QS. At Taghaabun (Hari dinampakkan kesalahan-kesalahan) – surah 64 ayat 16 [QS. 64:16]

فَاتَّقُوا اللّٰہَ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ وَ اسۡمَعُوۡا وَ اَطِیۡعُوۡا وَ اَنۡفِقُوۡا خَیۡرًا لِّاَنۡفُسِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یُّوۡقَ شُحَّ نَفۡسِہٖ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Faattaquullaha maaastatha’tum waasma’uu wa-athii’uu wa-anfiquu khairan anfusikum waman yuuqa syuhha nafsihi fa-uula-ika humul muflihuun(a);

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
―QS. 64:16
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
64:16, 64 16, 64-16, At Taghaabun 16, AtTaghaabun 16, At Taghabun 16, At-Tagabun 16

Tafsir surah At Taghaabun (64) ayat 16

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. At Taghaabun (64) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memerintahkan agar manusia yang mempunyai harta, anak, dan istri bertakwa kepada-Nya sekuat tenaga dan kemampuannya, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi ﷺ: Apabila saya perintahkan kamu dengan sesuatu maka laksanakanlah dengan maksimal dan apa yang saya larang melakukannya, maka jauhilah ia.
(Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)

Dalam firman Allah juga dijelaskan:

Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 102)

Selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang beriman agar mendengar dan patuh kepada perintah Allah dan rasul-Nya.
Tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya, sehingga melanggar apa yang dilarang agama.
Harta benda agar dibelanjakan untuk meringankan penderitaan fakir miskin, menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, dan untuk membantu berbagai kegiatan yang berguna bagi umat dan agama, yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Yang demikian itu jauh lebih baik daripada menumpuk harta dan memanjakan anak.

Ayat ke-16 ini ditutup dengan satu penegasan bahwa orang yang menjauhi kebakhilan dan ketamakan pada harta adalah orang yang beruntung.
Ia akan mencapai keinginannya di dunia dan akhirat, serta disenangi oleh teman-temannya.
Di akhirat nanti, ia sangat berbahagia karena dekat dengan Tuhannya, disenangi, diridai, dan dimasukkan ke dalam surga.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kerahkanlah segala usaha dan kemampuan kalian untuk bertakwa kepada Allah.
Dengarlah segala nasihat-Nya dan taatilah segala perintah-Nya.
Infakkanlah rezeki yang telah diberikan kepada kalian di jalan yang telah ditetapkan.
Lakukanlah kebaikan untuk diri kalian.
Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya dan keserakahan terhadap harta, mereka adalah orang-orang yang beruntung mendapatkan segala kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian) ayat ini memansukh firman-Nya, “Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.”
(Q.S. Ali Imran 102)

(dan dengarlah) apa yang telah diperintahkan kepada kalian, dengan pendengaran yang dibarengi dengan rasa menerima apa yang kalian dengar
(serta taatlah) kepada Allah
(dan nafkahkanlah) di jalan ketaatan
(nafkah yang baik untuk diri kalian) lafal khairan berkedudukan menjadi khabar dari lafal yakun yang keberadaannya diperkirakan, dan sekaligus menjadi jawab dari amar, yakni niscaya pahalanya buat diri kalian sendiri.

(Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung) orang-orang yang memperoleh keberuntungan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.
(Q.S. At-Taghaabun [64]: 16)

Yakni menurut batas maksimal kemampuanmu, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Apabila kuperintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah hal itu olehmu menurut kesanggupanmu; dan apa saja yang aku larang kalian mengerjakannya, tinggalkanlah.

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa sebagaimana yang telah di­riwayatkan oleh Malik dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa ayat ini merevisi ayat yang ada di dalam surat Ali Imran, yaitu firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 102)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Ata alias Ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 102) Bahwa ketika ayat ini diturunkan, kaum muslim beramal dengan sekuat-kuatnya.
Mereka terus-menerus mengerjakan qiyam (salat sunat) hingga tumit kaki mereka bengkak dan kening mereka bernanah.
Maka Allah menurunkan ayat ini untuk meringankan mereka (kaum muslim), yaitu firman-Nya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, (Q.S. At-Taghaabun [64]: 16) Maka ayat ini merevisi pengertian yang terdapat pada ayat yang di atas tadi.

Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Abul Aliyah, Zaid ibnu Aslam, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan dengar serta taatlah.
(Q.S. At-Taghaabun [64]: 16)

Yaitu jadilah kamu orang-orang yang tunduk patuh kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, dan janganlah kamu menyimpang darinya baik ke arah kanan maupun ke arah kiri.
Dan janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, janganlah pula kamu ketinggalan dari apa yang diperintahkan oleh-Nya kepadamu.
Dan janganlah kamu mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya kamu mengerjakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan nafkahkanlah nafkah yang baik untukmu.
(Q.S. At-Taghaabun [64]: 16)

Yakni berinfaklah (belanjakanlah) dari sebagian harta yang Allah rezekikan kepadamu kepada kaum kerabat, orang-orang fakir, orang-orang miskin, dan orang-orang yang memerlukan bantuan.
Dan berbuat baiklah kamu kepada sesama makhluk Allah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, niscaya hal ini lebih baik bagi kalian buat kehidupan dunia dan kehidupan akhiratmu.
Jika kamu tidak melakukannya, maka menjadi keburukanlah bagimu dalam kehidupan dunia dan akhiratmu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. At-Taghaabun [64]: 16)

Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat Al-Hasyr, dan telah disebutkan pula hadis-hadis yang berkaitan dengan makna ayat ini, sehingga tidak perlu diulangi lagi.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah At Taghaabun (64) Ayat 16

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ketika turun ayat….ittaqullaaha haqqa tuqaatih…(bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadanya…) (Ali Imron: 102), kaum Muslimin melakukan berbagai amal hingga kaki mereka bengkak-bengkak dan dahi mereka luka-luka.
Maka Allah menurunkan ayat ini (At-Taghaabun: 16) yang memberi keringanan kepada kaum Muslimin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah At Taghaabun (التغابن)
Surat ini terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat At Tahrim.

Nama At Taghaabun, diambil dari kata “at taghaabun” yang terdapat pada ayat ke 9 yang artinya:
hari dinampakkan kesalahan-kesalahan.

Keimanan:

Seluruh isi alam bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
penjelasan tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala serta keluasan ilmu-Nya
penegasan bahwa semua yang terjadi dalam alam ini adalah atas izin Allah.

Hukum:

Perintah ta’at kepada Allah dan Rasul
perintah supaya bertakwa dan menafkahkan harta.

Lain-lain:

Peringatan kepada orang-orang kafir tentang nasib orang-orang dahulu yang mendurhakai Rasul-rasul
di antara isteri-isteri dan anak-anak seseorang ada yang menjadi musuh baginya
harta dan anak-anak adalah cobaan dan ujian bagi manusia.

Ayat-ayat dalam Surah At Taghaabun (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. At-Taghaabun (64) ayat 16 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. At-Taghaabun (64) ayat 16 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. At-Taghaabun (64) ayat 16 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. At-Taghaabun - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 64:16
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah At Taghaabun.

Surah At-Tagabun (Arab: التّغابن , "Hari Ditampakkan Segala Kesalahan") adalah surah ke-64 dalam al Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Nama At-Tagabun diambil dari kata At-Tagabun yang terdapat pada ayat ke 9 yang artinya hari ditampakkan kesalahan-kesalahan.

Nomor Surah 64
Nama Surah At Taghaabun
Arab التغابن
Arti Hari dinampakkan kesalahan-kesalahan
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 108
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 242
Jumlah huruf 1091
Surah sebelumnya Surah Al-Munafiqun
Surah selanjutnya Surah At-Talaq
4.4
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta