QS. Asy Syu’araa (Penyair) – surah 26 ayat 198 [QS. 26:198]

وَ لَوۡ نَزَّلۡنٰہُ عَلٰی بَعۡضِ الۡاَعۡجَمِیۡنَ
Walau nazzalnaahu ‘ala ba’dhil a’jamiin(a);

Dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab,
―QS. 26:198
Topik ▪ Keutamaan kalam Allah
26:198, 26 198, 26-198, Asy Syu’araa 198, AsySyuaraa 198, Asy Syuara 198, Asy Syu’ara 198, Asy-Syu’ara 198

Tafsir surah Asy Syu'araa (26) ayat 198

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Asy Syu’araa (26) : 198. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa walaupun bukti-bukti kenabian Muhammad sudah diterangkan dalam kitab-kitab terdahulu, dan hal ini diakui oleh ulama-ulama Yahudi, serta diketahui oleh orang-orang musyrik Mekah dari para pemimpin Yahudi, namun orang-orang musyrik itu tidak akan beriman, walau buku atau kitab suci apa pun yang dikemukakan kepada mereka.
Seakan-akan Allah mencela sikap mereka itu dengan mengatakan, “Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas dan gaya bahasa yang indah kepada seseorang dari bangsa Arab, tepatnya dari suku Quraisy yang berpengaruh di Mekah, dan mereka telah mengetahui pula dari orang-orang Yahudi di Madinah tentang kenabian Muhammad itu, namun mereka tetap tidak beriman.
Maka andaikata Al-Qur’an itu diturunkan kepada seseorang dari golongan bukan Arab yang tidak pandai berbahasa Arab, tetapi dengan kehendak Allah orang itu dapat membacakannya dengan fasih kepada orang-orang musyrik Mekah itu, mereka itu tidak juga akan beriman kepadanya.
Di sisi lain, kalau pun kejadian yang semacam itu terjadi, hal itu merupakan kejadian yang luar biasa.” Ayat ini merupakan hiburan yang dapat menenteramkan dan menyejukkan hati Muhammad yang telah digundahkan oleh sikap orang-orang musyrik yang selalu menantang dan mendustakan seruannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalaupun, umapamanya, Al Quran diturunkan kepada beberapa orang non Arab yang dapat berbicara bahasa Arab, meskipun tidak fasih, yang mustahil dituduh dapat membuat Al Quran,

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kalau Alquran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab) lafal A’jamiina adalah bentuk jamak dari lafal A’jam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Seandainya Kami menurunkan al-Qur’an kepada sebagian orang yang tidak berbicara dengan bahasa Arab,

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa sesungguhnya sebutan tentang Al-Qur’an ini dan isyarat mengenai keberadaannya benar-benar ada di dalam kitab­ kitab terdahulu yang dinukil dari para nabi mereka yang menyampaikan berita gembira akan kedatangannya sejak zaman dahulu dan masa yang berdekatan dengannya.
Sebagaimana Allah mengambil janji dari mereka tentang hal tersebut, sehingga nabi yang paling akhir dari kalangan mereka berdiri seraya berkhotbah kepada golongannya untuk menyampai­kan berita gembira akan kedatangan Ahmad (Muhammad ﷺ):

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat; dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 6)

Lafaz az-zubur yang ada dalam surat Asy-Syu’ara ini artinya kitab-kitab, merupakan bentuk jamak dari zabur.
Nama yang sama diberikan kepada kitab Nabi Daud, yaitu kitab Zabur.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
(Q.S. Al-Qamar [54]: 52)

Yakni tercatat di dalam kitab-kitab catatan amal perbuatan mereka yang dipegang oleh para malaikat pencatat amal perbuatan.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi.
mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?
(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 197)

Artinya, tidakkah cukup bagi mereka adanya saksi yang benar akan hal tersebut melalui ulama Bani Israil yang menjumpai penyebutan Al- Qur’an di dalam kitab-kitab mereka yang biasa mereka pelajari.
Makna yang dimaksud ialah ulama Bani Israil yang adil, yaitu mereka yang mengakui kebenaran adanya sifat Nabi Muhammad, kerasulannya, dan umatnya di dalam kitab-kitab mereka.
Sebagaimana yang telah diberitakan oleh sebagian orang dari mereka yang beriman —seperti Abdullah ibnu Salam dan Salman Al-Farisi—yang menerimanya dari orang-orang yang ia jumpai dari kalangan ulama Bani Israil dan orang-orang yang semisal dengan mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala-telah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 157), hingga akhir ayat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kerasnya kekafiran orang-orang Quraisy dan keingkaran mereka terhadap Al-Qur’an, bahwa seandainya Al-Qur’an ini diturunkan kepada seseorang yang bukan dari bangsa Arab dari kalangan mereka yang tidak mengetahui bahasa Arab barang sepatah kata pun, lalu Al-Qur’an diturunkan kepadanya dengan bahasa yang jelas lagi fasih, tentulah mereka tidak akan beriman kepadanya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Dan kalau Al-Qur’an itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.
(Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 198-199)

Sebagaimana yang diceritakan oleh Allah tentang sikap mereka dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan.” (Q.S. Al-Hijr [15]: 14-15), hingga akhir ayat.

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka.
(Q.S. Al-An’am [6]: 111), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu tidaklah akan beriman.
(Q.S. Yunus [10]: 96)


Kata Pilihan Dalam Surah Asy Syu'araa (26) Ayat 198

A’JAM
أَعْجَم

Lafaz ini adalah bentuk mufrad, lafaz jamaknya adalah al ‘aajm yang bermakna nisbah kepada ‘ajam yaitu yang bukan bangsa Arab. Contohnya, apabila lafaz ini disandarkan kepada satu perkataan lain seperti lisan a’jamiyy, maka maknanya ialah percakapan orang bukan Arab.

Di dalam Al Qur’an, terdapat tiga bentuk penggunaan lafaz ini yaitu :
a’jamiyy yang digunakan dalam ayat 103 surah An Nahl dan ayat 44 surah Ibrahim,
a’jamiyyan dalam ayat 44 surah Fushshilat,
al-a’jamin dalam ayat 198 surah Asy Syu’araa’

Dalam surah An Nahl ayat 103 , lafaz a’jamiyy bermakna bahasa ‘ajam yaitu bukan bahasa Arab.

Jika disebut lelaki a’jam ataupun perempuan a’jam, maka ia bermakna lelaki dan perempuan itu tidak fasih berbahasa Arab.

Al Farra’ menyebut, al a’jam adalah orang yang tidak fasih berbahasa Arab meskipun dia adalah orang Arab, sedangkan al a’jamiy atau al ‘ajami adalah orang yang asalnya bukan berbangsa Arab.

Menurut Abu Ali pula, al a’jami merangkum makna bagi orang yang berbangsa ‘ajam sekalipun fasih berbahasa Arab dan orang yang tidak fasih berbahasa Arab meskipun asalnya adalah bangsa Arab.

Lafaz al a’jam juga memiliki makna yang pertama yaitu orang yang asalnya berbangsa ‘ajam baik fasih berbahasa Arab ataupun tidak.

Kesimpulan yang dapat dibuat berdasarkan pada ayat 103 surah An ­Nahl, lafaz al a’jamiyy tepatnya bermaksud tidak berbahasa Arab.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:3-4

Informasi Surah Asy Syu'araa (الشعراء)
Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamakan “Asy Syu’araa” (kata jamak dari “Asy Syaa ‘ir” yang berarti penyair) diambil dari kata “Asy Syu­ araa’ yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, dikala Allah subhanahu wa ta’ala se­cara khusus menyebutkan kedudukan penyair-penyair.
Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rasul-rasul mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.
Sifat-sifat yang demikian tidaklah sekali­ kali terdapat pada rasul-rasul.
Oleh karena demikian tidak patut bila Nabi Muhammad ﷺ dituduh sebagai penyair, dan Al Qur’an dituduh sebagai syair, Al Qur’an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.

Keimanan:

Jaminan Allah akan kemenangan perjuangan rasul-rasul-Nya dan keselamatan mereka
Al Qur’an benar-benar wahyu Allah yang dibawa turun ke dunia oleh Ma­laikat Jibril a.s, (Ruuhul amiin) hanya Allah yang wajib disembah.

Hukum:

Keharusan memenuhi takaran dan timbangan
larangan menggubah syair yang be­risi cacian-cacian, khurafat-khurafat, dan kebohongan-kebohongan.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun
kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan kaum­nya
kisah Nabi Nuh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaum­nya (Tsamud)
kisah Nabi Hud a.s. dengan kaumnya(‘Aad)
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Syu’ai’b a.s. dengan penduduk Aikah.

Lain-lain:

Kebinasaan suatu bangsa atau umat disebabkan mereka meninggalkan petunjuk­ petunjuk agama
tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan perobahan-pero­bahannya adalah bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa
petunjuk-petunjuk Allah bagi pemimpin agar berlaku lemah lembut terhadap pengikut-pengikutnya
turun­nya kitab Al Qur’an dalam bahasa Arab sudah disebut dalam kitab-kitab suci dahulu.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 198 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 198 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Asy-Syu'araa (26) ayat 198 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Asy-Syu'araa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 227 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 26:198
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Asy Syu'araa.

Surah Asy-Syu'ara atau Surah Asy-Syu'ara' adalah surah ke-26 dari Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surah-surah Makkiyyah.
Dinamakan Asy Syu'ara (kata jamak dari Asy Sya'ir yang berarti penyair) diambil dari kata Asy Syuara yang terdapat pada ayat 224.
Banyak nilai-nilai yang berharga dari bebagai kisah-kisah para Nabi yang umat mereka dipunahkan serta sebagian riwayat tiga hamba Allah yang dimuliakan Musa, Harun dan Ibrahim.

Nomor Surah 26
Nama Surah Asy Syu'araa
Arab الشعراء
Arti Penyair
Nama lain Tha Sin Mim, Al-Jami’ah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 47
Juz Juz 19
Jumlah ruku' 11 ruku'
Jumlah ayat 227
Jumlah kata 1223
Jumlah huruf 5630
Surah sebelumnya Surah Al-Furqan
Surah selanjutnya Surah An-Naml
4.7
Ratingmu: 4.3 (15 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim