QS. Asy Syu’araa (Penyair) – surah 26 ayat 50 [QS. 26:50]

قَالُوۡا لَا ضَیۡرَ ۫ اِنَّاۤ اِلٰی رَبِّنَا مُنۡقَلِبُوۡنَ
Qaaluuu laa dhaira innaa ila rabbinaa munqalibuun(a);

Mereka berkata:
“Tidak ada kemudharatan (bagi kami), sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,
―QS. 26:50
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Kedahsyatan hari kiamat
26:50, 26 50, 26-50, Asy Syu’araa 50, AsySyuaraa 50, Asy Syuara 50, Asy Syu’ara 50, Asy-Syu’ara 50

Tafsir surah Asy Syu'araa (26) ayat 50

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Asy Syu’araa (26) : 50. Oleh Kementrian Agama RI

Ancaman Fir’aun yang cukup berat itu, tidak digubris sama sekali oleh para ahli sihir itu.
Mereka bahkan berharap dapat merasakan ancaman itu karena bagi mereka semua orang yang hidup pada suatu waktu pasti mati, tidak ada daya upaya untuk mengelak daripadanya.
Firman Allah:

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 35)

Dan firman-Nya:

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu,”
(Al-Jumu’ah: 8)

Mereka itu hanya memikirkan dua hal, sebagai penghibur hati mereka:

Pertama, mereka akan kembali kepada ajaran Tuhan semesta alam, Tuhan yang disembah Musa dan Harun dan mengikuti agama Nabi Musa ‘alaihis salam Dengan demikian, mereka akan selamat dari azab akhirat yang amat pedih dan berkepanjangan, yang jauh lebih berat dibanding dengan siksaan yang diancamkan Fir’aun kepada mereka.

Kedua, mereka sangat mengharapkan agar Tuhan semesta alam mau mengampuni dosa mereka karena melakukan perbuatan sihir dan kekafiran.
Merekalah yang pertama kali beriman kepada Tuhan yang disembah Musa, dari sekian banyak orang yang turut menyaksikan adu kekuatan itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Para ahli sihir berkata, “Siksaan yang akan kamu lakukan kepada kami, sebagaimana ancamanmu, tidak akan membahayakan kami.
Sebab, kami akan kembali kepada Tuhan untuk mendapatkan ganjaran-Nya, suatu ganjaran dan akhir yang baik.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka berkata, “Tidak ada kemudaratan) tidak mengapa bagi kami jika hal tersebut ditimpakan kepada kami (sesungguhnya kami kepada Rabb kami) sesudah kami mati dengan cara apa pun (akan kembali) yakni kembali kepada-Nya di akhirat nanti.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para tukang sihir berkata kepada Fir’aun :
Kami tidak gentar menghadapi siksaan di dunia, pada akhirnya kami tetap akan berpulang kepada Rabb kami, lalu kemudian Dia akan memberi kami nikmat yang langgeng.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Fir’aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka, lalu menyalib mereka.
Maka mereka menjawab, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Tidak ada kemudaratan (bagi kami).
(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 50)

Yakni tiada halangan dan tiada mudarat bagi kami, serta kami tidak peduli dengan ancaman itu.

sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 50)

Yaitu kembali kami hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik dalam amalnya.
Tiada sesuatu pun dari apa yang engkau lakukan terhadap kami samar bagi-Nya, dan Dia kelak akan membalas kami dengan pembalasan yang sempurna atas hal tersebut


Kata Pilihan Dalam Surah Asy Syu'araa (26) Ayat 50

DHAYR
ضَيْر

Arti lafaz dhayr sama dengan kata dharar yaitu kesernpitan, bahaya atau keadaan paling buruk, baik pada jiwa, badan ataupun harta.

Lafaz dhayr hanya disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Asy Syu’araa (26), ayat 50. Dalam ayat ini, lafaz dhayr dinafikan sehingga artinya adalah tidak ada bahaya atau tidak sukar. Ayat ini menceritakan tentang tingginya keyakinan tukang-tukang sihir Fir’aun yang sedar dan mau beriman kepada Allah.

Fir’aun mengancam akan menyiksa mereka dengan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang dan juga menyalib mereka. Namun, mereka dengan lantang menjawab, siksa di dunia seperti itu (adh dhayr) tidak menyusahkan kami, tidak membahayakan kami dan kami tidak mempedulikannya karena kami yakin akan kembali kepada Allah, pencipta alam dan kami yakin mendapat nikmat yang agung.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:328

Informasi Surah Asy Syu'araa (الشعراء)
Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamakan “Asy Syu’araa” (kata jamak dari “Asy Syaa ‘ir” yang berarti penyair) diambil dari kata “Asy Syu­ araa’ yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, dikala Allah subhanahu wa ta’ala se­cara khusus menyebutkan kedudukan penyair-penyair.
Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.
Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali­ kali terdapat pada rasul-rasul.
Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad ﷺ dituduh sebagai penyair, dan Al Qur’an dituduh sebagai syair, Al Qur’an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.

Keimanan:

Jaminan Allah akan kemenangan perjuangan rasul-rasul-Nya dan keselamatan mereka
Al Qur’an benar-benar wahyu Allah yang dibawa turun ke dunia oleh Ma­laikat Jibril a.s, (Ruuhul amiin) hanya Allah yang wajib disembah.

Hukum:

Keharusan memenuhi takaran dan timbangan
larangan menggubah syair yang be­risi cacian-cacian, khurafat-khurafat, dan kebohongan-kebohongan.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun
kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan kaum­nya
kisah Nabi Nuh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaum­nya (Tsamud)
kisah Nabi Hud a.s. dengan kaumnya(‘Aad)
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’ai’b a.s. dengan penduduk Aikah.

Lain-lain:

Kebinasaan suatu bangsa atau umat disebabkan mereka meninggalkan petunjuk­ petunjuk agama
tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan perobahan-pero­bahannya adalah bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa
petunjuk-petunjuk Allah bagi pemimpin agar berlaku lemah lembut terhadap pengikut-pengikutnya
turun­nya kitab Al Qur’an dalam bahasa Arab sudah disebut dalam kitab-kitab suci dahulu.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 50 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 50 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 50 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Asy-Syu'araa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 227 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 26:50
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Asy Syu'araa.

Surah Asy-Syu'ara atau Surah Asy-Syu'ara' adalah surah ke-26 dari Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surah-surah Makkiyyah.
Dinamakan Asy Syu'ara (kata jamak dari Asy Sya'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuara yang terdapat pada ayat 224.
Banyak nilai-nilai yang berharga dari bebagai kisah-kisah para Nabi yang umat mereka dipunahkan serta sebagian riwayat tiga hamba Allah yang dimuliakan Musa, Harun dan Ibrahim.

Nomor Surah 26
Nama Surah Asy Syu'araa
Arab الشعراء
Arti Penyair
Nama lain Tha Sin Mim, Al-Jami’ah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 47
Juz Juz 19
Jumlah ruku' 11 ruku'
Jumlah ayat 227
Jumlah kata 1223
Jumlah huruf 5630
Surah sebelumnya Surah Al-Furqan
Surah selanjutnya Surah An-Naml
4.9
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta