mengetahuinya, lalu berkata, “Hai Nabi Allah, sesungguhnya engkau telah melakukan terhadapku suatu perbuatan yang belum pernah engkau lakukan terhadap seorang pun dari istri-istrimu.
Engkau melakukannya di hari giliranku dan di atas peraduanku.” Maka Nabi ﷺ menjawab: Puaskah engkau bila aku mengharamkannya atas diriku dan aku tidak akan mendekatinya lagi?
Hafsah menjawab, “Baiklah.” Maka Nabi pun mengharamkan dirinya untuk menggauli Mariyah, Nabi ﷺ bersabda, “Tetapi jangan kamu ceritakan hal ini kepada siapa pun.” Hafsah tidak tahan, akhirnya ia menceritakan kisah itu kepada Aisyah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menampakkan (memberitahukan) hal itu kepada Nabi ﷺ, dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?
(At-Tahrim, 1) hingga beberapa ayat sesudahnya.
Maka telah sampai kepada kamu suatu berita yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membayar kifarat sumpahnya dan kembali menggauli budak perempuannya itu.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Tahrim (66) Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan an-Nasa-i dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ mempunyai seorang sahaya yang suka ‘disentuhnya’.
Namun karena Siti Hafsah selalu merongrongnya, maka Rasulullah ﷺ mengharamkan sahaya tersebut bagi dirinya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada beliau karena mengharamkan yang halal.

Diriwayatkan oleh adl-Dliya’ di dalam Kitab al-Mukhtaaroh, dari Hadits Ibnu ‘Umar yang bersumber dari ‘Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Hafsah: “Jangan engkau sebarluaskan bahwa Ummu Ibrahim (Mariyah al-Qibthiyyah) telah aku haramkan bagiku.” Sejak itu Rasulullah tidak mendekatinya hingga Hafsah memberitahukan hal ini kepada ‘Aisyah.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai jalan keluar dari sumpah yang telah diucapkan beliau.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ membawa sahayanya yang bernama Mariyah al-Qibtiyyah ke rumah Hafsah.
Ketika Hafsah datang, didapatinya Rasulullah bersama Mariyah.
Berkatalah Hafsah: “Ya Rasulullah, mengapa di rumahku, tidak di rumah istrimu yang lain.” Rasulullah bersabda: “Ia (Mariyah) aku haramkan untuk ‘kusentuh’.
Tetapi pengharaman ini tidak perlu engkau bicarakan kepada orang lain.” Tetapi Hafsah keluar juga menemui Siti ‘Aisyah dan langsung memberitahukan persoalan tersebut kepadanya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada Rasulullah yang telah mengharamkan perkara yang halal baginya.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyyah (seorang sahaya Rasulullah ﷺ) yang beliau haramkan untuk “menyentuhnya”.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Hadits ini mempunyai syaahid (penguat) di dalam ash-Shaahihul Bukhaarii dan Shahihu Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ minum madu di rumah Saudah, kemudian pergi ke rumah ‘Aisyah.
‘Aisyah berkata: “Aku mencium bau yang tidak sedap.” Kemudian Rasulullah datang ke rumah Hafsah, dan iapun berkata seperti ucapan ‘Aisyah itu.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangkali bau tersebut berasal dari minuman yang diminum di rumah Saudah.
Demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi.” Maka turunlah ayat ini (at-Tahrim: 1-2) sebagai teguran kepada Rasulullah ﷺ yang telah mengharamkan apa yang halal baginya.
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini bisa saja diturunkan berkenaan dengan kedua sebab itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang bersumber dari ‘Abdullah bin Rafi’ bahwa ‘Abdullah bin Rafi’ bertanya kepada Ummu Salamah tentang ayat ini (at-Tahrim: 1).
Ummu Salamah menjawab:
“Ketika aku mempunyai madu putih yang kusimpan dalam satu wadah, Rasulullah ﷺ mencicipinya karena beliau menyukai madu.” Berkatalah ‘Aisyah kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Rupanya madu yang tuan minum itu berasal dari tawon yang biasa mengisap ‘arfath (buah-buahan yang berbau busuk yang tidak disukai Rasul).” Seketika itu juga Rasulullah mengharamkan madu putih bagi dirinya.
Ayat ini (at-Tahrim: 1) menegur Rasulullah ﷺ yang mengharamkan sesuatu yang halal bagi dirinya.

Diriwayatkan oleh al-Harits bin Usamah di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari ‘Aisyah.
Hadits ini terlalu jauh apabila dianggap sebagai asbabun nuzul ayat ini, bahwa Abu Bakr bersumpah tidak akan memberi belanja kepada Misthah karena turut memfitnah ‘Aisyah.
Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai perintah agar menebus sumpah yang telah diucapkan.
Setelah turun ayat tersebut Abu Bakr pun memberi belanja kembali kepada Misthah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Riwayat ini gharib dan sanadnya daif, bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi ﷺ
5.
Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
Asbabun Nuzul ayat ini (at-Tahrim: 2) telah diterangkan pada asbabun nuzul surat al-Baqoroh ayat 125.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Tahrim (التحريم)
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hujuraat.

Dinamai surat At Tahriim karena pada awal surat ini terdapat kata “tuharrim” yang kata asalnya adalah AtTahriim yang berarti “mengharamkan”.

Keimanan:

Kesempatan bertaubat itu hanyalah di dunia saja, segala amal perbuatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.

Hukum:

Larangan mengharamkan apa yang dibolehkan Allah subhanahu wa ta’ala
kewajiban membebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang halal dengan membayar kaffarat
kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka
perintah memerangi orang-orang kafir dan munafiq dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.

Lain-lain:

Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami isteri, seperti isteri Nabi Nuh a.s., isteri Nabi Luth a.s., isteri Fir’aun dan Maryam.

Ayat-ayat dalam Surah At Tahrim (12 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Tahrim (66) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Tahrim (66) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Tahrim (66) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Tahrim - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 12 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 66:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Tahrim.

Surah At-Tahrim (bahasa Arab:التّحري) adalah surah ke 66 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat Madaniyah yang terdiri atas 12 ayat.
Dinamakan At-Tahrim karena pada awal surah ini terdapat kata tuharrim yang berasal dari at-Tahrim yang berarti mengharamkan.

Nomor Surah 66
Nama Surah At Tahrim
Arab التحريم
Arti Mengharamkan
Nama lain Lima Tuharrim, Mutaharrim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 107
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 12
Jumlah kata 254
Jumlah huruf 1105
Surah sebelumnya Surah At-Talaq
Surah selanjutnya Surah Al-Mulk
4.7
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/66-1







Pembahasan ▪ qs 66 1 ▪ qs 66:1 ▪ Qs 66:1 tafsirannya ▪ Surah 66:1-5

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta